Showing posts with label Novel: Terjemahan. Show all posts
Showing posts with label Novel: Terjemahan. Show all posts

Saturday, April 26, 2014

[Resensi Novel Young Adult] DISTANCE Between Us by Kasie West


Another Cinderella love story

Sinopsis

Tujuh belas tahun Caymen Meyers belajar sejak awal bahwa orang kaya tidak bisa dipercaya. Dan setelah bertahun-tahun mempelajari orang kaya dari belakang kasir toko porselen boneka ibunya, ia semakin meyakini hal tersebut.

Lalu datanglah Xander Spence, seorang pemuda yang tinggi, tampan, dan kaya raya. Meskipun tampaknya berbeda dengan orang kaya lainnya, Caymen merasa bahwa ketertarikan Xander padanya takkan bertahan lama. Satu hal yang dia pelajari dari peringatan ibunya yaitu orang kaya mudah tertarik pada wanita lain. Tapi ketika kesetiaan dan perhatian Xander berhasil meyakinkan Caymen bahwa menjadi kaya bukanlah suatu cacat karakter, dia menyadari bahwa uang berperan jauh lebih besar dalam hubungan mereka ketimbang yang dia sadari.

Dengan begitu banyak hambatan yang ada di jalan mereka, bisakah dia menutup jarak antara mereka?
 
Pengarang: Kasie West
Penerjemah: Lisa Indriana Yusuf
Penyunting: Bunga Siti Fatimah
Pewajah sampul: Ellina_wu@hotmail.com
Penerbit: Laluna and Friends (StudioKata)
Tebal: 398hlm
Harga: Rp59.000
Rilis: Februari 2014
ISBN: 9786029719758

Pernah melihat sekilas di rak New Arrival salah satu toko buku di Jakarta, tapi belum tergerak untuk mencomot novel ini, kala itu. Selain tidak familier dengan nama pengarangnya, secara pribadi saya tak begitu menyukai kovernya (kurang menggambarkan romantisme dan perjuangan tokoh di dalam kisahnya, menurut saya). Tapi, … surpriseeee… saya mendapat kiriman novel ini dari StudioKata. Makasihhh…


Wednesday, October 23, 2013

[Buku diFilmkan] Best Promo Ever for CARRIE the Movie (Stephen King)

Stephen King mungkin menjadi salah satu anomali terbesar buat saya. Jujur, satu pun bukunya belum ada yang saya baca (kecuali On Writing, buku panduan menulis yang diterbitkannya), namun saya sudah ngefans sama Mr. King. Nggak tahu kenapa, sejak tahu ada penulis bernama Stephen King (one of the best contemporary horror, suspense, science fiction and fantasy), saya jatuh hati pada penulis ini. Nggak masuk akal? Memang iya. Tapi, yaaa...gimana ya, begitu adanya sih. Soalnya saya pun pengoleksi novelnya, meski belum dibaca juga. #plakkk

Nah, yang sebentar lagi akan dirilis adalah film adaptasi terbaru dari novel Carrie, novel keempat yang ditulis Mr. King tapi yang pertama diterbitkan (1974). Saya tak sabar menonton filmnya. Nah, semoga setelah menontonnya, saya segera tergerak untuk menuntaskan-baca beberapa novel karya Mr. King yang sudah saya koleksi.


Dan, berkenaan dengan rilisnya film adaptasi ini, Gramedia juga merilis ulang dengan kaver baru untuk novel Carrie ini. Saya suka banget kavernya.


Oiya, ada satu lagi yang seru sih. Satu video promo tentang film ini yang dikemas dalam sebuah video yang serupa reality show. Entah ya, apakah ekspresi pengunjung coffee shop di video ini beneran atau rekayasa, yang jelas seru aja kalau mereka benar-benar syok betulan. Simak deh video yang sudah ditonton lebih dari 43 juta viewers yang diberi judul: Telekinetic Coffee Shop Surprise ini. Menurut saya ini salah satu video promo terbaik yang pernah saya lihat. Bravo!


Selamat membaca dan selamat menonton, temans.

Thursday, May 30, 2013

[Giveaway] Perfect Chemistry by Simone Elkeles

Perfect Chemistry menjadi salah satu novel young adult favorit saya. Well, itu lebih karena saya telanjur menyukai pengarangnya sih. Sebelum membaca novel yang merupakan volume pertama dari serial Perfect Chemistry (trilogi) ini, saya sudah membaca trilogi Ruined yang juga dikarang oleh Simone Elkeles. Trilogi itulah yang membuat saya jatuh suka pada tulisan-tulisan Simone.

Brittany Ellis memiliki segalanya: cantik, pintar, kaya, dan pacar yang populer.

Alex Fuentes adalah gangster berdarah Mexico yang terlibat banyak masalah serius.

Saat mereka dipaksa menjadi partner lab di kelas Kimia, Brittany merasa inilah akhir dari kehidupan “sempurna” yang berusaha ia pertahankan selama ini. Sedangkan bagi Alex, inilah kesempatan untuk memenangkan taruhan guna mendapatkan sang diva.

Akankah Brittany jatuh dalam pelukan sang gangster dan melepas Colin Adams, sang kapten tim football? Saat kimia cinta mulai bereaksi, apa pun mungkin terjadi...


Monday, August 6, 2012

[Resensi Novel Anak] Diary si Bocah Tengil: Kenyataan Pahit by Jeff Kinney

Wah, si tengil sudah tak lagi kocak nih...


Judul: Diary si Bocah Tengil - Kenyataan Pahit (buku #5)
Pengarang: Jeff Kinney
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Ida Wajdi dan Jia Effendie
Pewajah ssi: Aniza
Penerbit: Atria
Tebal: 217 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: Februari 2012 (cet. ke-4)
ISBN: 978-979-024-474-0

Gregory “Greg” Heffley sudah beranjak remaja (teen). Sekarang dia sudah SMP. Tapi, hey, kenapa dia nggak lagi sahabatan sama Rowley, ya? Iya sih, mereka itu sobat putus sambung nan legendaris. Sebentar bertengkar, sebentar berbaikan. Tapi, kini sepertinya agak serius. Greg berulang kali menghindarinya. Kenapa, ya?

Tapi, loh, kok pas Rowley diundang ke pesta Jordan Jury, si anak populer yang selalu bikin party paling asyik sesekolahan, Greg dengan antusias langsung menawarkan diri ikutan? Padahal, kan, yang diajak Rowley. Tapi, dasar sial, pada saat yang bersamaan Greg diancam ibunya untuk menghadiri pernikahan seorang kerabat. Hukumnya WAJIB.

Ahh, ketengilan apa lagi yang akan diperbuat Greg kali ini? Apakah dia sudah mulai belajar menjadi lebih dewasa? Simak saja tingkah polah Greg yang tetap tengil bin jail dalam buku kelima dari seri Diary of Wimpy Kid karya Jeff Kinney yang diterjemahkan oleh Penerbit Atria ini.


Membaca Diary si Bocah Tengil itu benar-benar sebuah hiburan yang menyenangkan sekaligus menggemaskan (pengen ngejitak Greg kadang-kadang). Tak jarang, kejailannya itu berakibat lumayan ‘fatal’. Baik bagi dirinya sendiri atau orang-orang di sekitarnya. Yang paling sering kena getah, tentu saja, Rowley, sang sahabat lugu nan polos itu. Saya suka adaptasi film pertamanya, tapi kurang begitu terpikat dengan film keduanya. Semoga film ketiga yang baru saja diputar di bioskop Amerika sana bulan ini dapat tampil lebih baik.

Oiya, balik ke seri kelima ini. Saya gagal menemukan titik-titik geli yang mampu menyemai benih tawa bagi saya. Jika di beberapa seri sebelumnya saya masih sempat menyembur gelak-tawa, kali ini saya adem-ayem-tentrem-kerto-raharjo. Lempeng aja gitu! Entah kenapa. Mungkin karena background Greg yang menjelang remaja sehingga banyolan tengilnya lebih menjurus ke nakal ketimbang komikal? Ada sih beberapa yang lumayan, misalnya ketika Greg beralasan tak bisa bangun pagi kalau tak ada manusia asli (dan bukan jam beker) yang membangunkannya (hlm. 77), atau ketika Greg lebih sibuk mengingat halaman buku pelajarannya yang dijilat oleh Dad ketika membantunya mengerjakan PR ketimbang mengingat pelajarannya itu sendiri (hlm. 65).

http://www.wimpykidclub.co.uk

Malah, saya justru disuguhi beberapa tabiat Greg yang satu-dua bisa saja dicontoh untuk terapi bagi anak-anak. Misalnya pada halaman 69-71, di mana Greg bilang dia punya sistem hebat dalam hal mengingat sesuatu, yaitu dengan melakukan sesuatu hal sebagai penanda akan memori/pesan yang harus diingatnya. Sebagai contoh: Mom mengingatkan Greg yang sudah akan tidur bahwa besok pagi Greg harus bawa surat izin, Greg tak akan menulis pesan itu, dia cukup melempar bantal ke seberang ruangan. Esok paginya, saat bangun, Greg mendapati bantal tergeletak di lantai, dia akan bertanya “Mengapa bantal ini ada di sini?” Nah, setelah itu, ia akan teringat, “Oh iya, aku harus bawa surat izin ke sekolah.” Begitu, teori Greg, yang diklaimnya belum pernah gagal. Menurut saya sih, boleh juga dicoba. Hehehe.

