Showing posts with label Dokter. Show all posts
Showing posts with label Dokter. Show all posts

Monday, April 13, 2020

[Resensi Novel Metropop] Ganjil Genap by Almira Bastari

First line:
AKU MEMASUKI mobil sambil tersenyum tipis.
---hlm.7, Prolog: Malam Ganjil

Gimana rasanya diputusin setelah berpacaran selama tiga belas tahun?

Hidup Gala yang mendadak jomblo semakin runyam ketika adiknya kebelet nikah! Gala bertekad pantang lajang menjelang umur kepala tiga. Bersama ketiga sahabatnya, Nandi, Sydney, dan Detira, strategi pencarian jodoh pun disusun. Darat, udara, bahkan laut "disisir" demi menemukan pria idaman.

Akankah Gala berhasil menemukan pasangan untuk menggenapi hari-hari ganjilnya?

Judul: Ganjil Genap
Pengarang: Almira Bastari
Editor: Claudia von Nasution
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 hlm
Rilis: Februari 2020
My rating: 4,5 out of 5 star

Ganjil Genap

Mungkin banyak seniman: penyanyi, bintang film, pelukis, penyair, bahkan penulis/pengarang; yang akan selalu jengkel jika penikmat karya seni mereka selalu mencoba membanding-bandingkan karyanya dengan karya seniman lain, ataupun dengan karya sebelumnya dari seniman yang bersangkutan. Mungkin tak terkecuali si Ratu Cungpret aka Almira Bastari. Hei, ini baru asumsi saya, ya. Bukan berarti benar, hahaha. Makanya saya pakai kata "mungkin".

via GIPHY

Mengingat #novelMetropop debutan Almira yang FENOMENAL mengguncang dunia perbukuan sekitar dua tahun silam, namanya cukup menyita perhatian pembaca Indonesia saat meluncurkan Resign! yang hingga kini (09/04/2020) di web goodreads.com telah dibaca dan diberikan rating oleh sekitar 2.062 pembaca serta ditambahkan ke rak baca oleh sekitar 3.656 pembaca (tentu lebih banyak lagi ditambah dengan pembaca yang tidak memiliki akun goodreads). Maka, ketika diumumkan bahwa Almira akan menerbitkan karyanya selanjutnya, para pembaca yang terkesima oleh Resign! begitu antusias menantikannya. Dan, hal menjengkelkan tadi akan segera datang: novel barunya ini mau tak mau pasti akan dibanding-bandingkan dengan her masterpiece (so far) itu: Resign!

Paling tidak, penikmat karyanya yang akan membanding-bandingkannya itu adalah: saya! *nyengir

via GIPHY

Novel terbarunya bertajuk: Ganjil Genap. Buat pembaca yang berdomisili di Jakarta (dan sekitarnya) atau yang pernah berkunjung atau yang membaca berita tentang Jakarta (karena sebagian besar berita biasanya Jakarta-sentris) pasti tahu sama istilah ganjil-genap ini, kan, yang merupakan kebijakan pengaturan lalu lintas di jalanan protokol Jakarta dalam rangka menekan jumlah kendaraan pribadi yang melintas agar mampu mengurai kemacetan yang telah menjadi masalah terbesar kota Jakarta, selain banjir dan sampah dan polusi.

Yap, Ganjil Genap memang terinspirasi dari sana, dan sebagian besar adegannya tentang itu, meskipun sebagian lain terselip filosofi yang cukup mendalam tentang cerita cinta yang ganjil-genap. Banyak cerita unik tentang novel Ganjil Genap (dan keseharian Almira) yang diungkap dalam obrolan bersama Aditya Hadi dari Podcast BukuKutu di bawah ini, simak deh.



Saya merupakan salah seorang pembaca yang beruntung bisa membaca lebih dulu ketimbang para pembaca lain sebelum Ganjil Genap resmi dirilis, bahkan sebelum masa pre-order dibuka. Yayyy, makasih kirimannya ya Almira dan Kak Odi, sang editor kesayangan. Tak butuh waktu lama sebenarnya untuk merampungkan-baca racikan terbaru Almira ini, hanya saja waktu itu saya kepikiran untuk membuat resensinya dekat-dekat tanggal rilis resminya, biar fair sama pembaca yang lain. Ealah, malah kesela banyak urusan dan baru bisa diresensi sekarang. Hiks, maafkan.

