Showing posts with label Novel: Teenlit. Show all posts
Showing posts with label Novel: Teenlit. Show all posts

Saturday, January 5, 2013

[Resensi Novel Teenlit] Confession of a Silly Drama Quenn by Citra Rizscha Maya

Mana dramanyaaaaaa....???

Sinopsis:

Chacha bete berat. Idea memutuskannya.

Idea, cowok Kutu Buku itu berani-beraninya memutuskan the most popular girl at school,Chacha, si Ratu Drama yang selama ini jadi rebutan. Cewek paling populer, ratu dansa dan paling gaul di sekolah.

Selama ini nggak ada cowok yang berani mutusin Chacha. Chacha-lah yang mutusin mereka kalau udah bosen. Ini, Idea, si Kutu Buku berkacamata, nggak gaul, mana adik kelas lagi, berani-beraninya mutusin cinta yang sudah ditawarkan Chacha. Memang sih, Idea itu genius, juara Olimpiade Sains dan penerima beasiswa. Tapi, hellooo... itu kan nggak bikin dia populer seperti Chacha, sang idola sekolah yang cantik, chic, dan sophisticated. Pokoknya, Chacha nggak terima diputusin si Kutu Buku begitu saja!

Chacha nggak bisa melupakan Idea. Dia nggak bisa hidup tanpa Idea. Karena Idea membangkitkan perasaan yang selama ini terpendam dalam-dalam di hatinya. Chacha rela melakukan apa saja asalkan Idea mau kembali padanya.

Sampai sejauh apakah Chacha harus memohon? Lagi pula, apa sih istimewanya Idea, si Kutu Buku berkacamata, sampai-sampai membuat sang Ratu Sekolah termehek-mehek?

Judul: Confession of a Silly Drama Queen
Pengarang: Citra Rizscha Maya
Penyunting: Esti A. Budihabsari
Pewajah sampul: Mareta Melani Kullit
Penerbit: Mizan
Tebal: 116 hlm
Rilis: Oktober 2012
Harga: Rp29.000
ISBN: 9786028994910

Wednesday, September 5, 2012

[Resensi Novel Teenlit] Dark Love by Ken Terate

Seks pranikah BUKAN pernyataan cinta, itu nafsu!!!

Usiaku 17 tahun, hampir 18. Kelas 12. Hampir lulus. Dan aku hamil...

Kirana yang cerdas, cantik, dan ceria melihat semua impiannya luruh di depan mata. Hari-harinya mulai dipenuhi rahasia dan kecemasan. Ia nggak mungkin mampu melahirkan dan merawat bayi. Ia juga nggak mungkin mampu menghadapi celaan dari orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, guru-gurunya, terutama kekecewaan orangtuanya. Saat ini Kirana berada di ambang jurang keputusasaan. Hidup seolah tidak menawarkan solusi apa pun padanya.

Bagaimana dengan cowok yang menghamilinya? Oh, cowok itu harus tetap sekolah. Dia nggak boleh terlibat. Dia cowok paling tampan dan paling cerdas di sekolah. Masa depannya begitu gilang gemilang. Kirana tidak ingin merusaknya. Siapakah dia? Kirana takkan pernah mau mengakuinya.

Judul: Dark Love
Pengarang: Ken Terate
Pewajah sampul: Niken Anggrek Wulan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp40.000
Rilis: September 2012
ISBN: 978-979-22-8751-6

Summary:
Dunia remaja Kirana yang ceria dan penuh tawa seketika retak begitu dia menyadari ada benih cinta yang bertumbuh di rahimnya. Ia HAMIL. Ya Tuhan, Kirana baru 17 tahun. Tinggal satu semester lagi, ia akan lulus SMA. Bisakah ia menghentikan janin di kandungannya untuk berkembang? Bolehkah ia tetap bersekolah jika perutnya makin membesar? Oh, dia kan salah satu murd terpandai di sekolahnya, masa' pihak sekolah akan mengeluarkannya begitu saja?

Oh, apakah ia korban perkosaan? Apakah Kirana hanya melakukan hubungan intim dengan iseng? Tak lebih baikkah jika Kirana mengaku saja pada semua orang siapa cowok yang menghamilinya? Tentu, itu lebih mudah baginya. Ia tak akan menanggung semua beban itu sendirian. Tapi, ia tak tega. Cowok itu begitu tampan, begitu pintar, dan dia begitu diharapkan sebagai tulang punggung keluarganya. Oh, Tuhan! Kirana begitu kalut. Apa yang musti ia lakukan? Bersediakah ia....aborsi?

Simak langkah Kirana yang tertatih-tatih demi mencari solusi atas aib yang menimpanya dalam novel teen lit terbaru karya Ken Terate bertajuk Dark Love ini.


Pada suatu ketika dalam masa akademik saya, pernah terlontar pertanyaan seputar, "Bolehkah seorang siswi yang hamil tetap diperbolehkan masuk sekolah?" Jika tidak salah, saya pernah punya satu teman angkatan yang terpaksa putus sekolah karena ia telanjur hamil dan akhirnya MBA (Married by Accident). Kala itu, saya sebagaimana teman-teman saya yang lain, pun bertanya-tanya hal yang sama. Dan, sampai sekarang saya tak pernah tahu apakah memang ada peraturan tertulis yang melarang siswi yang hamil untuk menyelesaikan pendidikannya secara ketika masuk sekolah (SD/SMP/SMA) tidak ada surat pernyataan apa pun yang ditandatangani oleh siswa/i. Berbeda sekali ketika saya menempuh kuliah di STAN yang mensyaratkan mahasiswa/i-nya menyetujui kewajiban untuk tidak menikah (termasuk hamil) selama masa pendidikan. Tentu, itu sudah berdasar kesadaran sendiri. Nah, pas masih sekolah dasar-menengah, bagaimana donk? Dunno!

Tema itulah yang menjadi topik bahasan utama Ken Terate dalam novel Dark Love ini. Deangan gaya bercerita dan segala pernik khas remaja, Ken menghidupkan tokoh yang begitu real dengan segala keluguan dan kebingungannya menghadapi persoalan serumit ini. Perang batin yang dialami Kirana begitu dekat dengan keseharian. Seorang remaja beranjak dewasa yang menghadapi kenyataan bahwa berhubungan intim yang awalnya biasa dan menyenangkan justru membawanya kepada jalan yang tak diketahui di mana ujungnya. Apalagi ia pun sadar, ini adalah aib. Maka, dunia tak boleh tahu.

Nuansa riang-komedi-komikal khas Ken memang masih terasa, meskipun sebagaimana judul novel ini, aliran kisahnya dibuat sedikit lebih gelap dibanding karya-karya Ken sebelumnya yang secerah warna-warni cokelat M&M. Tentu saja, persoalan hamil di luar nikah di kalangan anak SMA bukan persoalan gampang. Dan, seperti yang pernah saya tanyakan di waktu saya SMA dulu, kasus seperti ini masih "tabu" dalam dunia nyata. Coba saja tengok berita di bawah ini: tentang teguran keras Gubernur Jatim karena ditengarai ada larangan Dinas Pendidikan bagi siswi hamil untuk ikut Ujian Nasional.


“Sudah, sudah kami ingatkan. Sudah tidak ada aturan seperti itu. Silakan bagi sekolah yang mau menerapkan dan sah-sah saja jika tidak,” tegasnya.

Sebelumnya, sekolah dan dinas pendidikan kota/kabupaten sempat gelisah dengan dikeluarkannya himbauan yang lebih mirip aturan larangan bagi siswi hamil untuk ikut ujian.

Karena meski siswi hamil ini termasuk kategori korban, dengan adanya aturan tersebut jelas-jelas mereka akan dirugikan.

Selengkapnya baca di sini: lensaindonesia.com

Yang juga menarik dari novel ini adalah sejak mula tokoh Kirana enggan menyebutkan siapa cowok yang menghamilinya. Bahkan, kita sebagai pembaca pun diajak kucing-kucingan. Sepanjang membaca novel ini (sampai dengan terbongkarnya rahasia kelam itu) tak pelak saya pun ikut menebak-nebaknya. Sebenarnya mudah, karena si cowok yang dikenalkan sebagai "My Prince" adalah satu dari tiga cowok di geng Kirana yaitu Andra, Alvin, atau Banyu. Beberapa clue bertebaran di sana-sini, tapi saya patut mengacungkan jempol ketika Ken masih tetap membuat saya "buta" soal si cowok hingga ke tengahnya. Dari awal saya sudah menebak sih dari gaya berbicara si cowok lewat dialog atau lewat pesan-pesan SMS-nya. Tapi, satu bukti saja kurang, maka saya baru bisa menebak ketika telah lewat setengah ceritanya, hehehe...good job, Ken!

Tema persahabatan memang menjadi concern Ken, saya rasa. Hampir di seluruh novel-novelnya yang sudah saya baca, nuansa persahabatan itu begitu nyata. Termasuk di novel ini juga. Perubahan sikap teman-teman terdekat Kirana: Maria, Chacha, Andra, Alvin, dan Banyu, ketika rahasia kehamilan Kirana terbongkar juga dapat terasa dengan baik.

Masih cukup banyak ruang untuk pengembangan plot memang tapi saya pribadi sih sudah merasa cukup. Kegalauan hati seorang gadis SMA, pintar dan harapan keluarga, demi menghadapi masalah pelik hamil di luar nikah di usia yang untuk ukuran zaman sekarang, terlalu muda, cukup tergambarkan dengan baik. Dikarenakan PoV diambil dari sisi Kirana sehingga bagaimana gejolak si cowok yang berdasar ceritanya digambarkan bersedia bertanggung jawab itu menjadi tidak bisa terlihat. Saya yakin, dia juga terguncang. Mungkin akan makin seru jika Ken menggunakan dua sisi PoV, namun konsekuensinya yaaa...My Prince tak perlu lagi di'misterius'kan.

