Showing posts with label Novel: Islami. Show all posts
Showing posts with label Novel: Islami. Show all posts

Saturday, June 5, 2010

(2010 - 10) Resensi Novel Chicklit Islami: Riawani Elyta dan Rika Y. Sari - Tarapuccino

Toko Roti Penuh Intrik.
Bagus tapi Inkonsisten.


Rating: 2 dari 5 bintang



Judul: Tarapuccino
Pengarang: Riawani Elyta dan Rika Y. Sari
Editor: Saptorini, S.S
Desain sampul: Andi Rasydan
Setting: Udien Nur Che'
Penerbit: Afra Publishing (Kelompok Indiva Media Kreasi)
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp26.000
Rilis: Oktober 2009 (Cet. 1)
ISBN: 978-602-8277-15-0

Tara dan Raffi adalah dua bersepupu yang mempunyai passion yang sama untuk membuka usaha bakery di kawasan Batam yang dipatenkan dengan nama Bread Time. Mereka merintis dari awal hingga usaha tersebut berkembang pesat dan menjadi salah satu toko bakery kenamaan di wilayah tersebut. Terdorong semangat untuk lebih maju, keduanya merekrut Hazel yang bertugas menangani segala pernik publikasi sebagai media promosi Bread Time.

Sejak bergabungnya Hazel, intrik demi intrik mulai mewarnai hari-hari Bread Time. Mulai dari ditemukannya indikasi bahwa pasokan material yang menjadi bahan baku produksi ditengarai berlabel haram sehingga berujung pada pemutusan kerjasama secara sepihak dengan rekanan, sabotase mobil pengiriman furniture pesanan kantor, hingga kasus keracunan makanan yang di-blow up media. Konflik demi konflik misterius tersebut selanjutnya menyulut bara dalam sekam persahabatan Tara-Raffi-Hazel. Sikap saling curiga dan tuduh-menuduh berkhianat siap menghancurkan bukit kepercayaan yang telah tercipta di antara mereka.

Judul novel ini mengingatkan saya pada novel chicklit fenomenal karya Nisha “Icha” Rahmanti, Cintapuccino, terkait unsur puccino yang menyambungkan kata pertamanya. Dari segi judul, sampai tuntas membaca saya tidak bisa menangkap maksudnya apa selain bahwa Tara adalah salah satu tokoh sentral dan (cinnamon) cappucino (btw, kata wikipedia yang benar menulisnya adalah double p dan double c: cappuccino, baru tahu) merupakan salah satu sajian istimewa dari Bread Time. Lagipula judul tersebut ditulis Tarapuccino (dengan dua c) bukan Tarappuccino (dengan dua p dan dua c). Tanya kenapa? Secara filosofis saya tak dapat merangkumnya dari keseluruhan lembarannya. Saya memang lagi dodol!

Terkhusus, saya suka pada selipan-selipan unsur tindak-tanduk Islami pada tokoh-tokohnya, terutama pada singgungan soal say no to pacarannya dan pengenalan pada proses taaruf, meskipun tidak sampai mendalam. Namun, sayang sekali, selipan tersebut terasa janggal ketika tokoh Tara yang suatu ketika digambarkan begitu sangat muslimah, ternyata “sempat-jelalatan” menatap dan mengagumi salah satu tokoh laki-lakinya. Wajar sih, sebagai seorang perempuan hetero yang dikurniai nafsu, ketertarikan (fantasi) pada lawan jenis bisa saja terjadi. Hanya saja, bagi saya itu agak bertolak belakang dengan part lain dimana si tokoh perempuan ini beretika lebih hati-hati.

Novel ini dibuka dengan adegan misterius yang cukup menjanjikan dan nuansa itu terus dibangun hingga akhir dengan intrik-intrik menarik seputar bisnis roti dan kue. Konflik susul menyusul pada waktu yang tepat meskipun tahapan timbulnya masalah dan pemecahannya tidak semengagumkan karya-karya Agatha Christie atau Dan Brown. Tetapi cukuplah untuk bisa menciptakan suasana tegang di waktu-waktu tertentu dan keinginan untuk berspekulasi mengenai kejadian demi kejadian yang dirangkai oleh kedua penulis.

Sebagai sebuah hasil kerjasama dari dua penulis, novel ini hampir bisa menyatu meskipun secara tersurat saya merasakan sentuhan yang berbeda yang cukup jelas untuk menandai mana tulisan Riawani dan mana tulisan Rika (walaupun saya tak dapat menebaknya, karena novel ini adalah novel pertama dari masing-masing mereka yang saya baca sehingga belum bisa memetakan kekhasan secara pribadi). Adalah kata “secara” (hlm: 36, 129) yang menurut saya tidak disepakati oleh dua penulis ini sehingga manimbulkan keyakinan bahwa persekutuan dua penulis ini masih perlu untuk dikuatkan lagi.

