Showing posts with label Ika Natassa. Show all posts
Showing posts with label Ika Natassa. Show all posts

Thursday, December 17, 2015

[Book Event] Diskusi Panel "How to Sell Your Ideas" by Kompas Gramedia Group

Minggu (13/12/2015) kemarin, yang merupakan hari kedua penyelenggaraan Kompas Gramedia Fair (KGF) 2015, saya baru menyempatkan diri untuk mampir. Widih, tumben, ya? Biasa juga kalau ada book fair, datang setiap hari? Well, selain semakin sempitnya waktu berleha-leha di luar urusan kantor, kesibukan newlyweds juga bikin waktu rekreasi menjadi lebih sedikit. Kali ini pun, saya datang sendiri, tanpa membawa pasangan. Dan, saya khusus datang ke arena KGFair 2015 untuk mengikuti diskusi panel "How to Sell Your Ideas (HTSYI)" yang diselenggarakan oleh panitia KGFair 2015, yang menghadirkan para panelis jempolan, di antaranya Ika Natassa. Sebagai pencinta metropop, wajib banget datang ke acara yang ada Ika Natassa-nya, dong *nyengir.


Melupakan fakta lokasi KGFair 2015 yang sama dengan penyelenggaraan kopdar Amore in Metropop tahun sebelumnya, yaitu di JCC (yang tidak ada ruangan khusus-tertutupnya), saya mengharapkan diskusi diselenggarakan di dalam ruangan khusus dengan suasana lebih tenang, terbebas dari kebisingan area sekitar. Tentu saja, harapan saya enggak jadi kenyataan. Diskusi diselenggarakan di panggung utama, open space, yang meskipun tata suaranya sudah disiapkan sedemikian rupa, masih saja terganggu kebisingan dari suara-suara di area sekitar.

Pun, saya jadi agak kecewa juga, sih, karena untuk ikut diskusi ini mesti bayar sebesar Rp75k, eh... malah acaranya di open space. Ckckck. Meskipun dibilang balik modal karena untuk peserta yang mendaftar disediakan goodie bag (berisi satu judul buku + voucher Gramedia Rp50k) serta kursi untuk duduk sepanjang acara, kalau tahu acaranya di open space, saya milih enggak usah bayar saja, deh. Berdiri pun saya rela, kok.


Monday, July 27, 2015

[Review Novel Metropop] Critical Eleven by Ika Natassa

Travel is meeting you...
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

Judul: Critical Eleven
Pengarang: Ika Natassa
Penyunting: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 hlm
Harga: Rp79.000
Rilis: 10 Agustus 2015 (PO: 1 Juli 2015)
ISBN: 9786020318929

https://www.goodreads.com/book/show/25737077-critical-eleven?ac=1

Tuesday, April 9, 2013

[Resensi Kumcer] Autumn Once More by Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, dkk


Heaven really knows what’s best for us...


Pengarang: Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, Hetih Rusli, Anastasia Aemilia, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Lea Agustina Citra, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan.
Penyunting: Tim Editor GPU
Pewajah sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 232 hlm
Harga: Rp40.000
Rilis: April 2013
ISBN: 978-979-22-9471-2

Setahu saya, Autumn Once More merupakan kumpulan cerita pendek (kumcer) bergenre metropop pertama yang ditulis secara keroyokan oleh beberapa novelis metropop dan editor GPU. Sedangkan untuk kumcer metropop sendiri sebenarnya sudah ada sejak Jakarta Kafe-nya Tatyana, sampai dengan serial Metropolitan (Nyonya Besar, Tuan Besar, Roman Orang Metropolitan, dsb) karya Threes Emir.

Daya pikat utama yang membuat kumcer ini istimewa tentu saja jajaran para penyumbang tulisannya. Siapa yang tak kenal nama-nama besar semacam Ilana Tan, aliaZalea, atau Ika Natassa? Ketiga penulis tersebut, menurut saya, termasuk novelis metropop terpopuler yang buku-bukunya superlaris bak kacang goreng di pasaran buku Indonesia. Bahkan, menurut mbak Hetih, salah seorang editor GPU, menyebutkan bahwa novelnya Ilana Tan sudah cetak ulang untuk yang ke-26 kali. WOW.

Thursday, October 25, 2012

Pengumuman Kuis Buku #1: Baca Mesra Bareng Pasangan

Wehhhh, ke mana saja saya, kok kuis yang sudah diadakan sebulan yang lalu baru diumumkan hari ini siapa yang beruntung. Nah, saya tak akan membuat excuses yaaa... yang pasti saya mengharapkan pintu maaf yang selebar-lebarnya kepada seluruh teman yang sudah bersedia ikut berpartisipasi dalam kuis kecil-kecilan di blog ini karena terlambat mengumumkan 'pemenang' kuis buku yang saya adakan.

Untuk lebih memudahkan dalam menelisik siapa-siapa saja yang beruntung, pengumuman akan saya posting secara berurutan dalam beberapa postingan yang berbeda. Nah, untuk kesempatan yang pertama adalah untuk kuis yang bertajuk "Baca Mesra Bareng Pasangan"

dari: troli.net

Dan yang beruntung terpilih adalah....



Melody (email dalam database admin) dan pasangan....selamat ya, Mel...tunggu email balasan dari admin...


