Showing posts with label Ilana Tan. Show all posts
Showing posts with label Ilana Tan. Show all posts

Wednesday, May 27, 2015

[Resensi Novel Metropop] In A Blue Moon by Ilana Tan

Kau mungkin tak sempurna, tapi kau sempurna untukku...

“Apakah kau masih membenciku?”
“Aku heran kau merasa perlu bertanya.”


Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson di bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis itu masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu—oh, bukan!—melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lucas oleh kakeknya yang suka ikut campur.

Lucas mendekati Sophie bukan karena perintah kakeknya. Ia mendekati Sophie karena ingin mengubah pendapat Sophie tentang dirinya. Juga karena ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang—ini sangat jarang terjadi, tentu saja—kakeknya bisa mengambil keputusan yang sangat tepat.

Judul: In A Blue Moon
Pengarang: Ilana Tan
Penyunting: Hetih Rusli
Pewajah sampul: Kitty Felicia Ramadhani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 320 hlm
Rilis: April 2015 (cetakan ke2)
Harga: Rp70.000
ISBN: 978-602-03-1462-4

https://www.goodreads.com/book/show/25053346-in-a-blue-moon?ac=1

Surprisingly, saya suka. Hahaha. Well, sebagai seseorang yang dikenal penyuka novel-novel berlabel Metropop, saya sendiri agak terasing karena tidak selalu menyukai novel-novel karya Ilana Tan, secara Ilana Tan ini bisa dibilang Ratu Metropop. Novel-novelnya selalu laris manis dan digemari banyak pembaca Indonesia. Dari karyanya terdahulu saya baru menyatakan suka pada Winter in Tokyo dan Sunshine Becomes You, selebihnya biasa saja.

Kembali ke novel terbaru Ilana Tan bertajuk In a Blue Moon ini, saya merasa tulisan Ilana Tan berkembang cukup signifikan dan menjadi semakin enak dibaca. Gaya tulisannya yang khas dengan menempatkan sorot ke masing-masing tokoh, meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga, sudah cukup rapi dan smooth ketika terjadi pergantian adegan dan peran. Tak seperti di Winter in Tokyo yang saya protes karena ada tokoh tak signifikan yang mendadak tampil, di In a Blue Moon, hal tersebut tidak terjadi. Saya tetap difokuskan pada Sophie Wilson dan Lucas Ford. Tokoh-tokoh lainnya berhasil tampil sebagai pemeran pendukung dan cameo yang pas. Tidak ada yang tiba-tiba menyerobot mengambil lampu sorot.



Tuesday, April 9, 2013

[Resensi Kumcer] Autumn Once More by Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, dkk


Heaven really knows what’s best for us...


Pengarang: Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, Hetih Rusli, Anastasia Aemilia, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Lea Agustina Citra, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan.
Penyunting: Tim Editor GPU
Pewajah sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 232 hlm
Harga: Rp40.000
Rilis: April 2013
ISBN: 978-979-22-9471-2

Setahu saya, Autumn Once More merupakan kumpulan cerita pendek (kumcer) bergenre metropop pertama yang ditulis secara keroyokan oleh beberapa novelis metropop dan editor GPU. Sedangkan untuk kumcer metropop sendiri sebenarnya sudah ada sejak Jakarta Kafe-nya Tatyana, sampai dengan serial Metropolitan (Nyonya Besar, Tuan Besar, Roman Orang Metropolitan, dsb) karya Threes Emir.

Daya pikat utama yang membuat kumcer ini istimewa tentu saja jajaran para penyumbang tulisannya. Siapa yang tak kenal nama-nama besar semacam Ilana Tan, aliaZalea, atau Ika Natassa? Ketiga penulis tersebut, menurut saya, termasuk novelis metropop terpopuler yang buku-bukunya superlaris bak kacang goreng di pasaran buku Indonesia. Bahkan, menurut mbak Hetih, salah seorang editor GPU, menyebutkan bahwa novelnya Ilana Tan sudah cetak ulang untuk yang ke-26 kali. WOW.

Thursday, February 2, 2012

[Kuis Buku] Berhadiah 2 Copy Novel Metropop Sunshine Becomes You by Ilana Tan

Yahhh, setelah saya sendiri menikmati membaca novel terbaru karya Ilana Tan, Sunshine Becomes You, meskipun tidak terpuaskan secara pribadi, saya ingin berbagi kebahagiaan membaca lagi "kekhasan" menulis dari novelis terlaris (sepertinya) di lini metropop-nya Gramedia ini. Eh, kuisnya hanya di twitter tapinya yaaa...jadi, kalo mau ikutan harus pake akun twitter, hehehe.... colek aja @fiksimetropop yaaa.

Pertanyaan dan cara menjawabnya adalah sebagai berikut:


Pertanyaan:
Sebutkan setting lokasi dari novel Tetralogi 4 Musimnya Ilana Tan secara BERURUTAN dari buku 1 s.d. buku 4. Ingat ya, harus URUT.

Cara menjawab:
@fiksimetropop spasi<#IlanaTan>spasi<#LoveFebruari>

Sekali lagi, ini kuisnya hanya diadain di twitter ya, temans.....:) Good luck!

