Showing posts with label Gramedia Pustaka Utama. Show all posts
Showing posts with label Gramedia Pustaka Utama. Show all posts

Thursday, December 27, 2018

[Review Novel Metropop] Purple Prose by Suarcani

First line:
KEKASIH idaman untuk siang yang panas adalah seporsi es campur dengan topping leleran susu kental manis.
---hlm.5, Prolog

Tujuh tahun lalu, kematian Reza membuat Galih lari ke Jakarta. Namun, penyesalan tidak mudah dienyahkan begitu saja. Ketika kesempatan untuk kembali ke Bali datang lewat promosi karier, Galih mantap untuk pindah. Ia harus mencari Roy dan menyelesaikan segala hal yang tersisa di antara mereka.

Roya begitu terkurung dalam perasaan bersalah. Kanaya, adiknya, menderita seumur hidup karena kekonyolannya tujuh tahun lalu. Roya merasa tidak memiliki hak untuk berbahagia dan menghukum dirinya secara berlebihan. Kehadiran Galih mengajarkan Roya cara memaafkan diri sendiri.

Saat karier Galih makin mantap dan Roya mulai mengendalikan haknya untuk berbahagia, karma ternyata masih menunggu mereka di ujung jalan.

Judul: Purple Prose
Pengarang: Suarcani
Penyunting: Midya N. Santi
Penyelaras Aksara: Mery Riansyah
Perancang Sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 304 hlm
Rilis: 29 Oktober 2018
My rating: 2,5 out of 5 star

Oke, ini agaknya saya mesti berjeda dulu dari tulisan Suarcani, ya. Setelah tahun lalu menamatkan "Rule of Thirds" dengan kesan yang kurang, tahun ini pun saya belum bisa menikmati karya tulisnya yang lain: "Purple Prose".

Awalnya saya membaca ini untuk beralih sebentar dari "Kelly on the Move"-nya Seplia yang belum membuat saya terpaku sehingga saya pending dulu. "Purple Prose" yang awalnya cukup menjanjikan dan enak sekali alurnya, berubah drastis ketika eksekusi konflik dan menjelang ending. Saya ngos-ngosan ngikutinnya dan sempat mau DNF pas adegan mulai kayak sinetron.

Well, Suarcani ini kayak Wiwien Wintarto yang mempertahankan setting lokasi-nya di daerah masing-masing. Wiwien di sekitaran Jawa Tengah-Yogyakarta, sedangkan Suarcani di Bali (setidaknya dari dua buku yang sudah saya baca, ya). Meski tidak sedetail "Rule of Thirds" dalam menjelajahi Bali, "Purple Prose" juga kental nuansa Bali-nya, terutama dari segi budaya. Cukup banyak nuansa Bali yang diselipkan pengarang untuk memberi wawasan bagi pembaca (setidaknya buat saya). Misalnya tujuan dan proses pembuatan canang, persembahyangan, selamatan menempati rumah atau sebelum mengadakan kegiatan, dan lain sebagainya.

gambar: www.balimediainfo.com
"Purple Prose" tampak seperti drama psikologi yang mengambil penekanan pada trauma masa lalu. Tokoh sentralnya adalah Galih, seorang eksekutif muda yang baru saja dipromosikan menjadi kepala cabang/divisi marketing (?) sebuah provider telekomunikasi di area Bali, dan Roya, salah satu staf administrasi sekaligus sekretaris--tak langsung, yang menjadi jalur menyibak konflik dan rahasia masa lalu keduanya. Di luar itu, ada tokoh penting seperti Roy (teman lama Galih, jangan sampai ketuker ya, ada Roya--ada Roy), Kanaya (adik Roya), Pak Zul (kepala wilayah? entahlah, lupa saya, pokoknya atasan Galih di Bali), Reza (teman lama Galih) dan beberapa lagi yang lain.

Silakan baca blurb-nya, begitulah inti dari "Purple Prose" ini. Galih yang dulunya pernah tinggal di Bali, oleh karena suatu sebab harus pergi dan menetap di Jakarta. Namun kemudian, Galih mendapat promosi dari kantornya dan membuatnya kembali ke Bali. Segala konflik muncul dari sejak kepindahannya ini.

gambar: www.hellosehat.com
Penyesalan, karma, trauma masa lalu, dan upaya penyelesaian yang tertunda menjadi premis utama yang diolah pengarang demi menghidupkan jalinan kisah ini. Tak ketinggalan unsur romansa dituangkan di antaranya untuk menambah kerunyamannya. Predictable memang, tapi lumayan bisa dinikmati lah. Terutama adegan demi adegan menuju eksekusinya. Apakah kisah romansanya cenderung instalove? Saya agak miss di sini. Jawaban: antara iya dan tidak. Jujur saja, saya merasa tak mendapati waktu yang cukup untuk Galih jatuh cinta meskipun terdapat penjelasan mengapa dia bisa seketika itu jatuh cinta, termasuk penjelasan soal "tampang jelek" yang saya pun masih gamang, ini pengarangnya mau sarkasme atau memang pada dasarnya beropini demikian. Yang bertampang jelek, no offense ya, hahaha:

hal: Epilog
Seperti yang saya bilang, kira-kira sampai setengah cerita saya enjoy banget menikmati jalinan kisah Galih yang jago ngocol beradaptasi di tempat kerja baru, lalu bertemu Roya yang serbakikuk. Namun, niatan memberikan 4 bintang buat novel ini langsung runtuh ketika sampai pada adegan drama Galih yang sedang dirawat di rumah sakit. Minat saya drop ke titik terendah.

Oke, saya nggak bisa ngasih penjelasan tanpa sedikit spoiler, jadi bagian ini saya sensor, sekiranya kamu nggak papa sama sedikit spoiler, silakan baca:
SPOILER ALERT!!!:
Saya kurang bisa mendapat gambaran pas untuk karakter Kanaya yang disebutkan memiliki trauma (sampai tidak mau bergaul, tapi masih sekolah--dan katanya selalu menyendiri di sekolah?). Saya bukan Psikolog sih, jadi nggak paham juga bagaimana penggambaran yang tepat untuk Kanaya, tapi kesan yang saya dapat mestinya dia ini rapuh, takut bersosialisasi, dan meledak-ledak. Meledak-ledaknya sih ada, tapi yang lainnya saya tak mendapati kesan itu. Malah kayaknya dia kuat banget. Puncaknya, Kanaya cukup pintar untuk mengelabui keluarganya dengan mengendarai motor sendiri, pergi ke rumah sakit (dia tahu di mana rumah sakitnya hanya dari mendengar namanya oleh Roya, tanpa meng-Google dulu atau bagaimana, dan novel ini pakai pengganti orang ketiga, which is mestinya lebih bisa mengeksplorasi seluruh karakternya--tanpa menjadi tuhan juga), bisa tahu Galih dirawat di mana, bisa masuk langsung ke ruangan tempat Galih dirawat tanpa izin atau penjelasan itu jam bezuk apa bukan, dan membuat kegaduhan tanpa ada sekuriti atau pihak rumah sakit yang notice? Inilah level drama sinetron paling nggak masuk buat saya. Bahkan, saya nggak suka sama dialog-dialognya Kanaya.



Hal lain yang saya juga kurang nyaman adalah adegannya cukup permisif sama kekerasan. Okelah, ini untuk penggambaran karma dan sebagainya, tapi masak iya boleh-boleh saja memukul, menendang, dan menampar? Bahkan, ada di satu adegan semua orang mukulin, ya bapak, ya ibu, ya anak. Dan, udah, gitu aja. Menurut saya ada adegan lain yang lebih bisa digunakan untuk penggambaran pembalasan karmanya, jika memang itu maksud dari si pengarang sih. Boleh lah ada sedikit unsur kekerasan, tapi minimal ada pihak netralnya, ibunya kek, atau bapaknya gitu, sekadar sebagai pengingat bahwa kekerasan itu nggak bagus dan bukan jalan penyelesaian yang bagus juga. Well, itu menurut saya sih, ya.