Atau, jika memungkinkan dibikin sekuel, bisa tuh digunakan PoV dari sisi si cowok. Hahaha, kalau pembaca selalu #ngarep ada kelanjutannya, ya?

Di dalam novel ini juga disinggung sebuah film berjudul Juno yang dibintangi Ellen Page, Michael Cera, dan Jennifer Garner yang box office beberapa tahun silam. Memang, menyimak novel ini menjadi tak bisa tidak untuk juga memabandingkannya dengan film itu. Dan, di sini, tokoh Kirana secara khusus mengungkapkan kondisinya dibandingkan Juno dalam film tersebut.


Lalu, saya pribadi pun merujuk ke film dengan judul hampir sama, tapi produksi Korea, Jenny Juno ini:


Sayang sekali, novel ini cukup banyak typo-nya. Tidak seperti biasanya, entah kenapa.
(hlm. 8) melap = mengelap
(hlm. 9) jenius = genius
(hlm. 18) istarahat = istirahat
(hlm. 21) kenyataanya = kenyataannya
(hlm. 23) Aston Kuchter = Ashton Kutcher
(hlm. 27) cheesecake - (hlm. 86) cheese cake = inkonsistensi
(hlm. 34) Dia ketua kelas dan paling sebal kalau ada anak yang masuk tanpa izin = sesuai konteks kalimat, mungkin seharusnya "yang tidak masuk tanpa izin" kali, ya?
(hlm. 40) mau?" Kataku akhirnya = K--tidak kapital
(hlm. 73) pilhan = pilihan
(hlm. 73) diesksekusi = dieksekusi
(hlm. 83) Zac Afron = Zac Efron
(hlm. 93, 111) mencelos = mencelus
(hlm. 94) Rihana = Rihanna -----> ada apa dengan novel ini, seluruh nama artis salah ejaan
(hlm. 111) Ini nggak mungkin = kurang tanda titik di akhir kalimat
(hlm. 189) kekeuh = keukeuh
(hlm. 237) berlajar = belajar
Satu hal lagi terkait penggunaan istilah berbasi-basi dan berbasa-basi yang berganti-ganti digunakan. Entah disengaja, entah tidak (pertama digunakan tokoh yang seusia, tapi juga kadang dipakai yang beda usia).

My rating:

Selamat membaca, kawan!

Sunday, August 5, 2012

[Resensi Novel Teen lit] Nada Cinta Marcella by Ken Terate

Cinta...cinta...cinta...


Judul: Nada Cinta Marcella (buku #4)
Pengarang: Ken Terate
Pewajah sampul: Yustisea Setyalim
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 hlm
Harga: Rp42.000
Rilis: Mei 2012
ISBN:978-979-22-8385-3

Marcella menghabiskan liburan sekolahnya di rumah Oma di Jakarta. Setahun tinggal di Yogyakarta, ternyata ia mulai kikuk dengan suasana ibukota. Bahkan, beberapa kawan karibnya pun mulai menyebutnya...aneh! Jelas, Marcella tak terima. Ia sering dijuluki si cantik, smart, fashionable, tapi....aneh? No way! Terus, kalau Marcella merasa jijik melihat Gresey yang easy aja digrepe-grepe cowoknya, masak itu dibilang aneh? Dia berprinsip! Dia bukan cewek gampangan. Ugh!

Dan, masa liburan pun hampir berakhir ketika Marcella akhirnya kembali ke Yogyakarta, plus setumpuk barang-barang baru yang dibelinya secara kalap berkat 'kartu-ajaib' pemberian Oma. Setelah kembali ke sekolah, dan ber 'Fun Friday' bareng Joy dan Wening, roda kehidupan kembali berputar pada keseharian Marcella. Namun, sepertinya roda hidupnya sedang macet di posisi terbawah. Krisis finansial menerjang keluarganya (jadwal nyalon musti disetop sementara, hufff), karier ke-OSIS-annya di ujung tanduk (PENSI hampir gagal, hikz), dan Devon belum juga menunjukkan tanda-tanda nembak, padahal ia sudah nggak sabar (plus deg-degan, secara Devon itu mantan-inceran-sahabat-dekatnya). Jadi, Marcella musti gimana donk?

Simak saja tingkah polah Cella dan Joy dan Wening dalam buku keempat dalam seri My Friends My Dreams karya Ken Terate ini.


Baiklah, saya tak perlu lagi ya... mengulang alasan mengapa saya SANGAT MENYUKAI karya-karya Ken Terate. Bahkan, untuk seri keempat ini, saya berikan bintang LIMA untuk novel ini. Fiuhhh. Keren deh, buku ini. Ho-ho-ho, tentu saja, penilaian ini sangat subjektif dari saya.

Ketika kali pertama membaca My Friends My Dreams years ago, saya tak pernah membayangkan Ken bakal membuatnya berseri. Oh, don't worry! Buat kamu yang nggak suka novel seri, serial ini tetap dapat dibaca terpisah. Masing-masing bukunya memiliki kisah sendiri yang memang akan lebih nikmat jika dibaca secara keseluruhan.




Nada Cinta Marcella memfokuskan cerita pada tokoh Marcella, yang dari buku-buku terdahulu saya kenal sebagai sosok Miss Popular, Princess of Fairytale, dan memang, orang-orang di sekelilingnya masih menganggapnya begitu. Bahkan, setelah setahun ia bersosialiasi, masih saja banyak yang merasa Cella adalah cewek-impor-Jakarta-yang-sok, padahal Cella sudah berusaha mati-matian untuk bersikap biasa-biasa saja. Oh yeah, dia masih suka nyalon, make barang branded, tapi memangnya itu salah? Asal semua dibiayain pakai duitnya sendiri (at least duit ortu-nya) nggak papa, kan? Tapi, ya begitulah, nasib seorang Marcella.

Ternyata di balik kecantikannya, Cella menyimpan banyak kisah. Yang disadarinya maupun tidak disadarinya. Terutama soal keluarganya dan Devon. Bayangkan saja, Cella yang ketika di Jakarta tinggal hura-hura saja tanpa peduli habis biaya berapa, di Yogya dia harus berpikir beberapa kali dulu hanya untuk beli selembar CosmoGirl terbaru. Sungguh ironi! Lalu, soal Devon. Mengapa tiba-tiba saja cowok itu menjadi demikian 'memikat' di matanya. Terang saja Cella gugup. Dia sudah pernah menolak Devon suatu waktu dulu. Dan, lagi, Devon itu pernah ditaksir setangah mati sama sobat karibnya, Joy. Bagaimana Cella sanggup menahan pesona Devon sekaligus mempertahankan pertemanannya dengan Joy?

Saya cekikikan sendiri ketika membaca keseluruhan buku ini. Alert! Jangan baca buku ini pas kamu jalan, hehehe, jaminan jadi tontonan publik! Sudahlah diksinya yang cerdas nan kocak, saya masih disuguhi adegan-adegan bernuansa putih abu-abu yang ngegemesin. Jadilah satu porsi gado-gado cerita khas remaja yang menyenangkan. Dan, bagi saya, tulisan Ken selalu jauh di atas rata-rata kebanyakan novel teen lit (tentu saja, dibanding novel teen lit yang sudah saya baca, dan saya sudah jarang baca teen lit, hehehe).

Saya suka pilihan konflik yang diberikan pada Cella. Meski sempat juga merasa gemas pada sikapnya yang maju-mundur soal Devon dan menjaga perasaan Joy, padahal dari imej seorang Cella, tak seharusnya ia menjadi peragu seperti itu. Tapiiii... saya bukan ahli psikologi. Pun, saya tak yakin bisa menyelami perasaan seorang Marcella. Ia bisa saja blakblakan tetapi tak menutup kemungkinan ia juga memiliki rahasia yang tak ingin dibaginya dengan orang lain.

Menurut kabar, ini adalah buku penutup dari seri ini. Secara pribadi, saya masih pengin menikmati kisah-kisah ketiga sahabat ini, apalagi mereka baru kelas dua, setidaknya selesaikan kisah mereka sampai lulus, hehehe... #ngarep. Tapi, yah, sebagai buku penutup (jika kabar itu benar), saya puas dengan Nada Cinta Marcella ini. Saya pun happy dengan ending yang diberikan Ken pada ketiga tokoh utama. Apakah semua tokohnya menuju pada kisah happy ending? Hmmm, baca sendiri yaaaa....

