Showing posts with label Novel: Metropop. Show all posts
Showing posts with label Novel: Metropop. Show all posts

Friday, December 21, 2012

[Segera Terbit] The Devil in Black Jeans by aliaZalea

WOW, mulai terasa berbeda nih nuansa metropop dengan sampul terbaru novel kelima aliaZalea ini, The Devil in Black Jeans. Awalnya, Alia ingin memberikan judul Me, You & Blu pada novelnya itu, tapi karena satu dan lain hal akhirnya diputuskan menggunakan judul terbaru itu. Dan, taraaaaa...kemarin saya dicolek salah satu teman di twitter, Putri Primasari @RuryPiliang yang mengabarkan bahwa sampul dari novel tersebut sudah ada. Dan, well, saya suka. Nuansa Jo, sang drummer, yang menjadi tokoh utama pria di novel ini, begitu kental. Bagaimana menurutmu?


Menurut rencana yang disampaikan oleh penulisnya sendiri, novel ini bakal dirilis Januari 2013 ini. Yayyyyy....

Snippet (copy paste dari fanpage resmi aliaZalea di facebook):

Monday, September 10, 2012

[Resensi Novel Metropop] Rainbow and Ocean by Ruth Priscilia Angelina

Cinta, antara laut dan pelangi...

Gadis muda itu ternyata adalah batu karang. Ia memang tidak cantik. Ia hanyalah seonggok batu yang tampaknya tak terlalu baik. Ia sudah di situ. Mencintai laut, sejak kemarin, kemarin, dan kemarin.

Hingga pelangi muncul di langit mendung. Dengan senyuman ia memberikan harapan pada gadis muda itu. Harapan untuk keluar dari luka hati yang ia kira takkan pernah sembuh.


Neo Aldriano Yehezkiel
Jadi inilah awal dari penyesalanku. Cepat pulang. Kamu hanya menyukaiku seorang. Jangan jatuh cinta pada orang lain!

Clara Radella Keona
Jantungku rasanya hampir meledak saat melakukan semua itu. Aku ingin menangis. Ingin menangis karena hampir tidak bisa menahan degup jatungku yang terlalu cepat hingga menyesakkan dada. Aku belum berubah.

Kim Donggun
Senar-senar gitar yang usang mulai mengeluarkan nada cantik. Lagu lembut mengisi keheningan malam Natal dengan nada-nadanya yang pilu. Salju turun mengenai sekujur tubuhku.

Nado. Bogosipho, Clara-ssi...

Ketika cinta terlambat untuk disadari.
Judul: Rainbow and Ocean
Pengarang: Ruth Priscilia Angelina
Editor: Irna Permanasari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 208 hlm
Harga:
Rilis: Juli 2012
ISBN: 9789792287004
Rainbow and Ocean


Terus terang, saya kesulitan merampungkan-baca novel metropop kedua karya Ruth Priscilia ini. Bukan kejadian pertama bagi saya, mengingat Grey Sunflower yang coba saya baca setahun silam pun belum tertuntaskan sampai sekarang. Entahlah, saya kurang begitu ‘terhanyut’ akan racikan Ruth.

Rainbow and Ocean sejatinya menawarkan kisah cinta segitiga dengan konflik yang kompleks. Seorang gadis, dua pemuda tampan. Indonesia, Indonesia, dan Swiss-Korea.
Begitu banyak ruang untuk menghadirkan bermacam masalah pada tokoh-tokoh ini. Sayang sekali, sepertinya upaya untuk menghadirkan konflik yang dipilih hanya melalui jalur selayaknya sinetron Indonesia, yakni melalui air mata yang berderai-derai tiada henti. Tragedi-tragedi dihadirkan silih berganti. Kecelakaan, kematian, hingga penyakit bawaan. Tipikal. Terlalu klise. Saya bosan.

Dan, really? Korean-wave. OH-MY-GOD.

OH-MY-GOD! again

Seriously, metropop! Maafkan jika harus menelan sumpah sendiri. Jika terbit lagi novel metropop berlatar Korea, saya tak akan membelinya. Bukan! Saya bukan tak suka pada Korea. Tengok saja koleksi DVD saya, berpuluh-puluh judul K-Drama saya miliki. Saya punya playlist khusus K-Pop favorit. I love them. Tapi, saya tak suka pada yang mbebek. Sekadar ikut-ikutan popular gegara Korea lagi popular.

Mungkin itu pula yang membuat saya tak terlampau menikmati novel ini. Terlihat sekali bagaimana setiap jalinan cerita, interaksi antartokoh melalui dialog-dialognya, bahwa pengaruh K-Drama begitu kuat. Menyimak novel ini saya seolah dihadirkan Song Hye Kyo yang sedang bercakap-cakap dengan Rain di serial laris Full House, aishhh...etapi, cerita novel ini beda sama Full House itu.



Tentang tokohnya. Hmm, jadi, semudah itukah jatuh cinta? Hanya karena sengatan elektrik akan paras rupawan dan perawakan menawan, lalu kamu melabuhkan biduk kasihmu padanya? Segampang itu? Kata orang, cinta memang tak kenal logika. Bahkan, sebagian di antaranya menyebut, cinta itu buta. Dan, saya rasa, Clara justru tak punya rasa. Dia kelebihan rasa sehingga mati rasa. Oh, maksud saya begini deh. Dia masih terbayang-bayang Neo tapi begitu ‘cling’ sekali kedip pada cowok ‘indah’ yang dijumpainya di suatu area perkemahan, lalu detik itu juga ia terpanah asmara. Lalu, ketika kembali ke Indonesia, hatinya kembali terpaut pada Neo. Cih! Semudah itukah hati berpaling? Apakah itu arti cinta sebenar? Oh, sudahlah, semua orang memang punya makna sendiri-sendiri atas cinta. Saya hanya tak bisa menerima bahwa perasaan sedemikian cepat berubah. Saya jelas tak mau mencintai seseorang yang dapat berubah secepat itu. Dan, kentara sekali, sosok Clara ini begitu selfish, maunya mencengkeram dua lelaki. Well, kalau sama penulisnya dibikin sepeti itu ya saya nggak bisa nyalahin Clara-nya sih.

Hmmm...Clara hebat ya, tidak pernah diceritakan punya kemampuan berbahasa Korea langsung bisa capcus ngobrol sama orang Korea, siapa pun! Yah, mungkin sudah persyaratan juga bagi penerima beasiswa S2 Korea harus berbahasa Korea sih, ya. Kaleee... dunno! Tapi, sepertinya semua karakter di novel ini memang jago sih ya, tidak ada satu pun yang diceritakan gegar-bahasa ketika berbicara dengan bahasa Korea. Hebat!

Eh, ada lagi nih kehebatan Clara. Menghilangkan jati diri keindonesiaannya dalam waktu singkat. Yap, beberapa bulan saja di Korea, segala polahnya sudah selayaknya Song Hye Kyo (ishhhh, saya ngefans sih sama Song Hye Kyo). Sayang seribu sayang, padahal citra Indonesia-Korea inilah yang menurut saya bisa memperkuat jalinan konflik dalam novel ini. Bahkan, teriakan kekesalan pun sudah dalam bahasa Korea (hlm 57).

Dan, puhleeeeeeeeeezzzzzzzzz deh ah, bisa tidak bikin cerita tentang Korea yang nggak melibatkan artezzzzz melulu??? Atau, jangan-jangan seluruh orang Korea itu hidupnya dari ngartis, ya? Di Summer in Seoul-nya Ilana Tan, si cowok artis. Di Endorphin-nya Pramesti Ratna, si cowok artis juga. Nah, di sini, artis lagi??? Bah! Fantasi-nya semua pada artis Korea sih, ya?

Eh, ternyata masih ada beberapa yang bikin dahi saya berkerut-kerut tak keruan.
1. Beberapa bagian dari novel ini melibatkan pergantian waktu yang begitu banyak. Saya pusing. Tapi yang ini memang ada kesalahan atau saya yang oon nggak bisa mencerna informasi? (hlm 47) Ia (Tante Emma) dan Oom Irvan pindah ke Korea dua tahun lalu. (hlm. 66) Kebetulan oom dan tanteku juga pindah ke sini sejak tahun lalu. Jadi, yang benar yang mana?

2. (hlm 122) Kepolisian Korea itu hebat ya, langsung bisa melacak keluarga korban kecelakaan dan menghubungi mereka dalam tempo singkat.

3. WTH. Gonta-ganti PoV? Maaf, dalam kamus saya, jika penulis separuh halaman di awal hanya menulis dengan satu PoV, lalu tetiba dari tengah ke belakang jadi BANYAK PoV, si penulis gagal meyakinkan saya dengan kisah yang ditulisnya.

4. Well, saya cowok, dan saya juga menangis sometimes, eh, many times. Tapi, saya kasihan pada dua cowok di novel ini yang suka menangis. Oh, GOD. Cengeng banget, ya?
Ahh, ya sudahlah, ini memang kembali ke selera masing-masing, dan untuk saat ini saya memang merasa cukup menikmati K-Drama televisi saja. Untuk fiksi cetak, nanti-nanti saja deh dicoba lagi. Oh, atau mungkin lebih seru baca cerita Korea asli dari negerinya sana alias terjemahannya saja. Ohiya, untuk yang menyukai kisah romantis penuh tragedi, novel ini cocok buat kamu. Sementara saya cukupkan membaca metropop berlatar Korea dari novel ini saja.

