Showing posts with label Metropop. Show all posts
Showing posts with label Metropop. Show all posts

Thursday, December 27, 2018

[Review Novel Metropop] Purple Prose by Suarcani

First line:
KEKASIH idaman untuk siang yang panas adalah seporsi es campur dengan topping leleran susu kental manis.
---hlm.5, Prolog

Tujuh tahun lalu, kematian Reza membuat Galih lari ke Jakarta. Namun, penyesalan tidak mudah dienyahkan begitu saja. Ketika kesempatan untuk kembali ke Bali datang lewat promosi karier, Galih mantap untuk pindah. Ia harus mencari Roy dan menyelesaikan segala hal yang tersisa di antara mereka.

Roya begitu terkurung dalam perasaan bersalah. Kanaya, adiknya, menderita seumur hidup karena kekonyolannya tujuh tahun lalu. Roya merasa tidak memiliki hak untuk berbahagia dan menghukum dirinya secara berlebihan. Kehadiran Galih mengajarkan Roya cara memaafkan diri sendiri.

Saat karier Galih makin mantap dan Roya mulai mengendalikan haknya untuk berbahagia, karma ternyata masih menunggu mereka di ujung jalan.

Judul: Purple Prose
Pengarang: Suarcani
Penyunting: Midya N. Santi
Penyelaras Aksara: Mery Riansyah
Perancang Sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 304 hlm
Rilis: 29 Oktober 2018
My rating: 2,5 out of 5 star

Oke, ini agaknya saya mesti berjeda dulu dari tulisan Suarcani, ya. Setelah tahun lalu menamatkan "Rule of Thirds" dengan kesan yang kurang, tahun ini pun saya belum bisa menikmati karya tulisnya yang lain: "Purple Prose".

Awalnya saya membaca ini untuk beralih sebentar dari "Kelly on the Move"-nya Seplia yang belum membuat saya terpaku sehingga saya pending dulu. "Purple Prose" yang awalnya cukup menjanjikan dan enak sekali alurnya, berubah drastis ketika eksekusi konflik dan menjelang ending. Saya ngos-ngosan ngikutinnya dan sempat mau DNF pas adegan mulai kayak sinetron.

Well, Suarcani ini kayak Wiwien Wintarto yang mempertahankan setting lokasi-nya di daerah masing-masing. Wiwien di sekitaran Jawa Tengah-Yogyakarta, sedangkan Suarcani di Bali (setidaknya dari dua buku yang sudah saya baca, ya). Meski tidak sedetail "Rule of Thirds" dalam menjelajahi Bali, "Purple Prose" juga kental nuansa Bali-nya, terutama dari segi budaya. Cukup banyak nuansa Bali yang diselipkan pengarang untuk memberi wawasan bagi pembaca (setidaknya buat saya). Misalnya tujuan dan proses pembuatan canang, persembahyangan, selamatan menempati rumah atau sebelum mengadakan kegiatan, dan lain sebagainya.

gambar: www.balimediainfo.com
"Purple Prose" tampak seperti drama psikologi yang mengambil penekanan pada trauma masa lalu. Tokoh sentralnya adalah Galih, seorang eksekutif muda yang baru saja dipromosikan menjadi kepala cabang/divisi marketing (?) sebuah provider telekomunikasi di area Bali, dan Roya, salah satu staf administrasi sekaligus sekretaris--tak langsung, yang menjadi jalur menyibak konflik dan rahasia masa lalu keduanya. Di luar itu, ada tokoh penting seperti Roy (teman lama Galih, jangan sampai ketuker ya, ada Roya--ada Roy), Kanaya (adik Roya), Pak Zul (kepala wilayah? entahlah, lupa saya, pokoknya atasan Galih di Bali), Reza (teman lama Galih) dan beberapa lagi yang lain.

Silakan baca blurb-nya, begitulah inti dari "Purple Prose" ini. Galih yang dulunya pernah tinggal di Bali, oleh karena suatu sebab harus pergi dan menetap di Jakarta. Namun kemudian, Galih mendapat promosi dari kantornya dan membuatnya kembali ke Bali. Segala konflik muncul dari sejak kepindahannya ini.

gambar: www.hellosehat.com
Penyesalan, karma, trauma masa lalu, dan upaya penyelesaian yang tertunda menjadi premis utama yang diolah pengarang demi menghidupkan jalinan kisah ini. Tak ketinggalan unsur romansa dituangkan di antaranya untuk menambah kerunyamannya. Predictable memang, tapi lumayan bisa dinikmati lah. Terutama adegan demi adegan menuju eksekusinya. Apakah kisah romansanya cenderung instalove? Saya agak miss di sini. Jawaban: antara iya dan tidak. Jujur saja, saya merasa tak mendapati waktu yang cukup untuk Galih jatuh cinta meskipun terdapat penjelasan mengapa dia bisa seketika itu jatuh cinta, termasuk penjelasan soal "tampang jelek" yang saya pun masih gamang, ini pengarangnya mau sarkasme atau memang pada dasarnya beropini demikian. Yang bertampang jelek, no offense ya, hahaha:

hal: Epilog
Seperti yang saya bilang, kira-kira sampai setengah cerita saya enjoy banget menikmati jalinan kisah Galih yang jago ngocol beradaptasi di tempat kerja baru, lalu bertemu Roya yang serbakikuk. Namun, niatan memberikan 4 bintang buat novel ini langsung runtuh ketika sampai pada adegan drama Galih yang sedang dirawat di rumah sakit. Minat saya drop ke titik terendah.

Oke, saya nggak bisa ngasih penjelasan tanpa sedikit spoiler, jadi bagian ini saya sensor, sekiranya kamu nggak papa sama sedikit spoiler, silakan baca:
SPOILER ALERT!!!:
Saya kurang bisa mendapat gambaran pas untuk karakter Kanaya yang disebutkan memiliki trauma (sampai tidak mau bergaul, tapi masih sekolah--dan katanya selalu menyendiri di sekolah?). Saya bukan Psikolog sih, jadi nggak paham juga bagaimana penggambaran yang tepat untuk Kanaya, tapi kesan yang saya dapat mestinya dia ini rapuh, takut bersosialisasi, dan meledak-ledak. Meledak-ledaknya sih ada, tapi yang lainnya saya tak mendapati kesan itu. Malah kayaknya dia kuat banget. Puncaknya, Kanaya cukup pintar untuk mengelabui keluarganya dengan mengendarai motor sendiri, pergi ke rumah sakit (dia tahu di mana rumah sakitnya hanya dari mendengar namanya oleh Roya, tanpa meng-Google dulu atau bagaimana, dan novel ini pakai pengganti orang ketiga, which is mestinya lebih bisa mengeksplorasi seluruh karakternya--tanpa menjadi tuhan juga), bisa tahu Galih dirawat di mana, bisa masuk langsung ke ruangan tempat Galih dirawat tanpa izin atau penjelasan itu jam bezuk apa bukan, dan membuat kegaduhan tanpa ada sekuriti atau pihak rumah sakit yang notice? Inilah level drama sinetron paling nggak masuk buat saya. Bahkan, saya nggak suka sama dialog-dialognya Kanaya.