Ada beberapa typo minor sih di buku ini, tapi tidak begitu mengganggu lah.

(hlm. 67) Mr. Mckelroy = Mrs. McKelroy
(hlm. 144) George Freer = George Fleer
(hlm. 177) Rowly = Rowley
(hlm. 208) tahun dengan = tahun depan
Secara keseluruhan, buku ini tak terlalu kocak, tapi juga tetap menghibur. Jadi, so-so lah bagi saya. Banyak sentilan dan pelajaran hidup yang sebenarnya dapat dipetik dari tingkah jailnya Greg. Saya tetap akan membaca seri berikutnya jika Atria masih menerbitkan terjemahannya. 3 bintang saya berikan kepada Greg yang harus menghadapi kenyataan pahit demi menghadapi perubahan-perubahan dalam hidupnya.

Selamat membaca, kawan!


Thursday, March 29, 2012

[Resensi Novel Young Adult] Pretty Little Liars by Sara Shepard

Sssst... can you keep a secret?
Rating: 3,5 out of 5 star
Read from 17 to 18 March, 2012


Judul: Pretty Little Liars (Para Pendusta Cantik)
Pengarang: Sara Shepard
Penerjemah: Linda Boentaram
Pemeriksa aksara: Natasya Ayu
Pewajah sampul: ABC Family
Pewajah isi: Husni Kamal
Penerbit: Ufuk
Tebal: 378 hlm
Harga: Rp44.900 (disc. 40%)
Rilis: Desember 2011 (cet. 1)
ISBN: 978-602-9159-92-9

Alison DiLaurentis, Aria Montgomery, Hanna Marin, Spencer Hastings, dan Emily Fields, adalah satu genk cewek-cewek cantik yang cukup disegani di SMP Rosewood Day, hingga suatu peristiwa membuat Alison menghilang dan anggota genk yang tersisa tercerai berai. Pada tahun ketiga setelah hilangnya Alison secara misterius, keempat gadis telah memasuki masa-masa SMA dengan segala pernik masalah kehidupan masing-masing.

Aria baru saja kembali dari Islandia untuk kemudian bertemu seorang cowok yang begitu disukainya sebelum ia tahu bahwa seharusnya ia tak boleh berhubungan dengan cowok itu. Hanna yang dulu gemuk dan minderan kini bertransformasi menjadi gadis cantik dan populer di SMA. Spencer adalah si kutu buku yang berusaha lepas dari bayang-bayang kakaknya untuk bisa tampil sebagai bintang di keluarganya. Dan Emily, sang anggota tim renang sekolah, berusaha mati-matian menemukan jati dirinya yang berbeda dari cewek kebanyakan. Lalu, datanglah semua SMS dan e-mail dari seseorang berinisial A pada masing-masing mereka, yang membuat mereka ketakutan, yang akhirnya merekatkan kembali hubungan pertemanan mereka demi melacak siapa sebenarnya si A yang tahu rahasia-rahasia yang mereka simpan.

Apakah mereka berhasil melacak dan menemukan si A misterius yang meneror hidup mereka itu? Simak pernik kehidupan Aria, Hanna, Spencer, dan Emily yang dipenuhi rahasia dalam novel pertama dari serial bestseller Pretty Little Liars karya Sara Shepard ini.


Saya terlebih dahulu terhanyut pada kisah ini justru dari menonton serial TV-nya yang ditayangkan oleh ABC. Alloy Entertainment yang memproduksi serial tersebut menyebutkan bahwa ide awalnya adalah ingin membuat serial “Desperate Housewives for teen.” Dan, bagi kalian yang pernah (suka) menonton Desperate Housewives sepertinya juga bakal mudah jatuh suka pada serial ini mengingat di awal ceritanya bisa dibilang “sangat” mirip. Lima orang perempuan, satu di antaranya bunuh diri (Desperate Housewives) atau menghilang (Pretty Little Liars), lalu satu demi satu rahasia terbongkar. Saya langsung suka!

As usual, kalau sudah terlebih dahulu menikmati versi filmnya, saya menjadi begitu mudah tergiring ketika membaca novelnya dan mulai mencari-cari mana bagian-bagian dalam novel yang berbeda dengan versi filmnya. Dan, untuk Pretty Little Liars ini cukup banyak perbedaan yang saya temukan pada kedua versinya. Beberapa perbedaan tersebut memang mengurangi kenikmatan membaca, misalnya jika di serial TV-nya Emily adalah anak tunggal, di novel ia memiliki dua orang kakak, namun no biggie lah. Saya tetap berusaha menikmati menuntaskan-baca novel ini.

Jujur, saya kesulitan membaca bagian awal dari versi terjemahan ini padahal ketika mengintip versi aslinya, sebenarnya cukup mudah dibaca, entah mengapa ketika diterjemahkan saya justru mengalami kesulitan mencerna kalimat per kalimatnya. Untunglah, setelah bagian awal itu, bab-bab selanjutnya mulai mudah saya baca, meskipun terkadang masih ada beberapa hal yang membuat saya mengernyit tak paham. Mungkin juga, saya terbantu dari pengalaman saya menonton versi serial TV-nya karena kalau pun saya sulit mencerna kalimat-kalimatnya, saya sudah paham ke mana tujuan adegan itu.

Dari segi karakter, saya suka rekaan Sara Shepard ini karena tiap karakternya dilengkapi dengan subplot yang kaya, dan karena novel ini sudah dideklarasikan untuk menjadi serial sehingga subplot yang banyak itu tidak membuat cerita utama menjadi terlupakan. Misalnya tokoh Aria yang harus mati-matian menjaga rahasia gelap sang ayah demi keutuhan keluarganya, juga tak lepas dari permasalahan lain seperti depresi, cinta terlarang dengan cowok di sekolahnya, dan sebagainya.

Rasa penasaran yang terbangun memang memiliki sensasi yang berbeda ketika membaca dan menonton filmnya. Pada versi novelnya, intensitas unsur misterinya dijaga hingga akhir halaman dengan baru mempertemukan keempat sahabat yang frustrasi menerima sms/e-mail dari seseorang yang berinisial A itu di bagian belakang, sedangkan di versi serial TV-nya keempat sahabat ini diceritakan sudah kembali saling bertegur sapa sejak dari episode awal (season 1: 22 episode). Jadi, ketika membaca novel ini saya tak henti-hentinya berdecak dan membatin (kepada para tokohnya), “Ayo Aria, curhat aja sama Emily, Hanna, atau Spencer, dia juga dapet kok sms-nya itu.” Saya sinting! Hahaha.

Terlepas dari gaya penerjemahan yang tidak begitu nyaman, saya tetap menyukai novel ini. Tentu saja, terima kasih kepada pembuat serial TV-nya yang menarik minat saya untuk membaca novel ini.

Selamat membaca, kawan!


promo Pretty Little Liars Season 1 (2010)


promo Pretty Little Liars Season 3 (2012)

Friday, March 9, 2012

[Resensi Novel Chicklit] Goodnight Tweetheart by Teresa Medeiros

Hai, tweetheart, apa kabarmu hari ini?
Rating: 4 out of 5 star


Judul: Goodnight Tweetheart
Penulis: Teresa Medeiros
Penerjemah: Siska Yuanita
Pewajah sampul: eMTe
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp
Rilis: Desember 2011
ISBN: 978-979-22-7837-8

Yono: Kau pakai baju apa?
Yuli: Sweater bernoda kopi dan syal Hermes Miranda Priestly di THE DEVIL WEARS PRADA. Kau?
Yono: Jaket kulit hitam mengilat dan topi kain Lyckety-Splyt di 8 MILE.
Yuli: Ahh, manis sekali. Seharusnya tambahkan gelang berduri di pergelanganmu dan tindikan peniti di telingamu.
Yono: Itu rocker, aku ini rapper. Jadi, apa kabar tulisanmu hari ini?
Yuli: Masih belum beranjak dari adegan bercinta di kolam renang yang kuceritakan terakhir kali kita nge-tweet
Yono: Oh, adegan panas itu. Apa kau perlu kipas?
Yuli: Tak perlu, adegan itu di kolam renang, pasti akan dingin sendiri.
Yono: Goodnight, Cinta
Yuli: Goodnight, Rangga
Yono: Goodnight, Mili
Yuli: Goodnight, Mamet
Yono: Goodnight, tweetheart...


Mencoba hal baru, that’s not my style. Ketika facebook baru saja muncul, saya itu belum lama punya akun friendster. Berhubung teman-teman saya banyak yang pindah ke facebook, maka saya pun ‘terpaksa’ ikut arus dan bergabung di situs jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg tersebut. Saat itu, saya masih naif juga, mencoba mencari akun facebook artis Hollywood untuk bisa saya ajak friend, ternyata sulit sekali mencarinya. Lalu, saya meminta bantuan google, dan justru diteruskan ke alamat si artis di My Space dan Twitter. Setelah dilihat-lihat, cukup banyak artis yang join di Twitter dan setahu saya saat itu Twitter masih kalah pamor dibanding facebook di Indonesia. Saya membuat akun twitter hanya untuk mem-follow akun artis Hollywood favorit (pertama kali follow Britney Spears...;) tapi, belakangan saya ikut menikmati Twitter (bergantian dengan goodreads.com, tentu saja).

