Showing posts with label Buku diFilmkan. Show all posts
Showing posts with label Buku diFilmkan. Show all posts

Saturday, August 18, 2018

[Buku diFILMkan] Resensi Film To All The Boys I've Loved Before by Jenny Han on NETFLIX

So SWEET!

Directed by Susan Johnson
Produced by Brian Robbins, James Lassiter, Will Smith, Matthew Kaplan
Written by Sofia Alvarez
Music by Joe Wong
Cinematography by Michael Fimognari
Edited by Phillip J. Bartell, Joe Klotz
Production companies: Overbrook Entertainment and Awesomeness Films
Distributed by Netflix
Release date: August 17, 2018 (United States)
Running time: 99 minutes

17 Agustus 2018 akhirnya datang juga. Selain menunggu perayaan Ulang Tahun ke-73 Republik Indonesia, tanggal ini saya tunggu kedatangannya karena... jeng-jeng-jeng... adaptasi novel young adult To All The Boys I've Loved Before karya Jenny Han juga dirilis di... NETFLIX. Ahhh, love-love-love.

Sejak kali pertama baca novel ini, saya sudah menahbiskan novel ini jadi salah satu novel remaja favorit. Saya bahkan lumayan terobsesi sama Jenny Han, hahaha. I try to buy and read anything by her. Cuma ya begitu, kadang harapan nggak sebanding kenyataan. Wacana tinggal wacana. Beli bukunya sih sudah, bacanya yang entah kapan bisa direalisasikan, hahaha. But, I'm still glad that I read all books on this trilogy. Review bisa dibaca untuk P.S. I Love You dan Always and Forever, Lara Jean. Saya malah nggak sempat bikin review untuk To All The Boys I've Loved Before. WHATTT?

Jadi, apa kabar dengan filmnya?


Sejak kabar novel ini bakal diadaptasi ke format film, saya sudah sangat antusias. Nggak sabar nungguin siapa saja cast-nya dan gimana akhirnya filmnya dibuat. But then, pas tahu filmnya enggak tayang di bioskop dan hanya tayang di jaringan Netflix, saya sedih. Lah, gimana cara nontonnya kalau begitu? Saya saja nggak langganan. Terus, gimana jadinya saya nonton dan bisa bikin review, you ask? Anggap saja, akhirnya saya bisa nonton streaming di Netflix, hahaha.

Back to the review, first, filmnya sangat setia sama novelnya. Semua adegan penting diambil, dan sebagai penggemar novelnya tenu saja saya hepi banget. Saya jadi nggak perlu banding-bandingin film sama bukunya, wkwkwk. Tapi, apakah ada perbedaan di sana-sini antara keduanya? Tonton sendiri saja kalau penasaran, ya.


Second, the cast. Love them all. Meskipun terkadang agak off gimana gitu, saya suka ketiga gadis Song yang diperankan Lana Condor (Lara Jean), Janel Parrish (Margo), dan Anna Cathcart (Kitty). Pun dengan jajaran cast yang lain, John Corbert (ayah-dr. Covey), Madaleine Arthur (Christine), Noah Centineo (Peter Kavinsky), Israel Broussard (Josh), dan yang lainnya. But, in this film, Peter said too much, "Whoo... whoa...", and it's bit annoying.


Third, as a teenage rom-com, filmnya cukup menghibur dan believable. Yah, karena saya sudah tahu jalinan ceritanya, saya jadi nggak perlu nebak-nebak nanti bakal gimana sama para tokohnya. Lah, nggak surprising dong, you ask? I don't mind, though. Saya sudah cukup puas dengan bagaimana eksekusi oleh Jenny Han. Malah khawatir kalau banyak diubah sama penulis skenarionya. Filmnya memang nggak colorful atau cheerful dengan banyak adegan pesta lucu-lucuan yang heboh (ada sih, tapi sedikit) dan cenderung banyak ngobrolnya.