Hal lain yang saya juga kurang nyaman adalah adegannya cukup permisif sama kekerasan. Okelah, ini untuk penggambaran karma dan sebagainya, tapi masak iya boleh-boleh saja memukul, menendang, dan menampar? Bahkan, ada di satu adegan semua orang mukulin, ya bapak, ya ibu, ya anak. Dan, udah, gitu aja. Menurut saya ada adegan lain yang lebih bisa digunakan untuk penggambaran pembalasan karmanya, jika memang itu maksud dari si pengarang sih. Boleh lah ada sedikit unsur kekerasan, tapi minimal ada pihak netralnya, ibunya kek, atau bapaknya gitu, sekadar sebagai pengingat bahwa kekerasan itu nggak bagus dan bukan jalan penyelesaian yang bagus juga. Well, itu menurut saya sih, ya.

Overall, saya hanya menikmati setengah kisah awalnya sedangkan langsung hilang minat di paruh akhir bagiannya. Buat kamu yang lagi butuh membaca kisah tentang trauma masa lalu, bagaimana berdamai dengannya, ditambah sedikit racikan asmara, "Purple Prose" bisa kamu pilih untuk bacaan berikutnya. But for me, saya cukupkan baca karya tulis Suarcani di sini dulu. Nanti kalau ada tulisannya yang lain yang direkomendasikan, akan coba lagi.

Selamat membaca, tweemans.

PS: Purple Prose adalah...


End line:
"Hingga sosok Kanaya semakin mengecil, mengecil, mengecil, dan akirnya hillang.
---hlm.297, Epilog

Wednesday, September 26, 2018

[Resensi Novel Metropop] Perkara Bulu Mata by Nina Addison

First line:
Vira.
Aku benci rumah sakit.
---hlm.5, Ch.1 - Titik Lebih

Jojo sedang seru menceritakan perjuangannya menjadi branch manager sementara Vira tekun mendengarkan, memandangi wajah cowok yang telah jadi sahabatnya selama belasan tahun itu. Lalu… entah di detik keberapa, sesuatu bergeser. Klik. Dunia sekeliling Vira melambat. Pandangannya terkunci pada satu fokus: mata Jojo. Ah, bulu mata itu!

Mendadak jantung Vira berdegup kencang—sesuatu yang selama ini tidak pernah terjadi saat ia berada di dekat Jojo. “Jojo kan selalu terbirit-birit kabur ke Planet Mars setiap tahu ada cewek deketin dia, Vir.” Ucapan Lilian, sahabat Vira dan Jojo, langsung terngiang. Damn, batin Vira. Masalahnya, ia tidak yakin dirinya akan jadi pengecualian dari reaksi absurd cowok tersebut. Belum lagi nasib persahabatan mereka jika perasaannya terendus Jojo. Lalu jika mereka pacaran dan… putus? Apa yang harus Vira lakukan? Ah, tapi bulu mata itu... Damn.

Judul: Perkara Bulu Mata
Pengarang: Nina Addison
Penyunting: Harriska Adiati & Neinilam Gita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 296 hlm
Rilis: 17 September 2018
My rating: 4 out of 5 star
Silakan baca nukilan novel Perkara Bulu Mata yang diunggah ke Wattpad: http://wattpad.com/perkarabulumata


Sejak Morning Brew, saya memang sudah "menandai" Nina Addison sebagai salah satu pengarang yang buku-bukunya bakal saya usahakan untuk dibaca. Adalah cerpen "Perkara Bulu Mata" di kumpulan cerita pendek metropop bertajuk Autumn Once More menjadi salah satu dari cerpen yang sangat saya minati dan beberapa kali saya usulkan untuk bisa dikembangkan menjadi novel. Dan betapa bahagianya saya ketika Nina benar-benar mewujudkannya, hingga saya demikian tak sabar untuk segera merampungkan-baca novelnya. Begitu rilis, saya langsung mengunduh Perkara Bulu Mata di Apps Gramedia Digital.

Syukurlah, versi novel Perkara Bulu Mata cukup memenuhi ekspektasi saya. Well, jangan tanya saya, apa perbedaan/persamaan-nya dengan versi cerpennya, ya. Saya sudah lupa, hahaha. Yang terang, dua-duanya masih menyoal tentang bulu mata. Dari sanalah pesona seseorang menyetrum dan mewujud menjadi percikan api cinta yang baru dirasa oleh mereka yang telah bersahabat sangat lama.

Kelar baca Thousand Dreams-nya Dian Mariani yang mengambil tema sahabat jadi cinta, Perkara Bulu Mata pun seide, meskipun tentu saja berbeda bumbu konflik, subplot, dan eksekusinya. Sejak bab awal, Nina menyajikan kisah ini dengan dentuman-dentuman yang mengentak hingga pembaca--saya--terus terpaku pada adegan demi adegannya dan nggak rela menaruhnya barang sejenak. Unputdownable lah istilahnya, ya.

Nina juga punya ecenderungan suka "menggantung" atau menyembunyikan sebentar fakta penyambung adegan berikutnya jadi setiap bab kita dibikin penasaran what will happen next? Dan, di sinilah saya sering gagal menebak adegan macam apa lagi yang bakal dibikin si pengarang? Oke secara garis besar tebakan saya benar: siapa suka sama siapa; tapi detail-detail kecil menuju konklusi akhir itulah yang dibikin cukup menarik oleh Nina (yang saya kerap gagal menebak). Sungguh sayang jika kita melewatkan setiap rangkaian kalimatnya.

