Showing posts with label Gagas Media. Show all posts
Showing posts with label Gagas Media. Show all posts

Monday, January 16, 2017

[Resensi Novel Romance] Angel in The Rain by Windry Ramadhina

#3_2017

First line:
Di salah satu sisi Charlotte Street yang basah, dia berdiri memanggul tas besar.
---pg.8, Chapter: LONDON: Pertemuan di Tengah Hujan

Ini kisah tentang keajaiban cinta.

Tentang dua orang yang dipertemukan oleh hujan. Seorang pemuda lucu dan seorang gadis gila buku yang tidak percaya pada keajaiban.


Di Charlotte Street London, mereka bertemu, tetapi kemudian berpisah jalan.


Ketika jalan keduanya kembali bersilangan, sayangnya luka yang mereka simpan mengaburkan harapan. Ketika salah seorang percaya akan keajaiban cinta, bahwa luka dapat disembuhkan, salah seorang lainnya menolak untuk percaya.


Apakah keajaiban akan tetap ada jika hati kehilangan harapan? Apakah mereka memang diciptakan untuk bersama meski perpisahan adalah jalan yang nyata?

Judul: Angel in the Rain
Pengarang: Windry Ramadhina
Editor: Yuliya & Widyawati Oktavia
Penyelaras Aksara: Widyawati Oktavia
Desainer sampul: Windry Ramadhina & Agung Nugroho
Penerbit: GagasMedia
Rilis: 2016
Tebal: viii + 460 hlm
ISBN: 9789797808709
Format: e-Book on Playbooks (Google)
Harga: Rp19.000 (promo)
My rating: 4 out of 5 star

Saya begitu terbuai oleh LONDON: Angel dan benar-benar terhanyut bersama Walking After You, maka ketika terdengar kabar Windry akan menuliskan penggalan kisah lanjutan LONDON: Angel saya girang bukan main. Apalagi tokoh yang akan dihidupkan adalah Ayu dan Gilang. Saya sendiri begitu terpikat pada karakter Ayu di LONDON: Angel.

Namun demikian, saya baru saja kecewa pada pembacaan karya Windry terakhir, Last Forever. Oleh karenanya saya kelewat banyak berpikir untuk jadi membeli-baca atau tidak ketika Angel in the Rain, si kisah lanjutan itu, akhirnya benar-benar terbit. Maju-mundur-cantik-cantik setiap mau mencomot dari toko buku. Lalu saya pun memutuskan: 1) pinjam teman, kalau suka baru beli; atau 2) nunggu diskonan harga obral.

Ternyata pilihan kedua yang datang terlebih dulu, meskipun tak benar-benar sama, karena yang diskon justru berformat digital di Playstore. Gambling (karena enggak yakin bisa kelar baca di handphone), akhirnya saya beli juga versi digital yang diobral itu. Dan, Angel in the Rain menjadi buku panjang pertama yang selesai saya baca di handphone! Woo-hoo, rekor. Sebenarnya saya juga pembaca e-book, tapi lebih seringnya saya baca di iPad. Sedangkan di handphone saya hanya menyimpan beberapa judul novel saja, dan belum ada satu pun yang terbaca.

sumber: www.pinterest.com

Angel in the Rain ditulis dengan alur maju-mundur. Sebagian besar ber-setting di Jakarta dengan kilasan ingatan ber-setting di London. Kisahnya sendiri dimulai dari bagian akhir kisah LONDON: Angel, ketika Gilang dan Ayu kembali ke Jakarta. Rancangan pertemuan sudah bermula sejak mereka secara tak terduga bertemu di London. Namun, di Jakarta-lah silang kehidupan mereka akhirnya dipertemukan. Dengan segenap kerumitan yang diracik Windry.

Masih tampil dengan diksi menawan, kalimat efektif, dan narasi yang mendetail, saya begitu betah menekuni lembar demi lembar (versi digital) novel kesembilan Windry ini. Gairah saya yang memudar ketika membaca Last Forever, secara drastis meningkat puluhan kali. Didukung pula dengan semangat baca saya yang entah bagaimana cukup bagus di awal tahun 2017 ini.

Buat yang sudah baca LONDON: Angel pasti tahu dong kenapa Gilang pergi ke kota Big Ben itu? Belum tahu? Hmm, baca lagi kalau begitu... dan buat yang belum baca, saya sarankan baca dulu, deh. Hehehe. Kecuali kamu enggak begitu ingin tahu apa saja yang dialami Gilang selama di London, oke-oke saja sih kalau tetap mutusin baca Angel in the Rain tanpa membaca LONDON: Angel dulu. Toh, sebenarnya ada beberapa bagian di sini yang menjembatani bolong informasi itu. Tapi, ada baiknya kamu baca dulu LONDON: Angel, ya.

Di sini Ayu dikenalkan sebagai gadis si gila buku yang ternyata adalah seorang penulis novel pupoler yang cukup laris, sedangkan Gilang sebagai si pemuda lucu yang ternyata adalah editor sastra yang sedikit anti-novel populer. Kontras. lalu, bagaimana dua orang asing yang hanya kenal sepintas lalu (dan bertolak belakang sifatnya itu) akhirnya bertemu kembali? Semoga bukan spoiler, semua karena buku Burmese Days cetakan pertama karya George Orwell. Apa dan bagaimana? You should read it by yourself. Baca sendiri!