Dan, benar saja. Saya memang si penikmat baca yang menjengkelkan tadi. Selama proses pembacaan, saya kerap membanding-bandingkan Ganjil Genap dengan Resign!. Sedikit banyak, saya memang mengharapkan sentuhan magis Almira yang berhasil membuat Resign! sedemikian luar biasa: ceplas-ceplos, lugas, kocak, komikal, padat-berisi, dan menghanyutkan; kembali hadir di Ganjil Genap. Ehmm... sebagian besar harapan terkabul, cuma karena dari sisi bobot halaman, si Ganjil Genap ini lebih tebal dibanding Resign!, memang menjadikan Ganjil Genap tidak sepadat-berisi Resign!

Oke, enough for the comparison. Memang hanya sampai situ saja perbandingannya, kok. Mari kita nikmati ke'baper'an terbaru dari dongeng kaum urban olahan Almira ini. Sebagaimana dibocorkan dalam blurb-nya yang seuprit itu, Ganjil Genap menyoroti kisah asmara Gala, si tokoh utama perempuan, yang mendadak ganjil setelah selama tiga belas tahun ini genap bersama kekasihnya, Bara. Di tengah runyamnya nasib jomlo dan pusingnya memutar otak mencari jalan keluar melintasi jalanan Jakarta di tanggal ganjil (karena nomor polisi/pelat mobilnya genap), Gala juga terancam dikutuk jadi perawan tua kalau sampai dilangkahi adiknya yang sudah menetapkan tanggal nikahan. Maka, segala daya upaya dikerahkan, demi mencari pasangan sebelum semuanya terlambat.

Ketika sampai di bagian ini, saya keinget film 30 Hari Mencari Cinta karya Upi yang menjadi salah satu film rom-com lokal favorit saya.

Cuma keinget, ya. Maksudnya, pas di situasi jomlo dan mesti cari pasangan itulah, segala reaksi muncul: cengar-cengir, cengengesan, nyumpah-nyumpahin, hingga ngakak-ngakak-nya sama. Gala mencoba semua kemungkinan dari yang konvensional seperti memperluas lingkup pertemanan, gabung komunitas baru, lalu mencicip biro jodoh, speed dating, hingga memasang dating apps: Tinder! Bacalah sendiri untuk mendapatkan sensasi galaunya si Gala demi mencari pasangan ini.

Banyak yang sudah membaca Ganjil Genap merasa relate banget sama ceritanya. Saya pun. Well, curcol dikit, ya. Meski bueeda juuauh, saya bisa lah masuk kategori Om Aiman (salah satu tokoh utama laki-laki), hahaha. Umur saya sudah jauh melewati angka 30 ketika memutuskan mengajak nikah buistri. Saya sendiri menemui beragam dilema selama membujang, ya... yang sering dijadiin jokes dan meme di medsos lah, dan untuk di zaman modern serbadigital sekarang ketambahan lagi anggapan kalau laki-laki belum menikah di usia (ke)matang(an) itu tidak jantan: "Kamu homo, ya?"

via GIPHY

Buistri bernasib sedikit mirip Gala. Adik buistri sudah berpacaran cukup lama dan didesak untuk segera menikah. Desakan itu mau nggak mau mengarah ke buistri juga. Berhubung orang Jawa, ada mitos kalau kakak perempuan dilangkahi adiknya menikah bisa-bisa nanti susah dapat jodoh alias jadi perawan tua. Ya, buistri sih orangnya lumayan santuy, dia nggak begitu peduli kalau akhirnya adiknya menikah duluan, hanya saja buistri lebih peduli sama perasaan orangtuanya (terutama ibunya) yang takut jadi omongan tetangga kanan-kiri. Entah mungkin sudah suratan takdir ya, di saat itulah saya dan buistri dipertemukan. Karena sedang dalam mode cari istri, saya pun segera melancarkan aksi, "Saya sudah cukup banyak punya teman, saya kenalan untuk menjalin hubungan lebih dari teman, kalau kamu bersedia ayo, kalau tidak ya kita cukupkan sampai di perkenalan ini saja." *gayane

