Showing posts with label Novel: Dewasa. Show all posts
Showing posts with label Novel: Dewasa. Show all posts

Monday, January 30, 2012

[Resensi Novel Dewasa] Unforgettable by Winna Efendi

Apalah arti sebuah nama...
Read from January 29 to 29, 2012
Rating: 4 out of 5 star


Judul: Unforgettable
Penulis: Winna Efendi
Editor: Rayina
Proofreader: Gita Romadhona
Penata letak: Wahyu Suwarni
Pewajah Sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Tebal: viii + 172 hlm
Harga: Rp48.000
Rilis: Januari 2012 (cet. Ke-1)
ISBN: 978-979-780-541-8

Summary
Dua orang tak tersebutkan namanya dipertemukan oleh satu pandangan pertama yang disertai sebuah senyuman singkat, di dalam kedai wine. Si perempuan adalah seorang penulis yang melanjutkan mimpi menerbitkan buku dari cinta masa kecilnya, yang selalu terkenang sang Ayah, tinggal berdua saja dengan kakak lelakinya dan membuka kedai wine Muse, serta selalu bersembunyi dari hiruk pikuk dunia glamor perbukuan. Sekali pun buku-bukunya laris di pasaran, perempuan itu menikmati menjadi tak kasatmata bagi siapa pun. Kecuali pada lelaki itu, ia ingin dilihat oleh laki-laki itu.

Dan lelaki itu memang melihatnya. Seorang eksekutif muda yang pada suatu kesempatan memutuskan mampir ke kedai wine Muse dan menjadi pengunjung tetap. Lelaki itu adalah lelaki yang harus melupakan cita-cita masa kecilnya demi menjadi seorang laki-laki dewasa yang bertanggung jawab. Maka, ia menjadi pria yang tak pernah berbagi rahasia perasaannya. Lelaki yang harus menuruti orangtuanya untuk menjalin hubungan dengan gadis yang dijodohkan padanya. Sampai ia bertemu dengan perempuan itu. Perempuan yang berbeda dari perempuan kebanyakan. Perempuan tempatnya bercerita tentang segala rahasianya.

Maka dua orang yang memulai segalanya tanpa perlu mempertanyakan nama masing-masing ini akhirnya saling berbagi rahasia diseling segelas wine tiap malamnya hingga si lelaki beranjak dari kedai wine. Simaklah bagaimana curahan hati dua orang itu dalam novel terbaru karya Winna Efendi bertajuk Unforgettable ini.

Saya mendapatkan novel ini dalam paket partisipasi pada acara Unforgettable Moment: Meet and Greet with Winna Efendi, yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 28 Januari 2012, pkl. 13.00 s.d. 14.30 WIB, di The U Cafe. Ini menjadi pengalaman pertama saya berjumpa dengan Winna Efendi yang beberapa karyanya saya gemari. Favorit saya adalah Unbeliveable (salah satu dari seri Glam Girls – Gagas Media)


Dan, Unforgettable demikian berbeda dengan beberapa karya Winna sebelumnya yang sudah saya baca. Oh, dari teknik penulisan sih tidak jauh berbeda. Tetap dengan kehadiran begitu banyak quotes keren dan diksi yang mengagumkan. Unforgettable dibungkus dengan balutan kisah sederhana yang tidak mudah untuk dilupakan. So unforgettable! Yang membedakannya dengan novel Winna yang lain adalah eksplorasi yang begitu dalam akan perasaan seseorang. Banyak sekali pertanyaan, gagasan, ide, kekhawatiran, ketakutan, yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk berkontemplasi.

Awalnya saya mengernyit. Haduhh, this book is not my type, seriously. Saya adalah seorang pembaca tradisional yang memuja comfort zone dan kelaziman, jadi ketika dialog dan narasi hanya dibedakan dari huruf miring/tidak miring, saya langsung memasang kuda-kuda untuk membaca lebih saksama. Dan, memang benar, saya harus membaca lebih teliti. Itu bagus sih, karena dengan demikian saya membaca lebih lambat sehingga dapat meresapi setiap kata-dan-kalimatnya. Yang bisa saya bilang, tiap kalimatnya sayang untuk dilewatkan karena saya khawatir akan terpeleset membaca keseluruhan pesan novel ini. Dan, gagal mencapai tujuan akhir yang seharusnya.