FYI:
Kuis yang satu ini, banyak sekali yang protes, mengapa harus foto berpasangan. Mohon maaf buat para jomblowan/jomblowati atau yang sudah berpasangan tapi tak berkenan berfoto bersama pasangan. Kali ini saya memang ingin sesuatu yang unik, apalagi hadiah dari kuis ini juga memang cocok sekali untuk yang berpasangan (awalnya berharap pasangan yang sudah menikah, tapi akhirnya diputuskan boleh pasangan dalam status apa pun).

Monday, August 6, 2012

[Giveaway] #Agustus - Twivortiare by Ika Natassa

Hmm, saya mendadak kepikiran bahwa saya sudah berjanji akan menyelenggarakan giveaway bulan ini dengan hadiah 2 eksemplar novel metropop terbaru karya Ika Natassa, Twivortiare. Plusnya lagi, novel ini bertanda tangan penulisnya lho, karena kemarin memang sengaja pesan pakai jalur pre-order.

Berhubung akhir pekan ini saya sudah mudik ke kampung halaman tercinta, di sebuah kabupaten nun jauh di sana di Jawa Timur, maka giveaway akan saya buat ringkas dan cepat, tanpa perlu konfirmasi, sehingga saya butuh informasi alamat kirim yang ikutan giveaway agar ketika terpilih sudah langsung bisa dikirim. Nah gimana caranya ikutan? Simak saja caranya di bawah ini yaaa...


1. Giveaway berlangsung mulai hari ini (Senin/6 Agustus 2012 pkl. 08.00 WIB) sampai besok (Selasa/7 Agustus 2012, pkl. 18.00 WIB)
2. Menjawab pertanyaan yang diajukan HANYA melalui e-mail dengan subjek Giveaway Agustus ke metropop.lover@gmail.com
3. Dalam e-mail sudah disertakan alamat kirim yang jelas dan nomor kontak yang dapat dihubungi
4. Satu peserta hanya diperbolehkan mengirim satu e-mail
5. Kali ini saya ingin MEMILIH yang beruntung, bukan dipilihkan oleh software alias tidak diundi, tapi suka-suka saya, jadi jawablah pertanyaan yang ada sekreatif dan seunik mungkin yaaaaa....gampang kok, tapi kamu musti sedikit lebih berusaha. Okay?
6. Oke, ini dia pertanyaanya. Tapi sebelumnya baca dulu excerpt dari Twivortiare halaman 146 yang saya cuplik-langsung dari akun tumblr resmi milik Ika Natassa (mohon izin share ya, Mbak Ika).

an excerpt from Twivortiare, page 146
it’s impossible for us to find a perfect spouse if we model him/her toward someone, atau toward our own sets of criteria. The world just doesn’t work that way. We’re not God yang bisa bikin orang yang sempurna, sesuai dengan semua yang kita mau.

But we can try to find someone that just works. That when you and that someone are together, you both just work. Despite all the hiccups and each other’s shortcomings and imperfections and flaws. Banyak dari Beno yang mau gue ubah, sama seperti banyak dari gue yang pasti dia juga mau ubah. Countless. Banyak banget. Tapi terus, mau nunggu kami bisa mengubah each other dulu according to our ideal mindset baru bisa nerima? Nggak, kan? Terus, kalau emang kami berdua berubah sesuai yang diinginkan masing-masing, are we still the same person we both fall in love with?

So you know why you get the impression from my tweets that he is somewhat perfect?

Because to me, he just works. He and I work, despite our flaws and fights and all that. Sure we’re making adjustments with each other as we go supaya bisa jalan hubungannya, tapi ada beberapa things yang left unchanged dan memang harus di-accept aja.

Jadi nasihat gue buat lo semuanya: stop trying to find the perfect spouse according to your own ideal. Just find someone who just works with you. That’s all that matters.

Relationship is work. After we failed the first one, miserably I might add, Beno and I learned this the hard way. Jadi kalau udah ketemu yang sayang sama lo, lo sayang sama dia, both of you can work things out together, and it feels right (not perfect)… ya udah.

Dulu pernah baca quote ini dan menurut gue nggak banget, tapi ternyata setelah gue alamin ternyata beneran.

“You should love someone in spite of, not because of.”
Pertanyaan: Apa pendapatmu tentang situasi yang dibahas Ika Natassa pada bagian ini? Apakah kamu setuju atau tidak setuju? Why or why not? Give me a reason.


Nah, gimana, gampang, kan? Cukup jawab pertanyaan tersebut dan kirim by e-mail ke alamat yang ada di butir kedua cara ikut giveaway di atas....good luck yaaa...

Thursday, July 19, 2012

[Kabar Buku] Novel Metropop - Segera Terbit

Tiada yang lebih membahagiakan bagi seorang penggemar novel metropop (seperti saya) ketika mendengar kabar bahwa akan segera terbit novel-novel metropop terbaru dari Gramedia. Itu pertanda bahwa segala rasa rindu yang bersemayam di dasar lubuk hati akan segera tersampaikan. Meskipun, demi menyadari kenyataan bahwa novel-novel metropop tersebut merupakan karya debutan penulis yang baru terjun di ranah novel metropop, maka saya tak akan menggantungkan ekspektasi yang berlebihan.

Berikut adalah beberapa novel metropop yang akan dirilis pada beberapa waktu mendatang:

Rp40.000; halaman: 232; Prediksi Rilis: 26 Juli 2012


Sinopsis:
Kalau deritanya hilang, ingatan akan hal yang menyakitkan dan mengerikan tidak pernah akan hilang...