Intermezoooo.....laporan typo:
(hlm. 21) tingggi = tinggi
(hlm. 81) tantangannnya = tantangannya
(hlm. 161) dita-mpilkan = janggal pemenggalannya
(hlm. 170) Dan itu buat orangtua murid, bukan? NENEK murid! = Dan itu buat orangtua murid, kan? Bukan NENEK murid!
(hlm. 186) rumahnya oomnya = rumah oomnya
(hlm. 190) nama penyanyi Rossa, kan ya? Bukan Rosa?
(hlm. 205) Meksi = Meski
(hlm. 207) membuatku = membuat gue = konsistensi
(hlm. 219) memenangkan = menenangkan, kali yaaa...
(hlm. 230) bergensi = bergengsi
(hlm. 241) Gue pasti ikut remedial. = Gue pasti ikut remedial."
(hlm. 245) kamu = lo = konsistensi
(hlm. 255) tiba-tba = tiba-tiba
Satu hal yang saya sayangkan adalah penggunaan istilah "autis abis" di halaman 54. Kita sudah memerangi penggunaan istilah ini untuk bahan olok-olokan, kan? Bahkan, pernah sangat gencar di twitter beberapa waktu lalu.
Dan, saya pun punya banyak diksi-diksi favorit yang dipilihkan Ken, berikut di antaranya:
Kencan pertama itu --bila kamu bukan cewek murahan-- hanya terjadi sekali dalam sekian tahun (127)
Suatu saat nanti mereka pasti tahu bahwa gue dan Devon segera melintasi batas "teman" (132)
Seni adalah media paling murah supaya manusia tetap waras, bahkan dalam kondisi kritis (144)
Kesedihan akan berkurang bila dibagi dan kebahagiaan akan bertambah bila dibagi (206)
Dan, kebahagiaan saya kian lengkap nih, ketika di twitter beberapa waktu lalu, Mbak Vera dan Mbak Donna (editor di Gramedia) mengabarkan bahwa selepas Lebaran, novel terbaru Ken akan terbit, berjudul DARK LOVE. Sedikit bocorannya dari percakapan kami di twitter berikut ini. Jadi gak sabar!
@verakresna: @fiksimetropop fans Ken Terate: DARK LOVE, teenlit terbarunya Ken. Bagus bangettttt!!!!!!
@verakresna: ttg cewek kelas 3SMA, pintar, dan... hamil. Trancam g bs ikt UN. Ada unsur p'belajarannya jg. Bagus bgt buat remaja.
@cdonnaw: @fiksimetropop @verakresna Dark Love ya? Novel ini emang keren bgt. Permasalahan berat tp gk menye2.
@cdonnaw: @verakresna ken terate memang asyik. Selalu bisa buat cerita remaja yg asyik, lucu, segar. Konsisten lagi, nggak mandek.
Baiklah, semoga novel ini segera beredar selepas lebaran, jadi saya segera terbius kembali dengan tulisan Ken yang saya suka.

Selamat membaca, kawan!

Tuesday, July 24, 2012

[Resensi Novel Teenlit] Ask Tinkerbell by Rina Suryakusuma

Tink, bantu masalah cintaku donk, puhleeaaseee...


Judul: Ask Tinkerbell
Pengarang: Rina M. Suryakusuma
Perancang sampul dan ilustrasi: Yenny
Penerbit: LiNTAS
Tebal: iv + 154 hlm
Harga: Rp-
Rilis: Februari 2008 (cet. 1)
ISBN: 978-979-17528-2-4

Sejatinya, Swastika tak pernah bersedia memenuhi permintaan Dylan, tetangga dan sahabat masa kecil yang meminta bantuannya untuk menyelamatkan reputasi majalah sekolah, The Raising Star, yang sedang di ujung tanduk. Bukan karena Swastika tak bisa menulis, dia malah juara satu menulis artikel se-Jakarta, dia hanya tak lagi menaruh simpati pada Dylan, sahabat cowoknya itu sudah lama tidak mengacuhkannya, lalu demi apa Swastika musti membantunya?

Tapi, nyatanya bujukan Dylan tak mudah diabaikan. Maka, resmilah Swastika memerankan Tinkerbell, peri cinta tak kasat mata yang memberikan nasihat-nasihat gokil bagi setiap permasalahan percintaan yang dialami oleh seluruh siswa Pratama High School dalam kolom Ask Tink! pada majalah sekolah The Raising Star. Peran yang awalnya menyenangkan itu lambat laun makin menguras energi Swastika, dia juga sering makan hati. Coba saja dibayangkan, bagaimana perasaan Swastika ketika mendapati sepucuk surat cinta dari cowok yang menaksirnya yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Tuh, apa coba jawaban yang benar yang musti dia berikan buat cowok itu?

Simak liku-liku Swastika dalam menjalani perannya sebagai peri cinta yang akhirnya pusing tujuh keliling menerima problematika siswa-siswi SMU dalam novel debutan Pengarang Bulan Juli 2012, Rina Suryakusuma, Ask Tinkerbell berikut ini.


Hmm, saya baru tahu bahwa novel ini merupakan karya Rina Suryakusuma setelah blog metropop.lover memilihnya sebagai Pengarang Bulan Ini dan segera mengumpulkan pelbagai informasi tentang karya Rina. Beruntung, meskipun novel ini terhitung langka karena sudah terbit sejak lama, sebuah pameran buku di Jakarta mempertemukan saya dengan novel ini. Voila...saya membacanya dan saya suka novel ini.

Novel ini ditulis pada tahun 2008, sewaktu teen lit sedang booming di Indonesia. Dan, novel ini dibuat dalam nuansa cinta remaja yang begitu kental. Setting SMU Pratama Jakarta dengan segala pernik-perniknya begitu gemerlap. Namun demikian, karena saya baru membacanya belakangan, nuansanya menjadi biasa-biasa saja karena gemerlap cinta putih abu-abu itu sudah terlampau sering ditampilkan, baik dalam buku maupun dalam film televisi. Untung saja, gaya menulis, plot, dan konflik yang diciptakan Rina begitu hidup sehingga memberikan warna-warni cerita remaja yang menggelora.

Sejujurnya saya begitu terpikat dengan novel ini karena satu sebab subjektif, saya pernah ingin membuat novel dengan tokoh pengasuh kolom gosip di majalah dinding sekolah. Hahaha. Saya memang begini, terkadang begitu mudah jatuh suka pada novel yang saya impikan saya tulis. Semisal novel Say No To Love-nya Wiwien Wintarto yang menghadirkan karakter-karakter protagonis, minus tokoh antagonis, saya juga ingin menulis sebuah novel tanpa tokoh antagonis karena saya beranggapan, sebenarnya manusia dilahirkan sebagai orang baik dan semua bisa menjadi orang baik. Nah, malah curcol lagi.

Membaca novel debutannya ini, saya menjadi tahu mengapa saya menyukai gaya menulis Rina. Dari awal, Rina telah piawai meracik kata. Meskipun sederhana, namun memiliki makna yang cukup dalam. Saya suka. Selain itu, dari segi plot, karakter, dan rupa-rupa konflik untuk menjalin adegan per adegannya cukup memadai meskipun untuk beberapa hal, pergantian bagian antartokoh pada novel masih ini terasa belum begitu mulus. Misalnya dalam suatu adegan Swastika-Dylan, dengan PoV orang ketiga, adegan diceritakan bergantian dari sisi keduanya yang bagi saya terkadang membutuhkan sedikit konsentrasi untuk memahami dari sisi siapa bagian tersebut sedang dikisahkan.

Satu lagi yang agak mengganggu adalah 'adanya-sedikit-kemiripan-adegan' antara salah satu bagian dalam novel ini dengan bagian pada novel Me vs High Heels karya Maria Ardelia, yang adegan si tokoh utama dipermalukan sama gebetannya di pesta ulang tahun itu (kalau tidak salah) hampir mirip dengan adegan yang dialami Swastika di pesta valentine sekolahannya. Tapi, saya sih dengan sangat antusias menyarankan agar novel ini bisa di retouch lalu diterbitkan-ulang. Jika benar dapat kesempatan untuk terbit-ulang, adegan itu adalah salah satu adegan yang saya sarankan untuk diganti dengan adegan lain. Karena sangat berpotensi 'mirip' dengan Me vs High Heels, meskipun tak ada unsur sama-menyamain, tapi bagi yang sudah membaca kedua novel ini pasti merasa deh.

Hmm, soal typo, hahaha, saya tak menandai, tapi novel ini memang kebanjiran typo. Tambahan saran, jika memang akan terbit-ulang, mohon dipastikan untuk menjadikannya bebas-typo. Plus, sebaiknya mengikuti kaidah EYD, cetak miring untuk istilah bahasa asing, mengingat cukup banyak istilah dalam bahasa Inggris dalam novel ini (yang tidak dimiringkan).

Selebihnya saya suka. Dari awal, saya menebak bahwa Swastika paling-paling ujungnya akan dipasangkan sama Dylan. Resep standar, kan, awal-awal bertengkar ujung-ujungnya jadi mesra. Ternyata...saya ketipu, huhuhu. Di tengah-tengah cerita sih, sudah dipastikan siapa pangeran yang ditakdirkan untuk menggaet Swastika, dan saya setuju dengan pilihan yang diberikan sang penulis kepada Swastika, hahaha.

Baiklah, overall 3,5 bintang dari skala 5 bintang saya berikan untuk novel teen lit ini. Sekali lagi, biarpun tema dan setting-nya biasa dan klise, namun eksekusi yang dilakukan Rina cukup apik sehingga saya tetap enjoy membaca novel ini hingga tuntas.

Selamat membaca, kawan!

Wednesday, April 11, 2012

[Resensi Novel Teenlit] Runner-Up Girl by Hanna Natasha

Ada Apa Dengan Mira? (AADM?)
Rating: 4 out of 5 stars


Pengarang: Hanna Natasha
Pewajah sampul: Yustisea Satyalim
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 168 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: Maret 2012
ISBN: 978-979-22-8129-3

Mira dan Kelly adalah duo sobat karib yang saat ini bersekolah di SMA yang sama. Meskipun demikian, keduanya memiliki karakter dan latar belakang keluarga yang berbeda. Mira adalah gadis tomboi dan anak orang kaya sedangkan Kelly adalah seorang gadis feminin dari keluarga biasa saja. Satu lagi perbedaan mendasar yang selalu menjadi bahan keluhan Mira, yaitu menurutnya mama Kelly lebih penyayang dibanding mama Mira yang penuntut dan perfeksionis. Maka, tak jarang keduanya berandai-andai bertukar tempat.