Ehmm, ya nggak juga, sih, hahaha. Ada beberapa bagian yang saya skimming dan nggak saya pedulikan, terutama bagian-bagian yang dikursif---kilas balik atau sekadar kata hati yang disuarakan. Pun, terkadang masih ada yang kelewat nggak dikursif dan itu bikin jengkel. Serius, penempatan flashback atau curcol dalam hati secara linier pada narasi itu, buat saya, mengganggu---subjektif.



Terus terang, setelah Resign!-nya Almira Bastari, Perkara Bulu Mata menjadi novel metropop paket lengkap yang renyah banget buat dikunyah. Secara pakem metropop, nuansa office romance-nya sangat terasa. Saya bisa larut dalam dunia kerja para tokohnya. Oiya, Perkara Bulu Mata berpusat pada empat sahabat: Vira, Jojo, Albert, dan Lilian. Nantinya ada beberapa nama yang menyumbang peran cukup penting untuk merajut plot: JC, Daniel, Bo, Zed, Tom, dan beberapa yang lain.

Secara emosi, saya juga dibuat campur aduk sama novel ini. Haru, kocak, sebal, sedih, dan kaget bisa muncul silih berganti. Inti ceritanya simpel: sahabat yang bingung ketika dilanda bara asmara, apakah harus mengungkapkannya dengan risiko merusak persahabatan atau menguburnya diam-diam dengan risiko menyiksa diri sendiri. Bukan tema baru memang, tapi cara mengemas Nina berhasil membuat tema usang ini cukup gurih buat dicemilin sedikit demi sedikit.

Paling saya cuman agak kurang excited pada pilihan ending untuk seluruh tokoh utamanya. Kok jadi di situ-situ saja? Yah, meskipun Nina sudah memberikan segepok alasan mengapa bisa terjadi seperti itu, saya masih tetap mengharapkan ada puncak konflik yang lumayan drama biar ada kejutan superdahsyat gitu---ya nggak sampai sinetron juga sih.

Overall, Perkara Bulu Mata memuaskan dahaga saya akan novel metropop yang charming, lincah, dan kocak---paket lengkap lah kalau bisa saya bilang, meskipun pada beberapa bagian saya nggak suka cara menuturkan flashback/kata hati dan kurangnya ledakan konflik untuk menciptakan drama yang emosional. Please, sempatkan baca novel ini kalau kamu nggak alergi sama tema sahabat jadi cinta dan kebetulan sedang mencari bacaan ringan yang menghibur untuk rileks. Terus produktif ya, Nina. Ditunggu novel metropop selanjutnya.

Selamat membaca, tweemans.

End line:
"Welcome to the club, Li," bisiknya dengan senyum penuh arti.
---hlm.290, Epilog

Wednesday, September 19, 2018

[Review Novel Metropop] Beautiful Pain by Nathalia Theodora

First line:
DORONGAN itu begitu keras, sampai Keira terhuyung dan menabrak dinding di belakangnya.
---hlm.6, Prolog

“Silakan saja menyebut Keira perempuan serakah karena mencintai Landon dan Damon, sama besarnya. Dia tidak peduli meski Landon sakit dan Damon suka memukulinya. Masa lalu yang dimilikinya membuat Keira bertekad untuk mempertahankan mereka berdua.

Berulang kali Damon meminta Keira untuk memilih dan jelas sekali lelaki itu tidak suka menjadi pihak yang kalah. Dia akan melakukan segala cara untuk membuat Keira meninggalkan Landon. Akhirnya Keira tidak mampu menolak dan hanya bisa bernegosiasi agar Damon memberinya waktu satu bulan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Landon.

Padahal, kondisi Landon tidak kunjung membaik. Dengan detik-detik yang semakin mendekati batas waktu pemberian Damon, Keira hanya berharap semua yang dia lakukan akan berhasil.

Semoga.

Judul: Beautiful Pain
Pengarang: Nathalia Theodora
Penyunting: Donna Widjajanto
Penyelaras Aksara: Nila Isnaini
Desainer Sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 147 hlm
My rating: 2,5 out of 5 star

rating di www.goodreads.com per 18/09/2018 at 02:38 AM
Sejak menerima fisik buku yang dikirim langsung oleh Nath dan mengetahui jumlah halamannya kurang dari bilangan angka dua ratus, saya memang langsung khawatir pada Beautiful Pain ini. Well, dengan jumlah halaman segitu konflik macam apa yang bisa disajikan dengan tepat, pengembangan karakter yang pas, dan eksekusi akhir yang oke? Hasilnya: kekhawatiran saya cukup beralasan.

Sebenarnya premis Beautiful Pain cukup menjanjikan, meskipun nggak menawarkan sesuatu yang baru: mental disorder. Saya sudah pernah membaca (dan menonton) beberapa buku (dan film) tentang gangguan kepribadian ini. Baik bermuatan thriller maupun romance. Dan, memang seharusnya banyak hal yang bisa diuraikan dari satu titik itu saja. Belum lagi jika ditambahkan subplot lain untuk lebih memperkaya cerita. Sayangnya, Beautiful Pain tidak melakukannya, baik menggali lebih dalam maupun menambahkan subplot lain.

gif dari sini: https://wifflegif.com/
Beautiful Pain merupakan karya kesekian (ke-14 di database goodreads.com) dari Nathalia Theodora yang menjadi novel pertamanya yang diterbikan pada lini Metropop di Gramedia Pustaka Utama (sepanjang yang saya tahu). Dari tahun ke tahun, Metropop mulai menjangkau segala kemungkinan menghadirkan kisah romansa urban yang nggak melulu ngomongin cinta doang. Domestic violence, kesetaraan gender, sampai isu minoritas hadir di lini favorit saya ini. Beautiful Pain menjadi salah satu yang bisa masuk kategori domestic violence dalam hubungan pacaran.

Beautiful Pain menceritakan tentang Keira, sosok eksekutif muda, yang jatuh cinta pada dua laki-laki: Landon sang chef (?) sekaligus pemilik beberapa cabang restoran yang superlembut dan rapuh; dan Damon sang pelukis aliran dark (surealis?) yang superkasar dan suka kekerasan. Sejatinya Keira sudah akan meninggalkan salah satunya, demi kebaikan bersama, tapi tekadnya untuk menyelamatkan orang tersayang membuatnya maju-mundur (nggak pake cantik-cantik) hingga dia terus saja terjebak dalam hubungan nggak sehat yang berkepanjangan.

gambar dari sini: http://thesilentchild.tumblr.com/
Beberapa reviewer/booktuber akan mengategorikan kisah ini sebagai toxic relationship. Sudah tahu pacarmu bermasalah, masih juga kamu pacaran sama dia. Begitulah kira-kira maknanya, CMIIW. Saya juga gemas sama Keira sepanjang membaca novel ini. Sudah tahu Damon suka main tangan, mengapa masih setia?