Menurut Byanca, perbedaan antara genius dan gila tipis sekali. Buktinya, pria yang katanya aktor andal sekaligus penyanyi Korea itu, Kim Jeonha, lebih suka menyerahkan pengambilan keputusan pada Mr. Gonzales yang ternyata adalah... kucing gendut peliharaannya. Dan Byanca harus rela mengejar-ngejar Jeonha selama mengerjakan biografi pria itu. Bagaimanapun, itu lebih baik daripada terus-menerus teringat pada mimpi buruk masa lalu.

Sementara itu, Jeonha merasa kehadiran Byanca membuat hidupnya tidak tenang lagi. Apalagi gadis Indonesia itu mengusulkan agar ia menceritakan kisah cintanya dalam biografi––satu hal yang paling tak ingin ia ingat, apalagi ia ungkit. Baginya, rasa sakit dan kebencian yang diakibatkan hal tersebut masih menyengsarakan, membuatnya hidup dalam dua neraka: kehilangan dan kesepian.

Namun tanpa sadar Byanca dan Jeonha jadi saling menguatkan. Mereka kembali bangkit, mencari kebahagiaan yang pernah hilang...

2. Hipster! oleh Dyahtri N.W. Astuti
Rp38.000; Halaman: 208; Prediksi Rilis: 26 Juli 2012


Sinopsis:

Hipster di sana, hipster di sini! Hipster melanda bagai wabah!

Meski berkecimpung dalam industri fashion, Nia tidak mengubah cara berpakaiannya yang klasik dan cenderung konservatif. Namun, dia mengejutkan banyak orang ketika dalam sebuah presentasi, salah seorang model berhalangan hadir dan Nia diminta menggantikannya. Ternyata dara sederhana ini bisa tampil menawan dan seksi dalam balutan hipster dan crope top!

Hal itu juga menarik perhatian Tommy Pranata, wakil direktur perusahaan; salah satu bujangan paling populer. Tommy sampai meminta Nia pura-pura jadi pacarnya untuk menjumpai seorang teman lama. Tetapi mantan playboy yang lama tinggal di luar negeri ini menyukai penampilan seksi Nia dalam balutan hipster. Nia yang telanjur jatuh cinta, tak berdaya menolaknya.

Sayangnya, penampilan barunya ini membuat Nia dilema, terutama karena sering membuat Tommy hampir lupa diri. Apakah Nia harus mempertahankan prinsipnya? Atau ia lebih memilih menyenangkan Tommy?


3. Roman Orang Metropolitan oleh Threes Emir
Rp45.000; Halaman: 280; Prediksi Rilis: 26 Juli 2012



Sinopsis:

== Based on True Story ==

Pengarang novel bestseller 'Nyonya Besar' & 'Tuan Besar'

Jatuh cinta adalah hak setiap orang, juga orang-orang yang tinggal di Metropolitan. Gaya dan lagaknya macam-macam.

Sheila yang baru berumur 21 tahun jatuh cinta pada dokter setengah umur yang wajahnya mirip Sean Connery. Tentu saja papanya keberatan. “Masa Papa punya menantu yang umurnya hanya berselisih dua tahun dengan Papa?” Tapi bukan alasan papanya yang membuat Sheila memutuskan hubungan, melainkan apa yang ditulis dalam blog anak Pak Dokter.

Pertama kali Pedro mengajak ceweknya brunch bersama Mami dan Papi di Hotel Shangrila, ceweknya bersendawa. “Hadeuuuh, Pedro, Mami gak mau ya kalau harus mengajarkan etiket pada calonmu. Carilah gadis dari strata sosial yang sama dengan kita.” Setelah mendapat gadis dari strata sosial yang sama, Mami berteriak, “Aduh, mamanya pacarmu itu tukang tembak!”

Amanda yang memiliki Papa setampan Javier Bardem mengaku pada sahabatnya, “Papaku tuh Don Juan tulen, untung kamu menolak ajakannya, kalau nggak, apa iya aku harus memanggilmu tante?”

Sabrina yang mirip Kate Middleton malu setengah mati atas kelakuan ayahnya yang berpacaran dengan tante suaminya. “Papa pulang ke Solo siang ini ya. Nanti saya antar ke airport. Saya maluuu sekali.”


4. Rainbow & Ocean oleh Ruth Priscilia Angelina
Rp40.000; Halaman: 208; Prediksi Rilis: 2 Agustus 2012



Sinopsis:

Gadis muda itu ternyata adalah batu karang. Ia memang tidak cantik. Ia hanyalah seonggok batu yang tampaknya tak terlalu baik. Ia sudah di situ. Mencintai laut, sejak kemarin, kemarin, dan kemarin.

Hingga pelangi muncul di langit mendung. Dengan senyuman ia memberikan harapan pada gadis muda itu. Harapan untuk keluar dari luka hati yang ia kira takkan pernah sembuh.

Neo Aldriano Yehezkiel
Jadi inilah awal dari penyesalanku. Cepat pulang. Kamu hanya menyukaiku seorang. Jangan jatuh cinta pada orang lain!

Clara Radella Keona
Jantungku rasanya hampir meledak saat melakukan semua itu. Aku ingin menangis. Ingin menangis karena hampir tidak bisa menahan degup jatungku yang terlalu cepat hingga menyesakkan dada. Aku belum berubah.

Kim Donggun
Senar-senar gitar yang usang mulai mengeluarkan nada cantik. Lagu lembut mengisi keheningan malam Natal dengan nada-nadanya yang pilu. Salju turun mengenai sekujur tubuhku.

