Saturday, November 21, 2009

Resensi Novel Chicklit: Dahlian & Gielda Lafita - Baby Proposal (Karena Cinta Tak Membutuhkan Alasan)

Romantis??? Ah, berlebihan!



Judul: Baby Proposal
Pengarang: Dahlian & Gielda Lafita
Penerbit: Gagas Media
Genre: Romance-Comedy, Chicklit
Tebal: 332 halaman
Harga (Toko): Rp37.500
Rilis: Nopember 2009 (cet. 1)

Terpaksa saya harus menyatakan bahwa hampir seperempat bagian awal (dan masih terdapat pada beberapa bagian lain di sepanjang plot) novel ini berkutat pada umbaran hawa nafsu para tokohnya semata. Bagaimana tidak, setelah bercerita soal proses one-night stand yang berujung hamilnya si aktris utama (jadi ingat film Knocked Up!), penulis (dua orang!) justru melulu menggambarkan bagaimana gelenyar-gelenyar nafsu aktor-aktrisnya ketika mereka bertemu, saling memandang, berdekatan, dan sebagainya. Parahnya, itu diceritakan dalam berbagai situasi. Dalam berbagai kesempatan.

Bukannya wajar??? Wajar-wajar saja sebenarnya. Dua puluh persen dari penilaian saya mengarahkan saya untuk maklum. Keyakinan saya itu dilandasi kesadaran bahwa kedua tokoh baru bertemu dan berkenalan. Penulis menekankan bahwa kedekatan keduanya tidak melibatkan hati (perasaan). Penulis juga dengan semangat sekali mendeskripsikan bagaimana pergulatan batin kedua tokoh yang terjebak dalam situasi ‘terlarang’ itu. Perang batin inilah yang lambat laun melembutkan keduanya. Menerbitkan binar kasih, sayang, hingga cinta pada hati masing-masing. Tak ayal, dalam setiap kesempatan keduanya saling melempar kekaguman perasaan. Namun, sayang sekali, penulis hanya mengumbar kekaguman mereka dari kesempurnaan fisik belaka. Betapa tampannya si aktor, blablablabla….betapa keindahan bibir si aktris dan blablablabla….. mungkin untuk sekali-dua tidak masalah. Semua jadi nggak asyik ketika hal tersebut diulas lagi, lagi, dan lagi. Bosan!

Sebenarnya, gaya mendongeng kedua penulis, yang cukup nge-blend (saya tidak bisa menduga mana yang adalah tulisan Dahlian dan mana yang tulisan Gielda, saya memang belum mengenal karakter tulisan masing-masing karena tidak pernah membaca karya solo mereka), cukup bisa mengalirkan kisah novel ini. Diksinya pas, meskipun sebagian besar isinya sebagaimana yang saya sebutkan tadi. Luapan
berahi syahwat. Emosinya terasa dan teraba. Adegan per adegannya cukup hidup. Lancar sekali alur ceritanya.

Hmm, saya agak malas membahas tema, karena dari waktu ke waktu tidak ada lagi tema baru yang diangkat oleh para penulis. Termasuk dalam novel ini. Hamil di luar nikah. Perkawinan yang dipaksakan. Benci lalu cinta. Orang ketiga yang adalah cinta masa lalu. Duh! Saya sih akhirnya hanya bisa berlapang dada saja mengingat saya sendiri juga tidak tahu tema langka apa lagi yang bisa diangkat dan terlihat orisinil. Oleh karena itu, saya tidak akan membahas soal tema novel ini.

Kalau temanya sudah, katakanlah, basi maka saya berharap penulis bisa mengolahnya menjadi tampak baru dan segar. Dan, syukurlah, kedua penulis berhasil mengemas tema oldies itu menjadi tidak membosankan. Yeah, setidaknya saya akhirnya selesai juga membacanya hingga tuntas.

Catatan saya yang lain adalah sebuah pertanyaan yaitu, “apakah sekarang ini hampir seluruh perempuan Indonesia sudah tersihir drama seri Korea?” Oh, GOD! Rasanya sudah banyak penulis yang “mimpi” bercerita soal Korea (ingat Summer in Seoul-nya Ilana Tan atau Marrying AIDS-nya Lia Andria? Atau juga My Seoul Escape-nya Sophie Febriyanti). Baby Proposal ini memang tidak bercerita soal Korea atau tokohnya yang tergila-gila seri Korea, namun mengapa adegan menjelang klimaksnya justru mengingatkan saya pada seri Hotelier???. Maka, makin tak orisinil-lah novel ini. Belum lagi segala rupa keromantisan yang coba ditampilkan kedua penulis malah membuat saya agak muak. Yikes! Lebay, banget… this is so 2009 not 199whatever… apa gua yang nggak romantis, ya???? Tapi sumpah, gua bilang romantisnya berlebihan!!!

Pada akhirnya, impresi saya tertuju pada kolaborasi yang cukup nge-blend dari dua penulis ini. Saya berharap, jika nanti masih ingin membuat lagi karya duet, kedua penulis bisa mengangkat tema yang tak biasa, dan kalau bisa, segala menye-menye (yang dimaksudkan untuk romantis) agak dikurangi. Hey, don’t judge, this book is for women! Mungkin saja buku ini memang dimaksudkan untuk perempuan (kalau memang iya, mending dilabeli saja sekalian, for women only), tapi tidakkah seorang penulis bangga jikalau bukunya tidak hanya “dikotakkan” pada satu kategori saja?? Apakah penulis tidak bangga jika bukunya bisa diterima semua golongan?? Bukankah semakin luas pembaca, tiras buku yang terjual juga semakin banyak?? Kalau tidak bangga, ya…berarti saya memang salah pilih bacaan.

Okey, selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)
Seandainya ini mimpi buruk,
Karina ingin cepat-cepat bangun
dan tak ingin mengingatnya lagi....

Tapi kenyataan memilih berlaku kejam kepadanya. Dua garis di testpack yang kini berada di tangannya adalah jawaban tegas: Karina hamil. Dan satu-satunya yang terpikirkan adalah mencari bapak anak ini dan meminta pertanggungjawaban.

Karina tidak berharap dinikahi Daniel. Dia ingin laki-laki itu mengurusinya selama masa kehamilan. Dengan senang hati, dia menyerahkan bayi itu ke tangan Daniel-sesederhana itu.

Namun, berada bersama Daniel membuatnya melihat laki-laki itu dari sisi lain. Sisi lembut dan penuh perlindungan. Sisi yang membuat dadanya berdesir. Perasaan yang mengenalkan Karina pada... cinta. Mungkinkah ini pertanda mimpi buruknya kelak akan berakhir bahagia?

