Monday, January 16, 2017

[Resensi Novel Romance] Angel in The Rain by Windry Ramadhina

#3_2017

First line:
Di salah satu sisi Charlotte Street yang basah, dia berdiri memanggul tas besar.
---pg.8, Chapter: LONDON: Pertemuan di Tengah Hujan

Ini kisah tentang keajaiban cinta.

Tentang dua orang yang dipertemukan oleh hujan. Seorang pemuda lucu dan seorang gadis gila buku yang tidak percaya pada keajaiban.


Di Charlotte Street London, mereka bertemu, tetapi kemudian berpisah jalan.


Ketika jalan keduanya kembali bersilangan, sayangnya luka yang mereka simpan mengaburkan harapan. Ketika salah seorang percaya akan keajaiban cinta, bahwa luka dapat disembuhkan, salah seorang lainnya menolak untuk percaya.


Apakah keajaiban akan tetap ada jika hati kehilangan harapan? Apakah mereka memang diciptakan untuk bersama meski perpisahan adalah jalan yang nyata?

Judul: Angel in the Rain
Pengarang: Windry Ramadhina
Editor: Yuliya & Widyawati Oktavia
Penyelaras Aksara: Widyawati Oktavia
Desainer sampul: Windry Ramadhina & Agung Nugroho
Penerbit: GagasMedia
Rilis: 2016
Tebal: viii + 460 hlm
ISBN: 9789797808709
Format: e-Book on Playbooks (Google)
Harga: Rp19.000 (promo)
My rating: 4 out of 5 star

Saya begitu terbuai oleh LONDON: Angel dan benar-benar terhanyut bersama Walking After You, maka ketika terdengar kabar Windry akan menuliskan penggalan kisah lanjutan LONDON: Angel saya girang bukan main. Apalagi tokoh yang akan dihidupkan adalah Ayu dan Gilang. Saya sendiri begitu terpikat pada karakter Ayu di LONDON: Angel.

Namun demikian, saya baru saja kecewa pada pembacaan karya Windry terakhir, Last Forever. Oleh karenanya saya kelewat banyak berpikir untuk jadi membeli-baca atau tidak ketika Angel in the Rain, si kisah lanjutan itu, akhirnya benar-benar terbit. Maju-mundur-cantik-cantik setiap mau mencomot dari toko buku. Lalu saya pun memutuskan: 1) pinjam teman, kalau suka baru beli; atau 2) nunggu diskonan harga obral.

Ternyata pilihan kedua yang datang terlebih dulu, meskipun tak benar-benar sama, karena yang diskon justru berformat digital di Playstore. Gambling (karena enggak yakin bisa kelar baca di handphone), akhirnya saya beli juga versi digital yang diobral itu. Dan, Angel in the Rain menjadi buku panjang pertama yang selesai saya baca di handphone! Woo-hoo, rekor. Sebenarnya saya juga pembaca e-book, tapi lebih seringnya saya baca di iPad. Sedangkan di handphone saya hanya menyimpan beberapa judul novel saja, dan belum ada satu pun yang terbaca.

sumber: www.pinterest.com

Angel in the Rain ditulis dengan alur maju-mundur. Sebagian besar ber-setting di Jakarta dengan kilasan ingatan ber-setting di London. Kisahnya sendiri dimulai dari bagian akhir kisah LONDON: Angel, ketika Gilang dan Ayu kembali ke Jakarta. Rancangan pertemuan sudah bermula sejak mereka secara tak terduga bertemu di London. Namun, di Jakarta-lah silang kehidupan mereka akhirnya dipertemukan. Dengan segenap kerumitan yang diracik Windry.

Masih tampil dengan diksi menawan, kalimat efektif, dan narasi yang mendetail, saya begitu betah menekuni lembar demi lembar (versi digital) novel kesembilan Windry ini. Gairah saya yang memudar ketika membaca Last Forever, secara drastis meningkat puluhan kali. Didukung pula dengan semangat baca saya yang entah bagaimana cukup bagus di awal tahun 2017 ini.

Buat yang sudah baca LONDON: Angel pasti tahu dong kenapa Gilang pergi ke kota Big Ben itu? Belum tahu? Hmm, baca lagi kalau begitu... dan buat yang belum baca, saya sarankan baca dulu, deh. Hehehe. Kecuali kamu enggak begitu ingin tahu apa saja yang dialami Gilang selama di London, oke-oke saja sih kalau tetap mutusin baca Angel in the Rain tanpa membaca LONDON: Angel dulu. Toh, sebenarnya ada beberapa bagian di sini yang menjembatani bolong informasi itu. Tapi, ada baiknya kamu baca dulu LONDON: Angel, ya.

Di sini Ayu dikenalkan sebagai gadis si gila buku yang ternyata adalah seorang penulis novel pupoler yang cukup laris, sedangkan Gilang sebagai si pemuda lucu yang ternyata adalah editor sastra yang sedikit anti-novel populer. Kontras. lalu, bagaimana dua orang asing yang hanya kenal sepintas lalu (dan bertolak belakang sifatnya itu) akhirnya bertemu kembali? Semoga bukan spoiler, semua karena buku Burmese Days cetakan pertama karya George Orwell. Apa dan bagaimana? You should read it by yourself. Baca sendiri!

Singkatnya, memang ada yang terjadi antara Ayu dan Gilang. Tapi, jangan langsung berasumsi ini kisah yang gampang. Ada cerita lalu yang tak sepenuhnya berlalu. Ayu dengan Em, dan Gilang dengan Ning. Ada pula geng suporter Gilang: Brutus, Dum, Dee, dan Hyde. Lalu orangtua Ayu dan kakak perempuannya, Luh, yang menuntut Ayu terlalu banyak. Yakinlah, ini bukan kisah cinta yang gampang.