Suatu ketika, lingkup pertemanan mereka bertambah ramai berkat kehadiran Riku dan Aoi, dua cowok yang menghadirkan aura cinta pada keduanya. Kelly menyukai Riku, Riku menyukai Mira, dan Mira menyukai Aoi. Nah, ribet sepertinya urusannya. Apalagi, langsung atau tidak langsung telah tersulut api persaingan di antara Mira dan Aoi. Belum lagi, jalinan persahabatannya dengan Kelly terancam jurang kebencian, Mira tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kelly seandainya ia menerima ‘tembakan’ Riku.

Silakan disimak romansa cinta monyet keempat sahabat dalam teen lit terbaru karya Hanna Natasha bertajuk Runner-Up Girl ini.

Fiuuuhhh, sekian lamanya saya tak lagi membaca novel-novel teen lit. Saya melewatkan setiap novel teen lit yang terbit setiap bulannya, padahal biasanya saya tetap menyempatkan baca barang satu atau dua buah novel, selain novel teen lit dari pengarang favorit. Di samping memang sebenarnya ingin menuntaskan-baca setiap novel metropop yang terbit, saya juga sudah merasa tidak pada ‘usianya’ untuk membaca novel teen lit, mengingat tak jarang saya keburu men-judge ketika tiba-tiba saya disodori cerita dengan tema yang itu-itu saja, eksekusi konflik yang biasa, karakter yang tidak kuat, plus gaya penulisan yang terlampau childish. Maka, ketika saya menyelesaikan novel ini, dan merasa begitu terhanyut, saya mendecak kagum. Saya suka novel ini.

Runner-Up Girl menyajikan konflik dari empat sahabat yaitu Mira, Kelly, Riku, dan Aoi, namun dengan porsi yang lebih menonjol pada Mira. Ia digambarkan sebagai seorang gadis yang haus akan prestasi namun selalu merasa kurang kasih sayang sang mama yang mengharapkan Mira selalu menjadi juara satu. Dua konflik disematkan padanya. Konflik asmara yang rumit dan konflik yang bersumber pada persaingan di bidang akademis antara Mira dan Aoi. Meskipun masih terdapat beberapa hal yang kurang sentuhan, saya cukup puas dengan konflik yang diciptakan dan solusi yang dipilih untuk mengakhiri konflik itu.

Tentu saja, temanya biasa. Pernik-perniknya pun tak ada yang istimewa. Singkat kata, cukup banyak novel teen lit yang telah terbit dengan tema, konflik, dan karakter yang serupa dengan novel ini. Tak hanya itu, selipan adegan memasak di rumah Aoi langsung menerbangkan ingatan saya pada adegan Cinta yang mengunjungi rumah Rangga setelah Cinta mendapat kabar bahwa Rangga cedera akibat dikeroyok, dan di sana terdapat adegan Cinta yang membantu Rangga memasak hidangan makan malam.


PERSIS! ASTAGAHHH!!! Pada saat itu, saya langsung ‘mutung’ dan berniat memberi dua bintang saja. Tetapi, saya telanjur terenyuh pada banyak bagian novel ini dan terhanyut dalam alur ceritanya, sehingga saya tetap dengan ikhlas memberikan empat bintang. Saya bimbang, hahahaha.

Secara khusus, saya cukup menyukai gaya menulis Hanna. Bahkan, beberapa dialognya cukup bagus dan cerdas dengan selipan sense of humor yang pas. Pada beberapa bagian saya tertawa membacanya. Berikut di antaranya:

Bertingkah konyol ternyata kadang diperlukan untuk membuat rileks pikiran. (hlm. 35)
Sahabat yang baik nggak menjadi beban bagi sahabatnya, tapi menjadi pendukung. (hlm. 41)

Sedangkan, ada satu bagian yang sangat memorable bagi saya. (Hanna, numpang comot yaaa...)

“Tapi, bagaimana cara menembaknya ya?” Kelly garuk-garuk dahi tak jelas.
“Ambil senapan. Taruh moncongnya di dada Riku, kemudian tarik pelatuknya. Gampang, kan?”
“Ah, Miraaaaa!” Kelly kesal. “Aku serius, tauuu!”

Persoalan cetakan, mulus. Hanya ada beberapa typo yang kebetulan saya temukan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

(hlm. 61) Rik = panggilan Riku oleh Kelly, sebelum-sebelumnya dipanggil ‘Ri’ saja, entahlah, saya merasa inkonsisten
(hlm. 112) menganggu-angguk = mengangguk-angguk
(hlm. 154) ?” tanya Riku (kurang tanda baca titik)
(hlm. 156) memafkan = memaafkan
(hlm. 160) ada penyebutan Australia sebagai negara tempat studi Aoi oleh Mira, padahal (seingat saya) tidak ada sama sekali disebut negara tujuan Aoi sebelumnya

Overall saya suka dengan novel ini dan tetap memberikan empat bintang untuknya. Tak lupa, saya akan menunggu novel-novel Hanna berikutnya. Oiya, Hanna ini juga keren deh. Selain menulis, dia juga seorang penyanyi, yang pada Desember 2010 lalu telah menelurkan album Tetap Kupercaya. Oke, tetep produktif ya, Hann!

Selamat membaca, kawan!



Wednesday, January 4, 2012

[Resensi Novel Teenlit] The Oracle Rebounds by Allison van Diepen

Pada akhirnya, aku kembali lagi padamu...
Read from December 09, 2011 to January 03, 2012
Rating: 2 out of 5 star


Penulis: Allison van Diepen
Format: ebook
Halaman: 208
Rilis: November 2010

Summary
Michaela “Kayla” Cruickshank bukan gadis SMA biasa. Umurnya baru 16 tahun tapi ia telah meretas jalan bisnis dengan membangun sebuah website yang menjajakan layanan konsultasi beragam persoalan seputar kehidupan percintaan remaja (dating) dengan nama samaran the Oracle. Pada tahun keduanya ini, Kayla harus menelan pil pahit ketika Jared, cowoknya dari setahun kemarin, justru meminta putus dengan alasan yang membuat Kayla gondok setengah mati. Maka dimulailah petualangan Kayla untuk membuktikan teori yang pernah ditulisnya tentang rumus memulai hubungan baru setelah putus dari hubungan yang lama.
Nah, berdasarkan hitungan dari rumus yang dibuatnya itu, kayla membutuhkan waktu 62 hari sebelum ia bisa menjalin hubungan dengan cowok lain. Pada masa-masa itu, satu demi satu cowok masuk dalam kehidupannya. Tapi, nyatanya mencari cowok rebound nggak segampang yang ia kira. Belum lagi, secara tak terduga, website yang dikelolanya justru terjebak dalam kontroversi yang berpotensi menghancurkan reputasi yang sudah dibangunnya dari nol itu.

Hmm, membaca teenlit karya Allison van Diepen ini memang manis-manis renyah. Yah, tak beda jauh sama kebanyakan teenlit lainnya, sih. Namun, karena background psikologi populer yang diemban si tokoh utama, tak jarang banyak selipan quotes yang cukup nendang buat para remaja sekalian yang sedang tersaput nuansa merah muda alias dalam masa-masa indah menjalin gita cinta dari SMA. Silakan disimak nasihat-nasihat love-relationship by Kayla di buku ini.

Yang kurang dari novel ini adalah dangkalnya penggalian konflik dan karakter yang ada. Masih hanya di permukaan saja. Bahkan, ending yang happy seolah menggampangkan semuanya. Cowok yang datang dan pergi selama masa ‘kepergian’ Jared di kehidupan Kayla terkadang serasa hanya tempelan belaka. Saya kurang bisa terisap ke dalam nuansa warna kehidupan remaja yang sejatinya penuh dengan goncangan jiwa itu...xixixi.

Yang membuat saya bertahan untuk merampungkan novel ini adalah gaya menulis Allison yang lancar. Ceritanya ngalir, meskipun terkadang perpindahan satu adegan ke adegan yang lain berjalan kurang mulus. Contohnya pas bagian kedatangan seorang cowok exchange student ke rumah Kayla yang suddenly menggelenyarkan kisah asmara singkat di antara keduanya. Buat saya, bagian ini cepat dan kurang membawa arti bagi Kayla. Entahlah, sepertinya cara Allison menyajikan cowok-cowok rebound bagi Kayla kurang smooth dan terasa hanya untuk mengulur waktu untuk akhirnya mempersembahkan cinta sejati bagi Kayla. Sangat mudah tertebak. Sayang sekali. Bahkan, kehadiran teman-teman Kayla juga seolah hanya serupa pemandu sorak yang menggoyang pompom untuk memberikan dukungan pada Kayla tanpa memberikan makna yang cukup dalam bagi kehidupan Kayla.

But, nyatanya saya malah penasaran untuk membaca buku sebelumnya, The Oracle of Dating, hahaha. Saya memang suka gaya menulisnya sih.

Baiklah, selamat membaca, teman!

Monday, January 31, 2011

Resensi Novel: Wiwien Wintarto - Grasshopper (2011 - #2)

SM*SH!!!

