Showing posts with label Rina Suryakusuma. Show all posts
Showing posts with label Rina Suryakusuma. Show all posts

Wednesday, December 18, 2013

[Resensi Novel Amore] Just Another Birthday by Rina Suryakusuma

Single Mom pun berhak untuk bahagia...

Sarah, single mom dari satu anak TK yang kritis dan suka bertanya segala hal, mulai dari pertanyaan sederhana seperti—Kenapa kita ulang tahun cuma satu tahun sekali, Ma?—sampai pertanyaan yang tidak bisa dijawab macam, “Mama, di mana Papa?”

Pada usianya yang masih 20-an, Sarah belajar dengan cara sulit bahwa hidup ini tidak seindah dongeng. Tak ada yang namanya Prince Charming. Namun ketika bertemu dengan Jeremy, Sarah bertanya apakah mungkin harapan itu masih ada. Bersama Jeremy, Sarah berpikir segalanya mungkin hingga ayah dari putrinya kembali ke dalam hidupnya.

Ketika kebahagiaan nyaris dalam genggaman, Sarah dihadapkan pada batu ujian hidup... terutama ketika dia harus kehilangan orang terpenting dalam hidupnya.

Judul: Just Another Birthday
Pengarang: Rina Suryakusuma
Pewajah sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp48.000
Rilis: November 2013
ISBN: 978-979-22-9948-9

Membaca karya-karya Rina Suryakusuma selalu menerbitkan rasa damai dan menghindarkan sikap pesimistis. Kisah-kisah rekaannya selalu sukses membuat pembacanya, setidaknya saya, ikut optimis bahwa di setiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Teruslah berjuang, maka setiap masalah akan dapat terpecahkan.

Just Another Birthday (JAB) pun membawa napas optimisme serupa. Berkisah tentang Christina Sarah, seorang single mom yang mesti berjuang mengasuh dan membesarkan anak semata wayangnya, Cassie, tanpa sosok lelaki yang berperan sebagai suami sekaligus ayah di sisinya, bahkan sejak ia mengandung gadis cilik yang kini genap berusia 4 tahunan itu. Lelaki pengecut itu, Rommy, tega meninggalkannya sendiri dan menghindar dari tanggung jawab. Untung ada sosok Mama yang selalu mendampingi Sarah dalam melalui segala macam hal pelik dalam kehidupannya.

Thursday, July 26, 2012

[Resensi Novel Amore] Postcard from Neverland by Rina Suryakusuma

Perjuangan Cinta


Judul: Postcard from Neverland
Pengarang: Rina Suryakusuma
Editor: Novera Kresnawati
Co-Editor: Irna Permanasari
Sampul: Mracel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 hlm
Harga: Rp33.000
Rilis: Agustus 2010
ISBN: 978-979-22-5698-7

Ami Amarell Siswoyo mendapat anugerah kecantikan alami nan memikat. Namun, kecantikan itu justru membawa begitu banyak kesulitan bagi Ami, terutama ketika sang Ayah meninggal dunia, terpaksa Ami yang menggantikan perannya untuk menjadi tulang punggung keluarga bagi sang Ibu dan seorang adik perempuannya. Ami pun drop out dari kuliahnya dan bekerja apa saja demi menjalani hidup, dan dalam dunia kerja inilah hidupnya makin sengsara. Pelecehan demi pelecehan ia dapatkan, karena label cantik yang disandangnya.

Sampai ia bertemu Joshua Leinard tanpa sengaja. Didorong sahabat karibnya, Lusi, Ami mencoba peruntungan untuk bekerja di sebuah cafe hotel honteng lima yang baru akan dibuka. Kembali insiden tak menyenangkan menimpanya yang berakhir pada tawaran untuk bekerja sebagai kepala pelayan di rumah Josh. Dari sinilah, seluruh hidup Ami berubah. Tak hanya ia mendapat kecukupan finansial, namun ia juga berhasil bertemu dengan cinta sejatinya. Lantas, sanggupkah Ami mempertahankan cintanya? Cinta yang memilin begitu banyak jalinan perbedaan? Mampukah ia menghalau cibiran dan cemoohan orang demi memperjuangkan cintanya?

Simak liku-liku kehidupan Ami dalam novel Amore bertajuk Postcard from Neverland karya Rina Suryakusuma ini.


Membaca Postcard from Neverland, saya seolah diingatkan kembali dengan kisah cinta Cinderella yang demikian melegenda itu. Atau, film komedi romantis Maid in Manhattan yang dibintangi si cantik Jennifer Lopez. Tema novel ini memang klasik nan klise. Si cantik yang harus berjuang tak kenal lelah lalu berjumpa dengan pangeran tampan nan kaya raya, tentu tak lupa tambahkan beberapa tokoh antagonis, voila, cinta memenangkan seluruh pertarungan.

Saya mungkin cenderung terlalu menghakimi begitu mengakhiri membaca novel ini. Selain bumbu dasar yang begitu mirip kisah Cinderella, hubungan antarnegara, perempuan asli Indonesia dan laki-laki bule masih terlalu di awang-awang bagi saya, meskipun toh di Indonesia hal ini sudah biasa. Di Jakarta misalnya, tak jarang saya mendapati pasangan antarnegara ini di mall, angkutan umum, atau di jalan-jalan. Lagi-lagi, ini hanya persepsi pribadi saya belaka. Maklum, saya masih terlalu percaya bahwa orangtua selalu meminta menantu yang asalnya tak jauh-jauh, kadang malah diminta sesuku, lha kalau sudah beda negara, jelas tak masuk hitungan, kan?

Yang membuat saya betah membaca novel ini, dan justru menyukainya, adalah tentu kepiawaian mbak Rina dalam meracik kisah cinta yang klise itu menjadi segar untuk dibaca. Tak ketinggalan, beragam pesan terselip di sana-sini yang dapat memperkaya wawasan kehidupan kita, paling tidak bagi saya pribadi--sebagai pembaca. Salah satunya adalah pada bagian ketika Ami harus menerima perlakuan tak menyenangkan menjadi bahan pergunjingan di minimarket ketika Ami menemani Josh berbelanja. Saya merasa sepicik ibu-ibu di minimarket itu. Menduga bahwa cewek 'pengguide' (baca penggaet) cowok bule itu, tak lain tak bukan sekadar mencari peruntungan nasib. Bisa mencari harta, atau #justjoking, mengubah keturunan. Oh, #ShameOnMe.

malesinearlychildhood.blogspot.com

Dignity. Martabat. Harga diri. Itu pula yang saya tangkap tersirat dalam novel ini. "Kau boleh miskin harta, tapi tak boleh miskin jiwa", entah saya membacanya di mana, tapi itu pula yang saya dapatkan selepas rampung membaca Postcard from Neverland. Bolehlah miskin, tapi jangan mengobral diri dengan melakukan apa saja demi sesuap nasi. Ami tetap mempertahankan prinsipnya, bahwa ia mencintai Josh tanpa tendensi apa pun kecuali cinta itu sendiri. Maka, ketika Josh melamarnya sementara Ami masih menjadi pelayan, Ami memintanya bersabar. Ia ingin melanjutkan kuliahnya terlebih dahulu (dengan menolak bantuan biaya kuliah dari Josh) dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai, barulah mengusahakan untuk menyatukan cinta mereka. Ami bukan terhasut omongan orang, namun tak bisa dimungkiri, semua hal akan menjadi lebih mudah jika kedudukan Ami-Josh sudah setara, maksudnya tak lagi terikat hubungan pelayan-majikan.
Jujur saja, Ami tidak ingin dicap sebagai pagar makan tanaman. Pelayan kok merayu majikan? (97)
Sampai di pertengahan menjelang konflik 'panas' saya pun menunggu dengan sabar twist apa yang akan diciptakan oleh mbak Rina. Lagi-lagi, saya musti menyebut bahwa sejauh ini, Lullaby yang paling membuat saya terpana karena twist-nya. Sementara dalam Postcard ini, twist-nya hanya membuat gempa kecil saja, tak sampai bikin saya terguncang.