Overall, saya hanya menikmati setengah kisah awalnya sedangkan langsung hilang minat di paruh akhir bagiannya. Buat kamu yang lagi butuh membaca kisah tentang trauma masa lalu, bagaimana berdamai dengannya, ditambah sedikit racikan asmara, "Purple Prose" bisa kamu pilih untuk bacaan berikutnya. But for me, saya cukupkan baca karya tulis Suarcani di sini dulu. Nanti kalau ada tulisannya yang lain yang direkomendasikan, akan coba lagi.

Selamat membaca, tweemans.

PS: Purple Prose adalah...


End line:
"Hingga sosok Kanaya semakin mengecil, mengecil, mengecil, dan akirnya hillang.
---hlm.297, Epilog

Wednesday, September 26, 2018

[Resensi Novel Metropop] Perkara Bulu Mata by Nina Addison

First line:
Vira.
Aku benci rumah sakit.
---hlm.5, Ch.1 - Titik Lebih

Jojo sedang seru menceritakan perjuangannya menjadi branch manager sementara Vira tekun mendengarkan, memandangi wajah cowok yang telah jadi sahabatnya selama belasan tahun itu. Lalu… entah di detik keberapa, sesuatu bergeser. Klik. Dunia sekeliling Vira melambat. Pandangannya terkunci pada satu fokus: mata Jojo. Ah, bulu mata itu!

Mendadak jantung Vira berdegup kencang—sesuatu yang selama ini tidak pernah terjadi saat ia berada di dekat Jojo. “Jojo kan selalu terbirit-birit kabur ke Planet Mars setiap tahu ada cewek deketin dia, Vir.” Ucapan Lilian, sahabat Vira dan Jojo, langsung terngiang. Damn, batin Vira. Masalahnya, ia tidak yakin dirinya akan jadi pengecualian dari reaksi absurd cowok tersebut. Belum lagi nasib persahabatan mereka jika perasaannya terendus Jojo. Lalu jika mereka pacaran dan… putus? Apa yang harus Vira lakukan? Ah, tapi bulu mata itu... Damn.

Judul: Perkara Bulu Mata
Pengarang: Nina Addison
Penyunting: Harriska Adiati & Neinilam Gita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 296 hlm
Rilis: 17 September 2018
My rating: 4 out of 5 star
Silakan baca nukilan novel Perkara Bulu Mata yang diunggah ke Wattpad: http://wattpad.com/perkarabulumata


Sejak Morning Brew, saya memang sudah "menandai" Nina Addison sebagai salah satu pengarang yang buku-bukunya bakal saya usahakan untuk dibaca. Adalah cerpen "Perkara Bulu Mata" di kumpulan cerita pendek metropop bertajuk Autumn Once More menjadi salah satu dari cerpen yang sangat saya minati dan beberapa kali saya usulkan untuk bisa dikembangkan menjadi novel. Dan betapa bahagianya saya ketika Nina benar-benar mewujudkannya, hingga saya demikian tak sabar untuk segera merampungkan-baca novelnya. Begitu rilis, saya langsung mengunduh Perkara Bulu Mata di Apps Gramedia Digital.

Syukurlah, versi novel Perkara Bulu Mata cukup memenuhi ekspektasi saya. Well, jangan tanya saya, apa perbedaan/persamaan-nya dengan versi cerpennya, ya. Saya sudah lupa, hahaha. Yang terang, dua-duanya masih menyoal tentang bulu mata. Dari sanalah pesona seseorang menyetrum dan mewujud menjadi percikan api cinta yang baru dirasa oleh mereka yang telah bersahabat sangat lama.

Kelar baca Thousand Dreams-nya Dian Mariani yang mengambil tema sahabat jadi cinta, Perkara Bulu Mata pun seide, meskipun tentu saja berbeda bumbu konflik, subplot, dan eksekusinya. Sejak bab awal, Nina menyajikan kisah ini dengan dentuman-dentuman yang mengentak hingga pembaca--saya--terus terpaku pada adegan demi adegannya dan nggak rela menaruhnya barang sejenak. Unputdownable lah istilahnya, ya.

Nina juga punya ecenderungan suka "menggantung" atau menyembunyikan sebentar fakta penyambung adegan berikutnya jadi setiap bab kita dibikin penasaran what will happen next? Dan, di sinilah saya sering gagal menebak adegan macam apa lagi yang bakal dibikin si pengarang? Oke secara garis besar tebakan saya benar: siapa suka sama siapa; tapi detail-detail kecil menuju konklusi akhir itulah yang dibikin cukup menarik oleh Nina (yang saya kerap gagal menebak). Sungguh sayang jika kita melewatkan setiap rangkaian kalimatnya.

Ehmm, ya nggak juga, sih, hahaha. Ada beberapa bagian yang saya skimming dan nggak saya pedulikan, terutama bagian-bagian yang dikursif---kilas balik atau sekadar kata hati yang disuarakan. Pun, terkadang masih ada yang kelewat nggak dikursif dan itu bikin jengkel. Serius, penempatan flashback atau curcol dalam hati secara linier pada narasi itu, buat saya, mengganggu---subjektif.



Terus terang, setelah Resign!-nya Almira Bastari, Perkara Bulu Mata menjadi novel metropop paket lengkap yang renyah banget buat dikunyah. Secara pakem metropop, nuansa office romance-nya sangat terasa. Saya bisa larut dalam dunia kerja para tokohnya. Oiya, Perkara Bulu Mata berpusat pada empat sahabat: Vira, Jojo, Albert, dan Lilian. Nantinya ada beberapa nama yang menyumbang peran cukup penting untuk merajut plot: JC, Daniel, Bo, Zed, Tom, dan beberapa yang lain.

Secara emosi, saya juga dibuat campur aduk sama novel ini. Haru, kocak, sebal, sedih, dan kaget bisa muncul silih berganti. Inti ceritanya simpel: sahabat yang bingung ketika dilanda bara asmara, apakah harus mengungkapkannya dengan risiko merusak persahabatan atau menguburnya diam-diam dengan risiko menyiksa diri sendiri. Bukan tema baru memang, tapi cara mengemas Nina berhasil membuat tema usang ini cukup gurih buat dicemilin sedikit demi sedikit.

Paling saya cuman agak kurang excited pada pilihan ending untuk seluruh tokoh utamanya. Kok jadi di situ-situ saja? Yah, meskipun Nina sudah memberikan segepok alasan mengapa bisa terjadi seperti itu, saya masih tetap mengharapkan ada puncak konflik yang lumayan drama biar ada kejutan superdahsyat gitu---ya nggak sampai sinetron juga sih.

Overall, Perkara Bulu Mata memuaskan dahaga saya akan novel metropop yang charming, lincah, dan kocak---paket lengkap lah kalau bisa saya bilang, meskipun pada beberapa bagian saya nggak suka cara menuturkan flashback/kata hati dan kurangnya ledakan konflik untuk menciptakan drama yang emosional. Please, sempatkan baca novel ini kalau kamu nggak alergi sama tema sahabat jadi cinta dan kebetulan sedang mencari bacaan ringan yang menghibur untuk rileks. Terus produktif ya, Nina. Ditunggu novel metropop selanjutnya.

Selamat membaca, tweemans.