Rating: 2,5 out of 5 stars



Judul: Grasshoper
Penulis: Wiwien Wintarto
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal: 312 hlm
Harga: Rp49.800
Terbit: Desember 2010
ISBN: 978-979-27-8804-4

Prita Paramitha (Prita) belum menetapkan hatinya untuk menjadikan bulu tangkis sebagai fokus utama dalam skema masa depannya, meskipun ia baru saja memenangi Kejuaraan Daerah Junior di kota kelahirannya. Bersama Delia Saraswati (Saras), sahabat sekaligus rival yang dikalahkannya dalam Kejurda tersebut, Prita mengalami petualangan misterius yang ‘memaksa’ mereka mengikuti kejuaraan Badminton Super Series di Yogyakarta. Hanya sepotong nama Subur yang menjadi clue untuk menebak siapa orang di balik pelbagai fasilitas yang didapatnya selama ini. Tapi, itu pun tak cukup menyejukkan hati Prita sebelum ia bertemu muka langsung dengan orang tersebut.

Sementara misteri Subur belum terkuak, di tengah-tengah konsentrasinya menjalani pertandingan demi pertandingan, Prita diliputi kebingungan akan percikan api asmara yang dipantik oleh dua cowok yang sangat memengaruhinya saat itu. Bagaimana Prita meng-handle virus merah jambu yang menyergapnya sehingga ia tetap concern pada setiap pertandingan yang dilakoninya? Apakah pada akhirnya Prita menemukan pemilik buku panduan bermain badminton yang membantunya memahami bulu tangkis secara lebih mendalam? Lalu, sampai kapan misteri Subur dan segala fasilitas serta motivasi yang diberikan pada Prita akan tetap tersamarkan? Temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut beserta segala ketegangan dan kejutan pada sebuah pertandingan bulu tangkis yang menakjubkan dalam novel terbaru karya Wiwien Wintarto ini.

Bulu tangkis lebih menarik minat saya ketimbang bermacam olahraga lainnya. Sejak kecil, saya menikmati pertandingan tepok bulu itu ketika ditayangkan di televisi. Nama-nama besar pemain bulu tangkis, baik dari dalam maupun luar negeri, pernah begitu lekat dalam ingatan saya. Sejak belum punya televisi sendiri, saya sering berlama-lama bertamu ke rumah tetangga jika ada jadwal pertandingan bulu tangkis kelas dunia yang ditayangkan stasiun televisi lokal kala itu. Saya benar-benar jatuh hati setangah mati pada bulu tangkis. Keseharian saya pun tak luput dengan bermain bulu tangkis. Meskipun hanya dengan menggunakan raket seharga Rp2.500-an dan jaring pembatas (net) dari anyaman rafia, saya menikmati bertanding bersama teman-teman masa kecil saya. Salah satu kenangan terindah dari zaman saya masih ingusan.

Selain jaminan nama penulisnya, tema bulu tangkis yang diangkatnya menjadi penarik utama saya untuk segera membaca novel ini sejak kali pertama tahu bahwa novel ini akan beredar. Dan, yeahhhh, feel badminton-nya benar-benar terasa sejak lembar pembukanya. Saya seolah-olah sedang menyaksikan (mendengarkan) siaran langsung sebuah pertandingan bulu tangkis. Bahkan, terkadang ikut deg-degan menantikan hasil akhirnya. Namun, kesengajaan penulis yang merangkai kisahnya dengan gaya cersil (cerita silat) sedikit banyak mengganggu kenikmatan saya melumat kisah perjuangan si grasshopper (belalang sembah) ini. Entahlah, dari awal saya berharap mendapatkan sajian pertandingan bulu tangkis biasa sebagaimana lumrahnya yang pernah saya tonton (atau dengar). Sedangkan, dalam novel ini, kisah menjadi sedikit lebih tidak masuk akal, kental nuansa silatnya, dan bahkan beberapa bagiannya cukup dijelaskan dalam satu kata, “ajaib”. Tak ayal, saya pun jadi ingat film Shaolin Soccer-nya Stephen Chow yang memadukan sepakbola dengan kung fu. Menarik tapi kurang logis, sehingga bagi saya pribadi yang berfantasi soal keindahan alami bulu tangkis tidak mendapatkannya.

Dari plotnya sendiri cukup menarik meskipun uhuk*kok-agak-sinetron-ya?*uhuk. Perjuangan from zero to hero-nya dibumbui taburan segala macam hal misterius yang sayangnya terlalu gamblang dibeberkan jawabannya sehingga kesan misteriusnya itu menjadi…hmm, agak hambar. Coba kalau misterinya itu dibuat terbongkar sedikit demi sedikit bukannya ujug-ujug ada orang yang cerita dari A-Z dalam waktu satu jam dan seluruh misteri itu, duarrr…terpecahkan. Terlalu biasa jadinya. Kurang njelimet. Yah, meskipun, dari segi genre tidak dimaksudkan untuk njelimet juga sih. Tapi, kalau ada potensi ke arah sana, why not, kan? Saya melihat, sebenarnya novel ini memiliki potensi untuk menjadi lebih menarik lagi.

Yang saya suka justru sisi cinta-cintaan yang ada di novel ini. Dengan porsi yang cukup, nuansa merah jambu ini menghadirkan konflik yang memadai untuk memperkuat sebuah kisah perjuangan yang ujungnya hanya terdiri atas dua pilihan, menang atau kalah (atau juga dapat dibuat seri/draw, biar terkesan happy ending). Walaupun hanya sekadar kisah cinta segitiga biasa namun penulis berhasil mengemasnya secara menggemaskan, dan tentu saja, dengan porsi yang tidak berlebihan sehingga latar bulu tangkisnya tetap terjaga intensitasnya.

Dari segi teknis cetakan, novel ini masih memiliki banyak kelemahan. Yang paling terlihat tentu saja inkonsistensi penulisan istilah-istilah asing-nya, terkadang dicetak miring dan terkadang tidak. Covernya not bad-lah. Jenis dan ukuran font, serta margin halaman cukup, tidak mengganggu ketika dibaca. Sedangkan beberapa kesalahan cetak masih ada, beberapa di antaranya:
(hlm. 3) = modelling, (hlm. 8, 119) = modeling, dua-duanya tidak ada yang dicetak miring, bisa dianggap kata serapan atau istilah asing, hanya sayangnya inkonsistensi dalam penggunaannya.
(hlm. 96) Darius Sinarthya ….saya iseng mengetikkan nama tersebut di Google dan yang nongol: Darius Sinathrya
(hlm. 257) merried = married?
(hlm. 286) set pertamai…..= pertama
(hlm. 298, sekadar konfirmasi nggak penting) ikut unas = ujian nasional? Oh, sekarang singkatannya itu unas, bukan lagi UAN/UN?

Pada akhirnya, saya memang bingung harus menentukan untuk menyukai atau tidak menyukai novel ini, karena pada sebagiannya saya puas dan pada sebagian yang lain tidak. Maka, saya memilih zona aman, memberikan penilaian di tengah-tengah. Sudah jelas, saya menyukai bagaimana penulis memainkan peran menggoyang-goyang imajinasi dengan alur dan konflik yang beragam, namun saya juga agak kurang puas dengan beberapa titik eksekusi yang dipilihnya. Dan, maaf, kali ini saya tidak begitu menyukai unsur ‘jayus’ yang menyelusup lewat kalimat serta dialog para tokohnya. Harus saya akui, saya adalah penganut paham ‘bedakan kalimat tulisan dan kalimat lisan’ jadi ketika penulis memutuskan untuk me’lisan’kan kalimat yang seharusnya bernapas ‘kalimat tulisan’ saya menjadi agak kurang menikmati (yang ini benar-benar karena unsur subjektivitas).

Okay, selamat membaca teman!

Saturday, January 22, 2011

Resensi Novel Teenlit: Bali to Remember by Erlin Cahyadi (2011 - #1)

Sorry, but I refuse to remember anything from this book

Rating: 1 out 5 stars



Judul: Bali to Remember
Penulis: Erlin Cahyadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 224 hlm
Harga: Rp30.000
Terbit: Desember 2010
ISBN: 978-979-22-6444-9

Kira serasa mendapat durian runtuh ketika secara tak terduga ia terpilih untuk tampil sebagai host dalam sebuah acara reality show bertema jalan-jalan. Celakanya, ia harus ditemani oleh Dean, aktor muda yang sedang naik daun di dunia pertelevisian dalam negeri. Sejak kali pertama bersua, Kira telah mengibarkan bendera perang karena sebuah insiden yang membuatnya mencap Dean sebagai seorang yang arogan. Maka, betapa tersiksanya ia harus selalu berdua-duaan dengan cowok itu. Untung saja ada Andros, cowok cute yang telah menawan hatinya sejak cowok itu mengarahkan moncong kamera ke wajahnya, di rumahnya.

Maka, dimulailah petualangan yang penuh dengan beragam rasa yang melibatkan tiga hati di Bali yang super romantis. Bagaimana Kira mendamaikan hati dan perasaannya sehingga dapat menentukan pilihannya untuk melabuhkan cintanya pada Dean ataukah Andros. Simak perjalanan penuh kejutan Kira dalam novel kedua karya Erlin Cahyadi ini.
Harus saya akui, Erlin memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk merangkai kata menjadi kalimat yang mengalir lancar serta pilihan diksi yang bagus. Dari waktu ke waktu, perjalanan Kira-Dean-Andros terekam manis dibumbui pelbagai rempah sehingga tersaji hidangan konflik yang mengaduk-aduk emosi. Latar belakang keindahan Bali pada beberapa bagian diulas secara lengkap, memberikan nilai lebih pada novel ini. Bagi saya yang belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di pulau dewata tersebut, hikzzz…malangnya nasibku, ulasan tentang Bali itu memberikan sedikit gambaran dan suntikan motivasi untuk segera bisa terbang dan mendarat di Bali.

