Showing posts with label Kabar Buku. Show all posts
Showing posts with label Kabar Buku. Show all posts

Wednesday, July 9, 2014

[Kabar Buku] Peluncuran Buku Tomodachi, Novel Terbaru Winna Efendi

Terhitung sudah dua kali saya mengikuti event peluncuran novel terbaru karya Winna Efendi. Sebelumnya saya ikut serta dalam peluncuran perdana novelnya yang berjudul Unforgettable. Sayangnya, saya malah forget tanggal persisnya acara itu kapan. Hihihi, mohon maklum, faktor U sepertinya. Hufft.

Ketika mendapat informasi pertama kali tentang rencana penyelenggaraan peluncuran Tomodachi, saya meragu. Betapa tidak, acara diselenggarakan tanggal 5 Juli 2014 yang bertepatan dengan bulan puasa (acara dikemas dalam acara buka puasa bersama) dan berlokasi di sebuah restoran Jepang di kawasan Jalan Sabang. Matik! Saya kan nggak suka sushi-sushi-an begitu. Tapi, toh akhirnya saya tetap mendaftar dan berangkat juga. Magnet seorang Winna Efendi masih begitu kuat memikat saya.


Wednesday, December 25, 2013

Berburu buku sampai ke Timbuktu...

Nggak, ding, saya bercanda. Nggak sampailah ke Timbuktu. Lagi pula saya pun tak tahu di mana itu Timbuktu, hehehe (untung ada Google dan Wikipedia: Timbuktu). Ini hanya perumpamaan saya yang belakangan ini makin keranjingan berburu buku-buku murah ke seantero tempat obralan yang ada. Apa pasal? ...tentu saja karena poster ini:


Friday, December 21, 2012

[Segera Terbit] The Devil in Black Jeans by aliaZalea

WOW, mulai terasa berbeda nih nuansa metropop dengan sampul terbaru novel kelima aliaZalea ini, The Devil in Black Jeans. Awalnya, Alia ingin memberikan judul Me, You & Blu pada novelnya itu, tapi karena satu dan lain hal akhirnya diputuskan menggunakan judul terbaru itu. Dan, taraaaaa...kemarin saya dicolek salah satu teman di twitter, Putri Primasari @RuryPiliang yang mengabarkan bahwa sampul dari novel tersebut sudah ada. Dan, well, saya suka. Nuansa Jo, sang drummer, yang menjadi tokoh utama pria di novel ini, begitu kental. Bagaimana menurutmu?


Menurut rencana yang disampaikan oleh penulisnya sendiri, novel ini bakal dirilis Januari 2013 ini. Yayyyyy....

Snippet (copy paste dari fanpage resmi aliaZalea di facebook):

Sunday, August 5, 2012

[Kabar Buku] Berbagi Deleted Scene Truth or Dare by Winna Efendi

Hai, metropop-lover, sudah pada baca novel GagasDuet bertajuk Truth or Dare karya bersama Winna Efendi dan Yoana Dianika? Saya sih belum, tapi saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan selalu mengoleksi dan membaca karya-karya Winna Efendi. I really love her writing. Jadi, semoga di waktu depan yang tak lama lagi, saya bisa membaca novel ini juga.


Nah, ternyata ada beberapa bagian dari cerita yang ditulis oleh Winna Efendi yang tidak jadi dimasukkan ke dalam novel ini ketika proses editing. Nah, buat yang penasaran, berikut bagian deleted scene tersebut yang saya copy-paste dari blog resmi Winna Efendi:

Dari blog Winna: http://littleblackink.multiply.com
Bagian 1
Bagian 2

Kali ini aku akan share deleted scenes dari novel Truth or Dare sebelum dicetak. Ada beberapa adegan yang akhirnya dibuang karena keterbatasan halaman, atau karena pengulangan dan isinya kurang sesuai untuk keseluruhan novel. Chapter ini kuberi judul Where We Belong, dan dibuang karena awalnya topik SAT (semacam ujian reguler bagi siswa SMA yang ingin mendaftar kuliah) merupakan salah satu bagian integral dari novel Truth or Dare, tapi karena terlalu panjang dan ada perubahan plot, maka dihapus :)

Buat yang belum baca Truth or Dare, mungkin akan ada sedikit spoiler di sini.

