Monday, April 13, 2020

[Resensi Novel Metropop] Ganjil Genap by Almira Bastari

First line:
AKU MEMASUKI mobil sambil tersenyum tipis.
---hlm.7, Prolog: Malam Ganjil

Gimana rasanya diputusin setelah berpacaran selama tiga belas tahun?

Hidup Gala yang mendadak jomblo semakin runyam ketika adiknya kebelet nikah! Gala bertekad pantang lajang menjelang umur kepala tiga. Bersama ketiga sahabatnya, Nandi, Sydney, dan Detira, strategi pencarian jodoh pun disusun. Darat, udara, bahkan laut "disisir" demi menemukan pria idaman.

Akankah Gala berhasil menemukan pasangan untuk menggenapi hari-hari ganjilnya?

Judul: Ganjil Genap
Pengarang: Almira Bastari
Editor: Claudia von Nasution
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 hlm
Rilis: Februari 2020
My rating: 4,5 out of 5 star

Ganjil Genap

Mungkin banyak seniman: penyanyi, bintang film, pelukis, penyair, bahkan penulis/pengarang; yang akan selalu jengkel jika penikmat karya seni mereka selalu mencoba membanding-bandingkan karyanya dengan karya seniman lain, ataupun dengan karya sebelumnya dari seniman yang bersangkutan. Mungkin tak terkecuali si Ratu Cungpret aka Almira Bastari. Hei, ini baru asumsi saya, ya. Bukan berarti benar, hahaha. Makanya saya pakai kata "mungkin".

via GIPHY

Mengingat #novelMetropop debutan Almira yang FENOMENAL mengguncang dunia perbukuan sekitar dua tahun silam, namanya cukup menyita perhatian pembaca Indonesia saat meluncurkan Resign! yang hingga kini (09/04/2020) di web goodreads.com telah dibaca dan diberikan rating oleh sekitar 2.062 pembaca serta ditambahkan ke rak baca oleh sekitar 3.656 pembaca (tentu lebih banyak lagi ditambah dengan pembaca yang tidak memiliki akun goodreads). Maka, ketika diumumkan bahwa Almira akan menerbitkan karyanya selanjutnya, para pembaca yang terkesima oleh Resign! begitu antusias menantikannya. Dan, hal menjengkelkan tadi akan segera datang: novel barunya ini mau tak mau pasti akan dibanding-bandingkan dengan her masterpiece (so far) itu: Resign!

Paling tidak, penikmat karyanya yang akan membanding-bandingkannya itu adalah: saya! *nyengir

via GIPHY

Novel terbarunya bertajuk: Ganjil Genap. Buat pembaca yang berdomisili di Jakarta (dan sekitarnya) atau yang pernah berkunjung atau yang membaca berita tentang Jakarta (karena sebagian besar berita biasanya Jakarta-sentris) pasti tahu sama istilah ganjil-genap ini, kan, yang merupakan kebijakan pengaturan lalu lintas di jalanan protokol Jakarta dalam rangka menekan jumlah kendaraan pribadi yang melintas agar mampu mengurai kemacetan yang telah menjadi masalah terbesar kota Jakarta, selain banjir dan sampah dan polusi.

Yap, Ganjil Genap memang terinspirasi dari sana, dan sebagian besar adegannya tentang itu, meskipun sebagian lain terselip filosofi yang cukup mendalam tentang cerita cinta yang ganjil-genap. Banyak cerita unik tentang novel Ganjil Genap (dan keseharian Almira) yang diungkap dalam obrolan bersama Aditya Hadi dari Podcast BukuKutu di bawah ini, simak deh.



Saya merupakan salah seorang pembaca yang beruntung bisa membaca lebih dulu ketimbang para pembaca lain sebelum Ganjil Genap resmi dirilis, bahkan sebelum masa pre-order dibuka. Yayyy, makasih kirimannya ya Almira dan Kak Odi, sang editor kesayangan. Tak butuh waktu lama sebenarnya untuk merampungkan-baca racikan terbaru Almira ini, hanya saja waktu itu saya kepikiran untuk membuat resensinya dekat-dekat tanggal rilis resminya, biar fair sama pembaca yang lain. Ealah, malah kesela banyak urusan dan baru bisa diresensi sekarang. Hiks, maafkan.

Dan, benar saja. Saya memang si penikmat baca yang menjengkelkan tadi. Selama proses pembacaan, saya kerap membanding-bandingkan Ganjil Genap dengan Resign!. Sedikit banyak, saya memang mengharapkan sentuhan magis Almira yang berhasil membuat Resign! sedemikian luar biasa: ceplas-ceplos, lugas, kocak, komikal, padat-berisi, dan menghanyutkan; kembali hadir di Ganjil Genap. Ehmm... sebagian besar harapan terkabul, cuma karena dari sisi bobot halaman, si Ganjil Genap ini lebih tebal dibanding Resign!, memang menjadikan Ganjil Genap tidak sepadat-berisi Resign!

Oke, enough for the comparison. Memang hanya sampai situ saja perbandingannya, kok. Mari kita nikmati ke'baper'an terbaru dari dongeng kaum urban olahan Almira ini. Sebagaimana dibocorkan dalam blurb-nya yang seuprit itu, Ganjil Genap menyoroti kisah asmara Gala, si tokoh utama perempuan, yang mendadak ganjil setelah selama tiga belas tahun ini genap bersama kekasihnya, Bara. Di tengah runyamnya nasib jomlo dan pusingnya memutar otak mencari jalan keluar melintasi jalanan Jakarta di tanggal ganjil (karena nomor polisi/pelat mobilnya genap), Gala juga terancam dikutuk jadi perawan tua kalau sampai dilangkahi adiknya yang sudah menetapkan tanggal nikahan. Maka, segala daya upaya dikerahkan, demi mencari pasangan sebelum semuanya terlambat.

Ketika sampai di bagian ini, saya keinget film 30 Hari Mencari Cinta karya Upi yang menjadi salah satu film rom-com lokal favorit saya.

Cuma keinget, ya. Maksudnya, pas di situasi jomlo dan mesti cari pasangan itulah, segala reaksi muncul: cengar-cengir, cengengesan, nyumpah-nyumpahin, hingga ngakak-ngakak-nya sama. Gala mencoba semua kemungkinan dari yang konvensional seperti memperluas lingkup pertemanan, gabung komunitas baru, lalu mencicip biro jodoh, speed dating, hingga memasang dating apps: Tinder! Bacalah sendiri untuk mendapatkan sensasi galaunya si Gala demi mencari pasangan ini.

Banyak yang sudah membaca Ganjil Genap merasa relate banget sama ceritanya. Saya pun. Well, curcol dikit, ya. Meski bueeda juuauh, saya bisa lah masuk kategori Om Aiman (salah satu tokoh utama laki-laki), hahaha. Umur saya sudah jauh melewati angka 30 ketika memutuskan mengajak nikah buistri. Saya sendiri menemui beragam dilema selama membujang, ya... yang sering dijadiin jokes dan meme di medsos lah, dan untuk di zaman modern serbadigital sekarang ketambahan lagi anggapan kalau laki-laki belum menikah di usia (ke)matang(an) itu tidak jantan: "Kamu homo, ya?"

via GIPHY

Buistri bernasib sedikit mirip Gala. Adik buistri sudah berpacaran cukup lama dan didesak untuk segera menikah. Desakan itu mau nggak mau mengarah ke buistri juga. Berhubung orang Jawa, ada mitos kalau kakak perempuan dilangkahi adiknya menikah bisa-bisa nanti susah dapat jodoh alias jadi perawan tua. Ya, buistri sih orangnya lumayan santuy, dia nggak begitu peduli kalau akhirnya adiknya menikah duluan, hanya saja buistri lebih peduli sama perasaan orangtuanya (terutama ibunya) yang takut jadi omongan tetangga kanan-kiri. Entah mungkin sudah suratan takdir ya, di saat itulah saya dan buistri dipertemukan. Karena sedang dalam mode cari istri, saya pun segera melancarkan aksi, "Saya sudah cukup banyak punya teman, saya kenalan untuk menjalin hubungan lebih dari teman, kalau kamu bersedia ayo, kalau tidak ya kita cukupkan sampai di perkenalan ini saja." *gayane

Eh, ngomong-ngomong saya tahu juga kok sebelumnya bahwa saat itu buistri pun sebenarnya dalam mode siap berumah tangga. Jadi, ajakan menjalin hubungan itu bukannya tanpa perhitungan. Well, long story short, tiga bulan sejak kenalan kami lamaran, dan tambah dua bulan kemudian kami nikahan. Alhamdulillah. Eh, maaf, kepanjangan curcolnya. Hahaha.

via GIPHY

Oleh karenanya, meski tak sepadat-berisi Resign!, saya sangat menikmati Ganjil Genap. Ya, ada sih adegan-adegan yang bikin saya nganga, "Eh, ini fantastis amat adegannya," kayak nggak mungkin banget, sampai-sampai bawa kerabat kerajaan negeri jiran, tapi yaaa... bolehlah. Saya juga suka banget banyaknya adegan ikonik nan komikal yang dibuat Almira di sini. Kadang ikut geregetan, ikut cekakakan, tapi kadang kepingin noyor kepala Gala juga, sih.