Angel in the Rain diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama baik dari sisi Ayu maupun Gilang. Namun, runutan kisahnya, sesekali dinarasikan oleh Goldilocks dan payung merahnya. Maka, jangan heran jika pada beberapa bagian novelnya seperti sok kenal sama kita--pembaca--dengan memanggil 'Sayang' dan mengajak kita mengobrol. Pernah lihat serial TV Gossip Girl atau Desperate Housewives yang fenomenal itu? Nah, seperti itulah Angel in the Rain diceritakan.

sumber: bestpaintingforsale.com
Departemen karakter juga digarap maksimal oleh Windry, as usual. Saya suka semua tokoh-tokohnya, tentu saja terutama Ayu dan Gilang. Keduanya tampil memesona, kuat, dan hidup dari awal hingga akhir. Tokoh pendamping juga tak kalah kuatnya. Sebut saja Ning, Luh, dan Em. Oh, dan juga Ungku, pemilik toko buku langka di kawasan Kota Tua.

Yang mengganggu saya justru hadir di akhir. Ending-nya bikin aaarggghhh... in a bad way. Entahlah. Saya mengharapkan sesuatu yang grande. Bukan sesuatu yang mudah begitu. Oke, bagi kedua tokohnya mungkin bukan akhir yang mudah. Tapi, secara keseluruhan, buat saya ending-nya kurang nendang. Tapi, don't ask me. Saya juga enggak tahu harus diapain tuh berdua. Yang pasti, bukan yang seperti itu. Atau bakal ada novel lain yang melanjutkan kisah mereka? Saya kok nangkap kesannya begitu waktu baca penggalan curhat Goldilocks di pengujung novel. Hmmm.

Oiya, saya bilang Angel in the Rain juga memuat unsur Walking After You? Yap, ada sebagian kisah di sini yang terjadi di toko kue Afternoon Tea yang dikelola An dan Julian yang merupakan napas utama novel Walking After You.  

Overall, saya cukup puas dengan Angel in the Rain, meski tidak semenghanyutkan Walking After You atau LONDON: Angel sekalipun. Nostalgia yang manis dengan malaikat hujan.

Jadi, selamat membaca, tweemans!

End line:
Gilang dan Ayu, meskipun demikian, bersisian semakin rapat di bawah payung merah.
---pg.50, Chapter: UBUD: Pertemuan Kembali di Tengah Hujan

Monday, January 9, 2017

[Resensi Novel New Adult] The Deal (Off-Campus #1) by Elle Kennedy

#1_2017

First line:
HE DOESN'T KNOW I'm alive.
--hlm. 9, Chapter 1: Hannah

 She's about to make a deal with the college bad boy...

Hannah Wells has finally found someone who turns her on. But while she might be confident in every other area of her life, she's carting around a full set of baggage when it comes to sex and seduction. If she wants to get her crush's attention, she'll have to step out of her comfort zone and make him take notice...even if it means tutoring the annoying, childish, cocky captain of the hockey team in exchange for a pretend date.

...and it's going to be oh so good

All Garrett Graham has ever wanted is to play professional hockey after graduation, but his plummeting GPA is threatening everything he's worked so hard for. If helping a sarcastic brunette make another guy jealous will help him secure his position on the team, he's all for it. But when one unexpected kiss leads to the wildest sex of both their lives, it doesn't take long for Garrett to realize that pretend isn't going to cut it. Now he just has to convince Hannah that the man she wants looks a lot like him.

Judul: The Deal
Seri: Off-Campus, buku 1
Pengarang: Elle Kennedy
Penerbit: Elle Kennedy Inc.
Rilis: 24 Februari 2015
Format: e-book, bahasa Inggris
Genre: New Adult
Tebal: 408 hlm
My rating: 3,5 out of 5 star

ide cerita dan eksekusinya:
Well, akhirnya saya berhasil juga membaca novel New Adult lagi. Hahaha. Actually, it just tells something about an ordinary romance. Sedikit campuran Cinderella story dan Romeo dan Juliet. Romantisme tercipta antara si gadis jurusan seni yang pintar dengan pemuda sang kapten tim hoki es yang terancam kariernya karena kegagalan akademis di salah satu mata kuliah. Bagian awal Chapter 1 berhasil menipu saya soal siapa love interest si gadis. Namun, dengan penggunaan PoV (point of view) orang pertama untuk dua karakter utamanya, saya langsung paham bahwa akan ada cerita soal cinta segi tiga di novel ini.

Selain itu, ada isu tentang kejahatan pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang membuat cerita romance yang sejatinya simpel saja menjadi lumayan kompleks. Elle berhasil mempertahankan premisnya dan membuat cerita bergulir dengan apik serta diakhiri dengan pas. Ada sih bagian ketika dua tokoh utamanya terkesan labil dan kepingin banget saya jorokin ke jurang, but overall, Elle berhasil membuat ending yang manis.

plot, setting, dan karakter:
The Deal dibuat dengan alur maju dan jarang ada kilas balik ke masa lalu, hanya dari percakapan kedua tokoh utamanya saja. Setting lokasi terutama di area kampus Briar University di Massachusetts, USA. Sesuai dengan judulnya, salah satu tokoh utamanya tinggal di sebuah rumah asrama (atau sewaan) yang terpisah dari kampus (off-campus).

https://thecrazyworldofabooklover.wordpress.com
Dua tokoh utamanya adalah Hannah Wells, si gadis jurusan seni (tepatnya musik, dan sedang dalam proses persiapan tampil di sebuah showcase), dan Garrett Graham, si pemuda kapten tim hoki es. Hannah adalah tipikal gadis protagonis kebanyakan: unpopular, cenderung miskin, bersuara emas, pintar secara akademis, dan (pada akhirnya) bertransformasi menjadi gadis cantik. Sedangkan Garrett juga tipikal atlet pujaan kampus: popular, tampan, kaya, playboy, dan kapten. Untung saja Elle tidak menstereotipkan Garrett sebagai cowok bodoh. Sebetulnya dia juga pintar, hanya saja sedang tidak beruntung di salah satu mata pelajaran.

