Showing posts with label Ken Terate. Show all posts
Showing posts with label Ken Terate. Show all posts

Tuesday, June 23, 2015

[Resensi Novel Teenlit] Minoel by Ken Terate

Jangan jadi IDIOT karena cinta...


Kata orang, cinta butuh pengorbanan. Kata orang, cinta berarti memberi. Itulah yang dipercaya Minoel saat Akang menawarkan cinta dan mimpi indah. Minoel melayang ke awang-awang. Akhirnya ada juga cowok yang mencintai dirinya yang cacat.

Minoel menerima cinta Akang. Meskipun itu berarti dia tidak bisa ikut kegiatan hadrah dan pramuka lagi. Meski itu berarti dia tidak bisa sering-sering main dan gosip bareng Lilis dan Yola lagi.

Namun, Akang berubah. Lelaki itu mulai bertingkah kasar dan tak masuk akal. Inilah ujian cinta Minoel. Akang mau menerimanya yang serba kekurangan, miskin, bodoh, dan cacat. Sudah seharusnya dia menerima kelakuan Akang yang buruk, kan? Toh buruknya hanya kadang-kadang.

Yola dan Lilis terus membela dan mengingatkan Minoel bahwa Akang tidak baik untuknya, dan Minoel terus mengabaikan teman-temannya. Tapi, ketika Akang mulai menuntut Minoel menyerahkan diri sepenuhnya, Minoel mulai bertanya apakah cinta memang butuh pengorbanan SEBESAR itu? Lebih jauh lagi, apakah itu benar-benar cinta?

Judul: Minoel
Pengarang: Ken Terate
Pewajah sampul: Erick Pramono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 hlm
Harga: Rp55.000 (beli di Gramedia Gandaria City)
Rilis: Mei 2015
ISBN: 9786020316802

https://www.goodreads.com/book/show/25579184-minoel?ac=1

Disadari atau tidak, salah satu tugas seorang pengarang adalah menyediakan sepasang sepatu untuk bisa dicoba dikenakan oleh pembacanya. Mau tak mau, pembaca mesti rela melepaskan sepatunya sendiri terlebih dahulu dan mencoba sepatu yang disediakan si pengarang tersebut. Harus ada kerelaan, kalau tidak maka sedari awal pembaca sejatinya sudah menolak menerima gagasan apa pun yang akan disampaikan pengarang dalam bukunya.

Kali ini, lewat Minoel, Ken Terate menawarkan sepasang sepatu milik Minoel untuk saya coba kenakan agar saya bisa menyelami suasana batin Minoel, seorang gadis SMA yang dikisahkan difabel (pincang), melarat, orangtua pemarah, dan lingkungan yang serbaberat. Beragam konflik mesti ikut saya rasai dan dari situlah saya ikut terlibat secara emosional dalam kisah ini. Mencoba memahami dan meresapi setiap adegan kehidupan remaja penuh liku ini.


Monday, July 7, 2014

[Resensi Novel Teenlit] Jurnal Jo 3: Episode Cinta by Ken Terate

LAWAN Bullying!!!

Sinopsis:
Wah, ada cowok baru di kelas Jo Wilisgiri: Izzy. Izzy bukan sekadar cowok, tapi selebriti! Cakep, terkenal, lucu, perfect! Semua cewek dibuat “demam” olehnya, termasuk Jo. Tapi masalahnya Jo nggak boleh “demam” gara-gara cowok lain karena dia sudah punya Rajiv yang ganteng dan baik hati.

Seiring waktu Jo sadar si cowok selebriti itu ternyata jail luar biasa. Sebut saja: menciptakan berbagai olok-olok ajaib sampai mengerek baju renang di tiang bendera. Hm, awalnya lucu sih, tapi lama-lama kok norak ya. Apalagi kalau kamu yang dikerjain. Please deh, lucunya di mana sih?

Parahnya, Sally—sahabat sejati Jo yang sangat memuja Izzy—justru dikerjai oleh Izzy sampai masa depannya terancam suram. Jo pengin menyelamatkannya, tapi Sally justru marah dan memusuhinya. Nabila, sahabat Jo yang lain, juga dikerjai tapi mati-matian melarang Jo buat mengadu.

Aduh, masalah seolah tak ada habisnya. Hubungan Jo dengan Rajiv gonjang-ganjing karena Mama melarang Jo pacaran. Selain itu ada proyek besar semester ini: bikin laporan soal kelestarian sungai. Gawat! Dalam proyek ini Jo sekelompok dengan Izzy dan Sally. Bisa-bisa Jo bakal nggak dapat nilai.

