Wednesday, April 18, 2012

[Resensi Novel Amore] Bella and the Beast by Astrid Zeng

Typo-nya bikin saya mual
Rating: 2 out of 5 stars


Judul: Bella and the Beast
Pengarang: Astrid Zeng
Editor: Raya Fitrah
Pewajah Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 hlm
Harga: Rp38.000
Rilis: Maret 2012
ISBN: 978-979-22-8159-0

Bellatrix Wibisono merupakan bungsu dari tiga bersaudara pasangan pengusaha kaya raya, Hadi Wibisono dan Siska. Orangtua dan kedua kakak perempuan Bella resah karena sampai dengan umur menjelang 26 tahun, Bella tak pernah sekalipun dekat dengan laki-laki. Hal tersebut tak terlepas dari kekangan sang ayah selama ini. Maka, ketika orangtua dan saudaranya menjodohkan Bella dengan Demetri Yoso, keponakan dari konglomerat lain, pengusaha kaya raya, Bella – Demetri menjadi pasangan yang unik.

Demetri telanjur dicap sebagai monster dengan luka parut mengerikan di wajahnya dan tubuh besar-kekarnya, ditambah lagi dengan gosip yang menyebutkan Demetri adalah lelaki kasar yang suka memukul perempuan dan bahkan berniat memerkosa mantan tunangannya. Namun demikian, jalinan pernikahan Bella-Demetri tersambung juga. Dilengkapi pernik keluarga dan para sahabatnya, kisah si cantik dan si buruk rupa ini berusaha mencari jalan menuju kebahagiaan.

Apakah pada akhirnya cinta hadir di hati Bella meskipun ia selalu menganggap wajah Demetri menakutkan? Simak kisah romance yang judulnya merujuk pada dongeng terkenal dunia, Bella and the Beast, karya Astrid Zeng ini.

Saya masih tidak percaya ketika mendapati satu demi satu typo yang bertebaran HAMPIR di seluruh halaman novel ini (Lebay deh gue, nggak semua halaman juga kaleeee). Saya sampai kehabisan post it penanda halaman untuk beberapa kesalahan teknis lainnya. Saya penasaran, apakah tidak ada proofreader untuk novel ini? Jika jawabannya tidak ada, maka sungguh sangat disayangkan.

Dari segi cerita, sebenarnya saya suka dengan kisah ini namun hanya sampai dengan separuh bagian pertamanya saja. Ketika konflik tak beranjak dari topik si lugu dan si monster, saya jatuh bosan. Untunglah, saya memang sudah tersedot pada karakter Bella dari sejak awal kemunculannya. Lugu, polos, menggemaskan, meskipun tidak realistis juga. Sepolos-polosnya orang polos, Bella ini anak konglomerat. Apakah sekadar tak diperbolehkan berhubungan dengan lelaki lalu Bella menjadi sosok kuper yang tak bisa memperoleh asupan informasi? Tidakkah Bella seharusnya dapat menyerap informasi dari dunia luar melalui televisi, internet, atau media cetak? Entahlah, meskipun sudah diberikan penjelasan bahwa Bella tak pernah baca-baca media cetak, toh pada suatu kesempatan dia googling juga mencari informasi tentang Demetri. Jadi, pada dasarnya dia melek internet, tho? Belum lagi, sifat sang mama yang sepertinya demanding sedikit banyak tak mungkin membiarkan sang putri tumbuh menjadi perempuan oon. Ini menurut saya. Kan, karakter ciptaan penulis, suka-suka penulis donk ya.

Sebenarnya cukup banyak subplot yang dihadirkan untuk mendukung cerita, mulai dari kisah orangtua dan kakak Bella, sepupu-sepupu Demetri dan para wanita mereka, serta Sonya, sang mantan. Sayangnya, variasi subplot tersebut tak mampu membuat saya tetap terpaku pada kisah Bella-Demetri. Mulai dari pertengahan novel hingga ke belakang saya hanya ingin sprint untuk segera menuntaskan kisah ini. Alih-alih mendapat kepuasan di ujung jalan, ending novel ini pun tak memberikan sensasi apa pun.

Ketika saya sampai di halaman terakhir dan melirik promo di halaman tambahan, terlihat dari sinopsis dua novel Astrid terdahulu Sleepaholic Jatuh Cinta dan Suami Sempurna untuk Tatiana, sepertinya ketiga novelnya ini saling terkait. Tatiana-Michael-Tecla-Phillip telah hadir di dua buku tersebut. Tapi, entah mengapa, saya tidak tergerak untuk mencari-membeli-dan-membaca dua novel itu setelah tidak terpuaskan membaca Bella and the Beast ini.

Dari segi karakterisasi, penulis masih mengandalkan kekuatan verbal, menyebut Demetri berotot besar laksana raksasa dengan luka parut mengerikan di wajahnya secara berulang-ulang untuk menggambarkan sosoknya, dan bagi saya ini menjadi kurang menarik. Seharusnya melalui tindakan si tokoh dan perlakuan orang sekitar (bukan omongan), sosok Demetri bisa dihadirkan dengan lebih meyakinkan. Sampai tuntas membaca, saya tidak mendapat kesan bahwa Demetri adalah sosok the Beast dalam novel ini. Hal yang sebaliknya justru terjadi pada karakter Bella. Meski beberapa kali juga disebut menyangkut kepolosan, keluguan, dan kebodohan Bella secara verbal, namun sifat dan perbuatan Bella menguatkan karakternya yang menggemaskan itu.


Menyoal nama Bellatrix, mau tak mau bayangan Bellatrix Lestrange, si antagonis pembunuh Sirius Black dari serial Harry Potter mampir di ingatan saya. Kemudian, ketika mengetahui bahwa Bella di sini adalah sosok protagonis yang banyak menarik simpati, ingatan saya melayang ke tokoh Bella Swan dari Twilight Saga. Yahhh, begitulah saya. Selalu mengait-ngaitkan sesuatu yang mungkin tak ada kaitannya sama sekali. Hahaha.

