Showing posts with label Pengacara. Show all posts
Showing posts with label Pengacara. Show all posts

Monday, April 27, 2020

[Resensi Novel Metropop] Combo Review: Hair-Quake dan Fly Him to the Moon by Mariskova

First line:
Text Message...
From: Ferry
08.44 AM
Di mana lo?

---hlm.7, Bab 1

Andita Soekardi memang bukan si Barbie yang cantik, langsing, dan berambut pirang indah. Ia cuma cewek biasa yang bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sebuah institut bahasa asing. Ia cewek normal, impulsif, cerewet, moody, namun baik hati dan pintar. Ia lumayan pede walaupun berkulit hitam, bertubuh kerempeng, dan belum punya pacar. Cuma satu yang membuatnya aneh: Andita punya obsesi akut pada rambutnya! Bagi Andita, better hair brings better luck, better love and better life.

Hidup Andita berantakan ketika fotonya masuk ke majalah dan rambutnya disebut sudah out of style. Segala hiburan sahabatnya, Ferry, tidak digubrisnya. Andita malah mendatangi salon tempatnya memotong rambut dengan gaya yang disebut jadul itu, dan menuntut ganti rugi.

Saat menjalani perawatan rambut ganti rugi di salon itulah Andita ketemu Prasta, eksekutif muda ganteng yang lalu jadi curahan hatinya. Kepada Prasta-lah Andita mencurahkan segala unek-uneknya di kantor, proses promosi jabatannya yang bertele-tele, dan nyaris semua cerita dalam hidupnya. Prasta bak Ferry kedua, bahkan lebih.

Tapi kemudian sesama pengajar di institut tempat Andita mengajar sepertinya menaruh hati padanya. Jadi, siapa yang harus Andita pilih? Apakah benar kondisi rambutnya memengaruhi kehidupan karier dan cintanya?

Judul: Hair-Quake
Pengarang: Mariskova
Penyunting: Donna Widjajanto
Desain sampul: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 288 hlm
Rilis: April 2008
My rating: 4,5 out of 5 star

Hair-Quake

Saya antara sadar-nggak-sadar sudah baca Hair-Quake belum, ya? Berhubung instruksi #WorkFromHome dalam rangka #SocialDistancing dan #PhysicalDistancing diperpanjang demi memutus rantai penyebaran virus Covid-19, acara baca-membaca terus menggelora sampai-sampai saya bongkar-bongkar kontainer dan mencoba membaca judul-judul lawas #novelMetropop yang kayaknya belum saya baca. Salah satunya yang akhirnya saya baca Hair-Quake karya Mariskova ini. Lah, tapi pas mau bikin resensi dan cek di rak goodreads, lho kok saya sudah pernah me-rating, ya? Dua bintang lagi, hahaha.


Entah kesambet apa, kok bisa beda jauh ya sama kesan baca yang sekarang. Selepas membaca novel ini saya dengan gegap gempita menyematkan bintang 4,5 untuk me-rating-nya. Bahkan kemudian saya meracuni buistri buat baca novel ini, karena sedikit banyak temanya relate sama si krucil kesayangan kami yang nggak pernah acuh sama rambutnya. Hahaha. Well, anggaplah ya, kali ini saya baca pas sama mood dan dapet feel-nya.

via GIPHY

Asli. Saya dibuat kemekel (tertawa-tawa geli--Jawa) sepanjang membaca Hair-Quake ini. Terakhir kali seperti ini kayaknya pas saya baca Resign!-nya Almira Bastari, deh. Oh, sama beberapa bagian di trilogi Crazy Rich Asian-nya Kevin Kwan, sih. Surga banget kalau pas nemu novel yang bisa menyegarkan suasana begini. Apalagi di masa-masa gelap akibat pandemi Covid-19 ini, ya. Mungkin itu juga kali yang bikin saya bahagia banget selama membaca novel ini, sampai akhirnya dengan ikhlas ngasih bintang 5. Mungkin.

Etapi, awalnya saya dongkol banget sama Andita--tokoh utama perempuan di novel ini. Nggak tahu ya, mangkel aja bawaannya. Kalau beneran ada orangnya, sudah pengin menjitak kepalanya. Persetan dengan etika kesopanan! Huh! Padahal dia dikelilingi keluarga dan sahabat yang begitu menyayangi dan peduli setengah mati padanya, tapi kok ya kayaknya kurang bersyukur, membesar-besarkan masalah kecil, sampai dunia harus fokus hanya padanya: pada rambutnya!

via GIPHY

Namun demikian, Mariskova berhasil membuat suasana segar dengan dialog kocak nan komikal yang membuat saya terpingkal-pingkal. Dan di sinilah, harus diakui, "You had me at those silly banter." Saya pun ikut larut dalam rasa frustrasi Andita karena rambutnya yang nggak bisa diatur, ikut bahagia ketika nggak hanya satu, tapi dua cowok mengirim sinyal suka kepadanya, serta ikut deg-degan tegang menanti hasil akhir seleksi untuk promosi jabatan Andita di tempatnya mengajar.

