Showing posts with label Teenlit. Show all posts
Showing posts with label Teenlit. Show all posts

Monday, December 18, 2017

[Resensi Novel Teenlit] TwinWar by Dwipatra

#8_2017
First line:
DUA tahun lebih sudah berlalu sejak Hisa pindah dari kamar ini.
---hlm. 7, Bab 1

Gara dan Hisa kembar identik. Penampilan kedua cowok itu persis sama. Karennya pun sama. Tapi minat dan kemampuan? Beda jauh! Gara berotak encer dan kemampuan akademiknya gemilang. Sementara itu, Hisa jago olahraga dan sederet trofi kejuaraan berhasil ia raih. Walaupun bersekolah di SMA berbeda, persaingan mereka tak pernah surut.

Dalam keluarga mereka, ada satu aturan yang tidak boleh mereka langgar. "Gara dan Hisa tidak boleh pacaran sebelum lulus SMA dan diterima masuk di perguruan tinggi." Kalau sampai aturan itu dilanggar, konsekuensi yang akan mereka terima tidak main-main.

Kisah ini bermula ketika Hisa mengetahui ada foto cewek di handphone Gara. Ya, diam-diam Gara memang berpacaran dengan Dinar. Mendapati rahasia Gara, Hisa seolah mendapat senjata ampuh untuk "menghancurkan" saudara kembarnya. Jadi, siapa bilang saudara kembar nggak bisa perang?

Judul: TwinWar
Pengarang: Dwipatra
Editor: Miranda Malonka
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 296 hlmn
Rilis: 4 Desember 2017
Harga: Rp69.000
ISBN: 9786020376790
My rating: 3 out  5 star

Well, pendapat saya untuk novel ini mungkin termasuk yang enggak populer, ya, mengingat sampai dengan sekarang rating untuk novel ini di Goodreads cukup bagus, 4.04. Saya pun agak bimbang antara 2,5 bintang menuju dua atau cenderung tiga, yang pada akhirnya dengan segala pertimbangan saya lebih condong membulatkan ke tiga bintang.

Membaca teenlit (di saat sekarang) serupa mengorek-ngorek kotak kenangan. Mencari sekelumit kesan yang tertinggal di masa ke-teenlit-an saya sendiri. Beberapa hal tak berubah, meskipun sebagian besarnya berubah. Tentu saja, teknologi mengubah segalanya, termasuk pola kehidupan individu dan sosial di bangku SMA dari waktu ke waktu. 

Mengetahui TwinWar dinobatkan sebagai Juara 1 kompetisi GWP batch 3, membuat saya demikian penasaran. Well, saya memang pengejar segala yang berbau top-top-an. Saya mendengarkan lagu yang sedang hits dan menduduki tangga lagu teratas. Saya menonton film yang tengah merajai panggung box office. Dan saya pun tak ketinggalan membaca buku-buku pemenang penghargaan ini dan itu. Lebih ke menuntaskan rasa penasaran: benarkah mereka (lagu, film, buku) sebagus penilaian juri/orang-orang?

Jujur saja, saat ini saya hanya membaca teenlit karangan Ken Terate saja (dan sesekali karya Windhy Puspitadewi). Saya malas mencoba-coba. Paling maksimal, saya akan bertanya sana-sini dulu jika ada satu-dua judul teenlit yang sedang hits, yang belum tentu saya baca juga. Maka, ketika memutuskan mengunduh novel TwinWar di aplikasi ScoopPremium, saya punya ekspektasi setinggi langit(-langit kamar), bahwa saya (mungkin) punya cadangan nama selain Ken (dan Windhy) untuk bisa saya ikuti karya tulis teenlitnya.

Hasilnya: saya enggak yakin. TwinWar tak berhasil memenuhi harapan. Segala sanjungan yang diberikan untuk novel ini, hanya satu-dua saja yang saya aminkan. 'Lil bit disappointing, for me, at least. Bukan enggak bagus, tapi lebih ke "gagal" memenuhi ekspektasi.


Pertama, alasan pribadi: saya tak suka plot gontok-gontokan di awal lalu jadi akur di akhir. Hahaha. Lha terus kenapa masih nekat baca juga? Salahkan rasa penasaran saya. Lagian kenapa enggak suka plot begitu? Quite predictable, menurut saya. Makanya, sepanjang baca saya menunggu plot-twist, yang sayangnya enggak ada sampai akhir. Entah saya baca di review siapa, yang bilang novel ini emosional dan bikin nangis, saya pikir salah satu dari si kembar bakal ada yang dimatiin, dan saya memang sempat kepikiran juga sewaktu ada adegan di****li dan pi****n itu. Eh, ternyata enggak.