Dan, membaca novel ini saya serasa entah memijak di negeri mana, meskipun kota-kota semacam Jakarta-Surabaya-Malang-Denpasar disebut berulang-ulang namun nama-nama tokohnya yang super-western semacam Bellatrix, Beatrice, Bibiana, Tatiana, Tecla, Michael, Demetri, Phillip, Peter, Patrick, tak meninggalkan setitik nuansa ketimuran. No big deal sih, secara pada zaman modern seperti sekarang nama-nama bernuansa Barat sudah sedemikian lazim digunakan orang, ini hanya karena saya yang produk lama, yang mendapat nama khas Indonesia dari orangtua, terkadang masih berharap para penulis menamai tokoh-tokoh mereka dengan nuansa Indonesia.

Berikut adalah segambreng typo yang saya temukan:
(hlm. 7) seorang orang cucu = pengulangan kata ‘orang’
(hlm. 9) paragraf keempat seharusnya dibagi menjadi dua paragraf
(hlm. 10) menatap ayah mereka tatapan bingung = ambigu
(hlm. 14) memeriksa siapa menghubunginya = ambigu
(hlm. 15) barang-barang yang dia jatuhkannya = pengulangan kata ganti
(hlm. 16) terpercaya = tepercaya
(hlm. 17) Demitri = Demetri
(hlm. 30) ke sekian kalinya = kesekian
(hlm. 40) menandatangangi = menandatangani
(hlm. 43) tandatangani = tanda tangani
(hlm. 44) tanda tangannya lalu menyodorkannya surat perjanjian = pengulangan kata ganti
(hlm. 48) baru menghentikan gelak tawanya menangkap raut tersinggung = ambigu
(hlm. 50) Bibina = Bibiana
(hlm. 58) menganggu = mengganggu
(hlm. 59) “Seperti apa?” Demetri sambil menolehkan = ambigu
(hlm. 61) keesokkan = keesokan
(hlm. 63) paragraf kedua yang dicetak italic, tidak konsisten, menyebut pernikahan mereka, padahal paragraf itu kata batin Bella yang berbicara
(hlm. 64) ditengah-tengahnya = di tengah-tengahnya
(hlm. 67) Phillip menepuk punggung Demetri lalu merangkul bahu sahabatnya = bukankah Demetri sepupu Phillip?
(hlm. 68) menghubungkan kolam area renang = area kolam renang?
(hlm. 68-69) yang tidak pernah dia bayangkannya = pengulangan kata ganti
(hlm. 69) Lalu wanita berdiri = sebaiknya ‘wanita itu’ berdiri
(hlm. 72) kurang tanda baca ‘titik’ pada paragraf kedua
(hlm. 73) Tinggal Bellatrix beberapa tiga orang perempuan = ambigu
(hlm. 74) mengamit = menggamit
(hlm. 77) kelam malam = kelab malam
(hlm. 82) pertanyan = pertanyaan
(hlm. 83) menandatanganinya tanpa tanpa = pengulangan kata ‘tanpa’
(hlm. 84) harus menelan kecewa karena = seharusnya kata benda ‘kekecewaan’
(hlm. 94) asik = asyik = inkonsisten
(hlm. 96) terlanjur = telanjur
(hlm. 96) pekik Tatiana Tatiana menaikkan = kurang tanda baca ‘titik’ di antara Tatiana dan Tatiana
(hlm. 98) Bellatrik = Bellatrix
(hlm. 104) menganggu = mengganggu
(hlm. 109) supir = sopir = inkonsisten
(hlm. 110) paragraf dua berisi kalimat berbahasa Jerman, perlu penjelasan
(hlm. 111) pernihakan = pernikahan
(hlm. 112) terlanjur = telanjur
(hlm. 115) memandangi Tatiana dan dan = pengulangan kata ‘dan’
(hlm. 116) semua tas sialan ini dan dan istriku = pengulangan kata ‘dan’
(hlm. 119) seseorang wanita tua = seorang
(hlm. 124) Demetri tergelak dan hingga tubuh Bellatrix ikut terguncang = ambigu
(hlm. 114) paragraf ketujuh kurang tanda baca ‘titik’
(hlm. 128) apa yang aku inginkan lakukan = ambigu
(hlm. 131) Tatiana marah hingga merusak malam pertamanya mereka = ambigu
(hlm. 132) ancaman akan akan = pengulangan kata ‘akan’
(hlm. 137) Demetri sudah menariknya lengannya = pengulangan kata ganti
(hlm. 137) mengenggam = menggenggam
(hlm. 141) Tadi kami tadi tergesa-gesa = pengulangan kata ‘tadi’
(hlm. 142) menganggu = mengganggu
(hlm. 142) lengangnya = lengannya
(hlm. 152) masih terdengar bibir keduanya = ambigu
(hlm. 152) menarik dua buah kotak bawah meja = ambigu
(hlm. 153) kearah = ke arah
(hlm. 154) ekpresi = ekspresi
(hlm. 157) menggeleng-gelengkankan = menggeleng-gelengkan
(hlm. 157) pawa = para
(hlm. 159) menganggu = mengganggu
(hlm. 166) Tatiana mengaduknya sup = mengaduk
(hlm. 182) mata coklatnya = mata cokelatnya
(hlm. 183) “Hei, kenapa kita mengabari Cindy tentang ide ini?” = sebaiknya ditambahkan kata ‘tidak’
(hlm. 186) meraba-raba perutnya putri bungsunya = pengulangan kata ganti
(hlm. 189) terbangung = terbangun
(hlm. 192) resiko = risiko
(hlm. 195) terbersit = tebersit
(hlm. 202) mengeliat = menggeliat
(hlm. 206) telalu = terlalu
(hlm. 209) mununjukkan = menunjukkan
(hlm. 215) terangangkat = terangkat
(hlm. 220) ke sekian = kesekian
(hlm. 225) Berapa jam yang lalu = Beberapa jam yang lalu
(hlm. 228) terbersit = tebersit
(hlm. 229) keesokkan = keesokan
(hlm. 233) meyadari = menyadari
(hlm. 233) Bellatirix = Bellatrix
(hlm. 249) di panggil = dipanggil
(hlm. 251) menununjuk = menunjuk
Fiuuuuhhh, gimana, banyak tidak? Saya benar-benar pusing ketika menandai satu demi satu kesalahan teknis cetakan ini. Sayang banget, ya?