Membaca goodnight tweetheart sungguh menyenangkan. Kocak. Berkat kepiawaian Teresa menghadirkan dialog-dialog cerdas nan lucu (tak jarang menjurus vulgar) mau tak mau membuat saya tertawa. Hal lain yang memukau saya adalah bagaimana dalam novel yang tidak terlalu tebal ini, penulis mampu menciptakan karakter dengan sub-plot yang banyak tapi tetap hidup. Twist pada cerita dan ending yang manis menjadikan novel ini sungguh sayang jika dilewatkan.


Dan, tweet-versation mereka berdua benar-benar menggemaskan. Selalu diawali dengan pertanyaan, “Kau pakai baju apa?” dan kerap diakhiri dengan saling mengucapkan salam perpisahan dengan memanggil tokoh/karakter dalam film-film yang mereka tonton di mana Mark selalu menulis “Goodnight tweetheart” yang tak pernah dibalas oleh Abby karena speechless. Abby Donovan merupakan seorang penulis debutan yang karya perdananya terpilih dalam Oprah’s Book Club dan sedang menggarap novel kedua namun terkendala writer’s block sehingga ia berada pada titik kritis kehidupannya. Sementara Mark Baynard adalah seorang dosen sastra berstatus duda-anak-satu yang mengaku sedang cuti panjang dan berlibur ke beberapa negara di Eropa.

Tapi, semua akan menjadi datar dan biasa-biasa saja, jika hanya berisi tweet-versation biasa yang kadang diwarnai flirting-flirting seksi itu saja. Untunglah, Teresa tahu bahwa cerita ini harus dikemas dengan sub-plot yang mendukung. Di sekeliling Abby ada ibunya yang sedang dirawat di pusat rehabilitasi akibat penyakit disorder yang dideritanya, lalu ada Margo sang sahabat setia, serta konfliknya sendiri menyangkut stagnansi penulisan dan hubungannya dengan agen-publisisnya. Dikarenakan PoV yang digunakan penulis lebih menyorot Abby, maka Mark yang menjadi teman twitter Abby di seberang hanya dapat teraba karakternya melalui percakapan mereka. Menjelang ending, baru terlihat beberapa adegan yang melibatkan Mark dan keluarganya.


What can I say, novel ini produk impor, jadi ketika beberapa kata vulgar terselip di sana-sini, yah, mau bagaimana lagi. Saya tetap terganggu, namun menurut saya, siapa pun pembacanya pasti akan mudah terikat kepada ceritanya ketika membaca novel ini, karena akan sibuk mencoba menebak-nebak...uhmm, “Karakter di film apa sih yang sedang mereka bicarakan ini?” atau beberapa serial Amerika masa kini yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Saya menikmatinya. Dan, 4 bintang saya berikan untuk novel ini. Semoga ada novel karya Teresa lain yang dapat diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia.


Selamat membaca kawan!

Tuesday, February 21, 2012

[Novel Young Adult] 13 Reasons Why by Jay Asher

Tanya Kenapa?
Read from 16 to 18 February 2012
Rating: 3 out of 5 star


Judul: 13 Reasons Why
Pengarang: Jay Asher
Penerjemah: Mery Riansyah
Penyunting: Endah Sulwesi & Lulu Fitri Rahman
Korektor: Tisa Anggriani
Pewajah sampul: Bambang Suroto
Penerbit: Matahati
Tebal: 288 hlm
Harga: Rp
Rilis: Oktober 2011 (cet ke-1)
ISBN: 6029625578

Summary
Clay Jensen menyukai Hannah Baker. Tidak, rasanya lebih dari sekadar suka. Namun, semuanya tak lagi jadi soal. Hannah Baker sudah tiada. Gadis itu telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Dengan cara yang tragis pula. Bunuh diri. Meskipun demikian, Hannah meninggalkan untuknya 7 keping kaset berisi 13 rekaman yang menguak alasan Hannah Baker memilih mengakhiri hidupnya.

Tentu saja, pikiran Clay dipenuhi bermacam pertanyaan yang tak ia ketahui jawabannya mengingat rasa-rasanya ia tak pernah berbuat hal yang salah dan menyakiti Hannah. Lalu, mengapa ia juga mendapat kaset-kaset itu? Mari ikut mendengarkan rekaman detik demi detik Hannah mengungkap alasan-alasannya mengakhiri hidup bersama Clay Jensen dan mengetahui mengapa Clay juga ada di rekaman tersebut melalui novel debutan Jay Asher berjudul 13 Reasons Why ini.

Sebelum diterjemahkan oleh Matahati, saya sudah berhasrat membaca novel ini (e-book) ketika salah satu group pembaca novel Young Adult di goodreads.com menjadikan buku ini sebagai buku baca bareng, namun saya masih urung turut serta. Maka, ketika Matahati mengabarkan akan merilis terjemahan novel ini, saya pun sekali lagi berniat membacanya. Dan, akhirnya saya membacanya.

Judulnya provokatif. Tiga belas alasan mengapa. Mengapa ada tiga belas alasan? Alasan apa? Hmm, dari situ pun saya sudah berusaha menebak bahwa telah terjadi satu peristiwa penting dengan 13 alasan yang menjadi latar belakang terjadinya peristiwa tersebut. Pun, saya sudah membaui ada nuansa suspense pada novel ini. Meskipun, tentu saja, terdapat begitu banyak skenario yang mungkin saja menyebabkan perlunya 13 alasan untuk terjadinya sebuah peristiwa. Hah! Saya ngomong apa? Entahlah. Abaikan saja.

Yang jelas, memang ada 13 alasan yang diungkap Hannah Baker dalam 7 keping kaset di mana masing-masing alasan terkoneksi dengan orang-orang yang secara bergiliran akan menerima kaset itu dan mau tak mau mendengarkannya. Terkadang, saya mengernyit dan bertanya, “masak sih, cuman karena begitu saja, Hannah bisa menganggap orang itu ikut andil dalam keputusannya untuk bunuh diri?” Maka, itulah perasaan saya sepanjang membaca novel ini. Saya tak mendapati hal-hal signifikan dari cerita Hannah. Ternyata, Jay Asher pun sudah menduga bakal ada pembaca yang “kebingungan” memahami pesannya (yaitu saya) sehingga di akhir novelnya, ia membuat semacam question and answer yang menjelaskan beberapa hal terkait 13 Reasons Why ini.

Dan, moral of the story kisah ini begitu apik. Bahwa setiap kejadian pasti ada sebab-musababnya. Nggak mungkin ujug-ujug seseorang melakukan sesuatu, seimpulsif apa pun orang itu, apalagi untuk sesuatu yang ekstrem, misalnya saja bunuh diri. Ahh, membahas topik bunuh diri saya jadi ingat tagline saya beberapa tahun lalu, “Mengapa bunuh diri diharamkan jika hidup itu sendiri adalah sebuah pilihan?” Saya memahami bagaimana perasaan Hannah Baker atas hidupnya.
Saya butuh segalanya berhenti. Orang-orang. Kehidupan. (hlm. 260)
Sebagai manusia biasa, beberapa kali saya pun mengalami patah arang. Jika sudah begitu saya hanya mengharapkan gelap. Anggapan saya, dunia akan lebih baik tanpa keberadaan saya. Saya ini hanya beban. Untunglah, masih ada keluarga besar yang menyita sebagian besar prioritas saya. Sehingga keinginan semacam itu bisa tersingkirkan.

Menjadi Clay Jensen pun bukan peran yang mudah. Dari awal kita sudah disuguhi pergolakan batin yang luar biasa. Bagaimana tidak, seseorang yang mencintai Hannah dengan sepenuh hati dan tak merasa pernah menyakiti Hannah, Clay malah masuk dalam daftar yang dibuat Hannah. Maka, sepanjang membaca novel ini, pembaca akan diajak merasakan sensasi atas setiap hal yang terkuak dari rekaman. Dan, dari petunjuk yang disertakan dalam setiap rekaman, Clay menyusuri tempat-tempat yang menjadi lokasi kejadian yang dimaksudkan Hannah.

Pada tahap tertentu saya akan meragukan konsistensi rekaman-rekaman yang dibuat oleh Hannah. Bagaimana bisa, ia yang sudah kalut ingin mengakhiri hidupnya masih sempat membuat sejumlah 13 rekaman itu yang adalah gabungan dari narasi berdasar memori Hannah dan rekaman langsung dari peristiwa yang dialaminya.
Saat ini kalian pasti bertanya-tanya, siapa sih mereka? Hannah, kau lupa menyebutkan nama mereka. Tapi aku tidak lupa. Jika ada satu hal yang masih kumiliki, itu adalah ingatanku. (hlm. 214)
Jadi, jika saya tak memberikan bintang maksimal untuk novel ini, bukan berarti novel ini tak bagus, namun itu lebih karena saya sendiri yang gagal menangkap esensinya. Bagi saya yang sudah kebanyakan membaca cerita-cerita cheesy, novel ini semacam kudapan berat yang ketika dilahap pun masih memaksa saya untuk memeras otak. Apa sih maksudnya?