Untuk cerita soal saudara kembar, saya suka banget sama film The Parent Trap versi tahun 1998 yang dibintangi Lindsay Lohan (sewaktu kecil). Kisahnya sederhana, tapi ditulis dan dirangkai sedemikian memikat sehingga saya benar-benar jatuh cinta pada kisahnya. Premisnya: dua saudari kembar yang harus terpisah karena orangtua meraka bercerai, satu di Inggris (Annie) dan satu lagi di Amerika (Hallie). Keduanya kembar identik, cuma karena beda lingkungan dan pola pengasuhan, memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Namun, sama dengan film ini, saya pun agak kurang diyakinkan dengan body type Hisa-Gara ketika bertukar peran. Diceritakan Hisa adalah maniak olahraga (khususnya lari), sedangkan Gara cenderung kutu buku. Dari situ, bukankah tak cukup hanya sekadar mengubah gaya rambut untuk bisa mengelabui teman dekat? Paling tidak Hisa punya bodi tipe atlet yang lebih terbentuk ketimbang Gara, kan? Pun, dengan sikap tubuh. Atau saya ada miss pada bagian ini?


Kedua, alasan pribadi: saya tak suka gaya menulis yang mengajak pembaca bicara. Hahaha. Cuman personal taste saja. Untuk standar fiksi, saya paling benci tokoh yang suka ngomong sendiri dan narator yang seolah-olah mengobrol sama saya, menggunakan kata "kalian" atau "kamu" ketika mendeskripsikan suatu keadaan (saya lupa nge-bookmark contoh di naskah ini), tapi tahulah ya, yang saya maksud?

Ketiga, saya merasa pengarang sedang mengampanyekan "mari pacaran di SMA" di sini. Yaelah, biarin saja, sih, emang enggak boleh? Hahaha, ya bolehlah, hanya saja saya lebih menyukai hal-hal yang dibuat natural. Di novel ini (yang saya tangkap), "larangan pacaran" dianggap mengada-ada dan tidak efektif, jadi mestinya bebaskan saja para remaja SMA berpacaran. Saya agak konservatif menyoal pacaran ini.


Keempat, meskipun saya tak pernah tergabung di klub kompetitif apa pun selama SMA (saya hanya pernah ikut ekskul Pramuka), saya rasa agak sedikit janggal jika antaranggota klub memiliki rivalitas-menjurus-permusuhan seperti yang ditunjukkan Hisa dan Faisal. Dan, guru olahraga yang menjadi pembina klub itu pun seolah-olah membiarkan. Saya paling enggak suka bagian ini. Entahlah, sebagai pengamat olahraga abal-abal, saya kok merasa novel ini gagal menunjukkan semangat sportivitas. Apalagi ini masih pada piyik, lho, mestinya rivalitasnya tak semengerikan itu. Kalau digambarkan beda sekolah, mungkin masih masuk akal. Entahlah, saya pada posisi tak setuju konflik ini yang dipilih untuk mewarnai kisah salah satu dari si kembar.


Kelima, saya pun sempat membaca di salah satu review yang menyebut TwinWar bisa jadi jembatan untuk para remaja lelaki menyukai membaca (terutama teenlit) karena tema dan nuansanya yang maskulin. Hmmm, setuju-tak-setuju. Hahaha. Saya rasa tetap kurang jantan. Namun, saya setuju saja sih, bahwa TwinWar dan logo baru teenlit yang lebih netral, bisa saja jadi pemicu (kembali) booming-nya novel teenlit, termasuk di kalangan remaja cowok.

Keenam, semua orang harus happy. Hmmm, saya masih berharap ada yang unik nan berbobot dari TwinWar ini. Sayang, setiap konflik yang ada seolah-olah "dipaksakan" harus selesai secara tuntas, dan harus damai. Selain minim plot twist, tak ada yang "meledak" di mana pun di novel ini. Sempat kaget saja tidak.


Ketujuh, ehmmm, masih cukup banyak typo bertebaran di sana-sini. Oh, saya baca versi digitalnya, sih, enggak tahu apakah versi fisiknya bakal sama atau lebih rapi ketimbang digitalnya. Typo minor doang, tapi tetap mengganggu buat saya.

Di sisi lain, TwinWar memang ditulis dengan gaya lugas dan selipan humor di sana-sini (meskipun buat saya tetap kurang nendang) serta diksi sederhana yang membuat rajutan kisahnya mengalir lancar. Well, sebagai penggila quote, saya agak kecewa karena tak menemui banyak kalimat yang memorable dan cocok dipasang sebagai caption di Instagram (sepanjang enggak dilarang). #eaaa


Uhmm, saya sudah mengunduh ketiga naskah pemenang GWP. Kemarin sempat kepingin memulai-baca Seventeen Once Again, yang kayaknya lebih lincah gaya penceritaannya, tapi... enggak dulu, kayaknya. Saya salip One of Us is Lying aja dulu, deh.