Sedikit mengulik behind the scene pembuatan novel ini, sebagaimana dituturkan oleh Winna, bahwa novel ini awalnya adalah sebuah novelette yang merupakan bagian dari karya bersama dua orang teman lainnya di komunitas kemudian.com. Naskah mulai ditulis Winna tahun 2007 hingga 2008 dan [mungkin] dikembangkan lagi sebelum naik cetak karena novel ini pun update dengan kondisi kekinian. Sejak dulu, Winna berkeinginan untuk menulis novel tentang wine, dan ia pun telah melakukan banyak riset dengan membaca buku-buku tentang wine, namun Winna tetap merasa bahwa yang dituangkannya di novel ini belum optimal. Ditambah lagi, ia yang tak terlalu bisa meminum alkohol menjadikan Winna tak mencicip langsung wine yang dibahasnya di novel ini.

And, you know what? Bagi saya yang tak paham soal per-wine-an, I don’t see that. Saya merasa cukup dengan penjelasan Winna. Tiap chapter berjudul salah satu jenis wine serta dilengkapi kutipan yang di dalamnya ada kata wine atau kata lain yang terkait dengan wine, untuk kemudian diberikan sedikit gambaran tentang wine itu dalam narasi dan percakapan dua tokoh rekaan Winna dalam masing-masing bab. Bagi saya, takarannya itu pas, tak kurang-tak lebih.

Kembali ke cerita. Novel ini memberikan inspirasi bagi saya yang selalu sulit mencari bahan perbincangan. Ahh, jadi seandainya saya berjumpa kawan baru, saya bisa menyontek beberapa topik bahasan di novel ini sebagai peletup impresi awal pertemuan. Saya terhanyut oleh pembicaraan yang dilakukan si perempuan dan si lelaki tak bernama. Keduanya bagai menemukan kepingan puzzle untuk melengkapi misteri masing-masing. Serupa menemukan teman diskusi untuk membicarakan apa saja. Tanpa batas. Tanpa keraguan. Tanpa takut akan ditertawakan atau terhinakan. Mereka menyatu dalam keterasingan. Mereka berteman karena menemukan kenyamanan.
Seandainya saja kita sudah saling mengenal sebelumnya, mungkin ada batasan-batasan yang membuat topik menjadi tabu untuk dibahas. (hlm. 119-120)
Tetap saja, mereka ini lelaki dan perempuan. Dan, ketika kenyamanan telah mendamaikan hati masing-masing maka seperti kata Harry pada Sally dalam film When Harry Met Sally, perempuan dan laki-laki tak akan pernah bisa berteman tanpa tendensi untuk saling meletupkan api asmara. Pada akhirnya, mereka mengakuinya. Meski tak terucap jelas, hanya terselip dalam bisikan samar, kata “cinta” itu pun tersampaikan pada masing-masing.

Novel ini tipis sekali, dipotong beberapa lembar kosong pembatas antar chapter, menjadikan novel ini bisa dilahap dalam sekali duduk saja. Dan, dikarenakan banyak sekali quotes di novel ini, saya sampai kesulitan memilih bagian mana yang paling saya suka. Semuanya bagus. Semuanya membawa makna yang demikian dalam bagi saya. Apalagi kata di pengujung novel ini:
Dan mereka hanyalah dua orang yang tak saling mengenal.
Kebetulan bertemu di suatu tempat, pada suatu titik waktu;
masing-masing menggenggam ujung seutas benang merah.
Mungkin yang ingin saya pertanyakan hanya adegan di halaman 105, “...mengenai kasus yang tak kunjung selesai di kantor, keluhan yang berada di ujung lidah, dan Zinfandel yang entah mengapa terasa terlalu pahit,...” di sini, saya merasa ini bagian dari pemikiran/situasi si lelaki. Nah, seharusnya wine yang diminum si lelaki itu jenis Cabernet, sedangkan Zinfandel adalah minuman si perempuan. Apa lagi, tak ada keterangan bahwa si lelaki meminta mencicip Zinfandel atau mengganti minumannya karena di bagian selanjutnya si lelaki tetap menyesap gelas wine jenis Cabernet. Hanya minor dan sekadar penasaran saja sih. Dan kata “teracuhkan” di halaman 145 mungkin seharusnya “tak teracuhkan” yang berarti “terabaikan,” jika dikaitkan dengan konteks kalimatnya.

Overall, saya suka novel ini. Berharap sih novelnya lebih tebal sehingga cerita memiliki plot yang lebih kaya. Oh, jangan khawatir, di pengujung cerita, akhirnya akan diungkap siapa nama kedua tokoh kita yang tercinta ini. Jadi, bacalah hingga akhir.