Puncaknya: Rajiv, satu-satunya sahabat waras Jo, harus kuliah di Amerika.

Wow! Benar-benar semester yang gila untuk Jo. Berantakan, galau, kacau-balau, tapi tetap seru, lucu, dan penuh cinta!

Judul: Jurnal Jo 3 - Episode Cinta
Pengarang: Ken Terate
Ilustrator kover: Erick E. Pramono
Penerbit: Gramedia
Tebal: 240 hlm
Rilis: Juni 2014
Harga: Rp50.000
ISBN: 978-602-03-0569-1

Asli, membaca karya-karya Ken Terate selalu mengaduk-aduk perasaan. Kesal, haru, bahagia, sedih, geregetan, semua jadi satu. Di satu bagian saya bisa cekikikan nggak keruan, di bagian lain saya akan mengelus dada sangking ikut terlarut dalam kisahnya.Singkat kata, Ken berhasil mempermainkan emosi saya selama proses pembacaan buku-bukunya. Tak terkecuali novel teenlit terbarunya yang merupakan buku ketiga dari serial Jurnal Jo yang ditulisnya, Jurnal Jo 3: Episode Cinta.

Wednesday, September 5, 2012

[Resensi Novel Teenlit] Dark Love by Ken Terate

Seks pranikah BUKAN pernyataan cinta, itu nafsu!!!

Usiaku 17 tahun, hampir 18. Kelas 12. Hampir lulus. Dan aku hamil...

Kirana yang cerdas, cantik, dan ceria melihat semua impiannya luruh di depan mata. Hari-harinya mulai dipenuhi rahasia dan kecemasan. Ia nggak mungkin mampu melahirkan dan merawat bayi. Ia juga nggak mungkin mampu menghadapi celaan dari orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, guru-gurunya, terutama kekecewaan orangtuanya. Saat ini Kirana berada di ambang jurang keputusasaan. Hidup seolah tidak menawarkan solusi apa pun padanya.

Bagaimana dengan cowok yang menghamilinya? Oh, cowok itu harus tetap sekolah. Dia nggak boleh terlibat. Dia cowok paling tampan dan paling cerdas di sekolah. Masa depannya begitu gilang gemilang. Kirana tidak ingin merusaknya. Siapakah dia? Kirana takkan pernah mau mengakuinya.

Judul: Dark Love
Pengarang: Ken Terate
Pewajah sampul: Niken Anggrek Wulan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp40.000
Rilis: September 2012
ISBN: 978-979-22-8751-6

Summary:
Dunia remaja Kirana yang ceria dan penuh tawa seketika retak begitu dia menyadari ada benih cinta yang bertumbuh di rahimnya. Ia HAMIL. Ya Tuhan, Kirana baru 17 tahun. Tinggal satu semester lagi, ia akan lulus SMA. Bisakah ia menghentikan janin di kandungannya untuk berkembang? Bolehkah ia tetap bersekolah jika perutnya makin membesar? Oh, dia kan salah satu murd terpandai di sekolahnya, masa' pihak sekolah akan mengeluarkannya begitu saja?

Oh, apakah ia korban perkosaan? Apakah Kirana hanya melakukan hubungan intim dengan iseng? Tak lebih baikkah jika Kirana mengaku saja pada semua orang siapa cowok yang menghamilinya? Tentu, itu lebih mudah baginya. Ia tak akan menanggung semua beban itu sendirian. Tapi, ia tak tega. Cowok itu begitu tampan, begitu pintar, dan dia begitu diharapkan sebagai tulang punggung keluarganya. Oh, Tuhan! Kirana begitu kalut. Apa yang musti ia lakukan? Bersediakah ia....aborsi?

Simak langkah Kirana yang tertatih-tatih demi mencari solusi atas aib yang menimpanya dalam novel teen lit terbaru karya Ken Terate bertajuk Dark Love ini.


Pada suatu ketika dalam masa akademik saya, pernah terlontar pertanyaan seputar, "Bolehkah seorang siswi yang hamil tetap diperbolehkan masuk sekolah?" Jika tidak salah, saya pernah punya satu teman angkatan yang terpaksa putus sekolah karena ia telanjur hamil dan akhirnya MBA (Married by Accident). Kala itu, saya sebagaimana teman-teman saya yang lain, pun bertanya-tanya hal yang sama. Dan, sampai sekarang saya tak pernah tahu apakah memang ada peraturan tertulis yang melarang siswi yang hamil untuk menyelesaikan pendidikannya secara ketika masuk sekolah (SD/SMP/SMA) tidak ada surat pernyataan apa pun yang ditandatangani oleh siswa/i. Berbeda sekali ketika saya menempuh kuliah di STAN yang mensyaratkan mahasiswa/i-nya menyetujui kewajiban untuk tidak menikah (termasuk hamil) selama masa pendidikan. Tentu, itu sudah berdasar kesadaran sendiri. Nah, pas masih sekolah dasar-menengah, bagaimana donk? Dunno!