Singkatnya, memang ada yang terjadi antara Ayu dan Gilang. Tapi, jangan langsung berasumsi ini kisah yang gampang. Ada cerita lalu yang tak sepenuhnya berlalu. Ayu dengan Em, dan Gilang dengan Ning. Ada pula geng suporter Gilang: Brutus, Dum, Dee, dan Hyde. Lalu orangtua Ayu dan kakak perempuannya, Luh, yang menuntut Ayu terlalu banyak. Yakinlah, ini bukan kisah cinta yang gampang.

Angel in the Rain diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama baik dari sisi Ayu maupun Gilang. Namun, runutan kisahnya, sesekali dinarasikan oleh Goldilocks dan payung merahnya. Maka, jangan heran jika pada beberapa bagian novelnya seperti sok kenal sama kita--pembaca--dengan memanggil 'Sayang' dan mengajak kita mengobrol. Pernah lihat serial TV Gossip Girl atau Desperate Housewives yang fenomenal itu? Nah, seperti itulah Angel in the Rain diceritakan.

sumber: bestpaintingforsale.com
Departemen karakter juga digarap maksimal oleh Windry, as usual. Saya suka semua tokoh-tokohnya, tentu saja terutama Ayu dan Gilang. Keduanya tampil memesona, kuat, dan hidup dari awal hingga akhir. Tokoh pendamping juga tak kalah kuatnya. Sebut saja Ning, Luh, dan Em. Oh, dan juga Ungku, pemilik toko buku langka di kawasan Kota Tua.

Yang mengganggu saya justru hadir di akhir. Ending-nya bikin aaarggghhh... in a bad way. Entahlah. Saya mengharapkan sesuatu yang grande. Bukan sesuatu yang mudah begitu. Oke, bagi kedua tokohnya mungkin bukan akhir yang mudah. Tapi, secara keseluruhan, buat saya ending-nya kurang nendang. Tapi, don't ask me. Saya juga enggak tahu harus diapain tuh berdua. Yang pasti, bukan yang seperti itu. Atau bakal ada novel lain yang melanjutkan kisah mereka? Saya kok nangkap kesannya begitu waktu baca penggalan curhat Goldilocks di pengujung novel. Hmmm.

Oiya, saya bilang Angel in the Rain juga memuat unsur Walking After You? Yap, ada sebagian kisah di sini yang terjadi di toko kue Afternoon Tea yang dikelola An dan Julian yang merupakan napas utama novel Walking After You.  

Overall, saya cukup puas dengan Angel in the Rain, meski tidak semenghanyutkan Walking After You atau LONDON: Angel sekalipun. Nostalgia yang manis dengan malaikat hujan.

Jadi, selamat membaca, tweemans!

End line:
Gilang dan Ayu, meskipun demikian, bersisian semakin rapat di bawah payung merah.
---pg.50, Chapter: UBUD: Pertemuan Kembali di Tengah Hujan

Tuesday, October 18, 2016

[Resensi Novel Romance] Last Forever by Windry Ramadhina

First line:
Dia menyelinap turun dari tempat tidur.

“Seharusnya, aku tidak boleh mengharapkanmu. Seharusnya, aku tahu diri. Tapi, Lana..., ketakutanku yang paling besar adalah... aku kehilangan dirimu pada saat aku punya kesempatan memilikimu.” — Samuel

“Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar?” — Lana

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara. Lalu, bagaimana saat menyerah kepada cinta, justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tak mereka duga?
Goodreads:

Judul: Last Forever
Pengarang: Windry Ramadhina
Penyunting: Jia Effendie
Penerbit: Gagas Media
Tebal: vi + 378 halaman
Rilis: 20 Oktober 2015
ISBN: 9789797808433
Rating: 2,5 out of 5 star

ide cerita dan eksekusinya:
Sebagaimana telah dinyatakan dengan cukup jelas di sinopsis (blurb)-nya, Last Forever berkisah tentang dua tokoh antikomitmen yang justru harus tunduk pada komitmen. Dalam perjalanannya, konflik ini dibumbui perang batin masing-masing (terutama menyangkut prinsip hidup dan karier) ditambah kisah hidup orang terdekat mereka yang sedikit-banyak memberi pengaruh bagi pengambilan keputusan.

Namun, ya, begitu saja. Tak seperti Memori atau Interlude atau Walking After You atau London: Angel yang memberi kesan begitu mendalam dan kompleks, Last Forever selesai begitu saja. Hampir tak ada rasa yang membekas ketika saya membalik halaman terakhirnya. Bahkan, ending-nya pun terasa... ya, begitu saja. Tidak ada ledakan yang mengejutkan. Tidak ada lelehan manis yang memabukkan. Entahlah, kali ini saya dicukupkan hanya pada kenikmatan diksi racikan Windry Ramadhina yang, seperti biasa, demikian indah.


meet cute:
Kedua tokoh utama sudah saling mengenal sehingga tak ada adegan perkenalan bernuansa romantis, paling hanya ketika salah satu tokoh membuka lembar ingatan saat mereka kali pertama bertemu dalam sebuah event di Cannes.

plot, setting, dan karakter:
Last Forever beralur maju, dengan beberapa bagian para tokohnya memutar kenangan masa lalu dalam rangka pengembangan konflik atau penguatan karakternya.