Dari segi cetakan, sudahlah, gabungan mbak Endah-mbak Lulu-Mery-Tisa sudah pasti menghadirkan hasil cetakan optimal. Sepanjang saya membaca, hanya satu typo yang saya temukan (hlm. 214: berciumam) dan jarang saya temukan kalimat membingungkan/ambigu/tak efektif. Salut deh.

Selamat membaca, kawan!


Oiya, ini beberapa sampul edisi negara lain:





Tuesday, January 31, 2012

[Kado My Secret Santa] Resensi Novel Young Adult - Where She Went by Gayle Forman

Serasa menonton ulang film Before Sunrise..., tapi lebih datar
Reading from 13 - 15 January, 2012
Rating: 2,5 out of 5 star


Judul: Where She went (If I Stay #2)
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Dini Pandia
Pewajah Sampul: Marcel A.W.
Tebal: 240 hlm
Rilis: Oktober 2011
ISBN: 978-979-22-7650-3

Summary:
Adam Wilde, seorang rockstar yang sedang naik daun, didera kegelisahan yang semakin hari semakin membuatnya tertekan. Ditambah lagi sikap anggota band yang lain yang selalu melihatnya sebagai masalah dan ancaman bagi grup yang album musik rilis terakhir mereka baru saja diganjar double platinum. Lalu, entah kebetulan entah takdir, Adam bertemu lagi dengan Mia Hall, mantan kekasih yang pergi meninggalkannya setelah ia pulih dari koma akibat kecelakaan yang juga merenggut seluruh anggota keluarga gadis itu, kurang lebih 3 tahun silam.

Atas nama nostalgia dan inisiatif Mia, keduanya menyibak sudut-sudut rahasia kota New York yang menjadi tempat favorit Mia. Dari perjalanan semalam itulah mengalir kisah demi kisah dalam rajutan kenangan masing-masing selama mereka berpisah. Apa yang menyebabkan Mia pergi meninggalkan Adam? Mengapa Adam seolah tak pernah mencari Mia jika ia benar-benar mencintainya? Apakah kejujuran dalam satu malam itu bisa merekatkan kembali segala sesuatunya yang sudah merenggang? Dan, jangan lupakan bahwa keduanya terburu jadwal terbang masing-masing, Adam ke London dan Mia ke Tokyo, apakah dengan waktu yang singkat itu semuanya akan terurai dengan benar? Simak saja bagaimana Adam dan Mia berdamai dengan masa lalu mereka dalam novel Where She Went karya Gayle Forman yang merupakan sekuel dari If I Stay ini.


Saya tentu saja sudah berniat membeli novel ini ketika teman-teman pembaca yang lain pada heboh memperbincangkannya. Apalagi sampulnya yang OK’s bangetsss itu… Simply beautiful! Tak tanggung-tanggung bahkan beberapa dari teman pembaca perempuan memasukkan Adam Wilde ke dalam daftar top boyfriend mereka. Ditambah lagi, novel ini dipilih oleh goodreaders di seluruh dunia sebagai novel Young Adult terfavorit tahun 2011. Tak ayal, saya semakin penasaran untuk membacanya.

Niatan awal, saya ingin membaca runut dari If I Stay dulu tapi dikarenakan kebaikan hati My Secret Santa, saya terlebih dahulu mendapatkan copy novel ini. Heh? My Secret Santa? Maksudnya? Hmm, baiklah saya akan bercerita sedikit tentang ini. Secara kebetulan saya baru bergabung di salah satu group pembaca di facebook yaitu komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI) pada Desember 2011. Merujuk pada namanya, komunitas ini adalah tempat bergabungnya para blogger yang content blognya mostly tentang buku, tidak diperkenankan isinya bercampur dengan tulisan lain di luar buku. Awesome! Info selengkapnya tentang komunitas ini silakan intip di blogbukuindonesia dan fanpage BBI di facebook.

Saat itu sedang ada proyek Secret Santa yang diselenggarakan oleh anggota BBI (atau kami menyebutnya BBIers). Rule-nya simple: setiap orang yang mendaftar akan menjadi Santa yang akan mengabulkan wishlist dari seorang member yang terpilih menjadi penerima kado dari Santa. Dikarenakan proyeknya bertajuk Secret, maka baik si Santa dan sang penerima kado tidak saling mengetahui. Di situlah letak serunya proyek ini. Maka, setelah berdebar-debar selama masa penantian, datanglah paket misterius dari Santa saya yang baik. Taraaaaa... paketnya adalah novel Where She Went ini. Senangnya. Lalu, siapakah My Secret Santa?



Siapa dia? Saya berharap semoga My Lovely Secret Santa berkenan memperkenalkan diri kepada saya, di sini, hehehe....thank you very much, Santa. I am really happy that you send me this book. Awesome!

Oke, balik ke novel ini lagi. Sejujurnya, saya juga berusaha ikut merasai perjalanan kontemplasi yang dilakukan Adam Wilde bersama dengan Mia Hall. Saya ingin menemukan sensasi sebagaimana yang ditemukan oleh teman-teman pembaca saya yang lain (mostly, girls), but, unfortunately, I couldn’t find it. Dunno why. Begitu cerita memasuki tahapan penelusuran sudut-sudut kota New York, otak saya justru memutarkan kenangan film Before Sunrise-nya Ethan Hawke dan Julie Delpy yang sangat indah itu. Meskipun berbeda setting, karakter, bahkan ide cerita, namun Before Sunrise sungguh membuat emosi saya datar-datar saja ketika membaca novel ini.

Lalu, pada suatu titik, saya sampai mendengus sebal. Oh, apakah para gadis itu jatuh hati pada bintang rock cengeng pengidap depresi semacam Adam ini? Beuuh, sinis bener, kayaknya saya, ya? Entahlah, saya tak bisa terkoneksi dengan sempurna pada tokoh-tokoh rekaan Gayle Forman di sini. Seorang teman menduga mungkin dikarenakan saya yang belum membaca buku pertamanya. Ehmm, bisa jadi. Namun, selepas saya menyelesaikan If I Stay, saya tetap tak bisa jatuh hati pada kisah ini.

Alur yang ditaburi adegan flash back tidak membantu saya membangun citra diri Adam-Mia. Entah, karena saya yang tidak terhanyut itu, saya merasa permasalahan mereka ini “sepele-banget” dan dibikin ribet sama penulisnya. Konflik pun tak dipertajam. Keberuntungan demi keberuntungan seolah selalu memayungi tiap langkah kedua tokoh utama. Dan, semua menjadi demikian mudah. Lah, kenapa dibikin ribet sampai tangis-tangisan segala? Entahlah.

Saya pun sempat menyalahkan pilihan waktu membaca saya yang terus tancap gas hingga lewat tengah malam, ketika kantuk tak lagi dapat ditahan, saya tetap memaksa merampungkan baca. Tetapi, saya pun melakukannya ketika membaca If I Stay, dan hasilnya beda. Jadi, itu jelas bukan permasalahannya. Saya menyerah untuk mencari alasan. Memang saya-nya yang tak terhanyut kisah ini. Namun demikian, saya tetap menyukai novel ini. sekiranya nanti masih ada lanjutan dari seri ini, saya masih berkeinginan untuk membacanya. Bahkan, saya memang sedang mencari buku lain karya Gayle Forman untuk dibaca.

Secara teknis cetakan, Where She Went mengalami penurunan kualitas. Ada beberapa typo yang masih terselip termasuk inkonsistensi penggunaan beberapa kata (beda halaman, beda penulisan). Yang paling mengganggu bagi saya adalah pemenggalan suku kata yang tidak pada tempatnya. Bahkan, kata yang berada di tengah-tengah halaman pun mendapat pemenggalan suku kata. Saya menduga ini karena penggunaan software konversi kata yang tidak cermat dalam hal setting-nya. CMIIW.

Bagian favorit saya di novel ini:

...dan mereka akan segera lupa bahwa aku hanya manusia fana: daging dan tulang, bisa memar dan terluka (hlm. 129) ---Adam yang mengeluhkan ulah para fans yang merubunginya. 
...tidak ada tempat yang lebih mematikan gairah daripada rumah sakit. Baunya saja sudah bikin hilang selera –sungguh kebalikan dari meningkatkan hasrat (hlm. 136)
Ah, sudahlah, intinya saya suka novel ini, meskipun juga merasa biasa saja ketika selesai merampungkannya. Tak ada kesan yang berbekas di hati saya. 2,5 bintang saja untuk kebosanan saya menghadapi Adam yang penggamang.



Oke, selamat membaca, kawan! Dan, berkali-kali kembali saya sampaikan terima kasih kepada My Secret Santa! God bless you!