Enjoy!


Bagian 1
At some point in life the world’s beauty becomes enough.
You don’t need to photograph, paint, or even remember it.
It is enough.
-Toni Morrison-


Aku menggaruk kepala untuk kesekian kalinya, berusaha berkonsentrasi pada selembar kertas penuh kata-kata di hadapanku dan memahami apa artinya. Seperti biasa, kesulitanku membaca membuat segala sesuatunya terasa lebih sulit.

Sejak kecil, aku selalu bermasalah dengan kata-kata; baik yang verbal maupun tertulis. Mom bilang, aku baru mulai berbicara di umur tiga tahun, itu pun terbata-bata dan sering salah ucap. Ketika anak-anak seusiaku mulai belajar membaca dan menulis, aku selalu tertinggal karena tidak mampu mencerna informasi sebaik mereka. Di pertengahan middle school, akhirnya aku didiagnosa dengan disleksia, yaitu semacam penyakit yang berkaitan dengan disfungsi salah satu area dalam otak. Disleksia membuat prosesi otakku lamban; aku sering kesulitan menjawab jika dihadapkan dengan uraian pertanyaan yang rumit, juga membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari bentuk dan lafal kata. Akibatnya, nilai akademisku bisa dibilang jauh dari baik, dan aku sering dicap bodoh atau kurang mampu berkonsentrasi.

Walaupun begitu, aku berusaha sebisaku untuk tidak tertinggal jauh dari teman-teman sekelas. Aku sering tinggal lebih lama di kelas untuk mencatat, atau meminta Cat untuk mengulang bagian-bagian yang belum kumengerti. Tanpanya, mungkin aku akan memegang posisi akhir di kelas, atau lebih parah lagi, kembali tinggal kelas. Ada sesuatu yang sangat tidak mengenakkan dari kembali mengulang pelajaran bersama wajah-wajah baru, sedangkan teman-teman seangkatanku sudah lulus dan hanya akulah yang tertinggal di belakang.

Tahun ini, sebagian besar murid-murid kelas sebelas mengambil SAT, sejenis ujian standar untuk pendaftaran universitas. Ujiannya sendiri terdiri dari tiga bagian – Critical Reading, Mathematics, dan Writing, ketiganya bukan area terbaikku. Aku dan Cat telah mendaftar untuk mengambil ujiannya di bulan Mei, sehingga belakangan ini kami lebih sering menghabiskan waktu luang sepulang sekolah untuk belajar bersama. Kadang-kadang, aku punya perasaan Cat hanya melakukannya demi aku yang memang membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar, karena aku yakin dia bisa meraih skor tinggi dengan mata tertutup sekali pun. That’s how smart she is. Kalau mau, Cat bisa saja jadi juara pertama di kelas, tapi dia lebih suka mengalihkan tenaganya untuk hal-hal lain yang menurutnya lebih penting.

Sore ini kami kembali berkumpul di rumah Cat, mencoba menjawab pertanyaan demi pertanyaan sulit dari buku latihan SAT, ditemani Luna Blu yang menggelung malas di sebelah kakiku.

“Sebuah bank menawarkan 5.3% bunga tabungan per bulan. Seandainya kita menabung lima ratus dolar, berapa jumlah tabungannya setelah empat tahun?”

Tunggu, aku ingat pertanyaan ini, yang membutuhkan pangkat atau semacamnya. Aku mencoret-coret sebuah formula dasar di atas kertas, mencoba menemukan solusinya. Cat menunggu dengan sabar di sebelahku, kertasnya sendiri sudah terisi jawaban yang aku yakin sudah pasti benar. Julian juga dengan tekun ikut menuliskan jawaban yang dipecahkannya tanpa banyak kesulitan. Sebagai murid pertukaran pelajar, sebenarnya dia tidak perlu mengikuti SAT tahun ini. Tapi Julian suka belajar, dan demi cita-citanya masuk Harvard atau kampus-kampus Ivy League sejenis, dia rela menggunakan waktu santainya untuk belajar bersama kami.