Overall, for me, Ganjil Genap tetap berhasil membuat saya jatuh cinta sekali lagi dengan gaya menulis Almira. Meskipun (as I said earlier) nggak sepadat-berisi Resign!, Ganjil Genap berhasil menyentuh beragam rasa pada tingkatan yang tepat. Memang ada sedikit yang mengganjal hingga saya tak menggenapkan rating ke 5 bintang penuh, tapi Ganjil Genap tetap jadi salah satu buku favorit yang saya baca tahun ini, so far. Bacalah, tweemans.

Topik bahasan:
1. Usaha-usaha move on
2. Drama keluarga
3. Jodoh pasti bertemu
4. Profesi: bankir dan dokter gigi
5. Setting: Jakarta

Selamat membaca, kamu. Sembari baca, nyanyi yuk...




little warning:
Kalau kamu kebetulan mau binge-reading #novelMetropop dan kepikiran mau baca Ganjil Genap dan 90 Hari Mencari Suami-nya Ken Terate, berilah jeda waktu yang lumayan untuk keduanya, ya, karena premis kedua novel ini agak mirip: cewek diburu umur, adik mau nikah, diminta segera nyari pasangan; biar nggak berasa deja vu bacanya.

End line:
Aku menaikturunkan alis sambil tersenyum.
---hlm.342, Epilog

Friday, April 10, 2020

[Resensi Novel Metropop] Second Chance by Flara Deviana

First line:
Flavia Chandra Netta

KERETA API berhenti sempurna di depanku. Orang-orang menjadi sibuk untuk masuk lebih dulu, padahal setiap orang sudah memiliki nomor kursi yang pasti.
---hlm.5, Prolog

Kehidupan Flavia diisi utang tak berujung, kerja dari pagi ketemu pagi. Tiba-tiba dia mendapatkan kesempatan melunasi semua itu ketika ditawari pekerjaan bergaji besar yang tugasnya cuma menjadi pengasuh sepasang anak kembar. Masalahnya, majikan Flavia adalah duda bertato umur 28, berparas dingin, dan galak pada anak-anaknya sendiri. Ketimbang jadi pengacara, majikannya itu lebih cocok jadi mafia.

Raynaldi tidak merasa damai di kantor, apalagi di rumah dengan anak-anaknya yang sering menangis dan buat ulah. Setiap hari, dia menghadapi predikat pernah hamilin anak orang, suami yang gagal, dan ayah yang payah. Tiba-tiba datang pengasuh baru bernama Flavia, yang belum apa-apa sudah bikin banyak aturan tentang bagaimana Ray harus memperlakukan anak-anak.

Flavia mulai menjamah banyak wilayah berbahaya dalam hidup Ray dan bikin cowok itu hampir sinting. Tapi, sialan, tampaknya Ray jatuh cinta pada cewek sok ngatur ini.

Judul: Second Chance
Pengarang: Flara Deviana
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Penyelia naskah: Vania Adinda
Ilustrasi sampul: Sukutangan
Penata letak: Bayu Deden Priana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 296 hlm
Rilis: Maret 2020
My rating: 3,5 out of 5 star

Finn

Tahun ini memang serbatumben buat saya. Beberapa #novelMetropop terbitan tahun 2020 kok tumben berhasil saya baca berdekatan dengan tanggal rilis resminya, melalui Gramedia Digital. Beberapa, tentu saja, enggak semuanya. Salah satunya Second Chance karya Flara Deviana ini. Dan, novel ini menjadi salah satu yang saya baca di awal bulan Maret 2020 pada masa #WorkFromHome kemarin.

Melihat sampulnya, saya langsung kepikiran novel-novel Adult-New Adult romance dari luar negeri: tatoan, berandalan, seksi, vulgar, dan kemungkinan menjurus erotis; well... enggak sepenuhnya benar. Hahaha. Enggak senakal itu, ternyata. Tapi, kalau ini novel luar, sampulnya bakal seperti ini mungkin:

dipinjam dari: https://www.feelthebook.com/
Fortunately, saya suka gaya menulis dan diksi yang digunakan Flara, eh Flavia, eh Flara, eh... (believe me, saya keblibet nganggap Flavia si tokoh adalah sama dengan Flara sang pengarang ). Karenanya, saya cukup menikmati rajutan kisah yang tertuang di novel ini. Namun, TYPO-nya YANG ASTAGADRAGON KENAPA SIH SEGITU BANYAKNYA, BIKIN SENEWEN BACANYA SAMPAI AKHIR. BENERAN KESEL, man! Kalau kamu pengin senewen juga, saya sertakan daftar typo-nya di bawah, ya.

Sekilas, Second Chance mengingatkan saya pada Topsy-Turvy Lady-nya Tria Barmawi. Iya, iya, saya tahu, nggak seru deh setiap resensi kok membanding-bandingkan satu buku dengan buku lain. But, I just can't help myself mentioning it. Ya, karena agak mirip, mau gimana. Maafkan!

Premis cerita ya plek-ketiplek sama yang ada di blurb/sinopsis novel ini. Flavia yang terlilit utang, pontang-panting kerja sana-sini, akhirnya mendapat titik terang untuk segera melunasi utangnya ketika menerima tawaran mengasuh anak kembar seorang duren (duda-muda keren) yang bersedia membayar gaji bulanannya melebihi gajinya sebagai pengasuh di daycare saat ini. Namun, iming-iming bayaran sebesar itu ternyata membawa petaka sendiri buatnya, terlebih ketika Ray, majikannya yang ganteng bertato itu, menyatakan jatuh cinta kepadanya.

via GIPHY
Sejujurnya proses pembacaan saya atas novel ini lancar saja, yang artinya secara jalan cerita Second Chance cukup membuat saya tertarik. Namun, SELAIN TYPO-nya YANG ASTAGADRAGON itu, ada bagian yang bikin saya merengut dan turned off. Misalnya ketika dikisahkan salah satu dari si kembar terkena sakit cacar, Flavia main-main peluk dan elus dan pegang saja. Well, sependek yang saya tahu, cacar (di novel ini nggak disebutkan jenis cacar apa, saya asumsikan cacar air) sangat gampang menular.

Mudah Menyebar dan Lebih Sering Diidap Anak-Anak
Melansir WebMD, penyakit ini lebih umum menyerang anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa mendapatkannya. Gejala tanda cacar air adalah ruam kulit yang gatal dengan lepuh merah. Selama beberapa hari, lepuh muncul dan mulai bocor, dan di situlah virus dengan mudah menyebar, bahkan melalui udara. Seseorang bisa mendapatkan virus dengan menghirup partikel yang berasal dari lepuh cacar air atau dengan menyentuh sesuatu di mana partikel mendarat.

Oleh karena itu, kamu harus menghindari kontak langsung dengan pengidapnya. Virus akan berhenti menyebar saat lesi berubah menjadi kerak. Cacar air paling menular dari 1 hingga 2 hari sebelum ruam muncul sampai semua lepuh kering dan berkulit.--mengutip dari halodoc
Yah, semoga ini bukan plot-hole, ya. Cuman semacam kurang informasi saja, karena memang tidak dijelaskan sudah berapa lama si anak menderita cacar atau sudah dibawa ke dokter apa belum dan bahwa semua orang dewasa di rumah itu sudah kebal sama cacar. *cmiiw kalau ternyata saya salah/selip baca adegannya, sebagian sudah telanjur kesel karena TYPO-nya YANG ASTAGADRAGON BANYAK BANGET itu, sih. Huh.

Saya juga sempat keki sama instalove antara Flavia-Ray, ternyata ada plot twist di paruh bagian akhir yang menjelaskan hal tersebut. Syukurlah, karena saya mulai sebal sama cerita yang gampang banget jatuh cintanya, dan cepet pula. Sementara adegan yang membuat saya turned off justru di puncak konflik. Oke, oke, saya mengerti perasaan Ray, tapi kayaknya ya agak berlebihan sih emosinya itu sampai membuat Flavia menjauh. Seriously, I hate that part. Well, saya terima plot twist yang menjelaskan mengapa Ray menjadi seperti itu pada mantan istri dan kakaknya, tapi untuk alasan menjauhkan Flavia dari jangkauannya (setelah susah payah mendekatinya)? Nope, kurang greget menurut saya.

via GIPHY
Overall, for me, Second Chance menyajikan kisah yang asyik untuk diikuti dengan gaya menulis dan diksi yang pas untuk selera saya. Meskipun tak terlalu kuat di departemen pembangunan karakter, saya cukup menyukai Flavia, jalan hidupnya yang sinetron banget berhasil dikemas Flara sehingga menimbulkan keharuan yang tak dipaksakan. Buat kamu yang lagi nyari-nyari tambahan bacaan, silakan dicoba, ya.