My favorite part:
Aku bukan anjing. Yang kalau disuruh tinggal akan tinggal, disuruh pergi akan pergi, dirusuh tunggu akan menunggu. Menunggu tidak semudah ditunggu.(hlm. 118)
Ohiya, selamat buat tim penyuntingannya. Typo-nya minimalis, bahkan serasa tak ada typo-nya. Sayang, penggunaan font untuk bagian kisah lain, misalnya dari sisi PoV yang buanyakkkk itu atau postingan blog atau diary, akan lebih mengenakkan mata jika dibuat kontras, jadi langsung ngeh kalau itu adalah bagian lain dari cerita. That's all.

My rating:

Monday, August 6, 2012

[Giveaway] #Agustus - Twivortiare by Ika Natassa

Hmm, saya mendadak kepikiran bahwa saya sudah berjanji akan menyelenggarakan giveaway bulan ini dengan hadiah 2 eksemplar novel metropop terbaru karya Ika Natassa, Twivortiare. Plusnya lagi, novel ini bertanda tangan penulisnya lho, karena kemarin memang sengaja pesan pakai jalur pre-order.

Berhubung akhir pekan ini saya sudah mudik ke kampung halaman tercinta, di sebuah kabupaten nun jauh di sana di Jawa Timur, maka giveaway akan saya buat ringkas dan cepat, tanpa perlu konfirmasi, sehingga saya butuh informasi alamat kirim yang ikutan giveaway agar ketika terpilih sudah langsung bisa dikirim. Nah gimana caranya ikutan? Simak saja caranya di bawah ini yaaa...


1. Giveaway berlangsung mulai hari ini (Senin/6 Agustus 2012 pkl. 08.00 WIB) sampai besok (Selasa/7 Agustus 2012, pkl. 18.00 WIB)
2. Menjawab pertanyaan yang diajukan HANYA melalui e-mail dengan subjek Giveaway Agustus ke metropop.lover@gmail.com
3. Dalam e-mail sudah disertakan alamat kirim yang jelas dan nomor kontak yang dapat dihubungi
4. Satu peserta hanya diperbolehkan mengirim satu e-mail
5. Kali ini saya ingin MEMILIH yang beruntung, bukan dipilihkan oleh software alias tidak diundi, tapi suka-suka saya, jadi jawablah pertanyaan yang ada sekreatif dan seunik mungkin yaaaaa....gampang kok, tapi kamu musti sedikit lebih berusaha. Okay?
6. Oke, ini dia pertanyaanya. Tapi sebelumnya baca dulu excerpt dari Twivortiare halaman 146 yang saya cuplik-langsung dari akun tumblr resmi milik Ika Natassa (mohon izin share ya, Mbak Ika).

an excerpt from Twivortiare, page 146
it’s impossible for us to find a perfect spouse if we model him/her toward someone, atau toward our own sets of criteria. The world just doesn’t work that way. We’re not God yang bisa bikin orang yang sempurna, sesuai dengan semua yang kita mau.

But we can try to find someone that just works. That when you and that someone are together, you both just work. Despite all the hiccups and each other’s shortcomings and imperfections and flaws. Banyak dari Beno yang mau gue ubah, sama seperti banyak dari gue yang pasti dia juga mau ubah. Countless. Banyak banget. Tapi terus, mau nunggu kami bisa mengubah each other dulu according to our ideal mindset baru bisa nerima? Nggak, kan? Terus, kalau emang kami berdua berubah sesuai yang diinginkan masing-masing, are we still the same person we both fall in love with?

So you know why you get the impression from my tweets that he is somewhat perfect?

Because to me, he just works. He and I work, despite our flaws and fights and all that. Sure we’re making adjustments with each other as we go supaya bisa jalan hubungannya, tapi ada beberapa things yang left unchanged dan memang harus di-accept aja.

Jadi nasihat gue buat lo semuanya: stop trying to find the perfect spouse according to your own ideal. Just find someone who just works with you. That’s all that matters.

Relationship is work. After we failed the first one, miserably I might add, Beno and I learned this the hard way. Jadi kalau udah ketemu yang sayang sama lo, lo sayang sama dia, both of you can work things out together, and it feels right (not perfect)… ya udah.

Dulu pernah baca quote ini dan menurut gue nggak banget, tapi ternyata setelah gue alamin ternyata beneran.

“You should love someone in spite of, not because of.”
Pertanyaan: Apa pendapatmu tentang situasi yang dibahas Ika Natassa pada bagian ini? Apakah kamu setuju atau tidak setuju? Why or why not? Give me a reason.


Nah, gimana, gampang, kan? Cukup jawab pertanyaan tersebut dan kirim by e-mail ke alamat yang ada di butir kedua cara ikut giveaway di atas....good luck yaaa...

Thursday, May 31, 2012

Resensi Novel Metropop: Stiletto Merah, Senyawa Cinta, Alasan Sentimentil by Lusiwulan

[Uncensored] Membaca karya Lusiwulan itu seumpama berhubungan intim tapi tak pernah mencapai klimaks

Rating: 2 out of 5 stars


Judul: Stiletto Merah, Senyawa Cinta, Alasan Sentimentil
Pengarang: Lusiwulan
Editor: Raya Fitrah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Pewajah sampul: Marcel A.W
Tebal: 192 hlm
Harga: Rp38.000
Rilis: Maret 2012
ISBN: 978-979-22-8212-2

Karuna Mae menapak jalan hidup yang terjal. Berlatar belakang keluarga broken-home dan masalah finansial yang membelit, memaksanya harus berjuang menjalani hidupnya yang sulit sejak belia. Berharap dapat meraih masa depan yang lebih gemilang, Runa tetap memilih untuk kuliah sambil bekerja. Namun, permasalahan timbul soal di mana ia harus tinggal demi menghemat uang. Adalah nasib yang mempertemukannya pada Dandre dan Javin, dua bersaudara bukan kandung-bukan tiri, yang dengan sukarela mengizinkan Runa tinggal di apartemen mereka dengan biaya sewa murah.

Lagi-lagi, sang takdir memainkan peranan, ternyata Dandre jatuh cinta pada Runa, maka tak lama kemudian mereka menikah, dan kisah liku-liku rumah tangga yang penuh warna menjadi hari-hari Runa-Dandre. Tentang Javin dan persoalan asmaranya bersama Molly. Tentang Giya, adik Runa, yang meemutuskan menikahi laki-laki bule yang sepatutnya menjadi ayah mereka. Tentang Selina yang tak henti-hentinya menggoda Dandre. Juga, tentang, Malda, gadis kecil yang perlahan-lahan merebut kasih sayang Runa. Ya, Runa, selama ini tidak begitu menyukai anak kecil sehingga bahtera rumah tangganya bersama Dandre hampir roboh karena persoalan anak ini.

Sebaiknya, kamu simak sendiri bagaimana Runa menghadapi seluruh dilema kehidupannya dalam novel metropop karya terbaru Lusiwulan bertajuk Stiletto Merah, Senyawa Cinta, Alasan Sentimentil.
source: bestof.longislandpress.com

Entah mengapa, pengalaman saya membaca karya-karya Lusiwulan (seri Zizi), termasuk Stiletto Merah ini seolah seperti merasakan (maaf) berhubungan intim yang tidak pernah mencapai puncak kenikmatan. Lemas iya, tapi tak puas. Padahal segala atribut menuju puncak kenikmatan itu sudah tersedia. Hanya saja, eksekusinya yang (mungkin) kurang berhasil, sehingga saya tak pernah diantarkan menuju ke sana.

Stiletto Merah, Senyawa Cinta, Alasan Sentimentil, sebenarnya memberikan pemahaman baru tentang teori cinta. Dan, bab 1 sukses membuat saya manggut-manggut dan menerbitkan senyum ‘oh-gitu-ya?’ ketika membacanya.
Cinta berdasar filosofi pohon: cinta tunggal; cinta bercabang.
Cinta berdasar filosofi jalan 2: cinta mulus; cinta berlubang.
Cinta berdasar kejernihan: cinta murni; cinta oplosan.
(hlm. 8-9)
Bagi saya, bab awal ini seolah menjanjikan jalan cerita sebuah komedi romantis yang penuh nuansa cinta yang menggemaskan. Namun, ternyata, bagi saya, cerita dalam novel ini masih kurang begitu menggoda.

source: aminrukaini.com

Oh, jangan salah paham. Dalam soal urusan, ahem, s-e-x, novel ini menyuguhkan beragam gaya. Pokoknya, sedikit-sedikit, teori-teori yang dikemukakan ujung-ujungnya ya ke tiga huruf tersebut. Si perempuan jealous karena merasa si laki-laki ‘terpikat’ seorang janda muda nan seksihhh, lalu membuat perangkap ‘ranjang’ untuk membuktikan bahwa si laki-laki masih menjadi milik si perempuan itu seorang. Yah, semacam itulah. Meskipun, tentu saja, novel ini tidak sampai sejauh itu menjelaskan bagaimana pergulatan badan di atas ranjang. Oh! Oh!
Seluruh pakaian telah kutanggalkan. Sashimi dan sushi yang kubeli tadi kutata di atas tubuhku, mulai dari tubuh bawah, menjejerkannya dengan rapi di paha, lalu di atas perut dan dada.
(hlm. 56)
Soal jalan ceritanya sendiri sebenarnya cukup berwarna, yang kesemuanya diikat dalam benang merah ‘ketidaksiapan’ Runa untuk mendapat anugerah anak dan ‘ketakutan’ akan kehilangan suami tercinta jika anak tak segera masuk dalam rumah tangga mereka. Kegamangan menentukan pilihan inilah yang menjadi jalan panjang nan berliku yang diangkat Lusiwulan dalam novelnya ini.

