Showing posts with label Syahmedi Dean. Show all posts
Showing posts with label Syahmedi Dean. Show all posts

Tuesday, September 9, 2014

[Segera Terbit] Novel Metropop - Pangeran Kertas by Syahmedi Dean

Judul dan kover calon novel terbaru Bang Dean ini cukup intriguing, ya. Jadi kepingin cepet-cepet lihat apa cerita terbaru yang ditawarkannya.


Mungkinkah Nania jatuh cinta pada impian yang ia ciptakan sendiri? Mungkin. Nania hidup dalam kesepian panjang, di antara Papa, bintang televisi yang sangat tenar, dan Mama, ibu yang hancur karena ketenaran suami. Nania mencari cinta dalam puisi-puisi yang ia tulis, sampai ia jatuh cinta pada sosok yang ia ciptakan, seorang Pangeran Kertas yang berhati putih, yang bisa menerima keluh kesah apa pun dari Nania, yang di dadanya Nania bisa menumpahkan tinta kata-kata. Apa yang terjadi ketika Pangeran Kertas menjadi kenyataan? Mereka berdua beradu kata-kata indah di bawah rembulan, beradu tatapan mata bertukar cinta.

Bagaimana jika pangeran impian berhadapan dengan pangeran lain yang lebih nyata? Mana yang harus dimenangkan, impian atau kenyataan? Nania semakin digempur oleh dua pilihan, sangat membingungkan. Salah satunya selalu menyembuhkan ketika yang lain menyakitkan. Mana yang menyakitkan, impian atau kenyataan? Puisi-puisi Nania semakin mengalir ke hamparan kertas.

Nania berdiri di depan megahnya Taj Mahal, monumen cinta paling abadi di muka bumi, merasakan betapa beruntungnya dihujani cinta dan kasih sayang. Nania pun terseret ke Yogyakarta, tempat benteng-benteng tua yang bertahan melalui dera kenangan masa lalu. Mencintai dan dicintai. Impian dan kenyataan. Pilihan yang sulit namun tetap harus diambil, lalu suatu hari nanti pilihan tersebut akan menjadi kenangan berair mata.

Hmm, kalau dari sinopsisnya, sih, ini seperti seseorang yang punya teman imajiner, ya? Tampaknya bakal cukup banyak drama di kehidupan si tokoh utama, Nania. Lalu di paragraf terakhir ada beberapa setting tempat, bisa jadi novel ini pun tidak ketinggalan ikut menyelipkan cerita traveling di antara kisah cinta Nania, pangeran impian, dan lelaki yang mencoba menjadi pangeran nyata di kehidupannya.

Sekilas, ini misinya hampir mirip Surga Retak alih-alih tetralogi fashion, ya. Saya jadi agak khawatir makin kehilangan citra Bang Dean yang begitu saya sukai di novel debutan beliau, tetralogi fashion. Pada beberapa hal saya memang lebih menyukai novel dengan gaya tutur yang lincah dan menggemaskan, hehehe. Maklum, Surga Retak saja belum kelar saya baca hingga sekarang. Fans macam apa saya ini. Hmm, ditunggu saja berarti.

Pangeran Kertas setebal 224 halaman ini direncanakan rilis bulan Oktober 2014.

Saturday, July 13, 2013

[Buku Yang Ditunggu] LONDON, Marriageable repackaged, Heart Quay, Runaway Ran, Box Set Tetralogi Fashion!

Buku baruuuuuu....
Buku baruuuuuuuuuuuuuuu lagiiiiiiiii........
Haduhhh, kayaknya saya mesti buka safe deposit box di bank deh, buat nyimpen dompet, biar nggak sering-sering kempes gara-gara beli buku mulu. Hikz, tapiii...tapii.....saya sudah telanjur terhipnotis, kalau ada buku yang sudah ditunggu-tunggu, jadinya pengen segera dibeli. Celakanya, setelah dibeli pun buku itu nggak langsung disentuh-dibaca, ditumpuk seperti biasanya. #bakar.jiwa

Well, untuk sekarang saya menetapkan hati saja. Meskipun buku-buku ini statusnya saya tunggu, saya akan mencoba menahan diri dulu dan menunggunya (tak terbatas waktu) dan akan membelinya suatu saat nanti. Tsahhhh....semoga bukan janji palsu.