Bagian lain yang membuat saya agak sedikit mengerutkan kening adalah hadirnya karakter Dennis, anak lelaki Josh. Awalnya saya sangat antusias menantikan kehadirannya untuk membuat konflik menjadi kian meruncing. Memang makin runcing sih, tapi kok saya kurang merasakan sensasinya, ya? Malah saya sampai bingung mengekspresikan rasa, bagaimana coba seorang ayah mencemburui anaknya sendiri? Yah, bisa saja sih, tapi lagi-lagi, wawasan saya yang terkungkung tradisi menjadikan saya masih merasa aneh melihat ayah cemburu melihat anaknya 'dekat' dengan kekasihnya. Pada titik ini, saya berharap mbak Rina menampilkan konflik yang berbeda. Ummm, apa ya misalnya? ...Dennis sama sekali cuek dan memperlakukan Ami dengan lebih kasar lagi, sehingga Josh dalam dilema, "membela sang anak atau kekasihnya, mungkin? Bukankah di novel ini sudah begitu? Memang dalam novel ini sebagian sudah dibikin begitu, tapi karena ada unsur letupan asmara, jadinya balik-balik ke urusan percintaan lagi. Bukan konflik keluarga.

Tetapi cinta memang kekuatan terbesar yang diciptakan oleh Tuhan, bukan? Unsur inilah yang bisa menyebabkan segala tindakan dan perbuatan terjadi di muka bumi. KepadaNya pun kita diminta untuk memeberikan cinta. Maka, tak perlu lagi memperdebatkan segala macam perbedaan jika cinta sudah merasuk dalam jiwa. Saran saja mungkin untuk menambahkan lebih banyak problematika ke dalam novel ini sebagai pembuktian bahwa cinta Ami-Josh memang layak diperjuangkan. Pertentangan keluarga Ami, mungkin, atau karyawan Josh yang menyebarkan fitnah soal Ami. Bah, sinetron banget ya...hehehe....:)



Bagi saya, novel ini adalah novel survival, yang mengajarkan kita untuk bertahan hidup dengan tetap memegang teguh prinsip positif yang kita punya. Janganlah mengorbankan harga diri demi mencicipi sekelumit kemewahan. Percayalah, Tuhan itu ada. Selama kita berusaha, niscaya Dia Yang Di Atas akan memberikan jalan kemudahan bagi kita.

Overall saya menyukai novel ini. Banyak hal yang bisa saya dapatkan novel Amore ini. Masih ada typo di sana-sini, tapi sepertinya lebih sedikit ketimbang Lullaby atau Jejak Kenangan. Ujung cerita yang "mengharuskan si tokoh utama berpindah ke Amerika" serupa deja vu selepas membaca Jejak Kenangan yang juga diakhiri demikian, hanya berbeda negara bagian saja. Baiklah, 3 dari skala 5 bintang saya berikan untuk novel ini.

Selamat membaca, kawan!

Wednesday, July 25, 2012

[Resensi Novel Amore] Jejak Kenangan by Rina Suryakusuma

Tak baik menyimpan bara masa lalu yang bisa membakar masa depanmu...


Judul: Jejak Kenangan
Pengarang: Rina Suryakusuma
Editor: Novera Kresnawati
Co-editor: Irna Permanasari
Sampul: Marcel AW
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 hlm
Harga:
Rilis: Juni 2011
ISBN: 978-979-22-6915-4

Nadia Valencia Wibrata. Nama itu akan dikenang Allysa "Ally" Gumulya seumur hidupnya. Karena pemilik nama itu dengan tega membiarkannya merana sewaktu SMA dan bahkan menyebabkan sang mama meninggal dunia. Ally bersumpah, di suatu waktu kelak ia akan menuntut balas padanya. Ally yakin dengan sumpahnya.

Tahun berselang, Ally yang sebatang kara telah mencapai segalanya. Karier yang moncer, sahabat dekat yang begitu perhatian, tempat kerja yang menyenangkan, namun ia masih belum bahagia. Selain karena kisah cintanya yang kandas, ia juga belum berkesempatan menuntaskan dendamnya. Lalu, ketika kesempatan itu datang melalui seorang laki-laki tampan yang menggetarkan hati Ally sejak mula bersua, Ivan Adidjaja, akankah Ally benar-benar hendak melampiaskan dendamnya yang membara? Sanggupkah ia menerima segala konsekuensi yang terburuk sekalipun, semisal dipecat dari pekerjaan impian dan melepas lelaki yang disayanginya?

Simak perjuangan Ally dalam menyusuri jalan hidupnya yang menyimpan duri masa lalu yang hendak dicerabutnya dalam novel Amore bertajuk Jejak Kenangan karya Rina Suryakusuma ini.


Sebelumnya terima kasih kepada mbak Rina Suryakusuma yang telah mengirimkan novel Jejak Kenangan ini kepada saya.

Dalam catatan saya, novel ini merupakan novel keempat dari mbak Rina yang tergabung dalam label Novel Amore terbitan Gramedia sehingga pakem-pakem Amore sebagaimana pernah disebutkan mbak Rina dalam perbincangan kita beberapa waktu lalu sangat terasa juga di novel ini. Termasuk ciri khas dari seorang mbak Rina yaitu dari diksi, gaya menulis, dan tentu saja selipan pesan serta twist yang selalu ada.

Novel ini mengangkat permasalahan tentang dendam masa lalu dan perjuangan untuk menguburnya dalam-dalam agar tak menggerogoti masa depan. Adalah Allysa Gumulya yang sudah harus berjuang seorang diri karena sang mama yang lebih dulu kembali ke sisi Tuhan dan ayah yang tak pernah diketahuinya, terpaksa menyebut sumpah dendam ketika dengan hati tercabik ia meminta bantuan Nadia tapi bukan bantuan yang diterima Ally, gadis itu malah menghinanya.

Lantas setelah dendam terbalaskan, apakah kebahagiaan kemudian datang menghampiri kita?
Kenapa kamu membiarkan masa lalu mengoyak masa depanmu? (216) Tutuplah pintu masa lalu, apalagi yang membuat hatimu tercabik dan berdosa. (220)
Begitulah nasihat Bu Fara, atasan Ally, ketika Ally tetap berhasrat mewujudkan sumpah dendamnya meskipun kenyamanan hidupnya saat ini sebagai taruhannya.

Saya suka dengan benang merah novel ini. Saya yakin, masing-masing dari kita pernah menyimpan setitik benih 'dendam' atas hal tak nyaman yang mungkin terjadi di masa lalu. Menyesakkan, memang, tapi saya setuju pada Dianna, sahabat Ally dalam buku ini:

"Nggak semua orang yang pernah berbuat salah nggak tahu kata menyesal."
Sesakit apa pun hati, kita tetap harus belajar memberikan maaf. (163)
Jujur, pada bagian ini saya ingat mantan. #eh.curcol. Bukan, bukan teringat si dia dalam nuansa romansa. Saya hanya...#makjleb, sampai detik ini saya masih menolak berhubungan kembali dengannya dalam bentuk apa pun. Pertemanan, tentu saja, karena ia pun sudah berumah tangga. Saya harus belajar memberikan maaf (dan juga meminta maaf). Terima kasih, Ally. Terima kasih, mbak Rina.


www.sidomi.com

Hal personal lain yang saya dapatkan adalah etos kerja Ally yang luar biasa. Saya jadi malu jika mengingat keseharian saya yang seringnya 'gondok' jika bos meminta saya menambah jam kerja (alias lembur) untuk menyelesaikan pekerjaan. Huhuhu. Semoga seusai ini saya bisa meniru semangat Ally karena sejatinya saya juga sangat menyukai pekerjaan saya. #ameen.