Topik bahasan:
1. Trauma masa lalu
2. Drama keluarga
3. Majikan dan karyawan
4. Profesi: pengacara dan pengasuh anak (babysitter)
5. Setting: Serpong, Jakarta, dan Yogyakarta

Daftar typo (sudah lamaaa lho saya nggak buat beginian):
10: pertengkaraan
15: menghasihani
20: proposional
21: tersetak
31, 37, 38: Bu Shinta
38: intruksi
38: keduanya .
39: kedunya
44: kalau pun
45: Benton Juction
46: di tambah
46: ritlesing
47: diturti
47: menelpon
55: baik.... ataupun
58: menangangi
58: baik... apalagi
60: keppuasaan
61: tapi Itu masalah...
62: kerjasama
63: Tante Di atau Tante Ia?
63: memikiran
64: pembicaranku
66: 45 menit.... awal kalimat
68: ...tidur Yang...
70: menyelemuti
71: Bi Mar
74: berususan
77: mercerna
79: kemanusian
81: kenapa tiba-tiba jadi Mbak Ia
90: terbersit
107: karena dari itu
108: menggangu
117: meletakannya
117: kegirang
117: pelukkan
120: membututi
123: teriakkan
127: kesedihaan
127: mencengkram
132: Uudah
132: menggangguk
132: semakuk
133: download kursif
135: bekecamuk
139: day care kursif
142: lost control kursif
142: kata Papa tanpa titik
144: mangangguk
147: menyetil
152: menggangguk
154: menujuk
158: jangkuan
158: berterbangan
161: keberanarannya
167: mempengaruhi
168: Bibi ...konsistensi Bibik
169: mengisyratkan
170: wortel, bawang dan sosis207: 3
170: mencapur
171: ngantuk... mengantuk
172: nakal." bisiknya
172: Aku berbaring (di) sebelah Olin
173: baik si kembar ataupun
178: perpisahaan
186: Thats bullshit... kursif
189: perpisahaan
193: perubahaan
197: TV, teve, televisi...
199: menyeterika
202: Sori, Sori,
203: pelariaan
204: mendudukan
204: tersetak
207: 3... tiga
208: paru baya
208: Bu, Ibu... Mila, konsistensi
208: notes kecil.... kbbi
209: mencapur
209: perwarna
210: cookies... kursif
210: kerusakaan
212: semetara
212: kastil... kastel
213: ujung ujung hidungnya
215: kecapekaan
216: mengacingkan
218: Fidela... Arkana...
221: pinguin
221: balas membalas
227: tolet
228: menaikkkan
241: akhinya
242: Bu mila
246: teriakkan
247: Gua
255: mengahafal
255: Bi Mar....
257: menggengam
259: mengeyahkan
262: kepergiaan
263: kerugiaan
273: persedian
273: penyanggah?
274: Gue terus menangis .
276: pesiun
276: malprktik
282: membucah
288: keadilaan
290: tetang

Selamat membaca, kamu.

End line:
Buat gue. Membangun kehidupan bersama Flavia dan anak-anak, itu masa depan.
---hlm.290, Epilog

Wednesday, April 8, 2020

[Resensi Novel Metropop] Finn by Honey Dee

First line:
Mereka bilang tragedi identik dengan kematian.
---hlm.11, Bab 1-Liz

Setelah “membunuh” seseorang, apakah kita masih bisa “hidup”?

Sejak kematian Arthur, kehidupan Liz dan keluarganya seolah ikut mati. Tak ada lagi kehangatan maupun kebahagiaan. Muak dengan kehidupannya, Liz merencanakan pelarian menuju kebebasan.

Liz berkenalan dengan Andika Gautama, kakak dari seorang remaja penderita autisme. Perkenalan itu membawa Liz ke Balikpapan, tempat ia menyanggupi untuk bekerja sebagai terapis Finn, adik Andika.

Bagi Andika, Liz tidak hanya memenuhi semua kriteria menjadi terapis Finn, tetapi juga mengisi ruang kosong di hatinya. Bagi Finn, Liz adalah harapan setelah dunianya hilang saat kematian ibunya. Dan, bagi Liz, Andika dan Finn adalah kunci mendapatkan uang demi kehidupan baru dan memaafkan diri sendiri atas kematian Arthur.

Masing-masing berjuang menyembuhkan diri dari luka. Namun, jika tiga tragedi ini bersatu, akankah ada keajaiban atau justru lebih banyak musibah terjadi pada mereka?

Judul: Finn
Pengarang: Honey Dee
Penyunting: Anastasia Aemilia & Putri Wardhani
Desain sampul: Liffi Wongso
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 312 hlm
Rilis: 13 Januari 2020
My rating: 5 out of 5 star

Finn

Jujur, saya agak skeptis pada Finn sejak mula tersiar kabar akan diterbitkan dan banyak yang nge-tag di Instagram @fiksimetropop ataupun di Twitter @fiksimetropop. Saya pikir, "Ah, palingan novel ini 'karya Wattpad' kesekian yang coba di-booming-kan di industri perbukuan mainstream." Segala promosi gencar yang membuka PO, blog tour, dan segala perniknya itu makin menguatkan anggapan saya, sehingga meskipun telah tersedia di Gramedia Digital, saya tak lantas terburu mengunduh dan membacanya. Bahkan, waktu baca gila-gilaan bulan Maret 2020 kemarin, Finn merupakan #novelMetropop terakhir yang saya baca. Dan... WOW, saya benar-benar telah salah menilai sejak mula. Begitu saya mulai membaca, saya langsung jatuh hati dan begitu saja... terlarut dalam kisahnya yang heart-warming yet heart-wrenching at the same time.


via GIPHY

Yang paling pertama membuat saya betah membaca Finn adalah gaya menulis Honey Dee yang sekilas mengingatkan saya pada Ken Terate. Well, tidak sama persis sih. Cuman, beberapa gayanya yang cenderung mengarah disfemisme, sinisme, sarkasme, dan hiperbola, hampir mirip gaya menulis Ken Terate (setidaknya, menurut saya). Penggunaan kalimatnya pun serbaguna dengan diksi yang apik, menjadikan halaman demi halamannya demikian mudah saya susuri.

Contoh kalimat-kalimat yang saya suka:
"Romi cowok manis. Walau terkadang aku pengin menamparnya karena sok kaya dan sok ganteng, Romi cowok yang sopan." --halaman 16
"Tuhan memang Mahabesar, Rom. Bisa banget bikin kamu hidup sampai selama ini walau tanpa otak. Kamu keajaiban penciptaan." --halaman 35
"...naik pesawat jauh lebih nyaman daripada naik mobil. Paling nggak, selama di angkasa pesawat nggak akan menabrak apa pun, kan?" --halaman 46
"Yang salah itu kalau kamu ditanya tapi malah diam saja. Aku merasa seperti ngobrol sama kursi." --halaman 49


via GIPHY

Finn ditulis menggunakan kata ganti orang pertama oleh dua tokoh utamanya yaitu Elizabeth "Liz" Bachtiar, si tokoh utama perempuan, dan Finn, salah satu dari dua tokoh utama laki-lakinya. Saya begitu tergelitik dan excited mendapati Finn "Finn" Andreas, adik Andika "Dika" Gautama (tokoh utama laki-laki yang satunya lagi), penderita Autisme, menjadi PoV kedua di novel ini. Meskipun saya belum pernah kontak langsung dengan penderita Autisme, saya mendapati Honey Dee berhasil menggambarkan suasana kebatinan Finn dengan bagus pada bab-bab yang menjadi bagian Finn bercerita sebagai "saya". Tak heran memang, karena pada halaman "Menjura dalam Cinta" di bagian belakang bukunya, Honey Dee menjelaskan bagaimana dia bisa sebegitu fasihnya membicarakan tentang Autisme. *menjura*

Plot: Liz, 19 tahun, kuliah semester dua, nekat menerima tawaran bekerja yang diperolehnya dari Facebook sebagai pengasuh sekaligus terapis Autisme pada seorang laki-laki bernama Andika Gautama di Balikpapan. Berbekal pengalaman mengasuh adiknya dulu yang juga penderita Autisme, Liz memanfaatkan kesempatan hengkang dari rumah yang sudah dianggapnya seperti neraka. Tidak memedulikan fakta bahwa dia tidak tahu Balikpapan itu di mana, apakah Andika Gautama tidak bermaksud jahat, atau bahwa Finn yang akan diasuhnya bukan lagi anak kecil berusia sepuluh tahun seperti halnya Arthur, adiknya.