Di luar keduanya ada tokoh sentral Justin Kohl, teman serumah sekaligus setim Garrett: Logan, Tucker, dan Birdie, teman sekamar Hannah: Allie, Cass Donovan (partner duet Hannah), dan beberapa tokoh pendamping lainnya. Untuk urusan karakter ini, tak ada komplain. Semuanya memiliki peran yang pas.

konflik:
Awalnya ini hanya tentang cinta segi tiga. Kenapa judulnya The Deal? Karena memang ada deal-deal-an antara Hannah dan Garrett di sini. Deal tentang apa? Baca sendiri, ya. Spoiler banget kalau saya kasih tahu. Nah, karena deal itulah subkonflik tentang isu perkosaan dan KDRT diselipkan. Yang jelas, meskipun tetap menitikberatkan pada unsur romance-nya, novel ini juga tak kehilangan bobot dengan menyajikan subkonflik yang oke. Inilah yang mesti ditiru penulis lokal, tambahkanlah subkonflik pada ceritamu biar makin kaya dan berbobot.


Namun, sama kayak waktu baca Tangled by Emma Chase, ternyata saya enggak se-open minded yang saya duga. Saya masih selalu risih bila menemui adegan main kuda-kudaan di ranjang. Apalagi di novel ini ada kurang lebih tiga chapter yang mengilustrasikannya. Hohmagat! Saya benar-benar terganggu. Yeah, mestinya saya kan sudah bisa mengantisipasi ya, ini kan novel NA ber-setting luar negeri pula, ya harus terima kalau budayanya beda sama di Indonesia. Tapi, nyatanya, ya... begitulah, saya enggak belum bisa. Edan memang saya. Ya sudahlah, kalau kamu memang sudah bersiap membaca yang ada beginiannya, novel ini sayang banget kalau dilewatkan.

meet cute:
Hannah sedang melirik-penuh-pemujaan ke gebetannya ketika Garrett memergokinya, di kelas Prof. Tolbert, di mana Garrett gagal memenuhi standar nilainya. Setelah tahu Hannah mendapat nilai A bulat untuk ujian kelas itu, dengan penuh percaya diri Garrett meminta-paksa Hannah untuk menjadi tutornya.

simpulan:
Cukup oke untuk bacaan awal tahun, meskipun banyak bagian yang saya skip karena alasan kuda-kudaan itu. Overall, bukunya bagus, hanya saja untuk lanjut ke buku berikutnya saya masih mikir-mikir dulu. Lebih baik saya coba judul lain dulu, deh.

Selamat membaca, tweemans.

End line:
I don't look back these days. I only look forward.
--hlm. 404, Epilogue: Garrett.

Sunday, January 8, 2017

[Resensi Novel Metropop] Yes I Do But Not With You by Shandy Tan



First line:
AMY tidak pernah memikirkan kemungkinan dirinya memiliki bibit kegilaan meskipun hanya seperjuta miligram--itu jika kegilaan memiliki satuan berat--hingga hari ini.
--hlm.7, Yes I Do But Not With You

Amy tak pernah menyangka rencana masa depannya hancur berkeping-keping dalam sekejap. Pernikahan yang hanya tinggal sejengkal, tiba-tiba sirna. Joshua, sang calon suami sekaligus tujuan hidupnya, menghamili perempuan lain. Amy kehilangan kekasih, pekerjaan yang sangat ia suka, dan kepercayaannya terhadap laki-laki.

Tetapi, kemudian Semesta mempertemukan Amy dengan Gabriel yang melezatkan hari-hari Amy dengan pastry buatannya. Meski begitu, Joshua tak kunjung menyerah merebut Amy kembali, dan dia selalu tahu bagaimana meluluhkan pertahanan Amy. Akankah Amy menerima Joshua kembali? Ataukah ia akan melepaskannya, dan mendengarkan Semesta yang mencoba menghiburnya dengan kehadiran Gabriel.


Judul: Yes I Do But Not With You
Pengarang Shandy Tan
Penyunting: -
Ilustrator cover: Yulianto Qin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 224 hlm
Rilis: 3 Januari 2017 (cetakan ke-1)
ISBN: 9786020337111
Buku merupakan persembahan penerbit untuk resensi jujur saya.
My rating: 3 out of 5 star

ide cerita dan eksekusinya:
Enam tahun pacaran dan berencana menikah tahun depan, tapi semua berantakan. What will you do? Mencoba mencari jalan untuk memperbaiki atau memilih membiarkannya dan move on? Apa pun itu, semua pasti membawa konsekuensi, kan? Tak boleh gegabah mengambil keputusan. Pikirkan matang-matang. Penyesalan di kemudian hari hanya akan membawa kehampaan dalam kumparan waktu yang tiada sesiapa pun sanggup menebak kapan selesainya.

Perkara waktu memang berukuran nisbi. Enam tahun bisa saja singkat, bisa saja lama. Tergantung siapa yang mengukur dan merasainya. Namun, untuk sebuah jalinan asmara, enam tahun tentulah bisa masuk ukuran lama. Apalagi jika hubungan itu sudah kelewat intensif seperti yang terjadi pada Amy dan Joshua.

Joshua digambarkan sebagai salah seorang motivator muda sukses di Medan. Jadwal seminarnya tak berjeda. Amy-lah sosok di balik kelancaran jadwal ‘manggung’ Joshua. Tak ada lagi waktu tersisa untuk diri dan karier pribadi Amy. Semuanya untuk Joshua. Maka, ketika cinta sebagai simpul pertalian bisnis mulai goyah, hati pun kehilangan arah. Serbasalah.