Tema itulah yang menjadi topik bahasan utama Ken Terate dalam novel Dark Love ini. Deangan gaya bercerita dan segala pernik khas remaja, Ken menghidupkan tokoh yang begitu real dengan segala keluguan dan kebingungannya menghadapi persoalan serumit ini. Perang batin yang dialami Kirana begitu dekat dengan keseharian. Seorang remaja beranjak dewasa yang menghadapi kenyataan bahwa berhubungan intim yang awalnya biasa dan menyenangkan justru membawanya kepada jalan yang tak diketahui di mana ujungnya. Apalagi ia pun sadar, ini adalah aib. Maka, dunia tak boleh tahu.

Nuansa riang-komedi-komikal khas Ken memang masih terasa, meskipun sebagaimana judul novel ini, aliran kisahnya dibuat sedikit lebih gelap dibanding karya-karya Ken sebelumnya yang secerah warna-warni cokelat M&M. Tentu saja, persoalan hamil di luar nikah di kalangan anak SMA bukan persoalan gampang. Dan, seperti yang pernah saya tanyakan di waktu saya SMA dulu, kasus seperti ini masih "tabu" dalam dunia nyata. Coba saja tengok berita di bawah ini: tentang teguran keras Gubernur Jatim karena ditengarai ada larangan Dinas Pendidikan bagi siswi hamil untuk ikut Ujian Nasional.


“Sudah, sudah kami ingatkan. Sudah tidak ada aturan seperti itu. Silakan bagi sekolah yang mau menerapkan dan sah-sah saja jika tidak,” tegasnya.

Sebelumnya, sekolah dan dinas pendidikan kota/kabupaten sempat gelisah dengan dikeluarkannya himbauan yang lebih mirip aturan larangan bagi siswi hamil untuk ikut ujian.

Karena meski siswi hamil ini termasuk kategori korban, dengan adanya aturan tersebut jelas-jelas mereka akan dirugikan.

Selengkapnya baca di sini: lensaindonesia.com

Yang juga menarik dari novel ini adalah sejak mula tokoh Kirana enggan menyebutkan siapa cowok yang menghamilinya. Bahkan, kita sebagai pembaca pun diajak kucing-kucingan. Sepanjang membaca novel ini (sampai dengan terbongkarnya rahasia kelam itu) tak pelak saya pun ikut menebak-nebaknya. Sebenarnya mudah, karena si cowok yang dikenalkan sebagai "My Prince" adalah satu dari tiga cowok di geng Kirana yaitu Andra, Alvin, atau Banyu. Beberapa clue bertebaran di sana-sini, tapi saya patut mengacungkan jempol ketika Ken masih tetap membuat saya "buta" soal si cowok hingga ke tengahnya. Dari awal saya sudah menebak sih dari gaya berbicara si cowok lewat dialog atau lewat pesan-pesan SMS-nya. Tapi, satu bukti saja kurang, maka saya baru bisa menebak ketika telah lewat setengah ceritanya, hehehe...good job, Ken!

Tema persahabatan memang menjadi concern Ken, saya rasa. Hampir di seluruh novel-novelnya yang sudah saya baca, nuansa persahabatan itu begitu nyata. Termasuk di novel ini juga. Perubahan sikap teman-teman terdekat Kirana: Maria, Chacha, Andra, Alvin, dan Banyu, ketika rahasia kehamilan Kirana terbongkar juga dapat terasa dengan baik.

Masih cukup banyak ruang untuk pengembangan plot memang tapi saya pribadi sih sudah merasa cukup. Kegalauan hati seorang gadis SMA, pintar dan harapan keluarga, demi menghadapi masalah pelik hamil di luar nikah di usia yang untuk ukuran zaman sekarang, terlalu muda, cukup tergambarkan dengan baik. Dikarenakan PoV diambil dari sisi Kirana sehingga bagaimana gejolak si cowok yang berdasar ceritanya digambarkan bersedia bertanggung jawab itu menjadi tidak bisa terlihat. Saya yakin, dia juga terguncang. Mungkin akan makin seru jika Ken menggunakan dua sisi PoV, namun konsekuensinya yaaa...My Prince tak perlu lagi di'misterius'kan.