Sunday, January 29, 2012

[Resensi Novel Metropop] Sunshine Becomes You by Ilana Tan

Patahkan saja tangannya, biar dia jatuh cinta...
Read from January 26 to 28, 2012
Rating: 3 out of 5 star


Judul: Sunshine Becomes You
Penulis: Ilana Tan
Pewajah Sampul: yustisea.satyalim@gmail.com
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 432 hlm
Harga: Rp65.000 (disc 20% pre-order)
Rilis: Januari 2012 (cet. Ke-1)
ISBN: 978-979-22-7813-2

Summary
Entah sedang sial atau bagaimana, hari itu Alex Hirano harus bertemu dan berurusan dengan Mia Clark. Bahkan, mereka pun tak saling mengenal, namun pada hari pertama perjumpaan mereka, Mia malah mencederai tangannya, membuatnya harus membatalkan jadwal konsernya, dan menderita kerugian material yang tidak sedikit. Dan, dengan diliputi kemarahan yang sudah memuncaki ubun-ubunnya, Alex menyetujui tawaran Mia untuk menebus kesalahannya dengan menjadi ‘pesuruh’nya hingga tangan Alex pulih.

Seperti pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, begitulah yang terjadi pada Alex dan Mia. Intensitas pertemuan mereka, biar pun selalu diliputi percekcokan, akhirnya menerbitkan benih-benih asmara di antara keduanya. Bahkan, Alex bersedia bersaing mendapatkan cinta Mia dengan lelaki mana pun, termasuk adiknya sendiri. Dan, itu bukan sifat Alex. Dia adalah lelaki yang tak mudah takluk pada wanita. Jadi, mengapa kali ini Mia berbeda? Mengapa gadis yang sudah membuatnya tak lagi bisa bermain piano itu justru diperjuangkannya mati-matian? Simak saja kisah lengkapnya dalam novel terbaru dari novelis metropop laris serial 4 Musim, Ilana Tan ini.

Wah, ini menjadi rekor tersendiri bagi saya. Sampai dengan saat ini, saya jarang sekali pre-order buku. Saya tak pernah memiliki ambisi untuk menjadi yang ‘pertama’ membaca sebuah buku. Kecuali ketika hendak terbitnya New Moon (don’t laughing! Gw bakarin kemenyan lu!). Yap, gegara saya begitu menikmati Twilight, saya jadi tak sabar baca kelanjutan ceritanya dan segera pre-order begitu Gramedia membuka layanan pre-order buku keduanya. Jadi, ketika saya secara impulsif ikut mendaftar pre-order buku ini, saya memang tak punya alasan apa-apa. Selain bonus tanda tangan, autograph copy, dan diskonnya, tentu saja.

Well, sejauh ini saya pun nggak ngebet-ngebet amat sama Ilana Tan, sebenarnya. Meskipun telah membaca keempat novel seri musimnya, saya tidak begitu ‘terpesona’ dengan gaya menulisnya. Tentu saja, novel-novelnya mengalir lancar dan berhasil memadukan unsur-unsur romantisme dalam setiap kisahnya. Namun, ya, begitu saja, tidak pernah membuat saya yang...WOW!. Termasuk setelah menuntaskan baca novel Sunshine Becomes You ini.

First, salahkan Gayle Forman yang menghadirkan If I Stay dengan suasana haru yang sukses membirukan hati saya itu. #huhuhu. If I Stay membuat saya bercucuran air mata dan seolah ikut menjadi saksi mata kesedihan yang dialami Mia Hall. Sedangkan pada Sunshine Becomes You ini, sedikit pun saya tak berkaca-kaca. Ada apa dengan saya? Saya begitu sulit untuk terlibat jauh dan ikut meresapi kondisi Mia Clark. Ups, apakah ada yang menarik di sini? Mia Hall = Mia Clark. Fiuhhh, sekali membandingkan, malah ada bahan pembanding yang lain. And, you know what? Mia Hall = Mia Clark = siswa Juilliard. What a coincidence! Adam = Alex? Berinisial sama (A), dengan keahlian kurang lebih sama, musisi. Great!

Apakah buku ini romantis? Iya! Bahkan, saya sempat setuju dengan dugaan salah satu teman bahwa novel ini akan dirilis bertepatan dengan hari Valentine. Ternyata tidak. Namun demikian, novel ini memang memiliki standar romantis yang cukup. Apalagi ide tentang pesona-racikan-kopi-Mia. Hmm, I do love coffee, dan saya percaya bahwa kopi adalah salah satu hal seksi di dunia ini. Seandainya saya bisa bertemu dengan pasangan yang bisa membuat kopi yang super-dahyat, saya pasti jatuh cinta! Dan, Mia Clark yang mampu meracik kopi merek apa pun menjadi kopi super mantap ini sudah pasti bakal menjadi gadis impian bagi para penikmat kopi. Yummy.

Tapi, cerita yang sedemikian sederhana (dua orang bertemu tak sengaja, membawa petaka, cat and dog scene, love competition, dan tragedi) pada akhirnya tidak meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi saya. Dan, hey, hey, hey...rasanya saya bisa praktik baca kilat satu detik-satu halaman pada novel ini. #boong.banget. Hehehe, beberapa halaman saya skimming karena tidak ada detail penting untuk menunjang perkembangan cerita. Usual events yang tidak membuat konflik menjadi lebih tajam saya baca cepat sekali. Saya cuman pengin segera sampai di tujuan akhir perjalanan Alex-Mia. Too bad.