Last Forever ber-setting waktu modern (masa kini tanpa penyebutan tahun secara pasti) dengan setting lokasi: Jakarta, Flores, dan Washington. Sebagian besar cerita terjadi di Jakarta tapi Flores adalah lokasi sumber konflik. Oleh karena latar belakang para tokohnya, ada sedikit gaya penceritaan kisah perjalanan (traveling) di lokasi-lokasi tersebut.

sumber: travel.kompas
Tokoh utamanya adalah Lana dan Samuel Hardi. Keduanya sama-sama pekerja seni, lebih tepatnya pembuat film dokumenter. Lana adalah kru National Geographic yang berkantor di Washington sedangkan Samuel Hardi adalah pemilik studio film Hardi di Jakarta yang kerap jadi langganan partner Nat Geo. Lana adalah tipe easy going, supel, ramah, tapi juga ambisius. Samuel justru kebalikannya: kaku, dingin, perfeksionis, sekaligus playboy. Keduanya memiliki persamaan: antikomitmen dan tak percaya pada institusi pernikahan. Di sekitar keduanya ada Pat (rekan kerja Lana di NatGeo), Rayyi (kolega Samuel), Ruruh Rahayu (ibu Lana), William Hart (ayah Lana), Nora (asisten pribadi Samuel), dan beberapa tokoh pendukung lainnya.

konflik:
Well, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, konfliknya cuma satu: perang batin dua tokoh antikomitmen. Lana dan Samuel digambarkan sebagai dua pekerja kekinian yang hampir-hampir tak lagi terikat adat ketimuran. Keduanya memilih berhubungan tanpa status, tanpa komitmen, dan mungkin (awalnya) tanpa cinta.

Ini juga yang membuat saya agak terganggu selama proses pembacaan. Tumben banget, Windry membuat tokohnya sedemikian bebas. Pun, orang-orang di sekitar mereka seolah-olah mengamini dan mendukung mereka. Hanya ibu Lana saja yang sepertinya berkeberatan meskipun hanya sejenak. Namun, ini murni preferensi pribadi saya saja. Mungkin saya kolot, mungkin saya tidak open-minded, hanya saja saya selalu dan terus berharap para pengarang tetap berupaya mengampanyekan hal-hal baik, minimal yang telah disepakati secara umum.

Bumbu konflik utama minim sekali. Poros bumi sepertinya hanya berpusar pada Lana-Samuel. Sumbangan subplot yang paling terasa hanya pada rahasia kehidupan pernikahan orangtua Lana. Selebihnya hanya remahan yang melingkupi tarik ulur antara Lana dan Samuel. Karenanya saya sampai membaca-cepat alias skimming dengan melewati banyak bagiannya. Entahlah, apakah ada hal penting yang akhirnya tak tertangkap radar baca saya, tapi saya rasa tidak.

ending:


catatan:
Sebagai seseorang yang bercita-cita bisa menulis dan menerbitkan buku sendiri, saya menyukai gaya menulis Windry yang tak berlagak serbatahu. Contohnya: Windry tak pernah menarasikan sesuatu yang belum terdefinisikan lewat jalan tengah seperti ketika menggambarkan warna sesuatu: kehitam-hitaman, kecokelatan, keemasan, dan sebagainya alih-alih langsung menyebut: berwarna hitam, cokelat, atau emas.

kesimpulan:
So far, Last Forever menjadi novel Windry yang paling tidak saya favoritkan, menyusul kemudian Orange. Biasanya selalu ada kesan mendalam selepas membaca karya-karya Windry, tapi saya tak mendapatinya kali ini. Selama proses pembacaan saya hanya merasa datar-datar saja. Karakter yang coba dibangun pun hanya sanggup bertahan sampai pertengahan, setelahnya tak bisa membuat saya bersimpati kepada keduanya. Pat dan Rayyi mungkin menyumbang poin untuk novel ini, tapi saya justru kepincut sama Nora. Asisten Samuel ini benar-benar menyenangkan, tampak tanpa beban, dan sepertinya bisa menaklukkan siapa saja yang dihadapinya. Maka, kali ini saya hanya menyematkan 2,5 bintang dari skala 1-5, dengan poin besar untuk diksi menawan khas Windry.

Kini, tinggal menunggu Angel in the Rain. Saya (lumayan) suka London: Angel dan berharap bisa kembali tak hanya menyukai diksinya saja tapi juga sekaligus cerita racikan Windry. Semoga! Selamat membaca, tweemans.


end line:
Bertiga, mereka melewatkan pagi.

Wednesday, August 26, 2015

[Waiting on Wednesday] ...Girl Meets Boy

"Waiting On" Wednesday is a weekly event, hosted by Breaking the Spine, that spotlights upcoming releases that we're eagerly anticipating.


Oke, saya memang belum baca semua karya Winna Efendi, tapi setiap Winna berencana merilis novel baru, saya selalu ikut antusias. Buku-buku terakhir Winna juga sudah saya koleksi, sih, tapi belum dibaca, hehehe. Lalu, ada lagi yang baru dari Winna. Oh, my, kovernya eye ctaching banget, sih. Sudah pasti masuk daftar tunggu buku yang wajib dibeli ini.
  Dear Ava,

Saat kamu menerima surat ini, mungkin aku udah nggak ada di sini. Mungkin aku udah jadi murid senior di Alistaire. Mungkin aku akan ada di lingkungan baru. Atau mungkin, di Broadway, tampil perdana untuk pertunjukan Annie dan tiketnya terjual habis dalam lima menit (boleh dong, ngarep). Who knows? Itulah hebatnya dunia, selalu penuh dengan kesempatan yang nggak terduga.