4 bintang untuk kenikmatan yang saya rasakan ketika menelusuri kata demi kata dalam novel ini. I love your words, Winna!


Selamat membaca, kawan!

Thursday, December 15, 2011

Resensi Novel Metropop: Antologi Rasa by Ika Natassa

Mengapa cinta harus serumit ini, sih??
Read on August 25, 2011
Rate: 4 out of 5 star



Denise:
Aku bahagia dengan persahabatan kita, Ruly, Keara, Harris!
Ruly:
Aku akan selalu memimpikanmu untuk menjadi istriku, Denise.
Keara:
Gue musti apa untuk mendapatkan cinta lo, Ruly?
Harris:
Gue akan ngelakuin apa aja buat lo, Keara, asal lo jadi milik gue.

Wahhhh, selain menunggu terbitnya lagi novel fiksi karya Alberthiene Endah, menunggu tulisan paling anyar dari Ika Natassa adalah penantian terpanjangku sebagai penikmat lini metropop. Sejak tergila-gila pada A Very Yuppy Wedding (AVYW) dan terpikat ketika membaca Divortiare, aku selalu berharap penulis yang adalah bankir ini dapat menerbitkan novel fiksinya secara reguler. Tiap bulan, maybe? #ngarep.

Dan, penantian panjang itu berakhir dengan terbitnya novel metropop terbaru Ika bertajuk Antologi Rasa (AR). Ketika kali pertama tahu tentang buku ini dari newsletter yang dikirim Gramedia by email, kupikir bentuknya adalah kumpulan cerita (terkait judulnya yang menggunakan kata antologi). Sudah ketar-ketir aja, secara aku agak kurang bisa menikmati kumcer, recently. Thank GOD, it’s a novel!
 
AR mengalir dalam irama khas Ika Natassa. Gaya menulisnya yang telah menyihirku sejak AVYW masih terasa di AR ini. Sinis, sarkastis, terkadang hiperbolis, dan tak jarang komikal-kocak (terutama dialog-dialog vulgar menjurus mesumnya, hehehe), membuatku enggan untuk meletakkan buku ini sebelum benar-benar tuntas terbaca. Oke, nggak langsung habis dalam hitungan jam, namun selesai dalam sehari masih terbilang cukup cepat buatku. Ugh, adiktif bener lah tulisan si mbak satu ini. Buatku, paling tidak.

Soal ceritanya sih, bukan barang baru. Novel ini “hanya” me-repackage kisah cinta bersegi biasa dalam kemasan baru. Yang bikin beda, tentu saja sentuhan khas Ika dan bumbu penyedap racikannya yang bikin segar konflik-konfliknya. Ini “cuma” cerita 4 orang sahabat yang terjebak dalam hubungan persahabatan yang dipenuhi letupan-letupan asmara rahasia di antara mereka. Tambahkan setting kota besar, barang bermerek, dan event mewah ber-budget nggak masuk akal, maka novel ini memang stereotip metropop kebanyakan. Bagi yang nggak suka lini metropop, ornamen inilah yang membuat kebanyakan dari mereka mencibir. Penting gitu, ngebahas branded things? Hahaha, gue sih fun-fun aja. Secara nggak bakal juga kebeli tuh barang-barang. Nyante aja, man!

Oke, untuk segmen tertentu, novel ini akan dengan mudah disukai. Pertama, pembacanya harus menguasai bahasa Inggris minimal secara pasif, karena cukup banyak kisahnya yang ditulis dalam bahasa bule itu. Kedua, pembacanya harus open-minded. Jangan kayak gue yang kolot gini. Baca bagian di mana para tokohnya minum alkohol kayak minum aer saja aku sudah nggak tahan pengen ngehujat. So, anggap saja lah ini memang realitas bunga-bunga sosialita Jakarta. Jangan lagi merasa aneh jika di sebagian kisah yang lain, seseorang ML sesering ia ganti celana dalam tanpa ikatan pernikahan, free sex. Sudah jelas, novel ini bakal masuk kategori “amoral” jika membacanya sembari mengingat aplikasi keagamaan. Jadi, bacalah dengan pikiran terbuka dan yah...sekadar membaca, just for fun, jus for laugh (jadi inget Tukul). Ketiga, ya soal background tokoh-tokohnya yang sudah so f*cking perfect, tajir pula. Sinetron banget, kan? Siap-siap merasa hina deh bagi peminder sejati (like me, huhuhu). Nggak ada deh tuh tokoh hidung pesek, gigi tonggos, atau melarat yang bakal beruntung dapat porsi di novel ini. Namun, khusus untuk yang ketiga ini, aku sih udah nggak gitu-gitu peduli. Oleh sebabnya, seseorang pernah bilang, “kasian pembacanya donk kalo di cerita aja masih harus baca tokoh jelek dan kere, secara di dunia nyata sudah miserable,” maksudnya hidup di dunia sudah susah, ya biar saja lah pengarang memanjakan pembacanya dengan yang indah-indah, dengan fantasi kelas tinggi. And, I must agree with that.