“Nado. Bogosipho, Clara-ssi...”

Ketika cinta terlambat untuk disadari.


5. Twivortiare oleh Ika Natassa
Rp50.000; Halaman: 360; Prediksi Rilis: 6 Agustus 2012



Sinopsis:

“Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun Twitter-nya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil “mengintip” kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: “Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat bersamaan?”

Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.

Selamat berburu dan tetap membaca!


Sunday, February 5, 2012

[Resensi Novel Metropop] Twivortiare by Ika Natassa

Saya harus baca ulang Divortiare, definitely!
Read from February 1 to 4, 2012
Rating: 3,5 out of 5 star


Judul: Twivortiare (sekuel Divortiare)
Penulis: Ika Natassa
Desain sampul: Ika Natassa
Editor: Elysha Saputra
Proofreader: Syarafina Alfiansyah
Penerbit: independent by Ika Natassa (nulisbuku.com)
Tebal: 283 hlm
Harga: Rp60.000
Rilis: Januari 2012 (pre-order cetakan pertama)
ISBN: -

Summary
Alexandra Rhea, turn to be 31-year-old, still a banker, menuangkan segala unek-uneknya melalui akun twitternya, @alexandrarheaw. Tak sekadar permasalahan pekerjaannya saja, bahkan saat-saat berat setelah adu argumentasi dengan her twice-husband, Beno Wicaksono, ia tumpahkan melalui kicauannya yang sering ditimpali oleh sahabat karibnya, Wina Soedarjo, @winasoedarjo. Dan, melalui tweet-tweetnya, Alexandra menguraikan kehidupan pernikahannya yang untuk kedua kalinya dengan Beno. Berbekal pengalaman pahit divortiare pada pernikahan pertama mereka, Alexandra dan Beno berusaha saling menguatkan untuk menjaga tali cinta suci mereka, meskipun keduanya menyadari hal tersebut tidaklah mudah karena terbentang jurang perbedaan yang tak gampang diseberangi.

Simak liku-liku perjalanan sepasang mantan suami istri yang mendapat kesempatan kedua untuk kembali merajut mimpi melalui ikatan pernikahan ini dalam novel terbaru karya Ika Natassa bertajuk Twivortiare yang merupakan sekuel dari novel laris Divortiare dan novel kelimanya setelah A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa, dan Underground (online).


Tak perlu lagi saya menyebutkan alasan mengapa saya harus membeli dan membaca novel ini. Bagi saya nama Ika Natassa adalah jaminannya, jadi buat apa mikir dua kali buat beli? Maka, ketika secara tak sengaja di timeline saya membaca tweets teman pembaca yang suka karya Ika Natassa berkicau soal pre-order novel Twivortiare, saya langsung meminta bantuan oom Google untuk mencari informasi tentang hal tersebut, dannnn...akhirnya saya ikut ngantre pre-order novel ini. Maklum, dengan tawaran bonus tanda tangan saya pasti mau, mengingat tiga novel Ika lain yang saya miliki juga sudah bertanda tangan dirinya. Horeeeeee....

B.A.G.U.S. (semua huruf kapital) adalah kesan saya selepas membaca novel ini. Love it. Gaya menulisnya sih tak perlu lagi saya ragukan. Ika Natassa selalu menghadirkan suatu cerita yang mengalir lancar, manis dan sadis di saat yang bersamaan. Simpulan sederhana, saya dibuat ngikik dan sesek di waktu yang hampir berbarengan. Bahkan, di saat tertentu saya dibuat sebal sama kebebalan dua tokoh utama di sini. Sempat saya lempar bukunya, tapi dengan cepat saya pungut kembali, karena pada dasarnya saya penasaran setengah mati untuk mengikuti perjalanan hidup kedua tokohnya. Hadehhhh, nyandu bener nih buku.

Tak heran memang, bahwa banyak sekali yang jatuh hati pada sosok dr Beno Wicaksono, the busiest Heart Surgeon in Jakarta. He’s truly lovable. A gentle-wealthy-family-man. Siapa perempuan yang tak luluh jika sang lelaki pujaan hati bilang begini:
“I want you for dinner.” (hlm. 170), ketika sang perempuan bertanya apakah sudah makan malam di luar atau belum.
Atau perempuan mana yang tak mau dinikahi oleh lelaki dengan tanggung jawab sebesar yang dimiliki oleh Beno ini:
“Mulai menikah nanti, semua kebutuhan keluarga dan kamu, itu kewajiban aku. Everything.” (hlm. 146).
You, girls, sound materialistic? Hmm, ini area yang debatable, bisa jadi bahan diskusi selepas membaca novel ini. Tentu saja, Alexandra sudah memberikan pendapatnya di novel ini. Nah, tinggal pembaca untuk setuju atau berpendapat lain. The decision is yours.

But, I definitely need to re-read my Divortiare. I am kinda lost when I read this book. Jujur, ketika kali pertama terbit dan langsung baca pada sekitaran tahun 2008, I didn’t like Divortiare. I don’t know why, tapi saya sedikit kecewa pada Divortiare, karena saya menilai A Very Yuppy Wedding yang adalah novel debutan Ika lebih charming. Tapi kemudian saya agak ragu dengan feeling saya sendiri ketika banyak sekali teman pembaca saya malah jatuh hati pada novel Divortiare. So, what’s wrong with me?