Dinamika subplot yang dibuat Mariskova sungguh menyenangkan untuk diikuti sehingga membuat saya tetap betah membaca novel ini hingga halaman akhir. Novel ini diterbitkan lebih dari 12 tahun silam, jadi mungkin ada beberapa hal agak nggak relevan di masa kini, tapi sama sekali nggak mengganggu selama membaca kok. Novel ini tetap dapat dinikmati. Oiya, novel ini sempat cetak ulang, ganti kover, di tahun 2014. Saya nggak tahu apakah ada pembaruan isi demi relevansi pada masa kini, karena saya baca yang edisi awal.


Plot cerita: seperti ditulis di blurb edisi awal (di edisi cetak ulang, informasinya dipangkas), karena insiden dimuatnya foto dirinya pada sebuah majalah fashion di rubrik gaya rambut jadul, Andita merasa dunia runtuh, kariernya terancam hancur berantakan, dan tak akan ada cowok yang bersedia menjadi pacarnya. Demi menjaga reputasinya sebagai pengajar di sebuah lembaga bahasa, apalagi dia juga sedang ikut seleksi promosi jabatan, Andita harus meminta pertanggungjawaban salon tempatnya memotong rambut. Ternyata dari insiden inilah, jalan hidup Andita yang awalnya sederhana mendadak jadi serbaruwet: jatuh cinta pada tunangan orang, dituduh berselingkuh sama sahabat sendiri, hingga terkuaknya konspirasi menjatuhkan namanya dari peta persaingan promosi jabatan.

Overall, for me, Hair-Quake. Itu. LUCU. BANGET. Lupakanlah bahwa saya sempat ngasih 2 bintang di tahun kapan itu, kali ini saya sangat terhibur membaca kisah hidup Andita yang superkocak tapi juga super merah muda, yang membuat saya dari sekadar tersenyum sampai ngakak nggak keruan. Buat kamu yang lagi nyari bahan bacaan yang kocak, cobalah baca Hair-Quake ini.


via GIPHY

Topik bahasan:
1. Rambutku adalah kekuatanku
2. Drama keluarga dan persahabatan
3. Office romance: lembaga bahasa
4. Profesi: pengajar, pengacara, dan chef
5. Setting: Jakarta

End line:
Prosedur aplikasi visa ke Amerika Serikat.
---hlm.280, Bab 14

Untuk novel kedua karya Mariskova yang saya baca, Fly Him to the Moon, nggak saya ulas panjang lebar, ya. Meskipun nggak mau membandingkan, saya memang lebih suka (dan terhibur) ketika membaca Hair-Quake ketimbang Fly Him to the Moon.

Bila sahabatmu adalah matahari dan kamu adalah bulan, apa yang akan terjadi kepadamu ketika pagi menjelang dan matahari terbit? Apakah orang-orang di bumi akan bisa melihatmu di atas langit sana?

Seluruh laki-laki di satu bumi ini pasti akan bahagia luar biasa seandainya mereka bisa menjadi sahabat Jelita. Sebaliknya, bila semua perempuan di beberapa galaksi dikumpulkan, mereka pasti akan lebih memilih mati daripada harus menjadi sahabat Jelita. Kecuali Anjani.

Jelita Gani dan Anjani Anjasmara adalah dua sahabat sejak kecil. Jelita seorang perempuan yang cantik tak terkira dan pintar luar biasa. Kecantikannya membuatnya dikitari oleh laki-laki dari berbagai jenis karakter. Kepintarannya membuatnya dilimpahi kepopuleran. Jelita selalu menjadi matahari di mana pun dia berada.

Anjani, sahabat Jelita, adalah seorang perempuan tomboy yang selalu memerankan tokoh sahabat setia. Sepanjang hidupnya Anjani menyaksikan para laki-laki berlomba mengejar Jelita. Sepanjang hidupnya Anjani mengurusi para laki-laki yang menggunakan dirinya untuk mendekati Jelita. Sepanjang hidupnya, Anjani merasakan sosoknya perlahan menghilang di balik awan setiap kali Jelita muncul. Seperti bulan ketika matahari muncul. Atas nama persahabatan, Anjani tak pernah beranjak dari sisi Jelita. Bagi Anjani, persahabatannya dengan Jelita lebih berharga dari laki-laki mana pun...

