Showing posts with label Winna Efendi. Show all posts
Showing posts with label Winna Efendi. Show all posts

Wednesday, August 26, 2015

[Waiting on Wednesday] ...Girl Meets Boy

"Waiting On" Wednesday is a weekly event, hosted by Breaking the Spine, that spotlights upcoming releases that we're eagerly anticipating.


Oke, saya memang belum baca semua karya Winna Efendi, tapi setiap Winna berencana merilis novel baru, saya selalu ikut antusias. Buku-buku terakhir Winna juga sudah saya koleksi, sih, tapi belum dibaca, hehehe. Lalu, ada lagi yang baru dari Winna. Oh, my, kovernya eye ctaching banget, sih. Sudah pasti masuk daftar tunggu buku yang wajib dibeli ini.
  Dear Ava,

Saat kamu menerima surat ini, mungkin aku udah nggak ada di sini. Mungkin aku udah jadi murid senior di Alistaire. Mungkin aku akan ada di lingkungan baru. Atau mungkin, di Broadway, tampil perdana untuk pertunjukan Annie dan tiketnya terjual habis dalam lima menit (boleh dong, ngarep). Who knows? Itulah hebatnya dunia, selalu penuh dengan kesempatan yang nggak terduga.

Kita punya janji untuk saling menemukan, bukankah begitu?

Love,
Rae

____

Dear Kai,

And then I said, “Kai, aku sayang kamu.”
Kamu menatapku, lalu mengusap rambutku lembut. Ini adalah kali pertama aku mengucapkannya kepada siapa pun. Kamu nggak mengatakannya balik. Dan, kurasa, sejak awal aku udah tahu.

Aku tahu tindakan kamu barusan adalah ucapan i-love-you terbaik yang mungkin bisa kudapatkan, but it’s okay, because I love you.

And unlike you, I’m not afraid of saying it.

Love,
Rae

***

Novel ini bercerita tentang kehilangan dan tentang menemukan. Tentang mimpi, tentang keluarga, tentang persahabatan, juga tentang memaafkan diri sendiri. Lewatnya, saya ingin berkisah perihal momen-momen yang sudah seharusnya berlalu dan dilepaskan. Karena setiap hal indah pada waktunya.

Semoga kamu menyukai sepotong kisah ini dan mendengar musik yang bermain di baliknya.

Winna Efendi

Lalu, apa buku yang paling kamu tunggu terbitnya minggu ini, tweemans?

Saturday, September 13, 2014

[Sedang Dibaca] ...Remember When by Winna Efendi

Huwaaa, pastinya telat banget saya baru akan membaca novel ini sekarang. Tapi tak apalah, mungkin ada baiknya saya baru akan membaca novel ini jelang pemutaran filmnya, sehingga ketika menontonnya nanti saya masih bisa mengingat-ingat detail novelnya. Pada prinsipnya, saya itu si usil yang suka membandingkan buku dan film adaptasinya. Dan, akan lebih mudah jika saya sudah membaca bukunya terlebih dahulu.
Cetak Ulang, Revisi Title dan Cover.

Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?

Lalu, saat kau berkata, "Aku mencintaimu", aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?

"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.

Wednesday, July 9, 2014

[Kabar Buku] Peluncuran Buku Tomodachi, Novel Terbaru Winna Efendi

Terhitung sudah dua kali saya mengikuti event peluncuran novel terbaru karya Winna Efendi. Sebelumnya saya ikut serta dalam peluncuran perdana novelnya yang berjudul Unforgettable. Sayangnya, saya malah forget tanggal persisnya acara itu kapan. Hihihi, mohon maklum, faktor U sepertinya. Hufft.

Ketika mendapat informasi pertama kali tentang rencana penyelenggaraan peluncuran Tomodachi, saya meragu. Betapa tidak, acara diselenggarakan tanggal 5 Juli 2014 yang bertepatan dengan bulan puasa (acara dikemas dalam acara buka puasa bersama) dan berlokasi di sebuah restoran Jepang di kawasan Jalan Sabang. Matik! Saya kan nggak suka sushi-sushi-an begitu. Tapi, toh akhirnya saya tetap mendaftar dan berangkat juga. Magnet seorang Winna Efendi masih begitu kuat memikat saya.