500 x 1.053⁴

Aku meneliti jawabanku dengan tak yakin, lalu menatap Cat dan Julian untuk meminta pertolongan. Cat menggeleng, mencoret bagian yang salah dengan pena merahnya sambil menuliskan perhitungan yang benar di sampingnya.

“Sebelumnya, kita harus menyamakan satuan waktu periode menabung dengan periode bunganya,” jelasnya, menunjuk angka-angka di atas kertas. “Jadi formula yang benar adalah, jumlah uang dikali besarnya bunga pangkat empat puluh delapan bulan. Seperti ini.”

500 x 1.053⁴⁸

Huh? Aku berusaha mengerti apa yang dimaksud Cat, tapi otakku sedang tidak bisa diajak bekerjasama. Cat sepertinya melihat ekspresi bingungku, karena dia lalu menyingkirkan tumpukan kertas di atas meja seraya bangkit berdiri.

“Sudah, sudah,” katanya. “Kita terlalu lama belajar, otakku sudah hangus terpanggang rasanya. Lebih baik kita break sebentar. Gimana kalau kita makan es krim dulu?”

Aku menghela napas, lega karena bisa mengambil rehat sejenak sebelum mulai berperang lagi dengan angka dan huruf. “Setuju!”

Great. Sebentar, ya.” Cat menghilang di balik pintu kamarnya, meninggalkan aku dan Julian di sana untuk mengambil camilan dari kulkas. Menjelang awal musim panas, Cat biasanya menyetok es krim vanili dan junk food banyak-banyak di kabinet dapurnya. Kadang saking banyaknya, aku sering menemukan sekantung M&M’s yang sudah separuh dimakan di laci meja belajarnya, atau sepotong cokelat yang belum dihabiskan di lemari kamarnya.

Aku suka kamar Cat. Ukurannya tak terlampau luas, hanya sekitar lima belas kaki. Dindingnya dicat putih bersih, dengan satu sisi kosong yang memuat grafiti keren bertuliskan nama Catherine. Grafiti itu dibuatnya saat makeover kamar dua tahun lalu, menggunakan cat biru dan kuning yang kelihatan kontras dan mencolok. Grafiti itu adalah bagian favoritku dari kamar Cat, selain mozaik yang terdiri dari puluhan foto berukuran kecil. Cat selalu menambahkan foto-foto baru ke dalam mozaiknya; yang terbaru adalah fotonya bersama Ethan dan Chase, kedua abang tirinya, fotonya bersama Julian saat spring dance, dan fotoku yang sedang membawa papan bertuliskan charity for community. Di samping kanan didirikan sebuah instalasi berupa rak buku besar, yang memuat novel-novel science fiction favorit Cat dan buku-buku lainnya.

Iseng, aku mengulurkan sebelah tangan untuk meraba bagian belakang ensiklopedia milik Cat yang tersusun rapi di sana, dan mendapati sebatang Snickers ukuran mini di baliknya. Aku tersenyum geli – Cat selalu penuh kejutan. Kamarnya penuh ranjau makanan manis; yang perlu kau lakukan hanya lebih jeli mencari.

Samar-samar kudengar Cat sedang berargumen dengan ibunya mengenai pekerjaan rumah, sepertinya belum ada tanda-tanda akan segera kembali. Aku memutuskan untuk mengalihkan perhatian pada sebongkah kamus raksasa di atas meja, berusaha menghafalkan definisi kata mulai dari kategori huruf A. Menurut Cat, memperluas vocabulary dengan memahami arti kata-kata sulit akan sangat membantu saat mengerjakan bagian Critical Reading nantinya.