Atau, jika memungkinkan dibikin sekuel, bisa tuh digunakan PoV dari sisi si cowok. Hahaha, kalau pembaca selalu #ngarep ada kelanjutannya, ya?

Di dalam novel ini juga disinggung sebuah film berjudul Juno yang dibintangi Ellen Page, Michael Cera, dan Jennifer Garner yang box office beberapa tahun silam. Memang, menyimak novel ini menjadi tak bisa tidak untuk juga memabandingkannya dengan film itu. Dan, di sini, tokoh Kirana secara khusus mengungkapkan kondisinya dibandingkan Juno dalam film tersebut.


Lalu, saya pribadi pun merujuk ke film dengan judul hampir sama, tapi produksi Korea, Jenny Juno ini:


Sayang sekali, novel ini cukup banyak typo-nya. Tidak seperti biasanya, entah kenapa.
(hlm. 8) melap = mengelap
(hlm. 9) jenius = genius
(hlm. 18) istarahat = istirahat
(hlm. 21) kenyataanya = kenyataannya
(hlm. 23) Aston Kuchter = Ashton Kutcher
(hlm. 27) cheesecake - (hlm. 86) cheese cake = inkonsistensi
(hlm. 34) Dia ketua kelas dan paling sebal kalau ada anak yang masuk tanpa izin = sesuai konteks kalimat, mungkin seharusnya "yang tidak masuk tanpa izin" kali, ya?
(hlm. 40) mau?" Kataku akhirnya = K--tidak kapital
(hlm. 73) pilhan = pilihan
(hlm. 73) diesksekusi = dieksekusi
(hlm. 83) Zac Afron = Zac Efron
(hlm. 93, 111) mencelos = mencelus
(hlm. 94) Rihana = Rihanna -----> ada apa dengan novel ini, seluruh nama artis salah ejaan
(hlm. 111) Ini nggak mungkin = kurang tanda titik di akhir kalimat
(hlm. 189) kekeuh = keukeuh
(hlm. 237) berlajar = belajar
Satu hal lagi terkait penggunaan istilah berbasi-basi dan berbasa-basi yang berganti-ganti digunakan. Entah disengaja, entah tidak (pertama digunakan tokoh yang seusia, tapi juga kadang dipakai yang beda usia).

My rating:

Selamat membaca, kawan!

Tuesday, August 28, 2012

[Segera Terbit] Teenlit Dark Love by Ken Terate

Wahhhhhhh....senanggggggggggg. Akhirnya, satu lagi novel karya penulis teen lit favorit saya, Ken Terate, akan segera terbit. Sejak beberapa waktu silam dapat bocoran dari Mbak Vera dan Mbak Donna tentang novel ini, saya memang sudah menanti-nantikan terbitnya novel Niken ini. Alhamdulillah, berkah Idul Fitri....:)


Sinopsis

Usiaku 17 tahun, hampir 18. Kelas 12. Hampir lulus. Dan aku hamil...

Kirana yang cerdas, cantik, dan ceria melihat semua impiannya luruh di depan mata. Hari-harinya mulai dipenuhi rahasia dan kecemasan. Ia nggak mungkin mampu melahirkan dan merawat bayi. Ia juga nggak mungkin mampu menghadapi celaan dari orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, guru-gurunya, terutama kekecewaan orangtuanya. Saat ini Kirana berada di ambang jurang keputusasaan. Hidup seolah tidak menawarkan solusi apa pun padanya.

Bagaimana dengan cowok yang menghamilinya? Oh, cowok itu harus tetap sekolah. Dia nggak boleh terlibat. Dia cowok paling tampan dan paling cerdas di sekolah. Masa depannya begitu gilang gemilang. Kirana tidak ingin merusaknya. Siapakah dia? Kirana takkan pernah mau mengakuinya.
Selain itu, koleksi novel metropop saya juga akan bertambah tahun 2012 ini dengan terbitnya satu lagi novel metropop debutan karya Ayu Gendis berjudul Reuni.

Sinopsis

Old friends, just new problems...

Lima wanita—Sri, Ajeng, Nunik, Yunika, dan Leila—yang berteman di masa kecil mengadakan reuni di kampung halaman mereka. Setelah berpisah belasan tahun, ternyata semuanya tak lagi sama.

YUNIKA, hidupnya penuh kepalsuan. Bergelimang harta, tetapi tak bahagia. Suaminya tak pernah benar-benar mencintainya, bahkan sudah bukan rahasia lagi suaminya yang terkenal playboy memiliki WIL.