Sunday, January 22, 2012

[Resensi Novel Young Adult] If I Stay by Gayle Forman

Mbrebes mili...
Read from January 18 to 21, 2012
Rating: 5 out of 5 star


Judul: If I Stay (Jika Aku Tetap Di Sini)
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Dini Pandia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 200 hlm
Rilis: Oktober 2011 (cet. ke-3)
Harga: Rp35.000
ISBN: 978-979-22-6660-3

Summary
Mia Hall adalah seorang gadis yang beruntung. Dia punya Mum, Dad, dan si kecil Teddy yang menggemaskan. Tak hanya itu, Mia juga punya Adam Wilde, seorang rockstar yang sedang menanjak popularitasnya bareng band Shooting Star, yang sudah resmi menjadi pacarnya. Namun, sebuah kecelakaan tragis di suatu pagi yang dingin-musim-salju, merenggut kebahagiaannya. Dalam sekejap dia kehilangan Mum, Dad, dan Teddy. Bahkan, nyawanya pun dekat sekali jurang kematian.

Ketika raganya masih diusahakan untuk sembuh dari segala kerusakan yang ada, jiwa Mia berkelana. Dalam hitungan jam, Mia yang tak kasatmata menyusuri tiap sudut rumah sakit, menyaksikan orang-orang yang disayanginya menjadi panik, sedih, pasrah, dan tak percaya atas apa yang terjadi. Bahkan, hatinya pun seakan teriris sembilu ketika menyaksikan Adam berjuang untuk bisa masuk ke ruang perawatannya dan membuat janji yang akan mengubah segalanya.

Rasakan puncak kepiluan dari dua hati yang dipersatukan dengan dukungan sebuah keluarga yang harmonis namun dalam waktu singkat harus menghadapi cobaan hidup mahadahsyat dalam novel karya Gayle Forman berjudul If I Stay ini.

WOOOWWW! Kapan saya terakhir kali tiba-tiba menangis tanpa bisa saya cegah hanya dari membaca novel? Hmmm....sudah lama sekali rasanya. Dan, saya mengalaminya lagi ketika membaca novel ini. Serius! Padahal dalam dunia nyata saya sulit sekali untuk merasa sedih, lho. Aneh, memang. Mungkin, otak saya salah program. Dunno. Tapi, syukurlah, novel ini memang diciptakan dalam topografi berbukit-bukit. Jadi, ketika telah dihadirkan satu adegan yang begitu mnegharukan, dengan konsep flashback, penulis membawa pembaca ke masa lalu Mia yang menyenangkan. Sehingga ketika tak sengaja air mata mengalir, detik berikutnya rasa sedih tersapu kedamaian melihat masa lalu yang indah, dan air mata berhenti dengan segera.

Bagian inilah yang membuat bendungan mata saya tak mampu menahan luapan air mata yang tumpah:
Gramps.... dan berbisik.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apa pun yang kuinginkan di dunia ini.” Suaranya tersekat emosi. Dia berhenti, berdeham, menarik napas, dan melanjutkan. “Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang.”
Pada saat itu, saya teringat Bapak. Pada saat itu, saya teringat Ibu. Saya ingat betapa Bapak dengan pelan membisik kepada saya yang sedang tersedu malam sebelum Ibu saya dipanggil kembali padaNya, “Le, ndang lungguh sanding Makmu, wacakne dungo ben ora loro (Nak, sana duduk dekat Ibu, bacakan doa biar nggak sakit).” Itulah salah satu momen saya menumpahkan seluruh air mata. Saya sudah mencoba meminta padaNya untuk menyembuhkan Ibu, namun malam itu Bapak membuatku mengikhlaskan jikalau sekiranya Alloh hendak memanggil kembali Ibuku. Dan, Alloh memang memanggil Ibu saya, keesokan harinya.

Sosok Gramps, yang digambarkan oleh Gayle sebagai sosok pendiam dan pekerja keras ini, langsung membuat saya jatuh simpati pada beliau. Sudahlah, yang jelas, saya sesak napas ketika sampai di bagian ini (hlm. 152)

Saya membaca novel ini justru setelah membaca sekuelnya, karena buku keduanya saya dihadiahi oleh sahabat baru saya di group Blogger Buku Indonesia dalam proyek My Secret Santa (review buku kedua disepakati akan diposting secara bersamaan dengan semua member yang ikut serta program tersebut di akhir bulan Januari ini). Kalau tidak salah, saya pernah men-tweet soal saya yang tidak terhanyut ketika membaca Where She Went dan tak sampai merasakan kedalaman hati seorang Adam Wilde, dan Mery Riyansah menyarankan kepada saya untuk membaca buku pertamanya yang memang sudah saya niatkan. Dan, tak salah, saya memang terhanyut, bahkan tenggelam, dalam kisah mengharukan Mia Hall. Sebuah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya.

Namun demikian, satu yang terlintas dalam benak saya. Ahhh.... film Ghost banget ini ceritanya, atau film Just Like Heaven banget, atau novel Memory and Destiny banget nih novelnya... tentang sosok-setengah-hantu-dengan-tubuh-terbaring-koma dan judgement saya memang tidak meleset jauh. Ini memang kisah seperti itu. Tapi, apa yang membuatnya istimewa? Tentu saja, kepiawaian penulisnya yang berhasil menyeret saya ke muara kesedihan yang begitu dalam namun tidak sampai menye-menye kayak sinetron.

Saya suka semua karakternya. Khususnya Teddy. Lagi-lagi saya sudah lama sekali tidak mendapati tokoh bocah cilik yang memang masih bocah di novel-novel yang saya baca. Ada sih sosok anak-anak namun kebanyakan sudah dicekokin sama kedewasaan karena keegoisan atau ketidaksanggupan penulisnya untuk menghadirkan tokoh anak kecil yang berjiwa anak-anak. Selebihnya, karakter tokoh-tokohnya di sini sangat kuat. Mia sang pecinta musik klasik dengan cello-nya, Adam sang rockstar, Dad yang mantan anggota group band punk, Henry dan Willow sebagai pasangan pencinta punk dan perawat. Saya bahkan tak mengenali Mia di sini seperti halnya Mia di Where She Went, dan saya suka Mia yang ada di sini. Di If I Stay dia terlihat tegar dan rapuh pada saat yang bersamaan (dan tepat) sementara di buku keduanya justru menjadi sosok peragu. Tapi, entahlah, memang kedua buku ini berbeda sudut pandang dan berbeda situasi sih ya.

Soal cover, saya lebih suka yang Where She Went. Meskipun keduanya sangat merepresentasikan pokok cerita, tetapi sampul Where She Went saya rasa lebih kuat untuk menggambarkan keseluruhan cerita ketimbang yang If I Stay. Lah, kenapa saya jadi membandingkan dua buku ini, ya? Hahaha, semprul! Yang jelas, saya rada kurang suka sama sampul yang If I Stay ini.




Soal typo, yeayyy... novel ini hampir bersih dari salah ketik/cetak. Awalnya saya pikir ameba (dari kata amoeba) dan pikap (sebutan untuk pick-up) itu salah ketik, ternyata di KBBI memang begitu cara penulisannya. Yang typo hanya di hlm. 130 (menembuat = membuat) dan hlm. 148 (Grams = harusnya Gramps).

Overall, sulit bagi saya untuk tidak menyukai novel ini. Salam buat Teddy dan Gramps. 5 bintang untuk If I Stay.

Selamat membaca, kawan!

Thursday, April 29, 2010

(2010 - 9): Resensi Novel Chicklit: Nell Dixon - Blue Remembered Heels (Sepatu Biru Kesayangan)

Kisah Romantis Tukang Tipu

Rating: 2,5 dari 5 bintang



Judul: Blue Remembered Heels (Sepatu Biru Kenangan)
Pengarang: Nell Dixon
Desain sampul: Anne Mariane
Penerjemah: Tisa Anggriani
Editor: Lulu Fitri Rahman
Korektor: Elvina Alianto
Penerbit: M-Pop (Penerbit Matahati)
Tema: Komedi romantis, Misteri pembunuhan, Penipuan
Genre: Fiksi Dewasa (Adult Fiction)
Tebal: 311 hlm
Harga: Rp42.500
Rilis: Maret 2010 (Cet. 1)
ISBN: 978-602-96255-01-6

Membaca sekilas sinopsis di sampul belakang novel romantis ini, ingatan saya langsung melayang pada sebuah film Hollywood produksi tahun 2001 berjudul Heartbreakers besutan David Mirkin yang dibintangi oleh Sigourney Weaver dan Jennifer Love Hewitt. Film tersebut bercerita tentang ibu dan anak perempuannya yang memanfaatkan pesona kecantikan dan kelihaian tipu-tipu untuk menjerat pria-pria kaya kemudian menikah dengan mereka, menggugat cerai dengan tuduhan pria tersebut berselingkuh (si anak diplot jadi selingkuhan), dan mengajukan tuntutan pembagian harta gono-gini. Di akhir film, sesuai pakem Hollywood, ibu dan anak ini sadar dan menemukan cinta sejati yang membawa mereka kepada kehidupan yang biasa.