Sunday, June 23, 2013

[Buku diFilmkan] Nonton Bareng Film Refrain

Saya sedang bahagia. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya akan mendapat kesempatan langka bergabung dengan beberapa penulis top Gagas Media dan tentu saja Winna Efendi dalam acara Nonton Bareng Film Refrain yang diadakan Gagas Media, Minggu, 23 Juni 2013, pukul 14.30 WIB, di Pejaten Village. Awalnya saya sekadar mencandai @Winnaddict (penggemar karya-karya Winna di twitter) dengan bertanya 'bisa-nggak-ya-saya-ikutan-nonbar-tanpa-ikutan-kuis'. Hehehe, namanya #nyamber di status @Winnaddict ya saya tak meniatkan yang lain, apa lagi jika berkesan merengek minta-minta. Tidak. Tapi, kemudian tak dinyana Winna malah menawarkan satu tiket untuk ikutan nonton bareng Film Refrain itu kepada saya. Wahhhh, girang bukan kepalang donk saya.


Ahhh, saya sudah menggemari tulisan-tulisan Winna sejak membaca Ai dan Refrain. Jadi, sebenarnya saya sudah meniatkan akan menonton film ini jauh-jauh hari bahkan sebelum ada kepastian tanggal pemutaran filmnya (baru ketahuan sebagai proyek filmisasi). Saya pun tidak mengikuti kuis nonton barengnya karena saya pikir nonton barengnya ya sekadar nonton saja, tidak ada acara after the show. Ternyata ada Meet and Greet bareng Winna Efendi dan Haqi Achmad selepas acara nonton. Saya jadi mupeng. Tapi, tetap saya tak ikutan kuis, karena saya sendiri pesimis bisa menang di kuis-kuis seperti itu, hehehe. Namun, ya seperti kata almarhumah Ibu saya, kalau rezeki ya ndak ke mana dan ya ndak usah ditolak. Saya pun menerima dengan sepenuh hati tawaran Winna. Alhamdulillah, akhirnya dikirimin juga undangannya oleh Tim Gagas Media.




Kamu sudah nonton? Kalau belum, yukk nonton. Saya selalu suka menonton film adaptasi dari buku. Apalagi kalau itu dari buku yang saya gemari. Semangat menontonnya itu bisa beberapa kali lipat labih banyak dari film biasa-non-adaptasi.

Sekali lagi, terima kasih yang tiada terkira saya sampaikan kepada Winna Efendi dan Gagas Media yang sudah memberikan kesempatan untuk ikutan di acara nonton bareng Film Refrain besok (eh, hari ini yaaa....sekarang kan udah hari Minggu).

Selamat menonton!

Sunday, June 9, 2013

[Resensi Novel Romance] Melbourne by Winna Efendi

Memadukan musik dan cahaya dalam cinta...

Pembaca tersayang,

Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.

Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.

Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.

Setiap tempat punya cerita.

Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.

Enjoy the journey,
EDITOR
 
 
Judul: Melbourne - Rewind
Pengarang: Winna Efendi
Penyunting: Ayuning, Gita Romadhona
Proofreader: Mita M. Supardi
Desainer sampul: Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 328 hlm
Harga: Rp52.000
Rilis: Mei 2013 (cet ke-1)
ISBN: 978-979-780-645-3

Kesukaan saya pada gaya mengarang Winna menjadikan Melbourne sebagai titik pijak saya untuk berkeliling menikmati untaian kisah di masing-masing tempat dalam seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) yang dicetuskan bersama oleh Gagas Media dan Bukune. Tentu saja, kalau ada STPC dengan judul LONDON (kota impian) saya pasti akan memulainya dari sana, siapa pun pengarangnya. Nah, karena tidak (atau belum) ada yang mengangkat London, saya memilih ber-traveling bareng Winna Efendi ke Melbourne.

Hening. Damai. Itulah kesan saya setiap menikmati karya-karya Winna. Seramai apa pun sekitar saya, begitu sudah merunuti kata demi kata yang diuntainya saya seolah tersihir untuk tak memedulikan sekeliling. Entahlah, saya sendiri tak paham mengapa saya merasa seperti itu. Bisa jadi karena diksi dan cara menggandeng kata-kata menjadi kalimat atau suasana yang terjalin di belakang plot dan karakter para tokohnya. Yang jelas, karya Winna selalu menghanyutkan imajinasi saya.

