Showing posts with label Novel: ChickLit. Show all posts
Showing posts with label Novel: ChickLit. Show all posts

Friday, March 9, 2012

[Resensi Novel Chicklit] Goodnight Tweetheart by Teresa Medeiros

Hai, tweetheart, apa kabarmu hari ini?
Rating: 4 out of 5 star


Judul: Goodnight Tweetheart
Penulis: Teresa Medeiros
Penerjemah: Siska Yuanita
Pewajah sampul: eMTe
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp
Rilis: Desember 2011
ISBN: 978-979-22-7837-8

Yono: Kau pakai baju apa?
Yuli: Sweater bernoda kopi dan syal Hermes Miranda Priestly di THE DEVIL WEARS PRADA. Kau?
Yono: Jaket kulit hitam mengilat dan topi kain Lyckety-Splyt di 8 MILE.
Yuli: Ahh, manis sekali. Seharusnya tambahkan gelang berduri di pergelanganmu dan tindikan peniti di telingamu.
Yono: Itu rocker, aku ini rapper. Jadi, apa kabar tulisanmu hari ini?
Yuli: Masih belum beranjak dari adegan bercinta di kolam renang yang kuceritakan terakhir kali kita nge-tweet
Yono: Oh, adegan panas itu. Apa kau perlu kipas?
Yuli: Tak perlu, adegan itu di kolam renang, pasti akan dingin sendiri.
Yono: Goodnight, Cinta
Yuli: Goodnight, Rangga
Yono: Goodnight, Mili
Yuli: Goodnight, Mamet
Yono: Goodnight, tweetheart...


Mencoba hal baru, that’s not my style. Ketika facebook baru saja muncul, saya itu belum lama punya akun friendster. Berhubung teman-teman saya banyak yang pindah ke facebook, maka saya pun ‘terpaksa’ ikut arus dan bergabung di situs jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg tersebut. Saat itu, saya masih naif juga, mencoba mencari akun facebook artis Hollywood untuk bisa saya ajak friend, ternyata sulit sekali mencarinya. Lalu, saya meminta bantuan google, dan justru diteruskan ke alamat si artis di My Space dan Twitter. Setelah dilihat-lihat, cukup banyak artis yang join di Twitter dan setahu saya saat itu Twitter masih kalah pamor dibanding facebook di Indonesia. Saya membuat akun twitter hanya untuk mem-follow akun artis Hollywood favorit (pertama kali follow Britney Spears...;) tapi, belakangan saya ikut menikmati Twitter (bergantian dengan goodreads.com, tentu saja).

Membaca goodnight tweetheart sungguh menyenangkan. Kocak. Berkat kepiawaian Teresa menghadirkan dialog-dialog cerdas nan lucu (tak jarang menjurus vulgar) mau tak mau membuat saya tertawa. Hal lain yang memukau saya adalah bagaimana dalam novel yang tidak terlalu tebal ini, penulis mampu menciptakan karakter dengan sub-plot yang banyak tapi tetap hidup. Twist pada cerita dan ending yang manis menjadikan novel ini sungguh sayang jika dilewatkan.


Dan, tweet-versation mereka berdua benar-benar menggemaskan. Selalu diawali dengan pertanyaan, “Kau pakai baju apa?” dan kerap diakhiri dengan saling mengucapkan salam perpisahan dengan memanggil tokoh/karakter dalam film-film yang mereka tonton di mana Mark selalu menulis “Goodnight tweetheart” yang tak pernah dibalas oleh Abby karena speechless. Abby Donovan merupakan seorang penulis debutan yang karya perdananya terpilih dalam Oprah’s Book Club dan sedang menggarap novel kedua namun terkendala writer’s block sehingga ia berada pada titik kritis kehidupannya. Sementara Mark Baynard adalah seorang dosen sastra berstatus duda-anak-satu yang mengaku sedang cuti panjang dan berlibur ke beberapa negara di Eropa.

Tapi, semua akan menjadi datar dan biasa-biasa saja, jika hanya berisi tweet-versation biasa yang kadang diwarnai flirting-flirting seksi itu saja. Untunglah, Teresa tahu bahwa cerita ini harus dikemas dengan sub-plot yang mendukung. Di sekeliling Abby ada ibunya yang sedang dirawat di pusat rehabilitasi akibat penyakit disorder yang dideritanya, lalu ada Margo sang sahabat setia, serta konfliknya sendiri menyangkut stagnansi penulisan dan hubungannya dengan agen-publisisnya. Dikarenakan PoV yang digunakan penulis lebih menyorot Abby, maka Mark yang menjadi teman twitter Abby di seberang hanya dapat teraba karakternya melalui percakapan mereka. Menjelang ending, baru terlihat beberapa adegan yang melibatkan Mark dan keluarganya.


What can I say, novel ini produk impor, jadi ketika beberapa kata vulgar terselip di sana-sini, yah, mau bagaimana lagi. Saya tetap terganggu, namun menurut saya, siapa pun pembacanya pasti akan mudah terikat kepada ceritanya ketika membaca novel ini, karena akan sibuk mencoba menebak-nebak...uhmm, “Karakter di film apa sih yang sedang mereka bicarakan ini?” atau beberapa serial Amerika masa kini yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Saya menikmatinya. Dan, 4 bintang saya berikan untuk novel ini. Semoga ada novel karya Teresa lain yang dapat diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia.


Selamat membaca kawan!

Thursday, December 15, 2011

Resensi Novel Chicklit: Orange by Windry Ramadhina

Perjuangkan cinta yang kaupercayai
Read from December 12 to 14, 2011, read count: 1
---3,5 star...


Judul: Orange
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Christian Simamora
Proofreader: Annisa Kurnia, Resita
Penata Letak: Wahyu Suwari
Designer Sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Tebal: vi + 290 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: Cetakan pertama, 2008
ISBN: 978-979-780-249-3

Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain...

Tepat sekali. Sebagaimana yang dirasakan oleh tokoh-tokoh dalam novel bernuansa jeruk karya Windry Ramadhina ini. Adalah seorang gadis mungil enerjik, Fayrani Muid, putri konglomerat yang justru memilih fotografi sebagai jalan hidupnya, dipertemukan dengan putra sulung konglomerat lainnya, Diyan Adnan, seorang eksekutif muda workaholic dalam sebuah jalinan perjodohan oleh keluarganya. Dua insan yang tak pernah bersua, apalagi mengenal satu sama lainnya ini pun mencoba membangun sebuah jalinan tanpa landasan cinta demi membahagiakan orangtua mereka.Namun, pada akhirnya segala yang pura-pura tak akan bertahan lama. Ikatan resmi pertunangan Faye-Diyan terguncang dengan kehadiran Zaki dan Rera yang mencoba memasuki bilik hati masing-masing. Lalu, bagaimanakah akhir dari kisah ini, apakah Faye akan tetap bertekad menjadi istri Diyan meskipun disasadarinya bahwa laki-laki itu masih menyimpan rasa pada Rera ataukah ia lebih memilih berhubungan dengan Zaki yang tak lain tak bukan adalah adik kandung Diyan? Temukan jawaban atas jalinan cinta yang saling bertautan ini dalam novel debutan Windry Ramadhina.

Sejak mulai membacanya dari halaman pertama, saya tidak bisa berhenti. Oke, tentu saya harus berhenti untuk urusan ibadah, urusan perut, urusan kasur, dan urusan kantor, namun pada dasarnya, membaca novel ini bikin nagih. Paling tidak, saya membaca novel ini tanpa tersela keinginan untuk melirik buku lain (yang biasanya sering saya lakukan). Good for me!

Faye, Diyan, Zaki, dan Rera, adalah tokoh-tokoh yang likeable. Mudah bagi saya menyukai kesemua karakternya, yang digambarkan dengan sangat baik. Tentu saja, sikap labil Diyan dan Rera yang sering on-off itu terkadang bikin gemas juga, namun selebihnya kesemuanya berakting dengan cukup memikat. Great job, Windry. Sedangkan untuk tokoh sampingan, masih ada beberapa yang kurang kuat, termasuk tokoh orangtua Faye-Diyan. Tapi, tak apalah, kalau terlalu kuat nanti justru menenggelamkan tokoh utamanya.

Soal ceritanya sih, kisah cinta biasa. Romansa yang hampir sama dengan Antologi Rasa-nya Ika Natassa. Cinta bersegi empat. Faye dan Diyan dijodohkan, Zaki mendadak jatuh cinta pada Faye, dan Diyan masih tak mampu melupakan Rera. Maka, lingkaran keempatnya adalah konflik utama dari keseluruhan rangkaian kisah cinta di novel ini. Tapi, tenang saja, bumbu penyedap konfliknya cukup menggoda, kok. Cukup untuk membuat novel ini renyah ketika dinikmati. Dan, terima kasih, karena Windry pun tak menyia-nyiakan background masing-masing tokoh sehingga saya merasa dekat dengan mereka, karena mereka memang nyata. Mereka bekerja, berkeluarga, dan bersosialisasi. Background mereka melekat pada karakternya, tidak sekadar tempelan belaka. Tagline novel ini yang saya tulis di muka menjadi deskripsi paling jelas dari keseluruhan ceritanya. Meski hanya sekilas, saya pun ikut trenyuh ketika beberapa tokoh rekaan Windry harus menyaksikan orang yang mereka cintai ternyata malah menjatuhkan pilihan pada orang lain. #berkaca.kaca.

Oiya, kenapa novel ini mengambil judul “Orange” alias “Jeruk”? Saya tak tahu, hehehe. Tapi, kalau menurut saya sih, jeruk adalah highlight dari tokoh Faye yang memang menyukai buah jeruk dan menganggap bahwa hidup ini serupa jeruk yang rasanya asam-manis, “bittersweet”, dan apabila ditarik ulur benang-merah kisah dalam novel ini meman mencoba menggambarkan rasa dari hidup para tokohnya.