End line:
"Welcome to the club, Li," bisiknya dengan senyum penuh arti.
---hlm.290, Epilog

Wednesday, September 19, 2018

[Review Novel Metropop] Beautiful Pain by Nathalia Theodora

First line:
DORONGAN itu begitu keras, sampai Keira terhuyung dan menabrak dinding di belakangnya.
---hlm.6, Prolog

“Silakan saja menyebut Keira perempuan serakah karena mencintai Landon dan Damon, sama besarnya. Dia tidak peduli meski Landon sakit dan Damon suka memukulinya. Masa lalu yang dimilikinya membuat Keira bertekad untuk mempertahankan mereka berdua.

Berulang kali Damon meminta Keira untuk memilih dan jelas sekali lelaki itu tidak suka menjadi pihak yang kalah. Dia akan melakukan segala cara untuk membuat Keira meninggalkan Landon. Akhirnya Keira tidak mampu menolak dan hanya bisa bernegosiasi agar Damon memberinya waktu satu bulan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Landon.

Padahal, kondisi Landon tidak kunjung membaik. Dengan detik-detik yang semakin mendekati batas waktu pemberian Damon, Keira hanya berharap semua yang dia lakukan akan berhasil.

Semoga.

Judul: Beautiful Pain
Pengarang: Nathalia Theodora
Penyunting: Donna Widjajanto
Penyelaras Aksara: Nila Isnaini
Desainer Sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 147 hlm
My rating: 2,5 out of 5 star

rating di www.goodreads.com per 18/09/2018 at 02:38 AM
Sejak menerima fisik buku yang dikirim langsung oleh Nath dan mengetahui jumlah halamannya kurang dari bilangan angka dua ratus, saya memang langsung khawatir pada Beautiful Pain ini. Well, dengan jumlah halaman segitu konflik macam apa yang bisa disajikan dengan tepat, pengembangan karakter yang pas, dan eksekusi akhir yang oke? Hasilnya: kekhawatiran saya cukup beralasan.

Sebenarnya premis Beautiful Pain cukup menjanjikan, meskipun nggak menawarkan sesuatu yang baru: mental disorder. Saya sudah pernah membaca (dan menonton) beberapa buku (dan film) tentang gangguan kepribadian ini. Baik bermuatan thriller maupun romance. Dan, memang seharusnya banyak hal yang bisa diuraikan dari satu titik itu saja. Belum lagi jika ditambahkan subplot lain untuk lebih memperkaya cerita. Sayangnya, Beautiful Pain tidak melakukannya, baik menggali lebih dalam maupun menambahkan subplot lain.

gif dari sini: https://wifflegif.com/
Beautiful Pain merupakan karya kesekian (ke-14 di database goodreads.com) dari Nathalia Theodora yang menjadi novel pertamanya yang diterbikan pada lini Metropop di Gramedia Pustaka Utama (sepanjang yang saya tahu). Dari tahun ke tahun, Metropop mulai menjangkau segala kemungkinan menghadirkan kisah romansa urban yang nggak melulu ngomongin cinta doang. Domestic violence, kesetaraan gender, sampai isu minoritas hadir di lini favorit saya ini. Beautiful Pain menjadi salah satu yang bisa masuk kategori domestic violence dalam hubungan pacaran.

Beautiful Pain menceritakan tentang Keira, sosok eksekutif muda, yang jatuh cinta pada dua laki-laki: Landon sang chef (?) sekaligus pemilik beberapa cabang restoran yang superlembut dan rapuh; dan Damon sang pelukis aliran dark (surealis?) yang superkasar dan suka kekerasan. Sejatinya Keira sudah akan meninggalkan salah satunya, demi kebaikan bersama, tapi tekadnya untuk menyelamatkan orang tersayang membuatnya maju-mundur (nggak pake cantik-cantik) hingga dia terus saja terjebak dalam hubungan nggak sehat yang berkepanjangan.

gambar dari sini: http://thesilentchild.tumblr.com/
Beberapa reviewer/booktuber akan mengategorikan kisah ini sebagai toxic relationship. Sudah tahu pacarmu bermasalah, masih juga kamu pacaran sama dia. Begitulah kira-kira maknanya, CMIIW. Saya juga gemas sama Keira sepanjang membaca novel ini. Sudah tahu Damon suka main tangan, mengapa masih setia?

Well, sejatinya pertanyaannya nggak semudah itu, sih. Ada plot twist yang superdahsyat di akhir. Meskipun nggak se-grande yang seharusnya bisa dibikin, twist-nya lumayan. Kenapa cuman jadi lumayan? Salahkan jumlah halaman yang minimalis itu. Entah dari awal Nath kurang menggali lebih dalam atau digunting kurang optimal sewaktu penyuntingan. Isu mental disorder yang terkoneksi langsung dengan domestic violence agak kurang believable buat saya. Saya nggak bisa cerita tanpa spoiler, jadi saya cuman bilang: segala situasinya kayak kurang meyakinkan, terutama karena ini digunakan sebagai unsur kejutan ketika twist dibongkar, saya jadi bertanya-tanya bagaimana sih reaksi orang-orang di sekitar Keira-Damon menyikapi kondisi ini, SELAMA INI? Oke, ada kok dijelaskan sebagiannya, tapi... entahlah, balik ke kesan awal saya, nggak believable.

gambar dari sini: http://www.therakyatpost.com
Kesampingkan fakta premis yang kurang digali, bagaimana dengan unsur Metropop-nya? Ternyata di departemen ini juga setali tiga uang. Unsur office romance yang lekat dengan novel-novel lini Metropop hadir bak tempelan Post-it ka-we. Latar belakang profesi Keira di sebuah perusahaan manufaktur/distributor (?) hadir selintas-sekejap saja. Ada sih diceritakan soal evaluasi vendor, prosedur pemilihan vendor baru, atau mekanisme pembelian produk baru, tapi ya itu... melalui cerita. Bukan narasi yang menggambarkan dengan detail prosesnya. Jadi, nggak nambah wawasan juga, paling tidak buat saya. Terus Keira ini bukan top management kan ya, kok seenak-enaknya saja gitu dia keluar-keluar kantor bukan untuk urusan kerjaan: ke studio lukis Damon lah, rumah Landon lah, ke restoran Landon, atau pas galau dengar kabar Landon menghilang---langsung cus saja dari kantor, enggak minta izin atasan atau notice ke HRD, titip absen ke temen saja enggak, hahaha.

Nah, kalau kamu lagi butuh bacaan Metropop yang kompleks, bisa mencoba membaca Beautiful Pain ini. Meskipun menurut saya agak kurang sukses dalam mengeksekusi isu utamanya tenang mental disorder, novel ini tetap bisa memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga hubungan dalam keluarga /persahabatan dan mewaspadai buruknya dampak toxic relationship. Selamat atas kelahiran novel Metropop pertamanya, Nath, semoga terus produtif, ya. Ditunggu kisah-kisah Metropop-nya yang lain.

Have a nice reading, tweemans.


End line:
"Dan sambil berpegangan tangan, mereka pun meninggalkan taman.
---hlm.147, Epilog

Monday, December 18, 2017

[Resensi Novel Teenlit] TwinWar by Dwipatra

#8_2017
First line:
DUA tahun lebih sudah berlalu sejak Hisa pindah dari kamar ini.
---hlm. 7, Bab 1

Gara dan Hisa kembar identik. Penampilan kedua cowok itu persis sama. Karennya pun sama. Tapi minat dan kemampuan? Beda jauh! Gara berotak encer dan kemampuan akademiknya gemilang. Sementara itu, Hisa jago olahraga dan sederet trofi kejuaraan berhasil ia raih. Walaupun bersekolah di SMA berbeda, persaingan mereka tak pernah surut.

Dalam keluarga mereka, ada satu aturan yang tidak boleh mereka langgar. "Gara dan Hisa tidak boleh pacaran sebelum lulus SMA dan diterima masuk di perguruan tinggi." Kalau sampai aturan itu dilanggar, konsekuensi yang akan mereka terima tidak main-main.