Wajar jika Amy marah. Haknya juga untuk memilih apakah mencari jalan damai demi mempertahankan hubungan atau justru melepaskan dan move on. Dan, sahabat serta keluarga adalah sebenar-benarnya tempat pelarian yang paling tepat. Jika pun menghakimi, bicarakan. Teman baik mengerti kata-kata yang terucap; sahabat sejati mampu memahami yang tidak diucapkan (halaman 27).

Premisnya tentang hubungan pacaran yang cukup lama, hampir meningkat ke jenjang yang lebih tinggi, tapi rusak. Dari sini pengarang menekankan pada putusan-putusan yang diambil si tokoh utama untuk menyembuhkan lukanya. Sayangnya, saya memang tidak terlalu puas dengan eksekusi akhirnya. Ending-nya kelewat sinetron. Bahkan, formula penyelesaian konfliknya old-fashion sekali. Mengingatkan saya pada ujung cerita Me vs High Heels karya Maria Ardelia bertahun-tahun silam.

plot, setting, dan karakter:
Mostly, plot bergerak maju dengan sedikit bagian mundur, sekadar mengingat kenangan masa silam. Sementara setting lokasi adalah di Medan (surprise!) meski tidak secara spesifik disebutkan di bagian mananya Medan. Set yang paling sering disebut adalah rumah Amy dan cafe Pondok Sarapan yang dikelola oleh Lucia dan Paris, dua karib Amy.

Desa-desa Resto, di Jalan Setiabudi No 190-12, Medan, brilio.net
Menyoal karakter, maaf saja, saya kurang bisa teryakinkan oleh hampir seluruh tokohnya, huhuhu. Tumben banget, lho, saya kok ya bisa nggak suka sama siapa pun di sini. Membahas tokoh utama: Amy. Sebenarnya dia ini gimana, sih. Apakah memang digambarkan multitalenta? Ingatkan saya jika ada bagian yang terlewat, tapi kok kayaknya Amy ini serbabisa banget. Awalnya jadi asisten pribadi merangkap pacar Joshua. Lalu, merintis karier pribadi sebagai penerjemah. Tapi tak jarang juga dimintai pendapat soal cita rasa menu kafe Pondok Sarapan. Jadi, Amy ini ahli di segala bidang, begitu? Well, itu baru dari latar belakang keseharian Amy. Sifat, pembawaan, pemikiran, dan lain-lainnya juga tak begitu memorable.

Gabriel. Wah, dia sih gambaran cowok ideal-pujaan-setiap-perempuan kayaknya. Kekar dan jago bikin pastry. Selama baca saya kebayang chef Yuda Bustara, hahaha. But, sekali lagi, saya enggak cukup teryakinkan dengan deskripsi Gabriel ini. Mungkin sayanya yang sudah kelewat terdoktrin sehingga ketika ketemu penggambaran baru, seolah saya langsung menolaknya. Entahlah. Karakter yang lain: ya sudahlah, begitu juga. Kurang memberi kesan mendalam, buat saya.


Lalu, ada pergantian angle yang cukup mengganggu ketika kisah bergulir kamera menyorot ke arah Amy dan mencakup orang-orang di sekelilingnya, mendadak kamera menyorot ke arah Gabriel (bentar banget, sedurasi iklan Pantene-nya Anggun kayaknya), terus pernah juga menyorot ke Lucia dan Paris. Hih, ngeselin.

konflik:
It's such a multi-angle love story. Mbulet ke sana kemari, tapi malah kurang seru karena tokoh-tokohnya ya itu-itu saja. Saya tak bisa bersimpati dengan siapa pun. Amy pun tidak. Bayangkan saja dia masih kalut soal hubungannya dengan Joshua (masih suka membayangkan hal-hal indah), kok bisa-bisanya memuji lelaki lain pada waktu yang bersamaan. Ya, ya, ya, mungkin kamu bakal bilang "Namanya juga hati, siapa yang tahu maunya apa, kan?". Hell, yes. Tapi, tetap saja, buat saya enggak sreg untuk situasi Amy yang masih kurang stabil.

Pada akhirnya, saya memang tidak mendapati konflik yang padat nan kompleks. Sederhana yang terlalu dibelit-belitkan. Oh, dan saya lebih merasa mestinya novel ini masuk Amore ketimbang Metropop karena tekanannya lebih banyak pada unsur romance-nya walaupun nuansa dunia kerjanya (pengusaha cafe dan profesi penerjemah) cukup ditonjolkan.

kesimpulan:
Untuk bacaan awal tahun, novel ini cukup ringan dan (buat pembaca cepat) pasti bisa kelar dalam satu kali duduk. Enggak ribet dan enggak perlu berkerut-kerut bacanya. Simpel banget. Ditambah diksinya yang mantap. Membacanya, selain baper, juga menyenangkan.

Oke, selamat membaca, tweemans.

End line:
I will be just fine, pikir Amy sambil mengunyah poptart dengan nikmat dan dalam hati bersenandung, "'Cause I am the champion of the world...."
---hlm.218, Chapter: We Are the Champions.

Sunday, January 1, 2017

Selamat Datang 2017

Saya tak lagi ikut-ikutan merayakan (secara harfiah) pergantian tahun. Secara personal, tentu saja, pergantian tahun selalu mengingatkan akan jatah umur di dunia yang semakin menipis. Secara sosial, saya pun enggak dapat undangan merayakan pesta pergantian tahun dari mana pun atau siapa pun. Hahaha. Well, berasa ngarep diundang, padahal sih enggak. Seriusan. I don't like party that much.

Nah, untuk dunia baca-tulis-dan-blog, sepertinya saya pun enggak bakal pasang resolusi serbamuluk. Kapan tahun itu saya pernah mendaftar beragam tantangan baca alias reading challenge tapi dalam perjalanannya tak satu pun tantangan itu bisa saya tuntaskan. Gagal Total. MEMALUKAN! Saya jadi sedih. Dan, kecewa. Dan, terluka. Dan, sengsara. Aihh, mulai lebay. Yah, pokoknya begitulah. Semua berantakan. Enggak ada yang bisa dibanggakan.