Hal kedua yang membuat saya betah memelototi gawai saya demi membacanya di Gramedia Digital adalah karakter-karakter unik dan kuat yang dihidupkan oleh Honey Dee. Selain tiga tokoh utama, ada Romi, Pak Agus, Julak dan Acil Komodo, serta beberapa tokoh sampingan lain yang benar-benar memiliki peran, bukan sekadar tempelan. Bahkan, cameo beberapa tetangga kepo dan usil di lingkungan tempat tinggal Liz pun cukup hidup (dan meriah). Kerennya lagi, karakter-karakter itu tetap memorable hingga akhir halaman.

Ketika disebutkan bahwa tema utama Finn adalah tentang Autisme, saya hanya berpikir bahwa konflik ya seputar kesulitan mengasuh Finn. Namun, ternyata saya (lagi-lagi) salah menduga. Honey Dee menyiapkan serangkan subplot yang kaya agar topik Autisme tak semata-mata tentang si penderitanya saja. Keluarga dan masyarakat luas (terutama tetangga) adalah subjek yang juga berperan besar dalam menyumbang konflik yang serbaruwet. Plot twist tentang masa lalu Liz dan kondisi Dika adalah salah dua yang membuat saya tercengang. Bravo!


via GIPHY

Hal ketiga yang membuat saya demikian relate sama novel ini adalah karena saya sempat tinggal dan menetap (meskipun tak lama) di Balikpapan. Jadi, ketika setting masuk area Kota Minyak itu, tak pelak sederet kenangan masa lalu segera memenuhi otak, membuat saya kepingin banget bisa berkunjung lagi ke sana, untuk sekadar napak tilas. Entah, apakah Honey Dee memang orang Balikpapan atau pernah tinggal di sana, dia berhasil menyelipkan sedikit nuansa kedaerahan yang khas: bahasa Banjar (yang memang menjadi bahasa keseharian mayoritas warga Balikpapan) dan penyebutan istilah Julak dan Acil untuk Paman dan Bibi (bahasa Banjar).

Overall, for me, Finn adalah novel metropop debutan yang FENOMENAL, menjadi buku pertama yang saya rating 5 bintang penuh. Saya menyukai segala-galanya dari buku ini: tema, plot, setting, karakter, hingga eksekusi yang dipilih. Meskipun ada sisi minor tentang drama keluarga yang agak berlebihan, menurut saya masih bisa ditoleransi untuk membentuk karakter yang memang begitu dengan eksekusi akhir yang seperti itu. Well done, Honey Dee. Suka banget!


via GIPHY

Topik bahasan:
1. Trauma masa lalu
2. Drama keluarga
3. Isu kesehatan mental: Autisme
4. Profesi: analis perminyakan dan pengasuh/terapis khusus Autisme otodidak
5. Setting: Balikpapan dan Jakarta

Selamat membaca, kamu.

End line:
Liza tersenyum pada lukisan saya. Liza berkata, "Bagus ya, Finn?".
---hlm.302, Bab 34-Finn

Tuesday, April 7, 2020

[Top Ten Tuesday] Sepuluh buku yang saya beli karena ngehits banget... tapi belum dibaca juga (sampai sekarang)

Top Ten Tuesday was created by The Broke and the Bookish in June of 2010 and was moved to That Artsy Reader Girl in January of 2018. It was born of a love of lists, a love of books, and a desire to bring bookish friends together. The Artsy Reader Girl original title for April 7: Books I Bought/Borrowed Because… (Fill in the blank. You can do 10 books you bought for the same reason, i.e., pretty cover, recommended by a friend, blurbed by a favorite authors, etc. OR you could do a different reason for each pick.).


Well, talking about my taste, like any other aspect of my life, such as Top 40 for music, Top 10 box office for Movie, sometimes (OFTEN) I bought a book because of *cough*it's hype*cough*, but and then it will lie down on my TBR for hundred-and-hundred years. Untouched. Unread.

OMG.

These are the books that I'm talking about:

1. A Little LIfe by HANYA YANAGIHARA.
2. Throne of Glass series and A Court of Thorns and Roses series by SARAH J. MAAS.
3. We Were Liars by E. LOCKHART.
4. Six of Crows duology by LEIGH BARDUGO.
5. Call Me by Your Name by ANDRE ACIMAN.
6. Ti Amo, Tia Amora by KARLA M. NASHAR.
7. Vicious by V.E. SCHWAB.
8. Musashi and Taiko by EIJI YOSHIKAWA.
9. The Catcher in the Rye by J.D. SALINGER.
10. Girl on the Train and Into the Water by PAULA HAWKINS.


Shame on me!

[Reading Wrap-Up] Maret 2020

Halo, apa kabar, tweemans? Masih tekun mengikuti anjuran pemerintah untuk #SocialDistancing dan #PhysicalDistancing dengan #DiRumahAja, kan? Well, memang serbasusah ya, sekarang. Mau mengeneralisasi semua orang bisa dari rumah saja kerjanya, belum tentu tempat kerja atau jenis kerjanya memungkinkan untuk itu. Namun, demi kesehatan kita bersama di masa depan, selalu upayakan untuk tetap sehat hari ini, besok, dan besoknya lagi sehingga bisa menghindari tertular ataupun menularkan virus Covid-19 ini, ya. Kita sama-sama kok, berharap wabah ini segera berlalu dan semuanya kembali normal seperti sediakala. Aamiin.

Anyway, di sela-sela #WorkFromHome, pas #DiRumahAja, saya menyempatkan baca buku sebanyak-banyaknya, semumpungnya bisa. Dan, alhamdulillah, Maret yang biasanya bisa baca satu buku saja sudah syukur, Maret 2020 ini lumayan banget bisa merampungkan-baca beberapa buku, termasuk jajaran #novelMetropop yang sudah terbit dong. Dan inilah novel-novel Metropop by GPU yang berhasil saya rampungkan-baca di bulan Maret 2020.

1. Second Chance karya Flara Deviana, saya baca via Gramedia Digital, rating: 3,5 bintang. Semoga minggu ini bisa segera dibuatkan resensinya. #FingerCrossed
Kehidupan Flavia diisi utang tak berujung, kerja dari pagi ketemu pagi. Tiba-tiba dia mendapatkan kesempatan melunasi semua itu ketika ditawari pekerjaan bergaji besar yang tugasnya cuma menjadi pengasuh sepasang anak kembar. Masalahnya, majikan Flavia adalah duda bertato umur 28, berparas dingin, dan galak pada anak-anaknya sendiri. Ketimbang jadi pengacara, majikannya itu lebih cocok jadi mafia.

Raynaldi tidak merasa damai di kantor, apalagi di rumah dengan anak-anaknya yang sering menangis dan buat ulah. Setiap hari, dia menghadapi predikat pernah hamilin anak orang, suami yang gagal, dan ayah yang payah. Tiba-tiba datang pengasuh baru bernama Flavia, yang belum apa-apa sudah bikin banyak aturan tentang bagaimana Ray harus memperlakukan anak-anak.

Flavia mulai menjamah banyak wilayah berbahaya dalam hidup Ray dan bikin cowok itu hampir sinting. Tapi, sialan, tampaknya Ray jatuh cinta pada cewek sok ngatur ini.

2. Boy Toy (Pentagon Series #1) karya aliaZalea, akhirnyaaa... yang sempat DNF beberapa tahun lalu, bisa saya tuntaskan-baca tahun ini, rating: 3 bintang.
Ada tiga kata yang Lea yakin tidak akan pernah diasosiasikan dengan dirinya: BOYBAND, BRONDONG, dan ABG. Sampai dia bertemu Taran, personel boyband paling ngetop se-Indonesia, yang superbrondong.

Untuk pertama kalinya Lea memahami ungkapan “never say never”, terutama ketika Taran jelas-jelas mulai mengejarnya. Dan Lea, dosen bergelar Ph.D., tiba-tiba jadi seperti ABG yang ngefans berat pada brondong personel boyband.

3. Bad Boy (Pentagon Series #3) karya aliaZalea, rating: 2,5 bintang. Niatnya mau baca maraton begitu (menyambut bakal terbitnya The Player sebagai Pentagon #4), tapi karena ingat yang The Wanker (Pentagon Series #2) sudah pernah saya baca, entaran saja deh kalau mau baca ulang.
Namaku Ziva, tapi baginya, aku adalah Princess. Aku mencintainya sejak umurku delapan belas tahun. Dia cinta pertamaku dan aku cinta pertamanya. Kami soulmate bahkan sebelum kami mengerti arti kata itu. Seharusnya cerita kami berakhir dengan happy ending, namun itu hanya impian belaka.