Jika ditanya, apa sih yang sebenarnya kurang dari novel ini? Lagi-lagi akan saya katakan soal eksekusinya. Serupa menggoreng tahu isi. Luarnya masih mentah, nyatanya taoge dan bihun di dalamnya sudah gosong. Maksudnya, novel ini sudah menyuguhkan begitu banyak menu camilan untuk mendukung menu utama, mulai dari kisah si adik ipar dengan pasangannya, kisah keluarga mertua angkatnya, kisah adiknya yang menikah dengan laki-laki bule, kisah panti asuhan dan segala perniknya, serta kisah-kisah sahabat-sahabatnya, namun kisah-kisah tersebut seolah kurang menghidupkan cerita utama. Jujur, saya sendiri bingung mencari kekuatan dari novel ini, selain hanya pamer teori-teori cinta yang ‘oh-ternyata-gitu-toh!’ dan juga teori feminisme, salah satunya tentang penis envy yang dicetuskan Sigmund Freud (hlm. 84).

Ngomong-ngomong, apakah Lusiwulan ini sebelumnya berkecimpung di dunia penulisan cerpen? Oh, tidak, saya tentu tak akan men-judge apa-apa. Hanya saja, saya pernah mendengar seorang pakar ‘sastra’ yang menjelaskan tentang fenomena cerpenis yang terjun menjadi novelis. Bahwa cerpen yang pendek memiliki ‘napas’ yang pendek dan bisa mengakhiri cerita dengan segera, sedangkan seorang novelis membutuhkan ‘napas’ yang panjang mengingat novel memang harus bercerita lebih panjang ketimbang cerpen. Nah, saya merasa begitu juga ketika membaca novel ini. Bab demi bab-nya terkadang terlalu pendek seperti kehabisan ‘napas’ maka harus dihentikan di saat itu, lalu dimulai bab baru dengan napas baru.

Baiklah, dari segi cetakan. Hmm-hmm. Masih terlampau banyak typo-nya. Saya pengen berkomentar soal judul, tapi sebaiknya saya tahan saja. Bisa saja judul dibuat sedemikian rupa untuk mendapatkan nilai estetika yang diharapkan. Langsung saja ke catatan typo dalamnya saja:
(hlm. 39) Diakhir = Di akhir
(hlm. 42) perusaahaan = perusahaan
(hlm. 44) pecinta = pencinta
(hlm. 46) kanan, kiri dan belakang = kanan, kiri, dan belakang
(hlm. 51) Satu, dua atau tiga = Satu, dua, atau tiga (dan masih banyak yang sejenis)
(hlm. 66) “peristiwa langka’ = “peristiwa langka”
(hlm. 74) dengan si asisten dosen itu pacarku berhasil = ambigu
(hlm. 99) perlombaan lebih efisiensi = efisien
((hlm. 100) menayakan = menanyakan
(hlm. 105) kumpu-kumpul = kumpul-kumpul
(hlm. 112) pria tampan berusia yang kutebak berusia sekitar
(hlm. 114) mengendalikannya seseorang
(hlm. 114) ses-eorang = penggalan yang kurang enak
(hlm. 129) Tasya = Tasy
(hlm. 130) bersamangat = bersemangat
(hlm. 143) menggangu = mengganggu
(hlm. 144) kerjasama = kerja sama
(hlm. 145) mak comblang = makcomblang
(hlm. 149) diperbaharui = diperbarui
(hlm. 150) tentram = tenteram
(hlm. 153) mengangetkan = mengagetkan
(hlm. 154) alat pada mungil yang = ambigu
(hlm. 154) kulangi = kuulangi
(hlm. 154) tanggungjawab = tanggung jawab
(hlm. 156) mencelos = mencelus
(hlm. 156) semata-mana = semata-mata
(hlm. 157) si dia menolehkan dan memelototiku = ambigu
(hlm. 168) mengganggap = menganggap
Quote of the book: “Ada orang yang seumur hidupnya tidak tahu apakah dia bahagia atau tidak, yang penting hanya menjalani hidup (hlm. 161)

Secara keseluruhan, saya kurang terhanyut oleh teori Stiletto Merah, Senyawa Cinta, atau pelbagai Alasan Sentimentil yang diracik oleh Lusiwulan. Bagi saya, dua bintang saja yang saya sematkan pada novel metropop ini.


Selamat membaca, Kawan!

PS: resensi ini merupakan materi posting bareng Blogger Buku Indonesia (si Bebi) yang kali ini dengan tema, “Buku Terbitan Gramedia Pustaka Utama.”

Monday, February 20, 2012

[Buku Baru] DaisyFlo by Yennie Hardiwidjaja

Baiklah, sepertinya tahun ini, serangkaian novel-novel metropop bakalan terbit, minimal satu novel satu bulan. Dugaan saya. Karena dari Januari - Maret ini, selalu ada novel baru terbitan lini metropop. Seperti yang ini. Novel terbaru karya Yennie Hardiwidjaja, novelis Miss Jutek, To love, dan Luv You Berry Much. Saya sendiri tidak tuntas membaca Miss Jutek dan merasa tidak begitu klik pada novel itu hingga saya tak lagi tertarik membaca karya-karya Yennie selanjutnya. Tapi, novel metropop yang ini patut dicoba, apakah saya akhirnya bisa menyukai tulisan Yennie atau tidak...:)


Harga: Rp40.000

Berikut adalah sinopsis novel ini, dicopy paste dari situs Gramedia:

Di mata Junot, Tara adalah a miracle. Namun di mata Tora, Tara tidak lebih dari seseorang yang dapat digunakan dan ditinggalkan kapan pun dia mau. Tora telah menghancurkan sekaligus menguasai hidup Tara. Lalu kehidupan Tara yang abnormal pun dimulai. Dia mengorbankan Junot, manusia yang paling dicintainya di muka bumi ini. Ada yang bilang dia sakit jiwa, tapi hanya Tara yang tahu dia hampir menjadi pembunuh.

Sekarang tidak hanya Tara yang terlibat, tapi ada Alexander yang rela mengorbankan hidupnya yang cemerlang untuk menghitam di penjara karena Tara. Ada Junot, laki-laki yang rela menderita untuk mematri serbuk bintang di matanya. Ada Tora, manusia yang menjadi target bahwa Tara hanya akan bernapas untuk melihatnya mati. Juga Muli, sahabatnya sewaktu kuliah yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidup Junot.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Tara? Mengapa kisah cintanya bagaikan benang kusut? Mengapa dia begitu berambisi untuk membunuh Tora?

Keterangan novel:
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 256 halaman
Terbit : Maret 2012
Cover : Softcover
ISBN : 978-979-22-8024-1

Sunday, February 12, 2012

[Resensi Novel Metropop] My Partner by Retni SB

Terima kasih, Mbak Retni
Read from 11 to 12 February 2012
Rating: 5 out of 5 star


Judul: My Partner
Pengarang: Retni SB
Pewajah sampul: maryna_design@yahoo.com
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 288 hlm
Harga: Rp43.000
Rilis: Februari 2012 (cet. ke-1)
ISBN: 978-979-22-8017-3

Summary
Dunia Tita langsung menggelap ketika vonis bersalah atas dugaan korupsi pada Ayahnya ditetapkan pengadilan dan enam tahun beliau harus mendekam di penjara, ditambah dengan kewajiban mengganti kerugian pada negara yang nilainya bikin jantungan. Dari masalah itu, berdatangan pula masalah-masalah lain yang harus dihadapinya. Sampai berujung dengan penyitaan seluruh aset orangtuanya demi mengganti rugi sesuai vonis pengadilan.

Adalah Butet dan Sani, dua sahabat yang memberikan dukungan tak tanggung-tanggung pada Tita. Papa dan Oom Anton juga selalu menyemangatinya untuk bertahan menghadapi guncangan demi guncangan hidup. Dan, ada Jodik juga yang memberikan warna dalam keseharian Tita. Hanya satu pertanyaannya, sanggupkah Tita menghadapi Jodik yang selalu sinis dan suka menyindirnya itu?
Simak perjuangan Tita menjalani hidupnya di belantara Jakarta yang tak ramah dalam novel terbaru karya Retni SB bertajuk My Partner ini.

Berbahagia sekali ketika mendengar kabar mbak Retni SB telah merampungkan novel terbarunya lewat twitter. Saya termasuk salah satu penggemar tulisannya yang berusaha tidak melewatkan membaca satu pun karya-karyanya. Maka, ketika Delisa secara ‘sadis’ men-tweet bahwa dia sudah membelinya, saya langsung menetapkan hati untuk segera mendapatkannya, dan ketika sudah membelinya saya langsung membacanya. Dan, astaga, saya jatuh cinta sama novel ini. Terima kasih, mbak Retni.