Oleh karenanya, tahun ini saya cuman pengin semangat baca naik lagi. Timbunan makin berkurang. Kecepatan membaca sebanding lurus dengan kecepatan membeli/menimbun buku. Apalagi tahun 2016 kemarin status saya sudah berubah lagi. Jika 2015 dari melajang ke menikah masih berkesempatan membaca dalam jumlah yang lumayan, tahun 2016 status dari suami ke hubby, kayaknya bisa baca satu buku sebulan sudah bersyukur banget, ya. Maunya main sama anak mulu sekarang, hehehe.

Tahun ini enggak mau ngerencanain mau ikut tantangan baca apa dan menargetkan bisa membaca berapa. Go with the flow saja. Kalau lagi kepingin ya ikutan, pas malas ya sudah enggak ikut. Namun, biar enggak blank-blank banget, saya tetap mendaftar di beberapa tantangan baca, misalnya:


Terus, saya juga kepingin baca ulang Harry Potter. Enggak ada alasan khusus, pengin baca saja. Semoga dari bulan Januari saya bisa mulai baca buku 1-nya sehingga pas sampai bulan Juli, ketujuh bukunya sudah terbaca semua. Aamiin.

Selebihnya, sesuai situasi dan kondisi mendatang, deh. Yang pasti, saya masih tetap bersemangat untuk aktif di dunia baca-tulis-dan-blog ini. Selamat tahun baruuu, tweemans...

Friday, December 16, 2016

[Book Event] BBI Jabodetabek: MARKITUKA!

Ini wishlist saya!


Yeah, tanpa banyak capcus, tiga buku itulah yang paling kepingin saya punya dan baca secepatnya. No specific reasons. Lagi kebelet aja, sih. Namun, kalau ditanya mana yang paling-paling dipingini segera dibaca, saya urutkan begini: P.S. I Like You, The Wrath and The Dawn, dan Asa Ayuni. Nah, buat giver saya di mana pun kamu berada, seandainya diperkenankan,, bolehlah ini kamu pertimbangkan pas milih buku yang bakal kamu kirim ke saya. Ya, ya, ya? Hahaha. But, semua balik ke giver saya tersayang, kok. Apa pun yang akhirnya kamu kirimkan (ketiga-tiganya juga boleh, hahaha), akan saya terima dengan lapang dada dan hati berbunga-bunga. #halah

Oiya, buat rekan lain yang penasaran apa itu MARKITUKA. Well, markituka merupakan akronim dari mari kita tukar kado, satu event 'lokal' dari teman-teman grup WhatsApp BBI area Jabodetabek. Siapa pencetus, latar belakang, et setra-et setra saya enggak tahu, hahaha. Yang jelas ketika pada satu kesempatan saya baca dan nimbrung topik perbincangan panas di grup muncullah wacana markituka itu. Sama seperti kebanyakan orang, saya pun bertanya, "Markituka apaan, sih?", lalu dijelaskan secara singkat seperti yang saya jelaskan tadi. Dan, saya tak bertanya lebih jauh lagi, saya langsung menerima tawaran untuk ikut-serta (dengan iming-iming catatan: enggak harus di-review kok bukunya, hehehe).

Aturan dasarnya simpel saja: Batas harga kado adalah Rp50 ribu - Rp150 ribu (boleh lebih); Unggah wishlist di blog atau akun goodreads (saat ini sedang saya lakukan), batas post wishlist 17 Desember (BESOK! Omagat!); Batas akhir kirim kado 15 Januari 2017; Tebak giver pengirim kado secara serentak tanggal 31 Januari 2017. Exciting, right?

Jadi, kuy... MARI KITA TUKAR KADO!

Tuesday, November 8, 2016

[Resensi Buku Metropop] Wander Woman by Nina Addison, Irene Dyah, Fina Thorpe-Willett, dan Silvia Iskandar

tidak benar-benar digunakan dalam buku #WanderWoman, tapi testimoni dari Prameshwari Sugiri, dan saya setuju dengan penempatan quote ini di testimoni-nya, pas dengan napas bukunya

First line:
Not all those who WANDER are lost (J.R.R. Tolkien).
--Prolog

"Tolkien mengatakan,“Not all those who wander are lost.” Tidak semua orang yang berkelana kehilangan arah. Tanyakan saja pada Arumi, Cilla, Sabai, dan Sofia—empat sahabat yang terpencar di berbagai negara. Dalam cerita mereka yang terinspirasi dari kisah nyata ini, “tersesat” punya makna berbeda. For them, home is never a place, but people—and sometimes even suitcases.

Kisah mereka bergulir dengan menarik dan membuat saya sebagai pembaca tak sabar untuk membalik setiap lembarnya. Inspiratif dan membuka wawasan!
—Rina Suryakusuma, penulis novel Gravity dan Falling

The best mother is the mother who adapts. Melalui keseharian empat sahabat ini, kita diajak mengingat salah satu kunci utama menjalankan peran seorang ibu: adaptasi.
—Prameshwari Sugiri, Pemimpin Redaksi & Pemimpin Komunitas Ayahbunda & Parenting Indonesia

Kisah para istri yang “dipaksa” hidup nomaden ini membuka mata mengenai budaya dan gaya hidup di luar Indonesia, dilihat dari kacamata orang-orang Indonesia.
—Susan Poskitt @pergidulu, travel writer"

Goodreads (06/11/2016 at 21.23 PM):

Judul: Wander Woman
Pengarang: Nina Addison, Irene Dyah, Fina Thorpe-Willett, dan Silvia Iskandar
Penyunting: -
Penerbit: Gramedia
Tebal: 360 hlm
Rilis: 19 September 2016
Genre: semi-fiksi
ISBN: 978-602-03-3375-5
My Rating: 3,5 out of 5 star

ide cerita dan eksekusinya
Seperti bisa dibaca di bagian Prolog dan Ucapan Terima Kasih di bagian belakang, buku ini ditulis (dan disusun) berdasar sekelumit kisah hidup senyatanya dari keempat pengarang. Perempuan. Istri. Ibu. Ekspat. Suka-duka tinggal di luar negeri. Secara gamblang di bagian Prolog, para pengarang menyatakan, "Mereka berempat hanyalah wanita-wanita biasa yang berusaha tetap waras dan bahagia, berusaha tidak tersesat dibawa berkelana tinggal di berbagai negara".