Namaku Adam, tapi dia selalu memanggilku dengan nama lain dan aku tidak keberatan, karena dia adalah cinta matiku. Aku tidak bisa hidup tanpanya, tapi sepertinya itulah yang harus kulakukan, karena setelah apa yang aku perbuat, dia bukanlah milikku lagi.

4. The Case We Met karya Flazia, rating: 4 bintang, sudah saya buatkan resensinya di sini: [Resensi Novel Metropop] The Case We Met by Flazia
Sign in as Redita Harris
From : Ratu Maheswari < ratumahestjip@chef.net >
Subject : Re: Re: Baca NY Times

Dita, kamu bahkan masuk berita NY Times karena mendadak ambruk waktu sidang dan orang jadi ngira kamu mau dibunuh sama lawan kamu—you should take a break, for God’s sake! Jadi, kenapa juga tiba-tiba kamu ribet ngurusin kasus malapraktik di sini? Kamu bahkan udah nggak ketemu Natan bertahun-tahun, dan terakhir kali ketemu pun kamu masih gagap-bisu di depan dia! Masih nanya sebaiknya kamu terima jadi pengacara dia atau nggak? Kecuali hati kamu akhirnya berhasil beralih, yang jelas ini bukan keputusan yang bagus, Red.


Sign in as Natanegara Langit
From : Akbar Zaydan < dn.akbr@dr.com >
Subject : Butuh Propofol?

Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed. Kematian pasien kali ini jelas bukan salah kamu, dan rumah sakit lagi sibuk cari jalan keluar, jadi kenapa sekarang kamu malah ke New York? Harus dianestesi biar diem, hah? Persetan sama konferensi di Wyndham. Kami tahu kamu nggak akan lari, jadi ayo cepet balik. Dita datang ke rumah sakit pagi ini, cari kamu.

5. Finn karya Honey Dee, rating: 5 bintang. Whoaaa... akhirnya ada juga buku berbintang lima tahun ini, my first-ever full of 5-star book of the year lah pokoknya. Berjanji untuk segera membuatkan resensinya juga...
Setelah “membunuh” seseorang, apakah kita masih bisa “hidup”?

Sejak kematian Arthur, kehidupan Liz dan keluarganya seolah ikut mati. Tak ada lagi kehangatan maupun kebahagiaan. Muak dengan kehidupannya, Liz merencanakan pelarian menuju kebebasan.

Liz berkenalan dengan Andika Gautama, kakak dari seorang remaja penderita autisme. Perkenalan itu membawa Liz ke Balikpapan, tempat ia menyanggupi untuk bekerja sebagai terapis Finn, adik Andika.

Bagi Andika, Liz tidak hanya memenuhi semua kriteria menjadi terapis Finn, tetapi juga mengisi ruang kosong di hatinya. Bagi Finn, Liz adalah harapan setelah dunianya hilang saat kematian ibunya. Dan, bagi Liz, Andika dan Finn adalah kunci mendapatkan uang demi kehidupan baru dan memaafkan diri sendiri atas kematian Arthur.

Masing-masing berjuang menyembuhkan diri dari luka. Namun, jika tiga tragedi ini bersatu, akankah ada keajaiban atau justru lebih banyak musibah terjadi pada mereka?

Nah, selain ke-5 #novelMetropop itu, tahun ini saya juga hepi banget karena hampir seluruh #novelMetropop terbitan tahun 2020 yang sudah rilis, bisa saya baca semuanya, wooohooo... oke, ini daftar lengkap #novelMetropop yang saya catatkan terbaca di tahun 2020.
1. Selangkah Bersamamu (terbit: 2020) karya Rina Suryakusuma, rating: 3 bintang
2. Start Again (terbit: 2020) karya Seplia, rating: 3,5 bintang
3. Ganjil Genap (terbit: 2020) karya Almira Bastari, rating: 4,5 bintang
4. Second Chance (terbit: 2020) karya Flara Deviana, rating: 3,5 bintang
5. The Case We Met (terbit: 2020) karya Flazia, rating: 4 bintang
6. Finn (terbit: 2020) karya Honey Dee, rating: 5 bintang
7. Boy Toy (terbit: 2017) karya aliaZalea, rating: 3 bintang
8. Bad Boy (terbit: 2019) karya aliaZalea, rating: 2,5 bintang
9. 90 Hari Mencari Suami (terbit: 2019) karya Ken Terate, rating: 4 bintang
10. You Really Got Me (terbit: 2019) karya Dewie Sekar, rating: 4 bintang

Oiya, untuk bulan Maret 2020 sendiri, saya nggak hanya baca #novelMetropop saja, secara total saya berhasil merampungkan-baca 14 buku. Waaahhh... senangnya. Buku-buku lain yang #BukanFiksimetropop yang berhasil saya rampungkan-baca silakan intip di sini, ya: Reading Wrap-Up Buku #BukanFiksimetropop

Sunday, March 29, 2020

[Resensi Novel Metropop] The Case We Met by Flazia

First line:
[sidang kedelapan, New York Criminal Court; Lantai 13

"Red! Astaga, Nona Harris! Jangan lari-lari begitu! Nanti Anda jatuh!" teriak Hakim Walter yang baru saja hendak memasuki ruang sidang nomor 1301.

---hlm.5, Chapter 1 - Preambule

Sign in as Redita Harris
From : Ratu Maheswari < ratumahestjip@chef.net >
Subject : Re: Re: Baca NY Times

Dita, kamu bahkan masuk berita NY Times karena mendadak ambruk waktu sidang dan orang jadi ngira kamu mau dibunuh sama lawan kamu—you should take a break, for God’s sake! Jadi, kenapa juga tiba-tiba kamu ribet ngurusin kasus malapraktik di sini? Kamu bahkan udah nggak ketemu Natan bertahun-tahun, dan terakhir kali ketemu pun kamu masih gagap-bisu di depan dia! Masih nanya sebaiknya kamu terima jadi pengacara dia atau nggak? Kecuali hati kamu akhirnya berhasil beralih, yang jelas ini bukan keputusan yang bagus, Red.


Sign in as Natanegara Langit
From : Akbar Zaydan < dn.akbr@dr.com >
Subject : Butuh Propofol?

Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed. Kematian pasien kali ini jelas bukan salah kamu, dan rumah sakit lagi sibuk cari jalan keluar, jadi kenapa sekarang kamu malah ke New York? Harus dianestesi biar diem, hah? Persetan sama konferensi di Wyndham. Kami tahu kamu nggak akan lari, jadi ayo cepet balik. Dita datang ke rumah sakit pagi ini, cari kamu.

Judul: The Case We Met
Pengarang: Flazia
Penyunting: Miranda Malonka
Penyelaras aksara: Wienny Siska
Perancang sampul: Fitria N.A (@fitnrdm)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 440 hlm
Rilis: 23 Maret 2020
My rating: 4 out of 5 star

The Case We Met


Thanks to Kak Raya, yang sudah ngasih kejutan manis di hari-hari terakhir jelang kebijakan kantor untuk #WorkFromHome (WFH) dalam rangka #SocialDistancing dan #PhysicalDistancing #DiRumahAja guna memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang makin mengkhawatirkan ini. Setuju juga sama Kak Raya yang sedih harus banyak membatasi aktivitas berkumpul, padahal kalau para pembaca sudah berkumpul dan ngobrolin buku itu seru banget. Namun, demi masa depan yang lebih sehat, kita semua harus mematuhi imbauan, anjuran, bahkan larangan yang ditetapkan pemerintah, ya?


It's definitely a PAGE-TURNER! Saya benar-benar kepincut dari awal baca dan nggak bisa berhenti hingga halaman terakhir. Untunglah, di sela-sela WFH, saya bisa segera menuntaskan-baca novel ini. Melirik kiprahnya, Flazia (Fildzah Izzazi Achmadi) bukan nama baru di industri perbukuan, tapi untuk di lini metropop, sepertinya ini karya debutannya. Dan, buat saya, cukup memesona serta tidak mengecewakan.


Plot: Redita "Dita" Harris, pengacara berhijab (yang karenanya dijuluki Red Riding Hijab) asal Indonesia yang sukses menangani beberapa kasus kontroversial di New York, terutama kasus-kasus antara lansia-pasien melawan dokter yang diduga melakukan tindakan malapraktik. Dalam satu titik, Dita harus kembali ke Indonesia, sekaligus menjadi pengacara untuk Natanegara "Natan" Langit, dokter anestesi yang dituduh melakukan malapraktik hingga menyebabkan meninggalnya pasien yang ditanganinya. Tak hanya harus berjibaku membuktikan bahwa Natan tidak bersalah di persidangan, Dita pun harus menata hatinya demi menemui lelaki yang sudah ditaksirnya habis-habisan sejak lama--sejak SMA, mantan tunangan yang menjadi lawannya di persidangan, hingga ancaman pembunuhan dari salah satu narapidana yang sakit hati karena kalah dan dipenjara berkat Dita.