Friday, November 20, 2009

Resensi Novel Islami: Ifa Avianty - Jodoh Dari Surga

Ribetnya menyadari cinta



Judul: Jodoh dari Surga
Pengarang: Ifa Avianty
Penerbit: QultumMedia
Genre: Romance-Comedy, Islamic Novel
Tebal: vi+138 halaman
Harga (Toko): Rp17.500
Rilis: 2007 (Cetakan Kedua)

Catatan: Novel ini udah gua baca lamaaaaaaaaa banget, tapi kelupaan belum di-share resensinya. Nah, sambil nunggu beberapa buku gua tulis review-nya, kayaknya ga ada salahnya gua upload yang ini dulu. Secara, masih demam Facebook on Love-nya Ifa, qiqiqiqiqiqi…

Saya lupa apa yang mendorong saya untuk membeli novel ‘tipis’ ini. Mungkin harganya yang ‘murah-banget’ menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keputusan saya. Tapi, paling tidak satu yang saya ingat, gaya bahasa Ifa memang memikat saya dari awal saya meng’observasi’ novel ini sebelum deal dengan kasir dan membayarnya.

Untuk ukuran sebuah novel berlabel Islamic Novel, novel ini cukup ciamik dalam hal tata bahasa, sesuai dengan selera saya. Tidak terlalu membingungkan, mengalun sempurna dalam modernisasi kota besar, meskipun membuatnya menjadi terlalu ‘dangkal’ tergabung dalam lingkup novel bertema Islam. Ciri Islam hanya ditempelkan pada cerita tokohnya yang sering digambarkan salih-salihat, pintar mengaji, atau lontaran salam pada setiap kesempatan, plus aksesoris ‘kerudung’ dan jilbab pada tokoh wanitanya. Bisa bayangin nggak seorang cewek berjilbab, terus maen piano dalam sebuah resital piano akbar? Gue nggak bisa nih.

Cerita yang dibangun Ifa sebenarnya sangat menarik karena dibuat dengan tumpukan konflik yang bergulung-gulung bak benang kusut yang susah diuraikan. Hidup serasa berwarna dengan ragam masalah pelik yang menghampiri tiap-tiap tokohnya. Dari mulai perjodohan yang terpaksa hingga isu poligami. Namun, daya tahan saya untuk menerima gunungan konflik ini ternyata tidak terlalu bagus. Saya malah mati bosan di tengah masalah-masalahnya. Kisah tragis salah satu karakter kuncinya pun tak mampu membangkitkan rasa iba yang biasanya gampang sekali hadir dalam setiap kesempatan saya membaca novel dengan tokoh kunci hidup bergelimang sengsara. Waktu baca Bidadari-bidadari Surganya tere-liye aja gue nangis bombay hampir sampai akhir novel. Huhuhuhuhu....

Keribetan yang diciptakan Ifa nyatanya gampang sekali terurai di hampir pengujung novel, yang membuat saya mengerenyit heran. Mengapa masalahnya jadi mudah sekali ya? Mungkin kendala sedikitnya halaman membuat jalan cerita tidak dibuat dengan ending yang memadai dan terkesan dipaksakan untuk selesai. Keinginan penulis untuk mengakhiri segalanya dengan emosional justru terasa mengada-ada, menurut saya. Yah, cuman gini doank? sungut saya.

Kelemahan lain yang menyertai novel ini adalah point of view karakter yang digunakan sedikit kedodoran. Sudut pandang orang pertama ‘aku’ sedianya dihadirkan dengan independensi tiap tokohnya, seluruh tokoh menggunakan kata ganti orang pertama. Saya memang pengagum cerita dengan ciri khas begitu tetapi khusus untuk novel Ifa ini, penggunaan kata ganti orang pertama untuk hampir seluruh tokohnya malah membuat plot menjadi berantakan. Bahkan yang sangat saya sesalkan adalah tokoh ‘pinggiran’ yang sebelumnya tidak punya peran besar tiba-tiba ikut ‘berbincang’ dan mengambil porsi dalam jalinan cerita. Hal tersebut, menurut saya, kurang bagus dan sedikit ‘menghancurkan’ cerita yang telah dibangun sebelumnya. Kekurangan lain yang agak terlihat nyata adalah penggunaan kata ganti orang pertama ini cenderung lemah karena antara satu karakter dengan karakter lain ‘terasa’ sama saja. Tidak teraba perbedaan pada masing-masing tokoh. Nggak mungkin kan semua orang sama?

Yeah, maaf kalau saya sepertinya jago ‘kritik’ sekali, padahal membuat cerita sendiri saja saya tidak bisa. Namun, rasanya saya punya hak, karena saya toh sebagai pembaca memiliki kesempatan untuk berkomentar atas setiap karya yang saya ‘beli’ kan? But, like I said before, saya suka gaya bahasa yang digunakan Ifa. Chic. Simple. And, lovely.

Berikut secuplik dari novel ini, disajikan pratinjau terbatas oleh books.google.
Klik di sini.

Thursday, November 12, 2009

Resensi Novel Chicklit: Ifa Avianty - Facebook on Love

Latah popularitas fesbuk!



Judul: Facebook on Love
Pengarang: Ifa Avianty
Penerbit: PT Lingkar Pena Kreativa
Genre: Romance-Comedy, Chicklit
Tebal: 274 halaman
Harga (Toko): Rp48.000
Rilis: Juli 2009 (cet. 1)

Yeah, awalnya benci lalu jadi suka. Kalimat tersebut bisa menggambarkan dua hal sekaligus selepas saya selesai membaca karya kesekian dari Ifa Avianti, novelis produktif yang aktif dalam komunitas Forum Lingkar Pena ini, yaitu novel urban modern bertajuk Facebook on Love. Pertama, bila dirangkum dalam satu kalimat, setidaknya sebagian besar isi dari novel berlatar belakang situs komunitas yang sedang populer saat-saat sekarang ini, facebook, bisa diwakili oleh kalimat tersebut. Kedua, perasaan saya juga secara (hampir) tepat dapat digambarkan dengan kalimat tersebut begitu mencapai lembar terakhir novel fiksi terbitan Forum Lingkar Pena Publishing House ini.

Awalnya, saya memang tidak terlalu antusias mengikuti alur yang diciptakan Ifa ini, termasuk gaya “mendongeng”nya. Scene pembukanya pun agak canggung, menurut pendapat pribadi saya. Dua orang yang hanya berhubungan lewat dunia maya bisa berseteru sebegitu dramatisnya??? Hmm…agak-agak lebay, ya…. Pun, kemudian saya menjadi teringat dengan adegan pembuka yang hampir mirip dengan novel favorit saya karya Wiwien Wintarto berjudul Say No To Love. Chaos hari pertama kerja dan posisi bos yang pewaris perusahaan dan baru menjabat sudah cukup bagi saya untuk mendesah….yah, nggak bisa pake adegan ama suasana laen yakk???