Saya tak bisa menyebut buku ini sepenuhnya non-fiksi atau fiksi, maka saya mengategorikannya "semi-fiksi". Ada elemen-elemen nyata dari pengalaman masing-masing saat bergulat dengan gegar-budaya di negara yang mereka tinggali, tapi ada pula kemasan fiksi dari racikan diksi dan narasi yang digunakan. Oleh karenanya, saya pun memberi judul "Resensi Buku Metropop" alih-alih #novelMetropop.

Buku ini terdiri dari empat cerita. (agak) Berkaitan, tapi enggak nyambung. Kalaupun iseng disobek jadi empat bagian, ceritanya bisa berdiri sendiri-sendiri. Kita tidak akan kebingungan meskipun hanya membaca satu bagiannya saja. Bahkan satu bagiannya pun bisa terdiri dari subbagian lain yang tidak langsung berkaitan. Jadi, jangan mengharapkan cerita bakal runut, semua serba lompat-lompat. Mungkin karena keempat pengarang memilih menceritakan pengalaman mereka tinggal di lebih dari satu negara (kecuali Sofia yang dikisahkan hanya tinggal di Australia saja). Itu pula yang membuat buku ini (jika dipaksakan berunsur fiksi) tak bisa disebut novel. Lalu, di setiap akhir subbagiannya tersedia Fun Facts yang sebagian besar memberi penjelasan (latar belakang) atas ceritanya. Some of them are (quite) interesting, but mostly they're boring.

kesan per bagian
Cilla: Amerika Serikat - Skotlandia by Nina Addison
Surprisingly, my least favorite part of the book. Entah memang ditulis dalam nuansa buru-buru atau dasar karakter para tokohnya, saya kurang bisa larut dalam kisah Cilla dan suaminya, Will, dan kedua anaknya, Alex dan Emily. Pada bagian ini saya sempat komplain di Twitter soal tokoh Cilla yang Indonesia dan para native-nya yang, kok, ya ngindonesia banget. Berharap, minimal, ketika berdialog para native-nya ya terasa native bukan malah kayak orang Indonesia. Bahasa Jawa nyebutnya wagu. Kenikmatan menyerap info lucu dalam kisah Cilla jadi kurang menyenangkan. Oh, well, cerita tentang suka-duka mendapatkan SIM di Skotlandia seru juga, sih.

Aberdeen di bulan Desember adalah tempat yang lebih dingin daripada suhu kulkasmu.
Sabai: Inggris Raya - Korea by Fina Thorpe-Willett
And, this one is my second least favorite. Masalahnya hampir serupa dengan Cilla, tokoh dan para native-nya campur-aduk. Padahal, saya sudah bersiap menikmati London dari dekat. Sabai dan suami, Mark, serta tiga anak mereka: Lexie, Emma, dan Ariana, seharusnya bisa bikin saya baper soal London. Sayang, kurang menyenangkan juga. Catatan: cerita soal Sabai yang hampir kena tuntutan karena parkir mobil sembarangan di Korea bikin saya cengengesan sendiri.

setiap melihat bus tingkat merah melintas (di jalanan London), rasanya ingin melompat naik dan ikut ke mana pun benda itu pergi.
Sofia: Australia by Silvia Iskandar
Mood baca saya mendadak naik begitu mendapati bagian Sofia ini. Diksi dan narasinya pas dengan selera saya. Paduan budaya dari cara berkomunikasi para tokohnya juga sudah sesuai harapan. Konflik (jika bisa disebut begitu) juga lumayan kompleks. Sedikit banyak saya mendapat pemahaman seputar layanan kesehatan dan pendidikan di Australia. Di bagian ini saya juga menyukai fun facts yang disertakan. Cerita Sofia, Ronald (suami), dan Celly (anak) bisa saya nikmati dalam kapasitas yang cukup. Berulang kali saya tergelak sembari memonyongkan bibir membentuk kata "O" besar setiap mendapat info terbaru tentang apa pun dari negeri Kanguru itu. Well done, Silvia. Saya jadi pengin baca karya Silvia yang lain. Masukin keranjang wish-list dulu, deh.

waktu menunjukkan pukul setengah lima sore dan matahari musim semi (di Sydney) masih bersinar terang.
Arumi: Jepang - Thailand - Indonesia by Irene Dyah
This is my most favorite part of the book. Semua kekurangan dari kisah-kisah sebelumnya berhasil dihindari oleh Irene. Semua unsur cerita ada di sini. Karakter, setting lokasi, konflik, ornamen khas fiksi dan diksinya sukses membuat saya bersemangat merampungkan-baca buku ini. Arumi dan Yuza, suaminya, serta kedua anak mereka, Raya dan Tahlia, bercerita dengan penuh rasa di tiga tempat berbeda. Well, tanpa banyak kata, cukup: please, Irene, buat dong novel dari kisah Arumi sekeluarganya ini. Would love reading it.

demo di Bangkok amaaan. mai pen laaai. kalau demonya rusuh, orang Bangkok juga yang rugi. jadi kita protes dengan cara meriah dan damai saja. dari rakyat untuk rakyat.
Pada dasarnya kesemua bagiannya memang berkisah tentang beragam warna kehidupan di negeri orang. Kebiasaan nomadik tak jarang bikin senewen. Sekalinya berhasil beradaptasi, takdir menentukan lain, mereka harus berpindah ke tempat baru. Oh, kalau hanya para ibu, sih, mungkin masih tak terlalu memusingkan. Namun, ada anak-anak yang berjuang sedemikian keras agar bisa beradaptasi. Di situlah peran para #WanderWoman ini paling diuji. Sanggupkah para ibu menuntun putra-putri mereka melalui masa-masa sulit penyesuaian diri? Temukan jawabannya dengan membaca buku ini, ya.