Dari satu adegan, saya masih bertanya-tanya. Bagaimana seseorang yang salah satu tangannya masih diperban bisa mengangkat seseorang yang lain? (hlm. 248). Bahkan orang tersebut tidak diberikan gambaran ekspresi kesakitan/kesulitan ketika melakukannya. Agak kurang logis, menurut saya.

Padahal, teknik Ilana untuk menggantung beberapa adegan di setiap ujung chapter sungguh membangkitkan gairah membaca. Bikin penasaran! Belum lagi, kepiawaiannya untuk memutar sudut pandang si pencerita. Point of view (PoV) yang digunakan seluruhnya adalah orang ketiga yang berpindah-pindah ke banyak karakter, di mana perpindahan PoV itu berlangsung dengan mulus. Ini merupakan salah satu unsur penulisan yang saya sukai dari Ilana Tan, yang juga saya dapatkan di Spring in London.

Sayang sekali, Ilana kembali menyia-nyiakan setting lokasi yang dipilihnya. Saya tidak mendapati upaya penulis untuk mengajak pembacanya merasai suasana kota Big Apple, New York. Padahal, New York menjadi salah satu kota dunia paling sering dibicarakan. Tetapi, saya sudah maklum, karena menurut saya Ilana memang tidak pernah mengeksplorasi lokasi ceritanya dengan optimal dan hanya terasa digunakan untuk melengkapi keterangan tempat bagi plot yang disusunnya saja.

Fiuhhh, saya pun terkesiap ketika menyadari bahwa tak banyak quotes menarik yang saya dapatkan dari novel ini. Salah duanya paling hanya yang ini:
“...Maksudku, aku penari. Menari adalah hidupku. Apalagi yang bisa kulakukan kalau aku tidak boleh menari?” (hlm. 264)
“Yang bisa membuatku merasa lebih baik adalah kopimu, Clark” (hlm. 313)
Sedangkan quote yang juga dipasang di sampul depan novel ini, “Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku,” sepertinya pernah saya dengar/baca sebelumnya, jadi tidak memberikan kesan apa pun. Memang sebagian besar, pilihan diksi dalam novel ini sangat umum dan biasa. Tidak ada yang membuat hati saya tergetar.

Tapi, wowsaaa.... saya musti nyelametin tim produksi novel ini. Wew, sepanjang pengamatan sih tak begitu banyak typo di novel ini. Thank GOD! Padahal di Spring in London, saya mendapatkan begitu banyak typo. Yang saya temukan hanya ini:
(hlm. 38) jelana jinsnya = celana jinsnya
(hlm. 40) tersenggal = tersengal
(hlm. 46) merasakaan = merasakan
(hlm. 143) Ales = Alex
Sedangkan kalimat yang ini masih membuat saya bingung:
...Karena apabila Mia memberitahu Ray bahwa Alex menemuinya untuk meminta maaf, maka Mia juga harus memberitahu Ray bahwa Alex meminta berarti kepadanya karena mereka sempat bertengkar, .....”
Overall, saya menikmati cerita yang mengalir lancar ini, meskipun saya kurang begitu dapet feel dari segi pokok kisah dan konfliknya. Dari awal, saya sudah memaksa otak untuk tak menayangkan slide novel/buku romantis lain, tapi tak bisa. Kilasan pengetahuan yang sudah saya miliki nyatanya memang menjadi racun yang membuat saya kurang bisa menikmati novel ini. 3 bintang saja saya sematkan pada novel ini.

Selamat membaca, kawan!

Saturday, January 14, 2012

[Book News] Cuplikan Novel Metropop Ilana Tan - Sunshine Becomes You

Takjub. Dan, patut diacungi jempol. Calon novel karya Ilana Tan ini benar-benar dimanjakan dengan promosi yang getol sekali, bahkan sejak Desember 2011 silam. Hebatnya lagi, fans yang tak sabar menantikan kehadiran karya terbaru penulis novel metropop berseri laris berlatar musim (season) ini, cukup banyak, terlihat dari antusiasme mereka setiap kali ada kabar baru tentang novel ini. Baiklah, berikut ada secuplik isi dari novel yang diperkirakan akan dirilis awal Februari 2012 nanti.



”Oh, celaka!” Mia terkesiap kaget ketika mengeluarkan ponsel dari tasnya. Alex Hirano sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tetapi Mia tidak menyadarinya karena ponselnya berada di dalam tasnya yang ditinggalkan di kursi penonton. Ia bergegas mengenakan celana jins dan sepatu, lalu berpamitan kepada guru tarinya.

Laki-laki itu pasti marah besar, pikir Mia cemas dan cepat-cepat menelepon Alex Hirano. Mia berlari-lari kecil menyusuri koridor di antara deretan kursi penonton ke arah pintu keluar.