End line:
"Gar, lo sadar nggak, kalau lagi dijadiin lap keringet sama Hisa?"
---hlm. 288, Bab Epilog

Tuesday, June 23, 2015

[Resensi Novel Teenlit] Minoel by Ken Terate

Jangan jadi IDIOT karena cinta...


Kata orang, cinta butuh pengorbanan. Kata orang, cinta berarti memberi. Itulah yang dipercaya Minoel saat Akang menawarkan cinta dan mimpi indah. Minoel melayang ke awang-awang. Akhirnya ada juga cowok yang mencintai dirinya yang cacat.

Minoel menerima cinta Akang. Meskipun itu berarti dia tidak bisa ikut kegiatan hadrah dan pramuka lagi. Meski itu berarti dia tidak bisa sering-sering main dan gosip bareng Lilis dan Yola lagi.

Namun, Akang berubah. Lelaki itu mulai bertingkah kasar dan tak masuk akal. Inilah ujian cinta Minoel. Akang mau menerimanya yang serba kekurangan, miskin, bodoh, dan cacat. Sudah seharusnya dia menerima kelakuan Akang yang buruk, kan? Toh buruknya hanya kadang-kadang.

Yola dan Lilis terus membela dan mengingatkan Minoel bahwa Akang tidak baik untuknya, dan Minoel terus mengabaikan teman-temannya. Tapi, ketika Akang mulai menuntut Minoel menyerahkan diri sepenuhnya, Minoel mulai bertanya apakah cinta memang butuh pengorbanan SEBESAR itu? Lebih jauh lagi, apakah itu benar-benar cinta?

Judul: Minoel
Pengarang: Ken Terate
Pewajah sampul: Erick Pramono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 hlm
Harga: Rp55.000 (beli di Gramedia Gandaria City)
Rilis: Mei 2015
ISBN: 9786020316802

https://www.goodreads.com/book/show/25579184-minoel?ac=1

Disadari atau tidak, salah satu tugas seorang pengarang adalah menyediakan sepasang sepatu untuk bisa dicoba dikenakan oleh pembacanya. Mau tak mau, pembaca mesti rela melepaskan sepatunya sendiri terlebih dahulu dan mencoba sepatu yang disediakan si pengarang tersebut. Harus ada kerelaan, kalau tidak maka sedari awal pembaca sejatinya sudah menolak menerima gagasan apa pun yang akan disampaikan pengarang dalam bukunya.

Kali ini, lewat Minoel, Ken Terate menawarkan sepasang sepatu milik Minoel untuk saya coba kenakan agar saya bisa menyelami suasana batin Minoel, seorang gadis SMA yang dikisahkan difabel (pincang), melarat, orangtua pemarah, dan lingkungan yang serbaberat. Beragam konflik mesti ikut saya rasai dan dari situlah saya ikut terlibat secara emosional dalam kisah ini. Mencoba memahami dan meresapi setiap adegan kehidupan remaja penuh liku ini.


Saturday, May 9, 2015

Selamat 11 Tahun Teenlit GPU!!!

Wow, sudah sebelas tahun, ya, sejak kali pertama Teenlit diterbitkan? Tentu bukan rentang waktu yang singkat, ya. Dan, pengalaman juga membuktikan, novel-novel berlatar dunia remaja khas Teenlit masih terus ada dan dierbitkan oleh GPU. Dan, terutama, masih terus digemari pembaca remaja (ataupun non remaja) Indonesia.

Ini testimoni saya untuk 11 tahun keberadaan Teenlit di tengah dunia perbukuan tanah air, yang disertakan dalam kumpulan cerpen 11 Jejak Cinta yang baru saja diterbitkan untuk merayakan hari lahirnya Teenlit:


Kita semua pasti pernah melewati masa-masa remaja. Semua keceriaan khas darah muda. Semua kegalauan masa kanak-kanak yang harus segera ditinggalkan. Keluarga. Sahabat. Dan, cinta. Bahkan, tujuh warna pelangi tak akan sanggup mengalahkan perpaduan jutaan warna pada masa-masa remaja.