Fourth, ada satu komplain sih, soal scoring-nya. Nggak ngerti gimana jelasinnya, tapi menurut saya beberapa bagian terlalu hening tanpa musik pengiring sementara di bagian lain terlalu awkward sama musik pengiring yang nggak pas. Oh ya, saya suka film ini diceritakan melalui Lara Jean sebagai narator. I love hearing Lana Condor's voice.

Oh, sudah tahu jalan ceritanya, kan? Belum? SERIUS!!?? Dan... buat kalian yang nggak suka spoiler, jangan dibaca bagian ini. Oke, buat yang belum tahu dan nggak masalah berasa spoiler, begini ceritanya:
Judul Spoiler:
Lara Jean akan menulis surat cinta kepada cowok yang sangat-sangat disukainya karena dia bukan seseorang yang bakal terus terang tentang perasaannya kepada si cowok. Lara Jean menulis lima surat untuk lima cowok: Peter Kavinsky, Josh, Lucas, John Ambrose, dan Kenny. Rahasianya: kelima surat itu tak pernah dikirimkan, tapi suatu hari secara tak sengaja kelimanya terkirim ke masing-masing cowok. Dan, dari situlah segala kerunyaman yang mengganggu kenyamanan hidup seorang Lara Jean terjadi. Pada akhirnya, Lara Jean memacari salah satunya, yang awalnya pura-pura lama-lama menjadi nyata. Sama siapakah Lara Jean melabuhkan hatinya? Sila baca novelnya atau tonton sendiri filmnya di Netflix, ya.



Overall, saya suka dan menikmati banget menonton film ini. Mungkin untuk beberapa waktu saya akan tonton ulang lagi dan lagi dan lagi. Juga, kalau ada kesempatan saya pengin baca ulang novelnya. Hell, yeah. I am #TeamJennyHan. Oh, dan semoga dua buku berikutnya juga diadaptasi kembali. Aamiin. Buat yang kangen nonton rom-com remaja, coba tonton film ini deh. You'll love it. 4 STAR!







Friday, October 23, 2015

[Buku diFILMkan] Resensi Film - Paper Towns (Adaptasi dari Novel Karya John Green)

The movie looks good...



Saya orangnya gampangan, sebenarnya. Gampang suka tapi juga gampang enggak suka. Pas baca The Fault in Our Stars (TFiOS), saya nggak begitu ngeh sama kisahnya. Mana yang versi bahasa Inggris-nya susah banget buat saya cerna, vocabulary-nya nyebelin. Namun, ternyata baca versi terjemahannya pun tetap bikin saya nggak begitu relate sama cerita TFiOS, tapi hal itu nggak menghalangi saya untuk menonton versi filmnya. Dan, saya suka.

Sementara itu, saya belum baca Paper Towns. Sudah punya, tapi belum dibaca. Saat mendengar kabar Paper Towns bakal dadaptasi menjadi film, saya pun tak kalah excited kayak TFiOS dulu. Sayang, sepertinya filmnya tak tayang di bioskop lokal, entah kenapa. Mungkin karena di Amerika sendiri film ini tak terlalu bagus hasil penjualan tiketnya. Namun, akhirnya saya berkesempatan menonton film ini juga. Well, seperti yang sudah saya bilang, saya orangnya gampang suka, dan saya memang suka sama film ini. Bahkan setelah nonton, saya malah kepingin baca versi novelnya. Soon!


Monday, June 22, 2015

[Buku diFILMkan] The DUFF by Kody Keplinger the movie review


Saya sudah sering melihat bukunya, termasuk bahasannya di goodreads atau di blog-blog buku luar, tapi sayangnya saya masih belum tergerak juga untuk membaca buku ini. The DUFF adalah akronim dari The Designated Ugly Fat Friend merupakan buku karangan Kody Keplinger. Judulnya saja sudah menarik banget, ya. Bikin penasaran buat nyari tahu gimana ceritanya, Judul yang catchy dan appealing banget.
Seventeen-year-old Bianca Piper is cynical and loyal, and she doesn’t think she’s the prettiest of her friends by a long shot. She’s also way too smart to fall for the charms of man-slut and slimy school hottie Wesley Rush. In fact, Bianca hates him. And when he nicknames her “the Duff,” she throws her Coke in his face.