Saya juga suka dengan gaya menulis Windry yang membuat tiap adegan mengalir hampir secara kronologis, dari waktu ke waktu, berganti dari satu tokoh ke tokoh lain yang terlibat dalam adegan tersebut. Meskipun demikian, saya agak terganggu dengan penempatan kata ganti orang ketiga dalam kalimat-kalimat yang disusun oleh Windry. Misalnya saja, contoh berikut (hlm. 183-184):
      Zaki membuka kunci pintu depan, lalu ia mempersilakan Faye masuk..dst..... Laptop miliknya masih menyala dan asbak penuh puntung rokok di sebelah laptop itu belum ia bersihkan.
    “Maaf, Faye. Berantakan.”
    Faye tertawa kecil. “Kurasa kau perlu mempertimbangkan...dst...,” kata Faye penuh canda. Dengan nyaman gadis itu mengambil posisi duduk di atas tikar, lalu Faye mulai melihat-lihat kumpulan kertas berisi sketsa miliknya yang berantakan.
Coba perhatikan kata “miliknya” di akhir paragraf. Dalam posisi membaca cepat, mungkin mekanisme otomatis otak saya akan mencerna bahwa kata ganti “-nya” yang disematkan pada kata "milik" itu adalah merujuk pada Faye, padahal sebenarnya itu merujuk pada Zaki yang memang gemar membuat sketsa. Sayangnya, cukup banyak gaya penulisan semacam itu dalam novel ini. Bagi saya pribadi, gaya penulisan tersebut cukup mengganggu. Typo pun masih bertebaran di sana-sini. Beberapa yang cukup mudah ditemukan adalah di bab-bab akhir menjelang ending, padahal di awal typo-nya tidak banyak.

Terkait dengan penamaan tokoh-tokohnya, Windry terkesan menyukai nama modern yang dibuat berornamen. Alih-alih menulis Dian, Windry lebih suka tokohnya disebut Diyan. Demikian pula dengan Niela dan Meilianie. Sudah menjadi penyakit dari jaman dulu kala, penulisan nama yang seperti itu memiliki peluang yang cukup besar untuk terpeleset (salah ketik). Dan, terjadi juga di novel ini, meskipun hanya sekali-dua kali kalau tidak salah. But, overall, saya suka novel ini.

Selamat membaca, kawan!

Friday, July 23, 2010

Resensi Novel Chicklit: Rina Suryakusuma - Lukisan Keempat (Amore 01)

Jalan panjang berdamai dengan masa lalu

Rating: 2,5 dari 5 Bintang



Judul: Lukisan Keempat
Penulis: Rina Suryakusuma
Editor: Novera Kresnawati
Co. Editor: Irna Permanasari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Lini: Amore
Tebal: 224 hlm
Harga: Rp30.000
Rilis: Pebruari 2010
ISBN: 978-979-22-5457-0

Natasya Petra Rahadian melarikan rasa frustasinya setelah putus cinta dari Edward Dwiansyah dengan meng-apply lowongan pekerjaan sebagai stewardess sebuah maskapai penerbangan internasional yang berbasis di Amerika Serikat. Ia berharap diterima sehingga dapat segera menyingkir dari segala kenangan tentang Edward untuk sementara waktu, kalau perlu selamanya. Tak dinyana, Natasya lolos seleksi hingga dikirim ke Colorado untuk mengikuti training calon pramugari sebelum secara resmi dikontrak oleh maskapai tersebut. Dan, dimulailah babak baru episode kehidupannya.

Natasya mulai ada rasa pada trainernya yang ternyata adalah seorang pilot, meski kemudian dia kembali harus tertusuk realita bahwa cowok itu berselingkuh dengan teman baiknya sesama pramugari. Pada saat itulah, Natasya dipertemukan oleh takdir dengan seorang penumpang pesawat menyebalkan yang berusaha menarik perhatiannya. Aura permusuhan yang muncrat pada awalnya, perlahan menjadi semacam candu yang membakar gairah asmara Natasya hingga ia tak lagi mampu membohongi diri sendiri bahwa ia terjatuh dalam kubangan pesona si penumpang bengal tersebut. Apakah kali ini kisah cinta Natasya akan berakhir dengan happy ending? Belum lagi ketika laki-laki lain dari masa lalunya tiba-tiba menyeruak ke dalam hidupnya, bagaimana ia menghadapinya? Lalu, apa yang dimaksud dengan lukisan keempat itu? Temukan jawaban-jawabannya dengan membaca novel pertama dari lini Amore yang digagas Gramedia ini.

Kecewa dengan keseluruhan elemen cerita dalam novel Amore 02 membuat saya sempat mengucap ‘sumpah’ untuk tak lagi menyentuh novel lain dari lini Amore ini. Namun, ternyata saya malah tak tahan untuk ikut-ikutan teman yang sudah membaca novel Amore 01 dan berkomentar bahwa it was better than Amore 02. Saya menjadi tertarik dan kebetulan ada teman yang baru membelinya dan mengizinkan saya “memerawaninya” terlebih dahulu. Terima kasih buat mas Tomo.

Hasilnya? Saya setuju dengan komentar teman tersebut bahwa novel ini lebih ngalir ketimbang novel Amore 02. Meskipun masih sama-sama dalam dunia khayal kesempurnaan para tokohnya, namun Lukisan Keempat ini menyajikan cerita yang lebih natural dan smooth. Metamorfosis karakter rekaan sang penulis dapat terekam dengan baik dan cukup hidup dalam belitan konflik yang diciptakannya. Walaupun, lagi-lagi, semua berjalan dengan sangat sederhana. Dan, tidak terlalu istimewa.

Seharusnya, terlebih dahulu saya mengosongkan pikiran dari segala pengetahuan yang pernah terekam dalam memori otak sebelum mulai membaca sebuah buku untuk menghindari keinginan hati mengaitkan cerita dalam buku yang saya baca dengan cerita lain yang pernah saya baca, dengar, atau lihat sebelumnya. Sayang, saya tak terpikir melakukannya ketika mulai membaca novel ini, sehingga kelebatan adegan demi adegan film View From The Top-nya Gwyneth Paltrow tak mampu saya bendung dan menyerbu benak saya. Tapi, untunglah, kesamaan novel ini dengan film itu sepertinya hanya terletak pada latar belakang kehidupan pramugari dan situasi training di awalnya saja. Selebihnya, seingat saya, berbeda sekali. Ahh, jadi pengen nonton film itu lagi…

Novel ini memang tidak menawarkan sebuah cerita yang rumit dan penulis juga nampaknya tidak berkeinginan untuk membuatnya rumit. Tak ada konflik bombastis dan hanya berkutat pada nasib percintaan tokoh utama sebelum dipertemukan dengan ‘jodoh’ yang telah dipersiapkan oleh si penulis. Yeah, ‘lil bit boring memang karena segalanya menjadi tampak begitu mudah. Pengaturan tokoh yang bermusuhan-dahulu-berkencan-kemudian terjadi begitu gampang tanpa banyak halangan. Namun, cara mengemas penulis patut diacungi jempol, sehingga pembaca (saya, maksudnya) bisa ikut larut dalam setiap adegan yang dimainkan oleh para tokohnya.

Pada satu sisi saya menyukai bagaimana sosok Craig ditampilkan sedikit tersamar, misterius. Namun, pada sisi yang lain juga ingin menuntut jawaban atas pertanyaan bagaimana ia bisa tahu banyak hal tentang Natasya. Dan, entah apakah ada fakta yang terlewat, seingat saya, penulis memang tidak menerangkan posisi Craig secara jelas, pekerjaan, keseharian, dan atau kekuasaan yang dimilikinya, sehingga memungkinkannya untuk memperoleh informasi-informasi penting soal Natasya itu. Bukan masalah sih dibiarkan misterius, tapi tetap saja diperlukan jawaban pasti atas pertanyaan mendasar itu. Di buku selanjutnya, maybe?

As usual, berikut laporan kejanggalan yang saya temukan di novel ini:
(hlm. 22) …ucap si pris bule………, pris = pria

(hlm. 16, 23, 114, 194, 195)…..hmm, meskipun dalam KBBI terdapat kata ‘kuatir’ namun juga ingin tahu artinya disarankan merujuk kata khawatir, nah, dalam novel ini alih-alih kata khawatir atau cemas, penulis lebih menggemari menggunakan kata ‘kuatir’, bagi saya kata itu lebih cocok untuk percakapan/dialog, sedang untuk deskripsi/narasi lebih enak jika memakai ‘khawatir’. Namun, sempat pula agak keselip ingin menggunakan kata khawatir (hlm. 26) tapi justru menjadi typo….mengkhatirkan = mengkhawatirkan?

(hlm. 83) unbeliaveble = unbelievable

(hlm. 108) adakah istilah force major untuk kondisi darurat/mendesak……..kalau setahu saya sih force majeur(e)

(hlm. 114) ….Craig ada didekatnya……., didekatnya seharusnya dipisah = di dekatnya

(hlm. 123) “What?” Tasia tercengang menatap Craig……, ehmm, seharusnya demi konsistensi, untuk selain dialog penulisan nama tokohnya yang lengkap, Natasya, apalagi diceritakan bahwa panggilan “Tasia” hanya dilakukan oleh dua orang tokoh tertentu di novel ini

(hlm. 164) Semua impiannya terkabu……., terkabu = terkabul

(hlm. 170) “……apa akibatnya?” mama menatap anak…….., mama = Mama

(hlm. 188) kurang tanda titik pada kalimat akhir paragraf….gadis yang bisa dibawa-bawa(titik)


My thought: saya kok agak geli ya membaca frasa “memijit tombol handphone”…kalau mendengar kata itu, saya selalu terasosiasikan pada kegiatan pijat-urut. Sama juga dengan frasa “mengenakan lipstik”, hmmm….agak kurang familiar saja, bagi saya, soalnya terbiasa mendengar, “mengenakan kemeja” atau “mengenakan sepatu”
Dalam ukuran selera saya sih, typo tersebut masih dalam batas wajar dan tidak begitu mengganggu dalam proses melumat cerita novel ini. Namun, tetap saja, hal tersebut menunjukkan masih terdapatnya titik lemah pada sektor penjaminan kualitas cetakan yang perlu dibenahi. Kenapa sih guwe secerewet ini? Pertama, saya ingin seluruh elemen yang terlibat dalam penerbitan sebuah buku sadar bahwa kualitas cetakan juga penting sehingga sangat perlu untuk menghindari beragam ‘cacat’. Kedua, sudah ada yang namanya editor jadi harusnya kesalahan seperti ini dapat terminimalisir, kalaupun ada yang menyebutkan bahwa bisa saja terdapat faktor-faktor khusus pada proses konversi file ke dalam aplikasi lain untuk dicetak, masak iya nggak ada quality check lagi pada tahap itu? Ketiga, pada kenyataannya ada lho buku yang ‘nyaris’ tidak ada ‘cacat’ teknis cetaknya, jadi kenapa buku yang lain tak bisa begitu.