... sampai lalu sahabatnya itu berbalik memusuhinya ketika seorang pangeran impian datang menawarkan cinta. Masih tersisa luaskah hati Anjani bagi sahabatnya? Apakah Anjani rela menukar cintanya pada sang pangeran impian dengan persahabatannya dengan Jelita?

Judul: Fly Him to the Moon
Pengarang: Mariskova
Penyunting: -
Desain sampul: -
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 352 hlm
Rilis: Agustus 2010
My rating: 3,5 out of 5 star

Fly Him to the Moon

Oke, jujur saja, saya lebih banyak dongkolnya dibanding terhibur sewaktu membaca novel ini. Saya pun sempat kepingin skip dan langsung ke halaman akhir untuk mengetahui nasib kedua sahabat yang mendadak bermusuhan gegara seorang cowok ini. Karakter utamanya lumayan annoying dan ya... ngeselin aja. Tapi, kayaknya memang dibikin begitu sih. Soalnya sebenarnya sikap Anjani sempat diprotes keluarga dan teman dekat, tapi ya tetap saja bebal. Topik utama, selain sisi romansa, memang kental sekali dengan nuansa persahabatan. Mariskova sepertinya ingin meng-highlight: seberapa besar pun kesalahan sahabat, semestinya tak lantas berujung jadi musuh. Menurut saya, ya.

Namun, saya tetap mengapresiasi novel ini. Kalau kamu cukup bisa menolerir karakter yang menyebalkan, tetap bacalah novel ini. Apalagi buat kamu yang punya sahabat dekat, dilema persahabatan yang penuh ujian tergambar dengan gamblang di novel ini. Bisalah buat lucu-lucan dibahas sama sahabatmu.

Topik bahasan:
1. Cinta segitiga
2. Drama keluarga dan persahabatan
3. Gemerlap dunia artis televisi
4. Profesi: arsitek, selebritas/pembawa acara, dan bankir
5. Setting: Jakarta, Ciawi, dan Bandung

Selamat membaca, kamu.

Friday, April 10, 2020

[Resensi Novel Metropop] Second Chance by Flara Deviana

First line:
Flavia Chandra Netta

KERETA API berhenti sempurna di depanku. Orang-orang menjadi sibuk untuk masuk lebih dulu, padahal setiap orang sudah memiliki nomor kursi yang pasti.
---hlm.5, Prolog

Kehidupan Flavia diisi utang tak berujung, kerja dari pagi ketemu pagi. Tiba-tiba dia mendapatkan kesempatan melunasi semua itu ketika ditawari pekerjaan bergaji besar yang tugasnya cuma menjadi pengasuh sepasang anak kembar. Masalahnya, majikan Flavia adalah duda bertato umur 28, berparas dingin, dan galak pada anak-anaknya sendiri. Ketimbang jadi pengacara, majikannya itu lebih cocok jadi mafia.

Raynaldi tidak merasa damai di kantor, apalagi di rumah dengan anak-anaknya yang sering menangis dan buat ulah. Setiap hari, dia menghadapi predikat pernah hamilin anak orang, suami yang gagal, dan ayah yang payah. Tiba-tiba datang pengasuh baru bernama Flavia, yang belum apa-apa sudah bikin banyak aturan tentang bagaimana Ray harus memperlakukan anak-anak.

Flavia mulai menjamah banyak wilayah berbahaya dalam hidup Ray dan bikin cowok itu hampir sinting. Tapi, sialan, tampaknya Ray jatuh cinta pada cewek sok ngatur ini.

Judul: Second Chance
Pengarang: Flara Deviana
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Penyelia naskah: Vania Adinda
Ilustrasi sampul: Sukutangan
Penata letak: Bayu Deden Priana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 296 hlm
Rilis: Maret 2020
My rating: 3,5 out of 5 star

Finn

Tahun ini memang serbatumben buat saya. Beberapa #novelMetropop terbitan tahun 2020 kok tumben berhasil saya baca berdekatan dengan tanggal rilis resminya, melalui Gramedia Digital. Beberapa, tentu saja, enggak semuanya. Salah satunya Second Chance karya Flara Deviana ini. Dan, novel ini menjadi salah satu yang saya baca di awal bulan Maret 2020 pada masa #WorkFromHome kemarin.