Eh, ngomong-ngomong saya tahu juga kok sebelumnya bahwa saat itu buistri pun sebenarnya dalam mode siap berumah tangga. Jadi, ajakan menjalin hubungan itu bukannya tanpa perhitungan. Well, long story short, tiga bulan sejak kenalan kami lamaran, dan tambah dua bulan kemudian kami nikahan. Alhamdulillah. Eh, maaf, kepanjangan curcolnya. Hahaha.

via GIPHY

Oleh karenanya, meski tak sepadat-berisi Resign!, saya sangat menikmati Ganjil Genap. Ya, ada sih adegan-adegan yang bikin saya nganga, "Eh, ini fantastis amat adegannya," kayak nggak mungkin banget, sampai-sampai bawa kerabat kerajaan negeri jiran, tapi yaaa... bolehlah. Saya juga suka banget banyaknya adegan ikonik nan komikal yang dibuat Almira di sini. Kadang ikut geregetan, ikut cekakakan, tapi kadang kepingin noyor kepala Gala juga, sih.

Overall, for me, Ganjil Genap tetap berhasil membuat saya jatuh cinta sekali lagi dengan gaya menulis Almira. Meskipun (as I said earlier) nggak sepadat-berisi Resign!, Ganjil Genap berhasil menyentuh beragam rasa pada tingkatan yang tepat. Memang ada sedikit yang mengganjal hingga saya tak menggenapkan rating ke 5 bintang penuh, tapi Ganjil Genap tetap jadi salah satu buku favorit yang saya baca tahun ini, so far. Bacalah, tweemans.

Topik bahasan:
1. Usaha-usaha move on
2. Drama keluarga
3. Jodoh pasti bertemu
4. Profesi: bankir dan dokter gigi
5. Setting: Jakarta

Selamat membaca, kamu. Sembari baca, nyanyi yuk...




little warning:
Kalau kamu kebetulan mau binge-reading #novelMetropop dan kepikiran mau baca Ganjil Genap dan 90 Hari Mencari Suami-nya Ken Terate, berilah jeda waktu yang lumayan untuk keduanya, ya, karena premis kedua novel ini agak mirip: cewek diburu umur, adik mau nikah, diminta segera nyari pasangan; biar nggak berasa deja vu bacanya.

End line:
Aku menaikturunkan alis sambil tersenyum.
---hlm.342, Epilog

Sunday, March 29, 2020

[Resensi Novel Metropop] The Case We Met by Flazia

First line:
[sidang kedelapan, New York Criminal Court; Lantai 13

"Red! Astaga, Nona Harris! Jangan lari-lari begitu! Nanti Anda jatuh!" teriak Hakim Walter yang baru saja hendak memasuki ruang sidang nomor 1301.

---hlm.5, Chapter 1 - Preambule

Sign in as Redita Harris
From : Ratu Maheswari < ratumahestjip@chef.net >
Subject : Re: Re: Baca NY Times

Dita, kamu bahkan masuk berita NY Times karena mendadak ambruk waktu sidang dan orang jadi ngira kamu mau dibunuh sama lawan kamu—you should take a break, for God’s sake! Jadi, kenapa juga tiba-tiba kamu ribet ngurusin kasus malapraktik di sini? Kamu bahkan udah nggak ketemu Natan bertahun-tahun, dan terakhir kali ketemu pun kamu masih gagap-bisu di depan dia! Masih nanya sebaiknya kamu terima jadi pengacara dia atau nggak? Kecuali hati kamu akhirnya berhasil beralih, yang jelas ini bukan keputusan yang bagus, Red.


Sign in as Natanegara Langit
From : Akbar Zaydan < dn.akbr@dr.com >
Subject : Butuh Propofol?

Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed. Kematian pasien kali ini jelas bukan salah kamu, dan rumah sakit lagi sibuk cari jalan keluar, jadi kenapa sekarang kamu malah ke New York? Harus dianestesi biar diem, hah? Persetan sama konferensi di Wyndham. Kami tahu kamu nggak akan lari, jadi ayo cepet balik. Dita datang ke rumah sakit pagi ini, cari kamu.