Saya menyukai latar kesehatan: dokter, rumah sakit, ruang operasi, dan sebagainya; sejak membaca beberapa novel karya Mira W. Juga karena duluuu banget saya pernah bercita-cita menjadi dokter, yang akhirnya nggak kesampaian. Ditambah dengan intrik persidangan yang lumayan, membuat The Case We Met begitu asyik untuk dinikmati. Khusus untuk unsur kesehatannya, cukup mendetail. Bahkan, mungkin, untuk sebagian pembaca akan terkesan terlalu detail.


Buat saya sih, yang memang menggemari novel-novel metropop dengan alasan agar bisa menambah wawasan dunia kerja kaum urban, rupa-rupa dunia kesehatan di novel ini--khususnya spesialis anestesi, sangat menarik karena Flazia berhasil mengemasnya sedemikian rupa hingga tidak seperti sedang membaca jurnal ilmiah. Karena saya tidak bekerja di bidang kesehatan dan sedang tidak berminat fact-check, saya nggak bisa memastikan apakah seluruh fakta kesehatan di novel ini sudah benar. Well, Flazia memang kuliah di kedokteran/farmasi (?) dan berprofesi sebagai dokter (sekaligus script writer?)--profil linkedin: fildzahia, jadi mestinya faktanya dapat dipertanggungjawabkan ya.

Sementara untuk intrik hukum/persidangannya, tentu saja jangan mengharapkan yang sepelik seperti dalam novel-novelnya John Grisham, ya. Agak mendekati kasus yang diselesaikan Elle Woods di film Legally Blonde-nya Reese Witherspoon itu, deh. Ya nggak silly-komedi begitu, cuma agak gampang ditebak ujungnya dan kurang mendebarkan untuk tokoh Natan sebagai terdakwa.


via GIPHY

Untungnya lagi, unsur romance yang dibangun Flazia pun tidak cringe, terhindar dari instalove--cenderung slow burn, dan cukup manis. Cinta lama bersemi kembali, cinta yang ternyata bertepuk sebelah tangan, dan cinta yang salah sasaran. Mungkin novel ini tidak menyimpan plot twist, tapi banyak kejutan kecil yang bikin saya memekik bahagia campur haru di sana-sini. Tak jarang, di banyak bagiannya saya juga tergelak oleh dialog yang kocak dan witty-banter yang oke punya. Well done, Flazia.

Sayangnya, saya tak jadi memberikan 5 bintang utuh ke novel ini, karena seperempat bagian akhirnya. Oke, saya paham harus ada adegan penyerangan itu--sop.iler(spoiler), untuk konsistensi cerita, tapi... entahlah. Agak kurang meyakinkan, nanggung saja jadinya.


via GIPHY

Hal lain yang menurut saya agak menyulitkan novel ini menjangkau pembaca yang lebih luas (semoga saya salah, semoga saya salah, semoga saya salah):
1. gaya penulisan Flazia di novel ini sangat mirip dengan gaya novel terjemahan, yang sayang sekali, beberapa pembaca masih merasa novel terjemahan tak terlalu nyaman dibaca;
2. meskipun tidak jatuh ke gaya dakwah/ceramah sedalam novel-novel religi islam (yes, ayat-ayat cinta, dsb), tapi konten bernuansa islam pada beberapa bagian (terutama menuju ending) cukup kental dengan mengutip serta menginterpretasikan ayat alquran dan hadis.

Overall, for me, The Case We Met adalah novel metropop debutan yang cukup mengejutkan--in a good way. Dengan menyematkan rating 4 bintang, tentu saja, novel ini berhasil memikat saya, mulai dari gaya menulis, latar belakang, plot, dan parade karakter yang kuat. Namun demikian, masih ada beberapa bagian yang agak nanggung.

Topik bahasan:
1. Cinta lama bersemi kembali
2. Menyukai sahabat kakak
3. Office romance
4. Latar: hukum (pengecara) dan kesehatan (dokter)
5. Bad boy became a good guy
6. Drama keluarga
7. Setting: New York dan Yogyakarta

Selamat membaca, kamu.

End line:
Ayo kita pulang sekarang.
---hlm.434, Adendum

Saturday, March 28, 2020

[Curhat] Pindahan... yang bukan fiksimetropop :)

Sudah sejak lama sebenarnya, saya ingin mengkhususkan blog ini buat memuat artikel apa pun yang hanya berkaitan sama #novelMetropop. Hahaha. So far, ya cuman niat. Nggak kejadian dari kapan tahun juga. Well, tapi mulai 2020 ini, saya kepingin menghidupkan kembali niatan itu. Mestinya sih dari awal sudah begitu, ya. Alamat blog sudah fiksimetropop. Buku paling banyak dibaca ya metropop. Niatan bikin blog, juga buat menyebarkan virus baca novel-novel metropop.

Namun, karena dasarnya saya kan bukan melulu baca #novelMetropop doang. Jadi, saya tetap butuh wadah buat menampung segala rupa di luar metropop, ketimbang jadi jerawat, kan? Karenanya untuk seluruh postingan di luar metropop nantinya akan dialihkan ke blog baru, yang sebenarnya sudah dibuat beberapa waktu silam. Alamatnya: http://bukanfiksimetropop.blogspot.com.

Belum (dan sepertinya nggak akan) dibikin blog dengan domain berbayar, sih. Hahaha. Lha, satu aja yang berbayar nggak keurus rutin. Nantilah, kapan-kapan kalau tenaga masih cukup dan nggak sok sibuk, (mungkin) bakal dibeliin domain juga. Untuk saat ini, begini dululah. Yang penting sudah cukup memenuhi niatan yang selama ini selalu pengin dilakuin.

Beberapa konten yang cukup populer mungkin bakal stay di sini, atau dipecah jadi dua. Misalnya, Top Ten Tuesday dan BOOKtainment. Kalau bisa dibikin di dua blog, ya bakal dibikin dua. Kalau nggak bisa, yaudah, bakal tetap dipajang di blog yang ini saja.

That's all. Itu doang yang sebenarnya pengin dicurhatin kali ini. Semoga apa yang saya niatkan ini dilapangkan dan dimudahkan jalannya. Aaamiin. Let's keep reading, tweemans.


via GIPHY
xoxo
fiksimetropop

Monday, July 1, 2019

[BOOKtainment] Trailer resmi Twivortiare, novel-novel Sarah Dessen diFILMkan, mengintip gelaran #BBWBandung2019, dan kabar literasi lainnya

Hari Senin adalah saatnya mewartakan kabar-kabar lain dari dunia literasi, baik dari dalam maupun luar negeri, biar bikin kita enggak lagi bilang, "I hate Monday". Warta perbukuan ini saya rangkum dari pelbagai sumber.


1. Official trailer film adaptasi salah satu #novelMetropop paling laris, Twivortiare karya Ika Natassa, resmi dirilis dan filmnya siap tayang 29 Agustus 2019. Bagaimana menurutmu? Oke, nggak, based on this trailer?



2. Tiga novel Sarah Dessen siap diadaptasi ke layar lebar oleh Netflix: Along for the Ride, This Lullaby, dan Once and For All. Can't wait! Baca berita selengkapnya di http://media.netflix.com/id


3. Mengintip #BBWBandung2019 aka Big Bad Wolf book sale teranyar yang diselenggarakan di Bandung dari postingan video Aya. Waktu dapat bocoran rencana BBW menggelar book sale di beberapa kota selain Jakarta, Surabaya, dan Medan, saya cukup antuasias ketika melihat nama Bandung ada dalam bocoran tersebut serta berdoa semoga bisa mengunjunginya. Hanya saja ketika diumumkan tempat penyelenggaraan ada di Hotel Mason Pine yang lumayan jauh dari kota Bandung-nya sendiri, saya mulai pesimis buat datang. Lalu jadwal ujian kampus dan rencana kondangan ke luar kota di dua weekend penyelenggaraan BBW, membuat saya tak mungkin bisa berhadir ke pameran tersebut. Ditambah lagi kesan-kesan booktuber Indonesia: Aya di video-nya ini makin membuat saya tak merasa FOMO (fear of missing out) meskipun nggak bisa datang ke BBW Bandung. Adios!



4. #novelMetropop anyar, "Gendut? Siapa Takut!" karya Alnira sudah rilis dan beredar. Yuk, dibaca.


add to your goodreads: Gendut? Siapa Takut!

5. Yuk, ikut bantu membuat database #novelMetropop terbitan Gramedia Pustaka Utama sekaligus memilih yang terfavorit menurutmu. Semoga daftar "Novel Metropop Terbaik Sepanjang Masa" ini bisa jadi database pencinta #novelMetropop yang bisa kita akses bersama, buat mastiin novel mana yang sudah kamu punya dan mana yang belum, hehehe. Daftar dulu jadi anggota di www.goodreads.com kalau mau nge-vote, ya.