Abhor. Membenci.
Adversity. Kesulitan.
Alacrity. Dengan cepat dan antusias.
Arid. Sangat kering.
Assiduous. Tekun dan kerja keras.

Belum sampai lima kata, pandanganku mulai berkunang-kunang dan aku kepayahan mengingat arti dari masing-masing kata. Aku ingat terakhir kali Julian melemparkan pertanyaan-pertanyaan berbau vocabulary, aku kewalahan menjawabnya dan malah membalik-balikkan artinya.

“Hei, Julian. Bantu aku..”

Saat aku menoleh, aku menemukannya sedang terlelap, kedua lengan tertelungkup di atas meja. Beberapa jam berkutat dengan angka sepertinya telah membuatnya kecapekan sampai jatuh tertidur sepulas ini. Topi baseball yang biasa dikenakannya tergeletak di atas lantai, sehingga rambut hitamnya yang cepak mencuat-cuat ke berbagai arah. Kedua matanya terpejam rapat, memperlihatkan kelopak tebal dengan satu tahi lalat di sudut kanan; sebuah detil mengenainya yang tidak aku ketahui sebelumnya. Bibirnya membentuk separuh senyum, menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Entah mengapa, melihatnya seperti ini mengingatkanku akan adik perempuannya Juliet, dan foto mereka berdua yang ditunjukkan Julian waktu itu.

Untuk beberapa saat, aku tak berani bergerak, hanya diam memandangnya seperti ini. Aku takut dengan satu gerakan, satu helaan nafas, dia akan terbangun dan mendapatiku sedang mengamatinya. Aku takut ketika dia bertemu pandang denganku, dia akan dapat membaca emosi yang terpancar bola mataku.

Tapi aku sangat ingin menyentuhnya. Merasakan kehangatan kulitnya, meninggalkan sebuah jejak di sana, walau sangat singkat dan dia tidak akan pernah tahu. Tidak akan ada yang tahu. Aku ingin menyentuhnya dan membiarkan satu momen ini menjadi milikku seorang, tanpa Cat maupun orang lain di dalamnya.

Dengan sangat perlahan, aku memberanikan diri untuk mengulurkan sebelah tanganku, berhenti beberapa inci dari wajahnya. Sedikit lagi, ujung jariku akan menyentuh pipinya. Dengan tangan gemetar, aku berusaha mengumpulkan seluruh keberanianku untuk membuat kontak fisik.

Dia milik Cat.

Sesuatu melintas dalam pikiran, membuatku mengurungkan niat untuk bertindak lebih jauh. Secepat keinginan itu tiba, secepat itu pula ia padam. Tanganku terkulai, dan aku membiarkannya tetap gemetar di sisi-sisi tubuhku.

Julian masih tertidur, kini mulai mendengkur halus. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak berhak melakukannya. Ada sebuah lingkaran kasat mata dengan Cat dan Julian di dalamnya, sedangkan aku berdiri di luar. Aku tidak dapat melangkah masuk, karena lingkaran itu tidak diciptakan untukku. Apa pun yang kulakukan, aku akan selalu berada di luar garis – melihat ke dalam.

Melihat dirinya.

**

Bagian 2

Kali ini merupakan chapter dari bagian epilogue, mengenai Heather dan Alice :) i actually love this chapter a lot, dan merasa sayang membuangnya dari keseluruhan novel. But I do what I have to do.

Here goes, enjoy!


Aku sedang membereskan tagihan-tagihan lama yang menumpuk di laci meja kasir ketika seseorang masuk ke toko dan berhenti di aisle yang menjual produk-produk kewanitaan. Dia berdiri dengan postur tak yakin, sebelah kakinya mengetuk-ngetuk lantai dan tangannya terjulur untuk mengambil sesuatu tapi tak jadi. Dia mengenakan jeans selutut dan kaus tipis yang tampak kurang sesuai untuk cuaca musim gugur, rambut emasnya yang bergelombang jatuh terurai di punggung. Aku dapat mengenali figur itu dengan mudah – Heather Mills.

