Showing posts with label Amore. Show all posts
Showing posts with label Amore. Show all posts

Wednesday, December 30, 2015

[Resensi Novel Amore] Sincerely Yours by Tia Widiana

"Bagaimanapun, sulit menyayangi orang lain kalau kau masih membenci dirimu sendiri."
--pg.115 #SincerelyYours by Tia Widiana


Sebagai penulis novel thriller, orang kerap menyangka isi kepala Inge hanya seputar urusan pembunuhan. Terlebih lagi sikapnya yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri di kamar.

Namun di mata Alan, Inge semanis penulis romance. Inge teman yang menyenangkan dalam segala hal. Alan dengan mudah dapat membayangkan Inge menjadi perempuan yang ingin ia nikahi, bukan Ruby… perempuan yang selama ini berstatus kekasih Alan.

Alan mewakili segala yang Inge inginkan dalam hidup. Kecuali satu hal… Inge tidak ingin mengulangi hal yang membuat hatinya terluka bertahun-tahun. Inge tidak mau Alan meninggalkan Ruby demi bersama dirinya.

Sebagai penulis, Inge selalu tahu bagaimana cerita yang ditulisnya akan berakhir. Tapi untuk kali ini, Inge tidak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Alan….

Judul: Sincerely Yours
Pengarang Tia Widiana
Desain Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tebal: 246 hlm
Harga: Rp57.000
Rilis: 14 September 2015
ISBN: 978-602-032050-2

Tak bisa mungkir, gaya tulisan Tia Widiana memang sudah berhasil memikat selera saya sejak terbitnya novel debutannya, Mahogany Hills, beberapa tahun silam. Sejak itu saya sudah menunggu-nunggu racikannya yang lain untuk segera diterbitkan. Dan, saya menjadi salah seorang pembaca yang turut antusias ketika kabar novel keduanya yang bertajuk Sincerely Yours ini siap dirilis.

Meet Cute (pinjam istilah Mbak Nina Ardianti)
Dua tokoh utamanya, Sekar "Inge" Wangi Tambanglaras dan Alan "Alan" Anugrah, dipertemukan dalam situasi canggung yang imut, hehehe. Agak absurd sedikit (bagian soal salah minum obat itu), tapi benar-benar cara bertemu yang asyik, beda, dan sepertinya belum pernah digunakan pengarang lain. Pembuka jalinan kisah Inge-Alan yang cukup bagus.



Thursday, November 5, 2015

[#BacaBarengMinjul] On set of... Ivy Bridal #BBM_UnbrokenVow

Halo, tweemans, bagaimana kabar bacaanmu? Buat yang ikut baca bareng minjul edisi novel Amore bertajuk The Unbroken Vow karya Kezia Evi Wiadji, kalian sudah sampai mana? Tetap semangat membaca, ya, soalnya semakin ke tengah konflik dalam kisah rumah tangga Ivy Sutedja dan Ethan Wicaksana ini semakin "panas" dan bikin nagih pengin segera buka halaman-halaman selanjutnya. Ganbatte!


Nah, sembari melanjutkan-baca, yuk sekarang kita ngobrol-ngobrol santai dulu seputar The Unbroken Vow ini. Banyak hal yang bisa kita bahas dari novel ini, tapi untuk saat ini mari kita bahas soal setting lokasi khusus dalam The Unbroken Vow. Jika kalian sudah melewati bab-bab awal, tentunya kalian sudah tahu tentang Ivy Bridal, kan? Belum? Wah, kalian mesti kelewatan bacanya, coba cek lagi di Bab 4.

Monday, November 2, 2015

[#BacaBarengMinjul] ...mari membaca bareng The Unbroken Vow karya Kezia Evi Wiadji

"Saat keputusan terasa salah,
akankah terus melangkah?"
---The Unbroken Vow by Kezia Evi Wiadji

Hai, tweemans, senang sekali karena event #BacaBarengMinjul belakangan ini kembali semarak. Setelah sebelumnya kita menyelami kehidupan dewasa muda melalui novel Young Adult berjudul Re-Write karya Emma Grace, kali ini kita beranjak ke kisah yang lebih dewasa yang tersaji melalui novel dari lini Amore berjudul The Unbroken Vow karya Kezia Evi Wiadji. Pada gelaran kali ini, dua peserta #BBM_UnbrokenVow adalah Rahayu di akun Twitter @RiniCipta dan Mukhammad Maimun di akun Twitter @MukhammadMaimun.

Namun, seperti biasa, gelaran #BBM_UnbrokenVow ini tidak hanya bisa diikuti oleh saya, Kezia Evi Wiadji, Rahayu, dan Mukhammad Maimun saja, tweemans sekalian yang sudah punya bukunya tapi belum sempat dibaca, ayo sekalian ikut baca bareng. Pasti enak, kalau bacanya bareng teman, kan? Yang sudah baca bukunya pun bisa lho kalau mau baca ulang atau sekadar berbagi kesan selama merampungkan-baca The Unbroken Vow. Tweemans cukup sertakan tagar #BBM_UnbrokenVow pada setiap tweet yang kalian posting selama periode baca bareng yaitu dari tanggal 2 - 7 November 2015. Nah, buat yang belum punya bukunya tapi ngebet banget pengin baca, mungkin itu pertanda kamu mesti ke toko buku dan beli bukunya (atau kalau enggak, pinjem ke temanmu).

Ayok atuh kita ramaikan #BacaBarengMinjul edisi The Unbroken Vow by Kezia Evi Wiadji ini. Have fun, tweemans. 



Thursday, October 29, 2015

[#BacaBarengMinjul] ...berbincang seru seputar dunia kepenulisan bersama Kezia Evi Wiadji

Setelah minggu lalu kita menyelesaikan #BBM_ReWrite karya Emma Grace, minggu depan, tepatnya tanggal 2 s.d. 7 November 2015 #BacaBarengMinjul akan menghadirkan novel romance kategori dewasa dari lini Amore (Penerbit Gramedia Pustaka Utama) berjudul The Unbroken Vow karya Kezia Evi Wiadji. Nah, sebelum kita seseruan membaca dan mengulas The Unbroken Vow selama satu minggu penuh, yuk kita berbincang-bincang dulu dengan Evi---panggilan kita untuk Kezia Evi Wiadji, seputar dunia kepenulisan yang digelutinya saat ini.


Wednesday, August 19, 2015

[Waiting on Wednesday] ...Sincerely Yours

"Waiting On" Wednesday is a weekly event, hosted by Breaking the Spine, that spotlights upcoming releases that we're eagerly anticipating.

Sebenarnya saya sudah kepingin mengeposkan novel coming soon-nya Tia Widiana ini untuk meme Waiting on Wednesday Rabu minggu lalu, tapi berhubung di web www.gramediapustakautama.com belum ada data apa pun mengenai novel kedua Juara 1 Lomba Amore GPU ini, saya jadinya mengurungkan niat dan menundanya sampai Rabu ini. Beruntung saya sempat bertanya ke Mbak Hetih plus kepo dikit ke akun Twitter resmi sang pengarang, @tiawidia, hingga saya bisa nemu juga sinopsis dari novel ini. Untuk tanggal resmi rilisnya sih agak blur (Tia bilang tanggal 12 September, Raya Fitrah --editor-- bilang 14 September), tapi apa pun itu, novel ini akan rilis di bulan September, yayyyy... September yang ceriaaa... milik kita... bersamaaa... #eh
Sebagai penulis novel thriller, orang kerap menyangka isi kepala Inge hanya seputar urusan pembunuhan. Terlebih lagi sikapnya yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri di kamar. 

Namun, di mata Alan, Inge semanis penulis romance. Inge teman yang menyenangkan dalam segala hal. Alan dengan mudah membayangkan Inge menjadi perempuan yang ingin ia nikahi, bukan Ruby... perempuan yang selama ini berstatus kekasih Alan.

Alan mewakili segala yang Inge inginkan dalam hidup. Kecuali satu hal... Inge tidak ingin mengulangi hal yang membuat hatinya terluka bertahun-tahun. Inge tidak mau membuat Alan meninggalkan Ruby demi bersama dirinya.

