Showing posts with label Saya Editornya. Show all posts
Showing posts with label Saya Editornya. Show all posts

Monday, October 6, 2014

Pengalaman menyunting novel Sweet Home karya Adeliany Azfar + GIVEAWAY

Dihitung secara total, Sweet Home merupakan naskah kelima yang saya sunting setelah A Miracle of Touch (Riawani Elyta), kumpulan cerpen Pagi Ini, di Seberang Jalan Ini (Lusiwulan), Diktator Galau (Syahmedi Dean) dan Sun Will Shine (Carina Tsu). 

Yeah, saya merasa masih sangat hijau dalam bidang penyuntingan. Saya mengandalkan rasa dan imajinasi yang selama ini saya gunakan ketika meresensi buku untuk menemukan kejanggalan atau lubang pada plot naskah yang saya sunting dan memolesnya sedemikian rupa hingga sesuai standar, yang menurut kami (saya dan tim penerbit) dapat diterima oleh pembaca. Tentu saja, yang subjektif tak akan pernah mampu memuaskan semua pihak. Saya sadar bahwa bisa saja pada banyak kesempatan akan ada pembaca yang tak bisa relate ke naskah hasil suntingan saya. Yang terang, saya berusaha dengan segenap upaya menyunting naskah ini dengan baik.
Bagi Emily Cox, naik ke grade 11 sama dengan gejolak emosi yang tiada habisnya.

Matthew Cooper, pacar sekaligus temannya sejak kecil, memutuskan hubungan mereka. Sementara Marion-Mary-Scott, sahabat dan tetangga sebelah rumahnya, terpaksa pindah dari Sweet Home ke kota lain setelah ibunya menikah lagi.

Saat Emily menyangka kehidupannya tidak bisa lebih buruk dari itu, puluhan pesawat kertas berisi curahan hati rahasia yang ia terbangkan ke teras rumah sebelah, yang semestinya ditujukan kepada Mary, hilang tiba-tiba!

Lalu muncullah Tyler Adams, tetangga baru yang dengan seenaknya selalu merecokinya dan membuat hari-harinya semakin menyebalkan.

Apa sih sebenarnya tujuan cowok itu?

Judul: Sweet Home
Genre: romance
Kategori: fiksi, novel remaja, novel lokal
Tebal: 360 halaman
Harga: Rp54.000

Sedikit cerita tentang novel Sweet Home karya Adeliany Azfar yang akan segera dirilis oleh Penerbit Haru, yang merupakan salah satu naskah pilihan dalam lomba menulis 100 Days of Romance. Kali pertama membaca sekilas naskahnya sebelum dibedah secara mendalam saya sudah tertarik dengan ide curhat-via-pesawat-kertas yang melandasi kisah romance di novel ini. Sampai di bagian eksplisit itu saya langsung teringat masa-masa sekolah dulu, ketika alat komunikasi portabel semacam handphone belum sedemikian populer, kertas sobekan buku tulis menjadi media komunikasi antarteman paling lazim. Bahkan, ehem, antarkekasih. Tak terhitung berapa banyak gumpalan kertas terbang ke segala sudut kelas jika sedang iseng ingin ngobrol di tengah kelas yang membosankan. Hahaha, dasar bengal! Dari sini, saya sudah merasai aura romantisme yang berpotensi menjadi pondasi manis untuk rajutan satu kisah cinta yang menggetarkan.