Wednesday, May 22, 2019

[Resensi Novel Romance] Kenya by Kincirmainan

First line:
GUE MENGISAP SEBATANG MARLBORO MENTOL dengan saksama, menghirup lewat lubang hidung, menahan sebentar di rongga mulut sebelum mengembuskan perlahan.
---hlm.5, Chapter 1 - RESOLUSI

Gue Kenya Barika Bayo, lahir di Kenya, punya adik cowok yang super mega ultra sensitif bernama Afrika.

Seperti cewek lain di muka bumi ini, gue juga bikin resolusi tahun baru yang nggak berguna sebab isinya 85% gagal 10% pasti segera gagal dan 5% belum pasti gimana nasibnya.

Kacau.

Delta, cowok yang gue sayang dari kecil dan mau gue tembak tepat pada malam pergantian tahun, which is bagian dari rencana besar gue tahun ini, justru jadian sama sahabat gue!
Parahnya, malam itu juga gue malah jatuh ke pelukan Data, adiknya Delta!

Oh my God, Kenya, what were you thinking?!

Judul: Kenya
Pengarang: Kincirmainan
Penyunting: Yuke Ratna Permatasari
Penyelaras Akhir: Ani Nuraini Syahara
Ilustrasi sampul: Bella Ansori
Desainer: Dea Elysia Kristianto
Penerbit: Penerbit Bhuana Ilmu Populer
Tebal: 356 hlm
Rilis: Mei 2019
My rating: 3 out of 5 star

Kenya


I'm bored and fell into a reading slump hole too deep when I saw this book on my Gramedia Digital's account. Jujur saja, selain nama "Kincirmainan" yang sudah wara-wiri di linimasa Twitter beberapa waktu ke belekang, kovernya yang kuning gonjreng dengan gambar ilustrasi cewek berambut keriting panjang awut-awutan yang sekilas mengingatkan saya pada karakter Merida di film animasi garapan Pixar-Disney "Brave"-lah yang membuat saya akhirnya mengunduh fail di Gramedia Digital dan langsung membacanya.


via GIPHY

I LOVEEE.... HER WRITING! Itu kesan pertama ketika mengawali membaca novel ini. Lincah, lugas, diksi apik, tatanan bahasa-kalimat yang bagus, kalimat serbaguna, mengalir lancar... pokoknya jenis yang bisa membuat saya betah berlama-lama membaca sebuah buku, makanya saya langsung mengucap syukur karena merasa menemukan "tangga" untuk bisa merangkak keluar dari lubang kemalasan membaca. Sudah lama saya enggak nemu gaya menulis ceplas-ceplos seperti ini, terakhir di Resign-nya Almira Bastari.

Pun, dengan para karakternya. Begitu hidup, begitu berwarna, begitu ekspresif. Mulut seperti enggak ada saringannya. Saya menyukai fakta-fakta yang terselip di sana-sini sebagai latar belakang karakter masing-masing. Favorit saya: Data dan Jamal. Maka, harapan untuk menyukai dan berakhir dengan menyematkan rating 5 bintang di goodreads pada novel ini begitu tinggi.


via GIPHY

Well, ternyata KENYAtaan tidak selalu berbanding lurus dengan harapan, ya. Kayak penginnya ongkang-ongkang kaki doang terus dapet gaji gitu, hehehe. Premis yang cukup kuat berakhir di eksekusi yang kebanyakan drama dan serba kebetulan, *sigh.


via GIPHY

Premis: Kenya adalah sulung dari dua bersaudara, kakak perempuan dari seorang adik laki-laki bernama Afrika. Keduanya bak tertukar jiwa, Kenya justru berkelakuan seperti laki-laki sedangkan Afrika cenderung bersikap seperti perempuan. Kenya punya trauma masa lalu menyangkut hubungan romantis, hingga sangat selektif untuk berani menjalin hubungan dengan komitmen. Terlebih, dia sebenarnya sudah jatuh hati pada sahabat sejak kecilnya, Delta, tapi terpaksa harus menguburnya dalam-dalam karena si sahabat sudah menjalin kasih dengan sahabatnya yang lain, Bella. Karena Kenya memang tentang cinta, secara garis besar novel ini akan melulu membahas perjuangan Kenya mencari cinta sejatinya. Tentu saja dilengkapi dengan BANYAK drama di sekelilingnya, mulai dari hubungan dengan keluarganya (adik dan ibunya---terutama dengan adiknya, yang selalu berantem, kayak anjing-kucing), lingkungan kerjanya, adik-beradik Delta dan Data, Bella, Jody, dan masih banyak lagi.

Sesemangatnya saya melahap kalimat demi kalimat buatan Kincirmainan, ada dua adegan yang membuat saya ingin berhenti baca dan memutuskan DNF saja. Cuman, karena sudah lumayan jauh bacanya, akhirnya saya kuat-kuatkan hingga akhir halaman.


Saya pernah protes pada aliaZalea waktu menulis Miss Pesimis yang lumayan vulgar ataupun Okke "sepatumerah" di Heart Block yang seolah mengampanyekan merokok, well... ternyata dua novel itu nggak ada apa-apanya dibanding Kenya ini. Sering berkata kasar, cek; seks bebas, cek; hubungan sesama jenis, cek; merokok, cek; minum alkohol, cek; jambak-jambakan di area publik, cek; menyumpahin ortu-sodara-temen, cek; hubungan sesama sodara alias incest, cek. Lengkap banget pokoknya. Semakin ke sini, saya sih mulai "terserah lo, deh", sama urusan-urusan seperti ini. Hanya saja, saya tetap akan menginformasikan ke siapa pun yang kebetulan membaca resensi ini, bahwa di dalam novel yang saya baca mengandung hal-hal vulgar atau disturbing, siapa tahu ada yang butuh, kan?


via GIPHY

Pada akhirnya, hanya tiga bintang yang bisa saya sematkan untuk Kenya. Coba saja dramanya enggak begitu banget. Coba saja ada bagian-bagian yang dipotong saja. Coba saja adegan-adegan meet cute-nya enggak dibikin serba kebetulan. Coba saja Kenya nggak pernah jadian sama Delta dan fokus ke Data saja. But, I do really love Kincirmainan's writing. Saya masih mau nyoba baca karyanya yang lain, tentu saja.

Topik bahasan:
1. Sahabat jadi cinta
2. Cinta bersegi banyak
3. Office romance
4. Latar: bidang peternakan (babi), kuliner (chef), pengarang
5. Dosa masa lalu
6. Drama keluarga
7. Setting: Jakarta

Selamat membaca, kamu.

End line:
Data bikin grilled tenderloin yang juicy banget, bikin gue makin cinta sama dia.
---hlm.347, Epilog

Monday, May 13, 2019

[BOOKtainment] To All The Boys I've Loved Before 2 Selesai Syuting, Novel Baru-nya Sarah Dessen dan Marie Lu, Chapter Tambahan untuk If I Stay, dan Bakal Ada Kejutan di Novel Metropop

Hari Senin adalah saatnya mewartakan kabar-kabar lain dari dunia literasi, baik dari dalam maupun luar negeri, biar bikin kita enggak lagi bilang, "I hate Monday". Warta perbukuan ini saya rangkum dari pelbagai sumber.


1. Syuting film lanjutan dari To All The Boys I've Loved Before yang diadaptasi dari novel young adult karangan Jenny Han sudah rampung, diasumsikan dari salah satu tweet yang dikicaukan Noah Centineo beberapa waktu lalu.



Oh, dan buat fans Noah sudah tahu kan kalau dia ini lagi laris manis tanjung kimpul lah, ya, sampai Calvin Klein mendapuknya barengan Shawn Mendes di salah satu pemotretan baru-baru ini. Mungkin bakal jadi "wajah" Calvin Klein, yes?







2. Akan ada novel baru di jajaran Legend Saga karangan Marie Lu! Saya belum baca, sih, tapi sudah ngumpulin, hahaha.



3. Khusus untuk perayaan 10 tahun terbitnya novel If I Stay karangan Gayle Forman, akan ditambahkan bab khusus yang menceritakan soal Kat dan Danny, orangtua Mia Hall yang charming banget itu. Yayyy.... saya suka banget If I Stay.



4. Novel baru Sarah Dessen, The Rest of the Story, sudah siap edar!



5. Melinda Gates, istri miliuner Bill Gates, juga punya buku baru yang siap edar!



6. Siap menonton The Sun Is Also A Star, film adaptasi novel karangan Nicola Yoon?



7. Hmmm, masih nggak jelas sih kejutannya apa, tapi dari tweet Utha terjadilah convo ini, hehehe.


Tuesday, April 30, 2019

[Top Ten Tuesday] Inspirational/Thought-Provoking Book Quotes

Top Ten Tuesday was created by The Broke and the Bookish in June of 2010 and was moved to That Artsy Reader Girl in January of 2018. It was born of a love of lists, a love of books, and a desire to bring bookish friends together. The Artsy Reader Girl original title for April 30: Inspirational/Thought-Provoking Book Quotes.