Sebagai penulis, Inge selalu tahu bagaimana cerita yang ditulisnya akan berakhir. Tapi untuk kali ini, Inge tidak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Alan....

Nah, itu dia novel Amore bertajuk Sincerely Yours karya Tia Widiana yang siap saya nantikan kelahirannya. Kalau kamu, buku apa yang paling kamu tunggu kehadirannya Rabu ini?

Selamat menunggu, tweemans.    

Thursday, August 21, 2014

[Segera Terbit] Meniti Hati by Ida Ernawati

Novel-novel baru terus terbit dan masih banyak lagi yang sedang dalam antrean untuk terbit. Berikut adalah beberapa novel amore dan romance terjemahan serta beberapa novel lokal yang mungkin bisa sama-sama kita nantikan jadwal edar resminya di toko buku kesayangan kita.

1. Meniti Hati by Ida Ernawati, merupakan salah satu novel Amore yang terlahir dari kompetisi Lomba Penulisan Novel Amore GPU tahun 2012-2013 silam, namun demikian novel ini bukanlah novel debutan Ida. Tercatat novel Cinta Grey Area adalah karya sebelumnya yang sudah diterbitkan.
Alanna, si hitam manis bak karamel, adalah staf HRD yang nyaris diberi predikat “tukang telat”. Untung saja Kevin, pacarnya yang sangat sabar, rela menjadi “tukang ojek langganan” agar Alanna tidak sering terlambat.

Namun, hari Alanna berubah setelah bosnya menyerahkan berkas seorang kandidat manajer farmasi: Wisnu Pradipta. Orang yang sangat dibutuhkan perusahaannya itu adalah mantan pacarnya!

Alih-alih bersikap profesional, Alanna justru kembali terpesona pada Wisnu. Ia jadi semangat bangun pagi dan tak pernah terlambat lagi. Mereka bahkan mengenang kembali masa-sama indah mereka. Tapi, Alanna terkejut ketika mengetahui Wisnu ternyata berpacaran dengan Myriam, teman SMP yang dulu suka mengatai Alanna “Cewek Kecoak”.

Alanna bertekad tidak akan membiarkan Wisnu jatuh ke pelukan Myriam si cewek kejam. Ia harus mendapatkan Wisnu kembali!

Lalu, bagaimana dengan Kevin yang tiba-tiba melamarnya?

Meniti Hati direncanakan rilis bulan Agustus ini dengan tebal kurang lebih 272 halaman dan perkiraan harga bukunya adalah Rp55.000.

Wednesday, December 18, 2013

[Resensi Novel Amore] Just Another Birthday by Rina Suryakusuma

Single Mom pun berhak untuk bahagia...

Sarah, single mom dari satu anak TK yang kritis dan suka bertanya segala hal, mulai dari pertanyaan sederhana seperti—Kenapa kita ulang tahun cuma satu tahun sekali, Ma?—sampai pertanyaan yang tidak bisa dijawab macam, “Mama, di mana Papa?”

Pada usianya yang masih 20-an, Sarah belajar dengan cara sulit bahwa hidup ini tidak seindah dongeng. Tak ada yang namanya Prince Charming. Namun ketika bertemu dengan Jeremy, Sarah bertanya apakah mungkin harapan itu masih ada. Bersama Jeremy, Sarah berpikir segalanya mungkin hingga ayah dari putrinya kembali ke dalam hidupnya.

Ketika kebahagiaan nyaris dalam genggaman, Sarah dihadapkan pada batu ujian hidup... terutama ketika dia harus kehilangan orang terpenting dalam hidupnya.

Judul: Just Another Birthday
Pengarang: Rina Suryakusuma
Pewajah sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp48.000
Rilis: November 2013
ISBN: 978-979-22-9948-9

Membaca karya-karya Rina Suryakusuma selalu menerbitkan rasa damai dan menghindarkan sikap pesimistis. Kisah-kisah rekaannya selalu sukses membuat pembacanya, setidaknya saya, ikut optimis bahwa di setiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Teruslah berjuang, maka setiap masalah akan dapat terpecahkan.

Just Another Birthday (JAB) pun membawa napas optimisme serupa. Berkisah tentang Christina Sarah, seorang single mom yang mesti berjuang mengasuh dan membesarkan anak semata wayangnya, Cassie, tanpa sosok lelaki yang berperan sebagai suami sekaligus ayah di sisinya, bahkan sejak ia mengandung gadis cilik yang kini genap berusia 4 tahunan itu. Lelaki pengecut itu, Rommy, tega meninggalkannya sendiri dan menghindar dari tanggung jawab. Untung ada sosok Mama yang selalu mendampingi Sarah dalam melalui segala macam hal pelik dalam kehidupannya.

Saturday, July 13, 2013

[Buku Yang Ditunggu] LONDON, Marriageable repackaged, Heart Quay, Runaway Ran, Box Set Tetralogi Fashion!

Buku baruuuuuu....
Buku baruuuuuuuuuuuuuuu lagiiiiiiiii........
Haduhhh, kayaknya saya mesti buka safe deposit box di bank deh, buat nyimpen dompet, biar nggak sering-sering kempes gara-gara beli buku mulu. Hikz, tapiii...tapii.....saya sudah telanjur terhipnotis, kalau ada buku yang sudah ditunggu-tunggu, jadinya pengen segera dibeli. Celakanya, setelah dibeli pun buku itu nggak langsung disentuh-dibaca, ditumpuk seperti biasanya. #bakar.jiwa

Well, untuk sekarang saya menetapkan hati saja. Meskipun buku-buku ini statusnya saya tunggu, saya akan mencoba menahan diri dulu dan menunggunya (tak terbatas waktu) dan akan membelinya suatu saat nanti. Tsahhhh....semoga bukan janji palsu.

Monday, July 8, 2013

[Buku Yang Ditunggu] Hawa oleh Riani Kasih dan Early oleh Syafrina Siregar (Updated!)

Ini Gramedia lagi silent promotion atau gimana sih? Masak beberapa buku yang penggemarnya banyak dan fanatik (seperti saya, huehuehue) justru nggak digembar-gemborkan? Aneh! Apalagi, terkhusus untuk Juara 2 Lomba Amore 2012, novel Hawa karya Riani Kasih. Hmmm, di website www.gramediapustakautama.com justru novel Heart Quay karya Putu Felisia (Juara 3) yang sudah diunggah datanya. Double aneh!

Ahh, yasudahlah, itu kan kebijakan penerbit ya... Sebagai pembaca saya tetap mensyukuri Gramedia menerbitkan banyak buku-buku keren yang patut ditunggu. Salah duanya adalah Hawa karya Riani Kasih, dan novel metropop terbaru Syafrina Siregar (April Cafe, Dengan Hati, JD & DJ, My Two Lovers) berjudul Early juga siap edar (perkiraan tanggal 10 Juli). Saya belum menemukan data valid pada kedua buku ini, nanti akan saya mutakhirkan begitu terdapat data resminya.



gambar dari akun twitter @SyafrinaSiregar

Wednesday, May 29, 2013

[Resensi Novel Amore] Mahogany Hills by Tia Widiana + Giveaway

Rumahku, surga dan nerakaku...

-- Juara 1 Lomba Penulisan Novel Amore 2012 --

Jagad Arya dan Paras Ayunda mendapatkan kehidupan yang mungkin diharapkan oleh semua pasangan pengantin baru. Segera setelah menikah, mereka tinggal di rumah bernama Mahogany Hills, di pelosok pegunungan Sukabumi yang sejuk dan indah.

Yang membedakan Jagad dan Paras dengan pasangan pengantin lainnya adalah mereka menikah bukan karena cinta. Baik Jagad maupun Paras punya rahasia yang mereka pendam. Kesepian, amarah, dan penyesalan bercampur aduk dengan rasa rindu dan kata cinta yang tak pernah terucapkan—semua itu senantiasa menggelayuti Mahogany Hills.