Oiya, satu bintang saya persembahkan untuk karakter Bella yang menggemaskan dan satu bintang lagi untuk cover bunga tulipnya. Saya penyuka bunga tulip.


Baiklah, selamat membaca, kawan!

Monday, April 16, 2012

Kuis di Twitter: Siapa Cepat Dia Dapat

30 Hari Kerja, 30 Buku Gratis


Hmm, ide untuk ‘bersih-bersih’ rak buku sudah tercetus sejak sebulan silam. Seringnya pameran dan atau pesta diskon di Jakarta membuat saya terkadang ‘lupa diri’ dan kalap membeli buku apa saja, yang penting fiksi. Tak jarang, saya kecele, buku yang saya ambil ternyata sudah saya beli di pesta diskon yang lain, sehingga yaa... menjadi double lah buku itu.

Ide bersih-bersih rak buku akhirnya saya coba untuk diubah menjadi ide memberikan buku-buku double saya atau buku yang tidak ingin saya koleksi, pada teman-teman saya di twitter. Kenapa twitter? Karena lebih cepat dan real time. Sudah begitu, yang terpilih bisa langsung saya hubungi, saya mention, sampai si terpilih ‘ngeh’ bahwa dia mendapat buku gratis. Saya pernah mengadakan kuis di blog, ternyata sang pemenang tidak meninggalkan jejak dan setelah berbulan-bulan pun hanya beberapa yang memberikan konfirmasi, lalu dari yang memberikan konfirmasi itu, dua di antaranya yang telah saya kirimkan paketnya, malah kembali pos (kempos) katanya alamat tidak diketahui. Capek donk, saya?

Makanya, melalui twitter, saya berharap buku-buku yang ingin saya bagi dengan teman-teman bisa sampai ke tangan masing-masing dan menambah bahan bacaan. Kali ini, saya ingin bagi-bagi beberapa buku, sejumlah 30 judul buku, kepada teman-teman melalui Kuis Siapa Cepat Dia Dapat. Bagaimana caranya dan buku apa saja yang dapat dipilih?

Caranya:
1. Pastikan kamu sudah mem-follow @fiksimetropop untuk menyimak pertanyaan hariannya.
2. Berlangsung mulai Rabu, 18 April 2012, sampai dengan 30 hari kerja ke depan (kuis tidak berlangsung di hari libur/weekend).
3. Hari Senin – Selasa, 16-17 April 2012 adalah masa promo, belum dimulai kuisnya.
4. Satu hari terpilih satu pemenang dengan hadiah buku yang dipilih sendiri dari 30 judul buku yang ada.
5. Cara menjawab: #KuisSCDD1[spasi]Jawaban[spasi]Kode Buku Hadiah.
6. #KuisSCDD1 adalah kode kuis di hari pertama (hari Rabu, 18 April 2012), #KuisSCDD2, #KuisSCDD3, dan seterusnya sampai #KuisSCDD30 (kuis di hari ke-30).
7. Kode Buku Hadiah disesuaikan dengan nomor urut judul buku, ditandai dengan tagar/hashtag #Buku1, #Buku2, #Buku3, dan seterusnya, silakan simak daftar lengkapnya di bawah postingan ini. Seluruh buku berbahasa Indonesia.
8. Pemenang dipilih dari yang tercepat menjawab pertanyaan yang diterima di akun @fiksimetropop.
9. Keputusan admin @fiksimetropop tidak dapat diganggu gugat.

Berikut adalah daftar buku hadiahnya:
Yang masih bisa dipilih:
 

#Buku4 Balada Rosid & Delia by Ben Sohib




#Buku11 33 Pesan Nabi (volume 2) by vbi_djenggotten


#Buku22 The Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd


#Buku27 That Silent Summer by Elaine Medline




Yang sudah tidak dapat dipilih
:
#Buku1 Memory and Destiny by Yunisa KD
#Buku2 Nocturnal by Poppy D. Chusfani
#Buku3 The Year I Turned 16 by Deeptha Khanna
#Buku5 Akhirnya Tertawa Juga by Krisna Purwana
#Buku6 Things I Know About Love by Kate Le Vann
#Buku7 The Magic Fingers by Roald Dahl
#Buku8 Nyonya Besar by Threes Emir
#Buku9 Nayla by Djenar Maesa Ayu
#Buku10 A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Air Teh) by Syahmedi Dean
#Buku12 Fade by Lisa McMann
#Buku13 9 Summers 10 Autumns by Iwan Setyawan
#Buku14 The Truth About Forever by Orizuka

#Buku15 Pertemuan Dua Hati by Nh. Dini
#Buku16 Kekasih Gelap by Sanie B. Kuncoro
#Buku17 Kau by Sylvia L’Namira
#Buku18 Ramadhan K.H. by Kuantar Ke Gerbang
#Buku19 Alpha Wife by Ollie
#Buku20 Gossip Licious by Dianing
#Buku21 Three Weddings and Jane Austen by Prima Santika
#Buku23 The Golem’s Eye by Jonathan Stroud
#Buku24 Runner-Up Girl by Hana Natasha
#Buku25 Kekasih Marionette by Dewi Ria Utari
#Buku26 Yakuza Moon by Shoko Tendo

#Buku28 MelanChocolates by Savira
#Buku29 Once a Princess by Johanna Lindsey
#Buku30 A Very Yuppy Wedding by Ika Natassa

Catatan: tidak semua buku adalah buku baru, sebagian di antaranya adalah buku secondhand (sudah pernah saya baca)



Semoga ada yang berminat.

Friday, April 13, 2012

BBI 1st Giveaway Hop

Blogger Buku Indonesia First Anniversary




Waahhh, tak terasa sudah satu tahun ya sejak terbentuknya Blogger Buku Indonesia (BBI). Saya tak menyimak secara detail bagaimana proses kelahirannya, tapi Bebi ---panggilan sayang para member--- telah tumbuh menjadi sebuah ‘gerakan’ yang menguatkan para blogger buku Indonesia untuk terus bersemangat ber-blogging ria seputar buku dan dunia perbukuan di tengah-tengah ramalan sebagian orang yang menyebutkan bahwa era blog sudah hampir lewat masa keemasannya, digantikan semarak jejaring sosial.