Isi cerita, tebaran konflik, dan ending-nya cukup memuaskan. Sayang sekali, kualitas cerita tersebut tidak dibarengi dengan kualitas teknik percetakannya. Entah karena lalai atau sengaja disesuaikan dengan kondisi asli kota Batam, novel ini berusaha keras meleburkan kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, yang nyatanya menjadi bumerang karena banyaknya inkonsistensi penulisannya (kadang miring, kadang tidak). Termasuk pula pada beberapa kata tertentu penulis menggunakan padanan kata Indonesia-nya ketimbang bahasa aslinya atau sebaliknya. Misalnya, alih-alih menggunakan kata “screen handphone” penulis lebih memilih “skrin handphone” (hlm: 169) dan kata “pintu depan” dibanding kata “front door” (hal: 183). Khusus frasa front door ini penulis menggunakannya dengan “front door bakery” yang kurang pas. Bukankah seharusnya ditulis bakery’s front door? (Jujur, kemampuan bahasa Inggris saya masih kacau). Bagi saya, usaha mencampur dua bahasa ini kurang efektif (dan efisien) dan terbaca hanya sebagai upaya penulis agar novel ini terlihat modern dan bergaya (penilaian subjektif saya).

Saya juga agak terganggu dengan banyaknya kata yang diberikan tanda petik tunggal untuk memberi tekanan pada kata tersebut (beberapa tidak masalah, terlampau sering membosankan) dan komitmen penulis yang menggunakan kata ganti orang ketiga (ia, dia) pada awal bab/paragraf meskipun sejatinya aktor/aktris yang bermain sudah jelas (telah diperkenalkan di depan).

Bab 5, halaman 39
Ia datang agak kesiangan pagi ini. Hm, kacanya sudah diganti dengan yang lebih bening, sesuai dengan keinginan gadis itu tempo hari, gumamnya dalam hati. Dengan kaca yang…dan seterusnya.

Bab 7, halaman 51
Tinggal selangkah lagi dari depan pintu ruko, ia berhenti sejenak. Untuk sekadar menarik napas dalam-dalam dan meredakan gelisah yang mulai berdentum. Karena dalam jarak beberapa langkah lagi ia harus menghadapi sesuatu…dan seterusnya.

Saya hanya penasaran, mengapa masih harus menggunakan kata ganti “ia” jika tokoh yang beradegan sudah jelas (Diaz) dan tak lagi memerlukan space untuk deskripsi karakter. Dan, contoh seperti ini ada di beberapa tempat. Inilah yang saya sebut sebagai kekurangefektif-efisienan.

Kunci utama dari buraian beragam konflik dalam novel ini sejatinya ada pada tokoh Hazel dan Diaz. Awalnya saya sempat kebingungan dengan dua tokoh tersebut, namun seiring halaman demi halaman saya tuntaskan semakin benderanglah siapa mereka. Dan jujur, saya kurang sreg dengan teknik penulis untuk mengaburkan tokoh tersebut. Agak mengada-ada saja dengan penggunaan sudut pandang orang ketiga jika tokoh tersebut diberi “nyawa” dengan teknik seperti itu. Alasan saya membingungkan? Iya, mohon maaf, saya tidak bisa membuatnya lebih terang lagi karena saya menangkap justru kehidupan tokoh Hazel dan Diaz ini yang menjadi mantra penjaga agar novel ini terasa misterius, kalau saya bongkar berarti itu spoiler dan novel ini menjadi kehilangan sisi misteriusnya. Maka, untuk mengetahui siapakah Hazel dan Diaz, silakan comot novel ini dari toko buku dan mulai membacanya. Dan, tentu saja, untuk mengetahui pula pada siapakah Tara akhirnya melabuhkan bahtera cintanya, Raffi atau Hazel?

Beberapa hal janggal yang seharusnya tertangkap pada proses editing:

(hlm: 16) …dengan intonasi yang tak kalah firmnya, sedikit pun tak bergeming. Harusnya tidak perlu ditambahkan kata tak sebelum kata bergeming. Yang lucu, pada halaman 133, penggunaan kata ini benar. Inkonsistensi.

(hlm: 20) …launching bulletin. Lagi dan lagi, masalah konsistensi. Pertanyaan: mengapa pada halaman yang sama kata ini digunakan dalam bahasa Inggris sekaligus bahasa Indonesia secara berbarengan? Opini: variasi diksi yang kurang oke.

(hlm: 41) …came corder. Apa ini, apakah maksudnya camcorder (video camera recorder)?

Gigabyte (hlm: 61), display (hlm: 91), Home (hlm: 92), shift (hlm: 83, 111), dan masih banyak lagi yang lain. Harusnya dicetak miring?