Dengan caranya masing-masing, Jagad dan Paras berjuang untuk menghadapi satu pertanyaan yang pada suatu titik harus mereka jawab: Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan yang tak sempurna itu?

Pengarang: Tia Widiana
Pewajah sampul: Cynthia Yanetha
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 hlm
Harga: Rp58.000
Rilis: Mei 2013
ISBN: 978-979-22-9584-9

Saya menemui keganjilan ‘pribadi’ ketika membaca novel yang ditahbiskan sebagai Juara 1 Lomba Penulisan Novel Amore tahun 2012 ini. Banyak sekali faktor yang berpotensi menghambat saya untuk menyukai novel ini. Pertama, adegan awal novel ini ternyata ‘hampir-mirip’ dengan adegan pembuka novel CoupL(ov)e-nya Rhein Fathia yang juga sedang saya baca (malam pertama yang canggung, adegan lingerie nan dramatis, panggilan ortu dan mertua yang dibedakan, serta mantan-mantan yang berseliweran). Kedua, ada tiga hal yang paling tidak saya sukai dari sebuah karya fiksi ada di novel ini, yakni: perjodohan, kecelakaan, dan amnesia, dan ketiga hal itu ada di novel ini. APAHHH??? (insert = *melotot dramatis*) Nah, dengan dua faktor itu semestinya saya benci novel ini. Tapi, nyatanya enggak. Ini sungguh ganjil. Dan, tanpa bisa saya sangkal, saya menyukai novel ini.

Thursday, July 26, 2012

[Resensi Novel Amore] Postcard from Neverland by Rina Suryakusuma

Perjuangan Cinta


Judul: Postcard from Neverland
Pengarang: Rina Suryakusuma
Editor: Novera Kresnawati
Co-Editor: Irna Permanasari
Sampul: Mracel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 hlm
Harga: Rp33.000
Rilis: Agustus 2010
ISBN: 978-979-22-5698-7

Ami Amarell Siswoyo mendapat anugerah kecantikan alami nan memikat. Namun, kecantikan itu justru membawa begitu banyak kesulitan bagi Ami, terutama ketika sang Ayah meninggal dunia, terpaksa Ami yang menggantikan perannya untuk menjadi tulang punggung keluarga bagi sang Ibu dan seorang adik perempuannya. Ami pun drop out dari kuliahnya dan bekerja apa saja demi menjalani hidup, dan dalam dunia kerja inilah hidupnya makin sengsara. Pelecehan demi pelecehan ia dapatkan, karena label cantik yang disandangnya.

Sampai ia bertemu Joshua Leinard tanpa sengaja. Didorong sahabat karibnya, Lusi, Ami mencoba peruntungan untuk bekerja di sebuah cafe hotel honteng lima yang baru akan dibuka. Kembali insiden tak menyenangkan menimpanya yang berakhir pada tawaran untuk bekerja sebagai kepala pelayan di rumah Josh. Dari sinilah, seluruh hidup Ami berubah. Tak hanya ia mendapat kecukupan finansial, namun ia juga berhasil bertemu dengan cinta sejatinya. Lantas, sanggupkah Ami mempertahankan cintanya? Cinta yang memilin begitu banyak jalinan perbedaan? Mampukah ia menghalau cibiran dan cemoohan orang demi memperjuangkan cintanya?

Simak liku-liku kehidupan Ami dalam novel Amore bertajuk Postcard from Neverland karya Rina Suryakusuma ini.


Membaca Postcard from Neverland, saya seolah diingatkan kembali dengan kisah cinta Cinderella yang demikian melegenda itu. Atau, film komedi romantis Maid in Manhattan yang dibintangi si cantik Jennifer Lopez. Tema novel ini memang klasik nan klise. Si cantik yang harus berjuang tak kenal lelah lalu berjumpa dengan pangeran tampan nan kaya raya, tentu tak lupa tambahkan beberapa tokoh antagonis, voila, cinta memenangkan seluruh pertarungan.

Saya mungkin cenderung terlalu menghakimi begitu mengakhiri membaca novel ini. Selain bumbu dasar yang begitu mirip kisah Cinderella, hubungan antarnegara, perempuan asli Indonesia dan laki-laki bule masih terlalu di awang-awang bagi saya, meskipun toh di Indonesia hal ini sudah biasa. Di Jakarta misalnya, tak jarang saya mendapati pasangan antarnegara ini di mall, angkutan umum, atau di jalan-jalan. Lagi-lagi, ini hanya persepsi pribadi saya belaka. Maklum, saya masih terlalu percaya bahwa orangtua selalu meminta menantu yang asalnya tak jauh-jauh, kadang malah diminta sesuku, lha kalau sudah beda negara, jelas tak masuk hitungan, kan?

Yang membuat saya betah membaca novel ini, dan justru menyukainya, adalah tentu kepiawaian mbak Rina dalam meracik kisah cinta yang klise itu menjadi segar untuk dibaca. Tak ketinggalan, beragam pesan terselip di sana-sini yang dapat memperkaya wawasan kehidupan kita, paling tidak bagi saya pribadi--sebagai pembaca. Salah satunya adalah pada bagian ketika Ami harus menerima perlakuan tak menyenangkan menjadi bahan pergunjingan di minimarket ketika Ami menemani Josh berbelanja. Saya merasa sepicik ibu-ibu di minimarket itu. Menduga bahwa cewek 'pengguide' (baca penggaet) cowok bule itu, tak lain tak bukan sekadar mencari peruntungan nasib. Bisa mencari harta, atau #justjoking, mengubah keturunan. Oh, #ShameOnMe.

malesinearlychildhood.blogspot.com

Dignity. Martabat. Harga diri. Itu pula yang saya tangkap tersirat dalam novel ini. "Kau boleh miskin harta, tapi tak boleh miskin jiwa", entah saya membacanya di mana, tapi itu pula yang saya dapatkan selepas rampung membaca Postcard from Neverland. Bolehlah miskin, tapi jangan mengobral diri dengan melakukan apa saja demi sesuap nasi. Ami tetap mempertahankan prinsipnya, bahwa ia mencintai Josh tanpa tendensi apa pun kecuali cinta itu sendiri. Maka, ketika Josh melamarnya sementara Ami masih menjadi pelayan, Ami memintanya bersabar. Ia ingin melanjutkan kuliahnya terlebih dahulu (dengan menolak bantuan biaya kuliah dari Josh) dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai, barulah mengusahakan untuk menyatukan cinta mereka. Ami bukan terhasut omongan orang, namun tak bisa dimungkiri, semua hal akan menjadi lebih mudah jika kedudukan Ami-Josh sudah setara, maksudnya tak lagi terikat hubungan pelayan-majikan.
Jujur saja, Ami tidak ingin dicap sebagai pagar makan tanaman. Pelayan kok merayu majikan? (97)
Sampai di pertengahan menjelang konflik 'panas' saya pun menunggu dengan sabar twist apa yang akan diciptakan oleh mbak Rina. Lagi-lagi, saya musti menyebut bahwa sejauh ini, Lullaby yang paling membuat saya terpana karena twist-nya. Sementara dalam Postcard ini, twist-nya hanya membuat gempa kecil saja, tak sampai bikin saya terguncang.

Bagian lain yang membuat saya agak sedikit mengerutkan kening adalah hadirnya karakter Dennis, anak lelaki Josh. Awalnya saya sangat antusias menantikan kehadirannya untuk membuat konflik menjadi kian meruncing. Memang makin runcing sih, tapi kok saya kurang merasakan sensasinya, ya? Malah saya sampai bingung mengekspresikan rasa, bagaimana coba seorang ayah mencemburui anaknya sendiri? Yah, bisa saja sih, tapi lagi-lagi, wawasan saya yang terkungkung tradisi menjadikan saya masih merasa aneh melihat ayah cemburu melihat anaknya 'dekat' dengan kekasihnya. Pada titik ini, saya berharap mbak Rina menampilkan konflik yang berbeda. Ummm, apa ya misalnya? ...Dennis sama sekali cuek dan memperlakukan Ami dengan lebih kasar lagi, sehingga Josh dalam dilema, "membela sang anak atau kekasihnya, mungkin? Bukankah di novel ini sudah begitu? Memang dalam novel ini sebagian sudah dibikin begitu, tapi karena ada unsur letupan asmara, jadinya balik-balik ke urusan percintaan lagi. Bukan konflik keluarga.