Sayang, tema yang dipilih Erlin untuk ditulisnya sangat jauh dari original. Terlalu klise, terlalu mudah ditebak, dan terlalu biasa. Pada mulanya saya terhanyut pada adegan cat and dog yang tercipta antara Kira dan Dean, apalagi ditambah kehadiran Andros yang membuat konflik makin menajam. Too bad, adegan itu kemudian seperti tak pernah berakhir. Mereka terus saja bertengkar, lalu berbaikan, lalu bertengkar lagi, begitu terus sampai saya berhenti menikmatinya dan berharap semuanya segera selesai. Saya begitu capek membaca makian demi makian, sindiran demi sindiran, beserta aura negatif yang bertaburan di setiap situasi. Maka, saya pun terpaksa skip halaman. Inginnya saya berhenti baca dan langsung melempar novel ini ke kotak buku-telah-dibaca tapi kan nggak mungkin, lha wong saya belum selesai membacanya tho? Maka, saya paksakan diri untuk menuntaskan membacanya. Dan, thank GOD, akhirnya kelar juga. Meskipun, sekali lagi, dengan melompati banyak sekali halaman.

Agak disesalkan memang bahwa kepiawaian memilih diksi yang dimiliki Erlin tidak dibarengi dengan cerita yang kuat. Plot yang babak belur karena konflik yang tidak berkembang meskipun didukung karakter yang lumayan. Bahkan, secara mengejutkan, saya menyukai beberapa dialog yang ada di novel ini. Maka, maafkan saya jika hanya itu yang saya ingat dari novel ini. Tentu saja saya ingat Bali, tapi lebih karena saya sudah sejak dari zaman putih abu-abu dulu ingin sekali berkunjung ke sana, bukan karena membaca novel ini.

P.S.: saya bahkan tidak berselera mencari typo di novel ini, LOL!

Sinopsis:
"Berat lo berapa sih? Bikin oleng aja!" kata Dean keras, mencoba mengalahkan deru mesin jetski yang dinaikinya.
"Lo bilang gue berat? Ngaca dulu dong! Lo tuh yang gendut! Kasian juga ya lo, selebriti terkenal tapi nggak punya cermin di rumah!" balas Kira nggak mau kalah.
"Kalau lo ngomong yang nggak penting kayak gini, gue ceburin lo ke laut!"
"Berani lo? Gue nggak takut!"

Gara-gara terpilih jadi host acara jalan-jalan bersama artis, hidup Kira jadi jungkir balik kayak jet coaster. Apalagi artisnya Dean Christian.
Buat Kira, Dean itu kesialan terbesar di sepanjang hidupnya. Dean emang artis, tapi nyebelinnya minta ampun. Dean juga cakep, tapi kasarnya juga ampun-ampunan. Singkat kata, nggak mungkin deh Kira bisa baik atau bahkan suka sama cowok kayak Dean.

Tapi... kalau selama seminggu full Kira jalan-jalan bareng Dean, di Bali pula, apa mungkin perasaan itu nggak bakal berubah? Apalagi waktu Dean tiba-tiba melakukan hal-hal ajaib yang nggak pernah Kira bayangkan sebelumnya..

Saturday, July 10, 2010

Resensi Novel Chicklit: Yunisa KD - Memory and Destiny (Amore 02)

(mungkin) Saya hanya nggak dapet feel-nya

Rating: 1 out of 5 stars



Judul: Memory and Destiny
Penulis: Yunisa KD
Editor: Hetih Rusli
Co-editor: Raya Fitrah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Lini: Amore
Tebal: 264 hlm
Harga: Rp30.000
Rilis: April 2010
ISBN: 978-979-22-5658

Maroon Winata kecil tidak menyadari bahwa sesosok lelaki dewasa bernama Donald Basuki yang selalu menemaninya belajar dan bermain adalah bukan seutuhnya manusia. Maroon seolah tak peduli dan hanya menikmati kehangatan hubungan yang terjalin diantara dirinya dan Donald, karena Donald selalu berhasil membuatnya nyaman sebagai sahabat yang membantu melewati masa-masa sulit sejak kepindahannya dari London ke Jakarta. Namun perjumpaan itu pada akhirnya harus berujung pada sebuah perpisahan ketika Donald menghilang dari kehidupan Maroon.

Waktu terus berganti, cerita kehidupan Maroon pun bergulir meninggalkan jejak-jejak yang penuh warna. Begitu pula pada tokoh-tokoh lain, termasuk keluarganya, teman-temannya, juga dua orang lelaki yang kelak menggoreskan tinta dengan warna berbeda pada lembaran kehidupan Maroon yang sangat penting, yaitu Donald dan David. Lalu di manakah Maroon dapat bertemu dengan destiny-nya? Apakah sepotong memory masa lalunya yang sempat hilang dapat menuntunnya ke arah yang benar? Temukan jawabannya dengan membaca novel dalam lini terbaru Gramedia, Amore, karya Yunisa KD ini.

Sejak awal, saya sudah menyampirkan asa setinggi angkasa bahwa lini baru Gramedia ini setidaknya bisa melengkapi lini metropop yang novel-novelnya saya gemari. Apalagi ketika saya menyadari editor yang menggawangi kemunculan lini ini sama dengan yang membidani kelahiran metropop. Buncah harapan itu terbit dalam bisik kalimat di hati, “kalo yang ini oke, guwe bakal ngikutin Amore seterusnya deh, gak peduli siapa penulisnya.” Nyatanya, hmm… saya agak kecewa, dan yah boleh dibilang icip-icip saya ini membawa simpulan untuk mencukupkan baca lini Amore pada novel ini saja. Saya fokus ke metropop saja lah. Seperti sejak mula.

Sekilas, kemasan novel pada lini ini hampir mirip dengan harlequin. Baik dari segi ukuran (panjang-lebar) hingga cover design-nya. Sedangkan jika dibandingkan dengan metropop yang sebagian besar masih menggunakan gambar ilustrasi (bukan foto) saya lebih appreciate metropop yang menggunakan cover gambar karena lebih original (penilaian subjektif). Tapi, dibanding Lukisan Keempat (Amore 01 karya Rina Suryakusuma) saya lebih suka cover novel ini, karena saya adalah penggemar kota London (Inggris secara umum).

Membaca lembar-lembar awalnya, saya seolah diberikan harapan akan mendapat sebuah sajian romance story yang menjanjikan. Namun, antusiasme saya justru terus menurun dan secara perlahan saya menjadi agak terengah-engah membaca lembar-lembar selanjutnya. Yang paling membuat saya hilang semangat adalah potongan adegan di halaman 34 – 35. Karena adegan tersebut sangat mirip dengan film Just Like Heaven-nya Reese Witherspoon dan Mark Ruffalo. Saya mungkin tidak akan mempermasalahkannya kalau saja penulis tidak secara terang-terangan mengidolakan Reese, yang artinya seharusnya dia sudah menonton film ini. Entah ceritanya beliau terinspirasi dari film tersebut sehingga menulis novel ini atau bagaimana, yang jelas saya agak kecewa dengan kesamaan adegan ‘pengusiran-arwah’ (bahkan soal sosok Donald juga mirip dengan Elizabeth yang diperankan oleh Reese, yang keduanya adalah ‘jiwa-kelana’ dari seseorang yang sedang koma, sama-sama berprofesi sebagai dokter, serta mengalami jenis kecelakaan yang sama, astaga!). Dan, yang membuat saya semakin ilfil adalah film ini pun sudah dijiplak (entah berijin atau tidak) oleh Multivision Plus dalam bentuk sebuah film televisi yang saat ini masih bisa didapatkan keping VCD originalnya (saya beli!) dengan judul Cinta Untuk Cinta yang dibintangi oleh Masayu Anastasia dan Dimas Seto. Ya ampunn….

Okay, mungkin karena penulisnya tinggal dan menetap di luar negeri sehingga tak tahu-menahu soal FTV ini, lalu apakah editor (yang orang Indonesia) juga tidak tahu? Fine, mari di-justifikasi lagi bahwa penulis dan editor tidak tahu atau kenyataan bahwa di zaman sekarang sudah lumrah jika satu karya dengan karya yang lain bisa saja ada kesamaan, tapi… apa iya harus mirip banget begitu? Soalnya yang bikin geli, versi novel ini mirip banget sama versi FTV-nya (ada ahli agamanya, ada ahli perdukunan lokal, dan ada ahli perdukunan China). What a coincidence, hah!

Dan, ngomong-ngomong soal kebetulan, novel ini dipenuhi dengan taburan kebetulan demi kebetulan yang too much, menurut saya. Okay, judulnya memang merujuk pada destiny, tapi masak iya destiny itu begitu mudahnya dituju dengan serendipity yang sebagian kurang penjelasan. Pertama, saya ingin tahu bagaimana seorang Donald bisa berteman dengan Wiro, di mana Wiro adalah bersepupu dengan Sharon yang adalah teman Maroon. Kedua, termasuk juga kebetulan Donald satu tempat fitness bersama Romeo II (ada dua nama Romeo di novel ini) yang nantinya adalah calon suami Sharon, teman Maroon, kok bisa? Ketiga, saya ingin tahu mengapa Donald bisa bertugas sebagai dokter di Singapura dan secara kebetulan Maroon sedang mengambil spesialisasi keahlian kedokterannya di negeri Singa itu. Keempat, sedang ngapain kah Donald ke Westminster Abbey pada Kamis 18 Juni 2009 ketika Maroon juga secara kebetulan pergi ke situ. Saya perlu logic-nya.