NURLEILA, mantan pemain-sinetron-tak-laku yang gila harta dan menghalalkan segala cara, sampai-sampai rela hanya menjadi wanita simpanan seorang anggota DPRD.

NUNIK, angka 3 sepertinya akrab dalam hidupnya. Ia janda yang telah 3 kali menikah dengan 3 pria dan memiliki 3 anak. Ia single mother.

AJENG, jomblowati sejati. Kepulangannya ke kampung halaman mempertemukannya kembali dengan mantan pacar, yang masih ia cintai dan mencintainya.

SRI, wanita yang lugu dan lurus. Tetapi, siapa yang menduga jalan hidupnya berakhir tragis?

Reuni membuka banyak rahasia kehidupan dan persahabatan mereka.
Bukan sekadar ajang untuk melepas kangen.
Mari kita sabar menanti. Dari data resmi di website-nya sih, kedua novel tersebut akan dirilis sekitar tanggal 6 September 2012. Namun demikian, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tanggal rilis Twivortiare-nya Ika Natassa saja ada perubahan beberapa kali. Jadi, mari menunggu. *duduk manis*

Sunday, August 5, 2012

[Resensi Novel Teen lit] Nada Cinta Marcella by Ken Terate

Cinta...cinta...cinta...


Judul: Nada Cinta Marcella (buku #4)
Pengarang: Ken Terate
Pewajah sampul: Yustisea Setyalim
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 hlm
Harga: Rp42.000
Rilis: Mei 2012
ISBN:978-979-22-8385-3

Marcella menghabiskan liburan sekolahnya di rumah Oma di Jakarta. Setahun tinggal di Yogyakarta, ternyata ia mulai kikuk dengan suasana ibukota. Bahkan, beberapa kawan karibnya pun mulai menyebutnya...aneh! Jelas, Marcella tak terima. Ia sering dijuluki si cantik, smart, fashionable, tapi....aneh? No way! Terus, kalau Marcella merasa jijik melihat Gresey yang easy aja digrepe-grepe cowoknya, masak itu dibilang aneh? Dia berprinsip! Dia bukan cewek gampangan. Ugh!

Dan, masa liburan pun hampir berakhir ketika Marcella akhirnya kembali ke Yogyakarta, plus setumpuk barang-barang baru yang dibelinya secara kalap berkat 'kartu-ajaib' pemberian Oma. Setelah kembali ke sekolah, dan ber 'Fun Friday' bareng Joy dan Wening, roda kehidupan kembali berputar pada keseharian Marcella. Namun, sepertinya roda hidupnya sedang macet di posisi terbawah. Krisis finansial menerjang keluarganya (jadwal nyalon musti disetop sementara, hufff), karier ke-OSIS-annya di ujung tanduk (PENSI hampir gagal, hikz), dan Devon belum juga menunjukkan tanda-tanda nembak, padahal ia sudah nggak sabar (plus deg-degan, secara Devon itu mantan-inceran-sahabat-dekatnya). Jadi, Marcella musti gimana donk?

Simak saja tingkah polah Cella dan Joy dan Wening dalam buku keempat dalam seri My Friends My Dreams karya Ken Terate ini.


Baiklah, saya tak perlu lagi ya... mengulang alasan mengapa saya SANGAT MENYUKAI karya-karya Ken Terate. Bahkan, untuk seri keempat ini, saya berikan bintang LIMA untuk novel ini. Fiuhhh. Keren deh, buku ini. Ho-ho-ho, tentu saja, penilaian ini sangat subjektif dari saya.

Ketika kali pertama membaca My Friends My Dreams years ago, saya tak pernah membayangkan Ken bakal membuatnya berseri. Oh, don't worry! Buat kamu yang nggak suka novel seri, serial ini tetap dapat dibaca terpisah. Masing-masing bukunya memiliki kisah sendiri yang memang akan lebih nikmat jika dibaca secara keseluruhan.




Nada Cinta Marcella memfokuskan cerita pada tokoh Marcella, yang dari buku-buku terdahulu saya kenal sebagai sosok Miss Popular, Princess of Fairytale, dan memang, orang-orang di sekelilingnya masih menganggapnya begitu. Bahkan, setelah setahun ia bersosialiasi, masih saja banyak yang merasa Cella adalah cewek-impor-Jakarta-yang-sok, padahal Cella sudah berusaha mati-matian untuk bersikap biasa-biasa saja. Oh yeah, dia masih suka nyalon, make barang branded, tapi memangnya itu salah? Asal semua dibiayain pakai duitnya sendiri (at least duit ortu-nya) nggak papa, kan? Tapi, ya begitulah, nasib seorang Marcella.