Untunglah saya tak lantas mutung. Saya mencoba dan mencoba untuk terus mencari titik-titik penyejuk yang memungkinkan saya untuk setidaknya betah hingga lembar halaman pamungkasnya. Kapan saya kemudian menemukan alasan yang tepat untuk menyukai novel ini, saya sendiri tak sadar. Mendadak saja saya sudah tekun membolak-balik halamannya. Dan, tak terasa halaman terakhir juga selesai saya baca. Hmm…

Pada bagian pengantar Ifa menuturkan bahwa dia sebenarnya mendambakan novelnya ini dibuat dengan format settingan facebook secara full. Namun, sulit katanya. Saya sendiri mafhum. Karena tampilan model begitu pasti agak susah memberikan ketepatan detail karena bahasa yang digunakan cenderung bahasa percakapan yang sudah pasti mempersempit ruang improvisasi. Belum lagi, jika sentuhannya kurang halus, maka akan jatuh pada sebuah tulisan yang membosankan.

Soal penyajian facebook-nya sendiri menurut saya agak-agak “kurang-nyata”. Saya sih lupa, apakah tokoh Dea dan Fadli (aktor utama dalam novel ini) disebutkan jumlah friend yang terdaftar dalam friendlist akun mereka. Hanya kurang logis saja menurut saya jika selama update status masing-masing (yang selalu berbalasan) tidak ada satu pun friend yang bukan dari kantor mereka yang memberikan komentar. Ini menjadikan adegan percakapan dalam tampilan facebook kurang real. Tidak hidup. Paling tidak kalau ditampilkan satu-dua nama friend yang bukan dari tokoh yang turut diceritakan dalam novel, tampilan facebook-nya saya pikir akan lebih “nyata”.

Saya adalah orang yang cenderung mudah percaya dengan sesuatu, bahkan cerita fiksi dalam novel/drama sekalipun. Begitu juga ketika membaca novel ini. Rasanya tak henti benak saya memproduksi beragam kalimat tanya menyangkut beberapa hal yang mengharapkan jawaban berupa fakta (yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan nyata). Semisal, apa benar kalau kita menemukan bayi terus tanpa mengurus dokumen apapun sudah langsung bisa mengakui anak itu sebagai anak kita yang sah?

Overall, saya suka dengan novel ini. Ditegaskan, suka banget! Apalagi dengan beberapa surprise yang disiapkan Ifa dalam waktu-waktu yang tidak terduga. Termasuk ketika menjelang ending. Klimaks novel ini benar-benar dramatis. Dan, mengharukan. Salut!

Selamat membaca!

Betewe, Facebook on Love kalo di-Indonesia-in jadi apa sih? Cinta dalam Fesbuk? Fesbuk dalam Cinta? Cinta atas Fesbuk? Cinta di Fesbuk?...maklum, bahasa Inggris gua parah bangeddd!!!

Sinopsis (cover belakang)
Gara-gara Facebook, Dayana dan Fadli akhirnya bertemu di dunia nyata. Takdir membawa Dayana alias Dea, si imut, anggun, cuek tapi memiliki sifat pembangkang tingkat tinggi itu ke sebuah penerbitan yang dipimpin oleh Fadli, pria tampan bergaya aristokrat yang dikenal sebagai bos killer.

Pertengkaran dan perdebatan bergulir. Pemberontakan dan sikap keras Dea malah menyulut ketertarikan di hati Fadli, si Hantu Facebook. Hingga suatu hari, si bos menemukan dua bayi kembar terdampar di aprking lot, dan memungutnya.

Lalu siapa yang bakalan dijadikan ibu bagi bayi ini? Apa mungkin Dea, si Miss Hepburn wannabe yang sebenarnya keibuan itu?

Gempuran masa lalu Fadli juga kembali datang menyergap. Jalinan cinta kedua insan itu rupanya memang nggak semulus menulis status di Facebook.

Tuesday, November 10, 2009

Resensi Novel Metropop: Mia Arsjad - Dil3ma

Membaca novel ini adalah sebuah dilema



Judul: Dil3ma
Pengarang: Mia Arsjad
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop
Tebal: 336 halaman
Harga (Toko): Rp48.000
Rilis: Oktober 2009 (cet. 1)

Saya tidak ingat, apakah saya pernah begitu menyukai tulisan Mia Arsjad? Hmm… yang pasti, sebelum Dil3ma ini, saya hanya pernah membaca satu buah karangan Mia, Rona Hidup Rona, yang meskipun tak begitu meninggalkan kesan mendalam, namun hmm… lumayan suka. Mungkin sekitar tema-nya, mbak-mbak penggila brondong atau plot-nya yang dibuat melilit kesana-kemari. Entahlah, sepertinya saya memang menyukai Rona Hidup Rona.

Yang saya ingat lagi adalah, saya tidak menyukai gaya tulisan Mia. Menurut pandangan pribadi, Mia tidak pernah memilah, entah sengaja atau tidak, mana tulisan yang untuk percakapan (dialog) dan mana yang untuk narasi (penjelasan/pengantar cerita). Dan, saya agak tidak begitu menyukai tulisan yang blur begini. Saya suka dengan pakem. Berdialog dengan bahasa dialog dan berdeskripsi dengan bahasa deskripsi. Dalam Dil3ma, Mia masih tetap dengan gayanya tersebut, yang tentu saja mengurangi kenikmatan saya melumat adegan demi adegan yang diciptakannya.

Dengan membaca judulnya saja, Dil3ma (huruf e-nya diganti dengan angka 3), saya sudah langsung membuat tebakan besar tentang plot novel ini. Yaitu, 3 orang dengan masalah mereka. Yup, benar. Nggak salah. Novel ini memang bercerita soal tiga tokoh perempuan dengan runtutan dilema masing-masing. Seharusnya kompleks dan menegangkan, tapi ternyata datar saja. Ada sih guncangan di sana-sini, tapi lemah, karena mudah ditebak.

Soal tema, agak umum dan sudah sangat sering diangkat, jadi tidak banyak yang bisa dibahas. Bicara soal player, risk-taker, dan plin-plan, semuanya berkesan oldies. Pun, dengan jumlah tokohnya yang 3 orang. Ketika kali pertama melihat dan membaca sinopsisnya di toko buku, ingatan saya langsung melayang pada metropop-nya Clara Ng, Tiga Venus, meskipun tidak ada kejadian pertukaran jiwa di sini. Kesamaan keduanya adalah terletak pada jumlah tokohnya yang 3, kesemuanya perempuan, dengan latar belakang dan sifat yang saling bertolakan. Hmm… ga ada pilihan lain kah? tokohnya enam gitu...hehehe jadi judulnya bia dil6ma! Jayus, ah!