Melihat sampulnya, saya langsung kepikiran novel-novel Adult-New Adult romance dari luar negeri: tatoan, berandalan, seksi, vulgar, dan kemungkinan menjurus erotis; well... enggak sepenuhnya benar. Hahaha. Enggak senakal itu, ternyata. Tapi, kalau ini novel luar, sampulnya bakal seperti ini mungkin:

dipinjam dari: https://www.feelthebook.com/
Fortunately, saya suka gaya menulis dan diksi yang digunakan Flara, eh Flavia, eh Flara, eh... (believe me, saya keblibet nganggap Flavia si tokoh adalah sama dengan Flara sang pengarang ). Karenanya, saya cukup menikmati rajutan kisah yang tertuang di novel ini. Namun, TYPO-nya YANG ASTAGADRAGON KENAPA SIH SEGITU BANYAKNYA, BIKIN SENEWEN BACANYA SAMPAI AKHIR. BENERAN KESEL, man! Kalau kamu pengin senewen juga, saya sertakan daftar typo-nya di bawah, ya.

Sekilas, Second Chance mengingatkan saya pada Topsy-Turvy Lady-nya Tria Barmawi. Iya, iya, saya tahu, nggak seru deh setiap resensi kok membanding-bandingkan satu buku dengan buku lain. But, I just can't help myself mentioning it. Ya, karena agak mirip, mau gimana. Maafkan!

Premis cerita ya plek-ketiplek sama yang ada di blurb/sinopsis novel ini. Flavia yang terlilit utang, pontang-panting kerja sana-sini, akhirnya mendapat titik terang untuk segera melunasi utangnya ketika menerima tawaran mengasuh anak kembar seorang duren (duda-muda keren) yang bersedia membayar gaji bulanannya melebihi gajinya sebagai pengasuh di daycare saat ini. Namun, iming-iming bayaran sebesar itu ternyata membawa petaka sendiri buatnya, terlebih ketika Ray, majikannya yang ganteng bertato itu, menyatakan jatuh cinta kepadanya.

via GIPHY
Sejujurnya proses pembacaan saya atas novel ini lancar saja, yang artinya secara jalan cerita Second Chance cukup membuat saya tertarik. Namun, SELAIN TYPO-nya YANG ASTAGADRAGON itu, ada bagian yang bikin saya merengut dan turned off. Misalnya ketika dikisahkan salah satu dari si kembar terkena sakit cacar, Flavia main-main peluk dan elus dan pegang saja. Well, sependek yang saya tahu, cacar (di novel ini nggak disebutkan jenis cacar apa, saya asumsikan cacar air) sangat gampang menular.

Mudah Menyebar dan Lebih Sering Diidap Anak-Anak
Melansir WebMD, penyakit ini lebih umum menyerang anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa mendapatkannya. Gejala tanda cacar air adalah ruam kulit yang gatal dengan lepuh merah. Selama beberapa hari, lepuh muncul dan mulai bocor, dan di situlah virus dengan mudah menyebar, bahkan melalui udara. Seseorang bisa mendapatkan virus dengan menghirup partikel yang berasal dari lepuh cacar air atau dengan menyentuh sesuatu di mana partikel mendarat.

Oleh karena itu, kamu harus menghindari kontak langsung dengan pengidapnya. Virus akan berhenti menyebar saat lesi berubah menjadi kerak. Cacar air paling menular dari 1 hingga 2 hari sebelum ruam muncul sampai semua lepuh kering dan berkulit.--mengutip dari halodoc
Yah, semoga ini bukan plot-hole, ya. Cuman semacam kurang informasi saja, karena memang tidak dijelaskan sudah berapa lama si anak menderita cacar atau sudah dibawa ke dokter apa belum dan bahwa semua orang dewasa di rumah itu sudah kebal sama cacar. *cmiiw kalau ternyata saya salah/selip baca adegannya, sebagian sudah telanjur kesel karena TYPO-nya YANG ASTAGADRAGON BANYAK BANGET itu, sih. Huh.

Saya juga sempat keki sama instalove antara Flavia-Ray, ternyata ada plot twist di paruh bagian akhir yang menjelaskan hal tersebut. Syukurlah, karena saya mulai sebal sama cerita yang gampang banget jatuh cintanya, dan cepet pula. Sementara adegan yang membuat saya turned off justru di puncak konflik. Oke, oke, saya mengerti perasaan Ray, tapi kayaknya ya agak berlebihan sih emosinya itu sampai membuat Flavia menjauh. Seriously, I hate that part. Well, saya terima plot twist yang menjelaskan mengapa Ray menjadi seperti itu pada mantan istri dan kakaknya, tapi untuk alasan menjauhkan Flavia dari jangkauannya (setelah susah payah mendekatinya)? Nope, kurang greget menurut saya.

via GIPHY
Overall, for me, Second Chance menyajikan kisah yang asyik untuk diikuti dengan gaya menulis dan diksi yang pas untuk selera saya. Meskipun tak terlalu kuat di departemen pembangunan karakter, saya cukup menyukai Flavia, jalan hidupnya yang sinetron banget berhasil dikemas Flara sehingga menimbulkan keharuan yang tak dipaksakan. Buat kamu yang lagi nyari-nyari tambahan bacaan, silakan dicoba, ya.