Ternyata di balik kecantikannya, Cella menyimpan banyak kisah. Yang disadarinya maupun tidak disadarinya. Terutama soal keluarganya dan Devon. Bayangkan saja, Cella yang ketika di Jakarta tinggal hura-hura saja tanpa peduli habis biaya berapa, di Yogya dia harus berpikir beberapa kali dulu hanya untuk beli selembar CosmoGirl terbaru. Sungguh ironi! Lalu, soal Devon. Mengapa tiba-tiba saja cowok itu menjadi demikian 'memikat' di matanya. Terang saja Cella gugup. Dia sudah pernah menolak Devon suatu waktu dulu. Dan, lagi, Devon itu pernah ditaksir setangah mati sama sobat karibnya, Joy. Bagaimana Cella sanggup menahan pesona Devon sekaligus mempertahankan pertemanannya dengan Joy?

Saya cekikikan sendiri ketika membaca keseluruhan buku ini. Alert! Jangan baca buku ini pas kamu jalan, hehehe, jaminan jadi tontonan publik! Sudahlah diksinya yang cerdas nan kocak, saya masih disuguhi adegan-adegan bernuansa putih abu-abu yang ngegemesin. Jadilah satu porsi gado-gado cerita khas remaja yang menyenangkan. Dan, bagi saya, tulisan Ken selalu jauh di atas rata-rata kebanyakan novel teen lit (tentu saja, dibanding novel teen lit yang sudah saya baca, dan saya sudah jarang baca teen lit, hehehe).

Saya suka pilihan konflik yang diberikan pada Cella. Meski sempat juga merasa gemas pada sikapnya yang maju-mundur soal Devon dan menjaga perasaan Joy, padahal dari imej seorang Cella, tak seharusnya ia menjadi peragu seperti itu. Tapiiii... saya bukan ahli psikologi. Pun, saya tak yakin bisa menyelami perasaan seorang Marcella. Ia bisa saja blakblakan tetapi tak menutup kemungkinan ia juga memiliki rahasia yang tak ingin dibaginya dengan orang lain.

Menurut kabar, ini adalah buku penutup dari seri ini. Secara pribadi, saya masih pengin menikmati kisah-kisah ketiga sahabat ini, apalagi mereka baru kelas dua, setidaknya selesaikan kisah mereka sampai lulus, hehehe... #ngarep. Tapi, yah, sebagai buku penutup (jika kabar itu benar), saya puas dengan Nada Cinta Marcella ini. Saya pun happy dengan ending yang diberikan Ken pada ketiga tokoh utama. Apakah semua tokohnya menuju pada kisah happy ending? Hmmm, baca sendiri yaaaa....

Intermezoooo.....laporan typo:
(hlm. 21) tingggi = tinggi
(hlm. 81) tantangannnya = tantangannya
(hlm. 161) dita-mpilkan = janggal pemenggalannya
(hlm. 170) Dan itu buat orangtua murid, bukan? NENEK murid! = Dan itu buat orangtua murid, kan? Bukan NENEK murid!
(hlm. 186) rumahnya oomnya = rumah oomnya
(hlm. 190) nama penyanyi Rossa, kan ya? Bukan Rosa?
(hlm. 205) Meksi = Meski
(hlm. 207) membuatku = membuat gue = konsistensi
(hlm. 219) memenangkan = menenangkan, kali yaaa...
(hlm. 230) bergensi = bergengsi
(hlm. 241) Gue pasti ikut remedial. = Gue pasti ikut remedial."
(hlm. 245) kamu = lo = konsistensi
(hlm. 255) tiba-tba = tiba-tiba
Satu hal yang saya sayangkan adalah penggunaan istilah "autis abis" di halaman 54. Kita sudah memerangi penggunaan istilah ini untuk bahan olok-olokan, kan? Bahkan, pernah sangat gencar di twitter beberapa waktu lalu.
Dan, saya pun punya banyak diksi-diksi favorit yang dipilihkan Ken, berikut di antaranya:
Kencan pertama itu --bila kamu bukan cewek murahan-- hanya terjadi sekali dalam sekian tahun (127)
Suatu saat nanti mereka pasti tahu bahwa gue dan Devon segera melintasi batas "teman" (132)
Seni adalah media paling murah supaya manusia tetap waras, bahkan dalam kondisi kritis (144)
Kesedihan akan berkurang bila dibagi dan kebahagiaan akan bertambah bila dibagi (206)
Dan, kebahagiaan saya kian lengkap nih, ketika di twitter beberapa waktu lalu, Mbak Vera dan Mbak Donna (editor di Gramedia) mengabarkan bahwa selepas Lebaran, novel terbaru Ken akan terbit, berjudul DARK LOVE. Sedikit bocorannya dari percakapan kami di twitter berikut ini. Jadi gak sabar!
@verakresna: @fiksimetropop fans Ken Terate: DARK LOVE, teenlit terbarunya Ken. Bagus bangettttt!!!!!!
@verakresna: ttg cewek kelas 3SMA, pintar, dan... hamil. Trancam g bs ikt UN. Ada unsur p'belajarannya jg. Bagus bgt buat remaja.
@cdonnaw: @fiksimetropop @verakresna Dark Love ya? Novel ini emang keren bgt. Permasalahan berat tp gk menye2.
@cdonnaw: @verakresna ken terate memang asyik. Selalu bisa buat cerita remaja yg asyik, lucu, segar. Konsisten lagi, nggak mandek.
Baiklah, semoga novel ini segera beredar selepas lebaran, jadi saya segera terbius kembali dengan tulisan Ken yang saya suka.