Saturday, June 1, 2013

[Author of The Month] Indah Hanaco

Author of the Month (AotM)

Hmm, saya nih serba angin-anginan. Dulu, pengin banget bikin rubrik Author of the Month (AotM) ini bisa di-posting secara rutin. Nyatanya, saya sendiri kesulitan mengatur waktu, meminta kesediaan penulis-penulis kece untuk bisa di-interview, dan menyediakan waktu seluang-luangnya membaca karya-karya mereka. Jadinya, rubrik ini masih mentok. Dan, baru menghadirkan satu feature saja, yaitu mengundang mbak Rina Suryakusuma (Lukisan Keempat, Lullaby, Jejak Kenangan, Postcard from Neverland) yang menjadi AotM tahun lalu.


Bulan Juni ini, saya menghidupkan kembali rubrik ini setelah secara sengaja menyelipkan beberapa pertanyaan kepada penulis yang jadi feature bulan ini yaitu Indah Hanaco, ketika menyusun artikel WOW-moment perdana beberapa waktu lalu. Sederet pertanyaan seputar keseharian dan dunia kepenulisan yang ditekuninya, saya tanyakan, dan siap saya tuliskan dalam artikel AotM selama bulan Juni 2013 ini. So, dengan bangga saya persembahkan Indah Hanaco sebagai Author of the Month Juni 2013.

Sunday, August 5, 2012

[Kabar Buku] Berbagi Deleted Scene Truth or Dare by Winna Efendi

Hai, metropop-lover, sudah pada baca novel GagasDuet bertajuk Truth or Dare karya bersama Winna Efendi dan Yoana Dianika? Saya sih belum, tapi saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan selalu mengoleksi dan membaca karya-karya Winna Efendi. I really love her writing. Jadi, semoga di waktu depan yang tak lama lagi, saya bisa membaca novel ini juga.


Nah, ternyata ada beberapa bagian dari cerita yang ditulis oleh Winna Efendi yang tidak jadi dimasukkan ke dalam novel ini ketika proses editing. Nah, buat yang penasaran, berikut bagian deleted scene tersebut yang saya copy-paste dari blog resmi Winna Efendi:

Dari blog Winna: http://littleblackink.multiply.com
Bagian 1
Bagian 2

Kali ini aku akan share deleted scenes dari novel Truth or Dare sebelum dicetak. Ada beberapa adegan yang akhirnya dibuang karena keterbatasan halaman, atau karena pengulangan dan isinya kurang sesuai untuk keseluruhan novel. Chapter ini kuberi judul Where We Belong, dan dibuang karena awalnya topik SAT (semacam ujian reguler bagi siswa SMA yang ingin mendaftar kuliah) merupakan salah satu bagian integral dari novel Truth or Dare, tapi karena terlalu panjang dan ada perubahan plot, maka dihapus :)

Buat yang belum baca Truth or Dare, mungkin akan ada sedikit spoiler di sini.

Enjoy!


Bagian 1
At some point in life the world’s beauty becomes enough.
You don’t need to photograph, paint, or even remember it.
It is enough.
-Toni Morrison-


Aku menggaruk kepala untuk kesekian kalinya, berusaha berkonsentrasi pada selembar kertas penuh kata-kata di hadapanku dan memahami apa artinya. Seperti biasa, kesulitanku membaca membuat segala sesuatunya terasa lebih sulit.

Sejak kecil, aku selalu bermasalah dengan kata-kata; baik yang verbal maupun tertulis. Mom bilang, aku baru mulai berbicara di umur tiga tahun, itu pun terbata-bata dan sering salah ucap. Ketika anak-anak seusiaku mulai belajar membaca dan menulis, aku selalu tertinggal karena tidak mampu mencerna informasi sebaik mereka. Di pertengahan middle school, akhirnya aku didiagnosa dengan disleksia, yaitu semacam penyakit yang berkaitan dengan disfungsi salah satu area dalam otak. Disleksia membuat prosesi otakku lamban; aku sering kesulitan menjawab jika dihadapkan dengan uraian pertanyaan yang rumit, juga membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari bentuk dan lafal kata. Akibatnya, nilai akademisku bisa dibilang jauh dari baik, dan aku sering dicap bodoh atau kurang mampu berkonsentrasi.