Saya semakin merasa harus membaca ulang Divortiare ketika saya terlupa pada beberapa detail jalan takdir Alex-Beno di Divortiare yang punya pengaruh penting bagi keberlangsungan kisah pernikahan mereka di Twivortiare ini. Pertanyaan paling signifikan, mengingat background relijius kedua tokoh, apakah jenis perceraian yang ada di Divortiare adalah talak satu/dua/tiga? Who cares? For me, ini penting. Ya, balik lagi ke aturan hukum agama yang disematkan kepada dua tokohnya, jika sudah jatuh sampai dengan talak tiga maka keduanya hanya bisa menikah lagi apabila si perempuan sudah menikah dengan lelaki lain lalu bercerai dari lelaki itu. Nah, saya mencoba mencari clue di Twivortiare, dan cuma mendapati keterangan ini:
After a divorce and two marriages, Beno and I believe that marriage is work. (hlm. 17)
Namun, saya merasa dua pernikahan yang disebut dalam kalimat itu adalah tetap pernikahan Alex-Beno, bukan pernikahan setelah perceraian keduanya dengan orang lain. Dan, dalam curhatnya, Alex juga tidak pernah menyebut-nyebut mantan suami selain Beno. So, untuk sementara waktu, saya menganggap perceraian mereka di Divortiare memang belum sampai pada tahap talak tiga yang memungkinkan mereka untuk rujuk tanpa perlu renewed-the-marriage, apalagi mereka mulai dating lagi setelah 6 bulan dari adegan terakhir di Divortiare (Beno ngajak Alex makan nasi goreng Sabang). See? Penting banget bagi saya untuk membaca ulang Divortiare dan menemukan jawabannya.

Sebagaimana judulnya yang ada unsur Twit-nya, novel ini dirancang serupa timeline twitter dari akun @alexandrarheaw, yang hanya dipisahkan oleh tanggal update statusnya. Jadi, pada saat-saat tertentu, Alex juga meretweet (RT) dari follower-nya atau dari akun twitter tokoh populer semisal @paulocoelho dan @victoriabeckham. Mungkin yang perlu dijelaskan adalah sikap Beno yang mana awalnya dia apatis pada twitter lalu nge-tweet something about Alexandra. Hmm, selama ini Alex kan nge-tweet-nya behind Beno’s back, dan Beno juga tidak diceritakan punya akun twitter, nah itu gimana? Bukane kalu nge-tweet, tweet-tweet sebelumnya/timeline bisa saja terbaca dan mengingat sifat Beno, bukankah seharusnya terjadi ledakan kemarahan di adegan Beno nge-tweet itu (hlm. 152)? Oiya, novel ini mostly ditulis dalam bahasa Inggris (campur aduk sama bahasa Indonesia), dan terasa sekali unsur ekspresif-nya seperti kita yang bebas pasang status setiap saat.

Saya sempat iseng menghitung karakter sebuah paragraf dan ternyata terdiri dari lebih 140 karakter. Hmm, bakalan tambah unik sih kalau saja novel ini bener-bener serupa twitter di mana tiap paragraf tak lebih dari 140 karakter. Salut sudah pasti saya berikan karena jelas tak gampang merunutkan cerita dalam batasan seperti itu. Yang membuat saya agak kecewa, saya tak sempat ikut mem-follow akun Alexandra itu sehingga tak bisa menyimpulkan apakah seluruh isi buku ini adalah tweet Alex yang sudah dipublish. Btw, sekarang ini akun twitter @alexandrarheaw masih ada lho meskipun di-protect, lalu juga muncul akun twitter @siMbok yang merupakan khadimat di apartemen Alex-Beno, hahaha, ada-ada saja......:)

Membaca novel karangan Ika, yakin deh tidak hanya akan memberikan efek hiburan belaka tapi juga ada quote-quote keren yang bisa dijadikan sebagai bahan perenungan, introspeksi, atau materi diskusi bareng teman. Bagi saya, ini penting. Meskipun dari awal saya selalu meniatkan bahwa membaca buku itu untuk mendapatkan hiburan/sebagai refreshing tetapi saya juga berharap mendapatkan sesuatu. Tak jarang saya membaca buku hanya dapet nothing. Tapi membaca Twivortiare ini, saya mendapat banyak bahan untuk berkontemplasi.


Nahhhhhh, yang ini salah saya. Mengapa saya tidak menanyakan dari mana Ika mendapatkan ide untuk menggunakan judul Twivortiare. Ketika ikut A Very Yuppy Dinner with Ika Natassa saya hanya menanyakan mengapa ia memilih judul Divortiare dan batal menanyakan alasan pemilihan judul Twivortiare. Saat itu dalam benak saya, “Gak usah ditanya, bego banget sih pertanyaan, kan udah pasti itu lanjutan Divortiare yang tokohnya idup dan crita pake twitter,” dan sampai dengan pulang dari Plaza Senayan malam itu, saya tak pernah tahu alasan pasti Ika memilih judul Twivortiare. Untuk mengintip proses kreatif dari lahirnya Twivortiare, silakan kunjungi ikanatassa.tumblr.com

Mengingat Twivortiare edisi awal ini diterbitkan secara independen oleh penulis, saya sudah memprediksikan bahwa novel ini akan banyak cacat-nya di segi editing dan proofreading, meskipun saya tetap dibuat syok karena ternyata novel ini ada jajaran editor dan proofreader. Dalam bayangan saya, self-publishing itu (katanya) semua-muanya ditangani sendiri. Maka, saya harus bilang, masih cukup banyak kalimat yang tak diedit dan diproofread dengan baik. Kalau di istilah film/klip musik mungkin ini masuk kategori Unsencored atau Director’s cut, hehehe. Entahlah, saya memang pembaca kuno bin kolot sih ya. Dalam percakapan sehari-hari sih saya nggak peduli ada yang teriak soal F-word or Ass****, tapi di media buku yang suatu ketika bisa dibaca anak-anak under-age, hmm, saya berharap semoga bisa diperhalus.