Secara teknis, masih ada beberapa typo yang terlewat. Justru di bagian Arumi yang banyak typo-nya, huhuhu. Saya juga berharap format buku ini makin kental nuansa fiksinya. Plus, lompatan antarsubbagiannya tidak sedemikian drastis. Contohnya kisah tentang Cilla yang awalnya tinggal di Houston, AS, kemudian diceritakan sudah berada di Skotlandia. Tak ada jembatan antara yang menjelaskan lompatan setting-nya itu. Namun, lagi-lagi saya menyukai bagian Arumi. Lompatannya tidak terlampau drastis dan bahkan ada jembatan antara yang cukup untuk menjelaskan mengapa Arumi sekeluarga akhirnya kembali ke Indonesia.

Oke, selamat membaca tweemans.

End line:
Mari kita pulang, Nak. Mama akan bikin bakwan kesukaanmu...

Tuesday, October 18, 2016

[Resensi Novel Romance] Last Forever by Windry Ramadhina

First line:
Dia menyelinap turun dari tempat tidur.

“Seharusnya, aku tidak boleh mengharapkanmu. Seharusnya, aku tahu diri. Tapi, Lana..., ketakutanku yang paling besar adalah... aku kehilangan dirimu pada saat aku punya kesempatan memilikimu.” — Samuel

“Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar?” — Lana

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara. Lalu, bagaimana saat menyerah kepada cinta, justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tak mereka duga?
Goodreads:

Judul: Last Forever
Pengarang: Windry Ramadhina
Penyunting: Jia Effendie
Penerbit: Gagas Media
Tebal: vi + 378 halaman
Rilis: 20 Oktober 2015
ISBN: 9789797808433
Rating: 2,5 out of 5 star

ide cerita dan eksekusinya:
Sebagaimana telah dinyatakan dengan cukup jelas di sinopsis (blurb)-nya, Last Forever berkisah tentang dua tokoh antikomitmen yang justru harus tunduk pada komitmen. Dalam perjalanannya, konflik ini dibumbui perang batin masing-masing (terutama menyangkut prinsip hidup dan karier) ditambah kisah hidup orang terdekat mereka yang sedikit-banyak memberi pengaruh bagi pengambilan keputusan.

Namun, ya, begitu saja. Tak seperti Memori atau Interlude atau Walking After You atau London: Angel yang memberi kesan begitu mendalam dan kompleks, Last Forever selesai begitu saja. Hampir tak ada rasa yang membekas ketika saya membalik halaman terakhirnya. Bahkan, ending-nya pun terasa... ya, begitu saja. Tidak ada ledakan yang mengejutkan. Tidak ada lelehan manis yang memabukkan. Entahlah, kali ini saya dicukupkan hanya pada kenikmatan diksi racikan Windry Ramadhina yang, seperti biasa, demikian indah.


meet cute:
Kedua tokoh utama sudah saling mengenal sehingga tak ada adegan perkenalan bernuansa romantis, paling hanya ketika salah satu tokoh membuka lembar ingatan saat mereka kali pertama bertemu dalam sebuah event di Cannes.

plot, setting, dan karakter:
Last Forever beralur maju, dengan beberapa bagian para tokohnya memutar kenangan masa lalu dalam rangka pengembangan konflik atau penguatan karakternya.

Last Forever ber-setting waktu modern (masa kini tanpa penyebutan tahun secara pasti) dengan setting lokasi: Jakarta, Flores, dan Washington. Sebagian besar cerita terjadi di Jakarta tapi Flores adalah lokasi sumber konflik. Oleh karena latar belakang para tokohnya, ada sedikit gaya penceritaan kisah perjalanan (traveling) di lokasi-lokasi tersebut.

sumber: travel.kompas
Tokoh utamanya adalah Lana dan Samuel Hardi. Keduanya sama-sama pekerja seni, lebih tepatnya pembuat film dokumenter. Lana adalah kru National Geographic yang berkantor di Washington sedangkan Samuel Hardi adalah pemilik studio film Hardi di Jakarta yang kerap jadi langganan partner Nat Geo. Lana adalah tipe easy going, supel, ramah, tapi juga ambisius. Samuel justru kebalikannya: kaku, dingin, perfeksionis, sekaligus playboy. Keduanya memiliki persamaan: antikomitmen dan tak percaya pada institusi pernikahan. Di sekitar keduanya ada Pat (rekan kerja Lana di NatGeo), Rayyi (kolega Samuel), Ruruh Rahayu (ibu Lana), William Hart (ayah Lana), Nora (asisten pribadi Samuel), dan beberapa tokoh pendukung lainnya.

konflik:
Well, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, konfliknya cuma satu: perang batin dua tokoh antikomitmen. Lana dan Samuel digambarkan sebagai dua pekerja kekinian yang hampir-hampir tak lagi terikat adat ketimuran. Keduanya memilih berhubungan tanpa status, tanpa komitmen, dan mungkin (awalnya) tanpa cinta.

Ini juga yang membuat saya agak terganggu selama proses pembacaan. Tumben banget, Windry membuat tokohnya sedemikian bebas. Pun, orang-orang di sekitar mereka seolah-olah mengamini dan mendukung mereka. Hanya ibu Lana saja yang sepertinya berkeberatan meskipun hanya sejenak. Namun, ini murni preferensi pribadi saya saja. Mungkin saya kolot, mungkin saya tidak open-minded, hanya saja saya selalu dan terus berharap para pengarang tetap berupaya mengampanyekan hal-hal baik, minimal yang telah disepakati secara umum.