Walaupun begitu, aku berusaha sebisaku untuk tidak tertinggal jauh dari teman-teman sekelas. Aku sering tinggal lebih lama di kelas untuk mencatat, atau meminta Cat untuk mengulang bagian-bagian yang belum kumengerti. Tanpanya, mungkin aku akan memegang posisi akhir di kelas, atau lebih parah lagi, kembali tinggal kelas. Ada sesuatu yang sangat tidak mengenakkan dari kembali mengulang pelajaran bersama wajah-wajah baru, sedangkan teman-teman seangkatanku sudah lulus dan hanya akulah yang tertinggal di belakang.

Tahun ini, sebagian besar murid-murid kelas sebelas mengambil SAT, sejenis ujian standar untuk pendaftaran universitas. Ujiannya sendiri terdiri dari tiga bagian – Critical Reading, Mathematics, dan Writing, ketiganya bukan area terbaikku. Aku dan Cat telah mendaftar untuk mengambil ujiannya di bulan Mei, sehingga belakangan ini kami lebih sering menghabiskan waktu luang sepulang sekolah untuk belajar bersama. Kadang-kadang, aku punya perasaan Cat hanya melakukannya demi aku yang memang membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar, karena aku yakin dia bisa meraih skor tinggi dengan mata tertutup sekali pun. That’s how smart she is. Kalau mau, Cat bisa saja jadi juara pertama di kelas, tapi dia lebih suka mengalihkan tenaganya untuk hal-hal lain yang menurutnya lebih penting.

Sore ini kami kembali berkumpul di rumah Cat, mencoba menjawab pertanyaan demi pertanyaan sulit dari buku latihan SAT, ditemani Luna Blu yang menggelung malas di sebelah kakiku.

“Sebuah bank menawarkan 5.3% bunga tabungan per bulan. Seandainya kita menabung lima ratus dolar, berapa jumlah tabungannya setelah empat tahun?”

Tunggu, aku ingat pertanyaan ini, yang membutuhkan pangkat atau semacamnya. Aku mencoret-coret sebuah formula dasar di atas kertas, mencoba menemukan solusinya. Cat menunggu dengan sabar di sebelahku, kertasnya sendiri sudah terisi jawaban yang aku yakin sudah pasti benar. Julian juga dengan tekun ikut menuliskan jawaban yang dipecahkannya tanpa banyak kesulitan. Sebagai murid pertukaran pelajar, sebenarnya dia tidak perlu mengikuti SAT tahun ini. Tapi Julian suka belajar, dan demi cita-citanya masuk Harvard atau kampus-kampus Ivy League sejenis, dia rela menggunakan waktu santainya untuk belajar bersama kami.

500 x 1.053⁴

Aku meneliti jawabanku dengan tak yakin, lalu menatap Cat dan Julian untuk meminta pertolongan. Cat menggeleng, mencoret bagian yang salah dengan pena merahnya sambil menuliskan perhitungan yang benar di sampingnya.

“Sebelumnya, kita harus menyamakan satuan waktu periode menabung dengan periode bunganya,” jelasnya, menunjuk angka-angka di atas kertas. “Jadi formula yang benar adalah, jumlah uang dikali besarnya bunga pangkat empat puluh delapan bulan. Seperti ini.”

500 x 1.053⁴⁸

Huh? Aku berusaha mengerti apa yang dimaksud Cat, tapi otakku sedang tidak bisa diajak bekerjasama. Cat sepertinya melihat ekspresi bingungku, karena dia lalu menyingkirkan tumpukan kertas di atas meja seraya bangkit berdiri.

“Sudah, sudah,” katanya. “Kita terlalu lama belajar, otakku sudah hangus terpanggang rasanya. Lebih baik kita break sebentar. Gimana kalau kita makan es krim dulu?”

Aku menghela napas, lega karena bisa mengambil rehat sejenak sebelum mulai berperang lagi dengan angka dan huruf. “Setuju!”