Dia masih terlihat seperti dulu. Rambut panjang yang berkilau, mata biru cemerlang, wajah yang sempurna. Untuk sesaat aku terpaku memperhatikannya, kemudian dia menoleh dan bertatapan mata denganku, cukup lama hingga akhirnya seulas senyum terukir di wajahnya. Aku balas tersenyum tentatif.

Kabar terakhir mengenai Heather adalah, dia kuliah di salah satu universitas lokal Maine, tapi dropout menjelang tahun kedua. Pacarnya Dustin mendapat beasiswa penuh untuk football di Michigan, dan memutuskan untuk mengambilnya begitu lulus sekolah. Mereka sempat berpacaran jarak jauh selama setahun penuh, sampai akhirnya putus di tengah jalan. Entahlah, setidaknya itu kabar yang beredar.

Dia memutuskan untuk tidak membeli barang yang tadi hampir diambilnya, lalu berjalan ke arah kasir. Aku masih memegang kumpulan tagihan di tangan, tidak yakin apa yang harus kukatakan padanya. Haruskah aku menganggapnya seperti pembeli? Menyapanya dengan ucapan khas welcome to Holden Pharmacy, how can I help you today? Kurasa tidak.

“Hai, Alice.” Dia yang memecahkan keheningan duluan.

“Hai.. Heather.”

“Temanmu?” Thomas, yang sedang membawa kotak kardus berisi batch parasetamol terbaru, mengempaskan barang-barangnya di dekatku sambil mengelap keringat. Aku dan Heather berpandangan; sama-sama tidak tahu bagaimana harus menjawab. Teman bukanlah kata yang tepat untuk mendefinisikan hubungan kami. “Ambillah break sebentar,” Thomas berkata lagi. “Aku akan mengambil alih di sini. Sekalian belikan kebab di restoran Turki itu ya, aku belum makan dari tadi.”

Aku melirik Heather, yang kelihatan sama salah tingkahnya, tapi lalu aku menjawab, “Oke. Aku akan segera kembali.”

Kami berdua melangkah keluar. Dia masih tak berkata apa-apa, tapi saat aku mulai berjalan ke arah yang berlawanan untuk membeli titipan Thomas, Heather menyentuh lenganku. Aku berbalik, agak terkejut. Heather tidak suka menyentuh orang-orang yang tidak disukainya, kecuali jika dia ingin mendorong atau melemparkan barang ke arahnya.

“Apa kabar, Alice?”

“Baik.”

Dia tersenyum kecut. “Kau masih membenciku, ya?”

“Aku tak pernah membencimu.”

Kali ini dia tertawa. “Really? Setelah apa yang kulakukan padamu?”

Aku mengedikkan bahu. “Aku tidak menyalahkanmu.”

Kami berdiri di jalan; Heather dengan kedua tangan di dalam saku, dan aku yang memainkan benang kusut dari sweatermerahku. “Hei.. mau minum kopi?”

Aku mendongak. “Baiklah.”

Kami membeli minuman dari The Gothic, salah satu kedai kopi favoritku, masing-masing memegang cangkir styrofoamdengan cairan kopi panas yang mengepul. Perasaan ini aneh – duduk di tepi trotoar bersama gadis paling populer Belfast Area High School, mantan cheerleader yang menyandang predikat prom queen di pesta senior kami. Gadis yang dulu sering mengacak-acak isi lokerku, menyabotase persahabatanku dengan Cat, mengataiku dengan julukan-julukan yang membuatku terkenal di seantero sekolah – si Bau, si Dungu, dan masih banyak lagi. Lucunya, aku tak pernah benar-benar membencinya. Dia adalah Heather, dan Heather akan selalu tetap seperti itu.

“Kau masih menghubungi Catherine?” Dia bertanya, pelan-pelan menyisip kopinya.

Aku menggeleng. “Kau?”

“Hanya pernah melihatnya di Facebook. Sudah bertahun-tahun sejak kami bicara.” Heather menoleh, ekspresinya tulus.

