Showing posts with label Writer: Ika Natassa. Show all posts
Showing posts with label Writer: Ika Natassa. Show all posts

Wednesday, February 1, 2012

[Buku Baru] Twivortiare by Ika Natassa

Whoaaaaaaaa....it's finally arrived on my shelf. I've been waiting for it since I ordered it a couple days ago. Thank GOD. Thank @ikanatassa and @nulisbuku. Jadi, karena novelnya sudah sampe, mari kita singkirkan yang lainnya dan kita baca yang ini, haghaghaghag....:)

By the way, tambahan koleksi nggak hanya Twivortiare ini. Hari ini saya juga sempat berkunjung ke Gramedia Plaza Semanggi and heard the news that there are not Book Lover's Time anymore yang biasanya Gramedia suka ngasih diskon untill 20% untuk buku-buku terbitan KPG, kerja bareng Bank BCA. Yahhhhh.... padahal seru ya, the whole years, we have a chance to get 10% discount. Semoga di waktu ke depan, masih ada kerja sama seperti ini lagi. #Ameen

Oke, ini dia penampakan buku baru yang ngendon di lemari buku saya. Silakan dilirik. Oh, yang dua di belakang itu buku obral, each @Rp10.000




Mari membaca....:)

Tuesday, January 17, 2012

[Book Event] Kuis A Very Yuppy Dinner with Ika Natassa

WAW! WAW! WAW! Seru banget nih kalo bisa menang. Pengen banget bisa kepilih. Tapi kalo saya sih, pengen ketemu saja sih, jadi kalo nggak kepilih kira-kira boleh nungguin di luar nggak, ya, terus mau nanya-nanya dikit gitu? Plus minta tanda-tangan? Plus lagi foto-foto gitu? Hikz, pengen banget. #muka.melazt




Oke, bagi kalian yang mau ikutan kuisnya masih berlangsung kok (sampai dengan besok, Rabu, 18 Januari 2012, pkl. 15.00 WIB), yang jelas kamu harus punya akun twitter untuk bisa ikutan. Eh, tau juga sih, apakah ada media sosial lain yang digunakan @Gramedia untuk ngadain kuis ini. Tapi, khusus yang di twitter, caranya adalah seperti yang saya capture dari RT tweet-nya @Gramedia berikut ini:


Saturday, January 14, 2012

[Book News] Ika Natassa Segera Terbitkan Twivortiare (Sequel Divortiare)

Saya memang tidak mendapat kesan mendalam pada novel Divortiare. Entahlah, saya yang sedang tidak mood baca atau bagaimana, ketika banyak pembaca memuji novel itu, saya justru tak bisa melepaskan jerat pesona A Very Yuppy Wedding yang malah masih dianggap biasa oleh pembaca yang lain. Ugh, apa yang salah pada saya? Mengapa rasa saya berbeda dengan kebanyakan?


Saya sih..., cuek. Ya, mau bagaimana. Saya memang kurang mendapat rasa pada novel itu. Namun demikian, saya tak akan menolak untuk mengoleksi novel apa pun karya Ika Natassa. Sudah nge-fans sih...hehehe. Termasuk novel Twivortiare yang desas-desusnya disebutkan sebagai sequel dari Divortiare. Serius? Tahu dari mana?

Di twitter sih baru-baru ini, Ika membahasnya, tapi saat ini twitternya di-protect. Lha, kenapa? I dunno! Saya juga nggak mengikuti secara intensif, karena saya memang baru aja tahu. Lalu saya mencoba berseluncur dengan bantuan oom Google. Dan ini beberapa blogger yang membahas tentang Twivortiare:

Lagi-lagi, Ika Natassa membuat gue gemas dengan ending ceritanya. Rasanya seperti masih ada yang menggantung walaupun sudah terbayang di kepala gue siapa pemilik hati Alexandra yang sebenarnya. Untung saja menurut kabar terpercaya, Twivortiare, novel yang berisi lanjutan cerita hidupnya Alexandra , bakal segera terbit tahun 2012.

Ceritanya based on sebuah akun fiksi twitter @alexandrarheaw, dimana seolah-olah Alexandra sendiri yang mentwit tentang kelanjutan hidupnya sehari-harinya setelah Divortiare. Jangan tanya gue yaa ini beneran Alex yang ngetwit atau ada adminnya khusus, itu sih tanya aja dah langsung sama penulisnya. Hehee..

Yang pasti, i enjoy Alex’s tweets everyday dan nggak sabar nunggu Twivortiare, karena gue juga sebenarnya nggak mengikuti akun twitter ini dari awal.