Bagi saya, Bebi melecut semangat saya untuk selalu memutakhirkan blog yang sudah saya daftarkan sebagai member di BBI. Bahwa semangat saya untuk menyebarluaskan buku, secara khusus, dan hobi membaca secara umum, mendapat dukungan tak terhingga, terlebih tak lagi merasa kesepian karena blogger buku Indonesia itu jumlahnya banyaaaaaaakkkkkkk. Semangat terus temannnn!!!

Nah, untuk ikut merayakan first anniversary si Bebi, Metropop Lover bergabung dengan lebih dari 30-an blog lain, silakan lirik di blogbukuindonesia.blogspot.com untuk melihat yang lain, dalam kegiatan BBI 1st Giveaway Hop yang diinisiasi oleh tiga blogger keren ini: Fanda's Historical Fiction, Kumpulan Sinopsis dari Okeyzz dan Dear Readers sebagai host.

Namun demikian, berhubung saya belum banyak berkecimpung di dunia per-giveaway-an modern dengan memanfaatkan fasilitas canggih ala rafflecofter atau google docs, giveaway saya di sini, manual saja. Saya akan memilih siapa teman yang beruntung dengan software The Hat.

Jadi giveaway di Metropop Lover ini akan berlangsung mulai hari ini, Jumat, 13 April 2012, sampai dengan hari Kamis, 26 April 2012. Caranya, buat kamu yang berminat ikutan cukup dengan memberikan tanggapan atas pertanyaan ini: “Apa kesan/pendapatmu ketika membaca adegan merokok/mengonsumsi minuman beralkohol dalam sebuah novel?” langsung di kolom komentar di bawah postingan ini, plus sertakan alamat email yang bisa dihubungi. Tersedia satu eksemplar novel romance terbaru karya Christian Simamora, Good Fight, buat kamu yang beruntung. Terima kasih buat yang ikutan.



Oiya, happy first anniversary ya, Bebi, semoga semakin ‘centil’ dan terus memberi warna-warni yang indah bagi dunia blog buku Indonesia. Amiin.

Terus membaca ya, teman!

Wednesday, April 11, 2012

[Resensi Novel Teenlit] Runner-Up Girl by Hanna Natasha

Ada Apa Dengan Mira? (AADM?)
Rating: 4 out of 5 stars


Pengarang: Hanna Natasha
Pewajah sampul: Yustisea Satyalim
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 168 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: Maret 2012
ISBN: 978-979-22-8129-3

Mira dan Kelly adalah duo sobat karib yang saat ini bersekolah di SMA yang sama. Meskipun demikian, keduanya memiliki karakter dan latar belakang keluarga yang berbeda. Mira adalah gadis tomboi dan anak orang kaya sedangkan Kelly adalah seorang gadis feminin dari keluarga biasa saja. Satu lagi perbedaan mendasar yang selalu menjadi bahan keluhan Mira, yaitu menurutnya mama Kelly lebih penyayang dibanding mama Mira yang penuntut dan perfeksionis. Maka, tak jarang keduanya berandai-andai bertukar tempat.

Suatu ketika, lingkup pertemanan mereka bertambah ramai berkat kehadiran Riku dan Aoi, dua cowok yang menghadirkan aura cinta pada keduanya. Kelly menyukai Riku, Riku menyukai Mira, dan Mira menyukai Aoi. Nah, ribet sepertinya urusannya. Apalagi, langsung atau tidak langsung telah tersulut api persaingan di antara Mira dan Aoi. Belum lagi, jalinan persahabatannya dengan Kelly terancam jurang kebencian, Mira tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kelly seandainya ia menerima ‘tembakan’ Riku.

Silakan disimak romansa cinta monyet keempat sahabat dalam teen lit terbaru karya Hanna Natasha bertajuk Runner-Up Girl ini.

Fiuuuhhh, sekian lamanya saya tak lagi membaca novel-novel teen lit. Saya melewatkan setiap novel teen lit yang terbit setiap bulannya, padahal biasanya saya tetap menyempatkan baca barang satu atau dua buah novel, selain novel teen lit dari pengarang favorit. Di samping memang sebenarnya ingin menuntaskan-baca setiap novel metropop yang terbit, saya juga sudah merasa tidak pada ‘usianya’ untuk membaca novel teen lit, mengingat tak jarang saya keburu men-judge ketika tiba-tiba saya disodori cerita dengan tema yang itu-itu saja, eksekusi konflik yang biasa, karakter yang tidak kuat, plus gaya penulisan yang terlampau childish. Maka, ketika saya menyelesaikan novel ini, dan merasa begitu terhanyut, saya mendecak kagum. Saya suka novel ini.

Runner-Up Girl menyajikan konflik dari empat sahabat yaitu Mira, Kelly, Riku, dan Aoi, namun dengan porsi yang lebih menonjol pada Mira. Ia digambarkan sebagai seorang gadis yang haus akan prestasi namun selalu merasa kurang kasih sayang sang mama yang mengharapkan Mira selalu menjadi juara satu. Dua konflik disematkan padanya. Konflik asmara yang rumit dan konflik yang bersumber pada persaingan di bidang akademis antara Mira dan Aoi. Meskipun masih terdapat beberapa hal yang kurang sentuhan, saya cukup puas dengan konflik yang diciptakan dan solusi yang dipilih untuk mengakhiri konflik itu.

Tentu saja, temanya biasa. Pernik-perniknya pun tak ada yang istimewa. Singkat kata, cukup banyak novel teen lit yang telah terbit dengan tema, konflik, dan karakter yang serupa dengan novel ini. Tak hanya itu, selipan adegan memasak di rumah Aoi langsung menerbangkan ingatan saya pada adegan Cinta yang mengunjungi rumah Rangga setelah Cinta mendapat kabar bahwa Rangga cedera akibat dikeroyok, dan di sana terdapat adegan Cinta yang membantu Rangga memasak hidangan makan malam.