Selain temanya yang menarik, eksekusi novel ini juga menawan, meskipun saya kurang puas dengan pilihan endingnya. Jujur, saya menunggu twist yang mengejutkan sebagaimana tersaji dalam Lullaby. Sayangnya, saya kurang merasa "terperangah" dengan twist-nya. Entah saya yang kurang peka atau bagaimana, hehehe...

Salah satu hal yang juga saya sukai dari gaya menulis mbak Rina adalah banyaknya kata-kata keren yang dapat ditandai sebagai quotes yang menginspirasi:

Mana ada rasa rindu dan kehilangan yang yang bisa kedaluwarsa. (62)


Inikah yang disebut chemistry? Hal yang indah, yang hanya bisa dirasakan hati, namun tidak bisa disentuh tangan. Hal yang kata orang tidak akan mungkin bisa dijelaskan logika sehebat apa pun. (65)


Hari yang diawali dengan ketergesaan dan emosi negatif, ujung-ujungnya tidak bagus. (138)


Membenarkan sesuatu yang telah terkoyak selalu lebih sulit daripada memulai yang baru. (161)


Kejujuran adalah harga yang layak untuk memulai (suatu) hubungan. (193)
Oiya, masih ada typo dalam buku ini, berikut beberapa di antaranya:
(hlm. 13) menggangguk = mengangguk
(hlm. 25) kharisma (hlm. 28) karisma = inkonsistensi
(hlm. 32) mempromoskan = mempromosikan
(hlm. 36) Up Town Woman (hlm. 134) Up-town Woman = inkonsistensi
(hlm. 37) pecinta alkhohol = pencinta alkohol
(hlm. 114) Wibarata = Wibrata
(hlm. 172) melap = mengelap
(hlm. 204) bawha = bahwa
(hlm. 221) ke luar dari ruang = keluar
(hlm. 228) Sangan = Sangat
Selain typo tersebut, ada beberapa hal yang agak mengganggu saya. Entah saya yang tulalit, atau memang ada yang terlewat ketika diedit. Hal-hal itu adalah:

1. Sampai dengan halaman 106, Ally tak pernah tahu siapa nama perempuan dari sepasang tunangan yang kartu pernikahannya sedang ditanganinya. Nah, setahu saya (yang pernah menemani teman memesan kartu undangan, di percetakan biasa sih) pembuat kartu pernikahan pasti sudah langsung menanyakan nama kedua pasangan untuk dicantumkan di kartu, kan? Ataukah pada tugas Ally ini masih dalam tahap desain kasar yang belum diberikan tulisan macam-macam?

2. Di halaman 168, Ally-Ivan berjanji-temu makan malam di Praline Wine and Dine, tapi di halaman 171, Ivan duduk menunggu di The Vicar. Nah, apakah kedua restoran ini sama? Seingat saya sih tidak.

3. Menurut saya di bab 18-19-20 terdapat kronologi waktu yang terjadi dalam 2 hari secara berurutan. Sementara pada halaman 212, Ivan menyebutkan "...mendengarkan narasi panjangmu kemarin--" padahal jika dirunut waktunya, pertemuan Ally-Ivan dalam halaman ini terjadi di hari yang sama dengan kejadian di bab 18 sehingga kata "kemarin" seharusnya "tadi pagi", apalagi adegan di bab 20 adalah merujuk waktu keesokan harinya. Apa saya yang salah tangkap, ya?
Hmm, ada satu hal menarik yang saya dapati. Soal sekolah yang ada di novel ini, Pratama School. Apakah sekolah itu adalah sekolah yang sama yang menjadi setting bagi novel Ask Tinkerbell? hihihi#just.curious



http://joefindlove.blogspot.com

Overall, meskipun terdapat beberapa hal yang menurut saya masih dapat dikembangkan, saya tetap suka dengan novel ini. Banyak keindahan yang disajikan dalam novel ini, termasuk keindahan cinta yang saling memberi dan saling menerima (take and give), serta sisi relijius yang diselipkan secara apik. 3 dari skala 5 bintang saya sematkan pada novel Amore karya mbak Rina Suryakusuma ini.

Baiklah, selamat membaca kawan!



Tuesday, July 24, 2012

[Resensi Novel Teenlit] Ask Tinkerbell by Rina Suryakusuma

Tink, bantu masalah cintaku donk, puhleeaaseee...


Judul: Ask Tinkerbell
Pengarang: Rina M. Suryakusuma
Perancang sampul dan ilustrasi: Yenny
Penerbit: LiNTAS
Tebal: iv + 154 hlm
Harga: Rp-
Rilis: Februari 2008 (cet. 1)
ISBN: 978-979-17528-2-4

Sejatinya, Swastika tak pernah bersedia memenuhi permintaan Dylan, tetangga dan sahabat masa kecil yang meminta bantuannya untuk menyelamatkan reputasi majalah sekolah, The Raising Star, yang sedang di ujung tanduk. Bukan karena Swastika tak bisa menulis, dia malah juara satu menulis artikel se-Jakarta, dia hanya tak lagi menaruh simpati pada Dylan, sahabat cowoknya itu sudah lama tidak mengacuhkannya, lalu demi apa Swastika musti membantunya?

Tapi, nyatanya bujukan Dylan tak mudah diabaikan. Maka, resmilah Swastika memerankan Tinkerbell, peri cinta tak kasat mata yang memberikan nasihat-nasihat gokil bagi setiap permasalahan percintaan yang dialami oleh seluruh siswa Pratama High School dalam kolom Ask Tink! pada majalah sekolah The Raising Star. Peran yang awalnya menyenangkan itu lambat laun makin menguras energi Swastika, dia juga sering makan hati. Coba saja dibayangkan, bagaimana perasaan Swastika ketika mendapati sepucuk surat cinta dari cowok yang menaksirnya yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Tuh, apa coba jawaban yang benar yang musti dia berikan buat cowok itu?

Simak liku-liku Swastika dalam menjalani perannya sebagai peri cinta yang akhirnya pusing tujuh keliling menerima problematika siswa-siswi SMU dalam novel debutan Pengarang Bulan Juli 2012, Rina Suryakusuma, Ask Tinkerbell berikut ini.


Hmm, saya baru tahu bahwa novel ini merupakan karya Rina Suryakusuma setelah blog metropop.lover memilihnya sebagai Pengarang Bulan Ini dan segera mengumpulkan pelbagai informasi tentang karya Rina. Beruntung, meskipun novel ini terhitung langka karena sudah terbit sejak lama, sebuah pameran buku di Jakarta mempertemukan saya dengan novel ini. Voila...saya membacanya dan saya suka novel ini.