But things aren’t so great at home right now, and Bianca is desperate for a distraction. She ends up kissing Wesley. Worse, she likes it. Eager for escape, Bianca throws herself into a closeted enemies-with-benefits relationship with him.

Until it all goes horribly awry. It turns out Wesley isn’t such a bad listener, and his life is pretty screwed up, too. Suddenly Bianca realizes with absolute horror that she’s falling for the guy she thought she hated more than anyone.

Meskipun saya belum juga kesampaian membaca buku ini, hal tersebut tak menyurutkan minat dan niat saya untuk menonton film adaptasinya. Apalagi trailer-nya juga lumayan menjanjikan. Khas remaja dengan bumbu komedi yang cukup kental. Saya suka, pakai bingit!




Wednesday, June 3, 2015

[Buku diFILMkan] Menonton Industri Penerbitan dalam Younger (TV Series)

Di US sana, serial TV yang dibintangi oleh Sutton Foster dan Hilary Duff ini, sekarang baru memasuki season 1 yang direncanakan terdiri atas 12 episode. Berdasar data wikipedia, penonton yang menyaksikan serial romantic comedy ini berada di kisaran satu jutaan, jumlah yang agak sedikit mengkhawatirkan karena bisa saja tiba-tiba serial ini di-cancel dan tak dilanjutkan lagi karena rendahnya jumlah penonton yang berimbas pada rating. Sejauh ini, sih, kabarnya serial ini sudah dipastikan diperpanjang ke season 2. Buat saya pribadi, serial ini cukup menarik dan asyik untuk diikuti. Kalau ada kampanye untuk membuat petisi agar serial ini tetap diproduksi, saya akan ikut mendukungnya.


Trailer:



Younger diangkat dari buku berjudul sama karya Pamela Redmond Satran yang terbit tahun 2005 silam, meski sepertinya mengalami banyak perubahan (Pamela merupakan pengarang novel chick lit The Man I Should Have Married--Pria yang Seharusnya Kunikahi, yang versi terjemahan Indonesia-nya sudah diterbitkan oleh GPU). Dalam versi serial TV-nya (saya belum baca bukunya), Younger berlatar belakang sebuah penerbitan besar di US (Empirical Press yang dalam salah satu episode disebutkan bahwa penerbit itu menaungi Jennifer Weiner --pengarang novel chick lit laris antara lain In Her Shoes, The Certain Girls, dan lain sebagainya). Dua tokoh utamanya, Liza Miller (Sutton Foster) dan Kelsey Peters (Hilary Duff), dikisahkan bekerja di perusahaan itu. Liza menjadi asisten editor senior, Diana Trout (Miriam Shor), sedangkan Kelsey baru saja diangkat menjadi editor junior.


Thursday, December 25, 2014

[Buku diFILMkan] Merry Riana the movie - s.h.m.i.l.y. CHELSEA ISLAN!

s.h.m.i.l.y. refers to...


Sejujurnya saya belum baca buku Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar meski nama Alberthiene Endah di sampul depan buku itu menjadi faktor utama yang bisa menggerakkan saya untuk mencomot, membuka, dan membaca buku ini. Tapi, tidak. Keengganan saya membaca buku nonfiksi lebih menguasai diri hingga sampai saat ini saya belum berniat membaca salah satu buku fenomenal dari salah satu sosok muda nan fenomenal Indonesia itu. Sampai film yang diadaptasi dari buku ini dirilis dan bisa disaksikan di bioskop tanah air mulai tanggal 24 Desember 2014 kemarin, saya tetap belum membaca buku ini.

Tak jadi soal, toh saya tak ragu ketika memutuskan untuk pergi ke bioskop dan menonton film ini. Okeeee, kali ini ada sosok Chelsea Islan sebagai alasan utama menonton film ini sih, hehehe.