Pada deringan kedua, suara Alex Hirano pun terdengar di ujung sana. ”Clark? Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”

Mia mengernyit. ”Maaf,” katanya cepat. ”Aku tidak mendengar bunyi telepon.”

”Apakah kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?”

”Maaf,” ulang Mia. ”Kau ada di mana sekarang? Aku akan segera ke sana.”

”Berhenti,” kata Alex Hirano tiba-tiba.

Mia otomatis berhenti melangkah walaupun ia tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu. ”Apa?”

”Ya, berhenti seperti itu,” kata Alex. ”Sekarang berputar ke kiri.”

Mia menuruti kata-kata Alex Hirano.

Dan mata Mia melebar kaget ketika melihat Alex Hirano duduk beberapa kursi jauhnya dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu tersenyum kecil kepadanya sambil menurunkan ponsel dari telinga.

Mia mengerjap heran. Pertama, karena Alex Hirano tersenyum. Laki-laki itu belum pernah tersenyum kepadanya selama Mia mengenalnya. Alex memang sering tersenyum hambar dan sinis, tetapi itu tidak bisa dihitung sebagai ”senyuman”, bukan? Kedua, karena Alex Hirano ada di sana. Mia tidak tahu mana yang lebih mengherankan baginya.

”Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Mia sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mencari seseorang yang bisa menjelaskan kenapa Alex Hirano ada di sana, lalu kembali menatap laki-laki itu. ”Sudah berapa lama kau di sini?”

Alex Hirano memasukkan ponselnya ke saku celana dan berkata ringan, ”Omong-omong, kau sudah boleh menurunkan ponselmu.”

Mia tersentak dan menyadari ponselnya masih ditempelkan ke telinga. Ia buru-buru memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia baru ingin mengulangi pertanyaannya ketika Alex menyelanya.

”Jadi itu yang dinamakan tari kontemporer,” gumam Alex sambil memandang ke arah panggung, tempat para penari sibuk berlatih.

Mia tidak tahu apakah Alex Hirano sedang membicarakannya atau para penari di panggung itu. Apakah laki-laki itu melihatnya menari tadi?

”Aku tidak menyangka kau mendengarkan lagu-lagu Italia,” lanjut Alex sambil kembali menoleh ke arah Mia.

Oh ya, laki-laki itu sudah ada di sini ketika Mia menari tadi.

Mia mengangkat bahu dan membalas, ”Aku bahkan tidak menyangka kau tahu lagu itu lagu Italia.”

Alex Hirano menatap Mia dengan mata disipitkan, tetapi kali ini Mia tidak merasa ingin mundur teratur. Tatapan Alex kali ini bukan tatapan dingin dan bermusuhan. Dan omong omong, Alex juga tidak marah-marah karena tidak bisa menghubungi Mia dan terpaksa harus menunggu. Mengherankan sekali.

”Aku ini musisi,” sahut Alex dengan sebersit nada angkuh dalam suaranya. ”Tentu saja aku tahu semua jenis lagu dan musik.”

Mia ingin membalas bahwa bukan musisi saja yang perlu tahu tentang musik. Penari juga perlu. Tetapi saat itu Alex berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari deretan kursi penonton, jadi Mia mengurungkan niatnya dan menyingkir sedikit untuk memberi jalan.

Alex keluar dari teater dan Mia mengikutinya dari belakang. ”Jadi kau sudah bertemu dengan gurumu?” tanya Mia berbasa-basi sambil mengenakan jaket luarnya.

Alex mengangguk. ”Sudah.”

”Gurumu masih ingat padamu?”

”Tentu saja,” sahut Alex dengan nada tersinggung, seolah-olah semua orang di Juilliard pasti tahu siapa dirinya.

Mia tidak berkomentar.

Alex ragu sejenak, lalu akhirnya bertanya, ”Yang tadi itu guru tarimu?”

Mia melirik Alex. Sungguh, laki-laki itu agak berbeda hari ini. Ia mengajaknya mengobrol, padahal biasanya ia hanya akan bicara dengan kalimat pendek dan seperlunya. Sepertinya suasana hati Alex Hirano sedang baik hari ini.

”Ya,” sahut Mia singkat. ”Salah satunya.”

”Dia sangat memujimu tadi.”

”Benarkah?” gumam Mia sambil lalu.

Alex menoleh menatapnya. ”Katanya kau salah satu penari terbaiknya.”

”Oh ya?” Mia mengangkat bahu. ”Banyak penari lain yang lebih baik dariku. Omong-omong, kau mau pergi ke mana sekarang? Pulang? Bagaimana kalau kau tunggu di pintu depan dan aku akan pergi mengambil mobil…”

Alex menggeleng dan menyela, ”Aku belum ingin pulang.”

”Oh? Lalu kau mau pergi ke mana?”