Well, sejatinya pertanyaannya nggak semudah itu, sih. Ada plot twist yang superdahsyat di akhir. Meskipun nggak se-grande yang seharusnya bisa dibikin, twist-nya lumayan. Kenapa cuman jadi lumayan? Salahkan jumlah halaman yang minimalis itu. Entah dari awal Nath kurang menggali lebih dalam atau digunting kurang optimal sewaktu penyuntingan. Isu mental disorder yang terkoneksi langsung dengan domestic violence agak kurang believable buat saya. Saya nggak bisa cerita tanpa spoiler, jadi saya cuman bilang: segala situasinya kayak kurang meyakinkan, terutama karena ini digunakan sebagai unsur kejutan ketika twist dibongkar, saya jadi bertanya-tanya bagaimana sih reaksi orang-orang di sekitar Keira-Damon menyikapi kondisi ini, SELAMA INI? Oke, ada kok dijelaskan sebagiannya, tapi... entahlah, balik ke kesan awal saya, nggak believable.

gambar dari sini: http://www.therakyatpost.com
Kesampingkan fakta premis yang kurang digali, bagaimana dengan unsur Metropop-nya? Ternyata di departemen ini juga setali tiga uang. Unsur office romance yang lekat dengan novel-novel lini Metropop hadir bak tempelan Post-it ka-we. Latar belakang profesi Keira di sebuah perusahaan manufaktur/distributor (?) hadir selintas-sekejap saja. Ada sih diceritakan soal evaluasi vendor, prosedur pemilihan vendor baru, atau mekanisme pembelian produk baru, tapi ya itu... melalui cerita. Bukan narasi yang menggambarkan dengan detail prosesnya. Jadi, nggak nambah wawasan juga, paling tidak buat saya. Terus Keira ini bukan top management kan ya, kok seenak-enaknya saja gitu dia keluar-keluar kantor bukan untuk urusan kerjaan: ke studio lukis Damon lah, rumah Landon lah, ke restoran Landon, atau pas galau dengar kabar Landon menghilang---langsung cus saja dari kantor, enggak minta izin atasan atau notice ke HRD, titip absen ke temen saja enggak, hahaha.

Nah, kalau kamu lagi butuh bacaan Metropop yang kompleks, bisa mencoba membaca Beautiful Pain ini. Meskipun menurut saya agak kurang sukses dalam mengeksekusi isu utamanya tenang mental disorder, novel ini tetap bisa memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga hubungan dalam keluarga /persahabatan dan mewaspadai buruknya dampak toxic relationship. Selamat atas kelahiran novel Metropop pertamanya, Nath, semoga terus produtif, ya. Ditunggu kisah-kisah Metropop-nya yang lain.

Have a nice reading, tweemans.


End line:
"Dan sambil berpegangan tangan, mereka pun meninggalkan taman.
---hlm.147, Epilog

Monday, October 2, 2017

[Fun Games] Pengumuman Pemenang MEGA-GIVEAWAY Say No To Me Say No To Love

Fun games dalam rangkaian MEGA-GIVEAWAY SayNoToLoveSayNoToMe, untuk menyambut kelahiran novel metropop terbaru karya Mas Wiwien Wintarto terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) berjudul Say No To Me (sudah beredar di toko buku, silakan dibeli dan dibaca, yaaaa). Jadi, seluruh rangkaian giveaway ini terselenggara atas kerja sama @fiksimetropop dengan GPU dan Wiwien Wintarto.


Oke, untuk fun games-nya sendiri, gimana? Gampang, kan? Malah gampang banget kayaknya, sih. Dari entri yang masuk sebagian besar benar semua, kok. Penasaran apa jawaban fun games-nya? Ini dia:


Ada 13 entri yang masuk, 5 di antaranya kurang lengkap dan 8 entri lainnya menjawab sempurna. Yang menjawab kurang lengkap:
1. Diah Pujiawati
2. Artha maula amalia
3. Bintang Sirait
4. Lina Ernawati
5. Desita Wahyuningtias

Sedangkan yang menjawab sempurna adalah:
6. Junarti
7. Fitri
8. Gabriella Halim
9. Alyani Shabrina
10. Nola Andriyani
11. Elisabeth Beatrice
12. Fetri Tjang
13. Dedik Ariyanto

Awalnya sempat yakin bakal enggak ada yang bisa menjawab sempurna, tapi... you guys are awesome! Keren, ih. Hahaha, atau sayanya yang kelewat jemawa sok canggih bikin soal, ya. Muhahaha. Well, jadinya saya mesti tetap minta bantuan aplikasi pengundi untuk membantu saya menentukan dua orang yang beruntung mendapatkan masing-masing paket duo kece novel Say No To Love dan Say No To Me karya Wiwien Wintarto terbitan GPU. Dan, yang beruntung adalah...



Selamat untuk Elisabeth Beatrice dan Nola Andriyani. Paket hadiah akan dikirim langsung oleh Tim dari GPU ke alamat sesuai dengan yang kalian cantumkan ketika mengirimkan jawaban fun games-nya, ya.

Oke, dengan terpilihnya dua pemenang dari blog ini, maka seluruh rangkaian MEGA-GIVEAWAY #GASayNoTo #SayNoToLove #SayNoToMe berakhir pula. Terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, terutama dari GPU (Didiet P) dan Mas Wiwien Wintarto. Semoga yang menang di semua giveaway segera membaca bukunya dan ditunggu kesan-kesannya setelah membaca, ya. Semoga duo kecenya Mas Wiwien bisa diterima pembaca fiksimetropop di mana pun berada. Aamiin.

Sampai jumpa di giveaway-giveaway seru lainnya.