Tak seperti AVYW yang tak kulewatkan satu tanda baca pun, pada AR ada beberapa part yang aku lompati karena hanya berupa pengulangan dari statement masing-masing tokohnya. Ada Ruly yang dari satu bab ke bab lain terus saja bermimpi hidup berdampingan dengan Denise. Atau Harris yang terus menerus memuja Keara. Entah ini kategori bagus atau jelek, aku melewati part itu gegara geregetan pengen tau gimana ending-nya sebenarnya. Dan, about the ending? Aku suka bab terakhir, meskipun jalan menuju bab terakhir, yang melibatkan proses “8 month later” itu, duhh, kok ya kayak gitu ya. Nggak rela banget, perjuangan sebegitu dramatisnya, diakhiri hanya dengan begitu? #huhuhu

Gaya mendongeng Ika yang maju-mundur perlu mendapat kecermatan tersendiri, agar plotnya tetap logis dan kronologis. Awalnya aku ingin secara khusus peduli pada pergantian waktu yang di-manage oleh si pengarang. Namun, akhirnya kuabaikan saja soal perhitungan waktu itu. Bodo amat deh, nikmati aja lah jalan ceritanya. Soal lain yang aku suka dari Ika adalah kepiawaiannya untuk menguraikan hal-hal umum keseharian sebelum membawanya ke kehidupan para tokohnya. Analogi-analoginya juga masuk banget.

Yang lucu adalah sehabis aku menyelesaikan Waiting for You-nya Susane Colasanti yang John Mayer banget, lha kok...novel ini juga nggak kalah John Mayer-nya. Widihh, ada apa sih dengan John Mayer ini. Sekeren itu kah male soloist satu ini? Apa aku perlu menghayati lagu-lagu John Mayer (atau malah belajar gitar kayak doi) biar ada cewek yang klepek-klepek? #eh malah curcol. Huff!

My favorit line, yang bisa aku pakai kalau lagi suntuk di kantor dan terkadang pengen loncat dari lantai 20 gedung kantorku:
“Bodoh banget memang gue ya lama-lama, nonstop mengeluh tentang kantor ini, tapi tetap aja kerja di sini sepenuh hati. Yeah, sepenuh hati my ass.”
Sedangkan sedikit rasa penasaran pada:
1. Berapa kemungkinan dua orang yang berbeda memiliki fantasi pada satu tokoh yang sama? Keara yang paranoid ketemu Hannibal Lecter di kereta dan Harris yang berfantasi menjadi santapan Hannibal Lecter (hlm: 323). No biggie lah ya, hanya saja, jelas terlihat bahwa si pengarang masih terlibat di sini, bukan si tokoh yang bercerita, padahal PoV yang digunakan orang pertama.
2. Just a silly question, di pesawat (penerbangan internasional) masih boleh gitu ya nyalain BB? (hlm: 226)

Yang bikin kesel, pada awalnya, adalah para tokohnya yang pemuja kebebasan ini, kok ya masih terjebak pada ketakutan untuk menghancurkan persahabatan jika dua orang yang bersahabat terlibat dalam hubungan cinta? Apa susahnya sih ngomong, I love you? #halah gue aja nggak berani kok bilang itu ke inceran gue. #eaaa Tapi, ya, ini juga stereotip novel metropop, ya? ML oke, tapi ngaku cinta aja cemen. So, let it be. Hahaha.

Selamat membaca, kawan! 

Monday, July 13, 2009

Resensi Novel: Mira W - Deviasi

Awas! Jangan-jangan Anda berkepribadian ganda?