Saturday, December 20, 2014

[Buku diFILMkan] Resensi Film: Supernova - Ksatria, Putri & Bintang Jatuh

Intinya, sih, saya mesti baca ulang novel pertama dari serial laris Supernova karya Dewi "Dee" Lestari ini, karena pada akhirnya saya bingung, inti dari kisah Supernova itu sendiri, apa? #jeglerrr *oon banget*


Yang saya ingat, kali pertama beli novel ini (edisi ekonomi, yang tulisannya kecil, rapet, dan marginnya mepet banget itu) pada kisaran tahun 2002 atau 2003 di Balikpapan. Dan, setelah selesai membacanya, saya menahbiskan novel ini menjadi salah satu dari sepuluh buku favorit saya sepanjang masa. Selama proses pembacaan, saya tak henti-hentinya dibuat melongo dan terkagum-kagum. Untuk kali pertama sepanjang pengalaman membaca, termasuk buku diktat sekolah atau kuliah, saya menyukai membaca footnote alias catatan kaki. Saya sampai kecewa jika ada halaman yang enggak ada catatan kakinya. Aneh, ya? Saya, sih, enggak merasa aneh, hehehe.




Saturday, November 22, 2014

[Resensi Film dari Buku] The Hunger Games #3: Mockingjay Part 1

Sejatinya, saya bukanlah penggemar dari trilogi YA dystopia The Hunger Games karya Suzanne Collins. Saya hanyalah salah satu penikmat ceritanya karena ikut-ikutan tren. Saya enggak mau jadi orang kudet alias kurang update kalau sekeliling saya sedang membahas sesuatu. Termasuk fiksi fantasi bersegmen young adult yang lagi rame ini dan film bagian pertama dari buku ketiganya sedang tayang di bioskop. Saya pun tak sabar menontonnya. Dan, siang ini, saya menontonnya di Planet Hollywood XXI.


Untuk bukunya sendiri saya baru baca bagian pertamanya saja, hehehe. Catching Fire dan Mockingjay masih anteng di rak buku. Namun, untuk filmnya sudah saya tonton hingga yang bagian pertama dari film ketiganya.



Monday, July 14, 2014

[Buku diFILMkan] Review - Delirium TV Series (Pilot)

Terus terang, saya belum membaca bukunya. Delirium by Lauren Oliver. Namun, saya selalu bersemangat jika mendengar kabar ada buku yang diadaptasi ke media lain. Termasuk Delirium ini. Meskipun, kemudian saya agak bertanya-tanya, mengapa hanya diangkat ke layar kaca bukannya ke layar lebar? Well, tak perlu ambil pusing. Pengarang dan kreatornya pasti punya alasan khusus kenapa Delirium lebih cocok divisualisasikan ke media serial televisi.
Ninety-five days, and then I'll be safe. I wonder whether the procedure will hurt. I want to get it over with. It's hard to be patient. It's hard not to be afraid while I'm still uncured, though so far the deliria hasn't touched me yet. Still, I worry. They say that in the old days, love drove people to madness. The deadliest of all deadly things: It kills you both when you have it and when you don't.






Setahu saya, episode pertama (pilot) dari rencana produksi serial TV Delirium ini sudah kelar syuting tahun 2013 kemarin dan hak siarnya dibeli oleh FOX. Tapi, belakangan diketahui bahwa FOX menolak menayangkan serial ini sehingga nasib produksi utuh dari serial ini menjadi tak jelas. Sebagaimana dilansir oleh EW.com, inilah alasan mengapa FOX menolak menayangkan serial ini:
Deemed “too young” for Fox’s audience. I know — Fox could have concluded that from reading the book and saved everybody the trouble. But there’s a difference between being youthful on paper and the resulting pilot feeling too young.

Syukurlah, agar episode pertama yang sudah dibuat tidak mubazir, dan fans Delirium juga dapat menikmati visualisasi novel ini, Hulu menayangkan pilot episode itu.

  
Dan, saya pun sudah menontonnya.