Kita punya janji untuk saling menemukan, bukankah begitu?

Love,
Rae

____

Dear Kai,

And then I said, “Kai, aku sayang kamu.”
Kamu menatapku, lalu mengusap rambutku lembut. Ini adalah kali pertama aku mengucapkannya kepada siapa pun. Kamu nggak mengatakannya balik. Dan, kurasa, sejak awal aku udah tahu.

Aku tahu tindakan kamu barusan adalah ucapan i-love-you terbaik yang mungkin bisa kudapatkan, but it’s okay, because I love you.

And unlike you, I’m not afraid of saying it.

Love,
Rae

***

Novel ini bercerita tentang kehilangan dan tentang menemukan. Tentang mimpi, tentang keluarga, tentang persahabatan, juga tentang memaafkan diri sendiri. Lewatnya, saya ingin berkisah perihal momen-momen yang sudah seharusnya berlalu dan dilepaskan. Karena setiap hal indah pada waktunya.

Semoga kamu menyukai sepotong kisah ini dan mendengar musik yang bermain di baliknya.

Winna Efendi

Lalu, apa buku yang paling kamu tunggu terbitnya minggu ini, tweemans?

Tuesday, August 18, 2015

[Review Novel Romance] Memori by Windry Ramadhina

Such a masterpiece...
Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

Judul: Memori
Pengarang: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 312 hlm
Rilis: Mei 2012
Harga: Rp45.000
https://www.goodreads.com/book/show/13632491-memori?ac=1

Sebenarnya saya sudah punya buku fisik dari novel Memori karya Windry ini, tapi yaaa... you know me lah, ya, saya pan penimbun buku sejati. Beli iya, baca entah kapan, hehehe. Berhubung saya biasanya suka cepet dan sempet baca di perjalanan maka pas banget waktu Gagas Media ngerayain ultahnya Juli kemarin, Gagas berbagi kebahagiaan dengan membagi-gratis e-book novel ini di Playstore, dan saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Saya unduh e-book-nya dan berhasil saya rampungkan-baca selama musim libur Lebaran Idul Fitri tahun ini.

Tuesday, December 30, 2014

...selamat "melepas masa lalu" bersama Walking After You by Windry Ramadhina

Seseorang bilang,


Apa pun yang terjadi, hidupmu harus terus dilanjutkan... the show must go on. Karena kita tidak diberikan keajaiban untuk bisa memutar waktu kembali dan memperbaiki seseuatu yang dirasa tidak pas di masa lalu, maka mengambil hikmah atas apa yang terjadi dan melanjutkan hidup adalah pilihan terbaik yang bisa kita lakukan.

Namun, tanpa keajaiban apa pun kita bisa sedikit meringankan beban masa lalu dengan mengakui kesalahan --jika memang kita yang salah-- dan meminta maaf pada seseorang yang kepadanya kita memiliki kesalahan. Melepas masa lalu bukan dengan melupakannya tapi dengan menerimanya. Seperti Anise yang bertahun-tahun tenggelam dalam rasa bersalah atas kepergian saudari kembarnya, Arlet. Dia menyangka karena dialah, Arlet harus lebih dulu terbang ke surga. Celakanya lagi, dia tak pernah berterus terang kepada siapa pun bahwa dialah yang menanggung kesalahan itu. Padahal, tak seorang pun menyalahkannya atas kejadian itu.

Walking After You karya Windry Ramadhina terbitan gagasmedia begitu berhasil menyibak tirai kelam masa lalu An dan memotret setiap usaha yang dilakukannya yang diyakininya bisa menghapus rasa bersalah itu. Tulisan Windry begitu manis apalagi dengan latar dunia kuliner --kue-kue menakjubkan dan masakan italia yang tampak lezat-- dan karakter yang begitu hidup serta kaya, saya yakin bisa menenggelamkanmu dalam proses pembacaan yang menyenangkan sekaligus mengharukan.

Terima kasih untuk gagasmedia dan Windry Ramadhina serta GagasAddict yang telah memercayai saya untuk ikut serta dalam Virtual Blog Tour #3CeritaCinta edisi Walking After You ini. Sangat menyenangkan.


Monday, December 29, 2014

Masih sempatkah aku meminta maaf padamu sekarang, B?


Aku benci ketika kami bertengkar. Gulungan emosi akan membakar semua logika, lalu hanyalah kata-kata yang saling menyakiti yang akan terlontar dari bibir kami. Tak ada lagi ucapan saling menguatkan. Apalagi saling menenangkan. Ego menjadi satu-satunya yang didahulukan. Kalau sudah begitu, aku mensyukuri kami menjalani hubungan jarak jauh. Tak perlu saling menghindari kami sudah otomatis terpisahkan.