Kisah ini bermula ketika Hisa mengetahui ada foto cewek di handphone Gara. Ya, diam-diam Gara memang berpacaran dengan Dinar. Mendapati rahasia Gara, Hisa seolah mendapat senjata ampuh untuk "menghancurkan" saudara kembarnya. Jadi, siapa bilang saudara kembar nggak bisa perang?

Judul: TwinWar
Pengarang: Dwipatra
Editor: Miranda Malonka
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 296 hlmn
Rilis: 4 Desember 2017
Harga: Rp69.000
ISBN: 9786020376790
My rating: 3 out  5 star

Well, pendapat saya untuk novel ini mungkin termasuk yang enggak populer, ya, mengingat sampai dengan sekarang rating untuk novel ini di Goodreads cukup bagus, 4.04. Saya pun agak bimbang antara 2,5 bintang menuju dua atau cenderung tiga, yang pada akhirnya dengan segala pertimbangan saya lebih condong membulatkan ke tiga bintang.

Membaca teenlit (di saat sekarang) serupa mengorek-ngorek kotak kenangan. Mencari sekelumit kesan yang tertinggal di masa ke-teenlit-an saya sendiri. Beberapa hal tak berubah, meskipun sebagian besarnya berubah. Tentu saja, teknologi mengubah segalanya, termasuk pola kehidupan individu dan sosial di bangku SMA dari waktu ke waktu. 

Mengetahui TwinWar dinobatkan sebagai Juara 1 kompetisi GWP batch 3, membuat saya demikian penasaran. Well, saya memang pengejar segala yang berbau top-top-an. Saya mendengarkan lagu yang sedang hits dan menduduki tangga lagu teratas. Saya menonton film yang tengah merajai panggung box office. Dan saya pun tak ketinggalan membaca buku-buku pemenang penghargaan ini dan itu. Lebih ke menuntaskan rasa penasaran: benarkah mereka (lagu, film, buku) sebagus penilaian juri/orang-orang?

Jujur saja, saat ini saya hanya membaca teenlit karangan Ken Terate saja (dan sesekali karya Windhy Puspitadewi). Saya malas mencoba-coba. Paling maksimal, saya akan bertanya sana-sini dulu jika ada satu-dua judul teenlit yang sedang hits, yang belum tentu saya baca juga. Maka, ketika memutuskan mengunduh novel TwinWar di aplikasi ScoopPremium, saya punya ekspektasi setinggi langit(-langit kamar), bahwa saya (mungkin) punya cadangan nama selain Ken (dan Windhy) untuk bisa saya ikuti karya tulis teenlitnya.

Hasilnya: saya enggak yakin. TwinWar tak berhasil memenuhi harapan. Segala sanjungan yang diberikan untuk novel ini, hanya satu-dua saja yang saya aminkan. 'Lil bit disappointing, for me, at least. Bukan enggak bagus, tapi lebih ke "gagal" memenuhi ekspektasi.


Pertama, alasan pribadi: saya tak suka plot gontok-gontokan di awal lalu jadi akur di akhir. Hahaha. Lha terus kenapa masih nekat baca juga? Salahkan rasa penasaran saya. Lagian kenapa enggak suka plot begitu? Quite predictable, menurut saya. Makanya, sepanjang baca saya menunggu plot-twist, yang sayangnya enggak ada sampai akhir. Entah saya baca di review siapa, yang bilang novel ini emosional dan bikin nangis, saya pikir salah satu dari si kembar bakal ada yang dimatiin, dan saya memang sempat kepikiran juga sewaktu ada adegan di****li dan pi****n itu. Eh, ternyata enggak.


Untuk cerita soal saudara kembar, saya suka banget sama film The Parent Trap versi tahun 1998 yang dibintangi Lindsay Lohan (sewaktu kecil). Kisahnya sederhana, tapi ditulis dan dirangkai sedemikian memikat sehingga saya benar-benar jatuh cinta pada kisahnya. Premisnya: dua saudari kembar yang harus terpisah karena orangtua meraka bercerai, satu di Inggris (Annie) dan satu lagi di Amerika (Hallie). Keduanya kembar identik, cuma karena beda lingkungan dan pola pengasuhan, memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Namun, sama dengan film ini, saya pun agak kurang diyakinkan dengan body type Hisa-Gara ketika bertukar peran. Diceritakan Hisa adalah maniak olahraga (khususnya lari), sedangkan Gara cenderung kutu buku. Dari situ, bukankah tak cukup hanya sekadar mengubah gaya rambut untuk bisa mengelabui teman dekat? Paling tidak Hisa punya bodi tipe atlet yang lebih terbentuk ketimbang Gara, kan? Pun, dengan sikap tubuh. Atau saya ada miss pada bagian ini?


Kedua, alasan pribadi: saya tak suka gaya menulis yang mengajak pembaca bicara. Hahaha. Cuman personal taste saja. Untuk standar fiksi, saya paling benci tokoh yang suka ngomong sendiri dan narator yang seolah-olah mengobrol sama saya, menggunakan kata "kalian" atau "kamu" ketika mendeskripsikan suatu keadaan (saya lupa nge-bookmark contoh di naskah ini), tapi tahulah ya, yang saya maksud?

Ketiga, saya merasa pengarang sedang mengampanyekan "mari pacaran di SMA" di sini. Yaelah, biarin saja, sih, emang enggak boleh? Hahaha, ya bolehlah, hanya saja saya lebih menyukai hal-hal yang dibuat natural. Di novel ini (yang saya tangkap), "larangan pacaran" dianggap mengada-ada dan tidak efektif, jadi mestinya bebaskan saja para remaja SMA berpacaran. Saya agak konservatif menyoal pacaran ini.


Keempat, meskipun saya tak pernah tergabung di klub kompetitif apa pun selama SMA (saya hanya pernah ikut ekskul Pramuka), saya rasa agak sedikit janggal jika antaranggota klub memiliki rivalitas-menjurus-permusuhan seperti yang ditunjukkan Hisa dan Faisal. Dan, guru olahraga yang menjadi pembina klub itu pun seolah-olah membiarkan. Saya paling enggak suka bagian ini. Entahlah, sebagai pengamat olahraga abal-abal, saya kok merasa novel ini gagal menunjukkan semangat sportivitas. Apalagi ini masih pada piyik, lho, mestinya rivalitasnya tak semengerikan itu. Kalau digambarkan beda sekolah, mungkin masih masuk akal. Entahlah, saya pada posisi tak setuju konflik ini yang dipilih untuk mewarnai kisah salah satu dari si kembar.


Kelima, saya pun sempat membaca di salah satu review yang menyebut TwinWar bisa jadi jembatan untuk para remaja lelaki menyukai membaca (terutama teenlit) karena tema dan nuansanya yang maskulin. Hmmm, setuju-tak-setuju. Hahaha. Saya rasa tetap kurang jantan. Namun, saya setuju saja sih, bahwa TwinWar dan logo baru teenlit yang lebih netral, bisa saja jadi pemicu (kembali) booming-nya novel teenlit, termasuk di kalangan remaja cowok.

Keenam, semua orang harus happy. Hmmm, saya masih berharap ada yang unik nan berbobot dari TwinWar ini. Sayang, setiap konflik yang ada seolah-olah "dipaksakan" harus selesai secara tuntas, dan harus damai. Selain minim plot twist, tak ada yang "meledak" di mana pun di novel ini. Sempat kaget saja tidak.


Ketujuh, ehmmm, masih cukup banyak typo bertebaran di sana-sini. Oh, saya baca versi digitalnya, sih, enggak tahu apakah versi fisiknya bakal sama atau lebih rapi ketimbang digitalnya. Typo minor doang, tapi tetap mengganggu buat saya.