Oops, kok malah melantur ke mana-mana. Kembali ke…..buku ini. Pada akhirnya, saya memang menyukai novel Lukisan Keempat ini. Bagaimana alur dibiarkan mengalir alami dan latar belakang pramugari yang meskipun tidak diuraikan secara mendetail tapi cukup untuk dapat menghilangkan kesan bahwa profesi itu ‘hanya’ tempelan belaka, membuat saya nyaman menuntaskan novel tipis yang baru saya sadari font-nya agak lebih eye-friendly ketimbang novel Amore 02, sehingga tidak melelahkan mata. Ending berasa mengundang sekuel meskipun ternyata kata penulisnya, ia belum memiliki gambaran akan meneruskan cerita ini atau tidak. Bagi saya, I love to wait for the next story of Natasya.

Okay, enjoy reading, people!

Sinopsis:
Sebagai pramugari maskapai penerbangan internasional Corissa Airlines, tidak seorang pun mengira Natasya Petra Rahadian memiliki tiga fase kehidupan yang membuat gadis itu terluka karena cinta.

Dimulai dari ayahnya yang meninggalkan Natasya bersama ibu dan adiknya. Kekasih masa kuliah yang menduakannya dengan sahabat karibnya sendiri. Dan terakhir, pilot yang dekat dengan dirinya ketika menjalani pelatihan berselingkuh dengan teman sekamarnya.

Natasya bersumpah takkan jatuh cinta lagi. Sampai ia bertemu Craig Hayden, penumpang Corissa Airlines yang menyebalkan. Sementara Craig sudah tertarik pada Natasya yang begitu menawan hati saat kali pertama ia memandangnya.

Entah bagaimana Craig tahu, Nat memendam luka dalam hidupnya. Ia bertekad akan menyingkap kabut tersebut, memberi Natasya siraman kasih sayang, dan mengembalikan kepercayaannya kepada cinta.

Mampukah Craig membuktikan bahwa ia layak masuk dalam kehidupan Natasya? Bisakah Craig mewujudkan tekadnya untuk menjadi bagian dari lukisan hidup Natasya yang keempat, sekaligus yang terakhir?

Saturday, June 5, 2010

(2010 - 10) Resensi Novel Chicklit Islami: Riawani Elyta dan Rika Y. Sari - Tarapuccino

Toko Roti Penuh Intrik.
Bagus tapi Inkonsisten.


Rating: 2 dari 5 bintang



Judul: Tarapuccino
Pengarang: Riawani Elyta dan Rika Y. Sari
Editor: Saptorini, S.S
Desain sampul: Andi Rasydan
Setting: Udien Nur Che'
Penerbit: Afra Publishing (Kelompok Indiva Media Kreasi)
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp26.000
Rilis: Oktober 2009 (Cet. 1)
ISBN: 978-602-8277-15-0

Tara dan Raffi adalah dua bersepupu yang mempunyai passion yang sama untuk membuka usaha bakery di kawasan Batam yang dipatenkan dengan nama Bread Time. Mereka merintis dari awal hingga usaha tersebut berkembang pesat dan menjadi salah satu toko bakery kenamaan di wilayah tersebut. Terdorong semangat untuk lebih maju, keduanya merekrut Hazel yang bertugas menangani segala pernik publikasi sebagai media promosi Bread Time.

Sejak bergabungnya Hazel, intrik demi intrik mulai mewarnai hari-hari Bread Time. Mulai dari ditemukannya indikasi bahwa pasokan material yang menjadi bahan baku produksi ditengarai berlabel haram sehingga berujung pada pemutusan kerjasama secara sepihak dengan rekanan, sabotase mobil pengiriman furniture pesanan kantor, hingga kasus keracunan makanan yang di-blow up media. Konflik demi konflik misterius tersebut selanjutnya menyulut bara dalam sekam persahabatan Tara-Raffi-Hazel. Sikap saling curiga dan tuduh-menuduh berkhianat siap menghancurkan bukit kepercayaan yang telah tercipta di antara mereka.

Judul novel ini mengingatkan saya pada novel chicklit fenomenal karya Nisha “Icha” Rahmanti, Cintapuccino, terkait unsur puccino yang menyambungkan kata pertamanya. Dari segi judul, sampai tuntas membaca saya tidak bisa menangkap maksudnya apa selain bahwa Tara adalah salah satu tokoh sentral dan (cinnamon) cappucino (btw, kata wikipedia yang benar menulisnya adalah double p dan double c: cappuccino, baru tahu) merupakan salah satu sajian istimewa dari Bread Time. Lagipula judul tersebut ditulis Tarapuccino (dengan dua c) bukan Tarappuccino (dengan dua p dan dua c). Tanya kenapa? Secara filosofis saya tak dapat merangkumnya dari keseluruhan lembarannya. Saya memang lagi dodol!

Terkhusus, saya suka pada selipan-selipan unsur tindak-tanduk Islami pada tokoh-tokohnya, terutama pada singgungan soal say no to pacarannya dan pengenalan pada proses taaruf, meskipun tidak sampai mendalam. Namun, sayang sekali, selipan tersebut terasa janggal ketika tokoh Tara yang suatu ketika digambarkan begitu sangat muslimah, ternyata “sempat-jelalatan” menatap dan mengagumi salah satu tokoh laki-lakinya. Wajar sih, sebagai seorang perempuan hetero yang dikurniai nafsu, ketertarikan (fantasi) pada lawan jenis bisa saja terjadi. Hanya saja, bagi saya itu agak bertolak belakang dengan part lain dimana si tokoh perempuan ini beretika lebih hati-hati.

Novel ini dibuka dengan adegan misterius yang cukup menjanjikan dan nuansa itu terus dibangun hingga akhir dengan intrik-intrik menarik seputar bisnis roti dan kue. Konflik susul menyusul pada waktu yang tepat meskipun tahapan timbulnya masalah dan pemecahannya tidak semengagumkan karya-karya Agatha Christie atau Dan Brown. Tetapi cukuplah untuk bisa menciptakan suasana tegang di waktu-waktu tertentu dan keinginan untuk berspekulasi mengenai kejadian demi kejadian yang dirangkai oleh kedua penulis.

Sebagai sebuah hasil kerjasama dari dua penulis, novel ini hampir bisa menyatu meskipun secara tersurat saya merasakan sentuhan yang berbeda yang cukup jelas untuk menandai mana tulisan Riawani dan mana tulisan Rika (walaupun saya tak dapat menebaknya, karena novel ini adalah novel pertama dari masing-masing mereka yang saya baca sehingga belum bisa memetakan kekhasan secara pribadi). Adalah kata “secara” (hlm: 36, 129) yang menurut saya tidak disepakati oleh dua penulis ini sehingga manimbulkan keyakinan bahwa persekutuan dua penulis ini masih perlu untuk dikuatkan lagi.

Isi cerita, tebaran konflik, dan ending-nya cukup memuaskan. Sayang sekali, kualitas cerita tersebut tidak dibarengi dengan kualitas teknik percetakannya. Entah karena lalai atau sengaja disesuaikan dengan kondisi asli kota Batam, novel ini berusaha keras meleburkan kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, yang nyatanya menjadi bumerang karena banyaknya inkonsistensi penulisannya (kadang miring, kadang tidak). Termasuk pula pada beberapa kata tertentu penulis menggunakan padanan kata Indonesia-nya ketimbang bahasa aslinya atau sebaliknya. Misalnya, alih-alih menggunakan kata “screen handphone” penulis lebih memilih “skrin handphone” (hlm: 169) dan kata “pintu depan” dibanding kata “front door” (hal: 183). Khusus frasa front door ini penulis menggunakannya dengan “front door bakery” yang kurang pas. Bukankah seharusnya ditulis bakery’s front door? (Jujur, kemampuan bahasa Inggris saya masih kacau). Bagi saya, usaha mencampur dua bahasa ini kurang efektif (dan efisien) dan terbaca hanya sebagai upaya penulis agar novel ini terlihat modern dan bergaya (penilaian subjektif saya).

Saya juga agak terganggu dengan banyaknya kata yang diberikan tanda petik tunggal untuk memberi tekanan pada kata tersebut (beberapa tidak masalah, terlampau sering membosankan) dan komitmen penulis yang menggunakan kata ganti orang ketiga (ia, dia) pada awal bab/paragraf meskipun sejatinya aktor/aktris yang bermain sudah jelas (telah diperkenalkan di depan).

Bab 5, halaman 39
Ia datang agak kesiangan pagi ini. Hm, kacanya sudah diganti dengan yang lebih bening, sesuai dengan keinginan gadis itu tempo hari, gumamnya dalam hati. Dengan kaca yang…dan seterusnya.

Bab 7, halaman 51
Tinggal selangkah lagi dari depan pintu ruko, ia berhenti sejenak. Untuk sekadar menarik napas dalam-dalam dan meredakan gelisah yang mulai berdentum. Karena dalam jarak beberapa langkah lagi ia harus menghadapi sesuatu…dan seterusnya.

Saya hanya penasaran, mengapa masih harus menggunakan kata ganti “ia” jika tokoh yang beradegan sudah jelas (Diaz) dan tak lagi memerlukan space untuk deskripsi karakter. Dan, contoh seperti ini ada di beberapa tempat. Inilah yang saya sebut sebagai kekurangefektif-efisienan.