Dan, setiap kali sehabis bertengkar dengan kekasihku –aku memanggilnya B—di seberang sana, aku mesti mencari cara untuk mendinginkan pikiran. Sepotong tiramisu yang baru dikeluarkan dari kulkas, atau segelas es kelapa muda dan pipilan jagung bakar berbalur margarin, atau seseduh kopi hitam yang hanya kuminum di waktu super-menyebalkan macam ini. Lebih mudah lagi jika langit mencurahkan airnya ke bumi. Hujan selalu bisa mengalihkan segala masalahku. Rintiknya bisa mengaburkan semua gundah.

pic: http://joodude.deviantart.com

Tapi, tidak kali ini. Tidak di saat B mengetikkan satu pesan teks. Pendek saja. Tapi mampu menciptakan badai yang menggemuruhkan otakku.
Mas, aku minta waktu dimajukan. Lamar aku satu bulan lagi. Bisa?

Thursday, November 20, 2014

[Fun Games] Pengumuman Pemenang Giveaway #HeartandSoul by Windhy Puspitadewi

Setelah dibuka hampir bersamaan dengan kelahiran novel keempat Windhy Puspitadewi di Penerbit Gagas Media, Heart and Soul pada 30 Oktober lalu, giveaway penulisan fan fiction dan pembuatan fan art untuk novel-novel Windhy terbitan Gagas Media, kini telah sampai pada tahap pengumuman pemenangnya. Sebelumnya, saya mohon maaf karena pengumuman ini tertunda satu hari dari rencana semula dikarenakan sebab dari saya sendiri karena sebenarnya nama-nama pemenang sudah diberikan oleh Windhy kepada saya beberapa hari yang lalu. Enggak papa, ya?


Baiklah, seperti yang sudah diinformasikan di rilisan resminya, hadiah dari giveaway ini berupa novel Heart and Soul bertanda tangan Windhy Puspitadewi yang merupakan persembahan khusus dari penulisnya. Ada tiga pemenang yang terdiri dari dua pengirim fan fiction dan satu pengirim fan art yang terpilih. Siapa saja, sih, yang ikutan ngirim fan fiction dan fan art? Yuk, coba dibaca dan dilihat-lihat karya mereka di sini:

Thursday, October 30, 2014

[Fun Games] Giveaway Novel "Heart and Soul" by Windhy Puspitadewi


Yuhuu… akhirnya Heart and Soul brojol juga, ya. Sekarang kisah Erika mencari jalan menuju cinta sejatinya sudah bisa kamu nikmati. Silakan berkunjung ke toko-toko buku terdekat di kotamu, dan pastikan novel ini masuk ke keranjang belanjaanmu. Apalagi buat kamu yang sudah menggemari tulisan Windy Puspitadewi.

Simak juga wawancara singkat dengan Windhy Puspitadewi di sini serta perayaan tanggal 30 Oktober 2014 sebagai hari lahirnya Heart and Soul di sini. 

Well, untuk yang di luar Jabodetabek mungkin harus agak lebih bersabar, ya, proses edar novelnya pasti butuh waktu. Mobil ekspedisinya mungkin baru otewe ke kota kamu, jadi enggak usah khawatir, dalam waktu dekat Heart and Soul sudah bisa kamu peluk erat-erat, kok.

Heart and Soul di Gramedia Bintaro Plaza

[Book Bornday] Selamat Hari Lahir "Heart and Soul" by Windhy Puspitadewi

Kita sebar-sebarin confetti dulu yukk...


...lalu tiup lilinnya,


...dan, standing applause...


...meskipun beberapa dari kalian sudah bisa mendapatkan novel ini sejak satu atau dua hari yang lalu, namun secara resmi hari ini, Kamis tanggal 30 Oktober 2014 yang juga bertepatan dengan Hari Oeang Republik Indonesia (apa hubungannya, cobak?!), ditetapkan sebagai hari kelahiran novel terbaru Windhy Puspitadewi, novel keempat di Penerbit Gagas Media, yang setelah dimasakin bubur merah putih akhirnya diberi nama judul Heart and Soul.

Monday, October 27, 2014

[Book Bornday] Interview with Windhy Puspitadewi

Hai, tweemans. Buat kamu penggemar tulisan Windhy Puspitadewi (Let Go, Morning Light, Seandainya) dan pengguna medsos aktif tentunya sudah tahu, kan, bahwa sebentar lagi penulis yang satu ini akan segera lahiran untuk buku keempatnya di Penerbit Gagas Media. Menurut informasi, saat ini bukunya sudah naik cetak dan siap didistribusikan dalam waktu dekat. Bahkan, di beberapa online shop, novel ini sudah bisa dipesan.


Novelnya berjudul Heart and Soul dengan tagline: "Jika aku mencintaimu, bisakah kau pastikan aku tak kan terluka?" Dan, untuk menyambut secara resmi kelahiran novel ini, fiksimetropop akan menghadirkan beberapa artikel khusus, salah satu di antaranya adalah wawancara eksklusif dengan Windhy Puspitadewi berikut ini.

Friday, October 24, 2014

[Resensi Novel Romance] Priceless Moment by Prisca Primasari

Best Book of The Year of 2014 ---so far---
Kisah kita serupa dongeng. Dipertemukan tanpa sengaja, jatuh cinta, lalu bersama, dan akan bahagia selamanya. Tanpa banyak kata, kau tahu aku mencintaimu selamanya. Begitulah yang seharusnya.