Sunday, April 20, 2014

[Buku diFilmkan] Resensi Me & You vs The World the movie


Me & I vs THE BORING!!!

Judul film: Me & You vs The World
Sutradara: Fajar Nugros
Penulis skenario: Endik Koeswoyo, Stanley Meulen
Produser: Gope T. Samtani
Adaptasi novel: Me and You versus The World
Pnegarang: Stanley Meulen
PH: RAPI Film
Durasi: 97 menit
Pemain: Rio Dewanto, Dhea Seto, Bucek, Zoya Amirin, Manohara, dll.

Sejujurnya, hari ini saya berniat maraton nonton film yang diadaptasi dari buku. Saya memilih Studio XXI Blok M Square sebagai tempat nonton, sekaligus berharap bisa main basket di arena permainan Zone 2000 di sela menunggu jadwal pemutaran film-filmnya (batal, tempatnya rame pisan!!!). Ada tiga film yang ingin saya tonton: 1. Me & You vs The World; 2. Sepatu Dahlan; dan 3. 3600 Detik. Tapi, niatan itu saya urungkan setelah saya enek nonton film pertama. 

Wednesday, October 23, 2013

[Buku diFilmkan] Best Promo Ever for CARRIE the Movie (Stephen King)

Stephen King mungkin menjadi salah satu anomali terbesar buat saya. Jujur, satu pun bukunya belum ada yang saya baca (kecuali On Writing, buku panduan menulis yang diterbitkannya), namun saya sudah ngefans sama Mr. King. Nggak tahu kenapa, sejak tahu ada penulis bernama Stephen King (one of the best contemporary horror, suspense, science fiction and fantasy), saya jatuh hati pada penulis ini. Nggak masuk akal? Memang iya. Tapi, yaaa...gimana ya, begitu adanya sih. Soalnya saya pun pengoleksi novelnya, meski belum dibaca juga. #plakkk

Nah, yang sebentar lagi akan dirilis adalah film adaptasi terbaru dari novel Carrie, novel keempat yang ditulis Mr. King tapi yang pertama diterbitkan (1974). Saya tak sabar menonton filmnya. Nah, semoga setelah menontonnya, saya segera tergerak untuk menuntaskan-baca beberapa novel karya Mr. King yang sudah saya koleksi.


Dan, berkenaan dengan rilisnya film adaptasi ini, Gramedia juga merilis ulang dengan kaver baru untuk novel Carrie ini. Saya suka banget kavernya.


Oiya, ada satu lagi yang seru sih. Satu video promo tentang film ini yang dikemas dalam sebuah video yang serupa reality show. Entah ya, apakah ekspresi pengunjung coffee shop di video ini beneran atau rekayasa, yang jelas seru aja kalau mereka benar-benar syok betulan. Simak deh video yang sudah ditonton lebih dari 43 juta viewers yang diberi judul: Telekinetic Coffee Shop Surprise ini. Menurut saya ini salah satu video promo terbaik yang pernah saya lihat. Bravo!


Selamat membaca dan selamat menonton, temans.

Tuesday, August 20, 2013

[Buku diFilmkan] Original Soundtrack of Mortal Instrument: City of Bones the movie

Saya memang belum membaca serial fantasy fenomenal karya Cassandra Clare ini. Namun demikian, sebagai seorang pencinta buku, lagi-lagi saya antusias demi mendengar serial ini difilmkan dan akan segera dirilis. Semoga saja film ini bisa menuai sukses menyusul jejak Harry Potter, Twilight, dan Hunger Games.