Novel ini ditulis pada tahun 2008, sewaktu teen lit sedang booming di Indonesia. Dan, novel ini dibuat dalam nuansa cinta remaja yang begitu kental. Setting SMU Pratama Jakarta dengan segala pernik-perniknya begitu gemerlap. Namun demikian, karena saya baru membacanya belakangan, nuansanya menjadi biasa-biasa saja karena gemerlap cinta putih abu-abu itu sudah terlampau sering ditampilkan, baik dalam buku maupun dalam film televisi. Untung saja, gaya menulis, plot, dan konflik yang diciptakan Rina begitu hidup sehingga memberikan warna-warni cerita remaja yang menggelora.

Sejujurnya saya begitu terpikat dengan novel ini karena satu sebab subjektif, saya pernah ingin membuat novel dengan tokoh pengasuh kolom gosip di majalah dinding sekolah. Hahaha. Saya memang begini, terkadang begitu mudah jatuh suka pada novel yang saya impikan saya tulis. Semisal novel Say No To Love-nya Wiwien Wintarto yang menghadirkan karakter-karakter protagonis, minus tokoh antagonis, saya juga ingin menulis sebuah novel tanpa tokoh antagonis karena saya beranggapan, sebenarnya manusia dilahirkan sebagai orang baik dan semua bisa menjadi orang baik. Nah, malah curcol lagi.

Membaca novel debutannya ini, saya menjadi tahu mengapa saya menyukai gaya menulis Rina. Dari awal, Rina telah piawai meracik kata. Meskipun sederhana, namun memiliki makna yang cukup dalam. Saya suka. Selain itu, dari segi plot, karakter, dan rupa-rupa konflik untuk menjalin adegan per adegannya cukup memadai meskipun untuk beberapa hal, pergantian bagian antartokoh pada novel masih ini terasa belum begitu mulus. Misalnya dalam suatu adegan Swastika-Dylan, dengan PoV orang ketiga, adegan diceritakan bergantian dari sisi keduanya yang bagi saya terkadang membutuhkan sedikit konsentrasi untuk memahami dari sisi siapa bagian tersebut sedang dikisahkan.

Satu lagi yang agak mengganggu adalah 'adanya-sedikit-kemiripan-adegan' antara salah satu bagian dalam novel ini dengan bagian pada novel Me vs High Heels karya Maria Ardelia, yang adegan si tokoh utama dipermalukan sama gebetannya di pesta ulang tahun itu (kalau tidak salah) hampir mirip dengan adegan yang dialami Swastika di pesta valentine sekolahannya. Tapi, saya sih dengan sangat antusias menyarankan agar novel ini bisa di retouch lalu diterbitkan-ulang. Jika benar dapat kesempatan untuk terbit-ulang, adegan itu adalah salah satu adegan yang saya sarankan untuk diganti dengan adegan lain. Karena sangat berpotensi 'mirip' dengan Me vs High Heels, meskipun tak ada unsur sama-menyamain, tapi bagi yang sudah membaca kedua novel ini pasti merasa deh.

Hmm, soal typo, hahaha, saya tak menandai, tapi novel ini memang kebanjiran typo. Tambahan saran, jika memang akan terbit-ulang, mohon dipastikan untuk menjadikannya bebas-typo. Plus, sebaiknya mengikuti kaidah EYD, cetak miring untuk istilah bahasa asing, mengingat cukup banyak istilah dalam bahasa Inggris dalam novel ini (yang tidak dimiringkan).

Selebihnya saya suka. Dari awal, saya menebak bahwa Swastika paling-paling ujungnya akan dipasangkan sama Dylan. Resep standar, kan, awal-awal bertengkar ujung-ujungnya jadi mesra. Ternyata...saya ketipu, huhuhu. Di tengah-tengah cerita sih, sudah dipastikan siapa pangeran yang ditakdirkan untuk menggaet Swastika, dan saya setuju dengan pilihan yang diberikan sang penulis kepada Swastika, hahaha.

Baiklah, overall 3,5 bintang dari skala 5 bintang saya berikan untuk novel teen lit ini. Sekali lagi, biarpun tema dan setting-nya biasa dan klise, namun eksekusi yang dilakukan Rina cukup apik sehingga saya tetap enjoy membaca novel ini hingga tuntas.

Selamat membaca, kawan!

Monday, July 23, 2012

Pengarang Bulan Ini: Rina Suryakusuma

Hai, metropop.lover, kembali saya mengingatkan bahwa bulan Juli 2012 ini, Rina Suryakusuma, pengarang novel amore Lullaby, adalah Pengarang Bulan Ini, pilihan blog metropop.lover.


Dua bagian perbincangan kita bersama Mbak Rina telah saya posting, silakan klik tautan di bawah ini untuk menyimaknya:
Rina Suryakusuma: Semoga tulisan saya menjangkau hati para pembaca, dan memuliakan Tuhan.


Dan, untuk menyimak karya-karya Rina Suryakusuma, silakan klik pada gambar sampul novel di bawah ini yang akan membawamu ke goodreads.com









Selamat membaca, kawan.

Rina Suryakusuma: Semoga tulisan saya menjangkau hati pembaca, dan memuliakan Tuhan

Hai, metropop.lover, setelah bagian pertama pada artikel yang telah saya posting di awal bulan Juli kemarin lebih banyak mengurai keseharian, awal mula karier kepenulisan sampai dengan liku-liku perjalanan hingga berhasil menembus dunia penerbitan buku, kali ini bagian kedua dan terakhir dari perbincangan saya dengan Penulis Bulan Ini, Rina Suryakusuma, akan diisi dengan cerita seputar proses kreatif dari karya-karyanya, pengaruh dari penulis favorit, hingga harapan masa datang bagi seorang Rina Suryakusuma. Oiya, bagian kedua ini, saya tampilkan dengan gaya tanya-jawab langsung, bukan reportase sebagaimana yang saya tampilkan di bagian pertama, agar lebih dekat dengan penulis pilihan kita ini.


Untuk mengawali obrolan, saya menanyakan sebuah pertanyaan yang oleh Dee (kalau tidak salah ingat) dianggap salah satu pertanyaan paling nggak kreatif yang ditanyakan seseorang kepada penulis, "Dari mana biasanya inspirasi Rina peroleh dalam menuliskan sebuah novel?" Syukurlah, Rina dengan sabar masih mau menjawab pertanyaan klise saya, hehehe...

Rina: Inspirasi bisa datang dari mana saja. Itu pasti jawaban standar yang diberikan oleh para penulis. Tapi jika ditanya, saya juga tidak bisa menjabarkan, dari mana ide ini timbul. Ide ini datang dari kehidupan yang berlangsung dalam diri kita, ataupun mengamati sekitar kita. Bisa dari melihat kehidupan seseorang (Lukisan Keempat), bisa dari melihat betapa mengenaskan hidup anak jalanan (Zoom - Lintas, 2008), bisa saja ide itu datang dari ngobrol dengan pelayan cafe (Postcard From Neverland), bisa dari mendengarkan lagu (novel in progress saya, yang sedang diedit di penerbit). Intinya, ide bisa datang dari mana saja.


Biasanya, seorang penulis top sekalipun tetap memiliki idola, baik penulisnya atau karya-karyanya. Saya juga menanyakan hal tersebut pada Rina. Apakah novel favorit Rina, baik dalam maupun luar negeri?

Rina: Novel favorit saya banyak sekali. Tapi jika hendak dimampatkan dalam beberapa judul, yang merupakan everlasting books buat saya, itu bisa dibilang: Karya Agatha Christie, Laura Ingalls series, Shopaholic series, dan juga buku karangan Barbara Taylor Bradford.

Hmm, menarik. Itu dari buku-buku favorit, bagaimana dengan pengarang favorit?