Judul: Deviasi
Pengarang: Mira W

Genre: Romantic, Medical background, Semi thriller

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Rilis: April 2005 (cetakan kelima)
Harga: Rp7.500 (sale – Obral Buku Murah)

Tebal: 272 halaman


Saya sempat membaca sekira 2 novel karya Mira W beberapa tahun silam. Saya cukup terpikat dengan gaya bahasa dan konsistensi jalinan cerita yang dibuat oleh novelis yang kondang sepanjang tahun 90-an ini. Namun, kesan bahwa tulisan beliau cenderung “tante-tante” membuat saya sedikit terintimidasi karena saya lelaki. Picik sekali saya. Untung saja, akhirnya saya mampu melepaskan diri dan bersikap santai saja. Be myself. Bias gender tidak akan menghalangi kecintaan saya membaca buku. Semoga saja. Hmm…


Adalah sebuah event Obral Buku Murah Gramedia yang digelar di Pusat Perbelanjaan Hero Pancoran yang membuat saya kembali menyukai hasil tulisan novelis perempuan yang sangat produktif ini (gua gak ngitung dah berapa nopel yang dibikn ama beliau, yang pasti dah banyak sekali deh!). Entahlah, kalau harganya tidak dipangkas (kalo gak salah, normalnya nih harganya sekitaran Rp30-an gitu) apakah saya masih berminat membelinya atau tidak (habis… nopel tipis begini, kecil pula size-nya, kok ya mahal banget yak?!?). Lepas dari masalah banderol harga itu, saya sungguh bersyukur saya mencomot novel ini. Astaga, saya benar-benar terpukau dengan novel ini. As good as usual.

Entah kebetulan atau tidak, tema utama novel ini justru hampir mirip dengan drama seri Amerika berjudul United State of Tara (UST), yang salah satu executive producer-nya adalah Steven Spielberg, yang juga baru saja selesai saya tonton DVD-nya. Siapa yang tidak kenal legenda hidup sutradara populer Hollywood itu. Karya-karyanya selalu berkelas dan mengundang decak kagum. Novel Deviasi dan UST memiliki kesamaan latar belakang tokohnya, yaitu isu gangguan kejiwaan berupa Multiple Identity Disorder (MID) atau Dissociative Identity Disorder (DID), dimana penderitanya dikenal memiliki kepribadian lebih dari satu. Jika di novel karangan Mira tokoh Rivai dideskripsikan memiliki kepribadian lain yaitu Rizal, maka dalam UST, Tara digambarkan memiliki 4 identitas. Dan, baik novel Mira maupun drama seri tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Tentu saja dengan level kelezatan masing-masing.

Untuk sementara, mari membahas novelnya Mira (gua lagi nyoba bikin blog seputar film dan musik di sini, tapi belum diapa-apain, just wait and see). Sinopsisnya saja telah membuat saya langsung tak sabar untuk segera membacanya. Sungguh menggoda. Hahaha... Latar belakang keilmuan Mira yang adalah seorang dokter memang tak bisa dilepaskan hampir di banyak karyanya. Setting rumah sakit, tempat pelayanan kesehatan, hingga profesi maupun keseharian para tokohnya yang tak jauh dari dokter, perawat, bidan, ahli kejiwaan, dan lain sebagainya, menjadi ciri khas yang membedakan tulisan Mira dengan karya novelis lainnya. Bosen? Entahlah, setelah membaca 4 novel beliau, kebosanan tak jua menghampiri saya. Mungkin karena saya yang tidak tahu-menahu soal kesehatan jadi mendapat ilmu baru dengan membaca novel-novel Mira sehingga meskipun beberapa kali diulas, saya masih tetap antusias. (Ah, mo ngaku kalo dulu cita-cita jadi dokter gak kesampean kok ya malu, yakk!?!)

Deviasi hadir dengan kisah yang menawan namun rumit. Kepribadian ganda. Mengejutkan sekaligus membingungkan. Padahal, saya paling benci membaca novel yang ceritanya berputar atau dibuat sedemikian misterius (makanya gua ga seneng baca nopel detektip-detektipan gitu, too complicated for me). Tapi, saya malah mau nambah dan nambah lagi begitu membuka-baca lembar demi lembar novel dengan ketebalan tak lebih dari 300-an halaman ini. (bukan sifaf gua juga, beli nopel yang tipis gini, untung murah, hihihi). Gaya bahasa serta setting khas Mira yang telah saya ketahui dari 2 novel beliau yang saya baca sebelumnya tidak lagi membuat saya “terkejut” sehingga saya langsung enjoy mengikuti alur cerita yang disusunnya.