Novel metropop telah berkembang (dan bertahan) dengan segala pesonanya. Jikalau dulu, mostly metropop selalu disesaki pernik-pernik kehidupan di kota metropolitan dengan embel-embel segala jenis brand barang mewah from head to toe, sekarang banyak juga novel metropop yang tampil dengan sederhana, down to earth, dan bertema keseharian. Menurut saya, Retni SB menjadi salah satu dari sekian banyak novelis metropop yang berhasil menghadirkan kisah cinta metropolis yang sangat dekat dengan keseharian. Tak terkecuali My Partner ini.

Saya sudah jatuh cinta sejak satu demi satu tokoh dihadirkan dalam dunia Tita ini. Sang Ayah dan Oom Anton yang rapuh namun tegar, Butet dan Sani yang meskipun hidup susah tapi selalu menghadirkan keceriaan, sampai dengan Pak RT yang bergenit-genit ria pada Tita. Sedangkan porsi utama romansa dihadirkan lewat dua tokoh cowok berkarakter berkebalikan, Dito dan Jodik. Saya dibuat demikian terikat pada dua karakter ini. Saya bisa memahami jika mungkin beberapa pembaca merasa sebal pada Jodik, tapi percayalah tokoh ini diciptakan seperti itu memang ada sebabnya. Jadi, jika ingin tahu alasannya baca sampai akhir yaa...:)

Mbak Retni mengambil tema korupsi yang memang sudah menjadi rahasia umum di negeri ini. Mungkin Anda pernah melihat film garapan rumah produksi Demi Gisela Citra Sinema berjudul Ketika di mana ada tokoh Mutiara (Senandung Nacita) yang berperan sebagai si anak yang ayahnya (Dedy Mizwar) dituduh korupsi. Saya menganalogikan Tita serupa dengan tokoh Mutiara ini. Ketika dan My Partner hadir dengan keunikan masing-masing, dan saya menyukai keduanya.


Seorang teman menanyakan tentang novel ini, apakah bergelimang kesedihan? Akhirnya saya harus menjawabnya, iya. Tapi, di sinilah kepiawaian mbak Retni menghidupkan tokoh Tita. Dia bukanlah tipikal gadis sinetron yang kerjaaanya dikit-dikit mewek. Tapi, Tita adalah sesosok gadis tegar yang riang meski acapkali mengeluh atas ketidakadilan yang dihadapinya. Menyimak perjalanan hidupnya, saya ikut bersemangat dan yakin pasti ada jalan keluar atas setiap masalah yang hadir.

Dari segi plot, sangat terjaga dengan baik. Background arsitek bagi kedua tokoh utama memberikan nuansa tersendiri. Jalinan keduanya terlihat manis dalam balutan perbincangan tentang desain bangunan. Untuk latar profesi arsitek, bagi saya cukup. Saya yakin banyak istilah-istilah arsitektur tapi mbak Retni memilih menghadirkannya dalam deskripsi sederhana yang mudah dipahami.

Selain itu, saya sangat menyukai mbak Retni yang berhasil membuat dialog-dialog cerdas nan kocak. Tak perlu adegan slapstick untuk menghadirkan humor yang bagus, tetapi cukup melalui interaksi para tokohnya dalam dialog-dialognya, saya sudah dibuat cekakakan sendiri. Serius, saya sampai takut suara tawa saya terdengar teman kos sebelah lalu saya diduga gila. Saya cengengesan sendiri pukul 2 pagi, can u imagine that? Hahaha. Namun demikian, situasi sulit yang dihadapi Tita turut pula membuat saya berkaca-kaca. Banyak adegan-adegan yang memelintir perasaan saya.

Terkait dengan gaya menulis, mungkin saya hanya sedikit kurang nyaman dengan “gaya-menggiring” yang terkadang digunakan mbak Retni dengan seringnya mengawali paragraf atau kalimat dengan kata-kaya “Ya/Yeah/Hmm” Sebagai contoh:
(hlm. 31) Ya, Tita dan Sani sedang ...
(hlm. 40) Ya, sekarang Tita ...
(hlm. 90) Ya, malam ini mereka sedang...
Entahlah, saya juga kerap menggunakan teknik ini dalam menulis kalau sudah bingung bagaimana menghubungkan antarkalimat atau antarparagraf.

Saya mendapati mbak Retni mencoba menyuarakan nada protesnya atas penegakan hukum di Indonesia. Entah disengaja atau tidak, beberapa bagian menggambarkan bagaimana proses perjuangan mendapatkan keadilan di negeri ini tidak mudah. Mulai dari kejanggalan proses persidangan, atasan yang tak ikut dihukum, hingga upeti kecil-kecilan bagi petugas lapas. Jujurlah, itu semua bukan lagi rahasia di Indonesia. Tiap hari, berita televisi atau media cetak/digital telah mengabarkannya.

Mungkin yang saya tanyakan, sampai dengan akhir kisah ini adalah bagaimana kelanjutan upaya ganti rugi bagi negara yang belum seluruhnya terbayarkan meski telah dilakukan penyitaan. Sampai dengan cerita selesai, tak lagi ada penjelasan tentang kisah hukum ini sedangkan saya ingin mengetahui informasinya. Apakah Ayah musti menambah masa penjaranya sebagai pengganti kekurangan pelunasannya atau bagaimana. Terus, soal pasca jotosan yang melibatkan Dito-Jodik, kok nggak ada kelanjutannya, ya? Maksud saya, di zaman seperti ini, semua orang gampang sekali melaporkan orang lain ke kepolisian dengan alasan “tindakan-tidak-menyenangkan” kan, masak Dito nggak ngelaporin Jodik yang sudah menjotosnya? Korban infotainment sih, hahaha, kebetulan belakangan kan sedang ada berita soal cucunya Adam Malik yang melaporkan cucunya Soeharto karena tindakan tidak menyenangkan itu hanya karena kelempar gelas di sebuah kafe. Hmmm. Tapi, bagi saya, kedua hal itu sama sekali tidak memengaruhi jalan cerita sih. It just me and my curiousity.

Oiya, selamat juga buat tim editing dan proofreadingnya. Sepanjang proses membaca, tak banyak typo yang saya temukan, paling hanya ini:
(hlm. 59) ...ganti rugi sebesar itu itu. (duplikasi kata itu)
(hlm. 278) tenggorokkan = tenggorokan
My favorite part pada novel ini:
“Aku nggak pengin pacaran. Aku pengin menikah. Supaya lebih leluasa ngapa-ngapain.” (hlm. 255)
Dan endingnya, ya ampunnn, so sweet. Meskipun ketika Jodik mulai menjelaskan soal rumah itu, saya sudah bisa menebak kejutannya. Tak ayal, saya ikut berbahagia juga.

Overall, saya suka novel ini. Oh, bukan, I LOVE it. Definitely saya tak salah menjadi penggemar yang akan selalu menantikan karya-karya mbak Retni SB.

Selamat membaca kawan!

Sunday, February 5, 2012

[Resensi Novel Metropop] Twivortiare by Ika Natassa

Saya harus baca ulang Divortiare, definitely!
Read from February 1 to 4, 2012
Rating: 3,5 out of 5 star


Judul: Twivortiare (sekuel Divortiare)
Penulis: Ika Natassa
Desain sampul: Ika Natassa
Editor: Elysha Saputra
Proofreader: Syarafina Alfiansyah
Penerbit: independent by Ika Natassa (nulisbuku.com)
Tebal: 283 hlm
Harga: Rp60.000
Rilis: Januari 2012 (pre-order cetakan pertama)
ISBN: -

Summary
Alexandra Rhea, turn to be 31-year-old, still a banker, menuangkan segala unek-uneknya melalui akun twitternya, @alexandrarheaw. Tak sekadar permasalahan pekerjaannya saja, bahkan saat-saat berat setelah adu argumentasi dengan her twice-husband, Beno Wicaksono, ia tumpahkan melalui kicauannya yang sering ditimpali oleh sahabat karibnya, Wina Soedarjo, @winasoedarjo. Dan, melalui tweet-tweetnya, Alexandra menguraikan kehidupan pernikahannya yang untuk kedua kalinya dengan Beno. Berbekal pengalaman pahit divortiare pada pernikahan pertama mereka, Alexandra dan Beno berusaha saling menguatkan untuk menjaga tali cinta suci mereka, meskipun keduanya menyadari hal tersebut tidaklah mudah karena terbentang jurang perbedaan yang tak gampang diseberangi.

Simak liku-liku perjalanan sepasang mantan suami istri yang mendapat kesempatan kedua untuk kembali merajut mimpi melalui ikatan pernikahan ini dalam novel terbaru karya Ika Natassa bertajuk Twivortiare yang merupakan sekuel dari novel laris Divortiare dan novel kelimanya setelah A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa, dan Underground (online).