Friday, July 5, 2013

[Book of The Month] Surga Retak oleh Syahmedi Dean

Melanjutkan tradisi 'penobatan' Buku Bulan Ini (Book of The Month) yang saya mulai sejak bulan Mei dan Juni 2013 lalu, kali ini saya juga ingin memilih satu buku baru menjadi BotM Juli 2013. Nah, karena saya sudah menggemari karya tulis bang Syahmedi Dean dalam tetralogi fashion (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion, Jakarta Paris Via French Kiss, Pengantin Gypsy dan Pengemis Cinta, serta Apa Maksud Setuang Air Teh), maka buku terbaru beliau berjudul Surga Retak dengan mantap saya pilih sebagai BotM Juli 2013.

Apa sih kriteria BotM di blog ini? Nggak ada. Pemilihan ini hanya berdasar selera saya saja. Betapa saya sangat ingin membaca suatu buku sehingga saya berharap bisa menularkan kepada yang lain, memberitahukan kepada yang lain, bahwa buku itu bagus. Kan belum dibaca, kok udah bisa bilang bagus? Hmm, biasanya kriteria yang saya gunakan adalah faktor pengarangnya, faktor si novel ini meraih suatu penghargaan, atau si novel lagi hits banget di dunia buku. So, the choice is yours. Mau setuju atau tidak pada pilihan BotM di blog ini, adalah sepenuhnya di tanganmu. Saya hanya menyodorkan pilihan, siapa tahu kamu juga bisa suka seperti saya menyukai BotM pilihan saya.

Profil bang Dean:
Syahmedi Dean, seorang jurnalis bidang lifestyle, lahir di Medan tahun 1969, dan menamatkan kuliah S1 Jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1995. Pengalaman jurnalistik pertamanya dialami tahun 1995 di harian The Examiner Newspaper untuk bidang kriminal, di kota kecil Launceston di Pulau Tasmania, Australia. Kemudian berturut-turut menjadi redaktur di Femina, Cosmopolitan Indonesia, Harper’s Bazaar Indonesia, dan Dewi.

Pernah menjadi penyiar di radio Unisi FM Yogyakarta dan magang sebagai staf produksi di Radio ABC juga di Launceston, Australia. Tahun 1995 mewakili Provinsi DI Yogyakarta untuk Australia-Indonesia Youth Exchange Programme. Sejak tahun 2001 sampai 2003 menjadi koordinator reportase spring/summer fashion week di Milan, Paris dan London untuk Femina Group.

Baiklah, berikut adalah kaver dan sinopsis Surga Retak:

Mata akan terbuka ketika hati mencari cinta

Bapak mempertaruhkan Ibu di meja judi, padahal dalam pertaruhan kelas seribu rupiahan saja Bapak selalu kalah. Perhitungan Bapak terlalu gegabah, tidak sebanding dengan keberanian orang-orang lain yang sudah terlatih berjudi sejak Belanda mengembangkan kapitalisme di tanah Deli. Belanda mendatangkan orang-orang Shantou dari Cina, orang-orang Tamil dari India, orang-orang Bagelen dari Jawa, untuk diperbudak paksa. Belanda mempertuankan diri di tanah Deli, menabur hiasan judi dan pelacuran, menciptakan kegaduhan, membuat nasib rakyat jelata berbentuk mozaik penuh luka. Bapak hanyalah sisa-sisa nasib di ujung zaman yang berlari dari kekalahan hidup, melintasi tanah-tanah perkebunan peninggalan Belanda, tanah yang semakin panas diperebutkan “siluman”. Bapak membuat Suri seperti tercabut dari kebahagiaan, kabur di malam buta dengan motor tua, menuju harapan baru, meninggalkan indahnya cinta yang baru mekar di belakang. Suri mempertanyakan hidup, siapa Bapak sebenarnya, kenapa semua cinta hilang berserakan?