Sepatu Biru Kenangan mengambil ide cerita yang hampir mirip, meskipun tidak sama. Novel ini berkisah tentang tiga kakak beradik Gifford, Charlotte (Charlie), Abigail (Abbey), dan Christopher (Kip), yang melakukan tindak penipuan dengan pelbagai modus untuk menyerobot sejumlah uang dari para korbannya yang kebanyakan di’alibi’kan memperoleh atau mendapatkan kekayaannya dengan cara curang. Hingga suatu ketika Abbey kena musibah yang membuatnya tak lagi dapat berbohong, dan tentu saja itu menyulitkan profesi mereka yang membutuhkan kemampuan berbohong yang mumpuni. Maka ketika seorang polisi muda (dan seksi), Mike, melontarkan beragam pertanyaan, Abbey tak dapat mengontrol seberapa banyak rahasia perbuatan mereka yang bisa terlontar dari mulutnya. Lebih-lebih ketika sedang merencanakan penipuan baru di suatu daerah yang jauh dari pusat kota, mereka mendapatkan ancaman dan teror dari korban penipuan mereka sebelumnya, Freddie, yang tak terima dan menginginkan uangnya dikembalikan.

Ikut tegang. Itulah sensasi awal yang saya rasakan ketika mencoba melebur dalam kehidupan tokoh Abbey, yang menjadi pencerita di keseluruhan novel ini (point of view orang pertama: aku). Abbey yang tak lagi piawai berbohong jika ditanya orang terpaksa bekerja keras mencari cara agar dirinya tidak ditanya oleh orang lain. Bahkan, ia sampai menjalani sesi terapi regresi di bawah panduan Kip.

Ide cerita dan cara penyampaiannya sudah cukup baik. Saya benar-benar dibuat deg-degan dari sejak penyamaran awal yang dilakukan Abbey. Saya seperti seorang penonton sinetron norak yang selalu ingin menyerukan, “ya olohhh, jangan gerak ke sono, ntar ketauan lho,” atau “Gosh, dia bisa ngelihat kamu, dodol, plis deh, gitu aja kesandung mulu.” Hahaha. Sensasi semacam itu sungguh membuat saya gemas sendiri. Namun sayang, frekuensi-nya justru semakin menurun dan cerita lebih didominasi pada kisah percintaan mereka. Charlie dengan si target penipuan (Philippe), Abbey dengan Mike, dan Kip dengan tetangga rumah baru mereka (Sophie).

Jadi apa itu Sepatu Biru Kenangan? Hmm…ternyata sepatu biru kenangan itu adalah …teeeettttttt……(baca sendiri ya, nggak seru donk kalo di-spoiler). Bah, tapi mau donk ngasih bocoran dikit kenapa sepatu itu penting? Baiklah, begini, sepatu biru kenangan itu akan membantu mengungkap satu kisah masa lalu yang sangat penting bagi ketiga kakak beradik tersebut (dan kelam, dan menyedihkan) untuk dapat ditelusuri dan dipecahkan misterinya.

Secara utuh, cerita novel ini lumayan, meskipun tidak lagi orisinil. Untuk karakternya sendiri sudah cukup kuat walaupun saya kurang bisa merasuk pada masing-masing tokohnya. Saya suka Abbey, tapi kalau diminta mendeskripsikan sifatnya, saya blank. Kadang-kadang Abbey terlihat meragu, namun di saat yang lain dia dengan tegas tampil sebagai pengambil keputusan. Kip, yang digambarkan anti-sosial, suatu ketika tampil sangat jenius dan bahkan menjadi perancang segala macam perlengkapan tipu menipu.

Pada bagian romantisnya, kisah cinta Charlie dan Philippe gampang sekali tertebak, meskipun memang saya rasa penulis tidak berniat membuatnya misterius. Sedangkan love at first sight-nya Mike pada Abbey juga agak kurang reasonable. Entahlah, apakah saya yang belum sepenuhnya percaya pada yang namanya love at first sight atau bagaimana, yang jelas rasanya kurang kuat saja pondasi alasan mengapa Mike “mengincar” Abbey.

Yang juga belum masuk di logika saya adalah si Freddie yang menebar aroma tegang di novel ini, justru tak terlihat garang dan hanya gertak sambal, padahal kasus dan latar belakang orang ini cukup meyakinkan untuk menjadikannya sangar. Kalau si Freddie ini seorang milyuner, kenapa pula dalam beberapa hal ia tidak menyuruh anak buahnya atau orang bayaran misalnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat membuatnya “tertangkap”. Aneh. Dan, akhirnya yang menjadi pertanyaan besar saya adalah apakah seorang kriminal yang sudah mengakui perbuatan dan menyatakan bersalah tidak dihukum, sama sekali? Mau donk ngerampok bank, ngaku tobat, terus ketemu jodoh teller bank itu, so sweet. Enak benerrr!!!

Catatan (beberapa kesalahan teknis percetakan/typo yang saya temukan):
Alinea 3, halaman 8: pantulan di cermin oval emas si atas ---> di atas?
Alinea 1, halaman 20: Aku bahkan tidak kejadian dalam bayanganku itu. ---> kalimat ini agak janggal, seolah ada satu kata yang tertinggal di antara kata “tidak” dan “kejadian”
Alinea 2, halaman 22: …,tapi pekerjaan itu sangat beresiko ---> berisiko?
Alinea 4, halaman 81: Dia bangkit dari sofa dan pergi ke lantas atas untuk… ---> lantai?
Alinea 6, halaman 184: Hewan yang kumaksud sedang mengendus-endus di sekitar tapi danau. ---> tepi?
Alinea 3, halaman 212: penggunaan kata Mum yang tidak konsisten, karena di satu kalimat itu, berganti menjadi ibu.
Typo-typo tersebut jelas tidak begitu mengganggu, namun ada baiknya di penerbitan novel-novel berikutnya dapat dihindarkan, apalagi di novel ini ada editor dan korektor yang ikut berperan sehingga harusnya kesalahan-kesalahan kecil begini bisa diminimalisasi. Oiya, awalnya saya pikir Charlie itu cowok lho (dari sinopsis di belakang), ternyata itu nama panggilan Charlotte, kakak perempuan Abigail (Abbey). Dalam novel ini para karakternya memang secara tiba-tiba saja di"hidup"kan dengan nama panggilan mereka, tanpa perlu disebutkan bahwa itu nama panggilan mereka.

Oke, happy reading, people!

Sinopsis (cover belakang)
Abbey Gifford dan kakaknya, Charlie, adalah penipu yang gemar merampok pria kaya. Itulah yang mereka kerjakan sampai suatu ketika Abbey tersambar petir.

Sejak itulah, Abbey mengalami ingatan kilas balik yang aneh. Sepasang sepatu biru kerap muncul dalam mimpinya. Parahnya lagi, dia jadi tidak bisa berbohong. Padahal, pekerjaan Abbey menuntutnya untuk terus-menerus berdusta. Lalu, ketika seorang detektif misterius yang tampan bernama Mike Flynn mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya, dia merasa seperti dijebak …

Dan jika Mike sampai tahu kenyataan kehidupan kriminal Abbey, mungkinkah Abbey akan menemukan kebahagiaannya?

Thursday, March 18, 2010

Resensi Novel Cerita Anak: Marianne Musgrove - The Worry Tree (Pohon Cemas)

Jangan biarkan kecemasan menguasaimu



Judul: The Worry Tree (Pohon Cemas)
Penulis: Marianne Musgrove
Penerjemah: Dini Andarnuswari
Pewajah Isi (Ilustrator?): Aniza Pujiati
Penerbit: Atria (PT Serambi Ilmu Semesta)
Tema: Cerita anak-anak
Tebal: 110 hlm + 18 hlm tambahan
Harga: Rp19.900 (situs Atria)
Rilis: Desember 2008 (cet. 1)
Lokasi Pembelian: IBF 2010 (disc 20%)

Saya termasuk seseorang yang tumbuh dengan watak pencemas, meskipun sebenarnya kata cepat-panik lebih mewakili pribadi saya ketimbang sekadar cemas. Gampang gugup, minder-an, dan gak pede. Itu semua, tentu saja, ujung-ujungnya merepotkan diri sendiri, karena apapun yang saya lakukan/ucapkan dalam keadaan panik, jelas makin memperparah kondisi saya.

Berangkat dari pengalaman pribadi itulah saya mencomot novel anak-anak ini dari stan Serambi di Islamic Book Fair 2010 yang digelar beberapa waktu lalu. Saya terhipnotis pada judulnya dan harapan adanya saran penulisnya tentang bagaimana mengatasi masalah kecemasan ini.

Awalnya saya berasumsi akan ada sedikit pernik fantasi-magic dalam novel ini jika melihat ilustrasi sampulnya (depan-belakang) bergambar sebuah pohon yang di beberapa cabangnya “nangkring” hewan-hewan yang sebagian mustinya tidak bisa berada di situ. Ada wombat, kambing, burung merak, anjing, babi, dan bebek. Imajinasi saya langsung terbang ke dunia fabel, dengan mengira-ira bahwa para binatang tersebut pasti bisa berbicara. Ternyata, saya keliru.