Amnesia lagi – amnesia lagi. Rasanya sudah semakin membosankan tema hilang-ingatan-sementara ini diangkat menjadi latar sebuah kisah percintaan karena ujungnya pasti ketebak, begitu ingatannya kembali, si tokoh akan kembali ke pelukan love interest pertama. Dan, penulis mengambil pakem itu juga. Yang agak aneh adalah begitu ingatannya kembali, Maroon blingsatan mencari kesana-kemari sosok Donald di Singapura. Lah, kan di handphone Maroon ada nomor kontak Donald (seingat saya tidak diceritakan Donald mengganti nomor kontaknya dan meskipun di halaman 203 disebutkan Maroon tak yakin itu nomor kontak Donald, setidaknya ia bisa mencobanya, ataukah karena amnesia maka seluruh kejadian di saat amnesia akan terlupa ketika ingatan sudah kembali? Dunno).

Sudah hilang selera akibat adegan per adegannya, kepenatan saya ditambah dengan banyaknya typo dan kejanggalan kata/kalimat yang bertaburan di sana-sini. Sebut saya aneh (atau bahkan gila/miring/sedeng) bahwa saya kurang kerjaan banget memelototi kesalahan teknis sebuah buku. Namun, apa mau dikata jika kesalahan-kesalahan teknis tersebut memengaruhi kenyamanan saya dalam membaca. Maklum, otak saya tidak lagi prima (sudah dari dulunya sih) sehingga sedikit kesalahan teknis-cetak membuat proses membaca saya menjadi ter-pause dan otak bekerja keras menafsir sendiri apa maksud dari kata/kalimat tersebut. Berikut beberapa kejanggalan yang saya temukan:
(hlm: 11) menggenaskan, (hlm: 24) mengenaskan = inkonsistensi

(hlm: 15 dan 63) kata di panggil harusnya digabung menjadi dipanggil (merujuk kata kerja)

(hlm: 16) meski dia sudah pernah mendengar….., dan dia masih ingin… ini hanya soal enak diucap-didengarkan versi saya sih, sebaiknya kata meski diikuti kata sambung tapi/namun, bukan dan….meski dia sudah pernah mendengar….., tetapi/namun dia masih ingin…

(hlm: 18, 64, 137) ha-rus, pergela-ngan, ada-lah, sebaiknya tanda (-) dibuang saja karena kata tersebut muat dalam satu kalimat (sebatas marjin halaman).

(hlm: 20) …menunjuk ke arah pedagang asongan [yang:] menawarkan… (hlm: 117) …aku tidak bisa mengingat siapa laki-laki [yang:] duduk itu,….lebih enak dikasih tambahan kata ‘yang’

(hlm: 21) memertahankan, (hlm: 89) memedulikan, (hlm: 171) memerkenalkan, (hlm: 192) memerlakukan, (hlm: ?) memerlancar…terkhusus hal ini saya sendiri belum mencari aturan bakunya, namun secara lidah penulisan itu kurang begitu enak diucapkan.

(hlm: 27) aku sempat cita-cita menjadi penyanyi opera…lebih enak jika kata cita-cita diubah menjadi bercita-cita.

(hlm: 28) menyamangati = menyemangati

(hlm: 36) …masker oksigen di pasangkan…kata dipasangkan terpisah batas marjin, sebaiknya demi konsistensi diberi tanda (-) menjadi di-pasangkan.

(hlm: 37) Lalu kau bisa menghajar anak-anak yang mengolok-olokmu…saya merasa terlalu kasar nasihat yang diberikan Donald pada Maroon yang baru 10 tahun ini (kata “menghajar”).

(hlm: 48) semua bully di kelasku menjadi tidak berkutik…bukankah seharusnya yang tidak berkutik itu ‘pelaku’ bully, bukan bully-nya.

(hlm: 62) mengantung = menggantung

(hlm: 68) …aku sudah memimpikannya keberadaannya……fungsi –nya pada kata memimpikannya untuk apa ya? Menurut saya mending dibuang saja.

(hlm: 73-74) entahlah, saya masih tidak bisa menerima seorang profesor salah memberikan resep.

(hlm: 74) pertanyaan-pertanyakan = pertanyaan-pertanyaan

(hlm: 76) Maroon tidak hanyak = hanya

(hlm: 77) padahal dia baru beberapa tahun yang lalu, ia melewati masa…….saya agak kurang sreg dengan kalimat ini, redundansi pada kata ganti (dia, ia), lebih baik dibuang salah satunya.

(hlm: 82) saya agak muak dengan proses pengenalan tokoh David di sini karena kemudian terdapat jeda yang agak lama sebelum tokoh ini ‘tampil’ lagi, maaf.

(hlm: 89) …pria muda ini mengajak orang-nya bersulang….orang-nya = orangtuanya?

(hlm: 92) …mendampingin = mendampingi (ataukah sengaja dipakai sebagai bahasa gaul dengan tambahan huruf n, kalau mau gaul sekalian ditulis “ngedampingin”)

(hlm: 94) kuturunkan cursor, kembali kembali ke…….duplikasi kata ‘kembali’

(hlm: 94) tidak hapis bikir…..hapis = habis

(hlm: 95) tidak ada yang menyeram di jogging…….menyeram = menyeram[kan:]

(hlm: 110, 119) terpekur, (hlm: 124) tepekur = inkonsistensi

(hlm: 111) keaggunan = keanggunan

(hlm: 114) menakhlukkan = menaklukkan

(hlm: 131) penasar-an, (hlm: 179) tatan-an….. yang ini saya belum mencari kebenaran cara pemenggalan kata tersebut.

(hlm: 137-138) mati aku, ini cewek ini kayaknya…..duplikasi kata ‘ini’, sebaiknya buang salah satu

(hlm: 165) ada alasan untuk mengantarnya Maroon untuk pulang…..’nya’ itu merujuk ke Maroon, jadi sebaiknya pilih salah satu saja, menggunakan ‘nya’ atau Maroon.

(hlm: 177 dan satu hlm lagi saya lupa) nama Maroon terketik Maron, kurang satu 'o'.

(hlm: 189) ..untuk memainkan melodi Basch....siapa itu Basch? Johann Sebastian Bach (Bach)kah yang dimaksud?

(hlm: 214) …entah karena…..dengan sepenuh hati atau makin benturan kepala……saya merasa ada kata yang ‘nyelip’ di antara kata makin dan benturan.

(hlm: 228) rencanaku pertama sebenarnya memang menyusul Donald di negeri Singa….bagaimana kalau saya usul begini: rencana pertamaku sebenarnya memang untuk menyusul Donald ke negeri Singa.

(hlm: 236) …mirip orang gadis Harajuku yang…….saya kok merasa kata orang dan gadis redundansi ya? Sebaiknya kata orang-nya dibuang, langsung disebut gadis Harajuku saja.

(hlm: 237) …setengah menelanjangi isi hatiku, sambil melepaskannya pelukan beruang Teddy ala…….aku kok merasa kurang pas dengan kata melepaskannya pelukan.

(hlm: 239) pria yang baru akan kukenal…..kukenal = kukenal[kan:]

(hlm: 247) …lagu Sunday Morning milik Maroon 5 yang selalu diputar Donald di setiap Minggu pagi saat kami bertemu untuk brunch selama beberapa ini……saya merasa ada informasi yang hilang, harusnya setelah kata beberapa ditambahkan keterangan waktu.

(hlm: 251) …ketika kamar pintu diketuk….rasanya terbalik, lebih enak ‘pintu kamar diketuk’.
Tambahan: cetak miring/tidak pada beberapa tempat juga masih inkonsisten, termasuk untuk menggambarkan suasana hati (bukan dialog) kadang menggunakan tanda petik, kadang dimiringkan.

Itulah beberapa kejanggalan yang saya temukan ketika merampungkan-baca novel bercover dominasi langit biru ini. Untuk deskripsi saya juga agak terganggu dengan pengulangan-pengulangan informasi tokoh atau keadaan. Misalnya, di awal sudah dideskripsikan bahwa Donald itu tampan bla-bla-bla, dan saya yakin pembaca sudah mampu menangkap pesannya, namun informasi ini diulang lagi-ulang lagi untuk menggambarkan sosok Donald. Begitu juga dengan tokoh David yang dimirip-miripkan Ricky Martin. Behhhh, saya sampai mual membaca nama Ricky Martin yang banyak itu, saya sampai berniat nyeletuk, “iya-iya udah tau, kan dah lo bilang tadi, capek dehhh…” Termasuk juga informasi soal Wiro yang homo. Beberapa kali jika tokoh ini muncul, si pembicara selalu menambahi, “sepupu Sharon yang homo.” Saya pikir sekali-dua kali saja pembaca sudah bisa menangkap deskripsi tokoh tersebut, tidak perlu diulang-ulang-ulang-ulang-ulang-ulang.

Intermezo: novel ini harusnya bersifat futuristik (setting hingga tahun 2015, berarti 2012 nggak jadi kiamat) sehingga seharusnya penulis berkreasi dengan menciptakan nuansa-nuansa masa depan. Sayang sekali, saya justru tidak merasakannya. Misal istilah lebay yang sekarang sedang nge-trend ternyata oleh penulis masih dianggap sebuah trend di tahun 2015. Gosip-gosip artis juga jadul sekali, misal soal perceraian Britney Spears – Kevin Federline atau tentang salah satu lagunya Jessica Simpson. Saya berharap penulis berinovasi dengan menghadirkan suasana future yang mampu menggeliatkan fantasi pembacanya.

Soal lain, saya berharap penulis konsisten untuk menghadirkan tokoh Olivia (adik Maroon), yang kadang disebutkan sebagai Olive. Hal itu tidak menjadi masalah kalau nama Olivia dan Olive dibedakan pemakaiannya, misalnya dipanggil Olive jika terjadi dialog atau ketika salah satu tokoh bercerita dari PoV mereka (sebagai panggilan sayang) dan disebut Olivia dalam narasi/deskripsi.