Tak perlu lagi saya menyebutkan alasan mengapa saya harus membeli dan membaca novel ini. Bagi saya nama Ika Natassa adalah jaminannya, jadi buat apa mikir dua kali buat beli? Maka, ketika secara tak sengaja di timeline saya membaca tweets teman pembaca yang suka karya Ika Natassa berkicau soal pre-order novel Twivortiare, saya langsung meminta bantuan oom Google untuk mencari informasi tentang hal tersebut, dannnn...akhirnya saya ikut ngantre pre-order novel ini. Maklum, dengan tawaran bonus tanda tangan saya pasti mau, mengingat tiga novel Ika lain yang saya miliki juga sudah bertanda tangan dirinya. Horeeeeee....

B.A.G.U.S. (semua huruf kapital) adalah kesan saya selepas membaca novel ini. Love it. Gaya menulisnya sih tak perlu lagi saya ragukan. Ika Natassa selalu menghadirkan suatu cerita yang mengalir lancar, manis dan sadis di saat yang bersamaan. Simpulan sederhana, saya dibuat ngikik dan sesek di waktu yang hampir berbarengan. Bahkan, di saat tertentu saya dibuat sebal sama kebebalan dua tokoh utama di sini. Sempat saya lempar bukunya, tapi dengan cepat saya pungut kembali, karena pada dasarnya saya penasaran setengah mati untuk mengikuti perjalanan hidup kedua tokohnya. Hadehhhh, nyandu bener nih buku.

Tak heran memang, bahwa banyak sekali yang jatuh hati pada sosok dr Beno Wicaksono, the busiest Heart Surgeon in Jakarta. He’s truly lovable. A gentle-wealthy-family-man. Siapa perempuan yang tak luluh jika sang lelaki pujaan hati bilang begini:
“I want you for dinner.” (hlm. 170), ketika sang perempuan bertanya apakah sudah makan malam di luar atau belum.
Atau perempuan mana yang tak mau dinikahi oleh lelaki dengan tanggung jawab sebesar yang dimiliki oleh Beno ini:
“Mulai menikah nanti, semua kebutuhan keluarga dan kamu, itu kewajiban aku. Everything.” (hlm. 146).
You, girls, sound materialistic? Hmm, ini area yang debatable, bisa jadi bahan diskusi selepas membaca novel ini. Tentu saja, Alexandra sudah memberikan pendapatnya di novel ini. Nah, tinggal pembaca untuk setuju atau berpendapat lain. The decision is yours.

But, I definitely need to re-read my Divortiare. I am kinda lost when I read this book. Jujur, ketika kali pertama terbit dan langsung baca pada sekitaran tahun 2008, I didn’t like Divortiare. I don’t know why, tapi saya sedikit kecewa pada Divortiare, karena saya menilai A Very Yuppy Wedding yang adalah novel debutan Ika lebih charming. Tapi kemudian saya agak ragu dengan feeling saya sendiri ketika banyak sekali teman pembaca saya malah jatuh hati pada novel Divortiare. So, what’s wrong with me?

Saya semakin merasa harus membaca ulang Divortiare ketika saya terlupa pada beberapa detail jalan takdir Alex-Beno di Divortiare yang punya pengaruh penting bagi keberlangsungan kisah pernikahan mereka di Twivortiare ini. Pertanyaan paling signifikan, mengingat background relijius kedua tokoh, apakah jenis perceraian yang ada di Divortiare adalah talak satu/dua/tiga? Who cares? For me, ini penting. Ya, balik lagi ke aturan hukum agama yang disematkan kepada dua tokohnya, jika sudah jatuh sampai dengan talak tiga maka keduanya hanya bisa menikah lagi apabila si perempuan sudah menikah dengan lelaki lain lalu bercerai dari lelaki itu. Nah, saya mencoba mencari clue di Twivortiare, dan cuma mendapati keterangan ini:
After a divorce and two marriages, Beno and I believe that marriage is work. (hlm. 17)
Namun, saya merasa dua pernikahan yang disebut dalam kalimat itu adalah tetap pernikahan Alex-Beno, bukan pernikahan setelah perceraian keduanya dengan orang lain. Dan, dalam curhatnya, Alex juga tidak pernah menyebut-nyebut mantan suami selain Beno. So, untuk sementara waktu, saya menganggap perceraian mereka di Divortiare memang belum sampai pada tahap talak tiga yang memungkinkan mereka untuk rujuk tanpa perlu renewed-the-marriage, apalagi mereka mulai dating lagi setelah 6 bulan dari adegan terakhir di Divortiare (Beno ngajak Alex makan nasi goreng Sabang). See? Penting banget bagi saya untuk membaca ulang Divortiare dan menemukan jawabannya.

Sebagaimana judulnya yang ada unsur Twit-nya, novel ini dirancang serupa timeline twitter dari akun @alexandrarheaw, yang hanya dipisahkan oleh tanggal update statusnya. Jadi, pada saat-saat tertentu, Alex juga meretweet (RT) dari follower-nya atau dari akun twitter tokoh populer semisal @paulocoelho dan @victoriabeckham. Mungkin yang perlu dijelaskan adalah sikap Beno yang mana awalnya dia apatis pada twitter lalu nge-tweet something about Alexandra. Hmm, selama ini Alex kan nge-tweet-nya behind Beno’s back, dan Beno juga tidak diceritakan punya akun twitter, nah itu gimana? Bukane kalu nge-tweet, tweet-tweet sebelumnya/timeline bisa saja terbaca dan mengingat sifat Beno, bukankah seharusnya terjadi ledakan kemarahan di adegan Beno nge-tweet itu (hlm. 152)? Oiya, novel ini mostly ditulis dalam bahasa Inggris (campur aduk sama bahasa Indonesia), dan terasa sekali unsur ekspresif-nya seperti kita yang bebas pasang status setiap saat.

Saya sempat iseng menghitung karakter sebuah paragraf dan ternyata terdiri dari lebih 140 karakter. Hmm, bakalan tambah unik sih kalau saja novel ini bener-bener serupa twitter di mana tiap paragraf tak lebih dari 140 karakter. Salut sudah pasti saya berikan karena jelas tak gampang merunutkan cerita dalam batasan seperti itu. Yang membuat saya agak kecewa, saya tak sempat ikut mem-follow akun Alexandra itu sehingga tak bisa menyimpulkan apakah seluruh isi buku ini adalah tweet Alex yang sudah dipublish. Btw, sekarang ini akun twitter @alexandrarheaw masih ada lho meskipun di-protect, lalu juga muncul akun twitter @siMbok yang merupakan khadimat di apartemen Alex-Beno, hahaha, ada-ada saja......:)

Membaca novel karangan Ika, yakin deh tidak hanya akan memberikan efek hiburan belaka tapi juga ada quote-quote keren yang bisa dijadikan sebagai bahan perenungan, introspeksi, atau materi diskusi bareng teman. Bagi saya, ini penting. Meskipun dari awal saya selalu meniatkan bahwa membaca buku itu untuk mendapatkan hiburan/sebagai refreshing tetapi saya juga berharap mendapatkan sesuatu. Tak jarang saya membaca buku hanya dapet nothing. Tapi membaca Twivortiare ini, saya mendapat banyak bahan untuk berkontemplasi.


Nahhhhhh, yang ini salah saya. Mengapa saya tidak menanyakan dari mana Ika mendapatkan ide untuk menggunakan judul Twivortiare. Ketika ikut A Very Yuppy Dinner with Ika Natassa saya hanya menanyakan mengapa ia memilih judul Divortiare dan batal menanyakan alasan pemilihan judul Twivortiare. Saat itu dalam benak saya, “Gak usah ditanya, bego banget sih pertanyaan, kan udah pasti itu lanjutan Divortiare yang tokohnya idup dan crita pake twitter,” dan sampai dengan pulang dari Plaza Senayan malam itu, saya tak pernah tahu alasan pasti Ika memilih judul Twivortiare. Untuk mengintip proses kreatif dari lahirnya Twivortiare, silakan kunjungi ikanatassa.tumblr.com

Mengingat Twivortiare edisi awal ini diterbitkan secara independen oleh penulis, saya sudah memprediksikan bahwa novel ini akan banyak cacat-nya di segi editing dan proofreading, meskipun saya tetap dibuat syok karena ternyata novel ini ada jajaran editor dan proofreader. Dalam bayangan saya, self-publishing itu (katanya) semua-muanya ditangani sendiri. Maka, saya harus bilang, masih cukup banyak kalimat yang tak diedit dan diproofread dengan baik. Kalau di istilah film/klip musik mungkin ini masuk kategori Unsencored atau Director’s cut, hehehe. Entahlah, saya memang pembaca kuno bin kolot sih ya. Dalam percakapan sehari-hari sih saya nggak peduli ada yang teriak soal F-word or Ass****, tapi di media buku yang suatu ketika bisa dibaca anak-anak under-age, hmm, saya berharap semoga bisa diperhalus.

OMG, puhleeeeeasseee deehhhhh, ini zaman kan internet, cyiiiin, perlu gitu dipermasalahin? Hahaha, for me, masih penting. Saya saja kesal ketika video klip single Criminal-nya Britney Spears yang begitu indah (dan BritBrit cantik banget di situ) malah kena flag di youtube dan hanya bisa ditonton oleh yang sudah dewasa hanya gegara video itu menampilkan (sedikit) adegan violence and sexy scene. Tapi, ya, sometimes, ada beberapa hal yang tak diperkenankan untuk menerjang boundaries, kan?. Nggak nyambung, ya? Hahaha, maafkan.