Namun, ketika setiap pagi kutemukan diriku tanpa kau di sisiku, aku sadar bahwa dongeng hanyalah cerita bohong belaka. Kau pergi, meninggalkanku dalam sepi, dalam sesal yang semakin menikam.

Hidup tak akan sama lagi tanpamu. Apa yang harus kukatakan ketika mata polos gadis itu memelas, memintaku menceritakan dongeng-dongeng yang berakhir bahagia? Kau belum memberi tahu jawabnya untukku.

Kau tahu, kali ini, akan kulakukan apa pun untuk mempertahankanmu berada di sisiku. Pun sejenak. Namun, lagi-lagi, kau hanya ada dalam memori….

Judul: Priceless Moment
Pengarang: Prisca Primasari
Penyunting: Yulliya Febria
Proofreader: Mita M. Supardi
Pewajah sampul:Amantha Nathania
Penerbit: Gagas Media
Tebal:298 hlm
Rilis: Juli 2014
Harga: Rp48.000
ISBN: 9789797807382

*tarik napas dalam-dalam*
*lepaskan*
*bernapas dengan wajar*
*cuci muka*
*minum teh anget dulu*
.............................................................................................

What a book! Hm, sebaiknya mulai dari mana ya buat ngomongin buku ini. Saya masih speechless untuk membuat resensi buku kesekian karya Prisca ini. Well, saya masih hangover, sih. Yah, meskipun tak seberat ketika selesai membacanya. Saya sudah bisa membaca buku-buku yang lain lagi, hehehe. Good for me.

Oke, yang bisa saya bilang, Priceless Moment, sejauh ini adalah buku terbaik di tahun 2014 yang saya baca. *angkat topi buat Prisca* Saya tak sanggup menggambarkan betapa saya sangat bahagia karena telah dengan segera membeli dan membaca buku ini. Segala apa yang saya harapkan ada di sebuah buku fiksi tersaji dengan demikian apik di Priceless Moment. Mengutip judul buku ini, waktu yang saya habiskan untuk membaca buku ini sungguh-sungguh demikian tak ternilai harganya. Istimewa!


Wednesday, October 1, 2014

[Resensi Novel Remaja] Beautiful Liar by Dyah Rinni

Cantik-cantik, kok, suka nipu...
Sebagian besar manusia mengambil keputusan berdasarkan emosi, begitu ayahku berkata. Jika semua orang mengambil keputusan berdasarkan logika, tidak akan ada orang yang tertipu.

Jadi, aku mempermainkan pikiran teman-temanku dan mengambil uang, bahkan apa pun, yang mereka miliki.
Kau tak akan menyangka betapa mudah membuat mereka memercayaiku.
Mereka benar-benar polos. Aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan tanpa kesulitan dan keberhasilan ini patut dirayakan.

Namun, kali ini, mengapa seperti ada yang mengganggu nuraniku, menyuruhku berhenti, lalu berbalik arah?

Seorang penipu sepertiku tak akan bisa terbawa emosi. Tidak akan, meski ada "badai" memorak-porandakan hatiku sekalipun.

Judul: Beautiful Liar
Pengarang: Dyah Rinni
Editor: Jia Effendie
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Pewajah sampul: Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 294 hlm
Harga: Rp55.000
Rilis: Agustus 2014
ISBN: 9789797807399

7 Deadly Sins merupakan salah satu serial kreatif dari banyaknya ide kreatif yang dicetuskan oleh Gagas Media. Penjaringan naskah dilakukan melalui lomba penulisan novel dengan tema tujuh dosa mematikan itu. Dari yang saya tangkap, peserta lomba diwajibkan untuk membangun cerita novel dengan menghadirkan tokoh yang menunjukkan satu (yang menonjol) atau lebih sifat-sifat dari Tujuh Dosa Mematikan. Seperti halnya ditulis di kover belakang novel-novelnya:


Saturday, September 13, 2014

[Sedang Dibaca] ...Remember When by Winna Efendi

Huwaaa, pastinya telat banget saya baru akan membaca novel ini sekarang. Tapi tak apalah, mungkin ada baiknya saya baru akan membaca novel ini jelang pemutaran filmnya, sehingga ketika menontonnya nanti saya masih bisa mengingat-ingat detail novelnya. Pada prinsipnya, saya itu si usil yang suka membandingkan buku dan film adaptasinya. Dan, akan lebih mudah jika saya sudah membaca bukunya terlebih dahulu.
Cetak Ulang, Revisi Title dan Cover.

Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?

Lalu, saat kau berkata, "Aku mencintaimu", aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?

"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.

Thursday, August 21, 2014

[Segera Terbit] Meniti Hati by Ida Ernawati

Novel-novel baru terus terbit dan masih banyak lagi yang sedang dalam antrean untuk terbit. Berikut adalah beberapa novel amore dan romance terjemahan serta beberapa novel lokal yang mungkin bisa sama-sama kita nantikan jadwal edar resminya di toko buku kesayangan kita.

1. Meniti Hati by Ida Ernawati, merupakan salah satu novel Amore yang terlahir dari kompetisi Lomba Penulisan Novel Amore GPU tahun 2012-2013 silam, namun demikian novel ini bukanlah novel debutan Ida. Tercatat novel Cinta Grey Area adalah karya sebelumnya yang sudah diterbitkan.
Alanna, si hitam manis bak karamel, adalah staf HRD yang nyaris diberi predikat “tukang telat”. Untung saja Kevin, pacarnya yang sangat sabar, rela menjadi “tukang ojek langganan” agar Alanna tidak sering terlambat.