Great. Sebentar, ya.” Cat menghilang di balik pintu kamarnya, meninggalkan aku dan Julian di sana untuk mengambil camilan dari kulkas. Menjelang awal musim panas, Cat biasanya menyetok es krim vanili dan junk food banyak-banyak di kabinet dapurnya. Kadang saking banyaknya, aku sering menemukan sekantung M&M’s yang sudah separuh dimakan di laci meja belajarnya, atau sepotong cokelat yang belum dihabiskan di lemari kamarnya.

Aku suka kamar Cat. Ukurannya tak terlampau luas, hanya sekitar lima belas kaki. Dindingnya dicat putih bersih, dengan satu sisi kosong yang memuat grafiti keren bertuliskan nama Catherine. Grafiti itu dibuatnya saat makeover kamar dua tahun lalu, menggunakan cat biru dan kuning yang kelihatan kontras dan mencolok. Grafiti itu adalah bagian favoritku dari kamar Cat, selain mozaik yang terdiri dari puluhan foto berukuran kecil. Cat selalu menambahkan foto-foto baru ke dalam mozaiknya; yang terbaru adalah fotonya bersama Ethan dan Chase, kedua abang tirinya, fotonya bersama Julian saat spring dance, dan fotoku yang sedang membawa papan bertuliskan charity for community. Di samping kanan didirikan sebuah instalasi berupa rak buku besar, yang memuat novel-novel science fiction favorit Cat dan buku-buku lainnya.

Iseng, aku mengulurkan sebelah tangan untuk meraba bagian belakang ensiklopedia milik Cat yang tersusun rapi di sana, dan mendapati sebatang Snickers ukuran mini di baliknya. Aku tersenyum geli – Cat selalu penuh kejutan. Kamarnya penuh ranjau makanan manis; yang perlu kau lakukan hanya lebih jeli mencari.

Samar-samar kudengar Cat sedang berargumen dengan ibunya mengenai pekerjaan rumah, sepertinya belum ada tanda-tanda akan segera kembali. Aku memutuskan untuk mengalihkan perhatian pada sebongkah kamus raksasa di atas meja, berusaha menghafalkan definisi kata mulai dari kategori huruf A. Menurut Cat, memperluas vocabulary dengan memahami arti kata-kata sulit akan sangat membantu saat mengerjakan bagian Critical Reading nantinya.

Abhor. Membenci.
Adversity. Kesulitan.
Alacrity. Dengan cepat dan antusias.
Arid. Sangat kering.
Assiduous. Tekun dan kerja keras.

Belum sampai lima kata, pandanganku mulai berkunang-kunang dan aku kepayahan mengingat arti dari masing-masing kata. Aku ingat terakhir kali Julian melemparkan pertanyaan-pertanyaan berbau vocabulary, aku kewalahan menjawabnya dan malah membalik-balikkan artinya.

“Hei, Julian. Bantu aku..”

Saat aku menoleh, aku menemukannya sedang terlelap, kedua lengan tertelungkup di atas meja. Beberapa jam berkutat dengan angka sepertinya telah membuatnya kecapekan sampai jatuh tertidur sepulas ini. Topi baseball yang biasa dikenakannya tergeletak di atas lantai, sehingga rambut hitamnya yang cepak mencuat-cuat ke berbagai arah. Kedua matanya terpejam rapat, memperlihatkan kelopak tebal dengan satu tahi lalat di sudut kanan; sebuah detil mengenainya yang tidak aku ketahui sebelumnya. Bibirnya membentuk separuh senyum, menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Entah mengapa, melihatnya seperti ini mengingatkanku akan adik perempuannya Juliet, dan foto mereka berdua yang ditunjukkan Julian waktu itu.

Untuk beberapa saat, aku tak berani bergerak, hanya diam memandangnya seperti ini. Aku takut dengan satu gerakan, satu helaan nafas, dia akan terbangun dan mendapatiku sedang mengamatinya. Aku takut ketika dia bertemu pandang denganku, dia akan dapat membaca emosi yang terpancar bola mataku.

Tapi aku sangat ingin menyentuhnya. Merasakan kehangatan kulitnya, meninggalkan sebuah jejak di sana, walau sangat singkat dan dia tidak akan pernah tahu. Tidak akan ada yang tahu. Aku ingin menyentuhnya dan membiarkan satu momen ini menjadi milikku seorang, tanpa Cat maupun orang lain di dalamnya.