But, overall, saya suka novel ini. 3,5 bintang untuk novel ini. 1,5 bintang lainnya saya simpan karena cukup banyak typo (atau emank disengaja karena itu dari tweets? dunno) dan suatu ketika saya terhantam kejenuhan ketika adu argumentasi Alex-Beno berulang-ulang-ulang-ulang sampai beberapa kali. Saya sadar sih, pengulangan itu penting untuk membuat twist di endingnya itu benar-benar terasa. Namun demikian, di saat-saat tertentu saya capek sendiri mendapati sisi labil dari dua tokoh ini.

Okay, selamat membaca kawan! Dan bagi yang nggak pre-order kemarin, sabar yaaaa, novel ini akan dirilis resmi oleh Gramedia sekitaran bulan Mei 2012 (source: ikanatassa.tumblr.com)

Tuesday, January 31, 2012

[Book News] Akhir Februari Novel My Partner by Retni SB Dirilis

Mendapat BBM dari salah satu teman pembaca tentang rencana rilis novel metropop terbaru karya Retni SB. Senangnyaaaaa... Sebagai seorang pembaca novel-novel metropop, saya memang telah membuat daftar tersendiri penulis-penulis favorit yang karyanya tak bakal saya lewatkan, salah satunya adalah Retni SB. Favorit saya adalah Metamorfosa Oase dan Pink Project.

Nahh...yang terbaru ini berjudul My Partner, berikut ini sampul dan sinopsisnya, saya copy paste langsung dari facebook mbak Retni SB. Silakan dilirik....:)


Sinopsis
Sudah jatuh, ketimpa tangga, ketumpahan cat, kepleset, terjungkal masuk sumur, lecet benjol, berdarah-darah, kemudian dicaplok buaya nganga. Begitulah perumpamaan kisah hidup Tita sekarang. Jungkir balik, berantakan secara mengerikan.

Ini bukan mimpi! Papanya dianggap koruptor, jadi tumbal dan masuk penjara. Efeknya? Mama harus dirawat karena depresi, adik mogok sekolah, pacar menghilang, sahabat menjauh, dan ujung-ujungnya, semua aset keluarga disita guna membayar ganti rugi negara. Seperti belum cukup, dia masih harus berhadapan dengan Dido: cowok keren berkedok dewa yang nyaris melahapnya!

Ini bukan sinetron! Karena Tita tak sampai banjir air mata hingga ratusan episode. Dia harus tetap berdiri tegak untuk melanjutkan hidup. Dia harus bisa tertawa cerah bagai mercusuar di gelap kehidupan keluarganya. Apalagi akhirnya dia tahu, ada seseorang yang tak membiarkannya sendirian tergulung badai. Seseorang yang tanpa disadarinya, selama ini telah menjaganya!

Gak Sabar nunggunya.

Sunday, January 29, 2012

[Resensi Novel Metropop] Sunshine Becomes You by Ilana Tan

Patahkan saja tangannya, biar dia jatuh cinta...
Read from January 26 to 28, 2012
Rating: 3 out of 5 star


Judul: Sunshine Becomes You
Penulis: Ilana Tan
Pewajah Sampul: yustisea.satyalim@gmail.com
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 432 hlm
Harga: Rp65.000 (disc 20% pre-order)
Rilis: Januari 2012 (cet. Ke-1)
ISBN: 978-979-22-7813-2

Summary
Entah sedang sial atau bagaimana, hari itu Alex Hirano harus bertemu dan berurusan dengan Mia Clark. Bahkan, mereka pun tak saling mengenal, namun pada hari pertama perjumpaan mereka, Mia malah mencederai tangannya, membuatnya harus membatalkan jadwal konsernya, dan menderita kerugian material yang tidak sedikit. Dan, dengan diliputi kemarahan yang sudah memuncaki ubun-ubunnya, Alex menyetujui tawaran Mia untuk menebus kesalahannya dengan menjadi ‘pesuruh’nya hingga tangan Alex pulih.

Seperti pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, begitulah yang terjadi pada Alex dan Mia. Intensitas pertemuan mereka, biar pun selalu diliputi percekcokan, akhirnya menerbitkan benih-benih asmara di antara keduanya. Bahkan, Alex bersedia bersaing mendapatkan cinta Mia dengan lelaki mana pun, termasuk adiknya sendiri. Dan, itu bukan sifat Alex. Dia adalah lelaki yang tak mudah takluk pada wanita. Jadi, mengapa kali ini Mia berbeda? Mengapa gadis yang sudah membuatnya tak lagi bisa bermain piano itu justru diperjuangkannya mati-matian? Simak saja kisah lengkapnya dalam novel terbaru dari novelis metropop laris serial 4 Musim, Ilana Tan ini.

Wah, ini menjadi rekor tersendiri bagi saya. Sampai dengan saat ini, saya jarang sekali pre-order buku. Saya tak pernah memiliki ambisi untuk menjadi yang ‘pertama’ membaca sebuah buku. Kecuali ketika hendak terbitnya New Moon (don’t laughing! Gw bakarin kemenyan lu!). Yap, gegara saya begitu menikmati Twilight, saya jadi tak sabar baca kelanjutan ceritanya dan segera pre-order begitu Gramedia membuka layanan pre-order buku keduanya. Jadi, ketika saya secara impulsif ikut mendaftar pre-order buku ini, saya memang tak punya alasan apa-apa. Selain bonus tanda tangan, autograph copy, dan diskonnya, tentu saja.

Well, sejauh ini saya pun nggak ngebet-ngebet amat sama Ilana Tan, sebenarnya. Meskipun telah membaca keempat novel seri musimnya, saya tidak begitu ‘terpesona’ dengan gaya menulisnya. Tentu saja, novel-novelnya mengalir lancar dan berhasil memadukan unsur-unsur romantisme dalam setiap kisahnya. Namun, ya, begitu saja, tidak pernah membuat saya yang...WOW!. Termasuk setelah menuntaskan baca novel Sunshine Becomes You ini.

First, salahkan Gayle Forman yang menghadirkan If I Stay dengan suasana haru yang sukses membirukan hati saya itu. #huhuhu. If I Stay membuat saya bercucuran air mata dan seolah ikut menjadi saksi mata kesedihan yang dialami Mia Hall. Sedangkan pada Sunshine Becomes You ini, sedikit pun saya tak berkaca-kaca. Ada apa dengan saya? Saya begitu sulit untuk terlibat jauh dan ikut meresapi kondisi Mia Clark. Ups, apakah ada yang menarik di sini? Mia Hall = Mia Clark. Fiuhhh, sekali membandingkan, malah ada bahan pembanding yang lain. And, you know what? Mia Hall = Mia Clark = siswa Juilliard. What a coincidence! Adam = Alex? Berinisial sama (A), dengan keahlian kurang lebih sama, musisi. Great!

Apakah buku ini romantis? Iya! Bahkan, saya sempat setuju dengan dugaan salah satu teman bahwa novel ini akan dirilis bertepatan dengan hari Valentine. Ternyata tidak. Namun demikian, novel ini memang memiliki standar romantis yang cukup. Apalagi ide tentang pesona-racikan-kopi-Mia. Hmm, I do love coffee, dan saya percaya bahwa kopi adalah salah satu hal seksi di dunia ini. Seandainya saya bisa bertemu dengan pasangan yang bisa membuat kopi yang super-dahyat, saya pasti jatuh cinta! Dan, Mia Clark yang mampu meracik kopi merek apa pun menjadi kopi super mantap ini sudah pasti bakal menjadi gadis impian bagi para penikmat kopi. Yummy.

Tapi, cerita yang sedemikian sederhana (dua orang bertemu tak sengaja, membawa petaka, cat and dog scene, love competition, dan tragedi) pada akhirnya tidak meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi saya. Dan, hey, hey, hey...rasanya saya bisa praktik baca kilat satu detik-satu halaman pada novel ini. #boong.banget. Hehehe, beberapa halaman saya skimming karena tidak ada detail penting untuk menunjang perkembangan cerita. Usual events yang tidak membuat konflik menjadi lebih tajam saya baca cepat sekali. Saya cuman pengin segera sampai di tujuan akhir perjalanan Alex-Mia. Too bad.

Dari satu adegan, saya masih bertanya-tanya. Bagaimana seseorang yang salah satu tangannya masih diperban bisa mengangkat seseorang yang lain? (hlm. 248). Bahkan orang tersebut tidak diberikan gambaran ekspresi kesakitan/kesulitan ketika melakukannya. Agak kurang logis, menurut saya.

Padahal, teknik Ilana untuk menggantung beberapa adegan di setiap ujung chapter sungguh membangkitkan gairah membaca. Bikin penasaran! Belum lagi, kepiawaiannya untuk memutar sudut pandang si pencerita. Point of view (PoV) yang digunakan seluruhnya adalah orang ketiga yang berpindah-pindah ke banyak karakter, di mana perpindahan PoV itu berlangsung dengan mulus. Ini merupakan salah satu unsur penulisan yang saya sukai dari Ilana Tan, yang juga saya dapatkan di Spring in London.