(hlm: 70-71) korsvet ditulis dengan dua tampilan berbeda, miring dan tidak. Lagi-lagi masalah inkonsistensi.

(hlm: 89) …ice green tea atau iced green tea. Inkonsisten.

(hlm: 138) IP Adress. Harusnya IP Address.

(hlm: 216) di dapatnya harusnya digabung, didapatnya. Dimata harusnya dipisah, di mata.

Kata yang paling sering inkonsisten: cappuccino (kadang miring, kadang tidak)

Overused: penggambaran karakter Tara yang langsing (gadis langsing tersebut..bla..bla..bla), Hazel yang jangkung (sosok jangkung tersebut…bla…bla…bla…). Apa tidak bisa mencari citra diri lain untuk menjelaskan dua tokoh tersebut?

Sinopsis (dari blog resmi Riawani Elyta)
Bread Time, sebuah bakery di Kota Batam yang dikelola dua pengusaha muda Tara dan Raffi yang masih terikat hubungan keluarga. Disaat Bread Time semakin berkembang, Hazel, seorang pemuda yang ahli dalam pengerjaan grafis bergabung dalam usaha bakery tersebut. Latar belakangnya yang misterius ditambah lagi sebuah kekacauan yang nyaris menghancurkan nama baik Bread Time yang susah payah dibangun Raffi dan Tara, mengarahkan kecurigaan Raffi pada keterlibatan Hazel yang akhirnya membuat pria misterius itu harus terdepak dari Bread Time.

Sebuah tragedi dan rahasia masa lalu, perlahan menyeruak dan secara pelan-pelan menemukan jejak kebenaran dan benang merah dengan semua yang dialami dan terpaksa harus dijalani Hazel selama bertahun-tahun. Jejak kebenaran yang membuka wajah aslinya sebagai seorang mahasiswa drop out dan mantan aktivis rohis di masa lalu bernama Ahmadiaz Syah Reza.

Namun ia justru dihadapkan pada situasi sulit – terbelit oleh hutang yang terus berbunga membuatnya terpaksa terlibat dalam sindikat illegal trading – yang tragisnya pula, telah menggiringnya pada suatu kecelakaan maut. Kecelakaan ini jua yang menjadi titik terungkapnya sebuah rahasia lain tentang keterikatan yang pernah nyaris terjalin antara dirinya dan Tara di masa lalu, tanpa pernah disadari oleh keduanya. Namun raibnya sosok Hazel tak mengurangi porsi pria itu yang telah menorehkan tempat tersendiri di hati Tara.

Tahun yang terus bergulir, telah menggiring Bread Time menjadi salah satu ikon kesuksesan kuliner di Batam. Saat yang bersamaan, pernikahan Tara dan Raffi telah di depan mata. Namun sebuah liburan akhir tahun telah menyeret Tara pada perjumpaan tak terduganya dengan sosok pria – satu-satunya pria – yang pernah menempati ruang hatinya secara utuh

Kisah fiksi yang berlatar belakang pada fenomena lokal khas daerah perbatasan, yaitu tindak kriminal yang berhubungan dengan illegal trading dan luasnya keran impor penyelundupan melalui jalur perdagangan tak resmi, juga budaya masyarakatnya yang sangat heterogen sehingga mengaburkan nilai-nilai kearifan lokal.

Sebuah novel yang mencoba bertutur dengan cara mengolaborasikan unsur thriller, entrepreneurship, romantisme, cyber crime dan humanis dengan tetap berpijak pada koridor Islam yang santun. Dilatarbelakangi issue illegal trading, penyelundupan, juga maraknya akan kasus penggunaan lemak haram dalam pencampuran bahan makanan.

Telah beredar di toko-toko buku nasional atau hub. marketing Indiva : 081329768314)


-------------------------------------------------------------------------

tambahan info bagi pecinta kopi (me)

A cappuccino is an Italian coffee drink prepared with espresso, hot milk, and steamed-milk foam.

The name cappuccino comes from the Capuchin friars, possibly referring to the colour of their habits or to the aspect of their tonsured (white) heads, surrounded by a ring of brown hair.