For me, diction is the most important part of the book. I'll stop reading or throw away--literally--a book if its diction doesn't meet my expectation. So, yeah, I'll always love an inspirational/thought-provoking book quotes, so here they are:

1. Resign! by Almira Bastari



2. Harry Potter and The Prisoner of Azkaban by J.K. Rowling



3. Wolf Brother by Michelle Paver



4. The Hate U Give by Angie Thomas



5. The Hate U Give by Angie Thomas



6. Goodbye Things by Fumio Sasaki



7. Antologi Rasa by Ika Natassa



8. What I Know for Sure by Oprah Winfrey



9. London: Angel by Windry Ramadhina



10. Twilight by Stephenie Meyer



Monday, April 29, 2019

[Resensi Novel Romance] Asa Ayuni by Dyah Rinni: sejumput cinta penuh drama

First line:
Ayuni Safira bangun pada jam empat pagi dengan dua prioritas utama: reuni nanti siang dan bagaimana membuat Poppy, teman sekaligus musuh yang pasti datang,
mengagumi rumah dan kue buatannya.

---hlm.1, Bab 1 - Reuni

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Di salah satu bloknya, ada sebuah rumah, yang kalau kau masuk ke dalamnya akan merasakan nuansa paduan klasik dan modern. Desainnya tampak chic, dan bantal pink elektrik di atas sofa cokelat akan membuatmu betah di sana.

Seorang perempuan yang pandai membuat kue tradisional akan menjadi teman mengobrolmu. Dia punya toko kue tak jauh dari rumahnya. Dia sedang berduka, baru saja kehilangan suaminya. Ada getir terpancar dari matanya. Namun, dia amat terlihat berusaha tegar. Perempuan itu Ayuni. Perempuan manja yang sedang berpura-pura tangguh demi memupuk asanya yang baru saja hancur.

Judul: Asa Ayuni
Pengarang: Dyah Rinni
Penyunting: Jia Effendie
Penerbit: Falcon Publishing
Tebal: 236 hlm
Rilis: Desember 2016
My rating: 3 out of 5 star

Sejujurnya, saya sudah kepingin baca Asa Ayuni sejak bundel seri Blue Valley dirilis oleh penerbit Falcon Publishing pada Desember 2016/Januari 2017 silam. Namun, karena satu dan lain hal, keinginan itu tertunda terus dan terus, hingga hampir saja ikhlas untuk merelakan tak membaca Asa Ayuni. Barulah awal Maret 2019 lalu, ketika gelaran Big Bad Wolf kembali menyambangi Jakarta, emmm... BSD lebih tepatnya, keinginan itu muncul lagi demi melihat Asa Ayuni ada di tumpukan buku obral bagian novel Indonesia, hanya dibanderol Rp15.500 dari harga resminya Rp72.000. Oke, nggak perlu mikir lagi: COMOT!

gambar dari sini: falconpublishing.co.id

Well, tapi dibacanya pun enggak langsung, hehehe. Baru kelar kemarin (27/04) sejak dimulai hari Kamis (25/04). Saya suka cara menulis Dyah Rinni, ittulah mengapa dari lima buku di seri Blue Valley, saya paling-paling kepinginan dibaca ya Asa Ayuni. Dari Marginalia, lalu lanjut Beautiful Liar, dan Mermaid Fountain, saya terpuaskan oleh diksi Dyah yang sederhana, tapi tak biasa dan penuh makna. Maksudnya, tiap kata pembentuk kalimat rekaannya ditulis dengan niat dan tujuan, sehingga sayang untuk di-skimming dan maunya dirunut satu per satu.

Begitupun dengan departemen karakterisasinya. Saya menyukai tokoh-tokoh yang dihidupkan Dyah di ketiga bukunya yang sudah saya baca sebelum Asa Ayuni, terutama di Marginalia. Well, so far sih, Marginalia is my most favorite dari karya-karya Dyah.

Sayang sekali, kedua kesukaan saya itu, kali ini kurang berhasil di Asa Ayuni. Saya tak bilang gaya menulis Dyah berubah, hanya saja diksinya yang sudah baik, kurang bisa diimbangi dengan pace serta jalinan adegan pembentuk ceritanya. Entah bagaimana, saya merasa banyak bagian yang tidak tertambal dengan sempurna, berasa lompat-lompat. Don't get me wrong, pace ceritanya terbilang cepat, konflik dan subkonflik tersusun bertumpukan dan berkejaran satu demi satu, tapi justru bikin saya frustrasi. Ini kisah cinta kecil yang penuh drama.

Dalam halaman ucapan terima kasih, Dyah menulis:
Barangkali kedengarannya klise, tetapi bagi saya, Asa Ayuni adalah tantangan terberat di dalam karier menulis saya.... dst... dst...
...setelah dua setengah bulan menulis, lebih dari 60.000 kata yang diketik dan separuh naskah yang dibabat habis, novel ini bisa hadir... dst... dst...
Saya tak bisa memastikan, tentu saja, cuman saya jadi berasumsi mungkin awalnya tulisan cukup berkesinambungan, tapi dengan beragam pertimbangan, harus dipotong di sana-sini.

FYI, Asa Ayuni menyajikan tokoh utama Ayuni Safira dan Elang Tejawijaya, yang awalnya selayaknya kutub utara-selatan yang tak mungkin bisa berkaitan, hingga karena suatu sebab mereka akhirnya dipertemukan. Naskah diceritakan menggunakan PoV orang ketiga dengan angle kamera pada satu-beberapa bab difokuskan pada Ayuni dan terkadang difokuskan pada Elang, hingga pembaca diberikan gambaran secara gamblang pada karakter masing-masing, termasuk subplot-subkonflik yang dimiliki oleh kedua tokoh.

Di situlah, saya gagal dipuaskan. Drama-drama yang mengejar Ayuni dan Elang terlampau dramatis, tapi kurang digali. Beberapa karakter juga tampil serba hitam-putih, misalnya Poppy. Menurut saya, people change, dan kalaupun tak berubah sesuai harapan kita, tetap saja tak sama dengan mereka di masa lalu. Dan, saya tak diberikan penjelasan yang cukup mengapa Poppy begitu memusuhi Ayuni dan mengapa Ayuni begitu ingin mengalahkan Poppy. Hal serupa terjadi pada saat Ayuni menghadapi Laras. Sikap frontal Ayuni agak kurang pas saja. Apa sih yang pernah dialami Ayuni dulu sehingga kadang dia bisa menjadi teman yang menyenangkan, tapi kadang juga gampang emosian dan cenderung suka main kekerasan? Bagi saya, tak cukup alasan untuk membentuk pribadinya.

Asa Ayuni juga menghadirkan banyak sekali kebetulan yang janggal. Ayuni anak tunggal? Elang anak tunggal? Satria anak tunggal? Ayuni dan Satria juga hanya punya anak tunggal? Zetro anak tunggal?


via GIPHY

Bukan bermaksud spoiler, tapi Elang ini sudah merintis sebagai manajer berpengalaman hingga ke Australia, mestinya sudah punya banyak relasi di bidang yang digelutinya kan, ya? Dan, Gulaloka milik Ayuni ini "hanya" sebuah toko kue yang tidak digambarkan super terkenal, dari lowongan kerja manakah Elang mendapatkannya? Oke, di halaman 100, disebutkan: Elang menekan logo browser di ponselnya dan mulai mencari lowongan pekerjaan. Lalu di halaman selanjutnya, Elang sudah datang ke Gulaloka untuk menjalani sesi wawancara kerja tanpa diberikan penjelasan yang cukup, kenapa dia memilih melamar kerja ke Gulaloka. Hmmm.


via GIPHY

Akhirnya saya melanggar janji sendiri, banyak bagian yang saya skip, karena tak sabar menunju akhir cerita. Dan, ya, ujung konlik berbeda dari tebakan saya dan cukup masuk akal sebagai pengakhiran beragam drama yang melanda Ayuni. Tak begitu memuaskan, tapi oke-lah.

Topik bahasan:
1. Office-romance
2. Cinta segitiga
3. Tema: kuliner - pastry
4. Single parent
5. Anak berkebutuhan khusus; Asperger Syndrome
6. Setting lokasi: Jakarta - Sydney
7. Drama keluarga; parenthood

End line:
"Namun, kelak, jika saatnya tiba, Elang berharap, sungguh-sungguh berharap, Ayuni membukakan pintu hati hanya untuknya.
---hlm.232, Bab 24 - Asa