Kembali ke gaya tulisan Mia. Satu lagi yang membuat saya tidak nyaman, khususnya dalam novel ini, adalah pilihan Mia yang meng”aku”kan salah satu tokoh tapi meng”orang-ketiga”kan tokoh lain. Maksud saya, sebagian besar tokoh “aku” adalah pencerita dalam novel ini sehingga tokoh lain menjadi pemeran pembantu yang bertindak sebagai orang ketiga. Nah, di tempat-tempat tertentu, tanpa tokoh “aku”, tokoh-tokoh orang ketiga ini bebas sekali penggambarannya. Tokoh tersebut dengan leluasa menceritakan diri mereka. Saya sih tidak masalah dengan pemberian “porsi-mendadak” begitu asalkan dibuat dengan rapi. Sayangnya, dalam novel ini saya mendapati alasan bahwa pemberian porsi tersebut hanya untuk menjaga eksistensi si tokoh saja. Itu wajar sih, karena saya pasti ingin tahu juga dengan nasib tokoh-tokoh itu. Tapi, sekali lagi, agak kurang pas saja cara menampilkannya.

Contoh salah satu pemberian porsi yang kurang pas ini, saya rasakan ada di halaman 235. Berikut saya cuplik sedikit (muga2 gak ngelanggar hak cipta ye… Minta ijin dicuplik dikit ya, Mia + Gramedia):
Robi menepikan mobilnya dan masuk ke pelataran parkir Lura. Setelah ketemu aku tadi, Robi langsung………dan seterusnya (dst).

Mobil Robi memelan di depan kantor Lura….dst.

Robi cuma bisa maklum. Setelah cerita dari aku tadi, Robi sangat maklum sama reaksi….dst.

Dari adegan tersebut, awalnya saya menduga tokoh “aku” ikut berakting dalam adegan itu. Nyatanya tidak. Tokoh aku sama sekali tidak ada di dalam scene tersebut. Hmm, gimana ya…klo menurut gua itu weird. Aneh. Saya merasakan-nya, seolah-olah tokoh aku ini melihat, bahkan sampai detail, apa yang dilakukan oleh tokoh Robi, padahal tokoh aku tidak ada di situ. Atau, saya-nya saja ya... yang kurang teliti. Entahlah, sampai sekarang saya tetap nggak ngeh dengan adegan itu.

Dari segi cerita sendiri sebenarnya cukup menarik, sayang, penggaliannya kurang dalam. Mungkin Mia ingin tiga tokohnya terkesan “kerepotan” dengan dilema masing-masing. Unfortunately, masalah demi masalah yang dihadapi tokoh-tokoh rekaan Mia malah terkesan agak mengambang. Berpotensi menjadi ‘bencana’ yang mengundang simpati, tetapi gagal memberikan efek dramatis. Bahkan beberapa mudah sekali ditebak.

Agak disayangkan lagi, novel ini pun tak luput dari kesalahan teknis percetakan/pengeditan. Tuduhan ketelodoran tentu saja pantas ditujukan pada tim editor, of course. Harusnya editor lebih jeli dan lebih teliti lagi. Contoh kecerobohan itu ada di halaman 253.
…Mala juga. Dia menarik kursi di sisi lain ranjang Lura. “Nyokapnya belum dateng ya, Ra?” aku menyelipkan poni Lura……dst.

Pertanyaan tokoh aku itu bukankah seharusnya, “Nyokapnya belum dateng ya, La/Mal?”, kecuali jika dialog tersebut memang bermaksud si tokoh aku berbicara dengan Lura, yang sedang tak sadarkan diri (koma).

Anyway, dari keseluruhan tokoh rekaan Mia, saya memang lebih “mencintai” tokoh aku yang sifat plin-plan-nya mirip-mirip saya. Beruntung… saya tidak sama keras kepalanya dengan tokoh aku itu. Yang lucu sekaligus menyebalkan serta menjengkelkan adalah tokoh Reva yang diplot menjadi pacar dari tokoh aku. Karakter inilah yang membuat saya gemas bukan main. Kok ada ya, orang kayak begitu….

Overall, novel ini masuk kategori lumayan. Dalam waktu dekat, saya mungkin tidak tertarik untuk membacanya lagi. Entah berapa minggu, bulan, atau tahun lagi saya baru berminat untuk membacanya ulang.

Selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)
Tiga wanita lajang, tiga dilema.
Lura, dengan kebiasaan buruknya mempermainkan laki-laki padahal di sisinya ada Robi yang baik dan setia.

Mala, yang punya affair dengan Mas Sis, atasannya, dan sabar menanti sang bos bercerai dari istrinya.

Nania, dengan Reva-nya yang matre dan abussive secra verbal tapi ogah putus karena takut jadi jomblo abadi.

Tiga sahabat yang mencari cinta dengan segala cara. Hingga masing-masing kena batunya. Dan mendapatkan pencerahan.

Sunday, November 8, 2009

Resensi Novel Metropop: Lusiwulan - Zizi: Bintang Jodoh dan Zizi: Saksi Bulan Madu

Serial metropop dengan sentuhan komedi




Judul: Zizi: Bintang Jodoh (Buku 1), Zizi: Saksi Bulan Madu (Buku 2)
Pengarang: Lusiwulan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop
Tebal: 176 hlm (Buku 1), 152 hlm (Buku 2)
Harga (Toko): Rp28.000
Rilis: Desember 2008 (Buku 1), Nopember 2009 (Buku 2)

Saya tidak sadar bahwa novel karya Lusiwulan (penulis metropop Pacar Alternatif dan Pasangan Jadi-Jadian) yang berjudul Zizi: Saksi Bulan Madu ini adalah buku kedua dari novel serial pertama yang ditulis Lusi. Saya hanya secara asal mencomotnya ketika berkunjung ke Indonesia Book Fair 2009 karena saya pikir itu novel Lusi yang sudah sering saya lirik di toko buku beberapa waktu lalu tapi selalu tidak jadi saya beli (model penulisan judul dan desain sampul mirip). Saya baru sadar setelah membaca lembaran awalnya.