Namun, hari Alanna berubah setelah bosnya menyerahkan berkas seorang kandidat manajer farmasi: Wisnu Pradipta. Orang yang sangat dibutuhkan perusahaannya itu adalah mantan pacarnya!

Alih-alih bersikap profesional, Alanna justru kembali terpesona pada Wisnu. Ia jadi semangat bangun pagi dan tak pernah terlambat lagi. Mereka bahkan mengenang kembali masa-sama indah mereka. Tapi, Alanna terkejut ketika mengetahui Wisnu ternyata berpacaran dengan Myriam, teman SMP yang dulu suka mengatai Alanna “Cewek Kecoak”.

Alanna bertekad tidak akan membiarkan Wisnu jatuh ke pelukan Myriam si cewek kejam. Ia harus mendapatkan Wisnu kembali!

Lalu, bagaimana dengan Kevin yang tiba-tiba melamarnya?

Meniti Hati direncanakan rilis bulan Agustus ini dengan tebal kurang lebih 272 halaman dan perkiraan harga bukunya adalah Rp55.000.

Wednesday, December 25, 2013

Bersiap Menyambut 2014 yang SEKSI....:)

Salah satu kabar menyenangkan yang saya dengar di pengujung tahun 2013, dan untuk menyambut tahun 2014, adalah rencana peluncuran beberapa lini baru dan projek-projek seru dari Gagas Media. Well, fokus saya tetap Novel Metropop (dan Amore), namun hati saya pun siap untuk terbagi pada novel-novel romance lain yang bakal hadir.



Saturday, October 26, 2013

[DICARI] Tweeman #BacaBarengMinjul Novel TOKYO karya Sefryana Khairil

Berdasarkan rencana awal dari Gagas Media, maka Tokyo karya Sefryana Khairil ini seharusnya menjadi novel terakhir dari projek novel Setiap Tempat Punya Cerita (STPC), sebelum diumumkan dalam event Jak Book Fiesta 2013 beberapa waktu lalu bahwa akan ada projek #STPC season 2. Personally, saya berharap setting tempatnya dialihkan ke Indonesia saja. Well, ternyata agak boring juga ya baca novel ber-setting luar negeri terus-menerus dengan tokoh Indonesia yang untuk beberapa kisah malah cenderung kurang berasa lokasinya, dan terasa seperti menonton program TV "Celebrity on Vacation" yang tak menceritakan dengan detail tempat-tempat yang dikunjungi. Mungkin, harapan saya, jika setting di Indonesia, para penulisnya bisa lebih menghayati tempat tersebut sehingga tertuang dengan sepenuh hati.

Setelah menjadi #BukuYangDitunggu beberapa waktu lalu, akhirnya Tokyo bisa terbeli juga. Saatnya untuk menikmati perjalanan ke ibukota negara Matahari Terbit ini. Saya sudah merencanakan jauh-jauh hari, bahwa novel ini akan masuk ke rangkaian kegiatan #BacaBarengMinjul di twitter. Nah, untuk tweeman yang akan menemani saya membaca bareng, saya sudah memilih satu orang teman yaitu Rizky Mirgawati @RizkyMirgawati. Tapi, tahu donk, teman untuk #BacaBarengMinjul itu selalu dua orang tiap edisinya, oleh karenanya saya butuh satu orang lagi untuk menemani saya membaca. Kamu mau?


Sunday, September 29, 2013

[Buku Yang Ditunggu] #STPC TOKYO: Falling by Sefryana Khairil

Apakah kamu suka membaca seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) yang dibesut oleh Gagas Media dan Bukune? Sudah berapa buku yang kamu baca? Saya belum banyak sih, terakhir saya baca LONDON: Angel karya Windry Ramadhina dan PARIS: Aline karya Prisca Primasari. Berikutnya akan terbit TOKYO: Falling karya Sefryana Khairil. Saya masih on-off menyukai gaya menulis Sefry, tapi Jepang sepertinya juga menarik dibaca, jadi saya pun menyiapkan diri untuk menyambut kehadiran novel ini.


Pembaca tersayang,

Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang, mengajak kita berkeliling di negeri sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.

Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya, tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan. Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Ataukah ini adalah satu dari misteri Ilahi yang belum mereka temukan jawabannya?

Setiap tempat punya cerita. Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari negeri timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura.

Enjoy the journey,

EDITOR

Kamu sedang menunggu terbitnya buku apa? Share yukkk....

Wednesday, July 31, 2013

[Resensi Novel Indonesia] Mencari Tepi Langit oleh Fauzan Mukrim

Hang-out bareng wartawan...
Pernahkah kamu mendengar teori turbulensi? Bahwa kepak sayap kupu-kupu di Kirgistan dapat menyebabkan badai di Pantura? Artinya, semesta ini semuanya saling berhubungan, berkaitan satu sama lain. Bermula dari sebuah e-mail, Horizon Shanti mendapati dirinya bukanlah siapa-siapa, bahkan juga untuk dirinya sendiri. Sebuah ruang di otak kanannya memberi sinyal, Senja-laki-laki yang baru ditemuinya itu-bisa diandalkan.