Alex berpikir sejenak. Lalu sekali lagi seulas senyum samar tersungging di bibirnya dan ia berkata, ”Toko musik.”

source: facebook Gramedia

Thursday, December 15, 2011

Sampul Buku Terbaru Ilana Tan - Sunshine Becomes You (Release: 2012)

Dari akun twitter Gramedia yang merujuk pula ke akun tumblr-nya, telah dirilis sampul novel terbaru karya Ilana Tan (penulis laris seri Musim - novel metropop). Dan, bagi Anda penyuka novel-novel Ilana, Anda sudah bisa pre-order lho..:)

What do you think about this cover? Do you like it? Love it? Hate it?
Me? Just surprise
...penasaran pengen tahu, bikin cerita apa lagi si mbak satu ini...:)


Ini dia sinopsisnya:

“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”

Ini adalah salah satu kisah yang terjadi di bawah langit kota New York…
Ini kisah tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan…
Tentang impian yang bertahan di antara keraguan…
Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.

Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu—malaikat kegelapannya yang sudah membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia dulu bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapannya.

Awalnya mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga. Kemudian Alex Hirano tersenyum dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.


Wednesday, March 3, 2010

(2010 - 7) Resensi Novel Metropop: Ilana Tan - Spring in London

Nggak terasa musim seminya...!



Judul: Spring in London
Penulis: Ilana Tan
Editor: -
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tema: Cinta, Persahabatan, Konflik masa lalu
Tebal: 240 hlm
Harga: Rp38.000 (Toko), Rp33.150 (inibuku) ---> Beli
Rilis: Pebruari 2010

Naomi Ishida adalah gadis blasteran Jepang - Indonesia yang tinggal dan berprofesi sebagai model di London, Inggris (Jika Anda membaca Winter in Tokyo, maka Anda dengan mudah akan mengetahui siapa itu Naomi. Ya, Naomi adalah saudara kembar dari Keiko, tokoh utama di Winter in Tokyo). Suatu ketika, Naomi mendapat kesempatan menjadi model video klip musik salah satu penyanyi terkenal asal Korea dimana ia dipasangkan dengan model tampan asal Korea juga, Jo In-Ho atau yang lebih dikenal Danny Jo. Dari mula, Naomi sudah bersikap dingin menghadapi Danny yang mencoba segala cara untuk mendekatinya. Namun, seperti juga tetesan air yang mampu membuat ceruk di karang yang kokoh sekalipun, kegigihan Danny lambat laun meruntuhkan dinding pembatas yang diciptakan oleh Naomi sehingga keduanya dapat menjalin "pertemanan" yang harmonis, meskipun kemudian ada sosok Miho yang merangsek masuk ke dalam hubungan mereka.

Maka, terjadilah tarik ulur di antara Naomi - Danny - Miho. Hubungan mereka pun pasang surut, sebentar panas sebentar dingin. Belum tuntas persaingan Naomi - Miho memperebutkan Danny, justru hadir orang dari masa lalu Naomi yang memorakporandakan jalinan kasih yang tinggal sedikit lagi terbina. Apakah akhirnya Naomi dan Danny dapat bersatu? Masa lalu macam apa yang membuat Naomi begitu ketakutan? Apa hubungan kakak laki-laki Danny dengan masa lalu Naomi? Lalu bagaimana dengan usaha Miho memperjuangkan cintanya pada Danny?

Tentu saja, Anda harus menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan membaca Spring in London karya Ilana Tan ini (buku seri musimnya yang terakhir-kah?). Awalnya saya tertarik pada Autumn in Paris (buku #2) yang meskipun mengecewakan tapi tidak menyurutkan niat saya membaca Winter in Tokyo (buku #3). Nah, berkat buku ketiga-nya saya justru penasaran dengan buku pertamanya, Summer in Seoul, sehingga lengkaplah tiga buku seri musim karya Ilana sudah saya rampungkan membacanya. Ternyata, masih ada satu lagi yang terbit (tentu saja, dari empat musim memang masih kurang satu lagi yang belum menjadi setting) di bulan Pebruari 2010, maka saya menyampirkan asa di ketinggian langit bahwa Spring in London akan menyajikan drama-romantis yang menggetarkan.

Namun, pada kenyataannya saya agak kecewa dengan yang ini. Lebih kecewa ketimbang sehabis membaca buku Autumn atau Summer-nya. Yang pertama kali saya soroti adalah minimnya konflik yang diciptakan Ilana di sini. Konflik yang terasa hanya tentang tarik-ulur perasaan antara Naomi dan Danny pada keseluruhan novel setebal 240 halaman ini. Hadirnya tokoh Miho untuk memberikan efek tegang cinta segitiga di novel ini justru kurang greget, karena meskipun telah jelas-jelas dinyatakan sikap Miho yang akan, katakanlah, berjuang sampai titik darah penghabisan demi mendapatkan cinta Danny, tidak dinampakkan antusiasme dan semangat kompetisi sehingga Miho terkesan selayaknya singa tanpa taring dan cakar. Terlihat gahar, padahal nggak bisa apa-apa. Beban masa lalu yang menjadi bandul pemberat bobot masalah dalam perjalanan cinta Naomi - Danny juga saya pikir kurang "boom" begitu. Jadi, ketika masa lalu itu dibongkar saya hanya bisa melongo dan bilang, "...eh, gini doank?"