Judul: The Case We Met
Pengarang: Flazia
Penyunting: Miranda Malonka
Penyelaras aksara: Wienny Siska
Perancang sampul: Fitria N.A (@fitnrdm)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 440 hlm
Rilis: 23 Maret 2020
My rating: 4 out of 5 star

The Case We Met


Thanks to Kak Raya, yang sudah ngasih kejutan manis di hari-hari terakhir jelang kebijakan kantor untuk #WorkFromHome (WFH) dalam rangka #SocialDistancing dan #PhysicalDistancing #DiRumahAja guna memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang makin mengkhawatirkan ini. Setuju juga sama Kak Raya yang sedih harus banyak membatasi aktivitas berkumpul, padahal kalau para pembaca sudah berkumpul dan ngobrolin buku itu seru banget. Namun, demi masa depan yang lebih sehat, kita semua harus mematuhi imbauan, anjuran, bahkan larangan yang ditetapkan pemerintah, ya?


It's definitely a PAGE-TURNER! Saya benar-benar kepincut dari awal baca dan nggak bisa berhenti hingga halaman terakhir. Untunglah, di sela-sela WFH, saya bisa segera menuntaskan-baca novel ini. Melirik kiprahnya, Flazia (Fildzah Izzazi Achmadi) bukan nama baru di industri perbukuan, tapi untuk di lini metropop, sepertinya ini karya debutannya. Dan, buat saya, cukup memesona serta tidak mengecewakan.


Plot: Redita "Dita" Harris, pengacara berhijab (yang karenanya dijuluki Red Riding Hijab) asal Indonesia yang sukses menangani beberapa kasus kontroversial di New York, terutama kasus-kasus antara lansia-pasien melawan dokter yang diduga melakukan tindakan malapraktik. Dalam satu titik, Dita harus kembali ke Indonesia, sekaligus menjadi pengacara untuk Natanegara "Natan" Langit, dokter anestesi yang dituduh melakukan malapraktik hingga menyebabkan meninggalnya pasien yang ditanganinya. Tak hanya harus berjibaku membuktikan bahwa Natan tidak bersalah di persidangan, Dita pun harus menata hatinya demi menemui lelaki yang sudah ditaksirnya habis-habisan sejak lama--sejak SMA, mantan tunangan yang menjadi lawannya di persidangan, hingga ancaman pembunuhan dari salah satu narapidana yang sakit hati karena kalah dan dipenjara berkat Dita.

Saya menyukai latar kesehatan: dokter, rumah sakit, ruang operasi, dan sebagainya; sejak membaca beberapa novel karya Mira W. Juga karena duluuu banget saya pernah bercita-cita menjadi dokter, yang akhirnya nggak kesampaian. Ditambah dengan intrik persidangan yang lumayan, membuat The Case We Met begitu asyik untuk dinikmati. Khusus untuk unsur kesehatannya, cukup mendetail. Bahkan, mungkin, untuk sebagian pembaca akan terkesan terlalu detail.


Buat saya sih, yang memang menggemari novel-novel metropop dengan alasan agar bisa menambah wawasan dunia kerja kaum urban, rupa-rupa dunia kesehatan di novel ini--khususnya spesialis anestesi, sangat menarik karena Flazia berhasil mengemasnya sedemikian rupa hingga tidak seperti sedang membaca jurnal ilmiah. Karena saya tidak bekerja di bidang kesehatan dan sedang tidak berminat fact-check, saya nggak bisa memastikan apakah seluruh fakta kesehatan di novel ini sudah benar. Well, Flazia memang kuliah di kedokteran/farmasi (?) dan berprofesi sebagai dokter (sekaligus script writer?)--profil linkedin: fildzahia, jadi mestinya faktanya dapat dipertanggungjawabkan ya.

Sementara untuk intrik hukum/persidangannya, tentu saja jangan mengharapkan yang sepelik seperti dalam novel-novelnya John Grisham, ya. Agak mendekati kasus yang diselesaikan Elle Woods di film Legally Blonde-nya Reese Witherspoon itu, deh. Ya nggak silly-komedi begitu, cuma agak gampang ditebak ujungnya dan kurang mendebarkan untuk tokoh Natan sebagai terdakwa.


via GIPHY

Untungnya lagi, unsur romance yang dibangun Flazia pun tidak cringe, terhindar dari instalove--cenderung slow burn, dan cukup manis. Cinta lama bersemi kembali, cinta yang ternyata bertepuk sebelah tangan, dan cinta yang salah sasaran. Mungkin novel ini tidak menyimpan plot twist, tapi banyak kejutan kecil yang bikin saya memekik bahagia campur haru di sana-sini. Tak jarang, di banyak bagiannya saya juga tergelak oleh dialog yang kocak dan witty-banter yang oke punya. Well done, Flazia.