Tetapi cinta memang kekuatan terbesar yang diciptakan oleh Tuhan, bukan? Unsur inilah yang bisa menyebabkan segala tindakan dan perbuatan terjadi di muka bumi. KepadaNya pun kita diminta untuk memeberikan cinta. Maka, tak perlu lagi memperdebatkan segala macam perbedaan jika cinta sudah merasuk dalam jiwa. Saran saja mungkin untuk menambahkan lebih banyak problematika ke dalam novel ini sebagai pembuktian bahwa cinta Ami-Josh memang layak diperjuangkan. Pertentangan keluarga Ami, mungkin, atau karyawan Josh yang menyebarkan fitnah soal Ami. Bah, sinetron banget ya...hehehe....:)



Bagi saya, novel ini adalah novel survival, yang mengajarkan kita untuk bertahan hidup dengan tetap memegang teguh prinsip positif yang kita punya. Janganlah mengorbankan harga diri demi mencicipi sekelumit kemewahan. Percayalah, Tuhan itu ada. Selama kita berusaha, niscaya Dia Yang Di Atas akan memberikan jalan kemudahan bagi kita.

Overall saya menyukai novel ini. Banyak hal yang bisa saya dapatkan novel Amore ini. Masih ada typo di sana-sini, tapi sepertinya lebih sedikit ketimbang Lullaby atau Jejak Kenangan. Ujung cerita yang "mengharuskan si tokoh utama berpindah ke Amerika" serupa deja vu selepas membaca Jejak Kenangan yang juga diakhiri demikian, hanya berbeda negara bagian saja. Baiklah, 3 dari skala 5 bintang saya berikan untuk novel ini.

Selamat membaca, kawan!

Wednesday, July 25, 2012

[Resensi Novel Amore] Jejak Kenangan by Rina Suryakusuma

Tak baik menyimpan bara masa lalu yang bisa membakar masa depanmu...


Judul: Jejak Kenangan
Pengarang: Rina Suryakusuma
Editor: Novera Kresnawati
Co-editor: Irna Permanasari
Sampul: Marcel AW
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 hlm
Harga:
Rilis: Juni 2011
ISBN: 978-979-22-6915-4

Nadia Valencia Wibrata. Nama itu akan dikenang Allysa "Ally" Gumulya seumur hidupnya. Karena pemilik nama itu dengan tega membiarkannya merana sewaktu SMA dan bahkan menyebabkan sang mama meninggal dunia. Ally bersumpah, di suatu waktu kelak ia akan menuntut balas padanya. Ally yakin dengan sumpahnya.

Tahun berselang, Ally yang sebatang kara telah mencapai segalanya. Karier yang moncer, sahabat dekat yang begitu perhatian, tempat kerja yang menyenangkan, namun ia masih belum bahagia. Selain karena kisah cintanya yang kandas, ia juga belum berkesempatan menuntaskan dendamnya. Lalu, ketika kesempatan itu datang melalui seorang laki-laki tampan yang menggetarkan hati Ally sejak mula bersua, Ivan Adidjaja, akankah Ally benar-benar hendak melampiaskan dendamnya yang membara? Sanggupkah ia menerima segala konsekuensi yang terburuk sekalipun, semisal dipecat dari pekerjaan impian dan melepas lelaki yang disayanginya?

Simak perjuangan Ally dalam menyusuri jalan hidupnya yang menyimpan duri masa lalu yang hendak dicerabutnya dalam novel Amore bertajuk Jejak Kenangan karya Rina Suryakusuma ini.


Sebelumnya terima kasih kepada mbak Rina Suryakusuma yang telah mengirimkan novel Jejak Kenangan ini kepada saya.

Dalam catatan saya, novel ini merupakan novel keempat dari mbak Rina yang tergabung dalam label Novel Amore terbitan Gramedia sehingga pakem-pakem Amore sebagaimana pernah disebutkan mbak Rina dalam perbincangan kita beberapa waktu lalu sangat terasa juga di novel ini. Termasuk ciri khas dari seorang mbak Rina yaitu dari diksi, gaya menulis, dan tentu saja selipan pesan serta twist yang selalu ada.

Novel ini mengangkat permasalahan tentang dendam masa lalu dan perjuangan untuk menguburnya dalam-dalam agar tak menggerogoti masa depan. Adalah Allysa Gumulya yang sudah harus berjuang seorang diri karena sang mama yang lebih dulu kembali ke sisi Tuhan dan ayah yang tak pernah diketahuinya, terpaksa menyebut sumpah dendam ketika dengan hati tercabik ia meminta bantuan Nadia tapi bukan bantuan yang diterima Ally, gadis itu malah menghinanya.

Lantas setelah dendam terbalaskan, apakah kebahagiaan kemudian datang menghampiri kita?
Kenapa kamu membiarkan masa lalu mengoyak masa depanmu? (216) Tutuplah pintu masa lalu, apalagi yang membuat hatimu tercabik dan berdosa. (220)
Begitulah nasihat Bu Fara, atasan Ally, ketika Ally tetap berhasrat mewujudkan sumpah dendamnya meskipun kenyamanan hidupnya saat ini sebagai taruhannya.

Saya suka dengan benang merah novel ini. Saya yakin, masing-masing dari kita pernah menyimpan setitik benih 'dendam' atas hal tak nyaman yang mungkin terjadi di masa lalu. Menyesakkan, memang, tapi saya setuju pada Dianna, sahabat Ally dalam buku ini:

"Nggak semua orang yang pernah berbuat salah nggak tahu kata menyesal."
Sesakit apa pun hati, kita tetap harus belajar memberikan maaf. (163)
Jujur, pada bagian ini saya ingat mantan. #eh.curcol. Bukan, bukan teringat si dia dalam nuansa romansa. Saya hanya...#makjleb, sampai detik ini saya masih menolak berhubungan kembali dengannya dalam bentuk apa pun. Pertemanan, tentu saja, karena ia pun sudah berumah tangga. Saya harus belajar memberikan maaf (dan juga meminta maaf). Terima kasih, Ally. Terima kasih, mbak Rina.


www.sidomi.com

Hal personal lain yang saya dapatkan adalah etos kerja Ally yang luar biasa. Saya jadi malu jika mengingat keseharian saya yang seringnya 'gondok' jika bos meminta saya menambah jam kerja (alias lembur) untuk menyelesaikan pekerjaan. Huhuhu. Semoga seusai ini saya bisa meniru semangat Ally karena sejatinya saya juga sangat menyukai pekerjaan saya. #ameen.

Selain temanya yang menarik, eksekusi novel ini juga menawan, meskipun saya kurang puas dengan pilihan endingnya. Jujur, saya menunggu twist yang mengejutkan sebagaimana tersaji dalam Lullaby. Sayangnya, saya kurang merasa "terperangah" dengan twist-nya. Entah saya yang kurang peka atau bagaimana, hehehe...