Kunci utama dari buraian beragam konflik dalam novel ini sejatinya ada pada tokoh Hazel dan Diaz. Awalnya saya sempat kebingungan dengan dua tokoh tersebut, namun seiring halaman demi halaman saya tuntaskan semakin benderanglah siapa mereka. Dan jujur, saya kurang sreg dengan teknik penulis untuk mengaburkan tokoh tersebut. Agak mengada-ada saja dengan penggunaan sudut pandang orang ketiga jika tokoh tersebut diberi “nyawa” dengan teknik seperti itu. Alasan saya membingungkan? Iya, mohon maaf, saya tidak bisa membuatnya lebih terang lagi karena saya menangkap justru kehidupan tokoh Hazel dan Diaz ini yang menjadi mantra penjaga agar novel ini terasa misterius, kalau saya bongkar berarti itu spoiler dan novel ini menjadi kehilangan sisi misteriusnya. Maka, untuk mengetahui siapakah Hazel dan Diaz, silakan comot novel ini dari toko buku dan mulai membacanya. Dan, tentu saja, untuk mengetahui pula pada siapakah Tara akhirnya melabuhkan bahtera cintanya, Raffi atau Hazel?

Beberapa hal janggal yang seharusnya tertangkap pada proses editing:

(hlm: 16) …dengan intonasi yang tak kalah firmnya, sedikit pun tak bergeming. Harusnya tidak perlu ditambahkan kata tak sebelum kata bergeming. Yang lucu, pada halaman 133, penggunaan kata ini benar. Inkonsistensi.

(hlm: 20) …launching bulletin. Lagi dan lagi, masalah konsistensi. Pertanyaan: mengapa pada halaman yang sama kata ini digunakan dalam bahasa Inggris sekaligus bahasa Indonesia secara berbarengan? Opini: variasi diksi yang kurang oke.

(hlm: 41) …came corder. Apa ini, apakah maksudnya camcorder (video camera recorder)?

Gigabyte (hlm: 61), display (hlm: 91), Home (hlm: 92), shift (hlm: 83, 111), dan masih banyak lagi yang lain. Harusnya dicetak miring?

(hlm: 70-71) korsvet ditulis dengan dua tampilan berbeda, miring dan tidak. Lagi-lagi masalah inkonsistensi.

(hlm: 89) …ice green tea atau iced green tea. Inkonsisten.

(hlm: 138) IP Adress. Harusnya IP Address.

(hlm: 216) di dapatnya harusnya digabung, didapatnya. Dimata harusnya dipisah, di mata.

Kata yang paling sering inkonsisten: cappuccino (kadang miring, kadang tidak)

Overused: penggambaran karakter Tara yang langsing (gadis langsing tersebut..bla..bla..bla), Hazel yang jangkung (sosok jangkung tersebut…bla…bla…bla…). Apa tidak bisa mencari citra diri lain untuk menjelaskan dua tokoh tersebut?

Sinopsis (dari blog resmi Riawani Elyta)
Bread Time, sebuah bakery di Kota Batam yang dikelola dua pengusaha muda Tara dan Raffi yang masih terikat hubungan keluarga. Disaat Bread Time semakin berkembang, Hazel, seorang pemuda yang ahli dalam pengerjaan grafis bergabung dalam usaha bakery tersebut. Latar belakangnya yang misterius ditambah lagi sebuah kekacauan yang nyaris menghancurkan nama baik Bread Time yang susah payah dibangun Raffi dan Tara, mengarahkan kecurigaan Raffi pada keterlibatan Hazel yang akhirnya membuat pria misterius itu harus terdepak dari Bread Time.

Sebuah tragedi dan rahasia masa lalu, perlahan menyeruak dan secara pelan-pelan menemukan jejak kebenaran dan benang merah dengan semua yang dialami dan terpaksa harus dijalani Hazel selama bertahun-tahun. Jejak kebenaran yang membuka wajah aslinya sebagai seorang mahasiswa drop out dan mantan aktivis rohis di masa lalu bernama Ahmadiaz Syah Reza.

Namun ia justru dihadapkan pada situasi sulit – terbelit oleh hutang yang terus berbunga membuatnya terpaksa terlibat dalam sindikat illegal trading – yang tragisnya pula, telah menggiringnya pada suatu kecelakaan maut. Kecelakaan ini jua yang menjadi titik terungkapnya sebuah rahasia lain tentang keterikatan yang pernah nyaris terjalin antara dirinya dan Tara di masa lalu, tanpa pernah disadari oleh keduanya. Namun raibnya sosok Hazel tak mengurangi porsi pria itu yang telah menorehkan tempat tersendiri di hati Tara.

Tahun yang terus bergulir, telah menggiring Bread Time menjadi salah satu ikon kesuksesan kuliner di Batam. Saat yang bersamaan, pernikahan Tara dan Raffi telah di depan mata. Namun sebuah liburan akhir tahun telah menyeret Tara pada perjumpaan tak terduganya dengan sosok pria – satu-satunya pria – yang pernah menempati ruang hatinya secara utuh

Kisah fiksi yang berlatar belakang pada fenomena lokal khas daerah perbatasan, yaitu tindak kriminal yang berhubungan dengan illegal trading dan luasnya keran impor penyelundupan melalui jalur perdagangan tak resmi, juga budaya masyarakatnya yang sangat heterogen sehingga mengaburkan nilai-nilai kearifan lokal.

Sebuah novel yang mencoba bertutur dengan cara mengolaborasikan unsur thriller, entrepreneurship, romantisme, cyber crime dan humanis dengan tetap berpijak pada koridor Islam yang santun. Dilatarbelakangi issue illegal trading, penyelundupan, juga maraknya akan kasus penggunaan lemak haram dalam pencampuran bahan makanan.

Telah beredar di toko-toko buku nasional atau hub. marketing Indiva : 081329768314)


-------------------------------------------------------------------------

tambahan info bagi pecinta kopi (me)

A cappuccino is an Italian coffee drink prepared with espresso, hot milk, and steamed-milk foam.

The name cappuccino comes from the Capuchin friars, possibly referring to the colour of their habits or to the aspect of their tonsured (white) heads, surrounded by a ring of brown hair.

A cappuccino is traditionally served in a porcelain cup, which has far better heat-retention characteristics than glass or paper. The foam on top of the cappuccino acts as an insulator and helps retain the heat of the liquid, allowing it to stay hot longer. The foam may optionally have powder (commonly cocoa, cinnamon or nutmeg) sprinkled on top.

source: wikipedia

Thursday, April 29, 2010

(2010 - 9): Resensi Novel Chicklit: Nell Dixon - Blue Remembered Heels (Sepatu Biru Kesayangan)

Kisah Romantis Tukang Tipu

Rating: 2,5 dari 5 bintang



Judul: Blue Remembered Heels (Sepatu Biru Kenangan)
Pengarang: Nell Dixon
Desain sampul: Anne Mariane
Penerjemah: Tisa Anggriani
Editor: Lulu Fitri Rahman
Korektor: Elvina Alianto
Penerbit: M-Pop (Penerbit Matahati)
Tema: Komedi romantis, Misteri pembunuhan, Penipuan
Genre: Fiksi Dewasa (Adult Fiction)
Tebal: 311 hlm
Harga: Rp42.500
Rilis: Maret 2010 (Cet. 1)
ISBN: 978-602-96255-01-6

Membaca sekilas sinopsis di sampul belakang novel romantis ini, ingatan saya langsung melayang pada sebuah film Hollywood produksi tahun 2001 berjudul Heartbreakers besutan David Mirkin yang dibintangi oleh Sigourney Weaver dan Jennifer Love Hewitt. Film tersebut bercerita tentang ibu dan anak perempuannya yang memanfaatkan pesona kecantikan dan kelihaian tipu-tipu untuk menjerat pria-pria kaya kemudian menikah dengan mereka, menggugat cerai dengan tuduhan pria tersebut berselingkuh (si anak diplot jadi selingkuhan), dan mengajukan tuntutan pembagian harta gono-gini. Di akhir film, sesuai pakem Hollywood, ibu dan anak ini sadar dan menemukan cinta sejati yang membawa mereka kepada kehidupan yang biasa.

Sepatu Biru Kenangan mengambil ide cerita yang hampir mirip, meskipun tidak sama. Novel ini berkisah tentang tiga kakak beradik Gifford, Charlotte (Charlie), Abigail (Abbey), dan Christopher (Kip), yang melakukan tindak penipuan dengan pelbagai modus untuk menyerobot sejumlah uang dari para korbannya yang kebanyakan di’alibi’kan memperoleh atau mendapatkan kekayaannya dengan cara curang. Hingga suatu ketika Abbey kena musibah yang membuatnya tak lagi dapat berbohong, dan tentu saja itu menyulitkan profesi mereka yang membutuhkan kemampuan berbohong yang mumpuni. Maka ketika seorang polisi muda (dan seksi), Mike, melontarkan beragam pertanyaan, Abbey tak dapat mengontrol seberapa banyak rahasia perbuatan mereka yang bisa terlontar dari mulutnya. Lebih-lebih ketika sedang merencanakan penipuan baru di suatu daerah yang jauh dari pusat kota, mereka mendapatkan ancaman dan teror dari korban penipuan mereka sebelumnya, Freddie, yang tak terima dan menginginkan uangnya dikembalikan.

Ikut tegang. Itulah sensasi awal yang saya rasakan ketika mencoba melebur dalam kehidupan tokoh Abbey, yang menjadi pencerita di keseluruhan novel ini (point of view orang pertama: aku). Abbey yang tak lagi piawai berbohong jika ditanya orang terpaksa bekerja keras mencari cara agar dirinya tidak ditanya oleh orang lain. Bahkan, ia sampai menjalani sesi terapi regresi di bawah panduan Kip.