Selamat membaca, kawan!

Tuesday, August 18, 2009

Resensi Novel Teenlit: Ken Terate - 57 detik

Sekelumit kisah manis dari gempa



Judul: 57 detik
Pengarang: Ken Terate
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Genre: Friendship, Teenage Romance
Tebal: 232 halaman
Rilis: Juni 2009 (cetakan pertama)
Harga: Rp30.000 (Harga Toko)
ISBN: 978-97-22-4632-2

Hmm…saya pernah ikut tren dengan menggilai novel-novel yang oleh penerbit dikategorikan sebagai teenage-literature a.k.a teenlit ketika booming novel beginian sekitaran tahun 2004-2005. Urusan tema memang hampir seragam, mulai dari urusan cinta monyet, cinta segitiga, isu gencet-menggencet di sekolahan, hingga tema persahabatan biasa. Tidak banyak yang ditawarkan novel yang kebanyakan juga dibuat oleh remaja-remaja tanggung yang bahkan belum mempunyai “nama” di dunia perbukuan tanah air itu. Tidak heran jikalau kemudian banyak anak usia sekolahan “mendadak-terkenal” karena tulisannya diterbitkan dan laris terjual. Lalu, Gramedia memunculkan ide mengadakan lomba untuk menjaring bibit-bibit baru penulis Indonesia. Dari lomba itu terdapat sosok Ken Terate yang terpilih sebagai juara ketiga melalui novelnya yang berjudul My Friends My Dreams. Dari situlah saya mulai menyukai tulisan-tulisan Ken. Ia memiliki gaya yang khas dan lain daripada beberapa penulis teenlit yang kebetulan novelnya saya baca.

Kalau bisa dibilang saya termasuk orang yang cukup loyal. Begitu saya menyukai sesuatu, saya akan langgeng menyukainya. Termasuk dalam hal ini hasil tulisan seseorang. Tulisan Ken masuk dalam hitungan. Saya hampir selalu membaca buku-bukunya. Jadi, ketika Ken mengirimkan email kepada saya dan memberitahukan bahwa akan segera terbit novel terbarunya berjudul 57 detik (pertamanya doi bilang tuh nopel cuman dibikin versi e-book khusus handphone doank), maka kemudian saya menjadi tak sabar menantikan rilis dalam bentuk cetak-nya.

Yang paling saya suka dari gaya penulisan Ken adalah kemampuannya membuat kalimat-kalimat hiperbola yang menggelitik dan menggemaskan. Padahal ada yang bilang bahwa semua hal yang terlalu (hiper atau hipo) itu tidak bagus. Tetapi “kalimat terlalu” buatan Ken justru menjadi daya pikat tersendiri, bagi saya, dalam setiap bukunya. Hal lain yang saya suka dari Ken adalah konsistensinya dalam menulis. Saya perhatikan dari sejak novel pertamanya Ken selalu menggunakan kata ganti orang pertama (aku, gue) untuk keseluruhan karakter utama dalam novel-novelnya. Hal ini jelas membutuhkan ketelitian dan kecermatan tersendiri dalam menjaga agar tiap aktor yang diciptakan tidak melenceng dari sifat rekaannya. Satu karakter tidak boleh tertukar dengan karakter lain, atau jangan sampai antar-karakter saling bertubrukan alias timpang satu dengan yang lainnya.

