Showing posts with label Wisata Buku. Show all posts
Showing posts with label Wisata Buku. Show all posts

Sunday, October 16, 2016

Murah mana: Big Bad Wolf Surabaya vs Big Bad Wolf Kuala Lumpur?

Wowsaaa… enggak sampai harus berganti tahun, panitia Big Bad Wolf (BBW) book sale akhirnya kembali menggelar pameran sekaligus penjualan buku-buku impor nan murah-meriah di Indonesia. Setelah April-Mei 2016 lalu ada di ICE-BSD, Tangerang Selatan, Oktober ini BBW book sale diadakan di Surabaya! Tuh, kan, panitia BBW pasti ketagihan menggelar book sale lagi setelah melihat animo pengunjung book sale yang di BSD kemarin itu.


Omong-omong, sebenarnya semurah apa sih buku-buku yang dijual di BBW book sale? Sekiranya dibandingkan sama yang dijual di book sale aslinya di Malaysia (Kuala Lumpur) sana, lebih murah mana, ya? Iseng-iseng saya kok ya, kepingin bikin perbandingan. Dan, beginilah perbandingan menurut versi saya.

Variabel harga:
1.       Tiket pesawat: PP Jakarta – Surabaya Rp1.200.000; PP Jakarta – Kuala Lumpur = Rp1.600.000;
2.       Penginapan (asumsi 2 malam 2 hari): Surabaya = Rp400.000; Kuala Lumpur = Rp450.000;
3.       Ongkos taksi ke dan dari Bandara Soekarno Hatta diabaikan karena sama saja.
4.       Kendaraan di tempat tujuan: Surabaya (PP bus bandara = Rp50.000, bus kota 2 hari = Rp20.000); Kuala Lumpur (PP KLIA express = Rp350.000, KTM 2 hari = Rp14.000)
5.       Untuk urusan makan dan minum juga diabaikan, ya, toh kebutuhan pokok, kan?
6.       Harga buku: di Indonesia, rerata Rp70.000; di Malaysia (RM1 = Rp3.500), rerata RM7 = Rp24.500. Asumsi bagasi pesawat gratis 20kg terisi buku, semua kurang lebih 60 eksemplar (abaikan tebal-tipis odd-regular size), maka total belanjaan buku: Surabaya = 60 x Rp70.000 = Rp4.200.000; Kuala Lumpur = 60 x Rp24.500 = 1.470.000;
7.       Jadi, total pengeluaran: Surabaya = Rp5.870.000; Kuala Lumpur = Rp3.884.000.

Nah, dari rincian kasar berdasar beragam asumsi di atas, terdapat selisih hampir Rp2 juta lebih banyak yang harus saya keluarkan jika saya memutuskan untuk berwisata buku ke Surabaya. Dan, karena saya warga Jawa Timur yang sudah beberapa kali menjelajahi Surabaya sepertinya bonus wisata kotanya pun tak seseru bonus wisata kota Kuala Lumpur.

Well, sekali lagi ini hanya iseng belaka. Sebenarnya, sih, untuk meredam rasa penasaran dan keinginan nekat berwisata buku pas BBW book sale Surabaya 2016. Jadi, buat saya, sudah yakin dan ikhlas akan melewatkan keseruan berbelanja sembari menimbun buku di BBW Surabaya ini. Namun, buat tweemans yang super-duper-penasaran atau kebetulan berdomisili dekat dengan Surabaya, ya sayang juga jika melewatkan keseruan BBW ini. Belum tentu bakal ada lagi nanti-nanti, kan?

Kamu, gimana?

Saturday, February 28, 2015

[Wisata Buku] Penimbun Buku Merambah Singapura dan Kuala Lumpur (Bagian 2)

Sejak kali pertama lihat suasana book sale, Big Bad Wolf di Malaysia, dari sebuah foto yang di-posting Mbak Uci di group WA Cempreng, saya pun berharap semoga suatu saat bisa hadir dan merasai atmosfer event itu. Ketika rencana melancong ke Singapura dan Kuala Lumpur tengah saya susun, Big Bad Wolf akhir 2014 sedang berlangsung di MIECC @ The Mines - Kuala Lumpur. Saya sempat gamang, ingin mengubah jadwal keberangkatan ke tanggal yang bertepatan dengan tanggal penyelenggaraan book sale itu. Tapi, semua sudah tersusun hampir 90%, jadi saya menguatkan perasaan untuk tetap pada rencana semula, berkunjung ke Singapura-Kuala Lumpur sekitar bulan Februari 2015.