Sunday, November 1, 2009

Resensi Novel Metropop: Syahmedi Dean - A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh)

Sebuah akhir yang mencengangkan


Judul: A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Air Teh)
Pengarang: Syahmedi Dean
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop, Novel Dewasa
Tebal: 304 halaman
Harga (Toko): Rp55.000
Rilis: Oktober 2009 (cet. 1)

Sebelum saya melantur kemana-mana, saya ingin bilang terlebih dahulu, BURUAN BELI NOVEL INI. HIGHLY RECOMMENDED bangets deh!!!

Fantastis. Extra ordinary. So unpredictable. GOD, I just love this novel.

Yeah, sejak Cewek Matre-nya Alberthiene Endah saya belum pernah lagi merasakan sebegitu bersemangatnya membahas dan berusaha keras menyimpan tiap detail isi dari sebuah buku, sampai terbitnya novel keempat (terakhirkah????) dari seri Fashion Journalistic-nya Syahmedi Dean ini. Rasanya sejumlah rupiah yang saya tukarkan dengan novel ini benar-benar terbayar impas. Wew…

Hahahaha. Unobjective banget ya??? Belum apa-apa sudah memuji setinggi langit begitu. Don’t know why. My hands up! kalo kata Nelly Furtado,”manos al aire.” Novel ini memang keren. Sumpah! Sangat di luar perkiraan saya. Bagaimana tidak, tiga novel pendahulunya telah menjejakkan citra bagaimana saya harus menyimpulkan sebuah novel karya Syahmedi Dean. Yaitu, novel metro-urban-modern yang kebanyakan ngomongin barang fashion dengan segala detailnya berbau fashion. Dengan kata lain, novelnya cukup buat having fun. Just an entertainment book!

Secara packaging, novel ini tidak meninggalkan cetakan dari tiga novel sebelumnya. Masih tetap sama banyaknya dalam hal menampilkan barang-barang fashion. Sebutan merk tas-baju-sepatu-lipstick and so on yang terkadang agak lebay. Tapi itulah istimewanya novel-novelnya Syahmedi Dean. Bagi sebagian pembaca perempuan, cukup dengan merampungkan serinya Syahmedi Dean, dijamin tidak bakal lagi dongo kalau mendengar orang menyebut Bally (bukan Bali), Birkin, atau Louis Vuitton. Minimal, tidak akan lagi shock dan berseru, “ih lucu, makanan apa itu?”

Gaya bahasa yang lebay (berlebihan) yang digunakan Syahmedi memang bagai pisau bermata dua, bagi saya. Di satu sisi agak-agak annoying, tapi di sisi lain juga memberikan efek yang menyegarkan. Sama halnya ketika saya membaca She’ll Take It-nya Mary Carter. Penjelesannya mbleber kemana-mana, tapi sayang kalau dilewatkan.

Biasanya pula, saya paling tidak suka dengan tokoh yang “mendadak” mendapat jatah aktualisasi diri padahal garis besar novel bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Janggal saja, tiba-tiba si A diberikan line, sedangkan tokoh utama sama sekali tidak ada dalam adegan tersebut. Namun, dalam novel Syahmedi, cara pemberian porsinya cukup ‘mulus’. Tidak mengesankan narsisme dari tokoh tersebut, sehingga jauh dari kesan janggal.

Dari keseluruhan empat novelnya, novel keempat ini memberikan kesan paling mendalam bagi saya. The best lah dari tiga lainnya. Terutama dari plot dan isinya.