Sayangnya, saya tak jadi memberikan 5 bintang utuh ke novel ini, karena seperempat bagian akhirnya. Oke, saya paham harus ada adegan penyerangan itu--sop.iler(spoiler), untuk konsistensi cerita, tapi... entahlah. Agak kurang meyakinkan, nanggung saja jadinya.


via GIPHY

Hal lain yang menurut saya agak menyulitkan novel ini menjangkau pembaca yang lebih luas (semoga saya salah, semoga saya salah, semoga saya salah):
1. gaya penulisan Flazia di novel ini sangat mirip dengan gaya novel terjemahan, yang sayang sekali, beberapa pembaca masih merasa novel terjemahan tak terlalu nyaman dibaca;
2. meskipun tidak jatuh ke gaya dakwah/ceramah sedalam novel-novel religi islam (yes, ayat-ayat cinta, dsb), tapi konten bernuansa islam pada beberapa bagian (terutama menuju ending) cukup kental dengan mengutip serta menginterpretasikan ayat alquran dan hadis.

Overall, for me, The Case We Met adalah novel metropop debutan yang cukup mengejutkan--in a good way. Dengan menyematkan rating 4 bintang, tentu saja, novel ini berhasil memikat saya, mulai dari gaya menulis, latar belakang, plot, dan parade karakter yang kuat. Namun demikian, masih ada beberapa bagian yang agak nanggung.

Topik bahasan:
1. Cinta lama bersemi kembali
2. Menyukai sahabat kakak
3. Office romance
4. Latar: hukum (pengecara) dan kesehatan (dokter)
5. Bad boy became a good guy
6. Drama keluarga
7. Setting: New York dan Yogyakarta

Selamat membaca, kamu.

End line:
Ayo kita pulang sekarang.
---hlm.434, Adendum

Wednesday, May 22, 2019

[Resensi Novel Romance] Kenya by Kincirmainan

First line:
GUE MENGISAP SEBATANG MARLBORO MENTOL dengan saksama, menghirup lewat lubang hidung, menahan sebentar di rongga mulut sebelum mengembuskan perlahan.
---hlm.5, Chapter 1 - RESOLUSI

Gue Kenya Barika Bayo, lahir di Kenya, punya adik cowok yang super mega ultra sensitif bernama Afrika.

Seperti cewek lain di muka bumi ini, gue juga bikin resolusi tahun baru yang nggak berguna sebab isinya 85% gagal 10% pasti segera gagal dan 5% belum pasti gimana nasibnya.

Kacau.

Delta, cowok yang gue sayang dari kecil dan mau gue tembak tepat pada malam pergantian tahun, which is bagian dari rencana besar gue tahun ini, justru jadian sama sahabat gue!
Parahnya, malam itu juga gue malah jatuh ke pelukan Data, adiknya Delta!

Oh my God, Kenya, what were you thinking?!

Judul: Kenya
Pengarang: Kincirmainan
Penyunting: Yuke Ratna Permatasari
Penyelaras Akhir: Ani Nuraini Syahara
Ilustrasi sampul: Bella Ansori
Desainer: Dea Elysia Kristianto
Penerbit: Penerbit Bhuana Ilmu Populer
Tebal: 356 hlm
Rilis: Mei 2019
My rating: 3 out of 5 star

Kenya


I'm bored and fell into a reading slump hole too deep when I saw this book on my Gramedia Digital's account. Jujur saja, selain nama "Kincirmainan" yang sudah wara-wiri di linimasa Twitter beberapa waktu ke belekang, kovernya yang kuning gonjreng dengan gambar ilustrasi cewek berambut keriting panjang awut-awutan yang sekilas mengingatkan saya pada karakter Merida di film animasi garapan Pixar-Disney "Brave"-lah yang membuat saya akhirnya mengunduh fail di Gramedia Digital dan langsung membacanya.


via GIPHY

I LOVEEE.... HER WRITING! Itu kesan pertama ketika mengawali membaca novel ini. Lincah, lugas, diksi apik, tatanan bahasa-kalimat yang bagus, kalimat serbaguna, mengalir lancar... pokoknya jenis yang bisa membuat saya betah berlama-lama membaca sebuah buku, makanya saya langsung mengucap syukur karena merasa menemukan "tangga" untuk bisa merangkak keluar dari lubang kemalasan membaca. Sudah lama saya enggak nemu gaya menulis ceplas-ceplos seperti ini, terakhir di Resign-nya Almira Bastari.