Dengan sangat perlahan, aku memberanikan diri untuk mengulurkan sebelah tanganku, berhenti beberapa inci dari wajahnya. Sedikit lagi, ujung jariku akan menyentuh pipinya. Dengan tangan gemetar, aku berusaha mengumpulkan seluruh keberanianku untuk membuat kontak fisik.

Dia milik Cat.

Sesuatu melintas dalam pikiran, membuatku mengurungkan niat untuk bertindak lebih jauh. Secepat keinginan itu tiba, secepat itu pula ia padam. Tanganku terkulai, dan aku membiarkannya tetap gemetar di sisi-sisi tubuhku.

Julian masih tertidur, kini mulai mendengkur halus. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak berhak melakukannya. Ada sebuah lingkaran kasat mata dengan Cat dan Julian di dalamnya, sedangkan aku berdiri di luar. Aku tidak dapat melangkah masuk, karena lingkaran itu tidak diciptakan untukku. Apa pun yang kulakukan, aku akan selalu berada di luar garis – melihat ke dalam.

Melihat dirinya.

**

Bagian 2

Kali ini merupakan chapter dari bagian epilogue, mengenai Heather dan Alice :) i actually love this chapter a lot, dan merasa sayang membuangnya dari keseluruhan novel. But I do what I have to do.

Here goes, enjoy!


Aku sedang membereskan tagihan-tagihan lama yang menumpuk di laci meja kasir ketika seseorang masuk ke toko dan berhenti di aisle yang menjual produk-produk kewanitaan. Dia berdiri dengan postur tak yakin, sebelah kakinya mengetuk-ngetuk lantai dan tangannya terjulur untuk mengambil sesuatu tapi tak jadi. Dia mengenakan jeans selutut dan kaus tipis yang tampak kurang sesuai untuk cuaca musim gugur, rambut emasnya yang bergelombang jatuh terurai di punggung. Aku dapat mengenali figur itu dengan mudah – Heather Mills.

Dia masih terlihat seperti dulu. Rambut panjang yang berkilau, mata biru cemerlang, wajah yang sempurna. Untuk sesaat aku terpaku memperhatikannya, kemudian dia menoleh dan bertatapan mata denganku, cukup lama hingga akhirnya seulas senyum terukir di wajahnya. Aku balas tersenyum tentatif.

Kabar terakhir mengenai Heather adalah, dia kuliah di salah satu universitas lokal Maine, tapi dropout menjelang tahun kedua. Pacarnya Dustin mendapat beasiswa penuh untuk football di Michigan, dan memutuskan untuk mengambilnya begitu lulus sekolah. Mereka sempat berpacaran jarak jauh selama setahun penuh, sampai akhirnya putus di tengah jalan. Entahlah, setidaknya itu kabar yang beredar.

Dia memutuskan untuk tidak membeli barang yang tadi hampir diambilnya, lalu berjalan ke arah kasir. Aku masih memegang kumpulan tagihan di tangan, tidak yakin apa yang harus kukatakan padanya. Haruskah aku menganggapnya seperti pembeli? Menyapanya dengan ucapan khas welcome to Holden Pharmacy, how can I help you today? Kurasa tidak.

“Hai, Alice.” Dia yang memecahkan keheningan duluan.

“Hai.. Heather.”

“Temanmu?” Thomas, yang sedang membawa kotak kardus berisi batch parasetamol terbaru, mengempaskan barang-barangnya di dekatku sambil mengelap keringat. Aku dan Heather berpandangan; sama-sama tidak tahu bagaimana harus menjawab. Teman bukanlah kata yang tepat untuk mendefinisikan hubungan kami. “Ambillah break sebentar,” Thomas berkata lagi. “Aku akan mengambil alih di sini. Sekalian belikan kebab di restoran Turki itu ya, aku belum makan dari tadi.”

Aku melirik Heather, yang kelihatan sama salah tingkahnya, tapi lalu aku menjawab, “Oke. Aku akan segera kembali.”