Tak dinyana, saya kepincut dengan novel tersebut. Segar. Lucu. Komedi. Menyenangkan. Menggemaskan. Komplit lah... bumbunya. Setiap adegan mengalir jenaka dengan para tokohnya yang berkarakter kuat. Kemampuan Lusi menjaga konsistensi karakter para aktor rekaannya yang membuat novel ini kian istimewa. Khusus tokoh Zizi, mau tidak mau saya teringat tokoh Kugy di novelnya Dee – Perahu Kertas. Sama-sama komikal. Sama-sama lucu. Tapi, beda nasib.

Belum dapat dipastikan, hanya Tuhan dan Lusi yang tahu, serial ini akan dibuat dalam berapa jilid (volume). Dua bagian awalnya ini memiliki jumlah halaman tak lebih dari 200-an lembar. Meskipun dipatok banderol yang lumayan terjangkau, tak ayal saya sendiri masih harus berpikir berulang kali untuk setia mengikuti kisah ini. Kalau boleh memilih, saya lebih suka Lusi langsung merampungkannya dalam satu novel tebal. Jika pun diniatkan berseri, saya berharap setiap jilidnya ditambah halamannya, yah…300-an lembar lah minimal.

Dua jilid awalnya ini sedikit berbau tahyul dengan adanya beberapa bagian yang berhubungan dengan “orang-pintar”. Bahkan sepertinya dari tahyul inilah kisah utama serial ini bermula. Saya sebagai seorang yang mencoba memahamkan agama saya dengan benar, sama sekali tidak suka dengan unsur klenik ini. Namun, ya apa mau dikata, mungkin memang inilah awal sumber inspirasi Lusi dalam menulis cerita ini.

Sebagai novel yang masuk dalam label metropop, karya Lusi ini terkesan tidak menjual mimpi. Isi ceritanya hampir-hampir mendekati realita. Yang dibicarakan tidak melulu rumah megah bertingkat-tingkat, aksesoris serba branded, atau pun segala hal yang berbau kemewahan. Para pelakonnya tidak dipaksa harus serba mewah. Pekerjaan pun bukan jenis pekerjaan yang “di atas awan”, maksudnya latar belakang profesi yang dibuat Lusi merupakan pekerjaan yang sangat terjangkau oleh siapa saja. Meskipun yang agak mengganggu, seperti kebanyakan novel urban masa kini, nama-nama tokoh ciptaan Lusi cenderung kebarat-baratan (westernisasi). Yah, wajar-wajar saja sih di jaman sekarang yang makin banyak orang tua memberi nama anak-anaknya berbau luar negeri. Namun tetap, betapa bangga rasanya jika saja nama tokoh-tokohnya itu meng-Indonesia.

Sebenarnya saya tidak suka dengan gaya mendongeng Lusi yang mostly benar-benar seperti sedang story telling. Pada beberapa tempat Lusi melempar joke-joke jayus mengomentari tingkah para aktor yang dibuatnya sendiri. Bahkan tak jarang Lusi menambahinya dengan ungkapan tawa (hihi, haha, hehe) yang tidak dalam konteks dialog antar tokoh. Sangat lebay… dan jayus. Beruntung, sekali lagi, Lusi mampu memberikan nyawa pada aktor-aktornya sehingga terkesan hidup dan klop dengan gaya mendongengnya itu.

Awalnya saya menduga novel ini dibuat dalam bentuk chapter-chapter yang langsung habis ceritanya per chapter. Satu chapter berisi masalah dan solusi pemecahannya dengan pelakon yang sama dari chapter awal hingga chapter akhir. Mirip kumpulan cerpen begitu lah. Lebih-lebih, dugaan saya diperkuat dengan pemberian judul novel yang mengambil salah satu judul chapternya. Ternyata tidak, buku ini memang benar novel dalam arti bahwa dari awal hingga akhir cerita berjalan secara berkesinambungan.

Secara teknis, novel ini lolos scanning. Saya tidak merasa menemukan adanya kesalahan ketik, tulis, atau kejanggalan lainnya. Syukur deh…

Summary (spoiler alert):

Buku 1 – Zizi: Bintang Jodoh

Untuk meyakinkan perasaannya, Zizi menemui “orang pintar” yang diharapkan membantunya meraba takdir percintaannya. Ternyata, ia tetap patah hati lantaran putus cinta dengan Teddy, pacar serius pertamanya. Zizi sendiri yang minta putus, padahal dia benar-benar telah jatuh hati dengan teramat sangat pada Teddy.

Beruntung Zizi memiliki keluarga dan teman-teman dekat yang selalu mendukungnya.

Seusai wisuda, Zizi yang masih menganggur karena perang batin antara relita versus idealisme, bertemu dengan Dylan yang kemudian menjadi salah satu karibnya. Dari Dylan lah, Zizi akhirnya mendapatkan pengalaman kerja pertamanya. Sangking dekatnya hubungan Zizi – Dylan, banyak orang menyangka mereka pacaran. Termasuk Rafa, cowok yang menyelamatkan Zizi dari amuk marah manajernya dan dari ulah tengil sang monster jagung, yang naga-naganya memberi perhatian lebih pada Zizi.

Lalu, bagaimana reaksi Zizi ketika secara kebetulan dia bertemu dengan sang mantan di counter khusus lingerie dan underwear dengan Zizi yang sedang sibuk memilih-coba lingerie-lingerie seksi? Mengapa Rafa yang dirasa Zizi menaruh hati padanya justru berkesan menjaga jarak? Apa benar Zizi hanya sekadar berteman dengan Dylan? Lantas, apa hubungan Zizi dengan Manis Manja Group?

Sinopsis (cover belakang):
"Hmm... banyak bintang kamuflase di sini..."

Zizi melongo. "Apa, Mbah, eh, maksud saya, Nini...?"

Bahu Melky agak terguncang meredam tawa melihat reaksi Zizi.

"Kamu kebanyakan TP," sambung Nini.

"Apa itu, Ni..., TP...?" tanya Zizi.

"Tebar pesona."

Itu kerjaan Zizi kalau lagi kebingungan dilamar pacar sendiri (padahal pacar sendiri lho, bukan pacar orang lain). Belum lagi kalau sedang sedih, kacau, balau, atau di masa senang, masa manis, masa bodoh sampai bodoh beneran. Tapi jangan salah, hati dan pikirannya luwes meresapi asam-manis pengalaman sebagai momen mematangkan diri. Mau bukti?

Ini kutipan perenungannya yang dalam setelah pertemuan tak terduga dengan seseorang.
"...kalau ada cowok mau nganterin dan mengekor cewek beli pakaian dalam si cewek, bisa diartikan mereka punya hubungan spesial, ya?"

Dalam, kan? Namanya aja pakaian dalam... kwakwak...

Oke, yang lebih serius, Zizi juga merenungkan apa artinya komitmen, menjadi diri sendiri, cinta yang membebaskan, dan insight lain dalam kehidupan.