So, my friend, sebelum Twivortiare beneran terbit dan lo terhanyut sama cerita hidupnya Alex, ada bagusnya lo baca Divortiare dulu dari sekarang. Bahkan ada nggak ada-nya Twivortiare, i’ll just recomend you to buy and read Divortiare. It’s a very super nice story, you know... ;)
diposting oleh aci_harkina di punyaharkina.blogspot.com



Oh iya, yang bikin saya berlipat – lipat gemas dan nggak sabar adalah karena Ika akan melanjutkan kisah Alex – Beno ini dalam sekuelnya, Twivortiare, yang akan terbit tahun depan. Akankah Alex dan Beno kembali bersama dengan konsep hubungan yang lebih baik? Atau justru menemukan jalan bahagianya masing – masing.

So, jangan sampai melewatkan Twivortiare juga. Sering – sering ngecek daftar rilis buku baru, yah!
diposting oleh @hubsche_petty di hubschepetty.blogspot.com



Sayangnya, buku ini ga memberikan kalian ending seperti yang diharapkan. But, don't worry.. Ika Natassa udah mempersiapkan buku keempatnya yaitu Twivortiare yang isinya adalah tweets dari Alexandra mengenai kelanjutan hubungan mereka. Dan kalo gw lihat, they're starting over.. Account twitternya ada, tapi diprotect. Sayang sekali. Dan akibat membaca divortiare ini, gw ga sabar menunggu Twivortiare terbit buat menjawab pertanyaan Alex, yaitu "can you love and hate someone so much at the same time?".

What do you think?? ;)
diposting oleh silph05 di sunshinesharelove.blogspot.com

 
So, mari ditunggu saja. Kabarnya sih bakal ada pre-ordernya.

Thursday, December 15, 2011

Resensi Novel Metropop: Antologi Rasa by Ika Natassa

Mengapa cinta harus serumit ini, sih??
Read on August 25, 2011
Rate: 4 out of 5 star



Denise:
Aku bahagia dengan persahabatan kita, Ruly, Keara, Harris!
Ruly:
Aku akan selalu memimpikanmu untuk menjadi istriku, Denise.
Keara:
Gue musti apa untuk mendapatkan cinta lo, Ruly?
Harris:
Gue akan ngelakuin apa aja buat lo, Keara, asal lo jadi milik gue.

Wahhhh, selain menunggu terbitnya lagi novel fiksi karya Alberthiene Endah, menunggu tulisan paling anyar dari Ika Natassa adalah penantian terpanjangku sebagai penikmat lini metropop. Sejak tergila-gila pada A Very Yuppy Wedding (AVYW) dan terpikat ketika membaca Divortiare, aku selalu berharap penulis yang adalah bankir ini dapat menerbitkan novel fiksinya secara reguler. Tiap bulan, maybe? #ngarep.

Dan, penantian panjang itu berakhir dengan terbitnya novel metropop terbaru Ika bertajuk Antologi Rasa (AR). Ketika kali pertama tahu tentang buku ini dari newsletter yang dikirim Gramedia by email, kupikir bentuknya adalah kumpulan cerita (terkait judulnya yang menggunakan kata antologi). Sudah ketar-ketir aja, secara aku agak kurang bisa menikmati kumcer, recently. Thank GOD, it’s a novel!
 
AR mengalir dalam irama khas Ika Natassa. Gaya menulisnya yang telah menyihirku sejak AVYW masih terasa di AR ini. Sinis, sarkastis, terkadang hiperbolis, dan tak jarang komikal-kocak (terutama dialog-dialog vulgar menjurus mesumnya, hehehe), membuatku enggan untuk meletakkan buku ini sebelum benar-benar tuntas terbaca. Oke, nggak langsung habis dalam hitungan jam, namun selesai dalam sehari masih terbilang cukup cepat buatku. Ugh, adiktif bener lah tulisan si mbak satu ini. Buatku, paling tidak.

Soal ceritanya sih, bukan barang baru. Novel ini “hanya” me-repackage kisah cinta bersegi biasa dalam kemasan baru. Yang bikin beda, tentu saja sentuhan khas Ika dan bumbu penyedap racikannya yang bikin segar konflik-konfliknya. Ini “cuma” cerita 4 orang sahabat yang terjebak dalam hubungan persahabatan yang dipenuhi letupan-letupan asmara rahasia di antara mereka. Tambahkan setting kota besar, barang bermerek, dan event mewah ber-budget nggak masuk akal, maka novel ini memang stereotip metropop kebanyakan. Bagi yang nggak suka lini metropop, ornamen inilah yang membuat kebanyakan dari mereka mencibir. Penting gitu, ngebahas branded things? Hahaha, gue sih fun-fun aja. Secara nggak bakal juga kebeli tuh barang-barang. Nyante aja, man!