PERSIS! ASTAGAHHH!!! Pada saat itu, saya langsung ‘mutung’ dan berniat memberi dua bintang saja. Tetapi, saya telanjur terenyuh pada banyak bagian novel ini dan terhanyut dalam alur ceritanya, sehingga saya tetap dengan ikhlas memberikan empat bintang. Saya bimbang, hahahaha.

Secara khusus, saya cukup menyukai gaya menulis Hanna. Bahkan, beberapa dialognya cukup bagus dan cerdas dengan selipan sense of humor yang pas. Pada beberapa bagian saya tertawa membacanya. Berikut di antaranya:

Bertingkah konyol ternyata kadang diperlukan untuk membuat rileks pikiran. (hlm. 35)
Sahabat yang baik nggak menjadi beban bagi sahabatnya, tapi menjadi pendukung. (hlm. 41)

Sedangkan, ada satu bagian yang sangat memorable bagi saya. (Hanna, numpang comot yaaa...)

“Tapi, bagaimana cara menembaknya ya?” Kelly garuk-garuk dahi tak jelas.
“Ambil senapan. Taruh moncongnya di dada Riku, kemudian tarik pelatuknya. Gampang, kan?”
“Ah, Miraaaaa!” Kelly kesal. “Aku serius, tauuu!”

Persoalan cetakan, mulus. Hanya ada beberapa typo yang kebetulan saya temukan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

(hlm. 61) Rik = panggilan Riku oleh Kelly, sebelum-sebelumnya dipanggil ‘Ri’ saja, entahlah, saya merasa inkonsisten
(hlm. 112) menganggu-angguk = mengangguk-angguk
(hlm. 154) ?” tanya Riku (kurang tanda baca titik)
(hlm. 156) memafkan = memaafkan
(hlm. 160) ada penyebutan Australia sebagai negara tempat studi Aoi oleh Mira, padahal (seingat saya) tidak ada sama sekali disebut negara tujuan Aoi sebelumnya

Overall saya suka dengan novel ini dan tetap memberikan empat bintang untuknya. Tak lupa, saya akan menunggu novel-novel Hanna berikutnya. Oiya, Hanna ini juga keren deh. Selain menulis, dia juga seorang penyanyi, yang pada Desember 2010 lalu telah menelurkan album Tetap Kupercaya. Oke, tetep produktif ya, Hann!

Selamat membaca, kawan!



Friday, April 6, 2012

[Resensi Novel Amore] Lullaby by Rina Suryakusuma

Ikatan dua bersaudari kembar
Rating: 3 out of 5 star


Judul: Lullaby
Pengarang: Rina Suryakusuma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: November 2011 (cet. 1)
ISBN: 978-979-22-7730-2

Audy dan Rose adalah dua saudari kembar, bungsu dari keluarga Andrew dan Madeline Capelle. Sejak kecil Audy mendapat perlakuan istimewa oleh karena suatu penyakit mematikan yang dideritanya, menyisihkan Rose dari curahan kasih sayang orangtua dan kakak-kakak mereka. Namun demikian, bagi Audy, Rose adalah segalanya. Rose adalah saudari, sahabat, juga belahan jiwanya. Audy berusaha selalu melibatkan Rose dalam setiap episode kehidupannya. Itu juga yang membuat Mardi, kekasih Audy, dirundung gusar mengajak Audy ke tahap hubungan lebih lanjut karena Rose selalu menjadi penghalang.

Tetapi, Audy tak bisa dipersalahkan. Saudara kembar dipercaya memiliki ikatan batin yang teramat kuat dan Audy tak bisa begitu saja mengabaikan Rose. Jika akhirnya ia harus menikah, Rose juga harus menikah. Meskipun, dilihat dari sikap Rose yang tak pernah mau bersosialisasi dan lebih banyak mengurung diri di apartemen mereka, rasanya ajakan Mardi untuk menikah tak akan terjadi dalam waktu dekat. Apa yang harus dilakukan Audy untuk meyakinkan Rose agar mau menjalin hati dengan seorang lelaki?

Satu pertanyaan besar yang harus ditemukan jawabannya di novel ini: apakah ini nyata atau sekadar imajinasi?

Saya selalu suka dengan diksi yang diracik Rina Suryakusuma. Dalam dan menyenangkan. Bgai saya, diksi menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan kenikmatan membaca suatu karya tulis, plus konsistensinya. Saya paling sebal jika di awal-awal tulisan diksi-nya konsisten menggunakan kata tidak/tak tiba-tiba di tengah-tengah muncul kata “nggak” yang tidak memiliki maksud dan tujuan lain. Itu, saya kategorikan fatal. Inkonsisten.

Berikut beberapa bagian kalimat yang saya suka:
Bagaimana cara kamu bilang pada matahari supaya dia jangan terbit lagi? Bagaimana cara kau bilang pada orang yang mencintaimu sepenuh hati, supaya tidak usah kuatir lagi padamu? (hlm. 22)

Tawa adalah obat paling manjur untuk kesedihan. Cinta yang tulus ialah terapi paling sempurna untuk semua sakit dan duka yang ia rasakan. (hlm. 118)

Premis novel ini adalah kekuatan terbesarnya. Jika kamu seperti saya yang gampang tertipu, kamu pasti akan mendesah “OMIGOD!” ketika penulis menyajikan twist yang begitu mengejutkan di tengah hingga menjelang akhir. Saya sampai memaki diri sendiri yang tak bisa menebak plot dari sejak mula. Saya baru menemukan clue-nya hampir di pertengahan novel (halaman 165, tepatnya). Astagahh! Dua jempol buat Rina yang berhasil menghadirkan twist ini.

Sayangnya saya tak bisa menikmati gaya ‘feodal’ yang dipilih Rina untuk menghadirkan tokoh-tokohnya dengan terlampau seringnya penyebutan nama lengkap mereka. Saya kurang begitu terhubung. Ada jarak yang tercipta antara saya dan aktor-aktrisnya. Seolah-olah saya duduk di kursi terbawah pada sebuah pertunjukan di panggung setinggi tiga meter. Saya melihat tapi tidak terlibat. Hal itulah yang menghalangi saya dari terhanyut kisah ini.