Gambar pohon beserta para “penghuninya” itu aselinya, dalam cerita, ya tetap sebuah gambar/lukisan di tembok kamar seorang gadis cilik berusia 10 tahun yang mempunyai sifat gampang merasa cemas (khawatir berlebihan). Gadis cilik itu bernama Juliet Jennifer Jones, yang apabila digunakan untuk menandai kepemilikan atas suatu barang disingkat sesuai inisialnya, JJJ. Penyingkatan ini menjadi terasa manis karena selalu diberikan perumpamaan oleh penulisnya, misal: JJJ – persis seperti tiga kail ikan berjajar (hlm: 6), atau JJJ – seperti ekor tiga monyet sedang berjajar (hlm: 24), atau JJJ – seperti tiga tongkat terbalik berjajar (hlm: 63). Cantik sekali perumpamaannya.

Kisahnya sendiri sangat sederhana, lugu, dan menggemaskan. Benar-benar khas kanak-kanak. Tema hanya seputar kegelisahan seorang gadis kecil yang mulai mampu mencerna apapun yang terjadi di dunia ini, yang ditangkap oleh panca inderanya. Dimulai dari kekesalan akan gangguan adiknya yang jahil, kecemburuan teman lama ketika Juliet hendak menjalin persabahatan dengan teman baru, tindakan bullying yang dilakukan anak laki-laki bandel di sekolahnya, hingga perasaan menyalahkan diri sendiri karena orangtuanya bertengkar. Pada bagian ini saya terenyuh sekali. Berikut saya kutip paragrafnya (hlm: 86):
Gagasan itu membuatnya sedih, tetapi dia tahu itu akan memecahkan semua masalah mereka. “Stop!” serunya sambil berdiri. “Semuanya berhenti! Ini semua salahku, tetapi aku tahu cara menyelesaikannya.”

Duh! Seketika itu saya ikut merasakan beban berat yang terpanggul di pundak Juliet, gadis cilik itu, yang sedih karena melihat masing-masing anggota keluarganya mulai bertengkar dan saling menyalahkan. Adegan lain yang tak kalah harunya adalah ketika Juliet berusaha mendamaikan dua temannya yang saling berkompetisi meraih simpatinya. Gadis sekecil itu, kok bisa, ya?

Namun, jangan dipandang begitu “lapang-dada”nya si Juliet, karena pada dasarnya dia adalah anak yang selalu mengalami ruam-gatal jika dilanda kecemasan. Apalagi kalau sudah menghadapi adik kecilnya, Ophelia – Oaf, yang super ganggu dan cerewet, atau perasaan tak berdaya ketika di’gencet’ oleh cowok bengal di sekolahannya. Nah, berkat cerita dan bantuan dari Nana, neneknya, Juliet mulai mampu mengendalikan kecemasannya dengan menggantungkan rasa cemasnya itu di pohon cemas. Untuk mengetahui bagaimana caranya, silakan disimak di bukunya langsung ya…:)

Pada saat hampir bersamaan, bahkan lebih dulu start-nya malah, saya juga membaca novel fantasy klasik anak-anak berjudul Alice in Wonderland (Lewis Carrol). Namun, jika membandingkan keduanya, saya justru lebih mudah dan nikmat melahap habis Pohon Cemas ini. Hal tersebut tentu saja karena unsur kesederhanaan cerita dan aliran plot yang runut dan gampang diikuti. Saya tak perlu berkerut-kerut demi memikirkan beragam teka-teki yang dilontarkan tokoh utama. Semuanya dilajukan pada jalan tol yang mulus dan bebas hambatan. Tenang. Menghanyutkan. Namun demikian, novel ini tetap berwarna dengan serangkaian kondisi (konflik) yang dihadapi oleh Juliet.

Bagi pembaca anak-anak, novel ini dapat memberikan contoh bagaimana mengatasi masalah dan berhenti untuk mencemaskan segala hal. Sedangkan bagi para orangtua juga dapat mengambil pelajaran untuk tidak menggelar pertunjukan adu mulut (bahkan sampai adu jotos) di depan anak-anak, karena akan membawa dampak traumatik yang bisa saja sampai pada tahap serius. Dalam kasus di novel ini, timbul perasaan bersalah pada si anak karena menyangka mereka-lah penyebab cekcok kedua orangtuanya itu. Bagus, kalo si anak bisa seperti Juliet yang dengan lantang menyuarakan perasaannya. Bagaimana jika si anak yang melihat pertengkaran orangtuanya itu tipe anak tertutup, bisa-bisa si anak makin tertekan dan suatu ketika meledak, membawa dampak negatif yang luar biasa besar.

Maka, yang bisa saya sampaikan, untuk Anda sekalian yang sudah dianugerahi momongan, agar selalu dapat menjaga proporsi yang tepat dalam setiap pengambilan keputusan bersama pasangan Anda dalam biduk rumah tangga.

Baiklah, selamat membaca, temans!

Saturday, February 6, 2010

(2010 - 5) Resensi Novel Terjemahan: Banana Yoshimoto - Kitchen

Dapur yang manis dan romantis



Judul: Kitchen
Pengarang: Banana Yoshimoto
Penerjemah: Dewi Anggraeni
Penyunting: Dini Andarnuswari
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tema: Keluarga, Romansa, Persahabatan, Dewasa, Rasa kehilangan
Tebal: 204 + vi halaman
Harga (Toko): Rp40.000
Rilis: April 2009 (cet. 1)

Saya adalah salah satu penggemar dorama Jepang. Sebut saja Oshin, Tokyo Love Story, Rindu-rindu Aishawa (lupa judul aslinya), Long Vacation, Hotelier (versi Jepang) dan beberapa lagi yang lainnya. Pun, saya juga masih menahbiskan Jepang sebagai negara pencipta kartun terbaik di dunia. Terutama dari segi keragaman ceritanya. Namun, saya tidak sampai sebegitu gemasnya bermimpi menginjakkan kaki di negeri Sakura tersebut (seperti kebanyakan orang yang terkagum-kagum dengan etos kerja dan pesatnya kemajuan teknologi negeri Samurai itu) atau bahkan sekadar membaca hasil karya tulis sastrawannya. Entahlah, rasanya untuk ukuran Jepang saya lebih suka yang visual, bukan verbal, hehehehe. Aneh!

Kalau diingat-ingat saya hanya baru membaca 2 buah novel karya penulis Jepang (Toto Chan dan Kitchen), 1 novel berlatar Jepang (Memoirs of Geisha), 1 novel yang belum dibaca (salah satu dari seri klan Ottori), dan 1 novel karya penulis Indonesia bersetting Jepang (Winter in Tokyo by Ilana Tan). Entahlah, saya belum tergerak untuk mencari lebih banyak hasil tulisan penulis-penulis Jepang. Mungkin ada saatnya, nanti.

Mengenai Kitchen, saya sempat berasumsi bahwa novel mungil yang simple namun eye-catching ini adalah sebuah cookbook yang dinarasikan menggunakan bahasa novel. Ternyata anggapan saya keliru. Saya yang sudah ngiler kepengin tahu beberapa resep kue-kue khas Jepang atau aneka macam mie-nya yang terkenal itu (yang sering saya lihat juga di dorama-doramanya, saya selalu mengingat adegan Tokyo Love Story dimana sehabis jam kerja biasanya mereka hang out dulu di kedai mie, ugh…menggoda sekali mie-mie-nya…), makin dibuat ngiler dengan banyaknya jenis-jenis makanan khas yang disebutkan dalam novel ini. Namun sayang hanya sebatas itu, karena tidak ada satu pun resep masakan yang muncul di sini.

Sejatinya novel ini (versi terjemah Indonesia) adalah sebuah novelete, karena di dalamnya terdiri dari dua cerita yang berbeda. Awalnya saya tidak menduganya seperti itu. Maka, ketika cerita berganti ke judul kedua, saya bingung alang kepalang. Sementara, saya merasa cerita pertama belum tuntas seratus persen. Loh, ceritanya kok jadi kesini, apa hubungannya ini dengan si anu tadi ya??? Setelah dua kali balik ke halaman muka, daftar isi, dan kembali ke belakang, saya baru ngeh kalau dua cerita di dalam novel ini tidak saling terkait. Saat itu juga saya berseru bodoh, “..ooohhhh…beda rupanya.” Payah!

Berdasar informasi dari situs wikipedia, Kitchen merupakan novel debutan Banana yang bernama asli Mahoko Yoshimoto, dan menjadi fenomena karena langsung menangguk sukses. Di Jepang sendiri, novel ini telah cetak ulang lebih dari 60 kali dan diadaptasi ke dalam film sebanyak 2 kali. Banana mendapatkan penghargaan Kaien Newcomer Writers Prize pada Nopember 1987, the Umitsubame First Novel Prize, dan Izumi Kyoka Literary Prize pada Januari 1988 untuk novel Kitchen-nya ini. Selengkapnya silakan klik di sini.

Novelete Kitchen mengalir sederhana dengan diksi yang tidak terlalu rumit, pun dengan konflik yang ada. Banana lebih menonjolkan bagaimana jalinan hubungan diantara aktor-aktornya yang tidak terlalu banyak itu. Saya juga suka dengan deskripsi gaya tokohnya. Serasa benar-benar sedang menikmati suguhan dorama.