Di sisi lain, TwinWar memang ditulis dengan gaya lugas dan selipan humor di sana-sini (meskipun buat saya tetap kurang nendang) serta diksi sederhana yang membuat rajutan kisahnya mengalir lancar. Well, sebagai penggila quote, saya agak kecewa karena tak menemui banyak kalimat yang memorable dan cocok dipasang sebagai caption di Instagram (sepanjang enggak dilarang). #eaaa


Uhmm, saya sudah mengunduh ketiga naskah pemenang GWP. Kemarin sempat kepingin memulai-baca Seventeen Once Again, yang kayaknya lebih lincah gaya penceritaannya, tapi... enggak dulu, kayaknya. Saya salip One of Us is Lying aja dulu, deh.

End line:
"Gar, lo sadar nggak, kalau lagi dijadiin lap keringet sama Hisa?"
---hlm. 288, Bab Epilog

Monday, October 2, 2017

[Fun Games] Pengumuman Pemenang MEGA-GIVEAWAY Say No To Me Say No To Love

Fun games dalam rangkaian MEGA-GIVEAWAY SayNoToLoveSayNoToMe, untuk menyambut kelahiran novel metropop terbaru karya Mas Wiwien Wintarto terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) berjudul Say No To Me (sudah beredar di toko buku, silakan dibeli dan dibaca, yaaaa). Jadi, seluruh rangkaian giveaway ini terselenggara atas kerja sama @fiksimetropop dengan GPU dan Wiwien Wintarto.


Oke, untuk fun games-nya sendiri, gimana? Gampang, kan? Malah gampang banget kayaknya, sih. Dari entri yang masuk sebagian besar benar semua, kok. Penasaran apa jawaban fun games-nya? Ini dia:


Ada 13 entri yang masuk, 5 di antaranya kurang lengkap dan 8 entri lainnya menjawab sempurna. Yang menjawab kurang lengkap:
1. Diah Pujiawati
2. Artha maula amalia
3. Bintang Sirait
4. Lina Ernawati
5. Desita Wahyuningtias

Sedangkan yang menjawab sempurna adalah:
6. Junarti
7. Fitri
8. Gabriella Halim
9. Alyani Shabrina
10. Nola Andriyani
11. Elisabeth Beatrice
12. Fetri Tjang
13. Dedik Ariyanto

Awalnya sempat yakin bakal enggak ada yang bisa menjawab sempurna, tapi... you guys are awesome! Keren, ih. Hahaha, atau sayanya yang kelewat jemawa sok canggih bikin soal, ya. Muhahaha. Well, jadinya saya mesti tetap minta bantuan aplikasi pengundi untuk membantu saya menentukan dua orang yang beruntung mendapatkan masing-masing paket duo kece novel Say No To Love dan Say No To Me karya Wiwien Wintarto terbitan GPU. Dan, yang beruntung adalah...



Selamat untuk Elisabeth Beatrice dan Nola Andriyani. Paket hadiah akan dikirim langsung oleh Tim dari GPU ke alamat sesuai dengan yang kalian cantumkan ketika mengirimkan jawaban fun games-nya, ya.

Oke, dengan terpilihnya dua pemenang dari blog ini, maka seluruh rangkaian MEGA-GIVEAWAY #GASayNoTo #SayNoToLove #SayNoToMe berakhir pula. Terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, terutama dari GPU (Didiet P) dan Mas Wiwien Wintarto. Semoga yang menang di semua giveaway segera membaca bukunya dan ditunggu kesan-kesannya setelah membaca, ya. Semoga duo kecenya Mas Wiwien bisa diterima pembaca fiksimetropop di mana pun berada. Aamiin.

Sampai jumpa di giveaway-giveaway seru lainnya.

Rekap seluruh pemenang giveaway:
1. @beingacid (Instagram)
2. @rohaenah1 (Instagram)
3. @sapta_resita (Twitter)
4. @dutchesslolaa (Twitter)
5. @halidahanun (Twitter)
6. @udonkuma (Twitter)
7. Elisabeth Beatrice (Blog)
8. Nola Andriyani (Blog).

Wednesday, September 20, 2017

[Fun Games] MEGA-GIVEAWAY Say No To Me Say No To Love

Well, hello, tweemans. Apa kabar? Kayaknya makin sering main medsos jadi lupa punya blog, ya. Duh, jarang banget ini update-nya. Semoga ke depan, blog ini kembali bisa kejar tayang secara rutin, ya. Aaamiin.


Nah, sudah lama juga kita nggak fun games di sini. Yuk, ikutan fun games seru lagi. Kali ini masih dalam rangkaian MEGA-GIVEAWAY SayNoToLoveSayNoToMe, dalam rangka menyambut kelahiran novel metropop terbaru karya Mas Wiwien Wintarto terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) berjudul Say No To Me (sudah beredar di toko buku, silakan dibeli dan dibaca, yaaaa). Jadi, seluruh rangkaian giveaway ini terselenggara atas kerja sama @fiksimetropop dengan GPU dan Wiwien Wintarto.

Oke, fun games kali ini simpel banget, kok. Begini cara ikutannya:
1. Wajib follow blog ini, ya.
2. Wajib nge-share info fun games ini di Twitter, Facebook, atau Instagram, dan salin-tempel tautan (link) share kamu tadi di kolom komentar, ya.
3. Jawab pertanyaan di bawah ini melalui google form yang disediakan:
Silakan susun ulang 20 judul novel metropop yang diacak di bawah ini:




4. Fun games berlangsung sampai dengan hari Senin tanggal 25 September 2017 pukul 23.59 WIB.
5. Dua orang terpilih, masing-masing akan mendapatkan paket novel Say No To Love (kover baru) dan Say No To Me.
6. Good luck, ya.

Jika ada yang masih ingin ditanyakan, silakan di kolom komentar, ya.  

Saturday, January 28, 2017

[Resensi Novel Young Adult] Ada Apa Dengan Cinta? by Silvarani

#6_2017
First line:
KECERIAAN menyebar di setiap sudut sekolah pagi ini.
---hlm.7, Chapter: Sorak Sorai Itu Bernama Pagi

Apa lagi yang kurang dalam hidup Cinta? Ia punya keluarga yang bahagia, popularitas di sekolah, banyak pengagum, dan yang paling penting, ia punya sahabat-sahabatnya. Alya, Maura, Milly, dan Karmen membuat hari-harinya selalu berwarna. Mereka adalah pusat dunia Cinta.

Sampai suatu hari, ia berkenalan dengan Rangga, cowok jutek dan penyendiri yang lebih suka berteman dengan buku daripada manusia. Ternyata mereka sama-sama menyukai puisi, minat yang tak bisa Cinta bagi dengan keempat sahabatnya. Dan perlahan hal itu membawa perubahan pada dirinya, membuat orang-orang di sekitarnya bertanya-tanya, ada apa dengan Cinta?

Ketika Cinta sendiri pun ikut mempertanyakan dirinya dan persahabatannya menjadi taruhan, apa yang sebaiknya ia lakukan?

Judul: Ada Apa Dengan Cinta (AADC)?
Pengarang: Silvarani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 hlm
Rilis: April 2016
ISBN: 9786020326450
My rating: 3,5 star ouf of 5

Saya bahagia.
Ini serupa harapan yang menjadi kenyataan.


Beberapa waktu silam, saya memasukkan AADC? ke daftar sepuluh film yang semestinya ada versi novelnya. Dan, seperti terkabulnya doa, kini sudah ada versi novel dari salah satu film Indonesia modern yang menandai kebangkitan kembali perfilman tanah air. Namun, entah karena apa, saya enggak langsung beli-dan-baca novel AADC? itu. Ada sedikit kesongongan saya menyoal kredibilitas penulisnya, sih. Maaf. Heh, siapa sih ini Silvarani? Enggak bisa gitu minta penulis sekaliber Winna Efendi atau Orizuka atau Esti Kinasih buat novelin film mahafenomenal ini? Yeah, yeah, saya memang (kadang) sesongong itu. Hingga akhirnya saya nemu info diskonan hingga 50% all item di @hematbuku20 jadi saya beli (dan baca) novelisasi film yang mempopulerkan Dian Sastro dan Nicholas Saputra ini.