Rina: Penulis dalam negeri yang sangat saya sukai adalah Marga T - saya tumbuh di era ketika Marga T merajai pasaran novel fiksi di Indonesia, S Mara Gd - penulis ini menemani saya di masa SMA - juga penulis remaja lepas zaman dulu, seperti Arini Suryokusumo dan Yanti Rahardja. Dan zaman sekarang, saya suka Clara Ng, Ilana Tan, Winna Efendi, Ika Natassa, Sitta Karina, dan juga Stephanie Zen.

Penulis luar yang sangat saya sukai adalah Enid Blyton, Agatha Christie, Barbara Taylor Bradford, Laura Ingalls dan untuk penulis sekarang, tentu saya suka JK Rowling dan Sophie Kinsella.

Wow, banyak ya yang disukai oleh Rina, lalu, dari sekian buku dan penulis favorit, apakah ada pengaruhnya bagi Rina dalam menulis?

Rina: Sedikit banyak, pasti ada. Saya belajar tentang family value dalam serial Laura Ingalls, little house series. Saya belajar tentang bagaimana membuat tulisan yang kocak dan jenaka, dari Sophie Kinsella. Saya belajar tentang penggambaran detail yang kaya, dari tulisan Barbara Taylor maupun Ilana Tan. Semua karya yang kita baca, singkatnya, adalah sebuah pembelajaran.


Baiklah kalau begitu, selanjutnya saya ingin tahu lebih banyak tentang karya-karya yang telah dihasilkan oleh Rina Suryakusuma. Saya memulainya dengan menanyakan tentang novel-novel terakhirnya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Terkait novel-novel Rina yang telah diterbitkan Gramedia sebagian besar adalah berlabel Amore, apakah itu pilihan Rina atau editor? Boleh diceritakan sedikit tentang label Amore bagi novel-novel karya Rina?

Rina: Awalnya, saya menulis tanpa memikirkan pengkotakan, akan dimasukkan genre apakah naskah saya ini oleh editor Gramedia. Dan kemudian dua naskah saya diterima, yaitu Lukisan Keempat dan Postcard From Neverland. Editor yang membantu saya saat itu berkata bahwa naskah ini akan dimasukkan dalam genre baru, yaitu Amore. Mengutip keterangan yang mereka berikan pada saya, amore itu sedikit banyak mirip metropop. Perbedaan signifikan di genre amore adalah: bahasa yang mungkin lebih puitis, kisah cinta yang lebih mendalam (metropop lebih menekankan pada dunia kerja dan pergaulan di kota besar, sementara amore lebih pada perasaan sang tokoh), happy ending yang selalu ada di kisah amore (sedikit berbeda dengan metropop yang bisa saja sad ending - contoh paling nyata: novel karya Ilana Tan), juga biarpun tidak harus, tapi tipis-tebal naskah ini juga menjadi patokan.

Saat ini pun saya sedang mencoba untuk menulis di genre baru. Metropop, adalah salah satu mimpi saya selanjutnya :) Tapi kita lihat saja. Karena sebagai penulis, tugas kita adalah menulis yang terbaik. Masalah pengkotakan genre, saya serahkan pada penerbit. Karena saya percaya, mereka juga memiliki pandangan serta strateginya sendiri.

Wahhh, metropop, saya gembira sekali mendengarnya. Tak sabar menanti kejutan metropop karya Rina Suryakusuma. Baiklah, saya meneruskan pertanyaan, mengapa memilih cinta sebagai tema novel-novel Rina?

Rina: Saya suka kisah romance. Jangan tanya kenapa, tapi sejak dulu, romance is just like my cup of tea. Saya suka membaca fomance, saya suka film romcom (romance comedy). Jadi tulisan ini bisa dibilang, adalah sesuai passion saya yang terdalam.

Wow, baiklah, saya juga penyuka romance, jadi saya tak akan mengungkit lebih dalam, soalnya jika saya ditanya, "mengapa?" saya pun tak tahu harus menjawab apa, apakah kesukaan akan sesuatu selalu harus disertai alasan selain karena suka? Anyway, mari lanjutkan perbincangan. Mumpung lagi bicara romance yang biasanya bertabur cinta-cintaan, saya bertanya, apa makna cinta bagi seorang Rina Suryakusuma?

Rina: Cinta untuk saya, mungkin seperti arti cinta untuk Ivan dan Ally, di buku Jejak Kenangan :) Cinta berarti hubungan yang saling memberi dan menerima (take and give), cinta tidak harus kalah, tapi menyatukan dua hati yang berbeda, tanpa ada pihak yang lebih rendah atau tinggi. Cinta diiringi dengan saling mengalah dan mau saling mengerti, bisa membentuk fondasi yang kuat untuk maju ke step berikutnya :)



Ohhhhhh..... *meleleh*, duhai cintaku, di manakah engkau berada? #ups malah curcol. Lalu, tidak takutkah novelnya dianggap ‘tidak-serius’ karena melulu bicara cinta?

Rina: Saya kembalikan penilaian itu pada pembaca :) Saya sebagai penulis, berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap karya yang saya hasilkan. Baik dalam hal tema, cara menulis, konflik bahkan nilai moral yang saya angkat dalam setiap tulisan. Tapi dalam dunia seni ini, we just can't please everybody. Bahkan dalam buku sekelas JK Rowling misalnya, tetap ada yang mengkritik dan tidak menyukai hasil karyanya,. Jika demikian, apalagi novel saya :) Yang jelas, saya menulis sesuai kata hati saya. Dan saya harap saya bisa tetap menyuguhkan yang terbaik dari tulisan saya itu.

Bagaimana cara Rina menghindarkan novel-novel cinta yang Anda tulis tidak jatuh pada jenis novel cinta yang menye-menye?

Rina: Saya menulis, menulis, menulis, dan akhirnya mengendapkannya. Dalam masa pengendapan itu, saya memiliki teman-teman yang saya percaya, untuk menjadi first reader saya. Mereka membaca naskah awal ini. Saya mengendapkannya. Setelah dibaca, mereka akan mengkritiknya, dan percayalah, kadang sadis. Dan setelah beberapa waktu, setelah saya bisa lebih objektif terhadap naskah saya itu, saya membaca ulang, mencoba menjadi orang asing untuk tulisan saya. Jika ada beberapa hal yang jatuh pada hal klise, menurut first reader ataupun diri saya sendiri, saya harus membantai, membongkar, merevisi, mengedit naskah saya itu. Semoga dengan bersikap lebih objektif, 'tidak terlalu sayang' dan menganggap tulisan tanpa cacat, kita bisa menghindarkan diri jatuh pada hal klise, atau menye-menye :)

Hmmm, pelajaran menulis yang sungguh berharga, #notetomyself. Apakah Rina melakukan riset terlebih dahulu dalam menulis ataukah begitu dapat ide langsung menulis? Jika iya, manakah dari novel-novel yang sudah terbit yang membutuhkan waktu paling lama dalam hal riset?

Rina: Biasanya saya pasti riset. Entah dengan googling, atau mungkin mewawancarai teman yang jauh lebih mengerti. Riset yang paling lama, sementara ini, adalah Lullaby.


Nah, jika ditanya lebih jauh, manakah dari novel yang sudah terbit yang membutuhkan waktu paling lama dalam prosesnya (baik dari konsep, riset, produksi, hingga naik cetak)?

Rina: sementara adalah Lullaby. Sejak ditulis, sebelum dikirim ke penerbit sudah saya edit. Setelah dikirim, diharuskan revisi. Memakan waktu cukup lama, saya lupa tepatnya berapa lama, sepertinya kurang lebih satu tahun.