Buku 2 – Zizi: Saksi Bulan Madu

Akhirnya Zizi dan Rafa jadi sepasang kekasih, tetapi Rafa meminta agar hubungan mereka tidak diketahui khalayak ramai alias backstreet. Awalnya Zizi cuek saja, terlebih dia sendiri merasa risih apabila menjadi bahan gunjingan teman-teman kantornya.

Zizi masih melanjutkan hidupnya dengan penuh aksi komedi. Kelucuan demi kelucuan mewarnai hari-harinya bersama keluarga dan teman-temannya. Termasuk ketika Zizi menawarkan diri menjadi detektif yang menyelidiki keberadaan penguntit bernama Romeo yang meresahkan tantenya.

Sial bagi Zizi, ketika menemani Rafa dalam suatu acara gathering camp dia bertemu dengan Teddy plus istrinya yang secara kebetulan menginap di hotel yang sama. Zizi tambah kikuk demi mendapati Teddy dan istrinya sedang bermesraan di kolam renang. Zizi menjadi saksi bulan madu mantan kekasihnya.

Meskipun setuju backstreet, tak urung Zizi juga menjadi ragu akan hubungannya dengan Rafa ketika mendengar cerita mirip jalinan kisah kasihnya dari teman kerjanya yang berujung kesedihan. Di lain pihak, Rafa juga makin keki. Kedekatan Zizi dan Dylan telah menerbitkan rasa cemburu yang berlebih, namun bagaimana cara Rafa menutup rasa cemburunya? Mengapa Dystan, kakak Dylan, mendadak berubah ramah pada Zizi padahal biasanya cuek? Mengapa pula Rama tiba-tiba mengajaknya dinner setelah sekian lama tidak bertemu?

Sinopsis (cover belakang):
Dianalogikan tetumbuhan, Zizi saat ini sedang berada pada periode berbunga. Kuntum merekah setelah kemarin sempat layu mendayu-dayu. Hehe, itu mah musik melayu. Kerjaan baru yang kian dikuasai, teman-teman dan atasan yang makin memaklumi dirinya--tecermin dari komentar "namanya juga Zizi..."--dan ada kumbang jantan yang sedang bergairah terbang di dekatnya. Selain itu, yang namanya taman bunga tentu tak lepas dari benalu, ulat (berbulu dan tak berbulu), tangan-tangan jail (berbulu dan tak berbulu), kupu-kupu, angin... yah, begitu pula periode kehidupan Zizi, semriwing bak tertiup angin dan geli-geli bak dirambati ulat bulu. Kesimpulannya, menyegarkan sekaligus menggelikan.

Silakan temukan jawaban-jawaban pertanyaan tersebut di atas dalam novel seri karya Lusiwulan ini.

Selamat membaca!

Thursday, November 5, 2009

Pameran Buku: Hari Pertama Indonesia Book Fair 2009

Alhamdulillah, saya kemarin (Selasa, 04 Nopember 2009) berkesempatan untuk berkunjung ke Indonesia Book Fair 2009 (IBF 2009) yang dihelat di Jakarta Convention Center (JCC), meskipun hanya sebentar saja.

Saya berangkat selepas jam kantor dan sampai di JCC tepat ketika azan mahgrib selesai dikumandangkan. Oleh sebab itu, setelah membeli tiket masuk (harga: Rp5.000, sudah bisa untuk masuk ke pameran komputer Indocomtech-nya juga) di counter resminya yang persis berada di depan gerbang utama IBF 2009, saya bergegas mencari tempat sholat yang disediakan di JCC. Setelah bertanya kepada seorang bapak petugas keamanan, saya berhasil mencapai masjid yang berada di basement.

Selesai maghrib-an saya langsung berkeliling dari satu stand ke stand yang lain. Saya memuaskan “lapar-mata” saya dengan melirik tumpukan demi tumpukan, judul per judul, buku yang ditata sedemikian rupa oleh masing-masing pemilik stand. Tak lupa, saya juga melempar pandang menyelidik ke segala arah mencari banner-banner yang menginformasikan besaran discount yang berani mereka tawarkan. 10%. 15%. 25%. 30%. Hingga ada yang menulis 80%. Hmm… menggiurkan.

Jenis buku yang ada juga beragam. Sesuai dengan ciri khas masing-masing stand. Ada yang khusus menawarkan buku keagamaan, buku anak-anak, buku psikologi populer, novel-novel, buku elektronik dan komputer, majalah, komik, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di samping itu, juga ada stand-stand khusus semisal yang menjual aksesoris belajar, mainan anak-anak, video edukasi , tas, kerajinan tangan, dan sebagainya. Kategori buku juga ada yang lokal dan ada juga yang impor (
buku impor serba lima ribuan juga ada!)

Saya dari awal sudah berniat mengunjungi stand Gramedia terlebih dahulu. Biasa, mencari novel metropop. Setelah berkeliling sebentar, saya menemukan stand Gramedia dekat pintu masuk pameran IBF 2009 (bukan pintu gerbang utama). Ternyata yang disediakan di stand sana tidak selengkap yang saya harapkan. Memang disediakan satu rak khusus novel-novel metropop (dan chicklit, dan teenlit), namun tidak banyak judul yang ditawarkan. Yang saya ingat adalah beberapa judul novel Andrei Aksana, Retni SB, Tria Barmawi, Alberthiene Endah, Syahmedi Dean (A.M.S.A.T. juga ada!) dan beberapa lagi lainnya. Kebanyakan saya sudah punya, jadi saya tidak membelinya. Yang akhirnya saya beli adalah novel lanjutan karya Lusiwulan, Zizi: Saksi Bulan Madu, padahal novel pertamanya saja belum saya baca (yang bikin kaget, oh ini baru rilis ya???), If-nya Efi Ervianti, Konser-nya Meliana K. Tansri, dan beberapa buku lain titipan teman. Lumayan, untuk bahan bacaan bulan Nopember ini.

Secara khusus, saya lebih menyukai gelaran Pesta Buku Jakarta atau Islamic Book Fair yang diadakan di Istora Senayan. Selain karena bebas tiket masuk alias gratisan, juga area-nya terasa lebih luas, sehingga peserta pameran lebih banyak. Yang saya catat juga, mungkin karena baru hari pertama, IBF 2009 masih agak sepi. Mungkin juga karena jam berkunjung yang sudah malam dan berdekatan dengan waktu sholat. Catatan terakhir, dari pintu gerbang masuk Gelora Bungk Karno yang dekat dengan halte busway Polda Metro, tidak nampak ada umbul-umbul/spanduk terpasang, padahal biasanya selalu marak ketika ada hajatan di JCC.

