The movie looks good...
Saya orangnya gampangan, sebenarnya. Gampang suka tapi juga gampang enggak suka. Pas baca The Fault in Our Stars (TFiOS), saya nggak begitu ngeh sama kisahnya. Mana yang versi bahasa Inggris-nya susah banget buat saya cerna, vocabulary-nya nyebelin. Namun, ternyata baca versi terjemahannya pun tetap bikin saya nggak begitu relate sama cerita TFiOS, tapi hal itu nggak menghalangi saya untuk menonton versi filmnya. Dan, saya suka.
Sementara itu, saya belum baca Paper Towns. Sudah punya, tapi belum dibaca. Saat mendengar kabar Paper Towns bakal dadaptasi menjadi film, saya pun tak kalah excited kayak TFiOS dulu. Sayang, sepertinya filmnya tak tayang di bioskop lokal, entah kenapa. Mungkin karena di Amerika sendiri film ini tak terlalu bagus hasil penjualan tiketnya. Namun, akhirnya saya berkesempatan menonton film ini juga. Well, seperti yang sudah saya bilang, saya orangnya gampang suka, dan saya memang suka sama film ini. Bahkan setelah nonton, saya malah kepingin baca versi novelnya. Soon!
Saya orangnya gampangan, sebenarnya. Gampang suka tapi juga gampang enggak suka. Pas baca The Fault in Our Stars (TFiOS), saya nggak begitu ngeh sama kisahnya. Mana yang versi bahasa Inggris-nya susah banget buat saya cerna, vocabulary-nya nyebelin. Namun, ternyata baca versi terjemahannya pun tetap bikin saya nggak begitu relate sama cerita TFiOS, tapi hal itu nggak menghalangi saya untuk menonton versi filmnya. Dan, saya suka.
Sementara itu, saya belum baca Paper Towns. Sudah punya, tapi belum dibaca. Saat mendengar kabar Paper Towns bakal dadaptasi menjadi film, saya pun tak kalah excited kayak TFiOS dulu. Sayang, sepertinya filmnya tak tayang di bioskop lokal, entah kenapa. Mungkin karena di Amerika sendiri film ini tak terlalu bagus hasil penjualan tiketnya. Namun, akhirnya saya berkesempatan menonton film ini juga. Well, seperti yang sudah saya bilang, saya orangnya gampang suka, dan saya memang suka sama film ini. Bahkan setelah nonton, saya malah kepingin baca versi novelnya. Soon!