Sayang sekali, Ilana kembali menyia-nyiakan setting lokasi yang dipilihnya. Saya tidak mendapati upaya penulis untuk mengajak pembacanya merasai suasana kota Big Apple, New York. Padahal, New York menjadi salah satu kota dunia paling sering dibicarakan. Tetapi, saya sudah maklum, karena menurut saya Ilana memang tidak pernah mengeksplorasi lokasi ceritanya dengan optimal dan hanya terasa digunakan untuk melengkapi keterangan tempat bagi plot yang disusunnya saja.

Fiuhhh, saya pun terkesiap ketika menyadari bahwa tak banyak quotes menarik yang saya dapatkan dari novel ini. Salah duanya paling hanya yang ini:
“...Maksudku, aku penari. Menari adalah hidupku. Apalagi yang bisa kulakukan kalau aku tidak boleh menari?” (hlm. 264)
“Yang bisa membuatku merasa lebih baik adalah kopimu, Clark” (hlm. 313)
Sedangkan quote yang juga dipasang di sampul depan novel ini, “Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku,” sepertinya pernah saya dengar/baca sebelumnya, jadi tidak memberikan kesan apa pun. Memang sebagian besar, pilihan diksi dalam novel ini sangat umum dan biasa. Tidak ada yang membuat hati saya tergetar.

Tapi, wowsaaa.... saya musti nyelametin tim produksi novel ini. Wew, sepanjang pengamatan sih tak begitu banyak typo di novel ini. Thank GOD! Padahal di Spring in London, saya mendapatkan begitu banyak typo. Yang saya temukan hanya ini:
(hlm. 38) jelana jinsnya = celana jinsnya
(hlm. 40) tersenggal = tersengal
(hlm. 46) merasakaan = merasakan
(hlm. 143) Ales = Alex
Sedangkan kalimat yang ini masih membuat saya bingung:
...Karena apabila Mia memberitahu Ray bahwa Alex menemuinya untuk meminta maaf, maka Mia juga harus memberitahu Ray bahwa Alex meminta berarti kepadanya karena mereka sempat bertengkar, .....”
Overall, saya menikmati cerita yang mengalir lancar ini, meskipun saya kurang begitu dapet feel dari segi pokok kisah dan konfliknya. Dari awal, saya sudah memaksa otak untuk tak menayangkan slide novel/buku romantis lain, tapi tak bisa. Kilasan pengetahuan yang sudah saya miliki nyatanya memang menjadi racun yang membuat saya kurang bisa menikmati novel ini. 3 bintang saja saya sematkan pada novel ini.

Selamat membaca, kawan!

Monday, January 16, 2012

[Resensi Novel Metropop] Three Weddings and Jane Austen by Prima Santika

Mom, wish you were here...
Read from January 11 to 15, 2012
Rating: 4 out of 5 star


Judul: Three Weddings and Jane Austen
Penulis: Prima Santika
Editor: Nana Soebianto
Pewajah Sampul: Prima Santika & Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 464 hlm
Harga: Rp58.000
Rilis: Januari 2012
ISBN: 978-979-22-7898-9

Summary:
Ibu Sri adalah seorang mama yang mempunyai tiga anak gadis yang sudah menjelang usia pernikahan, Emma, Meri, dan Lisa. Mama adalah seorang penggemar berat Jane Austen. Keenam novel Jane Austen telah dibacanya, bahkan novel-novel itu menjadi guide dalam berkehidupan keluarganya. Saat ini, Jane Austen menjadi tumpuan harapannya untuk dapat menuntun ketiga putrinya menemukan tambatan hati masing-masing. Tak henti-hentinya ia menyelipkan contoh dari karakter-karakter rekaan Jane Austen kepada mereka. Terkadang untuk menguatkan, terkadang juga untuk sekadar mengingatkan.

Emma, dinamai dari karakter Emma Woodhouse di novel Emma, si sulung, adalah yang paling sabar dan pengertian di antara ketiganya, namun harus jatuh bangun membentengi hati ketika laki-laki yang diharapkan menjadi suaminya justru pergi meninggalkannya tanpa pernah memberinya kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya. Meri, dinamai dari karakter Marianne Dashwood di novel Sense and Sensibility, si tengah, adalah seorang gadis lovable yang gampang menarik hati laki-laki, namun justru ketika ia ingin melabuhkan diri pada dermaga pernikahan, lelaki yang dicintainya justru pergi setelah memergokinya berselingkuh dengan lelaki lain. Dan Lisa, dinamai dari karakter Elizabeth Bennet di novel Pride and Prejudice, si bungsu, adalah sesosok gadis tomboy yang menyimpan obsesi pada kakak kelas yang justru memacari sahabatnya sendiri dan atas nama persahabatan ia merelakannya, meskipun ia mulai meragukan keputusannya itu.

Nah, mari kita nikmati pesona Jane Austen yang membantu seorang ibu membukakan pintu pernikahan bagi ketiga putrinya dalam novel debutan karya Prima Santika bertajuk Three Weddings and Jane Austen ini.

Sampul
4 jempol. Huwaaaa...love it. Love it. Love it. Love it. Mungkin, so far, inilah sampul novel metropop terfavorit saya. Bahkan saya membeli novel ini secara impulsif adalah karena sampulnya. Ditambah judulnya yang secara subjektif sangat provokatif pada saya (me: love Jane Austen!), maka sampul buku ini sangat pas bagi saya. Perfect! Menyebut Jane Austen pasti langsung merujuk pada sastra klasik yang merujuk lagi pada buku sehingga pemilihan setumpuk buku cetakan lama di atas meja dan kacamata baca sudah sangat sempurna untuk mendeskripsikan seorang Jane Austen.

source: observer.com

Meskipun kalau boleh meminta sih, lebih oke lagi jika buku yang dijadikan sampul tersebut buku-buku Jane Austen langsung, tapi mungkin akan panjang soal urusan hak ciptanya yaa... hmm, for me, elemen-elemennya dapet banget lah! Posisi dibuat landscape dengan pemilihan font untuk menulis judul dan nama penulis sangat elegan. Sekali lagi, semuanya pas. Ditambah sampul belakang bukan berisi endorsment melainkan sinopsisnya menjadikan satu bintang saya sematkan untuk sampul buku ini. bagus!

Karakter
Awalnya saya merasa sulit sekali membedakan karakter Emma dan Meri. Meskipun dengan bantuan deskripsi kepribadian masing-masing namun masih saja saya merasakan tipisnya perbedaan karakter antara dua tokoh ini. Apalagi cara bertutur mereka pun hampir tak berbeda. Untung saja, plot yang disiapkan untuk keduanya berjalan dengan baik sehingga lambat laun saya mulai dapat mengenali keduanya. Sedangkan pada Lisa, sejak awal saya sudah bisa memvisualisasinya karena penggambaran diri, lingkungan, dan pergaulannya sangat memadai. Untuk karakter sang Mama memberi kesan tersendiri, meskipun tak banyak. Tapi, karena semua pusaran konflik juga adalah campur tangannya, maka karakter sang Mama tentu saja menjadi tokoh kunci.

Yang justru tidak terekspos adalah karakter si Bapak. Saya masih menimbang-nimbang apakah ini bagus apa tidak. Pada suatu saat, saya ingin ada sentuhan laki-laki dalam penentuan nasib ketiga perempuan itu, namun sosok Bapak Atmo hanya tersebut sekilas saja. Hampir bisa saya bilang, novel ini 99% adalah tentang perempuan. Perempuan yang membantu perempuan. Tak apa sih, hanya saja sebagai seorang lelaki, terkadang saya juga ingin melihat bagaimana laki-laki menempatkan diri pada masalah seperti ini. Namun demikian, hal tersebut tak mengurangi kenikmatan saya menyelami tiap-tiap karakter yang diciptakan oleh Prima Santika. Satu bintang untuk departemen karakter.

Cerita
Dari judulnya saja, pasti sudah tertebak ini tentang apa. Ya, pada akhirnya ini memang tentang tiga pernikahan dan Jane Austen. Ada yang sudah menamatkan keenam novel Jane Austen? Jika sudah, apakah Anda juga mendapatkan kesan bahwa meskipun menempuh jalan berliku yang terjal pada keseluruhan novelnya berakhir dengan pernikahan? Saya sudah mengoleksi versi Penguin Classic, hanya IDR 30k per buahnya, tetapi belum satu pun saya baca, sehingga saya tak bisa ikut menyimpulkan. Simpulan tersebut saya dapatkan dari cerita Mama ketika menasihati ketiga putrinya.

Dengan ending yang sudah tertebak, maka kekuatan cerita dari novel ini bertumpu pada bagaimana proses yang harus ditempuh ketiga karakter perempuan tersebut dalam menemukan tambatan hatinya. Siapakah yang menjadi Frank Churchill bagi Emma, John Willoughby bagi Meri, dan Fitzwilliam Darcy bagi Lisa? Baca sendiri ya... dan, hey, meskipun berakhir bahagia, proses menuju kepada kebahagiaan itu tidak lantas semulus jalan tol (eh, jalan tol pun udah banyak yang lobang juga, ya? Udah gak mulus-mulus amat). Berapa banyak lelaki yang keluar-masuk ke bilik hati masing-masing sebelum ketiganya dengan bulir air mata menjawab, “I will,” ketika para lelaki pilihan hati mereka bertanya, “Will you marry me?”