Tapi, mungkin karena memang sudah jadi bagian takdir, saya dan Big Bad Wolf memang digariskan untuk bertemu. Tanpa saya duga, ada event tambahan bertajuk Big Bad Wolf #Firesale 2015 per tanggal 2-9 Februari 2015, dan saya terjadwal ada di Kuala Lumpur tanggal 4-7 Februari. OH.MY.GOD! It's my destiny. For sure. Kontan, saya segera membenahi itinerary selama di Kuala Lumpur, dan memasukkan agenda berkunjung ke arena book sale tersebut.


Wednesday, February 25, 2015

[Wisata Buku] Penimbun Buku Merambah Singapura dan Kuala Lumpur (Bagian 1)

Berawal dari ngiler membaca postingan A.S. Dewi yang menceritakan seputar "misi pencarian" buku-buku seru di Bras Basah Complex, Singapura, di blognya, http://4urfun.blogspot.com, kemudian saya envy berat dan bertekad harus juga merasai menjelajah Bras Basah suatu hari nanti. Entah kapan, karena ketika itu paspor pun saya belum punya. Bagaimana bisa saya pergi ke Singapura kalau paspor saja belum punya? Maka keinginan untuk mengikuti jejak Dewi agak-agak mustahil.

Tapi, banyak orang mengajarkan untuk mendaftar mimpi kita, kan? Tentu saja, tak sekadar didaftar, tapi juga mengupayakan agar terealisasi. Maksudnya... ketika telah didaftar, kita didorong untuk mewujudkan mimpi itu. Dan, saya menuliskan "Ngubek-ubek Bras Basah" ke dalam daftar mimpi-mimpi saya. Perlahan, saya menapaki satu demi satu jalan untuk mewujudkan mimpi itu. Mulai dari mengumpulkan tabungan yang cukup, mengurus pembuatan paspor, mengajukan cuti ke kantor, memesan tiket, hingga benar-benar terbang ke Singapura.

My dream comes true. Saya menginjakkan kaki di Singapura pada 1 Februari 2015 silam. Dan selama 4 hari 3 malam, saya memaksimalkan kunjungan saya untuk tak sekadar liburan tapi juga berwisata buku di Negeri Merlion itu. Dan, setelah hampir dua tahun sejak saya membaca artikel yang ditulis Dewi, saya berkesempatan mewujudkan mimpi untuk menjelajahi Bras Basah Complex.


Bras Basah tampak samping :)

Sunday, August 31, 2014

[Wisata Buku] ke Bandung

Saya sudah beberapa kali bepergian ke Bandung, baik dalam rangka dinas, komunitas, maupun urusan pribadi. Namun demikian, dari sekian kali saya bolak-balik ke Bandung, belum pernah sekali pun saya niatkan untuk berwisata buku. Memang pernah satu-dua kali saya sempatkan mampir ke tempat-tempat berburu buku tapi itu hanya selewatnya saja. Saya membeli buku lalu dilanjutkan kegiatan lain.

gambar dari: http://votemenot.com

Sejatinya, kalau untuk tujuan bersenang-senang pergi ke Bandung sendirian itu tidak enak. Mesti beramai-ramai atau beromantis berdua pasangan. Saya selalu mati gaya setiap sudah berada di Bandung, bingung mesti ke mana untuk bersantai sembari menghibur diri. Apalagi saya terlampau ansos alias antisosial --baca buku, kuping disumpal earphone-- kalau sudah jalan. Dan, saya pun bukan penganut prinsip, "Bertanyalah jika kamu tak tahu jalan". Lebih seringnya saya menggantungkan harapan pada aplikasi peta digital di gadget dan baru akan bertanya pada orang jika sudah benar-benar kepepet.