Bumbu konflik utama minim sekali. Poros bumi sepertinya hanya berpusar pada Lana-Samuel. Sumbangan subplot yang paling terasa hanya pada rahasia kehidupan pernikahan orangtua Lana. Selebihnya hanya remahan yang melingkupi tarik ulur antara Lana dan Samuel. Karenanya saya sampai membaca-cepat alias skimming dengan melewati banyak bagiannya. Entahlah, apakah ada hal penting yang akhirnya tak tertangkap radar baca saya, tapi saya rasa tidak.

ending:


catatan:
Sebagai seseorang yang bercita-cita bisa menulis dan menerbitkan buku sendiri, saya menyukai gaya menulis Windry yang tak berlagak serbatahu. Contohnya: Windry tak pernah menarasikan sesuatu yang belum terdefinisikan lewat jalan tengah seperti ketika menggambarkan warna sesuatu: kehitam-hitaman, kecokelatan, keemasan, dan sebagainya alih-alih langsung menyebut: berwarna hitam, cokelat, atau emas.

kesimpulan:
So far, Last Forever menjadi novel Windry yang paling tidak saya favoritkan, menyusul kemudian Orange. Biasanya selalu ada kesan mendalam selepas membaca karya-karya Windry, tapi saya tak mendapatinya kali ini. Selama proses pembacaan saya hanya merasa datar-datar saja. Karakter yang coba dibangun pun hanya sanggup bertahan sampai pertengahan, setelahnya tak bisa membuat saya bersimpati kepada keduanya. Pat dan Rayyi mungkin menyumbang poin untuk novel ini, tapi saya justru kepincut sama Nora. Asisten Samuel ini benar-benar menyenangkan, tampak tanpa beban, dan sepertinya bisa menaklukkan siapa saja yang dihadapinya. Maka, kali ini saya hanya menyematkan 2,5 bintang dari skala 1-5, dengan poin besar untuk diksi menawan khas Windry.

Kini, tinggal menunggu Angel in the Rain. Saya (lumayan) suka London: Angel dan berharap bisa kembali tak hanya menyukai diksinya saja tapi juga sekaligus cerita racikan Windry. Semoga! Selamat membaca, tweemans.


end line:
Bertiga, mereka melewatkan pagi.

Sunday, October 16, 2016

Murah mana: Big Bad Wolf Surabaya vs Big Bad Wolf Kuala Lumpur?

Wowsaaa… enggak sampai harus berganti tahun, panitia Big Bad Wolf (BBW) book sale akhirnya kembali menggelar pameran sekaligus penjualan buku-buku impor nan murah-meriah di Indonesia. Setelah April-Mei 2016 lalu ada di ICE-BSD, Tangerang Selatan, Oktober ini BBW book sale diadakan di Surabaya! Tuh, kan, panitia BBW pasti ketagihan menggelar book sale lagi setelah melihat animo pengunjung book sale yang di BSD kemarin itu.


Omong-omong, sebenarnya semurah apa sih buku-buku yang dijual di BBW book sale? Sekiranya dibandingkan sama yang dijual di book sale aslinya di Malaysia (Kuala Lumpur) sana, lebih murah mana, ya? Iseng-iseng saya kok ya, kepingin bikin perbandingan. Dan, beginilah perbandingan menurut versi saya.

Variabel harga:
1.       Tiket pesawat: PP Jakarta – Surabaya Rp1.200.000; PP Jakarta – Kuala Lumpur = Rp1.600.000;
2.       Penginapan (asumsi 2 malam 2 hari): Surabaya = Rp400.000; Kuala Lumpur = Rp450.000;
3.       Ongkos taksi ke dan dari Bandara Soekarno Hatta diabaikan karena sama saja.
4.       Kendaraan di tempat tujuan: Surabaya (PP bus bandara = Rp50.000, bus kota 2 hari = Rp20.000); Kuala Lumpur (PP KLIA express = Rp350.000, KTM 2 hari = Rp14.000)
5.       Untuk urusan makan dan minum juga diabaikan, ya, toh kebutuhan pokok, kan?
6.       Harga buku: di Indonesia, rerata Rp70.000; di Malaysia (RM1 = Rp3.500), rerata RM7 = Rp24.500. Asumsi bagasi pesawat gratis 20kg terisi buku, semua kurang lebih 60 eksemplar (abaikan tebal-tipis odd-regular size), maka total belanjaan buku: Surabaya = 60 x Rp70.000 = Rp4.200.000; Kuala Lumpur = 60 x Rp24.500 = 1.470.000;
7.       Jadi, total pengeluaran: Surabaya = Rp5.870.000; Kuala Lumpur = Rp3.884.000.

Nah, dari rincian kasar berdasar beragam asumsi di atas, terdapat selisih hampir Rp2 juta lebih banyak yang harus saya keluarkan jika saya memutuskan untuk berwisata buku ke Surabaya. Dan, karena saya warga Jawa Timur yang sudah beberapa kali menjelajahi Surabaya sepertinya bonus wisata kotanya pun tak seseru bonus wisata kota Kuala Lumpur.

Well, sekali lagi ini hanya iseng belaka. Sebenarnya, sih, untuk meredam rasa penasaran dan keinginan nekat berwisata buku pas BBW book sale Surabaya 2016. Jadi, buat saya, sudah yakin dan ikhlas akan melewatkan keseruan berbelanja sembari menimbun buku di BBW Surabaya ini. Namun, buat tweemans yang super-duper-penasaran atau kebetulan berdomisili dekat dengan Surabaya, ya sayang juga jika melewatkan keseruan BBW ini. Belum tentu bakal ada lagi nanti-nanti, kan?

Kamu, gimana?