Semua hal baru kadang membingungkan. Butuh ada yang memandu untuk mencari jalan atau mungkin sekadar teman jalan untuk tersasar-tapi-menyenangkan. Teman baru mungkin belum bisa diandalkan. Pacar baru, apalagi. Sama-sama dalam perjalanan yang tak terduga nan mendebarkan. Bisa jadi, di ujung lorong kelas ada kakak senior yang siap menggencet. Sedang, di tikungan dekat UKS ada saingan yang masih berusaha merebut pacar barumu. Lalu, di belokan tepat dekat kantin, ada sahabat yang ternyata menikammu dari belakang, menyebarkan gosip yang tak benar tentangmu.

Apa pun bisa terjadi di dunia remaja. Dan, pengetahuan tentang kehidupan yang masih terbatas bisa jadi mengacaukan pikiran. But, hey… beruntunglah, kini ada Teenlit. Sedih, pengin nangis, senang, pengin ketawa, ada Teenlit yang menemanimu. Kisah-kisah yang tersaji dalam novel Teenlit sangat mungkin membantumu melalui beragam kebingungan menghadapi masa remajamu.

Saya pun merasa beruntung. Well, memang sudah lewat masa remaja saya ketika Teenlit “lahir”, tapi berkatnya saya berkesempatan mengenang masa-masa remaja saya dulu… banget. Bernostalgia melewati lorong-lorong waktu yang merekam semua kejadian. Bikin iri, sudah pasti. Bikin keki, iya juga. Kalaulah saya punya mesin waktu atau mukjizat kembali ke masa lampau, saya ingin merasai pengalaman menjadi remaja seperti yang dikisahkan dan digambarkan dalam novel-novel teenlit. Saya kepingin sekuat dan seceria Fairish. Saya kepingin punya sahabat-sahabat sejati semacam Wening, Marshella, dan Joy. Dan, tentu, saya tak akan menolak merasai kisah seromantis Dealova. Ahh… indahnya.

Jadi, selamat hari lahir, Teenlit. Terima kasih telah memberi warna pada dunia literasi Indonesia. Dan, teruslah bersemangat untuk menghadirkan kisah-kisah remaja yang menginspirasi.

Dari yang mengaku-aku sebagai kakakmu,
XOXO - @fiksimetropop

Friday, August 29, 2014

[Posting Bareng BBI] The Chronicles of Audy: 21 by Orizuka

Pekerjaan CINTA...
Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti, tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali setelah memberiku titel baru: "bagian dari keluarga".

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka,
pada suatu siang,
salah seorang dari mereka mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana!

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan,
terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.


Pengarang: Orizuka
Penyunting: Tia Widiana
Proofreader: NyiBlo
Penerbit: Haru
Tebal: 308 hlm
Harga: Rp57.000
Rilis: Juli 2014
ISBN:9786027742376

Seperti halnya penggemar Audy dan empat cowok keren hasil rekaan Orizuka: Regan, Romeo, Rex, dan Rafael yang ngehits lewat novel remaja The Chronicles of Audy: 4R, saya pun tak sabar menantikan kelanjutan kronik hidup Audy yang penuh warna. Selepas pontang-panting menjadi babysitter sekaligus asisten rumah tangga karena mesti mendapatkan uang untuk biaya kuliah (yang tinggal skripsi), apa lagi yang bakal terjadi pada Audy? Dan apa pula yang akan terjadi pada 4R? Itulah yang kami—saya—tunggu-tunggu jawabannya.  Syukurlah, akhirnya buku kedua dari serial menggemaskan karya Orizuka ini diterbitkan juga oleh Penerbit Haru.

Satu kata: BAGUS!

Wednesday, July 9, 2014

[Kabar Buku] Peluncuran Buku Tomodachi, Novel Terbaru Winna Efendi

Terhitung sudah dua kali saya mengikuti event peluncuran novel terbaru karya Winna Efendi. Sebelumnya saya ikut serta dalam peluncuran perdana novelnya yang berjudul Unforgettable. Sayangnya, saya malah forget tanggal persisnya acara itu kapan. Hihihi, mohon maklum, faktor U sepertinya. Hufft.

Ketika mendapat informasi pertama kali tentang rencana penyelenggaraan peluncuran Tomodachi, saya meragu. Betapa tidak, acara diselenggarakan tanggal 5 Juli 2014 yang bertepatan dengan bulan puasa (acara dikemas dalam acara buka puasa bersama) dan berlokasi di sebuah restoran Jepang di kawasan Jalan Sabang. Matik! Saya kan nggak suka sushi-sushi-an begitu. Tapi, toh akhirnya saya tetap mendaftar dan berangkat juga. Magnet seorang Winna Efendi masih begitu kuat memikat saya.


Monday, July 7, 2014

[Resensi Novel Teenlit] Jurnal Jo 3: Episode Cinta by Ken Terate

LAWAN Bullying!!!