Salah satu hal yang juga saya sukai dari gaya menulis mbak Rina adalah banyaknya kata-kata keren yang dapat ditandai sebagai quotes yang menginspirasi:

Mana ada rasa rindu dan kehilangan yang yang bisa kedaluwarsa. (62)


Inikah yang disebut chemistry? Hal yang indah, yang hanya bisa dirasakan hati, namun tidak bisa disentuh tangan. Hal yang kata orang tidak akan mungkin bisa dijelaskan logika sehebat apa pun. (65)


Hari yang diawali dengan ketergesaan dan emosi negatif, ujung-ujungnya tidak bagus. (138)


Membenarkan sesuatu yang telah terkoyak selalu lebih sulit daripada memulai yang baru. (161)


Kejujuran adalah harga yang layak untuk memulai (suatu) hubungan. (193)
Oiya, masih ada typo dalam buku ini, berikut beberapa di antaranya:
(hlm. 13) menggangguk = mengangguk
(hlm. 25) kharisma (hlm. 28) karisma = inkonsistensi
(hlm. 32) mempromoskan = mempromosikan
(hlm. 36) Up Town Woman (hlm. 134) Up-town Woman = inkonsistensi
(hlm. 37) pecinta alkhohol = pencinta alkohol
(hlm. 114) Wibarata = Wibrata
(hlm. 172) melap = mengelap
(hlm. 204) bawha = bahwa
(hlm. 221) ke luar dari ruang = keluar
(hlm. 228) Sangan = Sangat
Selain typo tersebut, ada beberapa hal yang agak mengganggu saya. Entah saya yang tulalit, atau memang ada yang terlewat ketika diedit. Hal-hal itu adalah:

1. Sampai dengan halaman 106, Ally tak pernah tahu siapa nama perempuan dari sepasang tunangan yang kartu pernikahannya sedang ditanganinya. Nah, setahu saya (yang pernah menemani teman memesan kartu undangan, di percetakan biasa sih) pembuat kartu pernikahan pasti sudah langsung menanyakan nama kedua pasangan untuk dicantumkan di kartu, kan? Ataukah pada tugas Ally ini masih dalam tahap desain kasar yang belum diberikan tulisan macam-macam?

2. Di halaman 168, Ally-Ivan berjanji-temu makan malam di Praline Wine and Dine, tapi di halaman 171, Ivan duduk menunggu di The Vicar. Nah, apakah kedua restoran ini sama? Seingat saya sih tidak.

3. Menurut saya di bab 18-19-20 terdapat kronologi waktu yang terjadi dalam 2 hari secara berurutan. Sementara pada halaman 212, Ivan menyebutkan "...mendengarkan narasi panjangmu kemarin--" padahal jika dirunut waktunya, pertemuan Ally-Ivan dalam halaman ini terjadi di hari yang sama dengan kejadian di bab 18 sehingga kata "kemarin" seharusnya "tadi pagi", apalagi adegan di bab 20 adalah merujuk waktu keesokan harinya. Apa saya yang salah tangkap, ya?
Hmm, ada satu hal menarik yang saya dapati. Soal sekolah yang ada di novel ini, Pratama School. Apakah sekolah itu adalah sekolah yang sama yang menjadi setting bagi novel Ask Tinkerbell? hihihi#just.curious



http://joefindlove.blogspot.com

Overall, meskipun terdapat beberapa hal yang menurut saya masih dapat dikembangkan, saya tetap suka dengan novel ini. Banyak keindahan yang disajikan dalam novel ini, termasuk keindahan cinta yang saling memberi dan saling menerima (take and give), serta sisi relijius yang diselipkan secara apik. 3 dari skala 5 bintang saya sematkan pada novel Amore karya mbak Rina Suryakusuma ini.

Baiklah, selamat membaca kawan!



Wednesday, April 18, 2012

[Resensi Novel Amore] Bella and the Beast by Astrid Zeng

Typo-nya bikin saya mual
Rating: 2 out of 5 stars


Judul: Bella and the Beast
Pengarang: Astrid Zeng
Editor: Raya Fitrah
Pewajah Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 hlm
Harga: Rp38.000
Rilis: Maret 2012
ISBN: 978-979-22-8159-0

Bellatrix Wibisono merupakan bungsu dari tiga bersaudara pasangan pengusaha kaya raya, Hadi Wibisono dan Siska. Orangtua dan kedua kakak perempuan Bella resah karena sampai dengan umur menjelang 26 tahun, Bella tak pernah sekalipun dekat dengan laki-laki. Hal tersebut tak terlepas dari kekangan sang ayah selama ini. Maka, ketika orangtua dan saudaranya menjodohkan Bella dengan Demetri Yoso, keponakan dari konglomerat lain, pengusaha kaya raya, Bella – Demetri menjadi pasangan yang unik.

Demetri telanjur dicap sebagai monster dengan luka parut mengerikan di wajahnya dan tubuh besar-kekarnya, ditambah lagi dengan gosip yang menyebutkan Demetri adalah lelaki kasar yang suka memukul perempuan dan bahkan berniat memerkosa mantan tunangannya. Namun demikian, jalinan pernikahan Bella-Demetri tersambung juga. Dilengkapi pernik keluarga dan para sahabatnya, kisah si cantik dan si buruk rupa ini berusaha mencari jalan menuju kebahagiaan.

Apakah pada akhirnya cinta hadir di hati Bella meskipun ia selalu menganggap wajah Demetri menakutkan? Simak kisah romance yang judulnya merujuk pada dongeng terkenal dunia, Bella and the Beast, karya Astrid Zeng ini.

Saya masih tidak percaya ketika mendapati satu demi satu typo yang bertebaran HAMPIR di seluruh halaman novel ini (Lebay deh gue, nggak semua halaman juga kaleeee). Saya sampai kehabisan post it penanda halaman untuk beberapa kesalahan teknis lainnya. Saya penasaran, apakah tidak ada proofreader untuk novel ini? Jika jawabannya tidak ada, maka sungguh sangat disayangkan.

Dari segi cerita, sebenarnya saya suka dengan kisah ini namun hanya sampai dengan separuh bagian pertamanya saja. Ketika konflik tak beranjak dari topik si lugu dan si monster, saya jatuh bosan. Untunglah, saya memang sudah tersedot pada karakter Bella dari sejak awal kemunculannya. Lugu, polos, menggemaskan, meskipun tidak realistis juga. Sepolos-polosnya orang polos, Bella ini anak konglomerat. Apakah sekadar tak diperbolehkan berhubungan dengan lelaki lalu Bella menjadi sosok kuper yang tak bisa memperoleh asupan informasi? Tidakkah Bella seharusnya dapat menyerap informasi dari dunia luar melalui televisi, internet, atau media cetak? Entahlah, meskipun sudah diberikan penjelasan bahwa Bella tak pernah baca-baca media cetak, toh pada suatu kesempatan dia googling juga mencari informasi tentang Demetri. Jadi, pada dasarnya dia melek internet, tho? Belum lagi, sifat sang mama yang sepertinya demanding sedikit banyak tak mungkin membiarkan sang putri tumbuh menjadi perempuan oon. Ini menurut saya. Kan, karakter ciptaan penulis, suka-suka penulis donk ya.

Sebenarnya cukup banyak subplot yang dihadirkan untuk mendukung cerita, mulai dari kisah orangtua dan kakak Bella, sepupu-sepupu Demetri dan para wanita mereka, serta Sonya, sang mantan. Sayangnya, variasi subplot tersebut tak mampu membuat saya tetap terpaku pada kisah Bella-Demetri. Mulai dari pertengahan novel hingga ke belakang saya hanya ingin sprint untuk segera menuntaskan kisah ini. Alih-alih mendapat kepuasan di ujung jalan, ending novel ini pun tak memberikan sensasi apa pun.

Ketika saya sampai di halaman terakhir dan melirik promo di halaman tambahan, terlihat dari sinopsis dua novel Astrid terdahulu Sleepaholic Jatuh Cinta dan Suami Sempurna untuk Tatiana, sepertinya ketiga novelnya ini saling terkait. Tatiana-Michael-Tecla-Phillip telah hadir di dua buku tersebut. Tapi, entah mengapa, saya tidak tergerak untuk mencari-membeli-dan-membaca dua novel itu setelah tidak terpuaskan membaca Bella and the Beast ini.

Dari segi karakterisasi, penulis masih mengandalkan kekuatan verbal, menyebut Demetri berotot besar laksana raksasa dengan luka parut mengerikan di wajahnya secara berulang-ulang untuk menggambarkan sosoknya, dan bagi saya ini menjadi kurang menarik. Seharusnya melalui tindakan si tokoh dan perlakuan orang sekitar (bukan omongan), sosok Demetri bisa dihadirkan dengan lebih meyakinkan. Sampai tuntas membaca, saya tidak mendapat kesan bahwa Demetri adalah sosok the Beast dalam novel ini. Hal yang sebaliknya justru terjadi pada karakter Bella. Meski beberapa kali juga disebut menyangkut kepolosan, keluguan, dan kebodohan Bella secara verbal, namun sifat dan perbuatan Bella menguatkan karakternya yang menggemaskan itu.