Selain itu, cerita hanya disokong kisah Audy seorang. Tak banyak subplot yang dihadirkan untuk mendukung kisah bersaudari kembar ini sehingga ada saat-saat saya ingin menaruh novel ini begitu saja dan beralih membaca yang lain. Andai saja penulis memberikan tikungan-tikungan pada jalan cerita ini, saya yakin guncangan twist-nya akan lebih terasa.

Untuk departemen cetakan, berikut beberapa temuan typo yang saya dapat:
(hlm. 18) kekanak-kanakkan = kekanak-kanakan
(hlm. 20) beraktifitas = beraktivitas
(hlm. 28) La Grande = Le Grande = inkonsisten
(hlm. 33) Karena = karena (huruf K harusnya tidak kapital)
(hlm. 34) pertunjukkan = pertunjukan
(hlm. 72) Arman = Armant
(hlm. 77) Tenggorakan = Tenggorokan
(hlm. 78) bidak = biduk
(hlm. 80, 220) praktek = praktik
(hlm. 94) dr = Dr = Dokter = inkonsisten
(hlm. 125) ...di antara keluarganya, dan Rose Tapi Audy sadar,... (ambigu)
(hlm. 149) “Jam setengah tiga subuh.... (hanya terasa tidak pas penggunaannya, hampir tak pernah waktu subuh jatuh pada jam kurang dari pukul tiga pagi, di zona waktu mana pun, di Indonesia)
(hlm. 220) klat = kilat

Oh, dan ini sepertinya sudah menjadi ciri khas seorang Rina, lebih memilih menggunakan kata ‘kuatir’ dibanding ‘khawatir’, jadi ya, sudah, saya sih tetap menyarankan menggunakan kata yang dianggap baku di kamus yaitu ‘khawatir’.

But, overall, saya tetap menyukai membaca novel ini. Sebuah pengalaman mengejutkan yang menyenangkan. Tiga bintang untuk twist-nya.


Selamat membaca, kawan!

Thursday, March 29, 2012

[Resensi Novel Young Adult] Pretty Little Liars by Sara Shepard

Sssst... can you keep a secret?
Rating: 3,5 out of 5 star
Read from 17 to 18 March, 2012


Judul: Pretty Little Liars (Para Pendusta Cantik)
Pengarang: Sara Shepard
Penerjemah: Linda Boentaram
Pemeriksa aksara: Natasya Ayu
Pewajah sampul: ABC Family
Pewajah isi: Husni Kamal
Penerbit: Ufuk
Tebal: 378 hlm
Harga: Rp44.900 (disc. 40%)
Rilis: Desember 2011 (cet. 1)
ISBN: 978-602-9159-92-9

Alison DiLaurentis, Aria Montgomery, Hanna Marin, Spencer Hastings, dan Emily Fields, adalah satu genk cewek-cewek cantik yang cukup disegani di SMP Rosewood Day, hingga suatu peristiwa membuat Alison menghilang dan anggota genk yang tersisa tercerai berai. Pada tahun ketiga setelah hilangnya Alison secara misterius, keempat gadis telah memasuki masa-masa SMA dengan segala pernik masalah kehidupan masing-masing.

Aria baru saja kembali dari Islandia untuk kemudian bertemu seorang cowok yang begitu disukainya sebelum ia tahu bahwa seharusnya ia tak boleh berhubungan dengan cowok itu. Hanna yang dulu gemuk dan minderan kini bertransformasi menjadi gadis cantik dan populer di SMA. Spencer adalah si kutu buku yang berusaha lepas dari bayang-bayang kakaknya untuk bisa tampil sebagai bintang di keluarganya. Dan Emily, sang anggota tim renang sekolah, berusaha mati-matian menemukan jati dirinya yang berbeda dari cewek kebanyakan. Lalu, datanglah semua SMS dan e-mail dari seseorang berinisial A pada masing-masing mereka, yang membuat mereka ketakutan, yang akhirnya merekatkan kembali hubungan pertemanan mereka demi melacak siapa sebenarnya si A yang tahu rahasia-rahasia yang mereka simpan.

Apakah mereka berhasil melacak dan menemukan si A misterius yang meneror hidup mereka itu? Simak pernik kehidupan Aria, Hanna, Spencer, dan Emily yang dipenuhi rahasia dalam novel pertama dari serial bestseller Pretty Little Liars karya Sara Shepard ini.


Saya terlebih dahulu terhanyut pada kisah ini justru dari menonton serial TV-nya yang ditayangkan oleh ABC. Alloy Entertainment yang memproduksi serial tersebut menyebutkan bahwa ide awalnya adalah ingin membuat serial “Desperate Housewives for teen.” Dan, bagi kalian yang pernah (suka) menonton Desperate Housewives sepertinya juga bakal mudah jatuh suka pada serial ini mengingat di awal ceritanya bisa dibilang “sangat” mirip. Lima orang perempuan, satu di antaranya bunuh diri (Desperate Housewives) atau menghilang (Pretty Little Liars), lalu satu demi satu rahasia terbongkar. Saya langsung suka!

As usual, kalau sudah terlebih dahulu menikmati versi filmnya, saya menjadi begitu mudah tergiring ketika membaca novelnya dan mulai mencari-cari mana bagian-bagian dalam novel yang berbeda dengan versi filmnya. Dan, untuk Pretty Little Liars ini cukup banyak perbedaan yang saya temukan pada kedua versinya. Beberapa perbedaan tersebut memang mengurangi kenikmatan membaca, misalnya jika di serial TV-nya Emily adalah anak tunggal, di novel ia memiliki dua orang kakak, namun no biggie lah. Saya tetap berusaha menikmati menuntaskan-baca novel ini.

Jujur, saya kesulitan membaca bagian awal dari versi terjemahan ini padahal ketika mengintip versi aslinya, sebenarnya cukup mudah dibaca, entah mengapa ketika diterjemahkan saya justru mengalami kesulitan mencerna kalimat per kalimatnya. Untunglah, setelah bagian awal itu, bab-bab selanjutnya mulai mudah saya baca, meskipun terkadang masih ada beberapa hal yang membuat saya mengernyit tak paham. Mungkin juga, saya terbantu dari pengalaman saya menonton versi serial TV-nya karena kalau pun saya sulit mencerna kalimat-kalimatnya, saya sudah paham ke mana tujuan adegan itu.