Dari semua novel yang sudah terbit, mana yang memberikan kesan paling mendalam? Mengapa?

Rina: setiap novel yang saya tulis, saya sukai karena semua punya cerita sendiri. Agak sulit untuk saya memilih favorit, karena memang, ketika menulis, saya menyukai ide dan plot setiap naskah.


Soal karakterisasi, apakah tokoh-tokoh dalam novel Rina murni reka-imajinasi atau ada beberapa yang berasal dari sosok nyata kehidupan keseharian Anda?

Rina: kebanyakan adalah imajinasi. Memang ada yang berasal dari sosok nyata, misalnya Natasha di Lukisan Keempat, itu sedikit banyak saya ambil dari teman saya yang bekerja sebagai stewardess Singapore Airlines. Sosoknya dan pekerjaannya, mirip teman saya. Tapi background kisah hidupnya, murni imajinatif.

Dari semua tokoh yang sudah dihidupkan, mana yang paling sulit ketika pendalaman karakternya? Mengapa?

Rina: yang paling sulit mungkin adalah Audy, di Lullaby. Sebagai gadis berusia 24 tahun, hidup Audy cukup kompleks. Saya sulit membayangkan jadi dirinya, yang melihat bayangan terus menerus, yang tidak bisa membedakan yang nyata dan tidak. Rasanya cukup menyeramkan. Dan ketika sulit, saya harus berhenti, riset kembali, membayangkan scene demi scene di otak saya, dan baru menulis kembali.

Baik, sampai dengan saat ini, saya sudah baca Lukisan Keempat dan Lullaby dari novel-novel Rina, yang lain sudah saya miliki tapi belum dibaca. Nah, kalau Lukisan Keempat yang berlatar belakang kehidupan pramugari lalu Lullaby tentang psikologi, itu inspirasi dari mana?

Rina: seperti saya jelaskan, Lukisan Keempat itu sedikit banyak mengambil tokoh teman saya sang pramugari. Tapi kisah hidupnya, fiktif. Setelah sosok Natasha itu ada dalam pikiran saya, tidak sulit membayangkan konflik yang muncul dan menimpa hidupnya. Dimulai dari ayah yang begitu mengecewakannya.

Sementara Audy dalam Lullaby, satu hari, sosok gadis itu muncul begitu saja dalam pikiran saya. gadis yang selalu melihat kembarannya, sementara orang lain tahu, kembaran itu sudah tidak ada. Gadis yang selalu mengajak kembarannya bercanda. Gadis yang menyimpan masa lalu kelam, tapi tidak pernah sadar masa lalu itu ada. Gadis yang dihantui rasa bersalah karena sakit jantung dan perlakuan spesial yang ia terima. Lalu gadis itu lahir dalam sosok Audy.

Boleh diceritakan secara singkat bagaimana proses penulisan keduanya?

Rina: Lukisan Keempat saya tulis kurang lebih dua sampai tiga bulan. Menulis e-mail bolak balik dengan teman saya itu. Riset dan googling tentang pelatihan stewardess. Plotting, menciptakan konflik. Dan akhirnya menulis tentang Natasha Rahadian.

Lullaby agak sedikit lebih lama. Saya membaca tentang artikel psikologi. Saya mencari data tentang penyakit jantung. Saya menggali ingatan saya tentang kantor akuntan, karena saya dulu pernah bekerja di sana. Penulisannya pun memakan waktu yang cukup lama. Awalnya Lullaby menggunakan Point of View (PoV) orang pertama, berganti dari tokoh Audy dan Rose. Kemudian atas saran editor saya, PoV diganti jadi PoV orang ketiga, dan bagian Rose saya hilangkan, kecuali di scene terakhir.

Hmmm, cukup berliku ya perjuangan Rina menuliskan novel-novelnya. Saya jadi malu mengingat calon novel saya yang tak kelar-kelar selalu saya sandarkan pada alasan klasik, "Saya nggak ngerti masalah itu, dan saya nggak bisa menuliskannya tanpa mengalaminya!" Hadehhhh, zaman ada internet dan begitu banyak orang yang bisa dimintai saran, seharusnya saya tak lagi membuat alasan seperti itu yaaa....

Wahh, sudah cukup banyak pertanyaannya, semoga tidak merepotkan. Nah, untuk sekarang sedang sibuk apa?

Rina: Saya sedang merevisi satu naskah, menulis satu naskah juga, dan sedang mencoba untuk berduet dengan satu penulis untuk membuat satu naskah fiksi.

Semoga semua tercapai dan dilancarkan oleh Yang Diatas, ya.
Karena seambisius kita untuk merencanakan langkah kita, sia-sia jika kita tidak berdoa dan mendapat berkat dari Dia :)

#Amiiinnn...

Apakah impian terbesar seorang Rina Suryakusuma dalam dunia kepenulisan?

Rina: sederhana saja. Semoga tulisan saya bisa menjangkau hati banyak pembaca, membawa pada kebaikan, dan terutama, memuliakan Tuhan :)

#Amiiiiinnn....

Apakah ada keinginan menulis buku non fiksi atau novel di luar tema cinta?

Rina: Sementara, belum ada :)

Terakhir, apakah ada yang ingin disampaikan bagi pembaca Indonesia?

Rina: Terimakasih karena sudah begitu bersemangat membaca dan mereview buku, khususnya dalam hal ini, buku saya :) Jangan jemu untuk membaca, karena buku adalah jendela menuju pengetahuan dunia. Buku apa saja, fiksi maupun non fiksi. Buku bisa mengubah pandangan kita - tentu harus ke arah yang lebih baik, ya. Dengan pikiran dan pandangan yang lebih terbuka, kita jadi bisa lebih luas dan semoga juga bijak, dalam memandang dan menyikapi kehidupan dan masalah kita.

Terimakasih juga untuk semua perhatian dan dukungannya selama ini. Tanpa kalian, tanpa para pembaca, saya juga penulis lainnya, juga tidak ada apa-apanya kok :)


Saya, mewakili seluruh teman pembaca, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Mbak Rina Suryakusuma yang telah meluangkan waktu, menjawab pertanyaaan-pertanyaan saya, dan membagi pengalaman menulis yang begitu luar biasa di tengah kesibukan Mbak Rina yang padat, as a mom, wife, and worker. Salut! Salut! Salut!

Sebagai pembaca, mungkin terdengar egois, tapi selalu mendoakan semoga Mbak Rina tetap produktif menulis dan mempersembahkan karya-karya terbaik bagi kami, para pembaca. Hehehe, dan tentu saja, semoga selalu sukses di karier dan keluarga Mbak Rina. Salam towel pipi buat kedua malaikat kecil-nan-cantiknya yaaaa....

Semoga di lain kesempatan, saya masih diperkenankan meminta waktu untuk berbincang-bincang lagi. Terima kasih.


Tuesday, July 3, 2012

Rina Suryakusuma: bagi saya, "Family does come first."

Perkenalan 'maya' saya dengan Rina Suryakusuma akan menjadi salah satu kenangan yang tak mudah terlupakan dalam kegemaran saya membaca. Berawal dari kehebohan sebuah novel Amore di situs www.goodreads.com yang lebih populer dengan kejadian "Buku Biru" pada pertengahan tahun 2010 silam, saya kemudian mencicipi sebuah karya tulis seorang Rina Suryakusuma, yang kala itu bertujuan untuk membalikkan asumsi saya bahwa novel-novel Amore yang diterbitkan oleh Gramedia tak lebih dari kemasan lain novel harlequin. Mencoba satu novelnya, saya lantas ketagihan, dan mulailah mengumpulkan satu demi satu karya tulis Rina Suryakusuma.