Untuk mengetahui sedalam apa Jane Austen memengaruhi cerita novel karya Prima ini, rasa-rasanya saya memang harus segera membaca koleksi novel-novel Jane Austen ini. Kesan yang saya dapat ketika menyelesaikan baca novel ini hampir sama ketika saya selesai menonton film The Jane Austen Book Club (film adaptasi dari novel berjudul sama karya Karen Joy Fowler) yang juga menghubungkan kehidupan para tokohnya dengan novel-novel Jane Austen. Saya suka. Saya puas. Maka, satu bintang saya tambahkan dari segi cerita.



Setting dan kelengkapan cerita
Bayangin saja, romantisme cinta ketiganya mengalir dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan London. Dan, pantai Bali tetap membuat saya penasaran (belum pernah ke Bali, hikz). Pergantian lokasinya smooth sekali dan sangat mendukung pergeseran hati masing-masing karakternya. Tidak semua karakter di tempat itu, tapi tiap lokasi penting dan tak bisa dipisahkan dari jalan cinta mereka. Properti Jane Austen benar-benar mendominasi jalannya cerita. Jangan bosan jika sampai pada penggalan-penggalan panjang retelling yang disampaikan beberapa tokoh di buku ini atas novel Jane Austen. Memang jadi susah jika kamu tidak begitu menyukai Jane Austen karena nama Jane bertebaran hampir di banyak halaman. Tapi, cobalah meneruskan baca sampai tuntas, dan kamu akan mendapat sensasi kejut yang tak biasa di ending-nya. Eh? Bukannya ending-nya sudah tertebak? Iya, tapi perjalanan menuju ending itu ternyata yang... ehmm... menarik! Tak terduga.

Untuk beberapa hal plot-nya membingungkan. Dengan point of view (PoV) orang pertama untuk karakter Mama dan tiga putrinya, saya harus ekstra keras berkonsentrasi agar tidak lupa, karena adegan tidak dibuat saling melanjutkan, melainkan dimulai lagi dari titik awal masing-masing tokoh. Misalnya ketika Meri dan Lisa ada dalam satu adegan di mana PoV saat itu ada di posisi Meri, nanti pas di bagian penceritaan PoV pada Lisa, cerita akan diputar balik dari sebelum terjadinya adegan Meri dan Lisa, sehingga runutan kisah harus dicari-cari lagi sampai ketemu adegan yang sesuai. Ditambah lagi keputusan teknis cetakan yang tak lazim (hampir seluruh dialog dicetak italic/miring), saya jadi tersendat-sendat menikmati alur ceritanya.

Ini novel metropop, tapi hampir tidak ada branded things yang disebutkan di sini. Ingar-bingar dunia malam yang biasanya ada, juga syukurlah tidak ada. Palingan hanya setting Hard Rock Cafe Bali, tapi itu pun tak lantas disertai detail hedonisme. Saya suka. Banget! Udah mulai bosen novel yang isinya free sex, drug, alkohol mulu. Satu bintang untuk setting dan kelengkapan ceritanya.

Teknis cetakan
As usual, berikut adalah laporan temuan typo yang ada di novel ini:
(hlm. 29) mempengaruhi = memengaruhi
(hlm. 39) ckup = cukup
(hlm. 45) memperjuangakan = memperjuangkan
(hlm. 71) berterbangan = beterbangan
(hlm. 72) tomboi, tomboy = inkonsistensi penulisan
(hlm. 75) prosentasenya = persentasenya
(hlm. 76) kepimpinan = kepemimpinan
(hlm. 89) koleksinya filmnya = koleksi filmnya
(hlm. 92) bersahabat karibnya = bersahabat karib
(hlm. 94) presss conference = press conference
(hlm. 96) laki-laki-laki-laki = jadi yang ini maksudnya apa? Lelaki-lelaki? Tapi jadi nggak bagus jika menggunakan frase laki-laki diulang dua kali, lihat saja jadinya = laki-laki-laki-laki. Nggak banget!
(hlm. 113) oleng,lalu lari = kurang spasi setelah tanda baca koma (,)
(hlm. 127) Jamie Collum = Jamie Cullum
(hlm. 143) Pejalanan = Perjalanan
(hlm. 147) teritimidasi = terintimidasi
(hlm. 149) dipungkiri = dimungkiri
(hlm. 151) pengatenan = pengantenan
(hlm. 173) Krina = Krisna
(hlm. 173) mggak = nggak
(hlm. 176) drektur = direktur
(hlm. 185) coklat = cokelat
(hlm. 249) interfensi = intervensi
(hlm. 260) di tinggal = ditinggal (digabung)
(hlm. 261) k ambil = kuambil
(hlm. 303, 322) ke tujuh, ketujuh = inkonsistensi penulisan
(hlm. 313) pelaksanannya = pelaksanaannya
(hlm. 337) sesesering = sesering
(hlm. 338) mengkonfirmasi = mengonfirmasi
(hlm. 341) dis ini = di sini
(hlm. 362) terpercaya = tepercaya
(hlm. 374) I’m ini this business = I’m in this business
(hlm. 377) Akuluar biasa = Aku luar biasa
(hlm. 378) Kuhentikan langkah dan menundukkan = Kuhentikan langkah dan menunduk = Kuhentikan langkah dan menundukkan kepala
(hlm. 387) Yang pasti dia maaf aku dan ngajak = Yang pasti dia maafin aku dan ngajak
(hlm. 409) kwain = kawin
(hlm. 411) kuungkiri = kumungkiri
(hlm. 414) semakin banyak banyak penghalangnya = pengulangan kata banyak
(hlm. 420) melihatya = melihatnya
(hlm. 420) ber kontak = berkontak
(hlm. 435) mengelilingnya = mengelilinginya
(hlm. 439) ungkiri = mungkiri
(hlm. 441) Di Emma = Dik Emma
Selain sederet typo tersebut, masih ada kesalahan teknis lain yang membuat saya selalu mengernyit. Salah satunya adalah inkonsistensi cetakan italic untuk keseluruhan bahasa dialognya, di mana terkadang ada juga dialog yang tidak dibuat italic. Saya sih tak suka dengan cetakan italic ini. Secara kan sudah ada tanda petik (“) yang mengindikasikan itu kalimat interaktif. Mungkin saya memang pria tradisional yang lebih suka pada pakem resmi, ya? Hehehe.

Kemudian ada juga kalimat ambigu yang sampai dengan saat saya membuat reviu ini, saya tetap tak bisa menafsirkan apa maksudnya:
Sepengetahuan Ibu, dia masih mencintai Nak Bimo tidak mendapat maaf.

Novel Ibunda dan Jane Austen ini buku pertamanya (hlm: Tentang Pengarang).
Uhmmm... apakah ini judul awal sebelum diubah dalam proses pengeditan? Yang jelas, ini fatal, mengingat yang terbit berbeda judulnya dengan yang disebutkan sebagai novel debutan Prima Santika, dan tidak disertakan keterangan soal pergantian judul tersebut.
Tapiii... saya juga suka pada banyak sekali bagian dari novel ini, salah satunya adalah yang ini (hlm. 285):
MENIKAH
Mengapa orang menikah?
Seperti tak takut menderita, tak jera meski bercerai...
Mengapa harus takut menikah?
Semua orang melakukannya, mestinya tak sulit dicapai...

Apa yang kucari dari menikah?
Aku tak mau sendiri di hari tua nanti...
Apa yang terjadi setelah menikah?
Aku tak tau, tak ada yang tau, tapi hidup kadang menuntut untuk berani...
Oiya, novel ini juga seru karena setiap pergantian cerita masing-masing tokoh diberikan jeda semacam puisi dan kutipan-kutipan dari novel-novel Jane Austen yang dihubungkan dengan kondisi yang dialami oleh para tokohnya. Novel ini tersusun atas prolog, dua bagian, sembilan bab, dan epilog. Beberapa judul babnya disesuaikan dengan judul novel Jane Austen. Interesting.

Dengan begitu banyaknya cacat cetak, maka dengan terpaksa saya tidak memberikan bintang di bagian teknis cetakan.

Kesimpulan
Saya suka novel ini. secara keseluruhan empat bintang untuk novel debut cak Prima Santika, arek Suroboyo yang lahir tanggal 14 Maret 1974 ini. Thank you sudah menafsirkan novel-novel Jane Austen ke dalam sebuah novel yang indah ini. Berkat novel Anda, saya makin tak sabar membaca koleksi novel Jane Austen yang saya punya.

Dari sisi pribadi, novel ini berhasil menyentuh relung terdalam saya. Tentang Ibu saya. Tentang umur saya yang tak lagi muda. Tentang saya yang masih juga melajang. Meskipun saya lelaki, tetap saja, terkadang ada juga sebersit rasa getir akibat kesendirian ini mendera saya. Mom, I miss you... SO MUCH! I wish you were here... membimbing saya menemukan belahan jiwa yang masih belum saya tahu di mana dia berada. I need your help, mom.

Selamat membaca, kawan!