Topik bahasan:
1. Trauma masa lalu
2. Drama keluarga
3. Majikan dan karyawan
4. Profesi: pengacara dan pengasuh anak (babysitter)
5. Setting: Serpong, Jakarta, dan Yogyakarta

Daftar typo (sudah lamaaa lho saya nggak buat beginian):
10: pertengkaraan
15: menghasihani
20: proposional
21: tersetak
31, 37, 38: Bu Shinta
38: intruksi
38: keduanya .
39: kedunya
44: kalau pun
45: Benton Juction
46: di tambah
46: ritlesing
47: diturti
47: menelpon
55: baik.... ataupun
58: menangangi
58: baik... apalagi
60: keppuasaan
61: tapi Itu masalah...
62: kerjasama
63: Tante Di atau Tante Ia?
63: memikiran
64: pembicaranku
66: 45 menit.... awal kalimat
68: ...tidur Yang...
70: menyelemuti
71: Bi Mar
74: berususan
77: mercerna
79: kemanusian
81: kenapa tiba-tiba jadi Mbak Ia
90: terbersit
107: karena dari itu
108: menggangu
117: meletakannya
117: kegirang
117: pelukkan
120: membututi
123: teriakkan
127: kesedihaan
127: mencengkram
132: Uudah
132: menggangguk
132: semakuk
133: download kursif
135: bekecamuk
139: day care kursif
142: lost control kursif
142: kata Papa tanpa titik
144: mangangguk
147: menyetil
152: menggangguk
154: menujuk
158: jangkuan
158: berterbangan
161: keberanarannya
167: mempengaruhi
168: Bibi ...konsistensi Bibik
169: mengisyratkan
170: wortel, bawang dan sosis207: 3
170: mencapur
171: ngantuk... mengantuk
172: nakal." bisiknya
172: Aku berbaring (di) sebelah Olin
173: baik si kembar ataupun
178: perpisahaan
186: Thats bullshit... kursif
189: perpisahaan
193: perubahaan
197: TV, teve, televisi...
199: menyeterika
202: Sori, Sori,
203: pelariaan
204: mendudukan
204: tersetak
207: 3... tiga
208: paru baya
208: Bu, Ibu... Mila, konsistensi
208: notes kecil.... kbbi
209: mencapur
209: perwarna
210: cookies... kursif
210: kerusakaan
212: semetara
212: kastil... kastel
213: ujung ujung hidungnya
215: kecapekaan
216: mengacingkan
218: Fidela... Arkana...
221: pinguin
221: balas membalas
227: tolet
228: menaikkkan
241: akhinya
242: Bu mila
246: teriakkan
247: Gua
255: mengahafal
255: Bi Mar....
257: menggengam
259: mengeyahkan
262: kepergiaan
263: kerugiaan
273: persedian
273: penyanggah?
274: Gue terus menangis .
276: pesiun
276: malprktik
282: membucah
288: keadilaan
290: tetang

Selamat membaca, kamu.

End line:
Buat gue. Membangun kehidupan bersama Flavia dan anak-anak, itu masa depan.
---hlm.290, Epilog

Sunday, March 29, 2020

[Resensi Novel Metropop] The Case We Met by Flazia

First line:
[sidang kedelapan, New York Criminal Court; Lantai 13

"Red! Astaga, Nona Harris! Jangan lari-lari begitu! Nanti Anda jatuh!" teriak Hakim Walter yang baru saja hendak memasuki ruang sidang nomor 1301.

---hlm.5, Chapter 1 - Preambule

Sign in as Redita Harris
From : Ratu Maheswari < ratumahestjip@chef.net >
Subject : Re: Re: Baca NY Times

Dita, kamu bahkan masuk berita NY Times karena mendadak ambruk waktu sidang dan orang jadi ngira kamu mau dibunuh sama lawan kamu—you should take a break, for God’s sake! Jadi, kenapa juga tiba-tiba kamu ribet ngurusin kasus malapraktik di sini? Kamu bahkan udah nggak ketemu Natan bertahun-tahun, dan terakhir kali ketemu pun kamu masih gagap-bisu di depan dia! Masih nanya sebaiknya kamu terima jadi pengacara dia atau nggak? Kecuali hati kamu akhirnya berhasil beralih, yang jelas ini bukan keputusan yang bagus, Red.