Dari segi karakter, saya suka rekaan Sara Shepard ini karena tiap karakternya dilengkapi dengan subplot yang kaya, dan karena novel ini sudah dideklarasikan untuk menjadi serial sehingga subplot yang banyak itu tidak membuat cerita utama menjadi terlupakan. Misalnya tokoh Aria yang harus mati-matian menjaga rahasia gelap sang ayah demi keutuhan keluarganya, juga tak lepas dari permasalahan lain seperti depresi, cinta terlarang dengan cowok di sekolahnya, dan sebagainya.

Rasa penasaran yang terbangun memang memiliki sensasi yang berbeda ketika membaca dan menonton filmnya. Pada versi novelnya, intensitas unsur misterinya dijaga hingga akhir halaman dengan baru mempertemukan keempat sahabat yang frustrasi menerima sms/e-mail dari seseorang yang berinisial A itu di bagian belakang, sedangkan di versi serial TV-nya keempat sahabat ini diceritakan sudah kembali saling bertegur sapa sejak dari episode awal (season 1: 22 episode). Jadi, ketika membaca novel ini saya tak henti-hentinya berdecak dan membatin (kepada para tokohnya), “Ayo Aria, curhat aja sama Emily, Hanna, atau Spencer, dia juga dapet kok sms-nya itu.” Saya sinting! Hahaha.

Terlepas dari gaya penerjemahan yang tidak begitu nyaman, saya tetap menyukai novel ini. Tentu saja, terima kasih kepada pembuat serial TV-nya yang menarik minat saya untuk membaca novel ini.

Selamat membaca, kawan!


promo Pretty Little Liars Season 1 (2010)


promo Pretty Little Liars Season 3 (2012)

Monday, March 12, 2012

[Book Event] Islamic Book Fair 2012

Apa deh saya ini. Sudah tahu sedang krisis finansial akibat gak kira-kira ngabisin duit di Kompas Gramedia Fair 2012 minggu lalu, lha kok masih nekat maen-maen ke pameran buku lagi. Meskipun sudah mengucap janji di bibir, I won't buy anything, nggak mungkin banget ke pameran buku tanpa mencomot satu buku pun. Dan, emank kebukti, ketika saya benar-benar nekat datang ke Islamic Book Fair 2012 malam ini, setidaknya tiga buku berpotongan harga 40% di stan Ufuk Publishing House membuktikan bahwa janji manis di bibir saya akan dengan mudah terkikis keinginan untuk mencomotnya. *sigh*


Tapiiii.... saya sudah mengincar novel Pretty Little Liar ini sejak lama, sejak kali pertama saya menonton serial TV-nya, dan sejak kali pertama saya melihat terjemahan Ufuk nongol di toko buku Trimedia Ambasador akhir tahun lalu, kalau tidak salah. Jadi... ya sudahlah.


Eh, termasuk komik Hadis 33 Pesan Nabi: Vol.2 (Rp18.000) karya vbi_djenggotten yang ternyata saya suka, hehehe. Ini sekuel dari komik sebelumnya. Meskipun saya tak sampai terpingkal-pingkal, namun komik karya komikus yang sebelumnya menelurkan komik populer Married with Brondong ini cukup menyentil juga sisi agamis saya. Dan, satu lagi, novel terjemahan baru dari Ufuk berjudul The Mysterious Howling (Rp30.000) yang dari sinopsisnya sepertinya seru, #semoga.

Nah, buat yang kepengin mampir ke Islamic Book Fair 2012, silakan, masih sampai dengan tanggal 18 Maret 2012 nanti kok.

Wahhhhh, Qanita nerbitin Mansfield Park, awwwwwww, semoga saja keenam buku populer Jane Austen diterbitin semua yaaaa... tapi saya belinya nanti saja...:)

Numbers karya Rachel Ward itu sepertinya seru juga deh, dari sinopsisnya pengen saya comot juga, untung bisa nahan diri, #bersyukur.

Nah, buat yang nyari terjemahan novel-novel Jepang karya Eiji Yoshikawa, silakan mampir saja ke stan Penerbit Serambi ini, itu yang terbaru pun sudah tersedia di situ, tapi saya tak bertanya kena diskon berapa di situ, biasanya sih 20%.

Kalau yang ini, buat yang maish nyari bukunya mbak Matatita yang Tales from the Road dan Death to Come-nya Tyas Palar, ada tuh stoknya di stan buku obral Mizan, cuman Rp10.000 saja...;(

Friday, March 9, 2012

[Resensi Novel Chicklit] Goodnight Tweetheart by Teresa Medeiros

Hai, tweetheart, apa kabarmu hari ini?
Rating: 4 out of 5 star


Judul: Goodnight Tweetheart
Penulis: Teresa Medeiros
Penerjemah: Siska Yuanita
Pewajah sampul: eMTe
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp
Rilis: Desember 2011
ISBN: 978-979-22-7837-8

Yono: Kau pakai baju apa?
Yuli: Sweater bernoda kopi dan syal Hermes Miranda Priestly di THE DEVIL WEARS PRADA. Kau?
Yono: Jaket kulit hitam mengilat dan topi kain Lyckety-Splyt di 8 MILE.
Yuli: Ahh, manis sekali. Seharusnya tambahkan gelang berduri di pergelanganmu dan tindikan peniti di telingamu.
Yono: Itu rocker, aku ini rapper. Jadi, apa kabar tulisanmu hari ini?
Yuli: Masih belum beranjak dari adegan bercinta di kolam renang yang kuceritakan terakhir kali kita nge-tweet
Yono: Oh, adegan panas itu. Apa kau perlu kipas?
Yuli: Tak perlu, adegan itu di kolam renang, pasti akan dingin sendiri.
Yono: Goodnight, Cinta
Yuli: Goodnight, Rangga
Yono: Goodnight, Mili
Yuli: Goodnight, Mamet
Yono: Goodnight, tweetheart...