Setiap penulis memang perlu menegaskan keunikan dan kekhasan masing-masing, dan Ilana berhasil "menyihir" fans setia-nya, setidaknya dalam seri novelnya ini, dengan menjadikan musim sebagai latar dan judul masing-masing novelnya. Ilana juga berhasil membuat keterkaitan antara satu novel dengan novelnya yang lain, meskipun cuman sekadar basa-basi belaka. Saya pikir, basa-basi itu pula yang mengikat kepenasaran dari pembaca serialnya. Pembaca yang sudah rampung dengan satu novelnya kemudian bertanya, siapa yang muncul di novel berikutnya, apakah hubungan tokoh di novel ketiga dengan tokoh di novel pertama, dan sebagainya. Hal tersebut membuat pembaca yang terhipnotis pada salah satu judul novelnya menjadi kurang lengkap jika belum menggenapi-baca kesemua musimnya. Dengan demikian, Ilana juga memperoleh keuntungan lain yaitu dapat membangun fans pembaca yang akan selalu setia menanti karya-karyanya.

Tetapi, keunikan Ilana justru tidak dibarengi dengan ragam olahan plot dan konflik yang mengagumkan. Entah disengaja atau bagaimana, plot gampang sekali tertebak. Dua orang asing, bertemu dalam satu frame, saling menghindar, berkenalan, menjalin hubungan, dan akhirnya jatuh hati. Karakter para tokohnya pun seragam. Too perfect. Too good to be true. Lebih "ngayal" dibanding tokoh-tokoh sinetron yang sering dihujat.

London, adalah kota impian saya. Menempati urutan pertama dalam daftar kota di luar negeri yang ingin saya kunjungi, sehingga tak heran saya sangat "berselera" dan bersemangat untuk sergera merampungkan-baca novel ini. Bayangan saya akan keindahan negeri dongeng raja dan ratu serta Harry Potter yang populer banget, apalagi dalam balutan musim semi yang sejuk, nyatanya tidak begitu terasa. Ilana terlalu sibuk membangun hubungan aneh antara Naomi dan Danny yang sayangnya juga tidak berkesan bagi saya. Maka sepanjang novel, saya hanya disuguhi jalinan cerita tentang seorang laki-laki yang mati-matian menarik minat seorang gadis yang nggak jelas maunya apa (di mata si lelaki). Sentilan masalah yang dilontarkan menjelang titik kulminasi terbongkarnya masa lalu Naomi hanya memberi efek tegang sesaat, begitu materi masa lalunya dibeberkan, saya tersenyum kecut dan jelas-jelas kecewa. Masa lalu yang biasa untuk menjadi sebuah pengungkit kejadian traumatik.

Yang juga terlihat kurang bagus di detail adalah usaha Ilana untuk menunjukkan bahwa setting cerita ada di kota-nya Lady Di. Seingat saya hampir tak secuil pun ada kalimat dalam bahasa Inggris - yang agak janggal bagi novel urban modern masa kini- (yang beberapa kali saya tunggu, untuk sekadar mengingatkan bahwa kita sekarang ada di London). Dan, usaha Ilana untuk meng-Inggris-kan novelnya hanya dari seringnya dia mengunakan idiom "Oh, dear" yang memang khas Inggris banget. Sayang, bagi saya pribadi, konsistensi penggunaan idiom itu menjadi satu yang agak annoying akhirnya. Kelihatan sekali bahwa Ilana ingin mengesankan si tokoh ada di negeri Britania Raya. Too bad! Nggak sukses! Kalau sempat iseng, hitunglah berapa kali kata oh, dear itu muncul (catatan saya: 13 kali).

Entah saya-nya yang sudah kadung "diracuni" infotainment di televisi/majalah/tabloid atau situs gosip sehingga saya selalu terdoktrin bahwa artis/selebritis itu paling tidak ada saja wartawan yang menguntit mencari berita sensasi tentang diri si artis. Nah, kenapa saya tidak mendapati sedikit saja sensasi glamor dari kehidupan Naomi - Danny, yang ceritanya Naomi pernah ikut London Fashion Week dan Danny yang adalah bintang iklan favorit di Korea? Oh, come on, di sini saja
(baca: Indonesia) ada banyak majalah dan tabloid yang isinya artis-artis Asia timur (Korea, Jepang, China, Taiwan, Hongkong), apakah di negeri mereka sendiri mereka tidak diberitakan? Berarti mereka bukan artis yang ngetop-ngetop amat ya...

Yang saya suka dari gaya bercerita Ilana adalah caranya mengambil point of view yang bergantian antara Naomi dan Danny, meskipun kata ganti yang digunakan tetap orang ketiga. Kadang, pada satu peristiwa diulas dari dua sudut yang berbeda, sudutnya Naomi dan sudutnya Danny. Sayang, yang seperti itu tidak konsisten dilakukan oleh Ilana. Justru tiba-tiba cara penceritaan itu dilewatkan tokoh lain yang sebelum dan sesudahnya hanya mempunyai porsi figuran/cameo belaka. Satu hal yang juga tidak masuk dalam takaran selera saya karena dengan demikian sang narator menjadi plin-plan, suatu ketika serba tahu, di lain kesempatan berpura-pura misterius. Nggak banget deh!