Oke, selain filmnya, minggu ini salah satu lagu yang akan mengiringi film ini juga secara resmi diluncurkan. Dan, betapa menyenangkannya ketika tahu bahwa Ariana Grande, salah satu penyanyi muda berbakat yang memiliki suara merdu itu yang membawakannya, berduet dengan Nathan Sykes berjudul Almost Is Never Enough. Surprise-surprise, saya menyukai karakter vokal Ariana. Semoga lagu ini juga sukses deh, biar makin banyak film-film baru yang diangkat dari buku...:)

Trailer film Mortal Instrument: City of Bones:

Sunday, July 14, 2013

[Buku diFilmkan] Teaser Trailer HOW TO TRAIN YOUR DRAGON 2

Woaaaaaa....sudah lama sekali saya menantikan kelanjutan How to Train Your Dragon difilmin, dan yihhaaaaa...akhirnya Dreamworks Animation sudah merilis teaser untuk How to Train Your Dragon 2..dan, oh well, memang masih lama sihhh...Juni 2014 baru akan tayang. Huuufff, semoga masih diberi kesempatan umur panjang untuk bisa menikmatinya yaaaa....amiiinn...


Banyak yang jejeritan (di kotak komentar youtube) Hiccup dah jadi cowok dewasa yaaa...udah puber gitu, hihihi...oiya, ini dia teaser trailer-nya:


Hihihi, jadi beneran gak sabar deh nungguin Juni 2014. Meski satu pun bukunya belum saya baca, tapi saya rajin mengoleksi versi terjemahan Mizan-nya. Dan, walau filmnya beda jauh sama bukunya, saya kok fine-fine aja ya? Dua-duanya punya keunikan masing-masing. Untuk kali pertama, saya nggak protes lho pas baca setengah bukunya dan menonton full film pertamanya. Agak luar biasa sih, bagi saya pribadi, yang suka protes kalau film udah beda jauh sama bukunya. :)

Sunday, June 23, 2013

[Buku diFilmkan] Nonton Bareng Film Refrain

Saya sedang bahagia. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya akan mendapat kesempatan langka bergabung dengan beberapa penulis top Gagas Media dan tentu saja Winna Efendi dalam acara Nonton Bareng Film Refrain yang diadakan Gagas Media, Minggu, 23 Juni 2013, pukul 14.30 WIB, di Pejaten Village. Awalnya saya sekadar mencandai @Winnaddict (penggemar karya-karya Winna di twitter) dengan bertanya 'bisa-nggak-ya-saya-ikutan-nonbar-tanpa-ikutan-kuis'. Hehehe, namanya #nyamber di status @Winnaddict ya saya tak meniatkan yang lain, apa lagi jika berkesan merengek minta-minta. Tidak. Tapi, kemudian tak dinyana Winna malah menawarkan satu tiket untuk ikutan nonton bareng Film Refrain itu kepada saya. Wahhhh, girang bukan kepalang donk saya.


Ahhh, saya sudah menggemari tulisan-tulisan Winna sejak membaca Ai dan Refrain. Jadi, sebenarnya saya sudah meniatkan akan menonton film ini jauh-jauh hari bahkan sebelum ada kepastian tanggal pemutaran filmnya (baru ketahuan sebagai proyek filmisasi). Saya pun tidak mengikuti kuis nonton barengnya karena saya pikir nonton barengnya ya sekadar nonton saja, tidak ada acara after the show. Ternyata ada Meet and Greet bareng Winna Efendi dan Haqi Achmad selepas acara nonton. Saya jadi mupeng. Tapi, tetap saya tak ikutan kuis, karena saya sendiri pesimis bisa menang di kuis-kuis seperti itu, hehehe. Namun, ya seperti kata almarhumah Ibu saya, kalau rezeki ya ndak ke mana dan ya ndak usah ditolak. Saya pun menerima dengan sepenuh hati tawaran Winna. Alhamdulillah, akhirnya dikirimin juga undangannya oleh Tim Gagas Media.




Kamu sudah nonton? Kalau belum, yukk nonton. Saya selalu suka menonton film adaptasi dari buku. Apalagi kalau itu dari buku yang saya gemari. Semangat menontonnya itu bisa beberapa kali lipat labih banyak dari film biasa-non-adaptasi.

Sekali lagi, terima kasih yang tiada terkira saya sampaikan kepada Winna Efendi dan Gagas Media yang sudah memberikan kesempatan untuk ikutan di acara nonton bareng Film Refrain besok (eh, hari ini yaaa....sekarang kan udah hari Minggu).