Istri dari David Hendrawan dan ibu dari dua putri yang lucu, Irish dan Rachel, ini telah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih kecil. Meskipun bukan berasal dari keluarga penulis, tapi sejak kecil, Rina sudah gemar membaca. Kemudian, Rina mulai menyukai untuk menulis cerita pendek sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tentu saja, masih untuk konsumsi pribadi, dan tidak untuk dipublikasikan, katanya. Oleh karena keluarga yang tidak begitu memahami dunia kepenulisan, sehingga tidak ada yang memberi bimbingan atau sekadar dorongan agar Rina terus menulis dan mengirimkan tulisannya ke penerbit/majalah, maka hobi menulis itu pun terabaikan oleh kesibukannya dalam dunia akademik, sampai dengan saat ia mulai bekerja, hasrat untuk menulis kembali hadir. Dan, begitulah, beberapa novel telah terbit dari lembah imajinasinya.




Kegiatan sehari-hari Rina cukup bervariasi. Selain menulis, yang dilakukannya karena hobi, Rina adalah seorang pekerja penuh waktu di salah satu perusahaan property developer di Jakarta. Dan, tentu saja, menjadi istri dan ibu dalam rumah tangga yang dibinanya bersama sang suami. Rina mengaku tugas utamanya adalah sebagai istri dan ibu. Karena itu, rumah tangga dan kewajibannya sebagai seorang Mama adalah prioritas. Rina selalu menulis di waktu malam, ketika anak-anak tercintanya sudah terbuai mimpi, atau di pengujung Minggu, ketika kantornya libur dan sudah menghabiskan waktu untuk keluarga. Baginya "family does come first."

Dari topik keseharian, dan pengakuannya soal waktu yang dimilikinya untuk menulis, Rina menerangkan bahwa ia sebetulnya adalah tipe penulis yang bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Rina bukan tipe penulis yang dikuasai oleh mood, sehingga jika suasana di sekitarnya tidak mendukung, lantas ia tidak bisa menulis. Tidak begitu! Tapi karena kewajibannya sebagai istri, ibu, dan pekerja kantoran, maka Rina menjadi tidak punya kemewahan untuk menulis di mana pun, kapan pun. Waktu tetap untuknya menulis adalah malam hari dan di akhir pekan. Itulah yang terbaik yang bisa ia lakukan.


Salah satu hal yang selalu disyukuri oleh Rina adalah dukungan keluarga yang begitu besar dalam menggeluti hobinya pada dunia kepenulisan. Tentu saja, dengan perannya sebagai pekerja kantoran dan ibu rumah tangga, support dari orang-orang tersayang menjadi pendorong utama bagi Rina untuk terus menulis. Keluarga, terutama suami, sangat mendukungnya. Mereka menyadari, bagi Rina menulis bukan 'sekadar' kegiatan. Menulis adalah satu kebutuhan. Menulis adalah salah satu passion-nya. Menulis adalah 'sanctuary'-nya, untuk melepaskan kepenatan ataupun kejenuhannya dalam bekerja melakukan rutinitas sehari-hari. Bentuk dukungan mereka yang paling kuat yang dirasakan oleh Rina adalah ketika di awal karier kepenulisannya, ketika tulisannya ditolak berkali-kali oleh penerbit. Suami tidak berkata, "Tuh kan, kamu tidak berbakat. Sudahlah, tidak usah menulis, buang waktu saja." Tidak begitu. Sang suami justru selalu berkata, "So what, coba lagi aja. Nanti pasti tembus." Dan ya, Rina menjadi semakin terpacu dan percaya, jika Dia memberkati, jika waktunya tiba, maka ia pasti bisa menembus penerbit yang ia impikan. "Puji Tuhan, saya diberkati dan mimpi ini teraih," sebut Rina penuh syukur.

Bagi saya pribadi, salah satu yang saya suka dari tulisan-tulisan Rina [novel-novelnya yang sudah saya baca] adalah diksinya yang begitu indah. Maka, saya kemudian mengajukan pertanyaan tentang bagaimana Rina mengasah atau belajarnya. Dan, saya cukup terkejut ketika Rina menjawab bahwa ia tidak pernah mengasahnya secara khusus. "Puji Tuhan ya, kalau diksi saya dianggap indah," katanya. "Tapi saya masih harus belajar banyak :) Saya belajar menulis secara otodidak, dan saya banyak membaca buku," sambungnya.

Tentu saja, saya tak berpuas diri mendapati jawaban tersebut. Saya masih tak percaya donk, Rina tak mendapat semprotan ilmu dari mana gitu. Maka, saya menyerbunya dengan pertanyaan seputar background kepenulisannya. Apakah ia pernah mengikuti kelas atau lomba-lomba kepenulisan yang melecutnya hingga menjadi seorang penulis yang piawai merangkai kata. Namun kemudian, saya kembali diyakinkan bahwa Rina tidak pernah mengikuti kelas kepenulisan ataupun lomba-lomba kepenulisan apa pun. Yang membuat saya mengatupkan mulut dan tak lagi mencecarnya soal background kepenulisannya ---soalnya, saya masih penasaran, diksinya bagus bangetttt--- adalah ketika membaca pengakuan Rina yang ini, "Jurusan saya adalah ekonomi akuntansi. Melenceng dari bahasa sebenarnya, karena jurusan saya adalah eksakta :)" Wahh, baiklah, saya percaya sekarang.

Meskipun dari awal cukup yakin bahwa nama yang digunakannya dalam penerbitan buku-bukunya adalah nama asli, saya masih perlu bertanya apakah Rina Suryakusuma adalah nama aslinya. Iya donk, perlu sepetinya saya diyakinkan, orang Dewi Perssik aja nama buatan, kan? Hihihi...nggak nyambung. Dan, ya, seperti dugaan saya, Rina Suryakusuma memang nama asli pemberian orangtua Rina.


Lalu, saya pun bertanya soal apakah Rina menulis pada jenis tulisan yang lain, semisal puisi dan cerpen [harusnya sih iya nulis cerpen ya, kan dari kecil awalnya nulis cerpen, hehehe, list pertanyaan saya berulang, maafkan.] Sampai dengan saat ini, Rina mengaku belum menulis puisi. "Mungkin suatu saat nanti," katanya. Tapi ia menulis banyak cerpen, baik bertema anak maupun remaja. Puji Tuhan, beberapa cerpen anak yang dibuatnya terbit di majalah BOBO dan beberapa cerpen remajanya terbit di majalah CosmoGirl! Sampai sekarang, Rina mengaku masih menulis cerpen. Cerpen juga adalah salah satu relaksasi ketika dirinya stuck, atau sedang fase jenuh, dalam menulis novel. Hmm, setuju sekali. Cerpen bisa menjadi jeda yang baik untuk menguraikan kebuntuan ketika writer's block menyerang.

Wah, baiklah, ini masih separuh jalan dari pertanyaan-pertanyaan yang saya kirim melalui surel ke Rina Suryakusuma. Paruh kedua dari wawancara akan saya posting selanjutnya yaaa....


Catatan: foto-foto adalah koleksi pribadi Rina Suryakusuma yang saya salin dari akun facebook resmi Rina Suryakusuma.

Thursday, May 31, 2012

Pengarang Bulan Ini: Rina Suryakusuma

Ahhh, entah saya yang pembosan, labil, atau justru kreatif! Hmm... sepertinya lebih dekat ke kategori labil sih yaa.... hehehe.