Ide cerita dan cara penyampaiannya sudah cukup baik. Saya benar-benar dibuat deg-degan dari sejak penyamaran awal yang dilakukan Abbey. Saya seperti seorang penonton sinetron norak yang selalu ingin menyerukan, “ya olohhh, jangan gerak ke sono, ntar ketauan lho,” atau “Gosh, dia bisa ngelihat kamu, dodol, plis deh, gitu aja kesandung mulu.” Hahaha. Sensasi semacam itu sungguh membuat saya gemas sendiri. Namun sayang, frekuensi-nya justru semakin menurun dan cerita lebih didominasi pada kisah percintaan mereka. Charlie dengan si target penipuan (Philippe), Abbey dengan Mike, dan Kip dengan tetangga rumah baru mereka (Sophie).

Jadi apa itu Sepatu Biru Kenangan? Hmm…ternyata sepatu biru kenangan itu adalah …teeeettttttt……(baca sendiri ya, nggak seru donk kalo di-spoiler). Bah, tapi mau donk ngasih bocoran dikit kenapa sepatu itu penting? Baiklah, begini, sepatu biru kenangan itu akan membantu mengungkap satu kisah masa lalu yang sangat penting bagi ketiga kakak beradik tersebut (dan kelam, dan menyedihkan) untuk dapat ditelusuri dan dipecahkan misterinya.

Secara utuh, cerita novel ini lumayan, meskipun tidak lagi orisinil. Untuk karakternya sendiri sudah cukup kuat walaupun saya kurang bisa merasuk pada masing-masing tokohnya. Saya suka Abbey, tapi kalau diminta mendeskripsikan sifatnya, saya blank. Kadang-kadang Abbey terlihat meragu, namun di saat yang lain dia dengan tegas tampil sebagai pengambil keputusan. Kip, yang digambarkan anti-sosial, suatu ketika tampil sangat jenius dan bahkan menjadi perancang segala macam perlengkapan tipu menipu.

Pada bagian romantisnya, kisah cinta Charlie dan Philippe gampang sekali tertebak, meskipun memang saya rasa penulis tidak berniat membuatnya misterius. Sedangkan love at first sight-nya Mike pada Abbey juga agak kurang reasonable. Entahlah, apakah saya yang belum sepenuhnya percaya pada yang namanya love at first sight atau bagaimana, yang jelas rasanya kurang kuat saja pondasi alasan mengapa Mike “mengincar” Abbey.

Yang juga belum masuk di logika saya adalah si Freddie yang menebar aroma tegang di novel ini, justru tak terlihat garang dan hanya gertak sambal, padahal kasus dan latar belakang orang ini cukup meyakinkan untuk menjadikannya sangar. Kalau si Freddie ini seorang milyuner, kenapa pula dalam beberapa hal ia tidak menyuruh anak buahnya atau orang bayaran misalnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat membuatnya “tertangkap”. Aneh. Dan, akhirnya yang menjadi pertanyaan besar saya adalah apakah seorang kriminal yang sudah mengakui perbuatan dan menyatakan bersalah tidak dihukum, sama sekali? Mau donk ngerampok bank, ngaku tobat, terus ketemu jodoh teller bank itu, so sweet. Enak benerrr!!!

Catatan (beberapa kesalahan teknis percetakan/typo yang saya temukan):
Alinea 3, halaman 8: pantulan di cermin oval emas si atas ---> di atas?
Alinea 1, halaman 20: Aku bahkan tidak kejadian dalam bayanganku itu. ---> kalimat ini agak janggal, seolah ada satu kata yang tertinggal di antara kata “tidak” dan “kejadian”
Alinea 2, halaman 22: …,tapi pekerjaan itu sangat beresiko ---> berisiko?
Alinea 4, halaman 81: Dia bangkit dari sofa dan pergi ke lantas atas untuk… ---> lantai?
Alinea 6, halaman 184: Hewan yang kumaksud sedang mengendus-endus di sekitar tapi danau. ---> tepi?
Alinea 3, halaman 212: penggunaan kata Mum yang tidak konsisten, karena di satu kalimat itu, berganti menjadi ibu.
Typo-typo tersebut jelas tidak begitu mengganggu, namun ada baiknya di penerbitan novel-novel berikutnya dapat dihindarkan, apalagi di novel ini ada editor dan korektor yang ikut berperan sehingga harusnya kesalahan-kesalahan kecil begini bisa diminimalisasi. Oiya, awalnya saya pikir Charlie itu cowok lho (dari sinopsis di belakang), ternyata itu nama panggilan Charlotte, kakak perempuan Abigail (Abbey). Dalam novel ini para karakternya memang secara tiba-tiba saja di"hidup"kan dengan nama panggilan mereka, tanpa perlu disebutkan bahwa itu nama panggilan mereka.

Oke, happy reading, people!

Sinopsis (cover belakang)
Abbey Gifford dan kakaknya, Charlie, adalah penipu yang gemar merampok pria kaya. Itulah yang mereka kerjakan sampai suatu ketika Abbey tersambar petir.

Sejak itulah, Abbey mengalami ingatan kilas balik yang aneh. Sepasang sepatu biru kerap muncul dalam mimpinya. Parahnya lagi, dia jadi tidak bisa berbohong. Padahal, pekerjaan Abbey menuntutnya untuk terus-menerus berdusta. Lalu, ketika seorang detektif misterius yang tampan bernama Mike Flynn mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya, dia merasa seperti dijebak …

Dan jika Mike sampai tahu kenyataan kehidupan kriminal Abbey, mungkinkah Abbey akan menemukan kebahagiaannya?

Thursday, December 31, 2009

Resensi Novel Chicklit: Okke 'Sepatumerah' - Heart Block (Biarkan Cinta Menemukanmu)

Novel seru buat para writers wannabe



Judul: Heart Block - Biarkan cinta menemukanmu
Penulis: Okke 'Sepatumerah'
Penerbit: Gagas Media
Tema: Dunia penulisan, Kasih tak sampai, Pencarian jalan keluar
Tebal: xii + 316 halaman
Harga: Rp30.000 (Toko)
Rilis: Desember 2009 (Rencana 2010)

Kalau tidak salah, awal saya tertarik dengan karya Okke yang berembel-embel nama belakang unik 'Sepatumerah' ini adalah ketika Gagas Media sedang gencar-gencarnya mempromosikan semacam line novel baru, Kamar Cewek, dan Okke menulis novel dengan judul Kamar Cewek juga, beberapa tahun silam. Sayang, meskipun saya suka tetapi saya benar-benar lupa dari jidat-sampai-pantat novel tersebut. Namun, yang pasti, sejak saat itu saya selalu notice jika ada novel baru dengan nama Okke terpampang di covernya yang terpajang di rak ketika kebetulan saya berkunjung ke bookstore. Selain Kamar Cewek, saya ingat pernah membeli-baca novel lain tulisan Okke yaitu Indonesian Idle (cukup suka) dan Istoria da Paz (kurang suka).

Pun, sebenarnya saya tidak secara khusus membeli novel ini di event discount 30% all items Gramedia Grand Indonesia beberapa waktu lalu. Rencana awal saya ingin memborong beberapa buku yang sudah masuk dalam waiting list saya, termasuk buku non-fiksi Soe Hok Gie, tapi sungguh mengecewakan karena buku-buku tersebut tidak tersedia di event tersebut. Agar tidak terlalu kecewa, maka saya mencomot beberapa buku/novel yang saya anggap oke dan salah satunya adalah novel terbaru Okke yang entah salah cetak atau bagaimana di lembar deskripsi awalnya dituliskan "Cetakan pertama, 2010", apa maksudnya ya? Anyway, salah satu yang membuat saya tertarik memasukkan novel ini ke kantung belanja saya adalah garis besar cerita yang saya tangkap dari sinopsis di cover belakangnya. Yap, kali ini Okke sepertinya ingin membagikan salah satu keping perjalanan karirnya di dunia kepenulisan, yaitu bagaimana menemukan cara yang tepat bagi seorang penulis mengurai kemacetan ide ketika mengalami writer's block. Tema ini secara khusus mengingatkan saya pada komunitas kecil baru saya di facebook, yang isinya writers wannabe yang bermimpi bisa juga menulis dan menghasilkan suatu karya tulis yang diterbitkan (Join the group here). Jadi, secara tidak langsung pula saya merekomendasikan untuk membaca novel ini kepada teman-teman saya di komunitas tersebut dan juga para writers wannabe di manapun Anda berada sebagai tambahan wawasan untuk menjejak belantara industri kepenulisan yang nyatanya tidak melulu segampang yang kita kira.

Mungkin karena kadung terhipnotis dengan temanya, maka sejak halaman pertama saya sudah terhanyut dengan alur yang diciptakan Okke. Saya menikmati kalimat demi kalimatnya serupa membaca buku petuah tentang penulisan. Di beberapa bagian saya manggut-manggut, berharap dapat mengingatnya terus dikemudian hari, dan di bagian yang lain saya geleng-geleng karena baru menyadari satu buah fakta baru dunia penulisan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Informasi demi informasi ini dikemas dengan bumbu fiksi yang cukup segar oleh Okke sehingga tidak sampai jatuh kepada tubir kebosanan. Eits, tapi jangan ada yang salah tafsir. Okke tidak terkesan menggurui dalam novelnya ini, tidak sama sekali. Kelihatan sekali bahwa melalui tokohnya Okke berusaha sharing hal-hal non-teknis dari ilmu kepenulisan.

Summary tokoh: Senja (aku, penulis novel pemenang award, mengalami writer's block, liburan untuk mencari jalan keluar, bertemu seorang cowok yang menarik), Genta (pelukis, love interest Senja), Tasya (kakak beda ayah-beda ibu Senja, penyiar, manajer Senja yang super bawel) dan beberapa tokoh lain yang tidak begitu signifikan perannya: Jana, Abram, Ludwina, Demetrius.