Menyoal nama Bellatrix, mau tak mau bayangan Bellatrix Lestrange, si antagonis pembunuh Sirius Black dari serial Harry Potter mampir di ingatan saya. Kemudian, ketika mengetahui bahwa Bella di sini adalah sosok protagonis yang banyak menarik simpati, ingatan saya melayang ke tokoh Bella Swan dari Twilight Saga. Yahhh, begitulah saya. Selalu mengait-ngaitkan sesuatu yang mungkin tak ada kaitannya sama sekali. Hahaha.

Dan, membaca novel ini saya serasa entah memijak di negeri mana, meskipun kota-kota semacam Jakarta-Surabaya-Malang-Denpasar disebut berulang-ulang namun nama-nama tokohnya yang super-western semacam Bellatrix, Beatrice, Bibiana, Tatiana, Tecla, Michael, Demetri, Phillip, Peter, Patrick, tak meninggalkan setitik nuansa ketimuran. No big deal sih, secara pada zaman modern seperti sekarang nama-nama bernuansa Barat sudah sedemikian lazim digunakan orang, ini hanya karena saya yang produk lama, yang mendapat nama khas Indonesia dari orangtua, terkadang masih berharap para penulis menamai tokoh-tokoh mereka dengan nuansa Indonesia.

Berikut adalah segambreng typo yang saya temukan:
(hlm. 7) seorang orang cucu = pengulangan kata ‘orang’
(hlm. 9) paragraf keempat seharusnya dibagi menjadi dua paragraf
(hlm. 10) menatap ayah mereka tatapan bingung = ambigu
(hlm. 14) memeriksa siapa menghubunginya = ambigu
(hlm. 15) barang-barang yang dia jatuhkannya = pengulangan kata ganti
(hlm. 16) terpercaya = tepercaya
(hlm. 17) Demitri = Demetri
(hlm. 30) ke sekian kalinya = kesekian
(hlm. 40) menandatangangi = menandatangani
(hlm. 43) tandatangani = tanda tangani
(hlm. 44) tanda tangannya lalu menyodorkannya surat perjanjian = pengulangan kata ganti
(hlm. 48) baru menghentikan gelak tawanya menangkap raut tersinggung = ambigu
(hlm. 50) Bibina = Bibiana
(hlm. 58) menganggu = mengganggu
(hlm. 59) “Seperti apa?” Demetri sambil menolehkan = ambigu
(hlm. 61) keesokkan = keesokan
(hlm. 63) paragraf kedua yang dicetak italic, tidak konsisten, menyebut pernikahan mereka, padahal paragraf itu kata batin Bella yang berbicara
(hlm. 64) ditengah-tengahnya = di tengah-tengahnya
(hlm. 67) Phillip menepuk punggung Demetri lalu merangkul bahu sahabatnya = bukankah Demetri sepupu Phillip?
(hlm. 68) menghubungkan kolam area renang = area kolam renang?
(hlm. 68-69) yang tidak pernah dia bayangkannya = pengulangan kata ganti
(hlm. 69) Lalu wanita berdiri = sebaiknya ‘wanita itu’ berdiri
(hlm. 72) kurang tanda baca ‘titik’ pada paragraf kedua
(hlm. 73) Tinggal Bellatrix beberapa tiga orang perempuan = ambigu
(hlm. 74) mengamit = menggamit
(hlm. 77) kelam malam = kelab malam
(hlm. 82) pertanyan = pertanyaan
(hlm. 83) menandatanganinya tanpa tanpa = pengulangan kata ‘tanpa’
(hlm. 84) harus menelan kecewa karena = seharusnya kata benda ‘kekecewaan’
(hlm. 94) asik = asyik = inkonsisten
(hlm. 96) terlanjur = telanjur
(hlm. 96) pekik Tatiana Tatiana menaikkan = kurang tanda baca ‘titik’ di antara Tatiana dan Tatiana
(hlm. 98) Bellatrik = Bellatrix
(hlm. 104) menganggu = mengganggu
(hlm. 109) supir = sopir = inkonsisten
(hlm. 110) paragraf dua berisi kalimat berbahasa Jerman, perlu penjelasan
(hlm. 111) pernihakan = pernikahan
(hlm. 112) terlanjur = telanjur
(hlm. 115) memandangi Tatiana dan dan = pengulangan kata ‘dan’
(hlm. 116) semua tas sialan ini dan dan istriku = pengulangan kata ‘dan’
(hlm. 119) seseorang wanita tua = seorang
(hlm. 124) Demetri tergelak dan hingga tubuh Bellatrix ikut terguncang = ambigu
(hlm. 114) paragraf ketujuh kurang tanda baca ‘titik’
(hlm. 128) apa yang aku inginkan lakukan = ambigu
(hlm. 131) Tatiana marah hingga merusak malam pertamanya mereka = ambigu
(hlm. 132) ancaman akan akan = pengulangan kata ‘akan’
(hlm. 137) Demetri sudah menariknya lengannya = pengulangan kata ganti
(hlm. 137) mengenggam = menggenggam
(hlm. 141) Tadi kami tadi tergesa-gesa = pengulangan kata ‘tadi’
(hlm. 142) menganggu = mengganggu
(hlm. 142) lengangnya = lengannya
(hlm. 152) masih terdengar bibir keduanya = ambigu
(hlm. 152) menarik dua buah kotak bawah meja = ambigu
(hlm. 153) kearah = ke arah
(hlm. 154) ekpresi = ekspresi
(hlm. 157) menggeleng-gelengkankan = menggeleng-gelengkan
(hlm. 157) pawa = para
(hlm. 159) menganggu = mengganggu
(hlm. 166) Tatiana mengaduknya sup = mengaduk
(hlm. 182) mata coklatnya = mata cokelatnya
(hlm. 183) “Hei, kenapa kita mengabari Cindy tentang ide ini?” = sebaiknya ditambahkan kata ‘tidak’
(hlm. 186) meraba-raba perutnya putri bungsunya = pengulangan kata ganti
(hlm. 189) terbangung = terbangun
(hlm. 192) resiko = risiko
(hlm. 195) terbersit = tebersit
(hlm. 202) mengeliat = menggeliat
(hlm. 206) telalu = terlalu
(hlm. 209) mununjukkan = menunjukkan
(hlm. 215) terangangkat = terangkat
(hlm. 220) ke sekian = kesekian
(hlm. 225) Berapa jam yang lalu = Beberapa jam yang lalu
(hlm. 228) terbersit = tebersit
(hlm. 229) keesokkan = keesokan
(hlm. 233) meyadari = menyadari
(hlm. 233) Bellatirix = Bellatrix
(hlm. 249) di panggil = dipanggil
(hlm. 251) menununjuk = menunjuk
Fiuuuuhhh, gimana, banyak tidak? Saya benar-benar pusing ketika menandai satu demi satu kesalahan teknis cetakan ini. Sayang banget, ya?

Oiya, satu bintang saya persembahkan untuk karakter Bella yang menggemaskan dan satu bintang lagi untuk cover bunga tulipnya. Saya penyuka bunga tulip.


Baiklah, selamat membaca, kawan!

Friday, April 6, 2012

[Resensi Novel Amore] Lullaby by Rina Suryakusuma

Ikatan dua bersaudari kembar
Rating: 3 out of 5 star


Judul: Lullaby
Pengarang: Rina Suryakusuma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: November 2011 (cet. 1)
ISBN: 978-979-22-7730-2

Audy dan Rose adalah dua saudari kembar, bungsu dari keluarga Andrew dan Madeline Capelle. Sejak kecil Audy mendapat perlakuan istimewa oleh karena suatu penyakit mematikan yang dideritanya, menyisihkan Rose dari curahan kasih sayang orangtua dan kakak-kakak mereka. Namun demikian, bagi Audy, Rose adalah segalanya. Rose adalah saudari, sahabat, juga belahan jiwanya. Audy berusaha selalu melibatkan Rose dalam setiap episode kehidupannya. Itu juga yang membuat Mardi, kekasih Audy, dirundung gusar mengajak Audy ke tahap hubungan lebih lanjut karena Rose selalu menjadi penghalang.