Senja tak pernah mengenal Santi sebelumnya. Namun, saat Shanti datang kepadanya, ia pun berharap mendengar sebuah akhir cerita bahagia. Hanya satu jalan yang tak bisa kau tempuh, hanya tepian langit. Pencarian menemukan kehilangan itu pun dimulai. Pencarian yang mungkin membuat mereka menyesal karena memulainya.

"Ada banyak hal di kisah ini sehingga mungkin enggak banyak orang- selain wartawan- yang bisa bertahan di pelana ketika kuda itu berjingkrak liar."
-Bubin Lantang, penulis novel Kisah Langit Merah dan novel serial Anak-anak Mama Alin

Judul: Mencari Tepi Langit
Pengarang: Fauzan Mukrim
Editor: Gita Romadhona
Proofreader: Alit Tisna Palupi
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer cover: Jeffri Fernando
Tebal: 284 hlm + viii
Harga: Rp37.500
Rilis: 2010 (cet ke-1)
ISBN: 978-979-780-411-4

Bersama dengan Kisah Langit Merah-nya Bubin Lantang, Mencari Tepi Langit karya Fauzan Mukrim ini sejatinya sudah sangat sering saya dengar diperbincangkan teman-teman kumpul Goodreads Indonesia, sejak kali pertama saya gabung dan sering ikutan ngopi-ngopi bareng, dulu. Namun demikian, sampai begitu lama saya belum tergerak juga untuk menyambar buku ini dari toko. Entahlah, setiap melihat kaver buku ini saya selalu teringat Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin-nya Tere Liye, yang mana buku itu masih saya hindari sampai batas waktu tak terbatas dengan alasan subjektif belaka, hahaha. Yah, saya pun manusia, terkadang bersikap absurd ya...tak mau membaca sebuah buku karena alasan tak logis sekalipun. Dan, Mencari Tepi Langit ini menjadi salah satu buku yang belum saya niatkan baca dengan alasan absurd tadi itu. Untunglah, ketika berkesempatan memilih untuk #KadoUntukBlogger dari Gagas Media saya akhirnya memilih buku ini, dan saya benar-benar merasa beruntung telah memilih Mencari Tepi Langit di antara 10 buku pilihan yang menjadi kado untuk saya.

Thursday, July 25, 2013

[Resensi Novel Romance] Coba Tunjuk Satu Bintang oleh Sefryana Khairil


“Tidak mungkin aku memisahkan bintang dari pendarnya.”
~pg.192

Adakah Tuhan sedang memberi jeda untuk kita atau memang tak ada nama kita dalam takdir-Nya?

Menjalani hari bersamamu begitu menyenangkan. Tidak ada yang lebih daripada dirimu yang aku inginkan. Kita tenggelam dalam riuhnya impian, hingga baru tersadar setibanya di persimpangan. Aku dan kamu berbeda tujuan.

Namun, kita sama-sama ragu apakah perpisahan yang benar-benar kita inginkan. Kita memutar arah, berusaha kembali dari sudut yang berseberangan.

Mungkin kita bisa bertemu kembali di ujung jalan yang sama. Mungkin kita bisa merajut kembali mimpi yang tertunda.

Kalau saja belum ada dia...
 
Pengarang: Sefryana Khairil
Editor: Mita M. Supardi
Proofreader: Jumali Ariadinata
Penata letak: Gita Ramayudha
Desainer sampul: Amanta Nathania
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 210 hlm + vi
Harga: Rp40.000
Rilis: Juni 2013 (cet ke-1)
ISBN: 978-979-780-647-7

Beruntung, blog saya masuk dalam 30 besar blogger buku yang dipilih oleh Gagas Media untuk mendapat Kado Untuk Blogger dalam rangka perayaan ulang tahun Gagas Media yang ke-10. Setelah mendapat konfirmasi, saya dipersilakan untuk memilih 10 buku dari daftar buku yang disediakan... senang rasanya memilah-milih buku, dan salah satu pilihan saya jatuh pada novel terbaru karya Sefryana Khairil berjudul Coba Tunjuk Satu Bintang (CTSB) yang sudah sering dipromosikan baik oleh sang pengarang maupun penerbitnya.

Saturday, July 13, 2013

[Buku Yang Ditunggu] LONDON, Marriageable repackaged, Heart Quay, Runaway Ran, Box Set Tetralogi Fashion!

Buku baruuuuuu....
Buku baruuuuuuuuuuuuuuu lagiiiiiiiii........
Haduhhh, kayaknya saya mesti buka safe deposit box di bank deh, buat nyimpen dompet, biar nggak sering-sering kempes gara-gara beli buku mulu. Hikz, tapiii...tapii.....saya sudah telanjur terhipnotis, kalau ada buku yang sudah ditunggu-tunggu, jadinya pengen segera dibeli. Celakanya, setelah dibeli pun buku itu nggak langsung disentuh-dibaca, ditumpuk seperti biasanya. #bakar.jiwa

Well, untuk sekarang saya menetapkan hati saja. Meskipun buku-buku ini statusnya saya tunggu, saya akan mencoba menahan diri dulu dan menunggunya (tak terbatas waktu) dan akan membelinya suatu saat nanti. Tsahhhh....semoga bukan janji palsu.