Sinopsis:
Wah, ada cowok baru di kelas Jo Wilisgiri: Izzy. Izzy bukan sekadar cowok, tapi selebriti! Cakep, terkenal, lucu, perfect! Semua cewek dibuat “demam” olehnya, termasuk Jo. Tapi masalahnya Jo nggak boleh “demam” gara-gara cowok lain karena dia sudah punya Rajiv yang ganteng dan baik hati.

Seiring waktu Jo sadar si cowok selebriti itu ternyata jail luar biasa. Sebut saja: menciptakan berbagai olok-olok ajaib sampai mengerek baju renang di tiang bendera. Hm, awalnya lucu sih, tapi lama-lama kok norak ya. Apalagi kalau kamu yang dikerjain. Please deh, lucunya di mana sih?

Parahnya, Sally—sahabat sejati Jo yang sangat memuja Izzy—justru dikerjai oleh Izzy sampai masa depannya terancam suram. Jo pengin menyelamatkannya, tapi Sally justru marah dan memusuhinya. Nabila, sahabat Jo yang lain, juga dikerjai tapi mati-matian melarang Jo buat mengadu.

Aduh, masalah seolah tak ada habisnya. Hubungan Jo dengan Rajiv gonjang-ganjing karena Mama melarang Jo pacaran. Selain itu ada proyek besar semester ini: bikin laporan soal kelestarian sungai. Gawat! Dalam proyek ini Jo sekelompok dengan Izzy dan Sally. Bisa-bisa Jo bakal nggak dapat nilai.

Puncaknya: Rajiv, satu-satunya sahabat waras Jo, harus kuliah di Amerika.

Wow! Benar-benar semester yang gila untuk Jo. Berantakan, galau, kacau-balau, tapi tetap seru, lucu, dan penuh cinta!

Judul: Jurnal Jo 3 - Episode Cinta
Pengarang: Ken Terate
Ilustrator kover: Erick E. Pramono
Penerbit: Gramedia
Tebal: 240 hlm
Rilis: Juni 2014
Harga: Rp50.000
ISBN: 978-602-03-0569-1

Asli, membaca karya-karya Ken Terate selalu mengaduk-aduk perasaan. Kesal, haru, bahagia, sedih, geregetan, semua jadi satu. Di satu bagian saya bisa cekikikan nggak keruan, di bagian lain saya akan mengelus dada sangking ikut terlarut dalam kisahnya.Singkat kata, Ken berhasil mempermainkan emosi saya selama proses pembacaan buku-bukunya. Tak terkecuali novel teenlit terbarunya yang merupakan buku ketiga dari serial Jurnal Jo yang ditulisnya, Jurnal Jo 3: Episode Cinta.

Tuesday, April 22, 2014

[Resensi Novel Remaja] Diary Princesa by Swistien Kustantyana (+ GIVEAWAY voucher belanja Gramediana)


[Catatan: demi independensi, buku yang diresensi di blog ini dibeli sendiri oleh peresensi]

Every cloud has a silver lining…

"Menurutmu kenapa Aksel menyukaiku?" aku melemparkan pertanyaan cheesy kepada Sisil. Sisil tertawa. "Kamu ingin mendengarkan pujian terus ya hari ini? Tentu saja karena Princesa itu cantik, pintar, dan baik hati."

Aku tertawa mendengar jawabannya. Seandainya saja Sisil tahu, aku mengharapkan jawaban lain kenapa Aksel menyukaiku. Jawaban yang tidak standar. Seperti jawaban milik Nathan.

Princesa atau akrab dipanggil Cesa adalah cewek yang penuh percaya diri. Dia tahu kalau dia itu cantik, pintar, populer, dan banyak yang naksir. Cesa bisa saja memilih cowok mana pun untuk dijadikan pacar, enggak bakal ada yang nolak deh! Kecuali cowok yang satu itu. Cowok yang menjadi sahabat kakaknya, Jinan. cowok yang Cesa tahu menyimpan rasa hanya untuk kakaknya.
Pengarang: Swistien Kustantyana
Penyunting: Laras Sukmaningtyas
Perancang sampul: Neelam Naden & Aldy Akbar
Penerbit: Ice Cube (KPG)
Tebal: 260hlm
Harga: Rp44.000
Rilis: Februari 2014
ISBN: 978-979-91-0679-7

Selalu menyenangkan membaca novel yang di dalamnya juga banyak menyebut atau menceritakan tentang novel/buku lain. Tentu, lebih mudah terhubung dengan mood baca jika ternyata buku-buku yang disebut itu sama dengan buku yang pernah saya baca. Atau sebaliknya, jika buku-buku yang disebut di buku belum pernah saya baca, bisa jadi referensi untuk mencari buku-buku itu nantinya. Diary Princesa ini juga banyak menyebut judul-judul buku populer, sehubungan dengan salah satu tokohnya, Jinan, yang memang gemar membaca.