Membaca novel ini saya jadi paham, bahwa menjadi apa yang kita maui dan memperoleh penghasilan daripadanya jelas membutuhkan pengorbanan. Belum tentu pula bahwa ketika merintisnya kita akan selalu dapat memilih untuk bertindak "seenak jidat gue". Dalam novel ini Okke menggambarkan bahwa penulis dalam perintisan karirnya tidak melulu hanya sekadar menulis, menulis, dan menulis. Penulis juga harus menghadiri serangkaian acara promosi novelnya yang dapat berupa launching party, roadshow, pelatihan penulisan di daerah-daerah, book signing, dan sebagainya. Dan, kegiatan-kegiatan itu bisa sangat menyita waktu hingga untuk menulis pun sudah tak ada waktu lagi. Rutinitas penulis seolah tak ubahnya seorang artis yang sedang naik daun. Hmm, sepertinya menyenangkan, namun juga melelahkan. Serta, kadang juga agak menyebalkan. Termasuk pula, seorang penulis harus menjadi tahan akan segala kritikan dan tak lantas cepat berpuas kalau dipuji. Novel ini juga mengajarkan untuk tidak menyerah begitu saja apalagi bersembunyi di balik topeng mood. Sebagai seorang yang profesional, tidak lagi pada tempatnya ketika memiliki kewajiban (terikat kontrak) kemudian mangkir dengan dalih mati ide, lagi bete, sedang bad mood, dan alasan lain yang sejatinya hanyalah sekadar justifikasi keinginan untuk mangkir tersebut.

Setelah nyaris tak ada salah editan di buku ketiga seri Glam Girls - Rashi and The Clique, Unbelievable by Winna Efendi, ternyata kesalahan pengeditan tak lolos di novel Okke ini. Beberapa kesalahan teknis penerbitan tersebut antara lain:
Halaman 26: nama Fadly tertulis Fadil
Halaman 77: kata wajahku tertulis waahku
Halaman 287: .....meninggalkan rumah yang pernah kutinggali bersama Tasya, seharusnya ...bersama Genta.
Saya juga agak terganggu dengan gaya pelarian tokoh Senja yang apabila hilang konsentrasi memilih pelampiasan dengan merokok. Dan tidak sekadar merokok, tapi sudah masuk kategori ketagihan a.k.a perokok berat. Itu hak masing-masing sih, tapi kalau sudah menjadi media publik yang dengan gampang dibaca siapa saja (akui saja, sistem labeling apapun di Indonesia ini belum berfungsi dengan baik, tayangan televisi untuk dewasa tetap bisa diakses anak-anak, rokok yang hanya dapat dibeli orang dewasa juga bisa dengan gampangnya diperoleh anak-anak) sehingga rasanya kurang bijak mencuplikan adegan itu dalam media publik apapun. Mengapa sebagai penulis tidak juga ikut serta menyokong program-program pemerintah (bahkan dunia) yang memang bagus. Program Go Green misalnya, atau dalam kasus novel ini adalah Program Anti Tembakau. Coba saja, tokohnya dicarikan pelampiasan yang lain, yang efeknya tidak sebrutal efek rokok ini. Satu lagi, pengambilan porsi yang kurang bijak adalah (awas, spoiler/bocoran) pada bagian dimana Senja akhirnya bersedia tinggal satu rumah dengan Genta. Bukan bermaksud menyombongkan diri sebagai pemilik moral terbaik setanah air, hanya saja harusnya perlu pemikiran berjuta-juta kali untuk membuat scene seperti ini. Bagian inilah yang paling tidak saya suka dari novel ini. Dengungan kata "kumpul kebo" yang melintas ketika sampai part ini sungguh menggelisahkan saya. Oiya, jujur, saya juga membaca-cepat-sesekali-melompat-lompat pada konteks romansa dalam novel ini. Adegan ber-rating R-nya saya lewati dan babak keromantisannya tidak saya baca dengan saksama. Maklum, romansa macam begitu sudah bukan barang baru, hampir sama saja dengan romansa novel-novel lainnya. Maksudnye, gua udah gak sabar pengin tau gimana Senja bisa keluar dari jebakan writer's block-nya, getoo lohh.....hhihihihi

Kritik lain, yang mungkin tidak hanya saya tujukan bagi novel ini saja, adalah soal penggambaran tokoh-tokohnya. Sepertinya sudah menjadi pakem bahwa para tokoh novel-novel urban mostly almost perfect, khususnya di segi penampilan dan penampakan. Baik yang cowok maupun yang cewek. Pokoknya, impian banget dah! Tetapi, ironinya, tak jarang para penulis itu juga secara sadis menghadirkan tokoh antagonis (jahat dalam artian pelaku kriminal atau sekadar sebagai tokoh pengacau suasana) dalam penampilan yang amburadul. Contoh dalam novel Okke ini:
Halaman 124: ...Ia berkepala botak, berperut agak tambun, mengenakan kemeja berbahan halus mengilap, warnanya mencolok mata...dan seterusnya.

Halaman 125:...Melihat pakaiannya, ia seperti hidup di era dan tempat yang salah. Dengan wajah minim kosmetik, tunik putih berenda, rok berbunga, tas hobo, .....dan seterusnya.
Ini menurut saya yang menjadikan novel urban sebagai bahan cemoohan orang-orang yang menyebut diri mereka pecinta sastra. Bagi saya yang awam pun, situasi begini membuat novel-novel urban menjadi kelihatan tidak berbobot. Dan, bahkan pada satu atau dua novel yang pernah saya baca, saya menyebutnya novel munafik karena pada bagian tertentu, si penulis, baik melalui narasi maupun dengan jalur tokoh-tokohnya "menghina" sinetron di televisi kita yang katanya nggak berkualitas sama sekali. Namun, ironinya, justru novel-novel tersebut mengadopsi gaya-gaya sinetron itu. Yang paling kentara, tentu saja, deskripsi para tokohnya itu. Ataukah, pangsa pasar novel-novel urban ini, yang notabene mostly adalah perempuan, suka dengan segala khayalan yang kadang tak masuk akal ini, yang "memaksa" para penulis untuk menciptakan tokoh-tokoh sempurna macam ini? Kalau banyak yang mengatakan iya, maka abaikan saja keluhan saya ini. Dan, buat para penulis, silakan untuk tetap menghadirkan tokoh-tokoh sempurna itu demi memuaskan imajinasi para pembaca Anda.


Heart Block menyajikan konflik yang sederhana, ya seputar writer's block itu. Maka, saya jadi bingung sendiri kalau sekiranya ditanya, "...so, maksud dari heart block apa donk?", seriously, I dunno. Meskipun (awas, spoiler/bocoran) kisah cinta yang menjadi bumbu romansa dalam novel ini dikatakan adalah first love-nya Senja, saya tetap tak bisa mengaitkannya dengan istilah heart block ini. Hahahaha, kali ini saya benar-benar blank soal konektivitas antara judul dan isinya, kecuali kata block-nya. Namun demikian, secara keseluruhan saya bersyukur bahwa saya membeli dan merampungkan baca novel ini. Saya benar-benar mendapatkan kesenangan sekaligus tambahan secuil pengetahuan
(yang amat-sangat bermanfaat) seputar dunia kepenulisan dari karya paling anyar Okke ini. Thanks, Okke!

Okay, then, enjoy reading... people!

Sinopsis (dari situs gagasmedia.net - agak berbeda dengan yang ada di cover novel fisiknya)
Senja Hadiningrat tadinya bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa. Ia hanyalah seorang wanita yang suka sekali menulis dan bermimpi ingin menjadi penulis. Bermimpi untuk menelurkan banyak karya yang disukai orang-orang dan hidup hanya dari royalti hasil penjualan karya-karyanya itu.

Itulah impiannya, setidaknya untuk setahun lalu. Saat ini, Senja bukan lagi orang biasa. Ia telah menjadi penulis ternama melalui ajang Festival Penulis Indonesia 2008 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Nasional. Karya perdananya yang berjudul Omnibus sukses mengantarkan Senja menjadi pemenangnya.

Tidak dipungkiri, menjadi pemenang ajang bergengsi membuka jalannya menuju cita-cita yang pernah diimpikannya. Seiring dengan itu, kesempatan pun datang bak keran air yang baru saja dibuka. Sayangnya, kesempatan itu malah membuatnya tertekan. Seolah menulis bukan lagi satu cita-cita yang begitu ia dambakan.

Semua itu karena Tasya. Secara sukarela, kakak tirinya itu mengajukan diri untuk menjadi managernya. Hampir semua kesempatan yang datang, diterima Tasya tanpa persetujuan Senja. Bahkan, hadirnya novel kedua Senja yang berjudul Head Over Heels sangat jauh kualitasnya dengan Omnibus.

Tidak jarang Senja menemukan review berupa kritikan pedas dari pembaca Head Over Heels dan ini membuat mentalnya sebagai penulis baru jadi merosot. Nampaknya tekanan yang diberikan oleh Tasya, padatnya jadwal, dan macam-macam promosi, membuat Senja kehilangan semangatnya dalam menulis. Yap, saat ini ia terserang writer’s block!

Hanya satu yang ia butuhkan: BERLIBUR!

Bali menjadi tujuan Senja untuk mengisi waktu berliburnya. Di sanalah ia bertemu Genta Mahendra, seorang pelukis. Bersama Genta, Senja merasakan sesuatu yang berbeda. Ada getar yang menyelimuti perasaannya. Bahkan, bersama Genta pula, Senja menikmati ciuman pertamanya.

Selama Senja berada di Ubud, ia mencoba menikmati pengalaman barunya. Menikmati sunset di tengah-tengah hamparan sawah sambil meneguk segelas kopi panas adalah salah satunya. Namun, mengapa ide tidak kunjung datang juga.

Di saat seperti inilah, Genta mampu membuka pikirannya terhadap masalah yang sedang Senja hadapi. Dan tanpa sadar, Senja menemukan bentuk cinta yang selama ini ia cari. Tetapi, bagaimana dengan Genta, mengingat ia tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang cinta waktu bersama Senja?

Temukan jawabannya dalam novel terbaru Okke ‘Sepatumerah’ yang berjudul Heart Block. Novel terbitan GagasMedia ini bisa dibilang pengalaman yang pernah dialami oleh hampir semua penulis. Kebutuan menulis memang menjadi masalah tersendiri bagi penulis. Percaya atau tidak, di antara para penulis yang ada di dunia ini, tentu pernah melakukan apa yang Senja lakukan. Dirangkai dengan cerita cinta antara Senja dan Genta, novel ini lebih terasa mengasyikkan saat dibaca.