Rekap seluruh pemenang giveaway:
1. @beingacid (Instagram)
2. @rohaenah1 (Instagram)
3. @sapta_resita (Twitter)
4. @dutchesslolaa (Twitter)
5. @halidahanun (Twitter)
6. @udonkuma (Twitter)
7. Elisabeth Beatrice (Blog)
8. Nola Andriyani (Blog).

Wednesday, September 20, 2017

[Fun Games] MEGA-GIVEAWAY Say No To Me Say No To Love

Well, hello, tweemans. Apa kabar? Kayaknya makin sering main medsos jadi lupa punya blog, ya. Duh, jarang banget ini update-nya. Semoga ke depan, blog ini kembali bisa kejar tayang secara rutin, ya. Aaamiin.


Nah, sudah lama juga kita nggak fun games di sini. Yuk, ikutan fun games seru lagi. Kali ini masih dalam rangkaian MEGA-GIVEAWAY SayNoToLoveSayNoToMe, dalam rangka menyambut kelahiran novel metropop terbaru karya Mas Wiwien Wintarto terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) berjudul Say No To Me (sudah beredar di toko buku, silakan dibeli dan dibaca, yaaaa). Jadi, seluruh rangkaian giveaway ini terselenggara atas kerja sama @fiksimetropop dengan GPU dan Wiwien Wintarto.

Oke, fun games kali ini simpel banget, kok. Begini cara ikutannya:
1. Wajib follow blog ini, ya.
2. Wajib nge-share info fun games ini di Twitter, Facebook, atau Instagram, dan salin-tempel tautan (link) share kamu tadi di kolom komentar, ya.
3. Jawab pertanyaan di bawah ini melalui google form yang disediakan:
Silakan susun ulang 20 judul novel metropop yang diacak di bawah ini:




4. Fun games berlangsung sampai dengan hari Senin tanggal 25 September 2017 pukul 23.59 WIB.
5. Dua orang terpilih, masing-masing akan mendapatkan paket novel Say No To Love (kover baru) dan Say No To Me.
6. Good luck, ya.

Jika ada yang masih ingin ditanyakan, silakan di kolom komentar, ya.  

Monday, January 23, 2017

[Resensi Novel Metropop] Rule of Thirds by Suarcani

#5_2017
First line:
Mama pernah bilang bahwa pagi yang indah berawal dari dapur yang  nyaman.
---hlm.7, Chapter: Flare

Apa lagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?

Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis.

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan.

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.

Judul: Rule of Thirds
Pengarang: Suarcani
Editor: Midya N. Santi
Proofreader: Mery Riansyah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 hlm
Rilis: Januari 2017
Harga: Rp68.000 (promo diskon 50% di @hematbuku)
ISBN: 9786020334752
My rating: 2,5 out of 5 star

Saya hepi banget pas di pengujung Desember 2016 kemarin, Gramedia mempromosikan empat #novelMetropop baru yang akan dirilis di bulan Januari 2017. Ada Yes I Do But Not With You (Shandy Tan), Rule of Thirds (Suarcani), Lost & Found (Fanny Hartanti), dan Some Kind of Wonderful (Winna Efendi). Akhirnya, banyak lagi yang meramaikan rak buku #novelMetropop.

Sejauh ini saya sudah membaca dua di antara empat novel itu, Yes I Do dan Rule of Thirds ini. Agak kecewa, karena dua novel itu ternyata gagal mengimpresi saya. Semoga saja dua sisanya yang lain bisa membayar kekecewaan saya. Terlebih nama Fanny Hartanti dan Winna Efendi adalah dua nama yang cukup familier untuk selera bacaan saya.

Sejujurnya, Rule of Thirds berhasil menghanyutkan saya hingga seratusan halaman awal. Bab pertama menjanjikan karakter Ladys yang memukau tapi membumi dan Dias yang dingin tapi lembut. Ditambah antagonis pujaan: playboy tampan yang pintar merayu. Gaya tulisan Suarcani juga oke. Pada beberapa bagian tampil cukup efisien dan witty, sementara pada bagian lain berhasil menyampaikan hal-hal teknis seputar fotografi menjadi narasi yang luwes.

Rule of Thirds merupakan salah satu istilah dalam dunia fotografi. Dan, fotografi memang menjadi latar belakang keseluruhan kisah Ladys dan Dias ini. Buat yang suka fotografi, novel ini bisa jadi sarana rekreasi. Sedangkan untuk yang lain, novel ini bisa memberi pengetahuan baru seputar dunia fotografi. Beberapa bagian sangat teknis, beberapa bagian lainnya lebih emosional.

sumber: bridestory.com, foto pre-wedding Olla Ramlan-Aufar oleh Diera Bachir yang juga disebut di dalam Rule of Thirds

Sayangnya, selepas itu tingkat kenikmatan saya menurun hingga sampai titik jenuh. Konfliknya yang mestinya bisa menjadi gong yang dramatis malah jatuh ke tingkat drama-sinetron. Sudah begitu, ada belenggu cinta segi lima di sini. Meh! Cinta segi tiga saja sudah bikin eneg, apalagi segi lima, ya? Huhuhu. Enough... pleaseee... huhuhu...

Padahal (juga), subkonfliknya banyak lho. Ada dari sisi keluarga Ladys (sinetron), ada dari sisi keluarga Dias (sinetron lagi), ada dari sisi keluarga Esa (lebih sinetron lagi), dan subkonflik haha-hihi dari rekan kerja Ladys dan Dias. Subkonflik yang kelewat padat itu nyatanya malah membuat Rule of Thirds gagal melarutkan saya dalam emosi yang seharusnya. Pada salah satu chapter di dua per tiga bagian novel saya hampir saja menyerah dan langsung melongok halaman belakang untuk tahu ending-nya. Namun, saya menguatkan diri (meski tetap men-skip beberapa bagian) sampai saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya berhasil menuntaskan-baca novel ini. Yay me!

Kelemahan utama dari Rule of Thirds, menurut saya, adalah karakter yang tak begitu kuat. Seratusan halaman pertama yang begitu menjanjikan tidak dijaga dengan cukup baik hingga karakter para tokohnya "berguguran" satu demi satu. Mungkin, secara tak sadar, saya adalah pemuja novel bertipe character driven story, jadi begitu para tokoh pada sebuah novel berhasil menjerat saya maka saya dengan bahagia membaca lembar demi lembar halamannya. Dan, itu tak saya dapat dari novel ini.