Sunday, April 20, 2014

[Resensi Novel Teenlit] Touche Alchemist by Windhy Puspitadewi


Teenlit dengan sentuhan yang lain…

Sinopsis


Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.

Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi.

Pengarang: Windhy Puspitadewi
Ilustrator: Rizal Abdillah Harahap
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 224hlm
Rilis: Maret 2014
Harga: Rp48.000
ISBN: 978-602-03-0335-2
Keterangan: sekuel dari Touche

Tanpa punya bekal telah membaca Touche, saya tetap memberanikan mencomot Touche Alchemist karya Windhy ini. Dan, sungguh menyenangkan membaca buku tanpa persiapan seperti ini. Meskipun, tentu saja, saya sudah harus menyiapkan diri bakal mengumpat karena kecewa atau mendesah lega karena puas telah meluangkan waktu membacanya. Sebut saja, saya sedang berjudi dengan selera. Saya bersyukur, kali ini saya beruntung. Buku ini memuaskan selera saya.

Wednesday, April 10, 2013

[Resensi Novel Teenlit] Love Bracelet by Hanna Natasha

Jauhhh dari harapan...

Alvina terpaksa berpisah dengan Christy. Sahabatnya itu pindah ke Jerman. Tapi sebelum pergi, Christy berbagi gelang kembar dengan Alvina.

Beberapa tahun kemudian, saat SMA, Alvina bertemu dengan Farell, murid baru yang langsung jadi perhatian para murid cewek. Anehnya, Alvina merasa tingkah laku Farell sangat mirip dengan Christy.

Yang lebih aneh, Farell tahu soal kotak mainan yang dulu disembunyikan Alvina bersama Christy di taman. Dan Alvina semakin heran saat menemukan gelang kembar milik Christy ada di ransel Farell.

Apakah Farell dan Christy memiliki hubungan?
Apakah mungkin Farell adalah Christy?

Judul: Love Bracelet
Pnegarang: Hanna Natasha
Editor: Desmonia Ningrum
Pewajah sampul: Cecilia Hidayat
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 hlm
Harga: RP35.000
Rilis: April 2013
ISBN: 978-979-22-9447-7
My rating: 1 out of 5 star (apresiasi karena telah menulis novel ini).

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya.....terserah Anda! 
Well, tagline iklan sebuah produk yang sempat populer beberapa tahun silam itu sepertinya cocok untuk menggambarkan betapa sebuah kesan pertama biasanya cenderung menentukan apa yang akan kita dapatkan selanjutnya. Berkat keikutsertaan saya sebagai salah satu juri seleksi pada Lomba Amore 2012/2013, saya mendapat petuah editing yang keren dari editor yang menjadi mentor saya, "Kalau naskah itu gak bisa bikin kamu betah di 20 halaman pertama, apa yang bisa kamu harapkan untuk membuatmu betah baca sampai akhir?" Yap, setuju. Kalau di bab-bab awal saja kita sudah dilanda bosan setegah sekarat, apakah masih ada harapan di tengah hingga ke akhirnya akan ada keindahan yang bisa direngkuh? Mungkin ada sih, tapi sepertinya probabilitasnya sangat jarang.

Saya begitu terpikat dengan gaya menulis Hanna Natasha ketika selesai membaca Runner-Up Girl, novel teen lit debutan Hanna tahun lalu. Tak tanggung-tanggung, 4 bintang saya sematkan pada novel itu. Dengan kesan pertama yang sedemikian menggoda, tentu saja saya langsung melambungkan harapan bahwa novel kedua Hanna akan bagus banget atau setidaknya setara bagusnya dengan novel pertamanya itu. Yah, kalau nggak bagus dari segi cerita pun, seharusnya masih bisa memukau dari segi tulisan. Hasilnya? NOL BESAR!

Saya sampai mual rasanya membaca novel Love Bracelet ini, *mulai lebay-mulai drama*. Sejak mengintip-baca pertama kali sehabis membeli (untung diskon 30%), saya langsung melotot ternganga. Dan, lalu mencoba melihat kembali ke sampul depannya. Okay, ini serius tulisan Hanna? Hanna Natasha yang saya suka tahun lalu? OH, GOD, beneran ini tulisan dia. Tapi kenapa jadi amburadul begini? Help me, GOD!