Oke, untuk segmen tertentu, novel ini akan dengan mudah disukai. Pertama, pembacanya harus menguasai bahasa Inggris minimal secara pasif, karena cukup banyak kisahnya yang ditulis dalam bahasa bule itu. Kedua, pembacanya harus open-minded. Jangan kayak gue yang kolot gini. Baca bagian di mana para tokohnya minum alkohol kayak minum aer saja aku sudah nggak tahan pengen ngehujat. So, anggap saja lah ini memang realitas bunga-bunga sosialita Jakarta. Jangan lagi merasa aneh jika di sebagian kisah yang lain, seseorang ML sesering ia ganti celana dalam tanpa ikatan pernikahan, free sex. Sudah jelas, novel ini bakal masuk kategori “amoral” jika membacanya sembari mengingat aplikasi keagamaan. Jadi, bacalah dengan pikiran terbuka dan yah...sekadar membaca, just for fun, jus for laugh (jadi inget Tukul). Ketiga, ya soal background tokoh-tokohnya yang sudah so f*cking perfect, tajir pula. Sinetron banget, kan? Siap-siap merasa hina deh bagi peminder sejati (like me, huhuhu). Nggak ada deh tuh tokoh hidung pesek, gigi tonggos, atau melarat yang bakal beruntung dapat porsi di novel ini. Namun, khusus untuk yang ketiga ini, aku sih udah nggak gitu-gitu peduli. Oleh sebabnya, seseorang pernah bilang, “kasian pembacanya donk kalo di cerita aja masih harus baca tokoh jelek dan kere, secara di dunia nyata sudah miserable,” maksudnya hidup di dunia sudah susah, ya biar saja lah pengarang memanjakan pembacanya dengan yang indah-indah, dengan fantasi kelas tinggi. And, I must agree with that.

Tak seperti AVYW yang tak kulewatkan satu tanda baca pun, pada AR ada beberapa part yang aku lompati karena hanya berupa pengulangan dari statement masing-masing tokohnya. Ada Ruly yang dari satu bab ke bab lain terus saja bermimpi hidup berdampingan dengan Denise. Atau Harris yang terus menerus memuja Keara. Entah ini kategori bagus atau jelek, aku melewati part itu gegara geregetan pengen tau gimana ending-nya sebenarnya. Dan, about the ending? Aku suka bab terakhir, meskipun jalan menuju bab terakhir, yang melibatkan proses “8 month later” itu, duhh, kok ya kayak gitu ya. Nggak rela banget, perjuangan sebegitu dramatisnya, diakhiri hanya dengan begitu? #huhuhu

Gaya mendongeng Ika yang maju-mundur perlu mendapat kecermatan tersendiri, agar plotnya tetap logis dan kronologis. Awalnya aku ingin secara khusus peduli pada pergantian waktu yang di-manage oleh si pengarang. Namun, akhirnya kuabaikan saja soal perhitungan waktu itu. Bodo amat deh, nikmati aja lah jalan ceritanya. Soal lain yang aku suka dari Ika adalah kepiawaiannya untuk menguraikan hal-hal umum keseharian sebelum membawanya ke kehidupan para tokohnya. Analogi-analoginya juga masuk banget.

Yang lucu adalah sehabis aku menyelesaikan Waiting for You-nya Susane Colasanti yang John Mayer banget, lha kok...novel ini juga nggak kalah John Mayer-nya. Widihh, ada apa sih dengan John Mayer ini. Sekeren itu kah male soloist satu ini? Apa aku perlu menghayati lagu-lagu John Mayer (atau malah belajar gitar kayak doi) biar ada cewek yang klepek-klepek? #eh malah curcol. Huff!

My favorit line, yang bisa aku pakai kalau lagi suntuk di kantor dan terkadang pengen loncat dari lantai 20 gedung kantorku:
“Bodoh banget memang gue ya lama-lama, nonstop mengeluh tentang kantor ini, tapi tetap aja kerja di sini sepenuh hati. Yeah, sepenuh hati my ass.”
Sedangkan sedikit rasa penasaran pada:
1. Berapa kemungkinan dua orang yang berbeda memiliki fantasi pada satu tokoh yang sama? Keara yang paranoid ketemu Hannibal Lecter di kereta dan Harris yang berfantasi menjadi santapan Hannibal Lecter (hlm: 323). No biggie lah ya, hanya saja, jelas terlihat bahwa si pengarang masih terlibat di sini, bukan si tokoh yang bercerita, padahal PoV yang digunakan orang pertama.
2. Just a silly question, di pesawat (penerbangan internasional) masih boleh gitu ya nyalain BB? (hlm: 226)

Yang bikin kesel, pada awalnya, adalah para tokohnya yang pemuja kebebasan ini, kok ya masih terjebak pada ketakutan untuk menghancurkan persahabatan jika dua orang yang bersahabat terlibat dalam hubungan cinta? Apa susahnya sih ngomong, I love you? #halah gue aja nggak berani kok bilang itu ke inceran gue. #eaaa Tapi, ya, ini juga stereotip novel metropop, ya? ML oke, tapi ngaku cinta aja cemen. So, let it be. Hahaha.

Selamat membaca, kawan!