Yapp, kali ini saya membuat rubrik baru di blog ini. Author of The Month. Pengarang Bulan Ini. Harapan saya sih, saya bisa menambah dan terus menambah koleksi bacaan dari beraneka ragam penulis. Rubrik ini juga saya harapkan dapat lebih mendekatkan seorang penulis dengan para pembaca karya-karyanya. Tentu saja, bukan perkara mudah. Kalau lah sekadar mencomot profil dan kabar sang penulis dari sana-sini mungkin gampang, ya? Tapi, lagi-lagi, saya berharap dapat memberikan sesuatu yang lebih. Misalnya, dengan mewawancarai sang penulis, membaca seluruh karyanya dalam satu bulan penuh dan membuat resensinya. Wow. Saya saja langsung bersemangat dengan ide ini. Semoga saja, teman-teman yang mampir ke sini juga dapat menikmatinya.

Nah, untuk mengawali rubrik ini, bulan Juni 2012 saya memilih Rina Suryakusuma sebagai Author of The Month edisi perdana.


Mengapa Rina? No specific reason, kecuali bahwa secara tak terduga saya menyukai karya-karyanya, meskipun mungkin tidak sampai membuat saya melayang-layang, tapi saya menikmati reka-imajinasi yang diracik oleh Rina Suryakusuma. Di samping itu, saya juga sangat bersyukur bahwa ketika saya mengontak Rina dan meminta waktu untuk wawancara online via e-mail, penulis novel Lullaby dan Lukisan Keempat ini bersedia menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan. Waaahhhhh, saya sangat berbahagia sekali. Terima kasih, Rina Suryakusuma.


Baik, teman, selama bulan Juni 2012 ini, latar belakang blog juga akan menyajikan gambar yang berhubungan dengan Rina Suryakusuma sebagai Author of June 2012.


Tetap membaca, Kawan!

Friday, April 6, 2012

[Resensi Novel Amore] Lullaby by Rina Suryakusuma

Ikatan dua bersaudari kembar
Rating: 3 out of 5 star


Judul: Lullaby
Pengarang: Rina Suryakusuma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: November 2011 (cet. 1)
ISBN: 978-979-22-7730-2

Audy dan Rose adalah dua saudari kembar, bungsu dari keluarga Andrew dan Madeline Capelle. Sejak kecil Audy mendapat perlakuan istimewa oleh karena suatu penyakit mematikan yang dideritanya, menyisihkan Rose dari curahan kasih sayang orangtua dan kakak-kakak mereka. Namun demikian, bagi Audy, Rose adalah segalanya. Rose adalah saudari, sahabat, juga belahan jiwanya. Audy berusaha selalu melibatkan Rose dalam setiap episode kehidupannya. Itu juga yang membuat Mardi, kekasih Audy, dirundung gusar mengajak Audy ke tahap hubungan lebih lanjut karena Rose selalu menjadi penghalang.

Tetapi, Audy tak bisa dipersalahkan. Saudara kembar dipercaya memiliki ikatan batin yang teramat kuat dan Audy tak bisa begitu saja mengabaikan Rose. Jika akhirnya ia harus menikah, Rose juga harus menikah. Meskipun, dilihat dari sikap Rose yang tak pernah mau bersosialisasi dan lebih banyak mengurung diri di apartemen mereka, rasanya ajakan Mardi untuk menikah tak akan terjadi dalam waktu dekat. Apa yang harus dilakukan Audy untuk meyakinkan Rose agar mau menjalin hati dengan seorang lelaki?

Satu pertanyaan besar yang harus ditemukan jawabannya di novel ini: apakah ini nyata atau sekadar imajinasi?

Saya selalu suka dengan diksi yang diracik Rina Suryakusuma. Dalam dan menyenangkan. Bgai saya, diksi menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan kenikmatan membaca suatu karya tulis, plus konsistensinya. Saya paling sebal jika di awal-awal tulisan diksi-nya konsisten menggunakan kata tidak/tak tiba-tiba di tengah-tengah muncul kata “nggak” yang tidak memiliki maksud dan tujuan lain. Itu, saya kategorikan fatal. Inkonsisten.

Berikut beberapa bagian kalimat yang saya suka:
Bagaimana cara kamu bilang pada matahari supaya dia jangan terbit lagi? Bagaimana cara kau bilang pada orang yang mencintaimu sepenuh hati, supaya tidak usah kuatir lagi padamu? (hlm. 22)

Tawa adalah obat paling manjur untuk kesedihan. Cinta yang tulus ialah terapi paling sempurna untuk semua sakit dan duka yang ia rasakan. (hlm. 118)

Premis novel ini adalah kekuatan terbesarnya. Jika kamu seperti saya yang gampang tertipu, kamu pasti akan mendesah “OMIGOD!” ketika penulis menyajikan twist yang begitu mengejutkan di tengah hingga menjelang akhir. Saya sampai memaki diri sendiri yang tak bisa menebak plot dari sejak mula. Saya baru menemukan clue-nya hampir di pertengahan novel (halaman 165, tepatnya). Astagahh! Dua jempol buat Rina yang berhasil menghadirkan twist ini.

Sayangnya saya tak bisa menikmati gaya ‘feodal’ yang dipilih Rina untuk menghadirkan tokoh-tokohnya dengan terlampau seringnya penyebutan nama lengkap mereka. Saya kurang begitu terhubung. Ada jarak yang tercipta antara saya dan aktor-aktrisnya. Seolah-olah saya duduk di kursi terbawah pada sebuah pertunjukan di panggung setinggi tiga meter. Saya melihat tapi tidak terlibat. Hal itulah yang menghalangi saya dari terhanyut kisah ini.

Selain itu, cerita hanya disokong kisah Audy seorang. Tak banyak subplot yang dihadirkan untuk mendukung kisah bersaudari kembar ini sehingga ada saat-saat saya ingin menaruh novel ini begitu saja dan beralih membaca yang lain. Andai saja penulis memberikan tikungan-tikungan pada jalan cerita ini, saya yakin guncangan twist-nya akan lebih terasa.

Untuk departemen cetakan, berikut beberapa temuan typo yang saya dapat:
(hlm. 18) kekanak-kanakkan = kekanak-kanakan
(hlm. 20) beraktifitas = beraktivitas
(hlm. 28) La Grande = Le Grande = inkonsisten
(hlm. 33) Karena = karena (huruf K harusnya tidak kapital)
(hlm. 34) pertunjukkan = pertunjukan
(hlm. 72) Arman = Armant
(hlm. 77) Tenggorakan = Tenggorokan
(hlm. 78) bidak = biduk
(hlm. 80, 220) praktek = praktik
(hlm. 94) dr = Dr = Dokter = inkonsisten
(hlm. 125) ...di antara keluarganya, dan Rose Tapi Audy sadar,... (ambigu)
(hlm. 149) “Jam setengah tiga subuh.... (hanya terasa tidak pas penggunaannya, hampir tak pernah waktu subuh jatuh pada jam kurang dari pukul tiga pagi, di zona waktu mana pun, di Indonesia)
(hlm. 220) klat = kilat

Oh, dan ini sepertinya sudah menjadi ciri khas seorang Rina, lebih memilih menggunakan kata ‘kuatir’ dibanding ‘khawatir’, jadi ya, sudah, saya sih tetap menyarankan menggunakan kata yang dianggap baku di kamus yaitu ‘khawatir’.

But, overall, saya tetap menyukai membaca novel ini. Sebuah pengalaman mengejutkan yang menyenangkan. Tiga bintang untuk twist-nya.


Selamat membaca, kawan!