Sign in as Natanegara Langit
From : Akbar Zaydan < dn.akbr@dr.com >
Subject : Butuh Propofol?

Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed. Kematian pasien kali ini jelas bukan salah kamu, dan rumah sakit lagi sibuk cari jalan keluar, jadi kenapa sekarang kamu malah ke New York? Harus dianestesi biar diem, hah? Persetan sama konferensi di Wyndham. Kami tahu kamu nggak akan lari, jadi ayo cepet balik. Dita datang ke rumah sakit pagi ini, cari kamu.

Judul: The Case We Met
Pengarang: Flazia
Penyunting: Miranda Malonka
Penyelaras aksara: Wienny Siska
Perancang sampul: Fitria N.A (@fitnrdm)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 440 hlm
Rilis: 23 Maret 2020
My rating: 4 out of 5 star

The Case We Met


Thanks to Kak Raya, yang sudah ngasih kejutan manis di hari-hari terakhir jelang kebijakan kantor untuk #WorkFromHome (WFH) dalam rangka #SocialDistancing dan #PhysicalDistancing #DiRumahAja guna memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang makin mengkhawatirkan ini. Setuju juga sama Kak Raya yang sedih harus banyak membatasi aktivitas berkumpul, padahal kalau para pembaca sudah berkumpul dan ngobrolin buku itu seru banget. Namun, demi masa depan yang lebih sehat, kita semua harus mematuhi imbauan, anjuran, bahkan larangan yang ditetapkan pemerintah, ya?


It's definitely a PAGE-TURNER! Saya benar-benar kepincut dari awal baca dan nggak bisa berhenti hingga halaman terakhir. Untunglah, di sela-sela WFH, saya bisa segera menuntaskan-baca novel ini. Melirik kiprahnya, Flazia (Fildzah Izzazi Achmadi) bukan nama baru di industri perbukuan, tapi untuk di lini metropop, sepertinya ini karya debutannya. Dan, buat saya, cukup memesona serta tidak mengecewakan.


Plot: Redita "Dita" Harris, pengacara berhijab (yang karenanya dijuluki Red Riding Hijab) asal Indonesia yang sukses menangani beberapa kasus kontroversial di New York, terutama kasus-kasus antara lansia-pasien melawan dokter yang diduga melakukan tindakan malapraktik. Dalam satu titik, Dita harus kembali ke Indonesia, sekaligus menjadi pengacara untuk Natanegara "Natan" Langit, dokter anestesi yang dituduh melakukan malapraktik hingga menyebabkan meninggalnya pasien yang ditanganinya. Tak hanya harus berjibaku membuktikan bahwa Natan tidak bersalah di persidangan, Dita pun harus menata hatinya demi menemui lelaki yang sudah ditaksirnya habis-habisan sejak lama--sejak SMA, mantan tunangan yang menjadi lawannya di persidangan, hingga ancaman pembunuhan dari salah satu narapidana yang sakit hati karena kalah dan dipenjara berkat Dita.

Saya menyukai latar kesehatan: dokter, rumah sakit, ruang operasi, dan sebagainya; sejak membaca beberapa novel karya Mira W. Juga karena duluuu banget saya pernah bercita-cita menjadi dokter, yang akhirnya nggak kesampaian. Ditambah dengan intrik persidangan yang lumayan, membuat The Case We Met begitu asyik untuk dinikmati. Khusus untuk unsur kesehatannya, cukup mendetail. Bahkan, mungkin, untuk sebagian pembaca akan terkesan terlalu detail.


Buat saya sih, yang memang menggemari novel-novel metropop dengan alasan agar bisa menambah wawasan dunia kerja kaum urban, rupa-rupa dunia kesehatan di novel ini--khususnya spesialis anestesi, sangat menarik karena Flazia berhasil mengemasnya sedemikian rupa hingga tidak seperti sedang membaca jurnal ilmiah. Karena saya tidak bekerja di bidang kesehatan dan sedang tidak berminat fact-check, saya nggak bisa memastikan apakah seluruh fakta kesehatan di novel ini sudah benar. Well, Flazia memang kuliah di kedokteran/farmasi (?) dan berprofesi sebagai dokter (sekaligus script writer?)--profil linkedin: fildzahia, jadi mestinya faktanya dapat dipertanggungjawabkan ya.