57 detik mungkin menjadi novel pertama Ken yang lahir dari sebuah kisah nyata. Yah, itu cuman dugaan saya belaka. Kebenarannya saya kurang tahu. Dalam pengantar novelnya, Ken secara khusus mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yang berjasa “memberinya” beragam cerita yang membantunya membangun plot novel ini.

Teenlit dengan sampul yang didominasi warna kuning cerah ini mengambil latar kejadian gempa yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya beberapa waktu silam. Judulnya sendiri mengacu pada durasi gempa yang mengguncang kota gudeg tersebut. Di beberapa bagian Ken secara kreatif memberikan tambahan-tambahan tulisan semisal tips menghadapi gempa yang dikemas dalam bahasa komedi, serta beberapa headline dan foto asli suatu peristiwa yang ada kaitannya dengan gempa. Interesting. Ceritanya sendiri khas sekali untuk konsumsi usia anak sekolahan. Bumbu-bumbunya tak jauh dari gonjang-ganjing persahabatan, persaingan merebut posisi strategis di sekolahan (ketua cheerleader), dan lakon-lakon anak SMA masa kini, termasuk cemburu-cemburuan dalam urusan percintaan.

Harusnya memang ada air mata yang tumpah begitu membaca novel ini karena hampir separuh bagiannya diisi kejadian tragis mengenai situasi saat dan setelah gempa. Setting lokasi dan emosi para tokohnya pun coba dibangun oleh Ken untuk membangkitkan rasa haru, paling tidak menurut saya begitu, namun sayang saya hanya larut sebentar saja. Keharuannya kurang mampu membuat saya menitikkan air mata, padahal saya terkenal paling mudah lumer pada hal-hal sedih dalam sebuah tulisan. Hmm, entahlah, saya mengharapkan tragedi yang lebih sengsara lagi (tentu saja nggak untuk kehidupan nyata).

Selebihnya sih, Ken banget. Semuanya saya suka. As usual. Ken berhasil menjaga konsistensi tiga tokoh utamanya meski kesemuanya menggunakan kata ganti orang pertama. Yang juga saya suka dari Ken adalah dia tidak melulu menjejali pembaca dengan gula-gula cinta namun juga asem-manis-pahitnya sebuah persahabatan. Dan itulah yang membedakannya dengan kebanyakan pengarang teenlit lainnya. Maju terus Ken. Semoga tetap produktif.

Selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)

JOGJA, KORAN REMAJA--Aji, Ayomi, dan Nisa adalah
remaja "biasa", kayak kita-kita gitu deh. Mereka mengaku kadang bosan dengan hari-hari mereka. Sekali-sekali mereka pengin juga meng-alami kejadian seru. Tapi tentu saja bukan seru yang menyengsarakan seperti GEMPA. Namun, itulah yang terjadi! Gempa itu tiba-tiba datang dan mengacau-kan semuanya. Cuma 57 detik, tapi akibatnya begitu mengerikan. Petualangan luar biasa terpaksa mereka jalani. Apa aja cerita mereka? Bagaimana mereka bertahan? Apa ada kejadian lucu dalam tragedi ini? Berikut wawancara dengan mereka.

Tanya: Waktu gempa rasanya seperti apa?
Aji: Seperti ditabrak buldoser.
Ayomi: Seperti naik rollercoaster... tanpa sabuk pengaman.
Nisa: (lirih) seperti sulap.
Tanya: Apa yang membuat kamu paling sedih?
Aji: Bencana itu rasanya nggak adil, sepertinya selalu menimpa orang yang sudah susah.
Ayomi: Aku nggak bisa menari lagi, padahal menari adalah hidupku.
Nisa: (lirih juga) Sahabatku Aisyah... dia... (tidak berhasil melanjutkan)
Tanya: Apa hikmah yang bisa kamu dapatkan?
Aji: Akhirnya gue tau apa yang gue inginkan, setelah gue capek memenuhi harapan orang lain.
Ayomi: Dapet pacar baru.
Nisa: Aku sadar aku sangat sayang pada keluargaku, meski mereka sama sekali nggak keren.

Wow! Petualangan mereka bener-bener seru dan sangat menarik untuk disimak. Misalnya, Nisa yang harus bertahan di puing-puing tanpa makanan lebih dari sehari-semalam, lalu Aji yang jadi relawan dadakan, dan Ayomi yang merasa dunianya hilang dalam sekejap gara-gara isu tsunami fiktif.

Oh iya, ada cerita-cerita lucu dan romantisnya juga lho. Dapatkan kisah lengkap mereka di buku ini, sekarang juga!