Pun, dengan para karakternya. Begitu hidup, begitu berwarna, begitu ekspresif. Mulut seperti enggak ada saringannya. Saya menyukai fakta-fakta yang terselip di sana-sini sebagai latar belakang karakter masing-masing. Favorit saya: Data dan Jamal. Maka, harapan untuk menyukai dan berakhir dengan menyematkan rating 5 bintang di goodreads pada novel ini begitu tinggi.


via GIPHY

Well, ternyata KENYAtaan tidak selalu berbanding lurus dengan harapan, ya. Kayak penginnya ongkang-ongkang kaki doang terus dapet gaji gitu, hehehe. Premis yang cukup kuat berakhir di eksekusi yang kebanyakan drama dan serba kebetulan, *sigh.


via GIPHY

Premis: Kenya adalah sulung dari dua bersaudara, kakak perempuan dari seorang adik laki-laki bernama Afrika. Keduanya bak tertukar jiwa, Kenya justru berkelakuan seperti laki-laki sedangkan Afrika cenderung bersikap seperti perempuan. Kenya punya trauma masa lalu menyangkut hubungan romantis, hingga sangat selektif untuk berani menjalin hubungan dengan komitmen. Terlebih, dia sebenarnya sudah jatuh hati pada sahabat sejak kecilnya, Delta, tapi terpaksa harus menguburnya dalam-dalam karena si sahabat sudah menjalin kasih dengan sahabatnya yang lain, Bella. Karena Kenya memang tentang cinta, secara garis besar novel ini akan melulu membahas perjuangan Kenya mencari cinta sejatinya. Tentu saja dilengkapi dengan BANYAK drama di sekelilingnya, mulai dari hubungan dengan keluarganya (adik dan ibunya---terutama dengan adiknya, yang selalu berantem, kayak anjing-kucing), lingkungan kerjanya, adik-beradik Delta dan Data, Bella, Jody, dan masih banyak lagi.

Sesemangatnya saya melahap kalimat demi kalimat buatan Kincirmainan, ada dua adegan yang membuat saya ingin berhenti baca dan memutuskan DNF saja. Cuman, karena sudah lumayan jauh bacanya, akhirnya saya kuat-kuatkan hingga akhir halaman.


Saya pernah protes pada aliaZalea waktu menulis Miss Pesimis yang lumayan vulgar ataupun Okke "sepatumerah" di Heart Block yang seolah mengampanyekan merokok, well... ternyata dua novel itu nggak ada apa-apanya dibanding Kenya ini. Sering berkata kasar, cek; seks bebas, cek; hubungan sesama jenis, cek; merokok, cek; minum alkohol, cek; jambak-jambakan di area publik, cek; menyumpahin ortu-sodara-temen, cek; hubungan sesama sodara alias incest, cek. Lengkap banget pokoknya. Semakin ke sini, saya sih mulai "terserah lo, deh", sama urusan-urusan seperti ini. Hanya saja, saya tetap akan menginformasikan ke siapa pun yang kebetulan membaca resensi ini, bahwa di dalam novel yang saya baca mengandung hal-hal vulgar atau disturbing, siapa tahu ada yang butuh, kan?


via GIPHY

Pada akhirnya, hanya tiga bintang yang bisa saya sematkan untuk Kenya. Coba saja dramanya enggak begitu banget. Coba saja ada bagian-bagian yang dipotong saja. Coba saja adegan-adegan meet cute-nya enggak dibikin serba kebetulan. Coba saja Kenya nggak pernah jadian sama Delta dan fokus ke Data saja. But, I do really love Kincirmainan's writing. Saya masih mau nyoba baca karyanya yang lain, tentu saja.

Topik bahasan:
1. Sahabat jadi cinta
2. Cinta bersegi banyak
3. Office romance
4. Latar: bidang peternakan (babi), kuliner (chef), pengarang
5. Dosa masa lalu
6. Drama keluarga
7. Setting: Jakarta

Selamat membaca, kamu.

End line:
Data bikin grilled tenderloin yang juicy banget, bikin gue makin cinta sama dia.
---hlm.347, Epilog