Hmm, kritik terakhir. Dan, lagi-lagi berdasar selera saya (subjektif banget). Konsistenlah, wahai sang penulis. Jikalau tidak bisa fokus, mending gunakan satu PoV saja dalam penceritaannya, tidak perlu berganti-ganti PoV. Saya jadi merasa bahwa penulis benar-benar tuhan di novel ini. Penulis mencoba menjadi dalang otoriter yang mengendalikan semua tokohnya sehingga tidak menyisakan ruang imajinasi bagi pembacanya.

Akhirnya, saya hanya dapat menyimpulkan bahwa novel ini adalah sekadar kisah cinta segitiga biasa yang seperempat bagian awalnya mirip jalan cerita sebuah film. Konflik hanya berputar di situ-situ saja dengan senjata andalan: amnesia. Namun, tentu saja, keseluruhan cuap-cuap ini hanyalah sekadar penilaian subjektif saya yang kebetulan kurang dapat feel dari novel setebal 250-an halaman ini. Maka, bagi yang ingin mengerti maksud judul Memory and Destiny, silakan baca novel yang ditulis oleh Yunisa KD, salah satu dari Top 5 Finalis Pantene Shine Award 2006 di Singapura, ini.

Selamat membaca.

Sinopsis (cover belakang buku):
Memory and Destiny. Kisah cinta dua dunia. Apakah teman khayalan itu benar-benar ada? Ataukah itu malaikat pelindung anak kecil?

Maroon Winata, calon dokter, yakin bahwa Donald-nya benar-benar ada. Sejak pertemuan pertama di Westminster Abbey, pada hari terakhir Maroon kecil di kota London, sampai Maroon di Jakarta dan berjuang menyesuaikan diri dari lidah bule ke bahasa ibunya, Donald adalah teman bermain dan belajar.

Maroon dan Donald dewasa bertemu, namun mereka belum menemukan tali penghubung memory masa lalu mereka. Nasib mempermainkan mereka. Lalu muncullah David yang tampan dan kaya. Lelaki itu percaya destiny telah mempertemukannya dengan Maroon. Memory dan destiny dalam hidup Maroon pada akhirnya menunjukkan bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.

Saturday, June 5, 2010

(2010 - 11) Resensi Novel Teenlit: Charon - 7 Hari Menembus Waktu

Haruskah saya ikut bilang, “harap maklum”?

Marissa kesal sekali ketika harus ikut ayahnya ke Gedung Albratoss. Itu artinya dia akan bertemu Michel, mantan pacarnya. Dan itu berarti, dia juga akan bertemu Selina, musuh bebuyutannya, yang telah merebut Michel dari sisinya.
Merasa frustrasi oleh situasi, tak sadar Marissa menangis di depan sebuah lukisan, dan bergumam seandainya saja ia bisa menghilang.

Dan ia betul-betul menghilang... terlempar ke masa 20 tahun yang lalu, saat ia belum lahir, saat orangtuanya pun masih belum berpacaran...

Bersama Wiliam, anak kecil yang ditemuinya di masa lalu, ia mengalami hal-hal yang lucu dan menyenangkan di masa lalu, hal-hal yang akan mengubah kehidupan Marissa dan Wiliam di masa depan...

Judul: 7 Hari Menembus Waktu
Pengarang: Charon
Penyunting: .... (Ike)
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Teenlit
Tebal: 176 hlm
Harga: Rp25.000 (Toko)
Rilis: Maret 2010
ISBN: 978-979-22-5518-8
My rating: 1 out of 5 star

Marissa secara tak sengaja terlempar ke masa dua puluh tahun ke belakang saat mengumpat di depan sebuah lukisan ‘ajaib’ yang terpajang di gedung tempat penyelenggaraan pesta yang tak dikehendakinya untuk dihadiri. Dari tahun 2008 Marissa terperangkap di tahun 1988 ketika kedua orangtuanya belum bersepakat menjalin hubungan. Di tahun itu, ia bertemu dengan Wiliam, seorang anak yatim-piatu kaya yang bersifat dingin dan tertutup.

Berdasarkan simpulannya, ia baru bisa kembali ke masanya 7 hari dari hari itu, ketika lukisan ajaib itu untuk kali pertama dipajang. Sembari menunggu waktu tersebut, Marissa berpetualang bersama Wiliam. Dan, rekaman 7 hari petualangan Marissa bersama Wiliam itulah yang menjadi inti keseluruhan teenlit ini.

Permakluman adalah satu bentuk pengingkaran terhadap sesuatu dengan mengesampingkan pemenuhan kriteria demi pengakuan terhadapnya. Dan, mungkin saja, saya juga diingatkan untuk mempersembahkan “harap maklum” ketika membaca (dan meresensi) novel teenlit terbaru karya Charon ini. Ya maklum donk, ini kan teenlit, dan kau bukanlah target yang disasar novel ini jadi jangan menilai seenak jidatmu, teriak ‘suara-di-salah-satu-sisi-kuping’ saya yang mempermaklumkan keberadaan novel ini. Tapi, lagi-lagi saya bersembunyi di balik kata “hak saya” untuk tak mengindahkan imbauan permakluman tersebut.

Ide ceritanya memang cemerlang, harus saya akui itu. Segar dan menghibur. Namun sayang, gaya penyampaiannya agak kurang oke, menurut selera saya. Lagi-lagi saya dibuat muak dengan tokoh yang tidak semestinya. Imagining, umur 18 tahun, masih suka lelet-leletin lidah, ya ampun. TK banget sih. Tak cukup begitu, sebagai produk Jakarta di tahun 2008, saya tidak menemukan sentuhan modern dari seorang cewek masa kini pada diri Marissa. Bahkan, ketika ia terlempar ke situasi jadul, ia bisa nge-blend (beradaptasi) dengan begitu mudahnya. Ia hanya kagok pada jenis makanan dan permainan yang berbeda antara masa itu dan masanya di 2008. Harusnya dibuat agak sedikit gegar budaya untuk merasionalkan cerita.

Oke, berikut list kejanggalan yang saya temukan di teenlit ini:

(hlm: 23) tanpa sebab, kenapa Wiliam memanggil Marissa kakak padahal di awal jumpa Wiliam cukup memanggil namanya saja, hal tersebut membuat karakter Wiliam yang dingin menjadi agak meleleh tidak pada waktu yang tepat.

(hlm: 35) harusnya halaman ini berkaitan dengan halaman 10, soal pencantuman tanggal 6 Juli 1988, nyatanya tidak ada keterangan tanggal itu di halaman 10, justru di halaman 13 tanggal itu baru tercantum.

(hlm: 37) dua tahun yang lalu, ketika Marissa sembunyi-sembunyi memakai kosmetik, Mami marah besar. Sekarang, ternyata Mami…kata dua tahun lalu dan sekarang agak kurang pas digunakan, karena rujukan waktunya di masa lalu. Lebih baik jika diganti, “padahal waktu mudanya/masa kuliahnya Mami…(hanya usulan).

Bandingkan ini, apakah ada yang janggal (hlm: 34) dengan seribu rupiah, kau bisa membayar bensin motor selama seminggu. (hlm: 41) dua mangkuk mie bakso hanya 500 rupiah. 1000=4 mangkuk bakso=seminggu bensin? Benarkah? Akuratkah data ini?

(hlm: 47) harusnya Jimmy tertulis Jummy.

(hlm: 48) harusnya Wiliam tertulis William.

(hlm: 59) harusnya menyadari tertulis meyadari.

Logika menjadi terlupa ataukah sengaja dipercepat ketika Marissa yang tidak punya uang (dan menjadi punya uang dengan minta ke Wiliam, hlm: 34) mendadak bisa membayar makanan (hlm: 60 dan 78) tanpa meminta uang lagi pada Wiliam? Termasuk ketika Marissa memaksa belanja ke pasar tanpa minta uang pada siapapun (hlm: 93).

(hlm: 63) harusnya di tangannya tertulis di Tangannya.

Kembali logika menjadi pecah ketika dinyatakan Ferry-Diana sudah berteman lama (hlm: 80) tapi Ferry yang gugup menelepon Diana beralasan takut Diana tidak mengenalinya (hlm: 76) padahal di awal (hlm: 39) Ferry terlihat hanya menjadi sasaran cela Diana. Agak rancu mendeskripsikan kompleksitas hubungan Ferry-Diana ini.

Yang ini juga membingungkan (hlm: 148) …dari atas dan jendela kamarnya, Diana melihat Ferry memandangnya dengan putus asa. Kalimat awalnya ambigu, susah dimengerti.

Secara keseluruhan teenlit ini membosankan sekali. Untung saja, sekali lagi, ide ceritanya segar sehingga saya masih tertarik menghabiskannya hingga lembar halaman pamungkasnya. Namun, sumpah, gaya mendongengnya kaku banget, saya sampai geregetan. Kalau boleh membandingkan buku ini serupa namun berkebalikan dengan novel Pillow Talk-nya Christian Simamora. Serupa, karena saya sukar membedakan mana bahasa tulisan dan mana bahasa lisan pada keduanya. Sedangkan berkebalikan, maksudnya, kalau di Pillow Talk yang lebih terasa adalah bahasa lisan-nya maka di teenlit ini sebaliknya, bahasa tulis-nya lah yang lebih menonjol. Bahkan untuk kalimat percakapannya (dialog) sekalipun, kaku banget. Ugh