Mencoba hal baru, that’s not my style. Ketika facebook baru saja muncul, saya itu belum lama punya akun friendster. Berhubung teman-teman saya banyak yang pindah ke facebook, maka saya pun ‘terpaksa’ ikut arus dan bergabung di situs jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg tersebut. Saat itu, saya masih naif juga, mencoba mencari akun facebook artis Hollywood untuk bisa saya ajak friend, ternyata sulit sekali mencarinya. Lalu, saya meminta bantuan google, dan justru diteruskan ke alamat si artis di My Space dan Twitter. Setelah dilihat-lihat, cukup banyak artis yang join di Twitter dan setahu saya saat itu Twitter masih kalah pamor dibanding facebook di Indonesia. Saya membuat akun twitter hanya untuk mem-follow akun artis Hollywood favorit (pertama kali follow Britney Spears...;) tapi, belakangan saya ikut menikmati Twitter (bergantian dengan goodreads.com, tentu saja).

Membaca goodnight tweetheart sungguh menyenangkan. Kocak. Berkat kepiawaian Teresa menghadirkan dialog-dialog cerdas nan lucu (tak jarang menjurus vulgar) mau tak mau membuat saya tertawa. Hal lain yang memukau saya adalah bagaimana dalam novel yang tidak terlalu tebal ini, penulis mampu menciptakan karakter dengan sub-plot yang banyak tapi tetap hidup. Twist pada cerita dan ending yang manis menjadikan novel ini sungguh sayang jika dilewatkan.


Dan, tweet-versation mereka berdua benar-benar menggemaskan. Selalu diawali dengan pertanyaan, “Kau pakai baju apa?” dan kerap diakhiri dengan saling mengucapkan salam perpisahan dengan memanggil tokoh/karakter dalam film-film yang mereka tonton di mana Mark selalu menulis “Goodnight tweetheart” yang tak pernah dibalas oleh Abby karena speechless. Abby Donovan merupakan seorang penulis debutan yang karya perdananya terpilih dalam Oprah’s Book Club dan sedang menggarap novel kedua namun terkendala writer’s block sehingga ia berada pada titik kritis kehidupannya. Sementara Mark Baynard adalah seorang dosen sastra berstatus duda-anak-satu yang mengaku sedang cuti panjang dan berlibur ke beberapa negara di Eropa.

Tapi, semua akan menjadi datar dan biasa-biasa saja, jika hanya berisi tweet-versation biasa yang kadang diwarnai flirting-flirting seksi itu saja. Untunglah, Teresa tahu bahwa cerita ini harus dikemas dengan sub-plot yang mendukung. Di sekeliling Abby ada ibunya yang sedang dirawat di pusat rehabilitasi akibat penyakit disorder yang dideritanya, lalu ada Margo sang sahabat setia, serta konfliknya sendiri menyangkut stagnansi penulisan dan hubungannya dengan agen-publisisnya. Dikarenakan PoV yang digunakan penulis lebih menyorot Abby, maka Mark yang menjadi teman twitter Abby di seberang hanya dapat teraba karakternya melalui percakapan mereka. Menjelang ending, baru terlihat beberapa adegan yang melibatkan Mark dan keluarganya.


What can I say, novel ini produk impor, jadi ketika beberapa kata vulgar terselip di sana-sini, yah, mau bagaimana lagi. Saya tetap terganggu, namun menurut saya, siapa pun pembacanya pasti akan mudah terikat kepada ceritanya ketika membaca novel ini, karena akan sibuk mencoba menebak-nebak...uhmm, “Karakter di film apa sih yang sedang mereka bicarakan ini?” atau beberapa serial Amerika masa kini yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Saya menikmatinya. Dan, 4 bintang saya berikan untuk novel ini. Semoga ada novel karya Teresa lain yang dapat diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia.


Selamat membaca kawan!

Saturday, March 3, 2012

[Tambahan Koleksi] Pameran Buku, Belanja Buku

Yah, sudahlah. terima nasib saja, hehehe. Memang sudah jadi penyakit ini sifat menimbun buku yang membuat saya menjadi #PenimbunBuku sejati. Koleksi nambah terus, tapi dibaca belum tentu. Hadehhh, saya harus segera mencari cara untuk membentengi diri agar tidak terus-terusan belanja buku. Saya jadi ngeri ngebayangin gimana kalau seandainya saya dimutasi ke tempat tugas baru. #ketibankulkas

Tapi ya, sudahlah (lagi). Anggap saja ini adalah investasi buat saya berkegiatan di masa pensiun di kala tua nanti. Saya bisa membuka Taman Bacaan atau Perpustakaan gratis buat para tetangga nantinya. Aminnn.

Oke lah, ini beberapa tambahan koleksi yang saya dapat dari kunjungan ke Kompas Gramedia Fair 2012 malam ini:

Romance


Fantasy


Kids


Mari membaca, kawan

Thursday, March 1, 2012

[Ada Diskon] Kompas Gramedia Fair 2012

Diskooooooooooooooooooooooooooonaaaannn.... Kompas-Gramedia nih bisa aja ya kalo bikin event itu pas waktunya. Buat karyawan swasta yang tanggal gajiannya jatuh tanggal 25, berarti saldo sudah menggembung donk, ya? Yang jadi pegawai negeri atau TNI/POLRI atau karyawan swasta lain yang tanggal gajian jatuh pada tanggal 1 juga begitu, rekening sudah menggemuk. Maka, daya tarik pameran buku ini terimbangi dengan kemampuan berbelanja yang tecermin dari ketersediaan anggaran/dana bagi masing-masing orang. :)


Nah, bagi kalian yang suka novel metropop, saya sih menganjurkan silakan mengunjungi event Kompas Gramedia Fair 2012 ini karena diskon normalnya saja 25% + 10% (jika menggunakan CC BCA atau Flazz) sudah pasti bikin ngiler. Buku obralan juga banyak yang oke punya, khususnya buku impor obralan, cihuyy banget deh. Bayangin saja, novel hardcover yang di toko-toko buku berharga 250-an ribu, di situ hanya 25 ribu, siapa yang bisa nolak?

Ini beberapa contoh buku obralan yang saya comot kemarin:




...dan beberapa lagi yang lainnya. Seru deh, pokoknya!