Setting, tokoh, gaya bahasa, dan alur cerita telah terangkai sempurna. Tidak ada yang perlu dikritik. Yang membuat saya menyukai novel ini adalah, ada saat-saat dimana saya dibuat gemas karena merasa “dipermainkan” oleh Mira dengan kejadian atau keadaan yang diciptakannya. Saya harus mengacungkan kedua jempol saya karena Mira berhasil membuat saya terhanyut pada kisah dalam novel ini. Tak jarang saya memaki (untung kagak keras-keras, ntar dikira gua crazy lagi) atau juga memuji jika tokohnya melakukan atau tidak melakukan apa yang saya ingin atau tidak inginkan. Gemas. Sungguh!

Saya cenderung malas membaca novel yang kebanyakan menggunakan flashback dalam penceritaannya, namun pada novel ini saya justru mengharapkan adanya kisah-kisah ungkitan masa lalu demi membantu saya memahami jalinan ceritanya. Mira juga piawai kapan harus menampilkan kejadian kilas balik tersebut. Sangat pas untuk tidak membuat kacau aliran plotnya, setidaknya bagi saya.

Kecakapan Mira yang lain adalah kecermatannya untuk mengait-ngaitkan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Hal tersebut juga sempat membuat saya gemas bukan main. Pernah, di seperempat bagian novel saya menggerutu, “loh, ngapain sih si Ini, apa hubungannya ama si Itu…kok tiba-tiba muncul tokoh Ini ya?” Namun, kegemasan saya itu justru menaikkan semangat untuk segera menuntaskan membaca novel ini. Bahkan, gara-gara ending-nya yang dibuat menggantung sebagai koneksi ke novel berikutnya, saya langsung memburu novel lanjutannya itu (untung ada, di obralan juga, lumayan, padahal gua dah janji, mo nopelnya didiskon pa kagak klo ketemu gua musti beli!). Saya kadang juga sering menghujat penulis yang mendadak memberi porsi pada tokoh yang sebelumnya tidak punya “hak-suara” namun tiba-tiba ikut bercerita, sekali lagi, dalam novelnya ini, Mira mengemasnya dengan sangat apik. Caranya memberi ruang pada peran-peran pendukung itu tidak berlebihan dan cukup pas dalam menjaga ritme keseluruhan cerita.

Hmm…kok rasanya gua muji mulu ya? Tetapi, sungguh saya sendiri bingung mencari cela dari novel ini, bahkan dari segi penulisan dan edit kata per kata-nya. Nah, jika GPU saja begini teliti untuk karya-karya waktu dulu, mengapa untuk penerbitan novel masa kini sering salah di editan ya? Hayyo…siapa nih yang musti disalahin?

Mungkin gangguan kecil yang muncul adalah hanya pengulangan beberapa kalimat yang terdapat dalam beberapa chapter. Termasuk kebiasaan Mira untuk menggantungkan kejadian dari satu adegan ke adegan lainnya, memang menggelitik rasa ingin tahu, tapi kadang agak mudah ditebak sehingga membuat jengah. Semoga saja, pembaca tidak lekas kesal dan tak menghentikan-baca sebelum sampai klimaks.

Overall, saya sangat menyukai novel ini. Jika harus memberikan bintang, dalam skala 1 sampai dengan lima, saya akan memberikan 3,5 bintang. Kalau saja ketebalannya ditambah (gak perlu bersambung gitu, hehehehe) saya tidak ragu memberikan 4 bintang lah. Hmm…
Enjoy reading, people!


Sinopsis (cover belakang)
“Kau hamil, Arneta?” Rivai duduk dengan hati-hati di sisi pembaringan, seolah-olah takut menyakiti Arneta. “Kau mengandung anak Rivai dan berani meninggalkannya?”
“Panggil Rivai kemari.” Arneta berusaha menekan rasa takutnya. “Aku harus bicara dengan dia.”
“Tapi Rivai mengirimku kemari untuk menghukummu.” “Siapa kau?” tanya Arneta ketakutan.
Jadi mantan suaminya ini benar-benar gila! Sungguh tidak disangka. Hampir setahun dia telah hidup bersama orang sakit jiwa. Tidur seranjang dengan pembunuh yang mengidap deviasi seksual.
----Deviasi----
Dari ujung utara Benua Amerika sampai ke ujung selatan Benua Afrika, Arneta terjebak di antara tiga laki-laki yang sama-sama mengejarnya.
Bekas kekasihnya yang berada di ambang perceraian.
Pria tanpa masa lalu yang sedang terpuruk dalam lumpur perasaan bersalah.
Dan mantan suaminya, seorang lelaki terhormat yang yang mengidap deviasi seksual dan mempunyai kepribadian ganda. Mampukah Arneta melepaskan diri?