Menyoal setting lokasi. Well, kebetulan banget, ya, saya sedang berencana pengin ke Bali, eh nemu novel ber-setting Bali. Kami berjodoh, hahaha! Saya sudah dua kali begini. Dulu sebelum ke Singapura, saya pun menemukan satu novel ber-setting Singapura, dua minggu sebelum saya terbang. Sayang seribu sayang, kali ini setting Bali-nya hanya disebut saja, tidak menjadi latar budaya yang memperkuat jalannya cerita. Yang jadi pertanyaan, dari banyaknya tokoh adakah yang asli Bali? Mestinya ada, ya. Soalnya ada yang dipanggil Bli oleh kedua tokoh utama. Sayangnya (lagi), nuansa Bali tidak tampak dari interaksi antartokohnya. Secuil kosakata bahasa Bali pun jarang digunakan (atau malah enggak ada, ya?).

sumber: Flickr spintheday, suasana Pasar Badung, salah satu setting lokasi di Rule of Thirds
Dari segi teknis cetakan, masih cukup banyak typo yang bertebaran di sana sini, terutama kata "menggangguk" yang semestinya tertulis "menganguk". Itu hampir di seluruh bagian novel yang ada kata mengangguk-nya. :)

Overall, 'lil bit disappointment for me. Too much drama. I looove drama. Tapi, drama yang di sini agak keterlaluan. Buat kamu yang pengin baca cerita ringan tentang menemukan cinta yang sesungguhnya berbalut nuansa wawasan baru (tentang fotografi) dengan setting lokasi yang berbeda (di luar Jakarta), maka Rule of Thirds bisa jadi pilihan bahan bacaanmu minggu ini.

End line:
"Aku sayang kamu. Sayang sampai mati."
---hlm.278, Chapter: Epilog

Sunday, January 8, 2017

[Resensi Novel Metropop] Yes I Do But Not With You by Shandy Tan



First line:
AMY tidak pernah memikirkan kemungkinan dirinya memiliki bibit kegilaan meskipun hanya seperjuta miligram--itu jika kegilaan memiliki satuan berat--hingga hari ini.
--hlm.7, Yes I Do But Not With You

Amy tak pernah menyangka rencana masa depannya hancur berkeping-keping dalam sekejap. Pernikahan yang hanya tinggal sejengkal, tiba-tiba sirna. Joshua, sang calon suami sekaligus tujuan hidupnya, menghamili perempuan lain. Amy kehilangan kekasih, pekerjaan yang sangat ia suka, dan kepercayaannya terhadap laki-laki.

Tetapi, kemudian Semesta mempertemukan Amy dengan Gabriel yang melezatkan hari-hari Amy dengan pastry buatannya. Meski begitu, Joshua tak kunjung menyerah merebut Amy kembali, dan dia selalu tahu bagaimana meluluhkan pertahanan Amy. Akankah Amy menerima Joshua kembali? Ataukah ia akan melepaskannya, dan mendengarkan Semesta yang mencoba menghiburnya dengan kehadiran Gabriel.


Judul: Yes I Do But Not With You
Pengarang Shandy Tan
Penyunting: -
Ilustrator cover: Yulianto Qin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 224 hlm
Rilis: 3 Januari 2017 (cetakan ke-1)
ISBN: 9786020337111
Buku merupakan persembahan penerbit untuk resensi jujur saya.
My rating: 3 out of 5 star

ide cerita dan eksekusinya:
Enam tahun pacaran dan berencana menikah tahun depan, tapi semua berantakan. What will you do? Mencoba mencari jalan untuk memperbaiki atau memilih membiarkannya dan move on? Apa pun itu, semua pasti membawa konsekuensi, kan? Tak boleh gegabah mengambil keputusan. Pikirkan matang-matang. Penyesalan di kemudian hari hanya akan membawa kehampaan dalam kumparan waktu yang tiada sesiapa pun sanggup menebak kapan selesainya.

Perkara waktu memang berukuran nisbi. Enam tahun bisa saja singkat, bisa saja lama. Tergantung siapa yang mengukur dan merasainya. Namun, untuk sebuah jalinan asmara, enam tahun tentulah bisa masuk ukuran lama. Apalagi jika hubungan itu sudah kelewat intensif seperti yang terjadi pada Amy dan Joshua.

Joshua digambarkan sebagai salah seorang motivator muda sukses di Medan. Jadwal seminarnya tak berjeda. Amy-lah sosok di balik kelancaran jadwal ‘manggung’ Joshua. Tak ada lagi waktu tersisa untuk diri dan karier pribadi Amy. Semuanya untuk Joshua. Maka, ketika cinta sebagai simpul pertalian bisnis mulai goyah, hati pun kehilangan arah. Serbasalah.

Wajar jika Amy marah. Haknya juga untuk memilih apakah mencari jalan damai demi mempertahankan hubungan atau justru melepaskan dan move on. Dan, sahabat serta keluarga adalah sebenar-benarnya tempat pelarian yang paling tepat. Jika pun menghakimi, bicarakan. Teman baik mengerti kata-kata yang terucap; sahabat sejati mampu memahami yang tidak diucapkan (halaman 27).

Premisnya tentang hubungan pacaran yang cukup lama, hampir meningkat ke jenjang yang lebih tinggi, tapi rusak. Dari sini pengarang menekankan pada putusan-putusan yang diambil si tokoh utama untuk menyembuhkan lukanya. Sayangnya, saya memang tidak terlalu puas dengan eksekusi akhirnya. Ending-nya kelewat sinetron. Bahkan, formula penyelesaian konfliknya old-fashion sekali. Mengingatkan saya pada ujung cerita Me vs High Heels karya Maria Ardelia bertahun-tahun silam.

plot, setting, dan karakter:
Mostly, plot bergerak maju dengan sedikit bagian mundur, sekadar mengingat kenangan masa silam. Sementara setting lokasi adalah di Medan (surprise!) meski tidak secara spesifik disebutkan di bagian mananya Medan. Set yang paling sering disebut adalah rumah Amy dan cafe Pondok Sarapan yang dikelola oleh Lucia dan Paris, dua karib Amy.