Kesalahan teknis percetakan juga banyak sekali, ya ampun... saya sampai harus mengelus dada dan berusaha menyabar-nyabarkan diri. Kata hati saya memberi nasihat, "ketikan yang kacau nggaka kan bikin cerita yang bagus jadi amburadul," yang sayangnya sama sekali tidak berguna bagi saya yang menyukai karya tulis yang diproduksi secara cermat. Karya tulis yang menghargai ke"awwam"an dari pembacanya (seperti saya), sehingga meminimalisai segala bentuk kesalahan cetak agar tidak mengurangi kenyamanan dalam membaca. Berikut adalah beberapa kesalah ketik tersebut:
(hlm: 12) ---> mmebuat saya bingung, Danny: Nuna harus bicara dengan Ibu, Anna: ...apa yang harus kubicarakan dengan Ibu?, Danny: Nuna, aku harus benar-benar bicara dengan Ibu. Nah, jadi sebenarnya dalam dialog ini Danny ingin minta tolong kakaknya untuk bicara dengan ibunya, atau akhirnya dia memutuskan untuk bicara sendiri pada ibunya? membingungkan.

(hlm: 13) Nuna tahu, akhir akhir aku sangat sibuk.... ---> tidak kah sebaiknya ditambahkan kata "ini" setelah kata "akhir-akhir"?

(hlm: 16) ....membuatmu merasa seperti di melayang di angkasa.... ---> seharusnya kata "di" yang ada di depan kata "melayang" dihilangkan.

(hlm: 34-35) salah satu contoh kelemahan Ilana adalah diksinya yang terbatas, dia gemar sekali mengulang-ngulang kalimat, salah satunya adalah: "...terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak, tidak bisa bersuara, tidak bisa bernapas." Kalimat ini hampir-hampir sering sekali digunakan Ilana di sepanjang novel ini.

(hlm: 112) kalimat redundansi ---> Ia ingin melihat gadis itu, melihat gadis itu tersenyum.....

(hlm: 116) "Aku ingat jelas aku menanyakannya." Chris menegaskan ---> harusnya Danny di sini yang menegaskan, bukan Chris.

(hlm: 157) Chris: "Kau mau aku menyeret Miho menjauh dari Danny?", Miho menggeleng. "Tidak apa-apa , Chris...." ----> harusnya yang menggelang adalah Naomi.

.............dan rasanya masih ada buanyakkkkk lagi kesalahan teknis cetak yang lainnya.

Maka, perpaduan antara segepok kesalahan teknis, minimnya konflik yang merangkai cerita, goyahnya beberapa karakter kunci, skenario klise yang gampang ketebak, serta diksi yang kelewat minim dan sering berulang membuat novel ini menjadi seri terjelek dari metropop seri musimnya Ilana, menurut saya pribadi. Semoga saja, di novel berikutnya Ilana lebih bisa mengeksplorasi tema dan plot yang berbeda sehingga dapat menyuguhkan novel yang tetap romantis namun berbobot.

Okay...selamat membaca, kawan!

Sinopsis (cover belakang)
Gadis itu tidak menyukainya. Kenapa?

Astaga, ia—Danny Jo—adalah orang yang baik. Sungguh! Ia selalu bersikap ramah, sopan dan menyenangkan. Lalu kenapa Naomi Ishida menjauhinya seperti wabah penyakit? Bagaimana mereka bisa bekerja sama dalam pembuatan video musik ini kalau gadis itu mengacuhkannya setiap saat? Kesalahan apa yang sudah dia lakukan?

Bagaimanapun juga Danny bukan orang yang gampang menyerah. Ia akan mencoba mendekati Naomi untuk mencari tahu alasan gadis itu memusuhinya.

Tetapi ada dua hal yang tidak diperhitungkan Danny. Yang pertama adalah kemungkinan ia akan jatuh cinta pada Naomi Ishida yang dingin, misterius, dan penuh rahasia itu. Dan yang kedua adalah kemungkinan ia akan menguak rahasia gelap yang bisa menghancurkan mereka berdua dan orang-orang yang mereka sayangi.
Review dan ratingnya di Goodreads

Monday, September 7, 2009

Resensi Novel Metropop: (Repost) Ilana Tan - Autumn In Paris

Jatuh cinta pada saudara sendiri


Sebenarnya aku pengin ngasih bintang dua setengah tapi nggak ada pilihannya, jadinya aku pilih bintang dua saja, karena menurutku bintang tiga terlalu banyak. Sebelumnya perlu kusampaikan bahwa review ini adalah berdasarkan rasa dan seleraku saja, selaku penikmat novel. Jujur, aku tidak punya latar belakang ilmu sastra sama sekali, jadi review ini adalah subjektif dari aku sendiri.

Keinginan untuk menebak. Dari sebuah misteri. Yang menciptakan penasaran. Itu adalah benang merah yang aku tangkap dari novel kedua karya Ilana Tan ini. Novel pertamanya (juga masuk dalam genre metropop-nya Gramedia Pustaka Utama/GPU) bertitel Summer In Seoul, dikatakan ada sedikit kaitan antara novel ini dengan novel pertama itu. Hanya sedikit. Di awal cerita Ilana berusaha membuat kita menebak, mengapa ada seorang perempuan yang dipanggil-panggil oleh seorang laki-laki tetapi dia tidak menggubrisnya. Di sini, Ilana juga mencoba menyeret kita untuk bersabar mengetahui identitas lelaki tersebut. Dan menurutku ini sudah sangat umum di banyak novel sehingga kesan misterius tidak lagi didapatkan pada bagian awal novel setebal 265 halaman ini.