Cerita Pertama, berjudul Kitchen, terdiri dari dua bab. Kisahnya adalah tentang seorang gadis bernama Mikage Sakurai yang berjuang menambal perasaan kehilangan setelah kerabat satu-satunya yang tersisa, neneknya, meninggal dunia. Mikage sangat tergila-gila pada dapur yang selalu memberikannya kenyamanan ketika perasaan sepi menerpanya.
“….aku paling bisa lelap ketika tidur di samping kulkas.” (hlm: 4)

Bahkan secara eksplisit dia memilih dapur sebagai tempat favorit seandainya dia meninggal.
“…., aku ingin menghembuskan napas terakhirku di dapur. Tak peduli dapur itu dingin sekali…” (hlm: 4).

Untunglah, ada Yuichi Tanabe yang telah sepakat dengan ibunya untuk mengajak Mikage tinggal bersama mereka selama gadis itu belum menemukan apartemen baru. Saat tinggal di keluarga Tanabe inilah, Mikage menyadari betapa sebuah keluarga adalah anugerah. Tak selalu indah, namun patut disyukuri. Selain kenyataan bahwa Eriko, ibu Yuichi, adalah seorang laki-laki transgender yang adalah ayah kandung Yuichi, Mikage juga mulai menyadari bahwa ada perasaan lain yang tumbuh di dalam dirinya terhadap Yuichi. Cinta.

Sayang sekali, keharmonisan hidup Mikage, Yuichi, dan Eriko tak berlangsung lama. Pada bab kedua diceritakan bahwa Eriko dibunuh. Berita ini tentu saja mengacaukan perasaan Mikage, terlebih Yuichi sebagai seorang anak. Pada titik itulah hubungan keduanya diuji. Perlahan masing-masing mulai menyadari bahwa mereka punya perasaan lain selain perasaan bahwa selama ini mereka adalah keluarga. Ketika hati tak lagi mampu berbohong, keputusan terbaik harus segera dibuat. Novelete ini ditutup dengan ending yang legit dan menyentuh. Sangat menginspirasi, bahwa dalam hidup dibutuhkan perjuangan dan kedewasaan dalam menentukan sikap.
Intermezzo dari cerita Kitchen, “Laptop (hlm: 35) dan kuis Family 100 (hlm: 82) sudah ada di Jepang sejak tahun 1980-an?” Wow!!

Cerita kedua, berjudul Moonlight Shadow, juga berkisah tentang kehilangan. Kehilangan kekasih ketika berada di puncak asmara. Satsuki masih merasa terlalu berat melepas kepergian Hitoshi, yang direnggut malaikat maut melalui kecelakaan mobil yang juga menewaskan Yumiko, kekasih Shu – adik laki-laki Hitoshi. Untuk mengusir kehampaan akibat kehilangannya itu, Satsuki memutuskan untuk rajin berlari pagi, yang selalu dimulai dan diakhiri di atas sebuah jembatan yang menjadi tempat bersejarahnya bersama Hitoshi. Hal yang sama juga dialami Shu yang memanifestasikan kehilangannya dengan selalu mengenakan seragam Yumiko, yaitu berupa baju kelasi – seragam sekolah untuk siswa perempuan di Jepang (mungkin mirip seragamnya Usagi dalam serial kartun Sailormoon kali ya…???).

Suatu pagi Satsuki bertemu dengan Urara, seorang gadis aneh yang misterius. Urara yang merasa bertanggungjawab atas jatuhnya botol minum Satsuki ke sungai berjanji akan menggantinya. Maka ketika suatu hari Urara menelpon Satsuki (dimana Satsuki terkejut karena ia merasa tak pernah memberi tahu nomor telepon rumahnya) dan berjanji untuk membelikan botol minum sebagai gantinya, Satsuki mengabaikan demamnya dan menemui Urara di tempat yang ditentukan. Dari situlah, Satsuki semakin berminat akan suatu fenomena yang akan ditunjukkan Urara.

Pada hari yang disebutkan Urara, Satsuki pergi ke jembatan. Dan, peristiwa tumpang-tindih yang dikatakan Urara hanya terjadi setiap 100 tahun sekali itu, pada kenyataannya memang membuat shock Satsuki. Awalnya ia justru sedih telah menyaksikan fenomena itu, namun lambat laun ia mensyukurinya karena berkat kejadian itu ia mulai ikhlas melepas kepergian Hitoshi. Pada saat yang sama, Shu juga menceritakan pada Satsuki bahwa gara-gara ia mendapat mimpi aneh pada hari yang sama ketika Satsuki melihat fenomena itu, Shu merasa telah tiba saatnya untuk meneruskan hidup dan melupakan tragedi yang menimpa kakak dan kekasihnya. Seperti halnya cerita pertama, Banana juga menutup cerita kedua ini dengan bagus sekali. Bahkan, menurut saya halaman terakhirnya ditulis dengan penghayatan yang sangat dalam. Saya tercengang dibuatnya. Indah. Memikat.

Sebelum membuat resensinya, saya membaca novelete ini sampai dua kali. Pada kesempatan pertama, rasanya saya salah memaknainya sehingga dulu saya menganggap novel ini ringan dan kurang berisi. Bahkan, saya sampai bertanya, apa sih yang bikin novel ini bombastis di Jepang dan dapet banyak penghargaan, kok guwe nggak ngerasain apa-apa ya? Namun, entah apakah karena saya yang sedang dalam situasi sentimental saat membaca kembali novel ini untuk kesempatan kedua, makna yang saya dapatkan jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan. Saya merasa novel ini ditulis dengan emosi yang hidup. Seolah setiap rangkaian kalimatnya adalah ekspresi nyata para tokohnya. Paragraf demi paragraf seperti muncul dari hasil pemikiran dan perasaan yang begitu dalam. Benar-benar menghanyutkan.

Salah satu yang membuat saya bergetar adalah bagian ini,
“Sejujurnya aku ingin sekali berhenti berjalan, berhenti melanjutkan hidup…dst. …tak pernah kukira hidup ini ternyata begitu berat.” (hlm: 63).

Yah, ada saat-saat dimana saya selalu mempertanyakan tujuan penciptaan saya di dunia ini. Kalau sudah begitu, pikiran saya mulai melantur dengan mendaftar seberapa banyak kesengsaraan menimpa saya, hingga kadang berujung pada simpulan mungkin kematian adalah jawaban paling logis untuk mengakhiri segala macam kesengsaraan itu. Puji Tuhan, tidak seperti para tokoh dalam novel ini yang sering bertanya, “Tuhan ada atau tidak sih?” (hlm: 117), saya percaya bahwa Tuhan itu ada dan saya memahami mengapa Dia mengharamkan bunuh diri, karena itu perbuatan yang sia-sia dan tindakan kufur (ingkar atas nikmat yang diberikan).

Dari segi teknis, beberapa kekeliruan yang saya catat banyak terdapat pada cerita kedua, diantaranya:
(hlm: 188) .kadang-kadang hal itu membuatku perasaanku…, saya pikir harusnya “ku” yang melekat pada kata “membuat” lebih baik dihilangkan.

(hlm: 194) …Rambutku dan kerah kemeja Hitoshi yang kurindukan. Saya agak ambigu di sini, yang dirindukan rambut dan kerah kemeja Hitoshi ataukah maksudnya “rambutku di kerah kemeja Hitoshi”?

(hlm: 198) …tadinya ia menanti kedatangannya dengan duduk di bangku…, saya juga agak ambigu dengan kalimat ini. Saya pikir yang ditunggu Shu adalah Satsuki yang berperan sebagai “aku”. Saya pikir seharusnya kalimatnya adalah, “….menanti kedatanganku…”

Tambahan masukan, untuk cerita kedua, yang agak mengganggu adalah pemisahan paragraf untuk kejadian di waktu yang berbeda kurang jelas sehingga bagi saya agak mengacaukan kronologis cerita. Setting waktu menjadi tumpang-tindih dan membingungkan.

Secara keseluruhan, Kitchen menyampaikan kisah penuh harapan dengan bahasanya yang indah. Berakhir happy ending karena ingin menegaskan bahwa selama masih berjuang, setiap yang kita lakukan pasti akan membawa hasil sebagaimana yang diharapkan. Tentu saja, perjuangan itu adalah dengan cara dan disertai dengan tujuan yang baik. Yang patut dipuji, Banana menamatkan ceritanya dengan manis dan romantis namun tidak cengeng. Sederhana tapi penuh makna. Tak ada kata pujian selain, “novel ini indah sekali.”

Selamat membaca (dan terharu), kawan!

Sinopsis (cover belakang)
"Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur."

Mikage Sakurai sebatang kara sejak neneknya meninggal. Dapur menjadi satu-satunya tempat di mana perempuan itu tak merasa kesepian, di mana ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, serta ditemani sepetak langit malam berbintang di jendela.

Namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Di sana selama satu musim panas ia bergulat dengan acar, udon, soba, dan tempura. Di sana pula ia temukan apa yang tak pernah dimilikinya: keluarga, bersama Yuichi Tanabe yang dingin dan Eriko Tanabe yang mempesona - perempuan transeksual yang sejatinya ayah kandung Yuichi.

Ketika Eriko meninggal, Mikage dan Yuichi menjauh dan saling terasing dalam kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bangkit dari dukacita dan menyadari ada cinta di antara mereka?