Namun demikian, saya cukup senang, karena mengingat kondisi ekonomi yang masih lesu dan tak menentu begini, masih ada yang berinisiatif menggelar pameran seperti ini.

Maju terus perbukuan Indonesia!

Catatan: berhubung saya masih kelupaan menaruh kabel data kamera, beberapa hasil jepretan saya di arena pameran belum bisa saya sertakan. Mudah-mudah nanti bisa saya unggah ke sini.

Wednesday, November 4, 2009

Pameran Buku: Indonesia Book Fair 2009


Bagi para pecinta buku di Jakarta (maupun luar Jakarta yang berkenan ke Jakarta dalam bulan Nopember 2009 ini), jangan sampai terlupa untuk berkunjung ke gelaran Indonesia Book Fair 2009 yang diselenggarakan oleh PT Dyandra Promosindo di Jakarta Convention Center, yang kebetulan berbarengan dengan pameran komputer Indocomtech 2009. Biasanya, peserta pameran memberikan discount yang lumayan pada buku-buku yang mereka tawarkan. Semoga saja saya juga bisa menambah koleksi buku saya kali ini.

Sayang, saya sudah mencoba searching terbatas menggunakan bantuan Oom Google, tidak berhasil menemukan situs resmi dari penyelenggara pameran buku tersebut *update* Akhirnya saya menemukan juga situs resmi penyelenggara Indonesia Book Fair 2009. Silakan klik di sini untuk keterangan selengkapnya tentang IBF 2009. Bagi yang ingin melongok situs resmi penyelenggara Indocomtech 2009 untuk mencari info acara, harga tiket, dan denah lokasi, silakan klik di sini.


INDOCOMTECH 2009
• Dyandra Promosindo, PT
4 Nov 2009 - 8 Nov 2009
Cendrawasih Room 1/1
Exhibition Hall A + B
Exhibition

Indonesia Book Fair 2009
• Dyandra Promosindo, PT
4 Nov 2009 - 8 Nov 2009
Assembly Hall 1,2,3
Main Lobby
Plenary Hall (Grd Flr)
Exhibition

Sunday, November 1, 2009

Resensi Novel Metropop: Syahmedi Dean - A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh)

Sebuah akhir yang mencengangkan


Judul: A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Air Teh)
Pengarang: Syahmedi Dean
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop, Novel Dewasa
Tebal: 304 halaman
Harga (Toko): Rp55.000
Rilis: Oktober 2009 (cet. 1)

Sebelum saya melantur kemana-mana, saya ingin bilang terlebih dahulu, BURUAN BELI NOVEL INI. HIGHLY RECOMMENDED bangets deh!!!

Fantastis. Extra ordinary. So unpredictable. GOD, I just love this novel.

Yeah, sejak Cewek Matre-nya Alberthiene Endah saya belum pernah lagi merasakan sebegitu bersemangatnya membahas dan berusaha keras menyimpan tiap detail isi dari sebuah buku, sampai terbitnya novel keempat (terakhirkah????) dari seri Fashion Journalistic-nya Syahmedi Dean ini. Rasanya sejumlah rupiah yang saya tukarkan dengan novel ini benar-benar terbayar impas. Wew…

Hahahaha. Unobjective banget ya??? Belum apa-apa sudah memuji setinggi langit begitu. Don’t know why. My hands up! kalo kata Nelly Furtado,”manos al aire.” Novel ini memang keren. Sumpah! Sangat di luar perkiraan saya. Bagaimana tidak, tiga novel pendahulunya telah menjejakkan citra bagaimana saya harus menyimpulkan sebuah novel karya Syahmedi Dean. Yaitu, novel metro-urban-modern yang kebanyakan ngomongin barang fashion dengan segala detailnya berbau fashion. Dengan kata lain, novelnya cukup buat having fun. Just an entertainment book!

Secara packaging, novel ini tidak meninggalkan cetakan dari tiga novel sebelumnya. Masih tetap sama banyaknya dalam hal menampilkan barang-barang fashion. Sebutan merk tas-baju-sepatu-lipstick and so on yang terkadang agak lebay. Tapi itulah istimewanya novel-novelnya Syahmedi Dean. Bagi sebagian pembaca perempuan, cukup dengan merampungkan serinya Syahmedi Dean, dijamin tidak bakal lagi dongo kalau mendengar orang menyebut Bally (bukan Bali), Birkin, atau Louis Vuitton. Minimal, tidak akan lagi shock dan berseru, “ih lucu, makanan apa itu?”

Gaya bahasa yang lebay (berlebihan) yang digunakan Syahmedi memang bagai pisau bermata dua, bagi saya. Di satu sisi agak-agak annoying, tapi di sisi lain juga memberikan efek yang menyegarkan. Sama halnya ketika saya membaca She’ll Take It-nya Mary Carter. Penjelesannya mbleber kemana-mana, tapi sayang kalau dilewatkan.

Biasanya pula, saya paling tidak suka dengan tokoh yang “mendadak” mendapat jatah aktualisasi diri padahal garis besar novel bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Janggal saja, tiba-tiba si A diberikan line, sedangkan tokoh utama sama sekali tidak ada dalam adegan tersebut. Namun, dalam novel Syahmedi, cara pemberian porsinya cukup ‘mulus’. Tidak mengesankan narsisme dari tokoh tersebut, sehingga jauh dari kesan janggal.

Dari keseluruhan empat novelnya, novel keempat ini memberikan kesan paling mendalam bagi saya. The best lah dari tiga lainnya. Terutama dari plot dan isinya.

Dari novel pertama, L.S.D.L.F. (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion), Syahmedi mengenalkan jungkir baliknya dunia balik layar dari produksi sebuah majalah lifestyle. Novel kedua, J.P.V.F.K. (Jakarta Paris via French Kiss), para tokohnya mulai dikenalkan pada konflik yang lebih beragam dengan tetap tak meninggalkan gemerlapnya dunia mode. Pada novel ketiga, P.G.D.P.C. (Pengantin Gipsy dan Penipu Cinta), para tokohnya dihujani dengan masalah-masalah pelik yang menguji sejauh mana persabahatan mereka. Dan, akhirnya, di novel pamungkasnya ini, A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh), para tokohnya bermetamorfosis mencapai kejatidirian mereka masing-masing. Menemukan jawab atas salah satu pertanyaan penting dalam hidup, “siapa aku yang sebenarnya?”