Saturday, December 12, 2009

Resensi Novel Chicklit: Eni Martini - Kontrasepsi

Bagus Tapi Jelek!!!



Judul: Kontrasepsi (Andai bahagia bisa dirancang dengan sempurna)
Penulis: Eni Martini
Penerbit: Gagas Media
Tema: Dewasa, Perencanaan Keluarga, Rumah Tangga
Tebal: x + 250 halaman
Harga: Rp34.000
Rilis: 2009 (Nopember/Desember)

Pertama: Gagas, FIRE YOUR EDITOR. PECAT! SEKARANG! Cari yang baru. Yang benar-benar mengerti bagaimana kerja seorang editor. Jangan pekerjakan saya, karena saya juga tidak tahu bagaimana kerja seorang editor. Sebagai pembaca, saya hanya sangat kecewa dengan kinerja editor sehingga sangat menganjurkan agar GagasMedia menggantinya, secepatnya. Novel Eni ini menjadi salah satu novel dengan kerja editan yang menurut saya kacau. Saya ulangi...KACAU! BALAU! Duh, rasanya beberapa waktu belakangan saya sudah mulai tidak cerewet lagi soal editan sebuah buku. Meskipun masih melontarkan satu-dua kritik, tapi hanya karena satu-dua lipatan kerut dahi saya saja (baca - migrain karena editan yang asal-asalan), dan baru sekarang lagi saya harus dibuat geregetan (pengen-nelen-biji-kedondong) gara-gara buku yang parah sekali editannya. Salah ketik, salah penempatan tokoh, salah sebut nama tokoh, salah tanda baca (kurang pas), dan cara penyajian dialog yang amburadul, membuat saya sakit kepala. Ya ampuuunnnnnnnnnnn.....cape' deh... Eh, tapi buktinya mana? Biasanya lo kasih tuh yang salah sebage contoh. Kali ini tidak ada contoh, sangking banyaknya kesalahan, saya jadi malas menuliskannya di sini.

Kedua: jauhkan novel ini dari jangkauan putra-putri, ponakan, atau adik Anda yang masih di bawah umur. Seharusnya, GagasMedia memberikan label adult (dewasa) untuk novel ini. Meskipun di Indonesia, pe-label-an seperti itu seolah tidak ada gunanya, paling tidak masih ada effort dari penerbit untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Novel ini penuh dengan konten yang menurut saya hanya cocok untuk orang dewasa (adult only). Penyebutan alat kelamin, beragam jenis alat penunda kehamilan, serta penyebutan hubungan intim di dalamnya, menurut saya sangat tidak layak dikonsumsi bagi yang belum cukup umur. Sekali lagi, JAUHKAN NOVEL INI DARI JANGKAUAN ANAK-ANAK!!!

Sebenarnya novel ini cukup bagus, kalau boleh dipuji, novel ini bisa dijadikan sarana pemberian edukasi tentang rumah tangga bagi pasangan muda yang baru menikah dan menjelang punya momongan. Namun demikian, segala macam pemikiran penulis yang tertuang di sini, apabila benar-benar ingin diaplikasikan harap untuk dikonsultasikan terlebih dahulu dengan ahli atau kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, karena segala informasi yang terselip di sini tidak disertakan dengan sumber ilmiah yang cukup dan akurat, sehingga kurang bisa terjamin validitasnya. Jangan sampai Anda salah mengimplementasikan selipan informasi yang disampaikan oleh penulis melalui tokoh-tokoh rekaannya ini.

Ketika kali pertama
melihat novel ini di toko buku saya sekejap mengerutkan kening dan berujar pelan pada diri sendiri, "bedanya ama Test Pack-nya Ninit Yunita apa ya?", sayang...ternyata saya agak lupa jalan cerita novel Ninit itu. Maka, saya tak bisa membandingkan kedua novel fiksi itu. Yang jelas, Kontrasepsi-nya Eni juga lumayan bagus kok, terutama dari segi tema, penokohan, dan pemberian konflik yang warna-warni.

Summary tokoh: Moza (ibu dari Kinan dan Gibran - penulis yang ibu rumah tangga), Didit (suami Moza), Keira (pemilik toko kue, ibu dari Queen yang lahir prematur), Ve (suami Keira), Neyne (fotografer, study ke Paris, keguguran), Thomas (partner Neyne), Sandra (relasi Moza), Nathan (ex-Neyne).

Dari segi gaya bahasa sih standard novel chicklit atau novel metropop lain, tidak ada yang istimewa. Terkadang juga agak membosankan karena konflik hanya berputar di masalah pilih-pilih alat kontrasepsi. Memang fokus dan sesuai dengan garis besar yang ingin dipesankan oleh sang penulis, tapi...ya itu tadi, menjadi agak boring. Maybe karna lo cowok??? Bisa jadi.

Tak banyak yang bisa saya komentari dari novel ini kecuali "kekesalan" saya pada banyaknya kesalahan yang lolos dari mata editornya (padahal dua orang). Duh!!!

Anyway, enjoy reading, people!

Sinopsis (cover belakang)
Cemburu adalah dosa yang paling rentan dialami perempuan. Uniknya, perasaan itu justru tumbuh saat berinteraksi dengan sesama kaumnya.

Lihat saja Moza. Meskipun tampak bahagia-bahagia saja dengan kehidupan pernikahannya, diam-diam Moza menyimpan iri hati yang besar terhadap Neyne, sahabatnya yang masih melajang.

Neyne selalu berkoar-koar tentang enaknya hidup single. Tapi kenapa dia tak bisa menyembunyikan perasaan cemburunya ketika Keira dilamar sang pacar?

Keira lain lagi ceritanya. Dia salut melihat Moza yang begitu kekeuh menjalani tanggung jawab sebagai ibu. Dia sendiri juga pengen punya anak... suatu hari nanti-entah kapan.

Dan ketika belakangan ketiganya dihadapkan kepada situasi yang melibatkan alat kontrasepsi, tiba-tiba rasa cemburu itu terasa tak perlu....

Sunday, November 29, 2009

Resensi Novel Chicklit: Meiliana K. Tansri - Konser

Cinta membutuhkan pengorbanan.



Judul: Konser
Penulis: Meiliana K. Tansri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tema: Cinta terlarang, Keluarga, Perjuangan, Pengorbanan
Tebal: 296 halaman
Harga: Rp40.000 (Harga Toko)
Rilis: Agustus 2009

Sudah lama sekali saya tidak membaca novel romantis yang menggunakan kata-kata baku sesuai EYD. Hahahaha.... Yah, harap maklum saja, terkadang novel-novel metropop memang tampil dalam kemasan penuh bahasa prokem, yang menjadi daya tarik pemikatnya, yang berhasil memikat saya. Maka, terasa sangat berat bagi saya menyusuri liku-liku terjal plot yang dibangun Meiliana dalam novelnya ini. Entahlah, bagi saya novel ini memang agak sedikit nyastra (dalam hal tata bahasa). Dan, memang agak berat isi kandungannya.

Membaca Konser, saya seperti membaca novel-novel karangan beberapa penulis angkatan lama, semisal Mira W., Marga T., ataupun Maria A. Sardjono. Sangat old fashioned. Namun, yang patut diacungi jempol adalah Meiliana menghadirkan konflik yang dekat sekali dengan keseharian. Jadi, meskipun melayang-layang dengan gaya bahasa langitan dan pilihan diksi yang mengagumkan, novel ini tetap membumi berkat konflik itu.

Membaca buku sekaligus berharap dapat membuat resensinya dan mempostingnya di blog rasanya menjadi agak bertimpangan belakang ini, bagi saya. Dulu (sebelum memutuskan membuat blog resensi), saya menikmati membaca buku tanpa tendensi apapun. Saya baca karena saya suka. Kalaupun di akhir halaman, saya mencaci atau memuji (memberikan penilaian terhadap buku), itu murni sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan atau kegagalan penulis "memanjakan" imajinasi saya. Akan tetapi, belakangan saya mulai terkontaminasi dengan segala hal tentang "penghakiman" dari setiap buku yang saya baca bahkan sejak dari lembar pertamanya. Pilihan diksi, plot, karakter tokohnya, gaya bahasa, hingga editan-nya sudah saya korek-korek dan saya cari dimana letak salahnya dari awal saya membaca. Akumulasi dari semuanya, tak jarang saya enggan mengakui keunggulan-keunggulan nyata yang ada dalam buku tersebut. Menyedihkan sekali saya!

Termasuk pula ketika saya mulai membaca awal kisah racikan Meiliana yang berlatar panggung dunia seni musik klasik ini. Saya memulainya dengan, "Okay, apa yang tak benar dari novel ini?", dan karenanya saya tercekik rasa benci untuk menyadari bahwa novel ini bertabur keindahan. Saya sempat menghujat bahwa Konser terlalu puitis, terlalu tinggi bahasa, terlalu ini, terlalu itu...dan terlalu lainnya. Padahal, pada kenyataannya secara sadar atau tidak saya sudah terseret begitu jauh dalam cerita novel ini. Dan, pada akhirnya saya dengan tulus (tanpa paksaan) mengangguk takzim dan memuji, "Ya, novel ini memang bagus (sekali)."

Secara jujur, saya sangat menikmati membaca novel ini. Dan, saya tak ragu untuk menganjurkan bagi siapapun yang belum membaca silakan segera membacanya. You'll love it like I do, I promise.

Ceritanya sendiri tak jauh seperti halnya galian cerita pada novel-novel yang lainnya. Bukan tema baru, untung background dunia seni musik klasiknya cukup membantu mengemas cerita menjadi sedikit berbeda dibanding novel lain. Cinta terlarang. Cinta berjurang usia (tokoh perempuan digambarkan berumur 18 tahunan sedangkan tokoh laki-lakinya dideskripsikan 20 tahun lebih tua). Cinta terpaksa. Tragedi dibangun dari situasi yang serba berpagar, penulis seperti sedang mengajukan sebuah pertnayaan,"Apakah pagar larangan ini harus diterobos demi sebentuk cinta sejati?"