Dari novel pertama, L.S.D.L.F. (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion), Syahmedi mengenalkan jungkir baliknya dunia balik layar dari produksi sebuah majalah lifestyle. Novel kedua, J.P.V.F.K. (Jakarta Paris via French Kiss), para tokohnya mulai dikenalkan pada konflik yang lebih beragam dengan tetap tak meninggalkan gemerlapnya dunia mode. Pada novel ketiga, P.G.D.P.C. (Pengantin Gipsy dan Penipu Cinta), para tokohnya dihujani dengan masalah-masalah pelik yang menguji sejauh mana persabahatan mereka. Dan, akhirnya, di novel pamungkasnya ini, A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh), para tokohnya bermetamorfosis mencapai kejatidirian mereka masing-masing. Menemukan jawab atas salah satu pertanyaan penting dalam hidup, “siapa aku yang sebenarnya?”

Meskipun agak terlambat, novel ini cukup up to date dengan sentilan soal hiruk-pikuk panggung politik (pemilu dan caleg), sepak terjang KPK, kasus-kasus korupsi bertaraf nasional semacam kasus alih fungsi hutan lindung di Sumatera, dan demo pengrusakan kantor penerbitan yang menurunkan berita berbau pornografi (jadi ingat kasus majalah Playboy). Maka, lumrah saja ketika saya menyematkan pujian bahwa novel ini cukup padat berisi. Fashion-politik-relijius.
Yup, yang membuat saya cukup terkagum adalah kepiawaian Syahmedi menyelipkan isu keagamaan dalam kilau dunia mode yang diciptakannya. Pun, cara penyampaiannya juga tidak terkesan menggurui dan terlihat sekali Syahmedi mencoba membahas masalah agama itu dari dua sisi, pro dan kontra. Kalau sudah begitu, tinggal pembaca sendiri yang menentukan, mau ikut yang pro atau yang kontra.

Yang perlu dicatat lagi dari novel ini adalah banyaknya flashback dari masing-masing tokohnya. Saya sempat bosan (sedikit) ketika pada lembar-lembar awal, kebanyakan isi halamannya adalah renungan-renungan masa lalu dari masing-masing tokoh. Memang perlu sih untuk menjembatani dengan masa depan mereka, hanya saja, saya memang agak kurang sabaran kalau orang sudah cerita (melulu) tentang masa lalu. Apalagi, kebiasaan Syahmedi yang mendetailkan segala sesuatu, makin membuat saya ingin buru-buru skip dan lanjut ke halaman berikutnya.

Anyway, terima kasih Syahmedi, terima kasih editor, terima kasih tim penerbitan Gramedia, saya luput mendapati adanya salah cetak pada novel ini. Thank GOD! Entah saya yang kurang awas karena terlalu excited terhadap novelnya atau memang benar-benar tidak ada masalah teknis begituan. Dunno.

Hmm… dari novel ini saya punya dua part (quote) yang paling saya suka. Yang pertama, telah saya pampang di sidebar blog saya ini dalam kolom My Favorite Quote. Yang kedua, adalah ini:
Bertolak belakang antara siang dan malam. Siang preman, malam ayah yang baik. Siang selingkuh, malam istri yang budiman. Siang karyawan yang rajin, malam menggampari istri.
Halaman 183

Menohok sekali. Tepat menggambarkan orang-orang yang secara sadar atau tidak seringkali menampilkan dua muka yang berbeda untuk dua waktu yang berbeda pula. Siang dan malam. Baik dan buruk. Salah dan benar. Termasuk saya juga, mungkin, hehehehe....