OMG, puhleeeeeasseee deehhhhh, ini zaman kan internet, cyiiiin, perlu gitu dipermasalahin? Hahaha, for me, masih penting. Saya saja kesal ketika video klip single Criminal-nya Britney Spears yang begitu indah (dan BritBrit cantik banget di situ) malah kena flag di youtube dan hanya bisa ditonton oleh yang sudah dewasa hanya gegara video itu menampilkan (sedikit) adegan violence and sexy scene. Tapi, ya, sometimes, ada beberapa hal yang tak diperkenankan untuk menerjang boundaries, kan?. Nggak nyambung, ya? Hahaha, maafkan.

But, overall, saya suka novel ini. 3,5 bintang untuk novel ini. 1,5 bintang lainnya saya simpan karena cukup banyak typo (atau emank disengaja karena itu dari tweets? dunno) dan suatu ketika saya terhantam kejenuhan ketika adu argumentasi Alex-Beno berulang-ulang-ulang-ulang sampai beberapa kali. Saya sadar sih, pengulangan itu penting untuk membuat twist di endingnya itu benar-benar terasa. Namun demikian, di saat-saat tertentu saya capek sendiri mendapati sisi labil dari dua tokoh ini.

Okay, selamat membaca kawan! Dan bagi yang nggak pre-order kemarin, sabar yaaaa, novel ini akan dirilis resmi oleh Gramedia sekitaran bulan Mei 2012 (source: ikanatassa.tumblr.com)

Wednesday, February 1, 2012

[Buku Baru] Twivortiare by Ika Natassa

Whoaaaaaaaa....it's finally arrived on my shelf. I've been waiting for it since I ordered it a couple days ago. Thank GOD. Thank @ikanatassa and @nulisbuku. Jadi, karena novelnya sudah sampe, mari kita singkirkan yang lainnya dan kita baca yang ini, haghaghaghag....:)

By the way, tambahan koleksi nggak hanya Twivortiare ini. Hari ini saya juga sempat berkunjung ke Gramedia Plaza Semanggi and heard the news that there are not Book Lover's Time anymore yang biasanya Gramedia suka ngasih diskon untill 20% untuk buku-buku terbitan KPG, kerja bareng Bank BCA. Yahhhhh.... padahal seru ya, the whole years, we have a chance to get 10% discount. Semoga di waktu ke depan, masih ada kerja sama seperti ini lagi. #Ameen

Oke, ini dia penampakan buku baru yang ngendon di lemari buku saya. Silakan dilirik. Oh, yang dua di belakang itu buku obral, each @Rp10.000




Mari membaca....:)

Tuesday, January 17, 2012

[Book Event] Kuis A Very Yuppy Dinner with Ika Natassa

WAW! WAW! WAW! Seru banget nih kalo bisa menang. Pengen banget bisa kepilih. Tapi kalo saya sih, pengen ketemu saja sih, jadi kalo nggak kepilih kira-kira boleh nungguin di luar nggak, ya, terus mau nanya-nanya dikit gitu? Plus minta tanda-tangan? Plus lagi foto-foto gitu? Hikz, pengen banget. #muka.melazt




Oke, bagi kalian yang mau ikutan kuisnya masih berlangsung kok (sampai dengan besok, Rabu, 18 Januari 2012, pkl. 15.00 WIB), yang jelas kamu harus punya akun twitter untuk bisa ikutan. Eh, tau juga sih, apakah ada media sosial lain yang digunakan @Gramedia untuk ngadain kuis ini. Tapi, khusus yang di twitter, caranya adalah seperti yang saya capture dari RT tweet-nya @Gramedia berikut ini:


Saturday, January 14, 2012

[Book News] Ika Natassa Segera Terbitkan Twivortiare (Sequel Divortiare)

Saya memang tidak mendapat kesan mendalam pada novel Divortiare. Entahlah, saya yang sedang tidak mood baca atau bagaimana, ketika banyak pembaca memuji novel itu, saya justru tak bisa melepaskan jerat pesona A Very Yuppy Wedding yang malah masih dianggap biasa oleh pembaca yang lain. Ugh, apa yang salah pada saya? Mengapa rasa saya berbeda dengan kebanyakan?


Saya sih..., cuek. Ya, mau bagaimana. Saya memang kurang mendapat rasa pada novel itu. Namun demikian, saya tak akan menolak untuk mengoleksi novel apa pun karya Ika Natassa. Sudah nge-fans sih...hehehe. Termasuk novel Twivortiare yang desas-desusnya disebutkan sebagai sequel dari Divortiare. Serius? Tahu dari mana?

Di twitter sih baru-baru ini, Ika membahasnya, tapi saat ini twitternya di-protect. Lha, kenapa? I dunno! Saya juga nggak mengikuti secara intensif, karena saya memang baru aja tahu. Lalu saya mencoba berseluncur dengan bantuan oom Google. Dan ini beberapa blogger yang membahas tentang Twivortiare:

Lagi-lagi, Ika Natassa membuat gue gemas dengan ending ceritanya. Rasanya seperti masih ada yang menggantung walaupun sudah terbayang di kepala gue siapa pemilik hati Alexandra yang sebenarnya. Untung saja menurut kabar terpercaya, Twivortiare, novel yang berisi lanjutan cerita hidupnya Alexandra , bakal segera terbit tahun 2012.