Jika kamu seperti saya yang begitu nge-fans filmnya sampai-sampai hafal-luar-kepala dialog-dialognya, pasti hepi banget baca novel AADC? ini. Sebagian besar dialog-dialog itu dipertahankan sesuai yang ada di film, dengan beberapa penambahan. pengurangan, dan penyesuaian lainnya. Dialog-dialog ikonik seperti, "Basi! Madingnya udah siap terbit!", "Terus salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?", atau "Salah satu dari kita pasti lebih punya otak atau lebih punya hati, tapi kayaknya kamu nggak punya dua-duanya". Nah, dialog-dialog semacam itu juga tetap ada di novelnya.

Selain dialog, secara garis besar cerita juga sama persis dengan filmnya, meskipun terdapat penambahan sebab-akibat atau sudut pandang lain dari para tokohnya ketika berinteraksi. Tambahan lain adalah penggambaran ekspresi tokoh masing-masing. Apa yang saya lihat di film ditambahkan efek dramatisasi melalui rangkaian kata-kata (yang untunnya tidak sampai lebay). Tentu saja, hal tersebut menambah kenikmatan mengikuti kisah Cinta dan Rangga ini. Detail visual yang tidak tertangkap mata ketika menonton filmnya, bisa kita dapatkan dari novel.

Selain tambahan efek dramatisasi, di AADC? versi novel juga diberikan beberapa hal yang tidak dibuat gamblang di filmnya. Misal: isi surat Cinta untuk Rangga yang diselipkan di ruangan Pak Wardiman yang bikin Rangga marah (di film kan enggak dikasih tahu bunyi suratnya bagaimana)
sumber: https://achalasya.blogspot.co.id/
atau tulisan Cinta sewaktu mengembalikan buku Aku ke Rangga (saya sih sempat skrinsut dari film, kalau di-zoom masih kelihatan, sih, tapi lupa saya taruh mana, ya, skrinsutannya itu).
sumber: https://rizkoprasada.wordpress.com/
Namun demikian, seperti beberapa pembaca yang lain, saya juga merasa tempo ceritanya kecepetan. Pergantian antaradegannya bergerak hampir dalam itungan detik, tanpa jeda, sehingga terkesan kurang smooth. Cenderung patah-patah, meskipun tetap bisa diikuti. Sebenarnya, saya sendiri sudah kecewa ketika membuka segel bukunya dan melihat jumlah halaman novelnya bahkan tidak sampai 200 halaman. Whattt? Jadi, memang semestinya tidak perlu berharap terlalu banyak bahwa akan ada sesuatu yang spesial dari novelisasi AADC? ini. Jangankan hal spesial, pengembangan plot yang ada saja sangat sempit, kalau tidak mau bilang tidak ada pengembangan sama sekali. Mungkin, penulisnya sendiri sudah diwanti-wanti sama pihak produser dan pemilik hak cipta filmnya agar setia pada filmnya. Who knows, kan?

Pengembangan yang sempit itu pun saya tak terlalu menyukainya. Hahaha. Jika di film, saya meyakini bahwa Cinta dan Rangga mulai merasa ada geletar aneh di hati masing-masing adalah ketika Cinta mengembalikan buku Aku ke Rangga dan Rangga mengucapkan terima kasih. Di situ, menurut saya, adalah momen paling tepat menghadirkan nuansa merah jambu kepada mereka. Namun, di novelnya malah dibilang...



Detail kecil lain yang juga mengganggu saya adalah digantinya adegan Cinta beli kacang rebus ketika menunggu taksi dengan adegan Cinta beli minuman di minimarket. WHAAATTT??? Padahal di adegan ini bisa romantis maksimal banget, lho. Ingat adegan Rangga yang iseng menendang pohon sehingga air sisa hujan yang tertinggal di dedaunannya jatuh mengguyur Cinta? I love that scene! Di novelnya tidak ada adegan itu. Hikz.


Overall, meskipun tidak memberikan sesuatu yang spesial, kehadiran AADC? versi novel ini--buat saya yang sangat-sangat menyukai versi filmnya--merupakan harapan yang menjadi kenyataan. Mungkin tak bakal saya baca ulang dalam waktu dekat, tapi jika suatu waktu di masa datang saya kangen kisah Cinta dan Rangga, selain dengan memutar kembali filmnya (untuk keberapa puluh kalinya), saya bisa pilih alternatif lain dengan membaca novel ini.

Oke, selamat membaca, tweemans.


End line:
Milly berkata panik, "Mamet! Mamet ketinggalan!"
---hlm.186, Chapter: Perempuan...

Monday, January 23, 2017

[Resensi Novel Metropop] Rule of Thirds by Suarcani

#5_2017
First line:
Mama pernah bilang bahwa pagi yang indah berawal dari dapur yang  nyaman.
---hlm.7, Chapter: Flare

Apa lagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?

Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis.

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan.

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.

Judul: Rule of Thirds
Pengarang: Suarcani
Editor: Midya N. Santi
Proofreader: Mery Riansyah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 hlm
Rilis: Januari 2017
Harga: Rp68.000 (promo diskon 50% di @hematbuku)
ISBN: 9786020334752
My rating: 2,5 out of 5 star

Saya hepi banget pas di pengujung Desember 2016 kemarin, Gramedia mempromosikan empat #novelMetropop baru yang akan dirilis di bulan Januari 2017. Ada Yes I Do But Not With You (Shandy Tan), Rule of Thirds (Suarcani), Lost & Found (Fanny Hartanti), dan Some Kind of Wonderful (Winna Efendi). Akhirnya, banyak lagi yang meramaikan rak buku #novelMetropop.

Sejauh ini saya sudah membaca dua di antara empat novel itu, Yes I Do dan Rule of Thirds ini. Agak kecewa, karena dua novel itu ternyata gagal mengimpresi saya. Semoga saja dua sisanya yang lain bisa membayar kekecewaan saya. Terlebih nama Fanny Hartanti dan Winna Efendi adalah dua nama yang cukup familier untuk selera bacaan saya.

Sejujurnya, Rule of Thirds berhasil menghanyutkan saya hingga seratusan halaman awal. Bab pertama menjanjikan karakter Ladys yang memukau tapi membumi dan Dias yang dingin tapi lembut. Ditambah antagonis pujaan: playboy tampan yang pintar merayu. Gaya tulisan Suarcani juga oke. Pada beberapa bagian tampil cukup efisien dan witty, sementara pada bagian lain berhasil menyampaikan hal-hal teknis seputar fotografi menjadi narasi yang luwes.

Rule of Thirds merupakan salah satu istilah dalam dunia fotografi. Dan, fotografi memang menjadi latar belakang keseluruhan kisah Ladys dan Dias ini. Buat yang suka fotografi, novel ini bisa jadi sarana rekreasi. Sedangkan untuk yang lain, novel ini bisa memberi pengetahuan baru seputar dunia fotografi. Beberapa bagian sangat teknis, beberapa bagian lainnya lebih emosional.

sumber: bridestory.com, foto pre-wedding Olla Ramlan-Aufar oleh Diera Bachir yang juga disebut di dalam Rule of Thirds

Sayangnya, selepas itu tingkat kenikmatan saya menurun hingga sampai titik jenuh. Konfliknya yang mestinya bisa menjadi gong yang dramatis malah jatuh ke tingkat drama-sinetron. Sudah begitu, ada belenggu cinta segi lima di sini. Meh! Cinta segi tiga saja sudah bikin eneg, apalagi segi lima, ya? Huhuhu. Enough... pleaseee... huhuhu...