Desa-desa Resto, di Jalan Setiabudi No 190-12, Medan, brilio.net
Menyoal karakter, maaf saja, saya kurang bisa teryakinkan oleh hampir seluruh tokohnya, huhuhu. Tumben banget, lho, saya kok ya bisa nggak suka sama siapa pun di sini. Membahas tokoh utama: Amy. Sebenarnya dia ini gimana, sih. Apakah memang digambarkan multitalenta? Ingatkan saya jika ada bagian yang terlewat, tapi kok kayaknya Amy ini serbabisa banget. Awalnya jadi asisten pribadi merangkap pacar Joshua. Lalu, merintis karier pribadi sebagai penerjemah. Tapi tak jarang juga dimintai pendapat soal cita rasa menu kafe Pondok Sarapan. Jadi, Amy ini ahli di segala bidang, begitu? Well, itu baru dari latar belakang keseharian Amy. Sifat, pembawaan, pemikiran, dan lain-lainnya juga tak begitu memorable.

Gabriel. Wah, dia sih gambaran cowok ideal-pujaan-setiap-perempuan kayaknya. Kekar dan jago bikin pastry. Selama baca saya kebayang chef Yuda Bustara, hahaha. But, sekali lagi, saya enggak cukup teryakinkan dengan deskripsi Gabriel ini. Mungkin sayanya yang sudah kelewat terdoktrin sehingga ketika ketemu penggambaran baru, seolah saya langsung menolaknya. Entahlah. Karakter yang lain: ya sudahlah, begitu juga. Kurang memberi kesan mendalam, buat saya.


Lalu, ada pergantian angle yang cukup mengganggu ketika kisah bergulir kamera menyorot ke arah Amy dan mencakup orang-orang di sekelilingnya, mendadak kamera menyorot ke arah Gabriel (bentar banget, sedurasi iklan Pantene-nya Anggun kayaknya), terus pernah juga menyorot ke Lucia dan Paris. Hih, ngeselin.

konflik:
It's such a multi-angle love story. Mbulet ke sana kemari, tapi malah kurang seru karena tokoh-tokohnya ya itu-itu saja. Saya tak bisa bersimpati dengan siapa pun. Amy pun tidak. Bayangkan saja dia masih kalut soal hubungannya dengan Joshua (masih suka membayangkan hal-hal indah), kok bisa-bisanya memuji lelaki lain pada waktu yang bersamaan. Ya, ya, ya, mungkin kamu bakal bilang "Namanya juga hati, siapa yang tahu maunya apa, kan?". Hell, yes. Tapi, tetap saja, buat saya enggak sreg untuk situasi Amy yang masih kurang stabil.

Pada akhirnya, saya memang tidak mendapati konflik yang padat nan kompleks. Sederhana yang terlalu dibelit-belitkan. Oh, dan saya lebih merasa mestinya novel ini masuk Amore ketimbang Metropop karena tekanannya lebih banyak pada unsur romance-nya walaupun nuansa dunia kerjanya (pengusaha cafe dan profesi penerjemah) cukup ditonjolkan.

kesimpulan:
Untuk bacaan awal tahun, novel ini cukup ringan dan (buat pembaca cepat) pasti bisa kelar dalam satu kali duduk. Enggak ribet dan enggak perlu berkerut-kerut bacanya. Simpel banget. Ditambah diksinya yang mantap. Membacanya, selain baper, juga menyenangkan.

Oke, selamat membaca, tweemans.

End line:
I will be just fine, pikir Amy sambil mengunyah poptart dengan nikmat dan dalam hati bersenandung, "'Cause I am the champion of the world...."
---hlm.218, Chapter: We Are the Champions.

Tuesday, November 8, 2016

[Resensi Buku Metropop] Wander Woman by Nina Addison, Irene Dyah, Fina Thorpe-Willett, dan Silvia Iskandar

tidak benar-benar digunakan dalam buku #WanderWoman, tapi testimoni dari Prameshwari Sugiri, dan saya setuju dengan penempatan quote ini di testimoni-nya, pas dengan napas bukunya

First line:
Not all those who WANDER are lost (J.R.R. Tolkien).
--Prolog

"Tolkien mengatakan,“Not all those who wander are lost.” Tidak semua orang yang berkelana kehilangan arah. Tanyakan saja pada Arumi, Cilla, Sabai, dan Sofia—empat sahabat yang terpencar di berbagai negara. Dalam cerita mereka yang terinspirasi dari kisah nyata ini, “tersesat” punya makna berbeda. For them, home is never a place, but people—and sometimes even suitcases.

Kisah mereka bergulir dengan menarik dan membuat saya sebagai pembaca tak sabar untuk membalik setiap lembarnya. Inspiratif dan membuka wawasan!
—Rina Suryakusuma, penulis novel Gravity dan Falling

The best mother is the mother who adapts. Melalui keseharian empat sahabat ini, kita diajak mengingat salah satu kunci utama menjalankan peran seorang ibu: adaptasi.
—Prameshwari Sugiri, Pemimpin Redaksi & Pemimpin Komunitas Ayahbunda & Parenting Indonesia

Kisah para istri yang “dipaksa” hidup nomaden ini membuka mata mengenai budaya dan gaya hidup di luar Indonesia, dilihat dari kacamata orang-orang Indonesia.
—Susan Poskitt @pergidulu, travel writer"

Goodreads (06/11/2016 at 21.23 PM):

Judul: Wander Woman
Pengarang: Nina Addison, Irene Dyah, Fina Thorpe-Willett, dan Silvia Iskandar
Penyunting: -
Penerbit: Gramedia
Tebal: 360 hlm
Rilis: 19 September 2016
Genre: semi-fiksi
ISBN: 978-602-03-3375-5
My Rating: 3,5 out of 5 star

ide cerita dan eksekusinya
Seperti bisa dibaca di bagian Prolog dan Ucapan Terima Kasih di bagian belakang, buku ini ditulis (dan disusun) berdasar sekelumit kisah hidup senyatanya dari keempat pengarang. Perempuan. Istri. Ibu. Ekspat. Suka-duka tinggal di luar negeri. Secara gamblang di bagian Prolog, para pengarang menyatakan, "Mereka berempat hanyalah wanita-wanita biasa yang berusaha tetap waras dan bahagia, berusaha tidak tersesat dibawa berkelana tinggal di berbagai negara".

Saya tak bisa menyebut buku ini sepenuhnya non-fiksi atau fiksi, maka saya mengategorikannya "semi-fiksi". Ada elemen-elemen nyata dari pengalaman masing-masing saat bergulat dengan gegar-budaya di negara yang mereka tinggali, tapi ada pula kemasan fiksi dari racikan diksi dan narasi yang digunakan. Oleh karenanya, saya pun memberi judul "Resensi Buku Metropop" alih-alih #novelMetropop.