Selamat menonton!

Sunday, September 30, 2012

Books on Screen: The Lying Game TV Series

Well, saya sudah begitu jatuh cinta pada Pretty Little Liars [PLL], serial TV yang diangkat dari buku seri berjudul sama karya Sara Sheppard. Sejauh ini, saya baru membaca buku pertamanya saja, yang sudah diterjemahkan oleh Penerbit Ufuk dan masih menunggu seri-seri berikutnya untuk diterjemahkan. Yah, kalau pun tidak, hmm, mungkin saya ambil jalan pintas. Baca ebook yang sudah saya sedot. Hahaha.

The Lying Game Poster

Okay. Sekarang, saya sedang menyukai menonton serial TV lain yang juga diangkat dari buku seri karya Sara Sheppard, The Lying Game [TLG]. Yeah. Lagi-lagi saya pun belum membaca satu pun buku dari seri ini. Lagi pula, seri ini pun belum diterjemahkan di sini, dan entahlah, buku-bukunya Sara ini [imported] kok ya mahal-mahal pisan, semuanya di atas 100k. Padahal, ada buku impor yang lebih tebal harganya lebih murah. Tak tahulah, bagaimana harga buku-buku impor ini diatur di sini. Tak ada pola yang jelas, saya rasa. Jadi, merasa sayang beli bukunya [karena kemahalan, berharap ada terjemahan yang pasti lebih murah], hihihi.


Balik lagi ke TLG TV Series. Saya menonton via DVD dan, hmmm, awalnya sih saya menikmatinya, tetapi karena sudah terbiasa menonton PLL saya menjadi kurang terhanyut dalam cerita TLG. Pola yang digunakan hampir sama. Yah, dari judulnya sih sudah ketahuan, pun dari penulis yang sama pula, pola yang hampir sama, tentang kebohongan dan kejujuran {Liar = Lying}. Maka, beberapa adegan yang mirip di antara kedua serial TV-nya sedikit mengurangi kenikmatan menonton serial ini.

Cerita serial ini bermula dari tradisi Lying Game (Permainan Kebohongan) yang menjadi hobi dari Sutton Mercer. Ia yang merupakan anak adopsi Ted dan Kristin dan menjadi kakak dari adik perempuan, Laurel, menjadi seorang mean girl sejati. Berkawan dengan Madeline Rybak dan Charisma Charpenter di sekolah, bertiga menjadi teman yang tak terpisahkan. Lalu, secara tak terduga, Sutton mendapati fakta bahwa sejatinya ia punya saudari kembar yang terpisah, Emma Becker. Setelah chit-chat jarak jauh selama beberapa waktu, akhirnya keduanya memutuskan untuk bertemu. Dan, dengan dilatarbelakangi sejumput informasi yang dimiliki Sutton yang menyebutkan bahwa ibu kandung mereka diperkirakan masih hidup, dia menukar posisi, Sutton menjadi Emma, dan Emma menjadi Sutton, maka dimulailah kisah penuh teka-teki dan misteri demi menemukan jati diri keduanya.



Konflik datang dari banyak penjuru. Ada Ethan Whitehorse, cowok pacar rahasia Sutton setahun belakangan yang akhirnya diperebutkan oleh keduanya. Hubungan Ted dan Kristin yang awalnya romantis, lalu tersentuh badai. Alec Rybak, sang Jaksa Umum yang punya kehidupan penuh kabut dan Madeline serta Thayer Rybak, dua anaknya yang juga memiliki banyak masalah. Masih kurang? Tonton sendiri, karena cukup banyak konflik tambahannya.

Namun, sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, PLL mengaburkan ekspektasi saya akan TLG. Catatan-catatan misterius menjelang akhir season dan sikap persaudaraan antara Sutton dan Emma yang seperti dipaksakan runyam dengan konflik yang itu-itu saja sungguh menyebalkan. Bahkan, ada di satu titik saya sudah tak tahan menunggu kapan Sutton dan Emma akan jujur kepada semua orang bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda.