Tetapi, Audy tak bisa dipersalahkan. Saudara kembar dipercaya memiliki ikatan batin yang teramat kuat dan Audy tak bisa begitu saja mengabaikan Rose. Jika akhirnya ia harus menikah, Rose juga harus menikah. Meskipun, dilihat dari sikap Rose yang tak pernah mau bersosialisasi dan lebih banyak mengurung diri di apartemen mereka, rasanya ajakan Mardi untuk menikah tak akan terjadi dalam waktu dekat. Apa yang harus dilakukan Audy untuk meyakinkan Rose agar mau menjalin hati dengan seorang lelaki?

Satu pertanyaan besar yang harus ditemukan jawabannya di novel ini: apakah ini nyata atau sekadar imajinasi?

Saya selalu suka dengan diksi yang diracik Rina Suryakusuma. Dalam dan menyenangkan. Bgai saya, diksi menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan kenikmatan membaca suatu karya tulis, plus konsistensinya. Saya paling sebal jika di awal-awal tulisan diksi-nya konsisten menggunakan kata tidak/tak tiba-tiba di tengah-tengah muncul kata “nggak” yang tidak memiliki maksud dan tujuan lain. Itu, saya kategorikan fatal. Inkonsisten.

Berikut beberapa bagian kalimat yang saya suka:
Bagaimana cara kamu bilang pada matahari supaya dia jangan terbit lagi? Bagaimana cara kau bilang pada orang yang mencintaimu sepenuh hati, supaya tidak usah kuatir lagi padamu? (hlm. 22)

Tawa adalah obat paling manjur untuk kesedihan. Cinta yang tulus ialah terapi paling sempurna untuk semua sakit dan duka yang ia rasakan. (hlm. 118)

Premis novel ini adalah kekuatan terbesarnya. Jika kamu seperti saya yang gampang tertipu, kamu pasti akan mendesah “OMIGOD!” ketika penulis menyajikan twist yang begitu mengejutkan di tengah hingga menjelang akhir. Saya sampai memaki diri sendiri yang tak bisa menebak plot dari sejak mula. Saya baru menemukan clue-nya hampir di pertengahan novel (halaman 165, tepatnya). Astagahh! Dua jempol buat Rina yang berhasil menghadirkan twist ini.

Sayangnya saya tak bisa menikmati gaya ‘feodal’ yang dipilih Rina untuk menghadirkan tokoh-tokohnya dengan terlampau seringnya penyebutan nama lengkap mereka. Saya kurang begitu terhubung. Ada jarak yang tercipta antara saya dan aktor-aktrisnya. Seolah-olah saya duduk di kursi terbawah pada sebuah pertunjukan di panggung setinggi tiga meter. Saya melihat tapi tidak terlibat. Hal itulah yang menghalangi saya dari terhanyut kisah ini.

Selain itu, cerita hanya disokong kisah Audy seorang. Tak banyak subplot yang dihadirkan untuk mendukung kisah bersaudari kembar ini sehingga ada saat-saat saya ingin menaruh novel ini begitu saja dan beralih membaca yang lain. Andai saja penulis memberikan tikungan-tikungan pada jalan cerita ini, saya yakin guncangan twist-nya akan lebih terasa.

Untuk departemen cetakan, berikut beberapa temuan typo yang saya dapat:
(hlm. 18) kekanak-kanakkan = kekanak-kanakan
(hlm. 20) beraktifitas = beraktivitas
(hlm. 28) La Grande = Le Grande = inkonsisten
(hlm. 33) Karena = karena (huruf K harusnya tidak kapital)
(hlm. 34) pertunjukkan = pertunjukan
(hlm. 72) Arman = Armant
(hlm. 77) Tenggorakan = Tenggorokan
(hlm. 78) bidak = biduk
(hlm. 80, 220) praktek = praktik
(hlm. 94) dr = Dr = Dokter = inkonsisten
(hlm. 125) ...di antara keluarganya, dan Rose Tapi Audy sadar,... (ambigu)
(hlm. 149) “Jam setengah tiga subuh.... (hanya terasa tidak pas penggunaannya, hampir tak pernah waktu subuh jatuh pada jam kurang dari pukul tiga pagi, di zona waktu mana pun, di Indonesia)
(hlm. 220) klat = kilat

Oh, dan ini sepertinya sudah menjadi ciri khas seorang Rina, lebih memilih menggunakan kata ‘kuatir’ dibanding ‘khawatir’, jadi ya, sudah, saya sih tetap menyarankan menggunakan kata yang dianggap baku di kamus yaitu ‘khawatir’.

But, overall, saya tetap menyukai membaca novel ini. Sebuah pengalaman mengejutkan yang menyenangkan. Tiga bintang untuk twist-nya.


Selamat membaca, kawan!

Friday, July 23, 2010

Resensi Novel Chicklit: Rina Suryakusuma - Lukisan Keempat (Amore 01)

Jalan panjang berdamai dengan masa lalu

Rating: 2,5 dari 5 Bintang



Judul: Lukisan Keempat
Penulis: Rina Suryakusuma
Editor: Novera Kresnawati
Co. Editor: Irna Permanasari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Lini: Amore
Tebal: 224 hlm
Harga: Rp30.000
Rilis: Pebruari 2010
ISBN: 978-979-22-5457-0

Natasya Petra Rahadian melarikan rasa frustasinya setelah putus cinta dari Edward Dwiansyah dengan meng-apply lowongan pekerjaan sebagai stewardess sebuah maskapai penerbangan internasional yang berbasis di Amerika Serikat. Ia berharap diterima sehingga dapat segera menyingkir dari segala kenangan tentang Edward untuk sementara waktu, kalau perlu selamanya. Tak dinyana, Natasya lolos seleksi hingga dikirim ke Colorado untuk mengikuti training calon pramugari sebelum secara resmi dikontrak oleh maskapai tersebut. Dan, dimulailah babak baru episode kehidupannya.

Natasya mulai ada rasa pada trainernya yang ternyata adalah seorang pilot, meski kemudian dia kembali harus tertusuk realita bahwa cowok itu berselingkuh dengan teman baiknya sesama pramugari. Pada saat itulah, Natasya dipertemukan oleh takdir dengan seorang penumpang pesawat menyebalkan yang berusaha menarik perhatiannya. Aura permusuhan yang muncrat pada awalnya, perlahan menjadi semacam candu yang membakar gairah asmara Natasya hingga ia tak lagi mampu membohongi diri sendiri bahwa ia terjatuh dalam kubangan pesona si penumpang bengal tersebut. Apakah kali ini kisah cinta Natasya akan berakhir dengan happy ending? Belum lagi ketika laki-laki lain dari masa lalunya tiba-tiba menyeruak ke dalam hidupnya, bagaimana ia menghadapinya? Lalu, apa yang dimaksud dengan lukisan keempat itu? Temukan jawaban-jawabannya dengan membaca novel pertama dari lini Amore yang digagas Gramedia ini.

Kecewa dengan keseluruhan elemen cerita dalam novel Amore 02 membuat saya sempat mengucap ‘sumpah’ untuk tak lagi menyentuh novel lain dari lini Amore ini. Namun, ternyata saya malah tak tahan untuk ikut-ikutan teman yang sudah membaca novel Amore 01 dan berkomentar bahwa it was better than Amore 02. Saya menjadi tertarik dan kebetulan ada teman yang baru membelinya dan mengizinkan saya “memerawaninya” terlebih dahulu. Terima kasih buat mas Tomo.