“Alice, I’m sorry. Kau dan aku sama-sama tahu akulah yang dulu membuat hidupmu seperti neraka.”

“Sudah kubilang, aku nggak menyalahkanmu.”

Dia menggeleng. “Aku sering memikirkannya.. memikirkanmu. Kurasa aku hanya cemburu, you know. Aku yang lebih dulu berteman dengan Catherine, tapi dia malah memilihmu. Dulu.. kami bersahabat. Tapi sejak dia dekat denganmu, segalanya berubah.”

Aku tidak tahu itu. Setahuku, Cat selalu menganggap Heather terlalu diva.

“Aku tahu apa yang kukatakan sekarang tidak akan mengubah apa-apa, tapi kuharap kau paham.” Dia menghabiskan sisa minumannya, kemudian melempar wadahnya ke tempat sampah – masuk dengan sempurna. “Cowok yang di toko farmasi tadi pacarmu? He’s hot.” Aku menyangkal dengan muka merah padam, tapi Heather hanya tertawa. “Jangan bilang kau masih suka sama cowok Asia itu – siapa namanya, Julian?”

Heather tahu? Apa perasaanku sedemikian kentaranya?

Don’t worry, aku akan menjaga rahasiamu.” Heather bangkit dan membersihkan debu dari celananya. “Nah, sekarang aku pergi dulu. I’ll see you around, Alice, okay?”

Saat dia bangkit, barulah aku melihat sesuatu yang berbeda dari bentuk tubuhnya; perutnya tak lagi rata, memperlihatkan sedikit jendulan samar yang tak akan jelas terlihat jika kita tidak benar-benar memperhatikannya.

Bentuknya tersembunyi di balik karet celana jeans dan kaus longgarnya, tapi aku yakin aku tak salah lihat. Aku mengamati wajah Heather, mengerti apa yang sedang dicarinya di toko farmasi barusan, dan mengapa dia ragu mengambilnya. Untuk sesaat, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya aku hanya mengatakan, “Take care of yourself, Heather.”

Dia tersenyum dan memberikan lambaian singkat sebelum menghilang di tikungan jalan.
**

Artikel adalah milik dan kepunyaan Winna Efendi. Posting artikel ini telah dimintakan izin kepada Winna Efendi.

Terima kasih, Winna...dan tetap produktif menulis yaaaa....:)

Thursday, July 19, 2012

[Kabar Buku] Novel Metropop - Segera Terbit

Tiada yang lebih membahagiakan bagi seorang penggemar novel metropop (seperti saya) ketika mendengar kabar bahwa akan segera terbit novel-novel metropop terbaru dari Gramedia. Itu pertanda bahwa segala rasa rindu yang bersemayam di dasar lubuk hati akan segera tersampaikan. Meskipun, demi menyadari kenyataan bahwa novel-novel metropop tersebut merupakan karya debutan penulis yang baru terjun di ranah novel metropop, maka saya tak akan menggantungkan ekspektasi yang berlebihan.

Berikut adalah beberapa novel metropop yang akan dirilis pada beberapa waktu mendatang:

Rp40.000; halaman: 232; Prediksi Rilis: 26 Juli 2012


Sinopsis:
Kalau deritanya hilang, ingatan akan hal yang menyakitkan dan mengerikan tidak pernah akan hilang...

Menurut Byanca, perbedaan antara genius dan gila tipis sekali. Buktinya, pria yang katanya aktor andal sekaligus penyanyi Korea itu, Kim Jeonha, lebih suka menyerahkan pengambilan keputusan pada Mr. Gonzales yang ternyata adalah... kucing gendut peliharaannya. Dan Byanca harus rela mengejar-ngejar Jeonha selama mengerjakan biografi pria itu. Bagaimanapun, itu lebih baik daripada terus-menerus teringat pada mimpi buruk masa lalu.