Padahal (juga), subkonfliknya banyak lho. Ada dari sisi keluarga Ladys (sinetron), ada dari sisi keluarga Dias (sinetron lagi), ada dari sisi keluarga Esa (lebih sinetron lagi), dan subkonflik haha-hihi dari rekan kerja Ladys dan Dias. Subkonflik yang kelewat padat itu nyatanya malah membuat Rule of Thirds gagal melarutkan saya dalam emosi yang seharusnya. Pada salah satu chapter di dua per tiga bagian novel saya hampir saja menyerah dan langsung melongok halaman belakang untuk tahu ending-nya. Namun, saya menguatkan diri (meski tetap men-skip beberapa bagian) sampai saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya berhasil menuntaskan-baca novel ini. Yay me!

Kelemahan utama dari Rule of Thirds, menurut saya, adalah karakter yang tak begitu kuat. Seratusan halaman pertama yang begitu menjanjikan tidak dijaga dengan cukup baik hingga karakter para tokohnya "berguguran" satu demi satu. Mungkin, secara tak sadar, saya adalah pemuja novel bertipe character driven story, jadi begitu para tokoh pada sebuah novel berhasil menjerat saya maka saya dengan bahagia membaca lembar demi lembar halamannya. Dan, itu tak saya dapat dari novel ini.

Menyoal setting lokasi. Well, kebetulan banget, ya, saya sedang berencana pengin ke Bali, eh nemu novel ber-setting Bali. Kami berjodoh, hahaha! Saya sudah dua kali begini. Dulu sebelum ke Singapura, saya pun menemukan satu novel ber-setting Singapura, dua minggu sebelum saya terbang. Sayang seribu sayang, kali ini setting Bali-nya hanya disebut saja, tidak menjadi latar budaya yang memperkuat jalannya cerita. Yang jadi pertanyaan, dari banyaknya tokoh adakah yang asli Bali? Mestinya ada, ya. Soalnya ada yang dipanggil Bli oleh kedua tokoh utama. Sayangnya (lagi), nuansa Bali tidak tampak dari interaksi antartokohnya. Secuil kosakata bahasa Bali pun jarang digunakan (atau malah enggak ada, ya?).

sumber: Flickr spintheday, suasana Pasar Badung, salah satu setting lokasi di Rule of Thirds
Dari segi teknis cetakan, masih cukup banyak typo yang bertebaran di sana sini, terutama kata "menggangguk" yang semestinya tertulis "menganguk". Itu hampir di seluruh bagian novel yang ada kata mengangguk-nya. :)

Overall, 'lil bit disappointment for me. Too much drama. I looove drama. Tapi, drama yang di sini agak keterlaluan. Buat kamu yang pengin baca cerita ringan tentang menemukan cinta yang sesungguhnya berbalut nuansa wawasan baru (tentang fotografi) dengan setting lokasi yang berbeda (di luar Jakarta), maka Rule of Thirds bisa jadi pilihan bahan bacaanmu minggu ini.

End line:
"Aku sayang kamu. Sayang sampai mati."
---hlm.278, Chapter: Epilog

Thursday, January 19, 2017

[Resensi Novel Anak-Anak] A Monster Calls (Panggilan Sang Monster) by Patrick Ness

#4_2017
First line:
Sang monster muncul persis lewat tengah malam. Seperti monster-monster lainnya.
---hlm.11, Chapter: Panggilan Sang Monster

Sang Monster Muncul Persis Lewat Tengah Malam. Seperti Monster-Monster Lain. Tetapi, dia bukanlah monster seperti yang dibayangkan Conor. Conor mengira sang monster seperti dalam mimpi buruknya, yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama selimut kegelapan, desau angin, dan jeritan… Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan hal yang paling berbahaya dari Conor. Dia Menginginkan Kebenaran.

Dalam buku karya dua pemenang Carnegie Medal ini, Patrick Ness merangkai kisah menyentuh tentang cinta, kehilangan, dan harapan. Ia menulisnya berdasarkan ide final Siobhan Dowd, penulis yang meninggal akibat kanker.

Ini memang kisah sedih. Tetapi kisah ini juga bijak, kelam namun lucu dan berani, dengan kalimat-kalimat singkat, dilengkapi gambar-gambar fantastis dan keheningan-keheningan yang menggugah. A MONSTER CALLS merupakan hadiah dari penulis luar biasa dan karya seni yang mengagumkan.

Judul: A Monster Calls (Panggilan Sang Monster)
Pengarang: Patrick Ness (berdasar ide Siobhan Dowd)
Ilustrator: Jim Kay
Penerjemah: Nadya Andwiani
Editor: Barokah Ruziati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rilis: 29 Februari 2016
Tebal: 216 hlm
ISBN: 9786020320816
My rating: 3,5 out of 5

A Monster Calls (atau sesuai alih bahasa: Panggilan Sang Monster) adalah salah satu contoh buku yang saya beli karena kepengaruh hype-nya yang kenceng banget. Lumayan telat, sih, soale bukunya sendiri sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia sejak awal tahun 2016 lalu. Saya beli ini pun pas banget ada tawaran diskon 50% di olshop @hematbuku20.

Nama Patrick Ness sudah sering saya dengar sepanjang tahun 2016. Bahkan sangking seringnya, saya juga kepincut beli buku dia yang lain yaitu trilogi Chaos Walking, meskipun yang saya beli belum lengkap ketiga bukunya (baru dua), yang sialnya malah kebeli buku kedua dan ketiganya, sementara buku pertamanya enggak nemu, huhuhu. Tambah nyesel, waktu berkunjung ke BBW Penang, saya sempat lihat trilogi Chaos Walking ini dan saat itu masih belum tertarik beli. Dobel sial!

Ternyata, saya merasa biasa-biasa saja selesai membaca buku ini. Entah karena sedang tak mood atau bagaimana, saya tak berhasil mendapatkan impresi sebagaimana kebanyakan pmbaca lain (terutama Goodreaders yang sudah kelar baca). Sebagian besar review menyebutkan novel ini tipe tear-jerking -siapin-tisu, tapi ternyata tidak buat saya. Sedih, lumayan sih, tapi enggak sampai bikin nyesek apalagi mewek.


Mulai dari adegan awal yang agak mirip adegan awal The Big Friendly Giant (The BFG by Roald Dahl---versi film) hingga sikap Conor yang tak sesuai ekspektasi saya (sebagai tokoh protagonis) membuat saya kurang bisa merasuk. Lagi lemot, saya. Kelar baca saya segera meluncur ke goodreads.com untuk baca-baca review dan menonton trailer filmnya, barulah saya ngeh pesan moral yang ingin disampaikan Patrick Ness (dan Siobhan Dowd) itu. Yaampun, saya dudul pisan euy. Owalah, gitu toh maksudnya.

Objektif enggak objektif saya memang gagal paham. Hahaha. Mungkin di suatu saat nanti saya kepingin re-read dan membaharui impresi saya akan buku ini. Atau nanti saya baca bareng dek Shasha, deh. Siapa tahu dengan begitu saya bisa lebih paham. *nyengir

Yang paling saya suka dari novel ini adalah ilustrasinya. JUARA! Dan, baru nyadar bahwa ilustratornya ini sama dengan yang bikin ilustrator untuk Harry Potter illustrated edition, ya. Emang keren, sih.





Oke, selamat membaca, tweemans. 