Satu lagi, yang saya pikir gagal, adalah pemeran Sutton dan Emma yang dimainkan oleh satu orang. Oh, benarkah ada dua bersaudari kembar yang benar-benar SAMA secara fisik? Yeah, gegara itu saya pun sulit untuk menyelami karakter masing-masing. Tapi, entahlah, mungkin di bukunya sendiri dibuat seperti itu. Nanti, akan dicari tahu deh dengan baca buku ini. Oh, satu artis memerankan tokoh kembar tidak selalu jadi bumerang kok. Buktinya, film Parent Trap, di mana Lindsay Lohan kecil sukses memerankan dua bersaudari kembar yang tetap memiliki kekhasan masing-masing. Dan, film itu menjadi salah satu film favorit saya.


Okehhh, saya tetap berharap buku seri TLG ada yang menerjemahkan di Indonesia. Dan, saya tetap akan menunggu season kedua dari serial TV ini, semoga tidak di-cancel. I hope so!


"I had a life anyone would kill for. "

"Then someone did."


The worst part of being dead is that there's nothing left to live for. No more kisses. No more secrets. No more gossip. It's enough to kill a girl all over again. But I'm about to get something no one else does--an encore performance, thanks to Emma, the long-lost twin sister I never even got to meet.


Now Emma's desperate to know what happened to me. And the only way to figure it out is to be me--to slip into my old life and piece it all together. But can she laugh at inside jokes with my best friends? Convince my boyfriend she's the girl he fell in love with? Pretend to be a happy, carefree daughter when she hugs my parents good night? And can she keep up the charade, even after she realizes my murderer is watching her every move?


From Sara Shepard, the #1 "New York Times" bestselling author of the "Pretty Little Liars" books, comes a riveting new series about secrets, lies, and killer consequences.


"Let the lying game begin."

Thursday, September 23, 2010

Thursday, December 31, 2009

Trailer resmi Film Percy Jackson and the Olympians - The Lightning Thief

Ini adalah trailer resmi dari sebuah film fantasi Hollywood yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Rick Riordian yang di Indonesia diterjemahkan dan diterbitkan oleh Mizan Fantasi (Grup Mizan) dengan judul, Percy Jackson & Dewa-Dewi Olympia: Buku Satu - Pencuri Petir (The Lightning Thief).

Saya sudah khatam membacanya sejak lama, tetapi belum sempat membuat review-nya. Ya sudahlah, saya sendiri sebenarnya sangat tidak puas dengan novelnya. Entah dengan film-nya. Bagi yang sudah membaca, berikut adalah trailer resmi dari film adapatasi tersebut, yang rencananya rilis di tahun 2010 ini.

Selamat menonton, saudara!




Thursday, December 17, 2009

Premier Film Sang Pemimpi 17 Desember 2009



WOW...WOW....saya tidak berharap film ini menjadi demikian indah. Frankly, I am totally speechless about this movie. Just, WOW...WOW....5 stars for this adaptation movie based on novel kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi berjudul Sang Pemimpi. Jujur pula, saya bukan penikmat karya Andrea Hirata (hanya baru baca separuh kurang sedikit dari buku pertamanya, Laskar Pelangi). Tetapi, film ini sungguh memikat hati saya. Bagi Anda para penikmat tetralogi yang fenomenal itu, jangan lewatkan sensasi Novel kedua yang difilmkan ini di bioskop...so amazin'

Catatan: salah satu film Indonesia yang semua figur (aktor, aktrisnya) bisa berakting dan sangat natural. Two thumbs up buat yang memerankan Pak Mustar, Nugie sebagai Pak Guru Balia, dan yang memerankan Arai. Tentu saja Rieke Dyah Pitaloka dan Mathias Muchus adalah aktor yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. TOP!

Okey, selamat menonton.

Di bawah ini adalah trailer resmi dan video klip soundtracknya, Sang Pemimpi by Gigi

Official trailer



Video Klip