Sementara untuk intrik hukum/persidangannya, tentu saja jangan mengharapkan yang sepelik seperti dalam novel-novelnya John Grisham, ya. Agak mendekati kasus yang diselesaikan Elle Woods di film Legally Blonde-nya Reese Witherspoon itu, deh. Ya nggak silly-komedi begitu, cuma agak gampang ditebak ujungnya dan kurang mendebarkan untuk tokoh Natan sebagai terdakwa.


via GIPHY

Untungnya lagi, unsur romance yang dibangun Flazia pun tidak cringe, terhindar dari instalove--cenderung slow burn, dan cukup manis. Cinta lama bersemi kembali, cinta yang ternyata bertepuk sebelah tangan, dan cinta yang salah sasaran. Mungkin novel ini tidak menyimpan plot twist, tapi banyak kejutan kecil yang bikin saya memekik bahagia campur haru di sana-sini. Tak jarang, di banyak bagiannya saya juga tergelak oleh dialog yang kocak dan witty-banter yang oke punya. Well done, Flazia.

Sayangnya, saya tak jadi memberikan 5 bintang utuh ke novel ini, karena seperempat bagian akhirnya. Oke, saya paham harus ada adegan penyerangan itu--sop.iler(spoiler), untuk konsistensi cerita, tapi... entahlah. Agak kurang meyakinkan, nanggung saja jadinya.


via GIPHY

Hal lain yang menurut saya agak menyulitkan novel ini menjangkau pembaca yang lebih luas (semoga saya salah, semoga saya salah, semoga saya salah):
1. gaya penulisan Flazia di novel ini sangat mirip dengan gaya novel terjemahan, yang sayang sekali, beberapa pembaca masih merasa novel terjemahan tak terlalu nyaman dibaca;
2. meskipun tidak jatuh ke gaya dakwah/ceramah sedalam novel-novel religi islam (yes, ayat-ayat cinta, dsb), tapi konten bernuansa islam pada beberapa bagian (terutama menuju ending) cukup kental dengan mengutip serta menginterpretasikan ayat alquran dan hadis.

Overall, for me, The Case We Met adalah novel metropop debutan yang cukup mengejutkan--in a good way. Dengan menyematkan rating 4 bintang, tentu saja, novel ini berhasil memikat saya, mulai dari gaya menulis, latar belakang, plot, dan parade karakter yang kuat. Namun demikian, masih ada beberapa bagian yang agak nanggung.

Topik bahasan:
1. Cinta lama bersemi kembali
2. Menyukai sahabat kakak
3. Office romance
4. Latar: hukum (pengecara) dan kesehatan (dokter)
5. Bad boy became a good guy
6. Drama keluarga
7. Setting: New York dan Yogyakarta

Selamat membaca, kamu.

End line:
Ayo kita pulang sekarang.
---hlm.434, Adendum

Wednesday, May 22, 2019

[Resensi Novel Romance] Kenya by Kincirmainan

First line:
GUE MENGISAP SEBATANG MARLBORO MENTOL dengan saksama, menghirup lewat lubang hidung, menahan sebentar di rongga mulut sebelum mengembuskan perlahan.
---hlm.5, Chapter 1 - RESOLUSI

Gue Kenya Barika Bayo, lahir di Kenya, punya adik cowok yang super mega ultra sensitif bernama Afrika.

Seperti cewek lain di muka bumi ini, gue juga bikin resolusi tahun baru yang nggak berguna sebab isinya 85% gagal 10% pasti segera gagal dan 5% belum pasti gimana nasibnya.

Kacau.

Delta, cowok yang gue sayang dari kecil dan mau gue tembak tepat pada malam pergantian tahun, which is bagian dari rencana besar gue tahun ini, justru jadian sama sahabat gue!
Parahnya, malam itu juga gue malah jatuh ke pelukan Data, adiknya Delta!

Oh my God, Kenya, what were you thinking?!

Judul: Kenya
Pengarang: Kincirmainan
Penyunting: Yuke Ratna Permatasari
Penyelaras Akhir: Ani Nuraini Syahara
Ilustrasi sampul: Bella Ansori
Desainer: Dea Elysia Kristianto
Penerbit: Penerbit Bhuana Ilmu Populer
Tebal: 356 hlm
Rilis: Mei 2019
My rating: 3 out of 5 star

Kenya


I'm bored and fell into a reading slump hole too deep when I saw this book on my Gramedia Digital's account. Jujur saja, selain nama "Kincirmainan" yang sudah wara-wiri di linimasa Twitter beberapa waktu ke belekang, kovernya yang kuning gonjreng dengan gambar ilustrasi cewek berambut keriting panjang awut-awutan yang sekilas mengingatkan saya pada karakter Merida di film animasi garapan Pixar-Disney "Brave"-lah yang membuat saya akhirnya mengunduh fail di Gramedia Digital dan langsung membacanya.


via GIPHY

I LOVEEE.... HER WRITING! Itu kesan pertama ketika mengawali membaca novel ini. Lincah, lugas, diksi apik, tatanan bahasa-kalimat yang bagus, kalimat serbaguna, mengalir lancar... pokoknya jenis yang bisa membuat saya betah berlama-lama membaca sebuah buku, makanya saya langsung mengucap syukur karena merasa menemukan "tangga" untuk bisa merangkak keluar dari lubang kemalasan membaca. Sudah lama saya enggak nemu gaya menulis ceplas-ceplos seperti ini, terakhir di Resign-nya Almira Bastari.