Dua hal yang menjadi topik penting novel keempat Syahmedi ini adalah ‘bulan’ dan ‘teh’. Secara judulnya juga ada menyangkut teh-teh-nya, maka tak heran kalau teh menjadi primadona di novel ini, bahkan hampir seluruh tokohnya (utama atau figuran), disengaja atau tidak, setiap beradegan minum, pasti pesannya teh. Hmm… kenapa selera orang bisa digeneralisir begitu, ya? Dan, ngomong-ngomong sampai selesai membaca novel ini saya masih nggak tahu juga, apa maksud setuang air teh? Ahhh…mungkin saya harus membaca ulang sekali lagi sembari menuang secangkir teh aroma melati, baru saya tahu apa maksudnya. Hmm… sedap, kedengarannya.

Selamat membaca. Dan, hey, jangan jantungan ya… novel ini benar-benar memberikan full of surprises!!!

Rating-nya 4,5 out 5 stars, lah…

Sinopsis
Siapa yang menggerakkan skenario perjalanan hidup? Sebuah kota? Profesi? Alam pikiran? Atau cinta? Empat sahabat mencari-cari keriaan hari ini dengan mengejar cinta dan mempertanyakan masa lalu. Mereka berprofesi sebagai wartawan, berkesempatan mendirikan sebuah majalah, satu kesibukan urban yang membawa mereka ke ujian persahabatan, penemuan jati diri, dan dilema tepi-tepi hidup.

Alif:
Mata saya tajam terbuka, merasakan dengan nyata kosmik energi, merasakan kuatnya medan magnet yang terjadi. Pelan-pelan ada cairan lain yang naik ke saraf-saraf otak, rasa gusar, kesal, marah. Apakah kosmik energi penyebab rusaknya kehidupan cinta saya? Setiap pekan purnama tiba orang-orang akan bergairah, serbaimpulsif. Mudah marah, mudah sedih, mudah jatuh cinta, mudah berbelanja, mudah dramatis, mudah cemburu. Orang-orang kehilangan keseimbangan, orang-orang cenderung lunatic, kebulan-bulanan. Saya mengerti keadaan ini.

Raisa:
Ia tak pernah tahu bahwa seharusnya, jika berada dalam rapat apa pun di dunia ini, sangat berlaku hukum "You are what you said." Nah, kalau tak pandai berkelit, pakailah aliran "Silence is golden". Sehingga jati diri tidak perlu terasa seperti akan lumer ke lantai, merosot ke kaki-kaki meja, dan secara politis habis diinjak-injak forum. Ia ingat ekspresi semua peserta rapat waktu itu, mereka tersenyum bahagia penuh kepuasan. Pelajaran yang ia dapat dari kejadian memalukan itu adalah: when everybody is happy, you know you done something wrong.

Didi:
Kota Jakarta ini apa masih layak huni? Ngeri banget Jakarta sekarang. Kalau nanti gue terkenal karena jadi creative director sukses, apakah gue aman? Gue harus berjuang dari kemungkinan penembakan seperti ini. Kemungkinan pembunuhan, penggarongan, kemacetan, kebanjiran, penipuan, penggusuran, rombongan kampanye, massa sepakbola, fashion criminals, Chanel limited edition, Louis Vuitton New Arrival, Gucci Piracy, dress code betrayal...

Nisa:
Itu suara Alif. Azan. Komat. Ah, anakku, Mama belum sempat lihat kamu. Bagaimana rupamu? Bagaimana hidungmu? Bagaimana senyummu? Kamu pasti aman di situ, ada Oom Alif, teman Mama yang paling peduli dengan Mama. Kamu pasti senang dengar suara azan Oom Alif. Mama jadi rindu, tapi Mama belum bisa lihat kamu. Mama seperti terbang. Mama hanya bisa merasakan getaran jiwamu yang bening dan bersih. Oh, inikah mati? Tubuh terasa ringan sekali. Tanpa beban fisik. Merdeka dari keterbatasan. Fisik adalah penjara seumur hidup, penjara yang lemah, yang tak mampu menghadapi cuaca, yang tak bisa pergi tinggi-tinggi karena akan ditarik kencang oleh gravitasi bumi.
Sinopsis dan gambar diambil dari situs http://gramedia.com