Sementara itu, Jeonha merasa kehadiran Byanca membuat hidupnya tidak tenang lagi. Apalagi gadis Indonesia itu mengusulkan agar ia menceritakan kisah cintanya dalam biografi––satu hal yang paling tak ingin ia ingat, apalagi ia ungkit. Baginya, rasa sakit dan kebencian yang diakibatkan hal tersebut masih menyengsarakan, membuatnya hidup dalam dua neraka: kehilangan dan kesepian.

Namun tanpa sadar Byanca dan Jeonha jadi saling menguatkan. Mereka kembali bangkit, mencari kebahagiaan yang pernah hilang...

2. Hipster! oleh Dyahtri N.W. Astuti
Rp38.000; Halaman: 208; Prediksi Rilis: 26 Juli 2012


Sinopsis:

Hipster di sana, hipster di sini! Hipster melanda bagai wabah!

Meski berkecimpung dalam industri fashion, Nia tidak mengubah cara berpakaiannya yang klasik dan cenderung konservatif. Namun, dia mengejutkan banyak orang ketika dalam sebuah presentasi, salah seorang model berhalangan hadir dan Nia diminta menggantikannya. Ternyata dara sederhana ini bisa tampil menawan dan seksi dalam balutan hipster dan crope top!

Hal itu juga menarik perhatian Tommy Pranata, wakil direktur perusahaan; salah satu bujangan paling populer. Tommy sampai meminta Nia pura-pura jadi pacarnya untuk menjumpai seorang teman lama. Tetapi mantan playboy yang lama tinggal di luar negeri ini menyukai penampilan seksi Nia dalam balutan hipster. Nia yang telanjur jatuh cinta, tak berdaya menolaknya.

Sayangnya, penampilan barunya ini membuat Nia dilema, terutama karena sering membuat Tommy hampir lupa diri. Apakah Nia harus mempertahankan prinsipnya? Atau ia lebih memilih menyenangkan Tommy?


3. Roman Orang Metropolitan oleh Threes Emir
Rp45.000; Halaman: 280; Prediksi Rilis: 26 Juli 2012



Sinopsis:

== Based on True Story ==

Pengarang novel bestseller 'Nyonya Besar' & 'Tuan Besar'

Jatuh cinta adalah hak setiap orang, juga orang-orang yang tinggal di Metropolitan. Gaya dan lagaknya macam-macam.

Sheila yang baru berumur 21 tahun jatuh cinta pada dokter setengah umur yang wajahnya mirip Sean Connery. Tentu saja papanya keberatan. “Masa Papa punya menantu yang umurnya hanya berselisih dua tahun dengan Papa?” Tapi bukan alasan papanya yang membuat Sheila memutuskan hubungan, melainkan apa yang ditulis dalam blog anak Pak Dokter.

Pertama kali Pedro mengajak ceweknya brunch bersama Mami dan Papi di Hotel Shangrila, ceweknya bersendawa. “Hadeuuuh, Pedro, Mami gak mau ya kalau harus mengajarkan etiket pada calonmu. Carilah gadis dari strata sosial yang sama dengan kita.” Setelah mendapat gadis dari strata sosial yang sama, Mami berteriak, “Aduh, mamanya pacarmu itu tukang tembak!”

Amanda yang memiliki Papa setampan Javier Bardem mengaku pada sahabatnya, “Papaku tuh Don Juan tulen, untung kamu menolak ajakannya, kalau nggak, apa iya aku harus memanggilmu tante?”

Sabrina yang mirip Kate Middleton malu setengah mati atas kelakuan ayahnya yang berpacaran dengan tante suaminya. “Papa pulang ke Solo siang ini ya. Nanti saya antar ke airport. Saya maluuu sekali.”


4. Rainbow & Ocean oleh Ruth Priscilia Angelina
Rp40.000; Halaman: 208; Prediksi Rilis: 2 Agustus 2012



Sinopsis:

Gadis muda itu ternyata adalah batu karang. Ia memang tidak cantik. Ia hanyalah seonggok batu yang tampaknya tak terlalu baik. Ia sudah di situ. Mencintai laut, sejak kemarin, kemarin, dan kemarin.