Hasilnya? Saya setuju dengan komentar teman tersebut bahwa novel ini lebih ngalir ketimbang novel Amore 02. Meskipun masih sama-sama dalam dunia khayal kesempurnaan para tokohnya, namun Lukisan Keempat ini menyajikan cerita yang lebih natural dan smooth. Metamorfosis karakter rekaan sang penulis dapat terekam dengan baik dan cukup hidup dalam belitan konflik yang diciptakannya. Walaupun, lagi-lagi, semua berjalan dengan sangat sederhana. Dan, tidak terlalu istimewa.

Seharusnya, terlebih dahulu saya mengosongkan pikiran dari segala pengetahuan yang pernah terekam dalam memori otak sebelum mulai membaca sebuah buku untuk menghindari keinginan hati mengaitkan cerita dalam buku yang saya baca dengan cerita lain yang pernah saya baca, dengar, atau lihat sebelumnya. Sayang, saya tak terpikir melakukannya ketika mulai membaca novel ini, sehingga kelebatan adegan demi adegan film View From The Top-nya Gwyneth Paltrow tak mampu saya bendung dan menyerbu benak saya. Tapi, untunglah, kesamaan novel ini dengan film itu sepertinya hanya terletak pada latar belakang kehidupan pramugari dan situasi training di awalnya saja. Selebihnya, seingat saya, berbeda sekali. Ahh, jadi pengen nonton film itu lagi…

Novel ini memang tidak menawarkan sebuah cerita yang rumit dan penulis juga nampaknya tidak berkeinginan untuk membuatnya rumit. Tak ada konflik bombastis dan hanya berkutat pada nasib percintaan tokoh utama sebelum dipertemukan dengan ‘jodoh’ yang telah dipersiapkan oleh si penulis. Yeah, ‘lil bit boring memang karena segalanya menjadi tampak begitu mudah. Pengaturan tokoh yang bermusuhan-dahulu-berkencan-kemudian terjadi begitu gampang tanpa banyak halangan. Namun, cara mengemas penulis patut diacungi jempol, sehingga pembaca (saya, maksudnya) bisa ikut larut dalam setiap adegan yang dimainkan oleh para tokohnya.

Pada satu sisi saya menyukai bagaimana sosok Craig ditampilkan sedikit tersamar, misterius. Namun, pada sisi yang lain juga ingin menuntut jawaban atas pertanyaan bagaimana ia bisa tahu banyak hal tentang Natasya. Dan, entah apakah ada fakta yang terlewat, seingat saya, penulis memang tidak menerangkan posisi Craig secara jelas, pekerjaan, keseharian, dan atau kekuasaan yang dimilikinya, sehingga memungkinkannya untuk memperoleh informasi-informasi penting soal Natasya itu. Bukan masalah sih dibiarkan misterius, tapi tetap saja diperlukan jawaban pasti atas pertanyaan mendasar itu. Di buku selanjutnya, maybe?

As usual, berikut laporan kejanggalan yang saya temukan di novel ini:
(hlm. 22) …ucap si pris bule………, pris = pria

(hlm. 16, 23, 114, 194, 195)…..hmm, meskipun dalam KBBI terdapat kata ‘kuatir’ namun juga ingin tahu artinya disarankan merujuk kata khawatir, nah, dalam novel ini alih-alih kata khawatir atau cemas, penulis lebih menggemari menggunakan kata ‘kuatir’, bagi saya kata itu lebih cocok untuk percakapan/dialog, sedang untuk deskripsi/narasi lebih enak jika memakai ‘khawatir’. Namun, sempat pula agak keselip ingin menggunakan kata khawatir (hlm. 26) tapi justru menjadi typo….mengkhatirkan = mengkhawatirkan?

(hlm. 83) unbeliaveble = unbelievable

(hlm. 108) adakah istilah force major untuk kondisi darurat/mendesak……..kalau setahu saya sih force majeur(e)

(hlm. 114) ….Craig ada didekatnya……., didekatnya seharusnya dipisah = di dekatnya

(hlm. 123) “What?” Tasia tercengang menatap Craig……, ehmm, seharusnya demi konsistensi, untuk selain dialog penulisan nama tokohnya yang lengkap, Natasya, apalagi diceritakan bahwa panggilan “Tasia” hanya dilakukan oleh dua orang tokoh tertentu di novel ini

(hlm. 164) Semua impiannya terkabu……., terkabu = terkabul

(hlm. 170) “……apa akibatnya?” mama menatap anak…….., mama = Mama

(hlm. 188) kurang tanda titik pada kalimat akhir paragraf….gadis yang bisa dibawa-bawa(titik)


My thought: saya kok agak geli ya membaca frasa “memijit tombol handphone”…kalau mendengar kata itu, saya selalu terasosiasikan pada kegiatan pijat-urut. Sama juga dengan frasa “mengenakan lipstik”, hmmm….agak kurang familiar saja, bagi saya, soalnya terbiasa mendengar, “mengenakan kemeja” atau “mengenakan sepatu”
Dalam ukuran selera saya sih, typo tersebut masih dalam batas wajar dan tidak begitu mengganggu dalam proses melumat cerita novel ini. Namun, tetap saja, hal tersebut menunjukkan masih terdapatnya titik lemah pada sektor penjaminan kualitas cetakan yang perlu dibenahi. Kenapa sih guwe secerewet ini? Pertama, saya ingin seluruh elemen yang terlibat dalam penerbitan sebuah buku sadar bahwa kualitas cetakan juga penting sehingga sangat perlu untuk menghindari beragam ‘cacat’. Kedua, sudah ada yang namanya editor jadi harusnya kesalahan seperti ini dapat terminimalisir, kalaupun ada yang menyebutkan bahwa bisa saja terdapat faktor-faktor khusus pada proses konversi file ke dalam aplikasi lain untuk dicetak, masak iya nggak ada quality check lagi pada tahap itu? Ketiga, pada kenyataannya ada lho buku yang ‘nyaris’ tidak ada ‘cacat’ teknis cetaknya, jadi kenapa buku yang lain tak bisa begitu.

Oops, kok malah melantur ke mana-mana. Kembali ke…..buku ini. Pada akhirnya, saya memang menyukai novel Lukisan Keempat ini. Bagaimana alur dibiarkan mengalir alami dan latar belakang pramugari yang meskipun tidak diuraikan secara mendetail tapi cukup untuk dapat menghilangkan kesan bahwa profesi itu ‘hanya’ tempelan belaka, membuat saya nyaman menuntaskan novel tipis yang baru saya sadari font-nya agak lebih eye-friendly ketimbang novel Amore 02, sehingga tidak melelahkan mata. Ending berasa mengundang sekuel meskipun ternyata kata penulisnya, ia belum memiliki gambaran akan meneruskan cerita ini atau tidak. Bagi saya, I love to wait for the next story of Natasya.

Okay, enjoy reading, people!

Sinopsis:
Sebagai pramugari maskapai penerbangan internasional Corissa Airlines, tidak seorang pun mengira Natasya Petra Rahadian memiliki tiga fase kehidupan yang membuat gadis itu terluka karena cinta.

Dimulai dari ayahnya yang meninggalkan Natasya bersama ibu dan adiknya. Kekasih masa kuliah yang menduakannya dengan sahabat karibnya sendiri. Dan terakhir, pilot yang dekat dengan dirinya ketika menjalani pelatihan berselingkuh dengan teman sekamarnya.

Natasya bersumpah takkan jatuh cinta lagi. Sampai ia bertemu Craig Hayden, penumpang Corissa Airlines yang menyebalkan. Sementara Craig sudah tertarik pada Natasya yang begitu menawan hati saat kali pertama ia memandangnya.

Entah bagaimana Craig tahu, Nat memendam luka dalam hidupnya. Ia bertekad akan menyingkap kabut tersebut, memberi Natasya siraman kasih sayang, dan mengembalikan kepercayaannya kepada cinta.

Mampukah Craig membuktikan bahwa ia layak masuk dalam kehidupan Natasya? Bisakah Craig mewujudkan tekadnya untuk menjadi bagian dari lukisan hidup Natasya yang keempat, sekaligus yang terakhir?