Buku ini terdiri dari empat cerita. (agak) Berkaitan, tapi enggak nyambung. Kalaupun iseng disobek jadi empat bagian, ceritanya bisa berdiri sendiri-sendiri. Kita tidak akan kebingungan meskipun hanya membaca satu bagiannya saja. Bahkan satu bagiannya pun bisa terdiri dari subbagian lain yang tidak langsung berkaitan. Jadi, jangan mengharapkan cerita bakal runut, semua serba lompat-lompat. Mungkin karena keempat pengarang memilih menceritakan pengalaman mereka tinggal di lebih dari satu negara (kecuali Sofia yang dikisahkan hanya tinggal di Australia saja). Itu pula yang membuat buku ini (jika dipaksakan berunsur fiksi) tak bisa disebut novel. Lalu, di setiap akhir subbagiannya tersedia Fun Facts yang sebagian besar memberi penjelasan (latar belakang) atas ceritanya. Some of them are (quite) interesting, but mostly they're boring.

kesan per bagian
Cilla: Amerika Serikat - Skotlandia by Nina Addison
Surprisingly, my least favorite part of the book. Entah memang ditulis dalam nuansa buru-buru atau dasar karakter para tokohnya, saya kurang bisa larut dalam kisah Cilla dan suaminya, Will, dan kedua anaknya, Alex dan Emily. Pada bagian ini saya sempat komplain di Twitter soal tokoh Cilla yang Indonesia dan para native-nya yang, kok, ya ngindonesia banget. Berharap, minimal, ketika berdialog para native-nya ya terasa native bukan malah kayak orang Indonesia. Bahasa Jawa nyebutnya wagu. Kenikmatan menyerap info lucu dalam kisah Cilla jadi kurang menyenangkan. Oh, well, cerita tentang suka-duka mendapatkan SIM di Skotlandia seru juga, sih.

Aberdeen di bulan Desember adalah tempat yang lebih dingin daripada suhu kulkasmu.
Sabai: Inggris Raya - Korea by Fina Thorpe-Willett
And, this one is my second least favorite. Masalahnya hampir serupa dengan Cilla, tokoh dan para native-nya campur-aduk. Padahal, saya sudah bersiap menikmati London dari dekat. Sabai dan suami, Mark, serta tiga anak mereka: Lexie, Emma, dan Ariana, seharusnya bisa bikin saya baper soal London. Sayang, kurang menyenangkan juga. Catatan: cerita soal Sabai yang hampir kena tuntutan karena parkir mobil sembarangan di Korea bikin saya cengengesan sendiri.

setiap melihat bus tingkat merah melintas (di jalanan London), rasanya ingin melompat naik dan ikut ke mana pun benda itu pergi.
Sofia: Australia by Silvia Iskandar
Mood baca saya mendadak naik begitu mendapati bagian Sofia ini. Diksi dan narasinya pas dengan selera saya. Paduan budaya dari cara berkomunikasi para tokohnya juga sudah sesuai harapan. Konflik (jika bisa disebut begitu) juga lumayan kompleks. Sedikit banyak saya mendapat pemahaman seputar layanan kesehatan dan pendidikan di Australia. Di bagian ini saya juga menyukai fun facts yang disertakan. Cerita Sofia, Ronald (suami), dan Celly (anak) bisa saya nikmati dalam kapasitas yang cukup. Berulang kali saya tergelak sembari memonyongkan bibir membentuk kata "O" besar setiap mendapat info terbaru tentang apa pun dari negeri Kanguru itu. Well done, Silvia. Saya jadi pengin baca karya Silvia yang lain. Masukin keranjang wish-list dulu, deh.

waktu menunjukkan pukul setengah lima sore dan matahari musim semi (di Sydney) masih bersinar terang.
Arumi: Jepang - Thailand - Indonesia by Irene Dyah
This is my most favorite part of the book. Semua kekurangan dari kisah-kisah sebelumnya berhasil dihindari oleh Irene. Semua unsur cerita ada di sini. Karakter, setting lokasi, konflik, ornamen khas fiksi dan diksinya sukses membuat saya bersemangat merampungkan-baca buku ini. Arumi dan Yuza, suaminya, serta kedua anak mereka, Raya dan Tahlia, bercerita dengan penuh rasa di tiga tempat berbeda. Well, tanpa banyak kata, cukup: please, Irene, buat dong novel dari kisah Arumi sekeluarganya ini. Would love reading it.

demo di Bangkok amaaan. mai pen laaai. kalau demonya rusuh, orang Bangkok juga yang rugi. jadi kita protes dengan cara meriah dan damai saja. dari rakyat untuk rakyat.
Pada dasarnya kesemua bagiannya memang berkisah tentang beragam warna kehidupan di negeri orang. Kebiasaan nomadik tak jarang bikin senewen. Sekalinya berhasil beradaptasi, takdir menentukan lain, mereka harus berpindah ke tempat baru. Oh, kalau hanya para ibu, sih, mungkin masih tak terlalu memusingkan. Namun, ada anak-anak yang berjuang sedemikian keras agar bisa beradaptasi. Di situlah peran para #WanderWoman ini paling diuji. Sanggupkah para ibu menuntun putra-putri mereka melalui masa-masa sulit penyesuaian diri? Temukan jawabannya dengan membaca buku ini, ya.

Secara teknis, masih ada beberapa typo yang terlewat. Justru di bagian Arumi yang banyak typo-nya, huhuhu. Saya juga berharap format buku ini makin kental nuansa fiksinya. Plus, lompatan antarsubbagiannya tidak sedemikian drastis. Contohnya kisah tentang Cilla yang awalnya tinggal di Houston, AS, kemudian diceritakan sudah berada di Skotlandia. Tak ada jembatan antara yang menjelaskan lompatan setting-nya itu. Namun, lagi-lagi saya menyukai bagian Arumi. Lompatannya tidak terlampau drastis dan bahkan ada jembatan antara yang cukup untuk menjelaskan mengapa Arumi sekeluarga akhirnya kembali ke Indonesia.

Oke, selamat membaca tweemans.

End line:
Mari kita pulang, Nak. Mama akan bikin bakwan kesukaanmu...