Ceritanya based on sebuah akun fiksi twitter @alexandrarheaw, dimana seolah-olah Alexandra sendiri yang mentwit tentang kelanjutan hidupnya sehari-harinya setelah Divortiare. Jangan tanya gue yaa ini beneran Alex yang ngetwit atau ada adminnya khusus, itu sih tanya aja dah langsung sama penulisnya. Hehee..

Yang pasti, i enjoy Alex’s tweets everyday dan nggak sabar nunggu Twivortiare, karena gue juga sebenarnya nggak mengikuti akun twitter ini dari awal.

So, my friend, sebelum Twivortiare beneran terbit dan lo terhanyut sama cerita hidupnya Alex, ada bagusnya lo baca Divortiare dulu dari sekarang. Bahkan ada nggak ada-nya Twivortiare, i’ll just recomend you to buy and read Divortiare. It’s a very super nice story, you know... ;)
diposting oleh aci_harkina di punyaharkina.blogspot.com



Oh iya, yang bikin saya berlipat – lipat gemas dan nggak sabar adalah karena Ika akan melanjutkan kisah Alex – Beno ini dalam sekuelnya, Twivortiare, yang akan terbit tahun depan. Akankah Alex dan Beno kembali bersama dengan konsep hubungan yang lebih baik? Atau justru menemukan jalan bahagianya masing – masing.

So, jangan sampai melewatkan Twivortiare juga. Sering – sering ngecek daftar rilis buku baru, yah!
diposting oleh @hubsche_petty di hubschepetty.blogspot.com



Sayangnya, buku ini ga memberikan kalian ending seperti yang diharapkan. But, don't worry.. Ika Natassa udah mempersiapkan buku keempatnya yaitu Twivortiare yang isinya adalah tweets dari Alexandra mengenai kelanjutan hubungan mereka. Dan kalo gw lihat, they're starting over.. Account twitternya ada, tapi diprotect. Sayang sekali. Dan akibat membaca divortiare ini, gw ga sabar menunggu Twivortiare terbit buat menjawab pertanyaan Alex, yaitu "can you love and hate someone so much at the same time?".

What do you think?? ;)
diposting oleh silph05 di sunshinesharelove.blogspot.com

 
So, mari ditunggu saja. Kabarnya sih bakal ada pre-ordernya.

Thursday, December 15, 2011

Resensi Novel Metropop: Antologi Rasa by Ika Natassa

Mengapa cinta harus serumit ini, sih??
Read on August 25, 2011
Rate: 4 out of 5 star



Denise:
Aku bahagia dengan persahabatan kita, Ruly, Keara, Harris!
Ruly:
Aku akan selalu memimpikanmu untuk menjadi istriku, Denise.
Keara:
Gue musti apa untuk mendapatkan cinta lo, Ruly?
Harris:
Gue akan ngelakuin apa aja buat lo, Keara, asal lo jadi milik gue.

Wahhhh, selain menunggu terbitnya lagi novel fiksi karya Alberthiene Endah, menunggu tulisan paling anyar dari Ika Natassa adalah penantian terpanjangku sebagai penikmat lini metropop. Sejak tergila-gila pada A Very Yuppy Wedding (AVYW) dan terpikat ketika membaca Divortiare, aku selalu berharap penulis yang adalah bankir ini dapat menerbitkan novel fiksinya secara reguler. Tiap bulan, maybe? #ngarep.

Dan, penantian panjang itu berakhir dengan terbitnya novel metropop terbaru Ika bertajuk Antologi Rasa (AR). Ketika kali pertama tahu tentang buku ini dari newsletter yang dikirim Gramedia by email, kupikir bentuknya adalah kumpulan cerita (terkait judulnya yang menggunakan kata antologi). Sudah ketar-ketir aja, secara aku agak kurang bisa menikmati kumcer, recently. Thank GOD, it’s a novel!
 
AR mengalir dalam irama khas Ika Natassa. Gaya menulisnya yang telah menyihirku sejak AVYW masih terasa di AR ini. Sinis, sarkastis, terkadang hiperbolis, dan tak jarang komikal-kocak (terutama dialog-dialog vulgar menjurus mesumnya, hehehe), membuatku enggan untuk meletakkan buku ini sebelum benar-benar tuntas terbaca. Oke, nggak langsung habis dalam hitungan jam, namun selesai dalam sehari masih terbilang cukup cepat buatku. Ugh, adiktif bener lah tulisan si mbak satu ini. Buatku, paling tidak.

Soal ceritanya sih, bukan barang baru. Novel ini “hanya” me-repackage kisah cinta bersegi biasa dalam kemasan baru. Yang bikin beda, tentu saja sentuhan khas Ika dan bumbu penyedap racikannya yang bikin segar konflik-konfliknya. Ini “cuma” cerita 4 orang sahabat yang terjebak dalam hubungan persahabatan yang dipenuhi letupan-letupan asmara rahasia di antara mereka. Tambahkan setting kota besar, barang bermerek, dan event mewah ber-budget nggak masuk akal, maka novel ini memang stereotip metropop kebanyakan. Bagi yang nggak suka lini metropop, ornamen inilah yang membuat kebanyakan dari mereka mencibir. Penting gitu, ngebahas branded things? Hahaha, gue sih fun-fun aja. Secara nggak bakal juga kebeli tuh barang-barang. Nyante aja, man!