Meiliana berhasil mengocok emosi saya lewat kisah tragis-manisnya ini, meskipun tak sampai membuat saya tercekat dan menitikkan air mata. Tak kurang-kurang saya seolah terlibat dalam beragam konflik yang dibangunnya. Seolah saya menjadi salah satu tokoh di dalam novelnya itu. Meksipun hanya tokoh pinggiran yang bertugas menonton adegan demi adegan yang dimainkan dengan sempurna oleh para aktor-aktris utamanya. Menakjubkan. Meskipun demikian, pada saat-saat tertentu saya juga mendapati memang cerita yang dibuat Meiliana agak-agak terlalu sinetron, sedih berkepanjangan dan tangis-tangisan. Hmm, tapi masih lumrah dan berlalu mulus karena ditangani dengan tepat dan serius. Bukan sengaja dilebih-lebihkan.

Seperti ketika membaca novel apapun, saya juga berusaha menebak-nebak alur Konser ini. Sayang, beberapa kali tebakan saya meleset. Salah satu yang sangat jauh melenceng adalah tokoh Sastro, si pengagum barang-barang antik yang di paruh awal novel menyelamatkan Kirana (tokoh utama) namun juga "dikondisikan" (paling tidak saya menduganya begitu) sebagai tokoh yang patut dicurigai sebagai tokoh antagonis dalam novel ini. Nyatanya, tebakan saya meleset. Hal tersebut yang membuat saya makin menikmati sajian istimewa Meiliana dalam Konser megah rekaannya ini.

Oya, mengapa Konser menjadi benang merah sehingga diangkat menjadi judul novel ini? Sejauh yang saya tangkap, dari konser inilah kisah cinta terpaksa Jafar (tokoh utama) dengan Elise (tokoh pendamping perempuan) terjalin, dan berkat konser pula ia bertemu dengan Kirana, meskipun berkat konsernya pula ia kehilangan Kirana yang ternyata mulai jatuh cinta pada Sastro. Namun, tak jadi soal karena berkat konser pula Jafar menyadari bahwa ketulusan cinta Elise seharusnya tidak ia sia-siakan. Mungkin saja kalau ia tidak terlambat menyadarinya, ia tak harus merelakan Elise dan calon putrinya pergi secepat itu.

Salut pula, untuk cetakan dan editan-nya, rasa-rasanya saya tidak menemukan ada kesalahan.

Okay, enjoy reading, people!

Sinopsis (cover belakang)
Fajar, pianis andalan Simfoni Bintang, sangat berambisi mengadakan konser tunggal. Sayangnya, dari segi finansial sangat tidak mungkin. Karena itu dia merasa seperti mendapat durian jatuh ketika Elise, putri seorang konglomerat, jatuh cinta padanya. Mereka pun menikah: Elise yang mencintainya dengan sangat tulus, Fajar yang berharap mertuanya akan membiayai konsernya.

Namun skenario Tuhan berjalan ke arah lain. Setelah menikah, Fajar menemukan cinta sejatinya di orkestra tempatnya bekerja. Gadis belia itu, Kirana, datang dengan keluguannya yang memesona, dengan gesekan biolanya yang menjadikannya bintang simfoni sekelas Fajar dalam sekejap.

Fajar pun bimbang, dia ingin meninggalkan istrinya, melupakan konser yang sudah di ambang mata, demi mengejar cintanya pada Kirana. Namun Elise tahu dan tidak rela melepas suaminya. Dia bertekad mempertahankan rumah tangganya, walaupun berarti mengorbankan nyawanya sendiri....

Saturday, November 21, 2009

Resensi Novel Chicklit: Dahlian & Gielda Lafita - Baby Proposal (Karena Cinta Tak Membutuhkan Alasan)

Romantis??? Ah, berlebihan!



Judul: Baby Proposal
Pengarang: Dahlian & Gielda Lafita
Penerbit: Gagas Media
Genre: Romance-Comedy, Chicklit
Tebal: 332 halaman
Harga (Toko): Rp37.500
Rilis: Nopember 2009 (cet. 1)

Terpaksa saya harus menyatakan bahwa hampir seperempat bagian awal (dan masih terdapat pada beberapa bagian lain di sepanjang plot) novel ini berkutat pada umbaran hawa nafsu para tokohnya semata. Bagaimana tidak, setelah bercerita soal proses one-night stand yang berujung hamilnya si aktris utama (jadi ingat film Knocked Up!), penulis (dua orang!) justru melulu menggambarkan bagaimana gelenyar-gelenyar nafsu aktor-aktrisnya ketika mereka bertemu, saling memandang, berdekatan, dan sebagainya. Parahnya, itu diceritakan dalam berbagai situasi. Dalam berbagai kesempatan.

Bukannya wajar??? Wajar-wajar saja sebenarnya. Dua puluh persen dari penilaian saya mengarahkan saya untuk maklum. Keyakinan saya itu dilandasi kesadaran bahwa kedua tokoh baru bertemu dan berkenalan. Penulis menekankan bahwa kedekatan keduanya tidak melibatkan hati (perasaan). Penulis juga dengan semangat sekali mendeskripsikan bagaimana pergulatan batin kedua tokoh yang terjebak dalam situasi ‘terlarang’ itu. Perang batin inilah yang lambat laun melembutkan keduanya. Menerbitkan binar kasih, sayang, hingga cinta pada hati masing-masing. Tak ayal, dalam setiap kesempatan keduanya saling melempar kekaguman perasaan. Namun, sayang sekali, penulis hanya mengumbar kekaguman mereka dari kesempurnaan fisik belaka. Betapa tampannya si aktor, blablablabla….betapa keindahan bibir si aktris dan blablablabla….. mungkin untuk sekali-dua tidak masalah. Semua jadi nggak asyik ketika hal tersebut diulas lagi, lagi, dan lagi. Bosan!

Sebenarnya, gaya mendongeng kedua penulis, yang cukup nge-blend (saya tidak bisa menduga mana yang adalah tulisan Dahlian dan mana yang tulisan Gielda, saya memang belum mengenal karakter tulisan masing-masing karena tidak pernah membaca karya solo mereka), cukup bisa mengalirkan kisah novel ini. Diksinya pas, meskipun sebagian besar isinya sebagaimana yang saya sebutkan tadi. Luapan
berahi syahwat. Emosinya terasa dan teraba. Adegan per adegannya cukup hidup. Lancar sekali alur ceritanya.

Hmm, saya agak malas membahas tema, karena dari waktu ke waktu tidak ada lagi tema baru yang diangkat oleh para penulis. Termasuk dalam novel ini. Hamil di luar nikah. Perkawinan yang dipaksakan. Benci lalu cinta. Orang ketiga yang adalah cinta masa lalu. Duh! Saya sih akhirnya hanya bisa berlapang dada saja mengingat saya sendiri juga tidak tahu tema langka apa lagi yang bisa diangkat dan terlihat orisinil. Oleh karena itu, saya tidak akan membahas soal tema novel ini.

Kalau temanya sudah, katakanlah, basi maka saya berharap penulis bisa mengolahnya menjadi tampak baru dan segar. Dan, syukurlah, kedua penulis berhasil mengemas tema oldies itu menjadi tidak membosankan. Yeah, setidaknya saya akhirnya selesai juga membacanya hingga tuntas.

Catatan saya yang lain adalah sebuah pertanyaan yaitu, “apakah sekarang ini hampir seluruh perempuan Indonesia sudah tersihir drama seri Korea?” Oh, GOD! Rasanya sudah banyak penulis yang “mimpi” bercerita soal Korea (ingat Summer in Seoul-nya Ilana Tan atau Marrying AIDS-nya Lia Andria? Atau juga My Seoul Escape-nya Sophie Febriyanti). Baby Proposal ini memang tidak bercerita soal Korea atau tokohnya yang tergila-gila seri Korea, namun mengapa adegan menjelang klimaksnya justru mengingatkan saya pada seri Hotelier???. Maka, makin tak orisinil-lah novel ini. Belum lagi segala rupa keromantisan yang coba ditampilkan kedua penulis malah membuat saya agak muak. Yikes! Lebay, banget… this is so 2009 not 199whatever… apa gua yang nggak romantis, ya???? Tapi sumpah, gua bilang romantisnya berlebihan!!!

Pada akhirnya, impresi saya tertuju pada kolaborasi yang cukup nge-blend dari dua penulis ini. Saya berharap, jika nanti masih ingin membuat lagi karya duet, kedua penulis bisa mengangkat tema yang tak biasa, dan kalau bisa, segala menye-menye (yang dimaksudkan untuk romantis) agak dikurangi. Hey, don’t judge, this book is for women! Mungkin saja buku ini memang dimaksudkan untuk perempuan (kalau memang iya, mending dilabeli saja sekalian, for women only), tapi tidakkah seorang penulis bangga jikalau bukunya tidak hanya “dikotakkan” pada satu kategori saja?? Apakah penulis tidak bangga jika bukunya bisa diterima semua golongan?? Bukankah semakin luas pembaca, tiras buku yang terjual juga semakin banyak?? Kalau tidak bangga, ya…berarti saya memang salah pilih bacaan.

Okey, selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)
Seandainya ini mimpi buruk,
Karina ingin cepat-cepat bangun
dan tak ingin mengingatnya lagi....

Tapi kenyataan memilih berlaku kejam kepadanya. Dua garis di testpack yang kini berada di tangannya adalah jawaban tegas: Karina hamil. Dan satu-satunya yang terpikirkan adalah mencari bapak anak ini dan meminta pertanggungjawaban.

Karina tidak berharap dinikahi Daniel. Dia ingin laki-laki itu mengurusinya selama masa kehamilan. Dengan senang hati, dia menyerahkan bayi itu ke tangan Daniel-sesederhana itu.

Namun, berada bersama Daniel membuatnya melihat laki-laki itu dari sisi lain. Sisi lembut dan penuh perlindungan. Sisi yang membuat dadanya berdesir. Perasaan yang mengenalkan Karina pada... cinta. Mungkinkah ini pertanda mimpi buruknya kelak akan berakhir bahagia?