Bab-bab berikut terjalin dengan efek 'penasaran' yang dengan susah payah coba dibangun oleh penulis. Dari pertemuan tak terduga Tara (lakon utama perempuan) dengan Tatsuya (lakon utama laki-laki 1) yang kemudian berlanjut dengan perkenalan resmi mereka lewat perantaraan Sebastien (lakon utama laki-laki 2) dirangkai sedemikian rupa, berharap pembaca menebak apa yang berikutnya dapat terjadi.

Kelemahan 'efek penasaran' yang coba dibangun oleh penulis mulai terlihat ketika dengan mudah aku bisa menebak rahasia besar apa yang disimpan Tatsuya. Berikutnya juga gampang sekali ditebak mengapa Tatsuya sangat membenci Paris, mengapa akhirnya Tatsuya mencintai Paris, dan bagaimana kelanjutan hubungan Tara-Tatsuya. Dari sini aku dengan gamblang dapat menebak kemana alur akan dibawa oleh penulis. Satu kelemahan lain yang tampak adalah ending dengan mematikan salah satu karakter utama seakan tak lagi memberikan efek dramatis karena tema cerita yang kelewat sederhana menurutku. Yah, tema utamanya adalah kisah cinta dua saudara seayah yang tak saling mengenal yang akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa cinta mereka tidak mungkin dapat bersatu.

Aku sebenarnya mengharapkan bahwa salah satu karakter nekat, secara ekstrem melawan dunia dengan tetap memperjuangkan cinta terlarang tersebut. Tetapi sepertinya penulis tidak mau berkontroversi dengan membuat kedua karakter ikhlas menerima keadaan dan menyerahkan kepada takdir untuk menyelesaikan masalah mereka.

Secara keseluruhan, aku kurang 'merinding' membaca novel yang sebenarnya masuk kategori melankolis-romantis-dramatis ini. Merinding adalah salah satu ukuran bagiku untuk dapat menilai sebagus apa (tentu sesuai seleraku) novel yang baru saja kubaca. Tetapi harus kuakui Ilana mampu merangkai kata dengan cukup ciamik, dialog yang mengalir lancar, dan deskripsi adegan romantis yang bikin 'ngiri'. Oke, bagi siapa saja yang butuh novel tragis dan romantis, novel ini pantas untuk dikoleksi.

Catatan: review ini saya posting di http://bukabuku.multiply.com (03 Agustus 2007), saya repost kembali tanpa sunting-ulang (kecuali edit tulisan).

Wednesday, October 8, 2008

Resensi Novel Metropop: Ilana Tan - Winter in Tokyo

Cinta pertama yang berkesan...
Tetangga baruku, Nishimura Kazuto, datang ke Tokyo untuk mencari suasana baru. Itulah katanya, tapi menurutku alasannya lebih dari itu. Dia orang yang baik, menyenangkan, dan bisa diandalkan. Perlahan-lahan---mungkin sejak malam Natal itu---aku mulai memandangnya dengan cara yang berbeda. Dan sejak itu pula rasanya sulit membayangkan hidup tanpa dia.
---Keiko tentang Kazuto

Sejak awal aku sudah merasa ada sesuatu yang menari dari Ishida Keiko. Segalanya terasa menyenangkan bila dia ada. Segalanya terasa baik bila dia ada. Saat ini di dalam hatinya masih ada seseorang yang ditunggunya. Cinta pertamanya. Kuharap dia bisa berhenti memikirkan orang itu dan mulai melihatku. Karena hidup tanpa dirinya sama sekali bukan hidup.
---Kazuto tentang Keiko

Mereka pertama kali bertemu di awal musim dingin di Tokyo. Selama sebulan bersama, perasaan baru pun mulai terbentuk. Lalu segalanya berubah ketika suatu hari salah seorang dari mereka terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir, termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya...
Judul: Winter in Tokyo
Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop
Tebal: 320 halaman
Harga (Toko): Rp40.000
Rilis: Agustus 2008

Ketimbang Autumn in Paris (AiP) tempo hari, Winter in Tokyo (WiT) ini lebih meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi saya. Liku-liku cerita asmara si tokoh utama dibalut dengan beragam konflik dan penokohan yang kukuh dan utuh meskipun dengan alur yang linier, kadang gampang ditebak, dan ending yang… ya begitulah. So… happy ending.

Sebenarnya metropop Ilana dimulai dengan Summer in Seoul (SiS), kemudian AiP, baru WiT. Namun, saya belum membaca yang pertama, SiS. Ketiganya merupakan serangkaian karya Ilana yang cukup unik dengan mengambil setting tempat berbeda tergantung musim sebagai judulnya. Sangat khas. Dan, menarik. Pada satu adegan dibuatkan benang merah metropop sebelumnya meskipun tidak berpengaruh banyak. Hanya untuk mengingatkan pembaca bahwa sebelum metropop yang ini, ada metropop karya Ilana yang sudah lebih dulu terbit.