Oke, untuk segmen tertentu, novel ini akan dengan mudah disukai. Pertama, pembacanya harus menguasai bahasa Inggris minimal secara pasif, karena cukup banyak kisahnya yang ditulis dalam bahasa bule itu. Kedua, pembacanya harus open-minded. Jangan kayak gue yang kolot gini. Baca bagian di mana para tokohnya minum alkohol kayak minum aer saja aku sudah nggak tahan pengen ngehujat. So, anggap saja lah ini memang realitas bunga-bunga sosialita Jakarta. Jangan lagi merasa aneh jika di sebagian kisah yang lain, seseorang ML sesering ia ganti celana dalam tanpa ikatan pernikahan, free sex. Sudah jelas, novel ini bakal masuk kategori “amoral” jika membacanya sembari mengingat aplikasi keagamaan. Jadi, bacalah dengan pikiran terbuka dan yah...sekadar membaca, just for fun, jus for laugh (jadi inget Tukul). Ketiga, ya soal background tokoh-tokohnya yang sudah so f*cking perfect, tajir pula. Sinetron banget, kan? Siap-siap merasa hina deh bagi peminder sejati (like me, huhuhu). Nggak ada deh tuh tokoh hidung pesek, gigi tonggos, atau melarat yang bakal beruntung dapat porsi di novel ini. Namun, khusus untuk yang ketiga ini, aku sih udah nggak gitu-gitu peduli. Oleh sebabnya, seseorang pernah bilang, “kasian pembacanya donk kalo di cerita aja masih harus baca tokoh jelek dan kere, secara di dunia nyata sudah miserable,” maksudnya hidup di dunia sudah susah, ya biar saja lah pengarang memanjakan pembacanya dengan yang indah-indah, dengan fantasi kelas tinggi. And, I must agree with that.

Tak seperti AVYW yang tak kulewatkan satu tanda baca pun, pada AR ada beberapa part yang aku lompati karena hanya berupa pengulangan dari statement masing-masing tokohnya. Ada Ruly yang dari satu bab ke bab lain terus saja bermimpi hidup berdampingan dengan Denise. Atau Harris yang terus menerus memuja Keara. Entah ini kategori bagus atau jelek, aku melewati part itu gegara geregetan pengen tau gimana ending-nya sebenarnya. Dan, about the ending? Aku suka bab terakhir, meskipun jalan menuju bab terakhir, yang melibatkan proses “8 month later” itu, duhh, kok ya kayak gitu ya. Nggak rela banget, perjuangan sebegitu dramatisnya, diakhiri hanya dengan begitu? #huhuhu

Gaya mendongeng Ika yang maju-mundur perlu mendapat kecermatan tersendiri, agar plotnya tetap logis dan kronologis. Awalnya aku ingin secara khusus peduli pada pergantian waktu yang di-manage oleh si pengarang. Namun, akhirnya kuabaikan saja soal perhitungan waktu itu. Bodo amat deh, nikmati aja lah jalan ceritanya. Soal lain yang aku suka dari Ika adalah kepiawaiannya untuk menguraikan hal-hal umum keseharian sebelum membawanya ke kehidupan para tokohnya. Analogi-analoginya juga masuk banget.

Yang lucu adalah sehabis aku menyelesaikan Waiting for You-nya Susane Colasanti yang John Mayer banget, lha kok...novel ini juga nggak kalah John Mayer-nya. Widihh, ada apa sih dengan John Mayer ini. Sekeren itu kah male soloist satu ini? Apa aku perlu menghayati lagu-lagu John Mayer (atau malah belajar gitar kayak doi) biar ada cewek yang klepek-klepek? #eh malah curcol. Huff!

My favorit line, yang bisa aku pakai kalau lagi suntuk di kantor dan terkadang pengen loncat dari lantai 20 gedung kantorku:
“Bodoh banget memang gue ya lama-lama, nonstop mengeluh tentang kantor ini, tapi tetap aja kerja di sini sepenuh hati. Yeah, sepenuh hati my ass.”
Sedangkan sedikit rasa penasaran pada:
1. Berapa kemungkinan dua orang yang berbeda memiliki fantasi pada satu tokoh yang sama? Keara yang paranoid ketemu Hannibal Lecter di kereta dan Harris yang berfantasi menjadi santapan Hannibal Lecter (hlm: 323). No biggie lah ya, hanya saja, jelas terlihat bahwa si pengarang masih terlibat di sini, bukan si tokoh yang bercerita, padahal PoV yang digunakan orang pertama.
2. Just a silly question, di pesawat (penerbangan internasional) masih boleh gitu ya nyalain BB? (hlm: 226)

Yang bikin kesel, pada awalnya, adalah para tokohnya yang pemuja kebebasan ini, kok ya masih terjebak pada ketakutan untuk menghancurkan persahabatan jika dua orang yang bersahabat terlibat dalam hubungan cinta? Apa susahnya sih ngomong, I love you? #halah gue aja nggak berani kok bilang itu ke inceran gue. #eaaa Tapi, ya, ini juga stereotip novel metropop, ya? ML oke, tapi ngaku cinta aja cemen. So, let it be. Hahaha.

Selamat membaca, kawan!