End line:
------(terlalu spoiler)
---hlm.215, Chapter: Kebenaran

Sunday, January 8, 2017

[Resensi Novel Metropop] Yes I Do But Not With You by Shandy Tan



First line:
AMY tidak pernah memikirkan kemungkinan dirinya memiliki bibit kegilaan meskipun hanya seperjuta miligram--itu jika kegilaan memiliki satuan berat--hingga hari ini.
--hlm.7, Yes I Do But Not With You

Amy tak pernah menyangka rencana masa depannya hancur berkeping-keping dalam sekejap. Pernikahan yang hanya tinggal sejengkal, tiba-tiba sirna. Joshua, sang calon suami sekaligus tujuan hidupnya, menghamili perempuan lain. Amy kehilangan kekasih, pekerjaan yang sangat ia suka, dan kepercayaannya terhadap laki-laki.

Tetapi, kemudian Semesta mempertemukan Amy dengan Gabriel yang melezatkan hari-hari Amy dengan pastry buatannya. Meski begitu, Joshua tak kunjung menyerah merebut Amy kembali, dan dia selalu tahu bagaimana meluluhkan pertahanan Amy. Akankah Amy menerima Joshua kembali? Ataukah ia akan melepaskannya, dan mendengarkan Semesta yang mencoba menghiburnya dengan kehadiran Gabriel.


Judul: Yes I Do But Not With You
Pengarang Shandy Tan
Penyunting: -
Ilustrator cover: Yulianto Qin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 224 hlm
Rilis: 3 Januari 2017 (cetakan ke-1)
ISBN: 9786020337111
Buku merupakan persembahan penerbit untuk resensi jujur saya.
My rating: 3 out of 5 star

ide cerita dan eksekusinya:
Enam tahun pacaran dan berencana menikah tahun depan, tapi semua berantakan. What will you do? Mencoba mencari jalan untuk memperbaiki atau memilih membiarkannya dan move on? Apa pun itu, semua pasti membawa konsekuensi, kan? Tak boleh gegabah mengambil keputusan. Pikirkan matang-matang. Penyesalan di kemudian hari hanya akan membawa kehampaan dalam kumparan waktu yang tiada sesiapa pun sanggup menebak kapan selesainya.

Perkara waktu memang berukuran nisbi. Enam tahun bisa saja singkat, bisa saja lama. Tergantung siapa yang mengukur dan merasainya. Namun, untuk sebuah jalinan asmara, enam tahun tentulah bisa masuk ukuran lama. Apalagi jika hubungan itu sudah kelewat intensif seperti yang terjadi pada Amy dan Joshua.

Joshua digambarkan sebagai salah seorang motivator muda sukses di Medan. Jadwal seminarnya tak berjeda. Amy-lah sosok di balik kelancaran jadwal ‘manggung’ Joshua. Tak ada lagi waktu tersisa untuk diri dan karier pribadi Amy. Semuanya untuk Joshua. Maka, ketika cinta sebagai simpul pertalian bisnis mulai goyah, hati pun kehilangan arah. Serbasalah.

Wajar jika Amy marah. Haknya juga untuk memilih apakah mencari jalan damai demi mempertahankan hubungan atau justru melepaskan dan move on. Dan, sahabat serta keluarga adalah sebenar-benarnya tempat pelarian yang paling tepat. Jika pun menghakimi, bicarakan. Teman baik mengerti kata-kata yang terucap; sahabat sejati mampu memahami yang tidak diucapkan (halaman 27).

Premisnya tentang hubungan pacaran yang cukup lama, hampir meningkat ke jenjang yang lebih tinggi, tapi rusak. Dari sini pengarang menekankan pada putusan-putusan yang diambil si tokoh utama untuk menyembuhkan lukanya. Sayangnya, saya memang tidak terlalu puas dengan eksekusi akhirnya. Ending-nya kelewat sinetron. Bahkan, formula penyelesaian konfliknya old-fashion sekali. Mengingatkan saya pada ujung cerita Me vs High Heels karya Maria Ardelia bertahun-tahun silam.

plot, setting, dan karakter:
Mostly, plot bergerak maju dengan sedikit bagian mundur, sekadar mengingat kenangan masa silam. Sementara setting lokasi adalah di Medan (surprise!) meski tidak secara spesifik disebutkan di bagian mananya Medan. Set yang paling sering disebut adalah rumah Amy dan cafe Pondok Sarapan yang dikelola oleh Lucia dan Paris, dua karib Amy.

Desa-desa Resto, di Jalan Setiabudi No 190-12, Medan, brilio.net
Menyoal karakter, maaf saja, saya kurang bisa teryakinkan oleh hampir seluruh tokohnya, huhuhu. Tumben banget, lho, saya kok ya bisa nggak suka sama siapa pun di sini. Membahas tokoh utama: Amy. Sebenarnya dia ini gimana, sih. Apakah memang digambarkan multitalenta? Ingatkan saya jika ada bagian yang terlewat, tapi kok kayaknya Amy ini serbabisa banget. Awalnya jadi asisten pribadi merangkap pacar Joshua. Lalu, merintis karier pribadi sebagai penerjemah. Tapi tak jarang juga dimintai pendapat soal cita rasa menu kafe Pondok Sarapan. Jadi, Amy ini ahli di segala bidang, begitu? Well, itu baru dari latar belakang keseharian Amy. Sifat, pembawaan, pemikiran, dan lain-lainnya juga tak begitu memorable.

Gabriel. Wah, dia sih gambaran cowok ideal-pujaan-setiap-perempuan kayaknya. Kekar dan jago bikin pastry. Selama baca saya kebayang chef Yuda Bustara, hahaha. But, sekali lagi, saya enggak cukup teryakinkan dengan deskripsi Gabriel ini. Mungkin sayanya yang sudah kelewat terdoktrin sehingga ketika ketemu penggambaran baru, seolah saya langsung menolaknya. Entahlah. Karakter yang lain: ya sudahlah, begitu juga. Kurang memberi kesan mendalam, buat saya.


Lalu, ada pergantian angle yang cukup mengganggu ketika kisah bergulir kamera menyorot ke arah Amy dan mencakup orang-orang di sekelilingnya, mendadak kamera menyorot ke arah Gabriel (bentar banget, sedurasi iklan Pantene-nya Anggun kayaknya), terus pernah juga menyorot ke Lucia dan Paris. Hih, ngeselin.

konflik:
It's such a multi-angle love story. Mbulet ke sana kemari, tapi malah kurang seru karena tokoh-tokohnya ya itu-itu saja. Saya tak bisa bersimpati dengan siapa pun. Amy pun tidak. Bayangkan saja dia masih kalut soal hubungannya dengan Joshua (masih suka membayangkan hal-hal indah), kok bisa-bisanya memuji lelaki lain pada waktu yang bersamaan. Ya, ya, ya, mungkin kamu bakal bilang "Namanya juga hati, siapa yang tahu maunya apa, kan?". Hell, yes. Tapi, tetap saja, buat saya enggak sreg untuk situasi Amy yang masih kurang stabil.

Pada akhirnya, saya memang tidak mendapati konflik yang padat nan kompleks. Sederhana yang terlalu dibelit-belitkan. Oh, dan saya lebih merasa mestinya novel ini masuk Amore ketimbang Metropop karena tekanannya lebih banyak pada unsur romance-nya walaupun nuansa dunia kerjanya (pengusaha cafe dan profesi penerjemah) cukup ditonjolkan.

kesimpulan:
Untuk bacaan awal tahun, novel ini cukup ringan dan (buat pembaca cepat) pasti bisa kelar dalam satu kali duduk. Enggak ribet dan enggak perlu berkerut-kerut bacanya. Simpel banget. Ditambah diksinya yang mantap. Membacanya, selain baper, juga menyenangkan.

Oke, selamat membaca, tweemans.

End line:
I will be just fine, pikir Amy sambil mengunyah poptart dengan nikmat dan dalam hati bersenandung, "'Cause I am the champion of the world...."
---hlm.218, Chapter: We Are the Champions.