Hingga pelangi muncul di langit mendung. Dengan senyuman ia memberikan harapan pada gadis muda itu. Harapan untuk keluar dari luka hati yang ia kira takkan pernah sembuh.

Neo Aldriano Yehezkiel
Jadi inilah awal dari penyesalanku. Cepat pulang. Kamu hanya menyukaiku seorang. Jangan jatuh cinta pada orang lain!

Clara Radella Keona
Jantungku rasanya hampir meledak saat melakukan semua itu. Aku ingin menangis. Ingin menangis karena hampir tidak bisa menahan degup jatungku yang terlalu cepat hingga menyesakkan dada. Aku belum berubah.

Kim Donggun
Senar-senar gitar yang usang mulai mengeluarkan nada cantik. Lagu lembut mengisi keheningan malam Natal dengan nada-nadanya yang pilu. Salju turun mengenai sekujur tubuhku.

“Nado. Bogosipho, Clara-ssi...”

Ketika cinta terlambat untuk disadari.


5. Twivortiare oleh Ika Natassa
Rp50.000; Halaman: 360; Prediksi Rilis: 6 Agustus 2012



Sinopsis:

“Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun Twitter-nya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil “mengintip” kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: “Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat bersamaan?”

Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.

Selamat berburu dan tetap membaca!


Tuesday, July 3, 2012

[Kabar Buku] Novel The Casual Vacancy karya J.K. Rowling

Wingardium Leviosa

dari: whaddaheck.blogspot.com

Nah, saya sudah melayang ini. Sudah terbang menjejak langit-langit kamar saya....:) Sebenarnya sih, dengar dan tahu kabar bahwa Madam J.K. Rowling menulis buku lagi pasca Harry Potter sudah sejak lama. Bahkan, terimbas juga kesimpangsiuran berita. Ada yang menyebut J.K. Rowling sedang menulis novel yang masih berkaitan dengan Dunia Potter, lalu ada juga yang menyebut kalau dia sedang menulis tentang buku anak-anak, dan, yeah, Little Brown UK akhirnya menyatakan bahwa novel terbaru J.K. Rowling adalah bergenre "Dewasa" yang direncanakan akan dirilis di seluruh dunia pada tanggal 27 September 2012. Berikut adalah gambar sampul dan sinopsisnya.



When Barry Fairbrother dies in his early forties, the town of Pagford is left in shock.

Pagford is, seemingly, an English idyll, with a cobbled market square and an ancient abbey, but what lies behind the pretty façade is a town at war.

Rich at war with poor, teenagers at war with their parents, wives at war with their husbands, teachers at war with their pupils…Pagford is not what it first seems.

And the empty seat left by Barry on the parish council soon becomes the catalyst for the biggest war the town has yet seen. Who will triumph in an election fraught with passion, duplicity and unexpected revelations?

A big novel about a small town, The Casual Vacancy is J.K. Rowling’s first novel for adults. It is the work of a storyteller like no other.

The Casual Vacancy
512 pages
Cover design by Mario J. Pulice
Illustration and hand lettering by Joel Holland

ISBN 9781408704202 (hardback) price £20.00
ISBN 9781405519229 (ebook) price £11.99
ISBN 9781405519212 (audio download) £20.00
ISBN 9781405519205 (CD) price £30.00

The audio edition of The Casual Vacancy will be read by Tom Hollander, an experienced star of stage and screen.

dari: mariberbagikasih.blogspot.com

Tentu saja saya bahagia. Saya ini salah satu penyuka ketujuh novel Harry Potter karya J.K. Rowling. Maka, apa pun buku selanjutnya yang akan ditulisnya, saya akan setia membeli dan membacanya. Dan berharap, semoga penerbit di Indonesia pun tetap bersemangat untuk menerbitkan edisi terjemahan di tanah air.

Hmm, dari sinopsisnya saja sudah mencekam, ya? Jadi tak sabar saya menunggunya terbit.