Jujur, saya hanya membaca sampai halaman 90-an, itu pun sebagian besar skimming. Lalu langsung meloncat ke bagian akhir menjelang epilog untuk sekadar tahu, apa sih yang sebenarnya diangkat oleh sang pengarang. Wow, keren sebenarnya tema yang diangkat. Semacam Luna-nya Julie Anne Peters. Saya nggak akan spoil di sini, karena menurut saya HANYA itu kekuatan yang dimiliki novel ini. Selebihnya, saya kecewa berat dengan novel ini. Dari segi tulisan, plot, subplot, karakterisasi, setting lokasi dan waktu, sampai dengan konfliknya kacau banget, man! Apa saya lagi-lagi musti maklum kalau ini tuh teen lit yang pangsa pasarnya TEEN di mana kejadian absurd pun bisa terjadi? Ya...kalau begitu saya mau apa? Kalau saya cukup menempatkan diri sebagai pembaca saja boleh, kan? Pembaca yang terpikat di novel sebelumnya sehingga dengan antusias berlebihan membeli novel berikutnya, lalu lemas dan kecewa supermampus ketika membacanya.

Okay, saya tak akan mengupas lebih dalam lagi tentang novel teen lit ini. Karena yang ada nanti cuman sumpah-serapah. Lagipula, saya pun nggak yang dengan mulus membaca kalimat per kalimatnya. Yang terang, mungkin saya harus berpikir puluhan kali dulu untuk membeli karya sang pengarang ini selanjutnya. Atauuuu...seharusnya saya test case dengan membaca sedikit bagian novelnya dulu sebelum membelinya.

Saturday, November 21, 2009

[Resensi Novel Teenlit] Melody - Brace

Kucium kau, nyangkut bibirku di behelmu!

Bullying is never good news!!

Jujur deh, pasti semua anak baru benci banget sama yang namanya MOS (Masa Orientasi Siswa) atau (Membuat Orang Sinting)?? Menurutku, itu adalah sebuah bentuk justifikasi ketidakadilan.

Tapi si Rico, ketua tim bullying ini too good to be bad! Selain sudah mencuri hatiku sejak pertama kali dia nge-gap-in aku dianter papi saat orientasi (hal yg tabu bgt buat anak baru) dia juga selalu bikin hati nggak tenang kalau berdekatan.

Dan ketika saat itu tiba, di saat aku sudah menyukai semua hal tentang dia, I mean ALL things till bits and pieces, aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa dia sudah bersama Lia. Tapi aku masih bisa merasakan getaran hatinya seperti dulu, is this just a game he plays over and over seperti dulu? Or is this real? Will he ever change? Apakah ini semua tentang aku, atau tentang dia.

Judul: Brace
Pengarang: Melody (Azalia Primadita Muchransyah)
Penerbit: Terrant Books
Tebal: 160 hlm
Rilis: 2009
Harga (Toko): Rp25.000
My rating: 3 out of 5 star

Hmm… sebenarnya saya tidak secara khusus ingin membeli novel bernuansa pink ini. Saya justru mencari novel saku Islami yang kalau tidak salah berjudul Mahar Di Ujung Senja, karya Habib Hidayat, yang sempat hampir saya beli di Gramedia Pancoran namun tidak jadi karena perbedaan harga yang sangat tidak wajar antara label di buku dengan yang ada di dalam database toko. Bayangin aja, buku kecil, tebalnya nggak ada seperempat novel Cewek Matre-nya Alberthiene Endah dipatok harga di atas 50rebuan?? Impossible. Lagian, di barcode yang tertempel, banderolnya cuman Rp20rebuan, dan gua cek di Gramedia Semanggi harganya juga segitu. Aneh. Namun demikian, meskipun menurut database toko di Gramedia Semanggi masih ada stock sekitar 10-an buah, saya tidak berhasil menemukan novel itu. Pun, petugas yang gua mintain tolong juga ga tau dimana tuh buku nyungsepnya. Karena tidak ketemu juga, akhirnya saya memutuskan untuk menggantinya dengan novel tulisan Melody ini. Novel teenlit, tepatnya. Ya ampun, udah bangkotan…bacaannya masih teenlit??? Apa nggak malu tuh???

Hasilnya, syukurlah saya tidak salah pilih. Overall, saya suka. Paling tidak, sehabis membaca teenlit ini saya jadi kepikiran untuk mencari novel lain buatan Melody. Apakah dia selalu selincah ini dalam tulisan-tulisannya? Hmm….ntar gua cari deh bukunya yang laen.