A cappuccino is traditionally served in a porcelain cup, which has far better heat-retention characteristics than glass or paper. The foam on top of the cappuccino acts as an insulator and helps retain the heat of the liquid, allowing it to stay hot longer. The foam may optionally have powder (commonly cocoa, cinnamon or nutmeg) sprinkled on top.

source: wikipedia

Friday, November 20, 2009

Resensi Novel Islami: Ifa Avianty - Jodoh Dari Surga

Ribetnya menyadari cinta



Judul: Jodoh dari Surga
Pengarang: Ifa Avianty
Penerbit: QultumMedia
Genre: Romance-Comedy, Islamic Novel
Tebal: vi+138 halaman
Harga (Toko): Rp17.500
Rilis: 2007 (Cetakan Kedua)

Catatan: Novel ini udah gua baca lamaaaaaaaaa banget, tapi kelupaan belum di-share resensinya. Nah, sambil nunggu beberapa buku gua tulis review-nya, kayaknya ga ada salahnya gua upload yang ini dulu. Secara, masih demam Facebook on Love-nya Ifa, qiqiqiqiqiqi…

Saya lupa apa yang mendorong saya untuk membeli novel ‘tipis’ ini. Mungkin harganya yang ‘murah-banget’ menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keputusan saya. Tapi, paling tidak satu yang saya ingat, gaya bahasa Ifa memang memikat saya dari awal saya meng’observasi’ novel ini sebelum deal dengan kasir dan membayarnya.

Untuk ukuran sebuah novel berlabel Islamic Novel, novel ini cukup ciamik dalam hal tata bahasa, sesuai dengan selera saya. Tidak terlalu membingungkan, mengalun sempurna dalam modernisasi kota besar, meskipun membuatnya menjadi terlalu ‘dangkal’ tergabung dalam lingkup novel bertema Islam. Ciri Islam hanya ditempelkan pada cerita tokohnya yang sering digambarkan salih-salihat, pintar mengaji, atau lontaran salam pada setiap kesempatan, plus aksesoris ‘kerudung’ dan jilbab pada tokoh wanitanya. Bisa bayangin nggak seorang cewek berjilbab, terus maen piano dalam sebuah resital piano akbar? Gue nggak bisa nih.

Cerita yang dibangun Ifa sebenarnya sangat menarik karena dibuat dengan tumpukan konflik yang bergulung-gulung bak benang kusut yang susah diuraikan. Hidup serasa berwarna dengan ragam masalah pelik yang menghampiri tiap-tiap tokohnya. Dari mulai perjodohan yang terpaksa hingga isu poligami. Namun, daya tahan saya untuk menerima gunungan konflik ini ternyata tidak terlalu bagus. Saya malah mati bosan di tengah masalah-masalahnya. Kisah tragis salah satu karakter kuncinya pun tak mampu membangkitkan rasa iba yang biasanya gampang sekali hadir dalam setiap kesempatan saya membaca novel dengan tokoh kunci hidup bergelimang sengsara. Waktu baca Bidadari-bidadari Surganya tere-liye aja gue nangis bombay hampir sampai akhir novel. Huhuhuhuhu....

Keribetan yang diciptakan Ifa nyatanya gampang sekali terurai di hampir pengujung novel, yang membuat saya mengerenyit heran. Mengapa masalahnya jadi mudah sekali ya? Mungkin kendala sedikitnya halaman membuat jalan cerita tidak dibuat dengan ending yang memadai dan terkesan dipaksakan untuk selesai. Keinginan penulis untuk mengakhiri segalanya dengan emosional justru terasa mengada-ada, menurut saya. Yah, cuman gini doank? sungut saya.

Kelemahan lain yang menyertai novel ini adalah point of view karakter yang digunakan sedikit kedodoran. Sudut pandang orang pertama ‘aku’ sedianya dihadirkan dengan independensi tiap tokohnya, seluruh tokoh menggunakan kata ganti orang pertama. Saya memang pengagum cerita dengan ciri khas begitu tetapi khusus untuk novel Ifa ini, penggunaan kata ganti orang pertama untuk hampir seluruh tokohnya malah membuat plot menjadi berantakan. Bahkan yang sangat saya sesalkan adalah tokoh ‘pinggiran’ yang sebelumnya tidak punya peran besar tiba-tiba ikut ‘berbincang’ dan mengambil porsi dalam jalinan cerita. Hal tersebut, menurut saya, kurang bagus dan sedikit ‘menghancurkan’ cerita yang telah dibangun sebelumnya. Kekurangan lain yang agak terlihat nyata adalah penggunaan kata ganti orang pertama ini cenderung lemah karena antara satu karakter dengan karakter lain ‘terasa’ sama saja. Tidak teraba perbedaan pada masing-masing tokoh. Nggak mungkin kan semua orang sama?

Yeah, maaf kalau saya sepertinya jago ‘kritik’ sekali, padahal membuat cerita sendiri saja saya tidak bisa. Namun, rasanya saya punya hak, karena saya toh sebagai pembaca memiliki kesempatan untuk berkomentar atas setiap karya yang saya ‘beli’ kan? But, like I said before, saya suka gaya bahasa yang digunakan Ifa. Chic. Simple. And, lovely.

Berikut secuplik dari novel ini, disajikan pratinjau terbatas oleh books.google.
Klik di sini.