Meskipun agak terlambat, novel ini cukup up to date dengan sentilan soal hiruk-pikuk panggung politik (pemilu dan caleg), sepak terjang KPK, kasus-kasus korupsi bertaraf nasional semacam kasus alih fungsi hutan lindung di Sumatera, dan demo pengrusakan kantor penerbitan yang menurunkan berita berbau pornografi (jadi ingat kasus majalah Playboy). Maka, lumrah saja ketika saya menyematkan pujian bahwa novel ini cukup padat berisi. Fashion-politik-relijius.
Yup, yang membuat saya cukup terkagum adalah kepiawaian Syahmedi menyelipkan isu keagamaan dalam kilau dunia mode yang diciptakannya. Pun, cara penyampaiannya juga tidak terkesan menggurui dan terlihat sekali Syahmedi mencoba membahas masalah agama itu dari dua sisi, pro dan kontra. Kalau sudah begitu, tinggal pembaca sendiri yang menentukan, mau ikut yang pro atau yang kontra.

Yang perlu dicatat lagi dari novel ini adalah banyaknya flashback dari masing-masing tokohnya. Saya sempat bosan (sedikit) ketika pada lembar-lembar awal, kebanyakan isi halamannya adalah renungan-renungan masa lalu dari masing-masing tokoh. Memang perlu sih untuk menjembatani dengan masa depan mereka, hanya saja, saya memang agak kurang sabaran kalau orang sudah cerita (melulu) tentang masa lalu. Apalagi, kebiasaan Syahmedi yang mendetailkan segala sesuatu, makin membuat saya ingin buru-buru skip dan lanjut ke halaman berikutnya.

Anyway, terima kasih Syahmedi, terima kasih editor, terima kasih tim penerbitan Gramedia, saya luput mendapati adanya salah cetak pada novel ini. Thank GOD! Entah saya yang kurang awas karena terlalu excited terhadap novelnya atau memang benar-benar tidak ada masalah teknis begituan. Dunno.

Hmm… dari novel ini saya punya dua part (quote) yang paling saya suka. Yang pertama, telah saya pampang di sidebar blog saya ini dalam kolom My Favorite Quote. Yang kedua, adalah ini:
Bertolak belakang antara siang dan malam. Siang preman, malam ayah yang baik. Siang selingkuh, malam istri yang budiman. Siang karyawan yang rajin, malam menggampari istri.
Halaman 183

Menohok sekali. Tepat menggambarkan orang-orang yang secara sadar atau tidak seringkali menampilkan dua muka yang berbeda untuk dua waktu yang berbeda pula. Siang dan malam. Baik dan buruk. Salah dan benar. Termasuk saya juga, mungkin, hehehehe....

Dua hal yang menjadi topik penting novel keempat Syahmedi ini adalah ‘bulan’ dan ‘teh’. Secara judulnya juga ada menyangkut teh-teh-nya, maka tak heran kalau teh menjadi primadona di novel ini, bahkan hampir seluruh tokohnya (utama atau figuran), disengaja atau tidak, setiap beradegan minum, pasti pesannya teh. Hmm… kenapa selera orang bisa digeneralisir begitu, ya? Dan, ngomong-ngomong sampai selesai membaca novel ini saya masih nggak tahu juga, apa maksud setuang air teh? Ahhh…mungkin saya harus membaca ulang sekali lagi sembari menuang secangkir teh aroma melati, baru saya tahu apa maksudnya. Hmm… sedap, kedengarannya.

Selamat membaca. Dan, hey, jangan jantungan ya… novel ini benar-benar memberikan full of surprises!!!

Rating-nya 4,5 out 5 stars, lah…

Sinopsis
Siapa yang menggerakkan skenario perjalanan hidup? Sebuah kota? Profesi? Alam pikiran? Atau cinta? Empat sahabat mencari-cari keriaan hari ini dengan mengejar cinta dan mempertanyakan masa lalu. Mereka berprofesi sebagai wartawan, berkesempatan mendirikan sebuah majalah, satu kesibukan urban yang membawa mereka ke ujian persahabatan, penemuan jati diri, dan dilema tepi-tepi hidup.

Alif:
Mata saya tajam terbuka, merasakan dengan nyata kosmik energi, merasakan kuatnya medan magnet yang terjadi. Pelan-pelan ada cairan lain yang naik ke saraf-saraf otak, rasa gusar, kesal, marah. Apakah kosmik energi penyebab rusaknya kehidupan cinta saya? Setiap pekan purnama tiba orang-orang akan bergairah, serbaimpulsif. Mudah marah, mudah sedih, mudah jatuh cinta, mudah berbelanja, mudah dramatis, mudah cemburu. Orang-orang kehilangan keseimbangan, orang-orang cenderung lunatic, kebulan-bulanan. Saya mengerti keadaan ini.

Raisa:
Ia tak pernah tahu bahwa seharusnya, jika berada dalam rapat apa pun di dunia ini, sangat berlaku hukum "You are what you said." Nah, kalau tak pandai berkelit, pakailah aliran "Silence is golden". Sehingga jati diri tidak perlu terasa seperti akan lumer ke lantai, merosot ke kaki-kaki meja, dan secara politis habis diinjak-injak forum. Ia ingat ekspresi semua peserta rapat waktu itu, mereka tersenyum bahagia penuh kepuasan. Pelajaran yang ia dapat dari kejadian memalukan itu adalah: when everybody is happy, you know you done something wrong.

Didi:
Kota Jakarta ini apa masih layak huni? Ngeri banget Jakarta sekarang. Kalau nanti gue terkenal karena jadi creative director sukses, apakah gue aman? Gue harus berjuang dari kemungkinan penembakan seperti ini. Kemungkinan pembunuhan, penggarongan, kemacetan, kebanjiran, penipuan, penggusuran, rombongan kampanye, massa sepakbola, fashion criminals, Chanel limited edition, Louis Vuitton New Arrival, Gucci Piracy, dress code betrayal...

Nisa:
Itu suara Alif. Azan. Komat. Ah, anakku, Mama belum sempat lihat kamu. Bagaimana rupamu? Bagaimana hidungmu? Bagaimana senyummu? Kamu pasti aman di situ, ada Oom Alif, teman Mama yang paling peduli dengan Mama. Kamu pasti senang dengar suara azan Oom Alif. Mama jadi rindu, tapi Mama belum bisa lihat kamu. Mama seperti terbang. Mama hanya bisa merasakan getaran jiwamu yang bening dan bersih. Oh, inikah mati? Tubuh terasa ringan sekali. Tanpa beban fisik. Merdeka dari keterbatasan. Fisik adalah penjara seumur hidup, penjara yang lemah, yang tak mampu menghadapi cuaca, yang tak bisa pergi tinggi-tinggi karena akan ditarik kencang oleh gravitasi bumi.
Sinopsis dan gambar diambil dari situs http://gramedia.com