Bicara soal Brace, novel ini cukup menyenangkan. Fun. Fresh. Charming. Cute. Adorable. Membacanya membuat saya teringat kembali ke masa-masa SMA dulu. Ya, rentang setting waktunya memang dimulai dari awal masuk SMA hingga permulaan di bangku perkuliahan. Saya jadi berandai-andai, “coba dulu saya bisa lebih menikmati masa putih abu-abu saya!” Yeah, kalo boleh curhat, masa SMA saya memang agak membosankan. Datar dan…ugh, kurang berkesan. Such a shame. I know. Tapi, ya sudahlah. Saya tidak akan pernah dapat memutar waktu, jadi saya tidak akan menyesalinya. Karena, penyesalan hanya akan membuat saya jalan di tempat. Tidak menjejak tapak kemajuan selangkah pun. No freakin' way!

Cerita Brace memang sangat khas remaja. Klise, tapi lumayan seru. Perploncoan SMA, senior jatuh hati pada junior yang diplonconya padahal ceritanya keduanya saling benci (lagi, tema benci jadi cinta!), ciuman pertama yang berbuntut tragedi, dan cerita-cerita lain seputar cinta monyet. Melody mengemasnya secara berbeda dengan mengambil point of view orang pertama untuk hampir seluruh tokohnya (jadi inget Ken Terate, doi paling jago tuh soal beginian). Ada sih saat-saat dimana saya agak merasa karakternya goyah, dalam artian, tokoh-tokohnya seperti hanya satu. Saya rasa Melody kurang bisa menciptakan kekhasan tokohnya satu sama lain.

Namun, tidak melulu begitu. Pada waktu-waktu tertentu, Melody mengambil sudut pandang orang ketiga dalam rangka mengungkap detail kaitan antar tokohnya. Interesting, karena Melody melakukannya dengan cukup smooth. Lancar tanpa hambatan. Halus banget.

Hmm, mungkin yang saya kurang begitu suka adalah puisi-puisinya. Hahaha…baiklah, jujur, saya memang bukan penggemar puisi, kecuali puisinya Dee dalam Supernova jilid satu (top pisan euy puisinya). Oleh sebab alasan subjektif tersebutlah, terkadang saya skip halaman-halamannya yang berisi puisi (maap, tapi menurut gua puisinya emank kurang nendang juga sih….) dan langsung jump ke halaman berikutnya. Entah sekadar perasaan saya atau apa, sepertinya Melody hendak me-minus-kan peran antagonis di novelnya ini, karena saya merasa dia memberikan ending yang happy bagi sekalian tokoh-tokohnya. Untunglah, Melody berhasil melakukannya dengan baik sehingga tidak terkesan memaksakan untuk berhappy-ending ria.

Hmm….secara tampilan, buku-buku terbitan Terrant memang tidak “seglamor” terbitan Gramedia ataupun Gagasmedia, termasuk juga novel ini. Yang paling mencolok adalah layout halamannya yang agak kurang rapi. Sedangkan untuk hasil cetaan, khusus untuk Brace, setidaknya ada satu kesalahan yang cukup mengganggu, setidaknya bagi saya.

Halaman 133
Anya
……dst
Semuanya berjumlah 52 buah. Rico menulis di kertas surat yang gue kasih sebelum di berangkat setiap hari Minggu dan menceritakan kegiatannya selama seminggu…dst

Nah, dari kalimat di atas, saya pikir kata “di” sesudah kata sebelum seharusnya ditulis “dia”. Meskipun mungkin bagi sebagian pembaca, itu bukan hal yang penting, tapi bagi saya itu cukup menggangu. Bahkan, saya sempat berhenti sejenak, dan mengerutkan kening ketika sampai pada bagian ini. Dan harus dua-tiga kali mengulang membacanya untuk kemudian memahami maksudnya. Ya ampunn!

Okey, selamat membaca. Bagi yang suka teenlit, jangan lewatkan yang ini. Legit banget!

Sinopsis (cover belakang)

Bullying is never good news!!
Jujur deh, pasti semua anak baru benci banget sama yang namanya MOS (Masa Orientasi Siswa) atau (Membuat Orang Sinting)?? Menurutku, itu adalah sebuah bentuk justifikasi ketidakadilan.

Tapi si Rico, ketua tim bullying ini too good to be bad! Selain sudah mencuri hatiku sejak pertama kali dia nge-gap-in aku dianter papi saat orientasi (hal yg tabu bgt buat anak baru) dia juga selalu bikin hati nggak tenang kalau berdekatan.

Dan ketika saat itu tiba, di saat aku sudah menyukai semua hal tentang dia, I mean ALL things till bits and pieces, aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa dia sudah bersama Lia. Tapi aku masih bisa merasakan getaran hatinya seperti dulu, is this just a game he plays over and over seperti dulu? Or is this real? Will he ever change? Apakah ini semua tentang aku, atau tentang dia..