Kami berdua melangkah keluar. Dia masih tak berkata apa-apa, tapi saat aku mulai berjalan ke arah yang berlawanan untuk membeli titipan Thomas, Heather menyentuh lenganku. Aku berbalik, agak terkejut. Heather tidak suka menyentuh orang-orang yang tidak disukainya, kecuali jika dia ingin mendorong atau melemparkan barang ke arahnya.

“Apa kabar, Alice?”

“Baik.”

Dia tersenyum kecut. “Kau masih membenciku, ya?”

“Aku tak pernah membencimu.”

Kali ini dia tertawa. “Really? Setelah apa yang kulakukan padamu?”

Aku mengedikkan bahu. “Aku tidak menyalahkanmu.”

Kami berdiri di jalan; Heather dengan kedua tangan di dalam saku, dan aku yang memainkan benang kusut dari sweatermerahku. “Hei.. mau minum kopi?”

Aku mendongak. “Baiklah.”

Kami membeli minuman dari The Gothic, salah satu kedai kopi favoritku, masing-masing memegang cangkir styrofoamdengan cairan kopi panas yang mengepul. Perasaan ini aneh – duduk di tepi trotoar bersama gadis paling populer Belfast Area High School, mantan cheerleader yang menyandang predikat prom queen di pesta senior kami. Gadis yang dulu sering mengacak-acak isi lokerku, menyabotase persahabatanku dengan Cat, mengataiku dengan julukan-julukan yang membuatku terkenal di seantero sekolah – si Bau, si Dungu, dan masih banyak lagi. Lucunya, aku tak pernah benar-benar membencinya. Dia adalah Heather, dan Heather akan selalu tetap seperti itu.

“Kau masih menghubungi Catherine?” Dia bertanya, pelan-pelan menyisip kopinya.

Aku menggeleng. “Kau?”

“Hanya pernah melihatnya di Facebook. Sudah bertahun-tahun sejak kami bicara.” Heather menoleh, ekspresinya tulus.

“Alice, I’m sorry. Kau dan aku sama-sama tahu akulah yang dulu membuat hidupmu seperti neraka.”

“Sudah kubilang, aku nggak menyalahkanmu.”

Dia menggeleng. “Aku sering memikirkannya.. memikirkanmu. Kurasa aku hanya cemburu, you know. Aku yang lebih dulu berteman dengan Catherine, tapi dia malah memilihmu. Dulu.. kami bersahabat. Tapi sejak dia dekat denganmu, segalanya berubah.”

Aku tidak tahu itu. Setahuku, Cat selalu menganggap Heather terlalu diva.

“Aku tahu apa yang kukatakan sekarang tidak akan mengubah apa-apa, tapi kuharap kau paham.” Dia menghabiskan sisa minumannya, kemudian melempar wadahnya ke tempat sampah – masuk dengan sempurna. “Cowok yang di toko farmasi tadi pacarmu? He’s hot.” Aku menyangkal dengan muka merah padam, tapi Heather hanya tertawa. “Jangan bilang kau masih suka sama cowok Asia itu – siapa namanya, Julian?”

Heather tahu? Apa perasaanku sedemikian kentaranya?

Don’t worry, aku akan menjaga rahasiamu.” Heather bangkit dan membersihkan debu dari celananya. “Nah, sekarang aku pergi dulu. I’ll see you around, Alice, okay?”

Saat dia bangkit, barulah aku melihat sesuatu yang berbeda dari bentuk tubuhnya; perutnya tak lagi rata, memperlihatkan sedikit jendulan samar yang tak akan jelas terlihat jika kita tidak benar-benar memperhatikannya.

Bentuknya tersembunyi di balik karet celana jeans dan kaus longgarnya, tapi aku yakin aku tak salah lihat. Aku mengamati wajah Heather, mengerti apa yang sedang dicarinya di toko farmasi barusan, dan mengapa dia ragu mengambilnya. Untuk sesaat, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya aku hanya mengatakan, “Take care of yourself, Heather.”

Dia tersenyum dan memberikan lambaian singkat sebelum menghilang di tikungan jalan.
**

Artikel adalah milik dan kepunyaan Winna Efendi. Posting artikel ini telah dimintakan izin kepada Winna Efendi.

Terima kasih, Winna...dan tetap produktif menulis yaaaa....:)