Pun, dengan para karakternya. Begitu hidup, begitu berwarna, begitu ekspresif. Mulut seperti enggak ada saringannya. Saya menyukai fakta-fakta yang terselip di sana-sini sebagai latar belakang karakter masing-masing. Favorit saya: Data dan Jamal. Maka, harapan untuk menyukai dan berakhir dengan menyematkan rating 5 bintang di goodreads pada novel ini begitu tinggi.


via GIPHY

Well, ternyata KENYAtaan tidak selalu berbanding lurus dengan harapan, ya. Kayak penginnya ongkang-ongkang kaki doang terus dapet gaji gitu, hehehe. Premis yang cukup kuat berakhir di eksekusi yang kebanyakan drama dan serba kebetulan, *sigh.


via GIPHY

Premis: Kenya adalah sulung dari dua bersaudara, kakak perempuan dari seorang adik laki-laki bernama Afrika. Keduanya bak tertukar jiwa, Kenya justru berkelakuan seperti laki-laki sedangkan Afrika cenderung bersikap seperti perempuan. Kenya punya trauma masa lalu menyangkut hubungan romantis, hingga sangat selektif untuk berani menjalin hubungan dengan komitmen. Terlebih, dia sebenarnya sudah jatuh hati pada sahabat sejak kecilnya, Delta, tapi terpaksa harus menguburnya dalam-dalam karena si sahabat sudah menjalin kasih dengan sahabatnya yang lain, Bella. Karena Kenya memang tentang cinta, secara garis besar novel ini akan melulu membahas perjuangan Kenya mencari cinta sejatinya. Tentu saja dilengkapi dengan BANYAK drama di sekelilingnya, mulai dari hubungan dengan keluarganya (adik dan ibunya---terutama dengan adiknya, yang selalu berantem, kayak anjing-kucing), lingkungan kerjanya, adik-beradik Delta dan Data, Bella, Jody, dan masih banyak lagi.

Sesemangatnya saya melahap kalimat demi kalimat buatan Kincirmainan, ada dua adegan yang membuat saya ingin berhenti baca dan memutuskan DNF saja. Cuman, karena sudah lumayan jauh bacanya, akhirnya saya kuat-kuatkan hingga akhir halaman.


Saya pernah protes pada aliaZalea waktu menulis Miss Pesimis yang lumayan vulgar ataupun Okke "sepatumerah" di Heart Block yang seolah mengampanyekan merokok, well... ternyata dua novel itu nggak ada apa-apanya dibanding Kenya ini. Sering berkata kasar, cek; seks bebas, cek; hubungan sesama jenis, cek; merokok, cek; minum alkohol, cek; jambak-jambakan di area publik, cek; menyumpahin ortu-sodara-temen, cek; hubungan sesama sodara alias incest, cek. Lengkap banget pokoknya. Semakin ke sini, saya sih mulai "terserah lo, deh", sama urusan-urusan seperti ini. Hanya saja, saya tetap akan menginformasikan ke siapa pun yang kebetulan membaca resensi ini, bahwa di dalam novel yang saya baca mengandung hal-hal vulgar atau disturbing, siapa tahu ada yang butuh, kan?


via GIPHY

Pada akhirnya, hanya tiga bintang yang bisa saya sematkan untuk Kenya. Coba saja dramanya enggak begitu banget. Coba saja ada bagian-bagian yang dipotong saja. Coba saja adegan-adegan meet cute-nya enggak dibikin serba kebetulan. Coba saja Kenya nggak pernah jadian sama Delta dan fokus ke Data saja. But, I do really love Kincirmainan's writing. Saya masih mau nyoba baca karyanya yang lain, tentu saja.

Topik bahasan:
1. Sahabat jadi cinta
2. Cinta bersegi banyak
3. Office romance
4. Latar: bidang peternakan (babi), kuliner (chef), pengarang
5. Dosa masa lalu
6. Drama keluarga
7. Setting: Jakarta

Selamat membaca, kamu.

End line:
Data bikin grilled tenderloin yang juicy banget, bikin gue makin cinta sama dia.
---hlm.347, Epilog