Sunday, January 22, 2012

[Resensi Novel Young Adult] If I Stay by Gayle Forman

Mbrebes mili...
Read from January 18 to 21, 2012
Rating: 5 out of 5 star


Judul: If I Stay (Jika Aku Tetap Di Sini)
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Dini Pandia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 200 hlm
Rilis: Oktober 2011 (cet. ke-3)
Harga: Rp35.000
ISBN: 978-979-22-6660-3

Summary
Mia Hall adalah seorang gadis yang beruntung. Dia punya Mum, Dad, dan si kecil Teddy yang menggemaskan. Tak hanya itu, Mia juga punya Adam Wilde, seorang rockstar yang sedang menanjak popularitasnya bareng band Shooting Star, yang sudah resmi menjadi pacarnya. Namun, sebuah kecelakaan tragis di suatu pagi yang dingin-musim-salju, merenggut kebahagiaannya. Dalam sekejap dia kehilangan Mum, Dad, dan Teddy. Bahkan, nyawanya pun dekat sekali jurang kematian.

Ketika raganya masih diusahakan untuk sembuh dari segala kerusakan yang ada, jiwa Mia berkelana. Dalam hitungan jam, Mia yang tak kasatmata menyusuri tiap sudut rumah sakit, menyaksikan orang-orang yang disayanginya menjadi panik, sedih, pasrah, dan tak percaya atas apa yang terjadi. Bahkan, hatinya pun seakan teriris sembilu ketika menyaksikan Adam berjuang untuk bisa masuk ke ruang perawatannya dan membuat janji yang akan mengubah segalanya.

Rasakan puncak kepiluan dari dua hati yang dipersatukan dengan dukungan sebuah keluarga yang harmonis namun dalam waktu singkat harus menghadapi cobaan hidup mahadahsyat dalam novel karya Gayle Forman berjudul If I Stay ini.

WOOOWWW! Kapan saya terakhir kali tiba-tiba menangis tanpa bisa saya cegah hanya dari membaca novel? Hmmm....sudah lama sekali rasanya. Dan, saya mengalaminya lagi ketika membaca novel ini. Serius! Padahal dalam dunia nyata saya sulit sekali untuk merasa sedih, lho. Aneh, memang. Mungkin, otak saya salah program. Dunno. Tapi, syukurlah, novel ini memang diciptakan dalam topografi berbukit-bukit. Jadi, ketika telah dihadirkan satu adegan yang begitu mnegharukan, dengan konsep flashback, penulis membawa pembaca ke masa lalu Mia yang menyenangkan. Sehingga ketika tak sengaja air mata mengalir, detik berikutnya rasa sedih tersapu kedamaian melihat masa lalu yang indah, dan air mata berhenti dengan segera.

Bagian inilah yang membuat bendungan mata saya tak mampu menahan luapan air mata yang tumpah:
Gramps.... dan berbisik.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apa pun yang kuinginkan di dunia ini.” Suaranya tersekat emosi. Dia berhenti, berdeham, menarik napas, dan melanjutkan. “Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang.”
Pada saat itu, saya teringat Bapak. Pada saat itu, saya teringat Ibu. Saya ingat betapa Bapak dengan pelan membisik kepada saya yang sedang tersedu malam sebelum Ibu saya dipanggil kembali padaNya, “Le, ndang lungguh sanding Makmu, wacakne dungo ben ora loro (Nak, sana duduk dekat Ibu, bacakan doa biar nggak sakit).” Itulah salah satu momen saya menumpahkan seluruh air mata. Saya sudah mencoba meminta padaNya untuk menyembuhkan Ibu, namun malam itu Bapak membuatku mengikhlaskan jikalau sekiranya Alloh hendak memanggil kembali Ibuku. Dan, Alloh memang memanggil Ibu saya, keesokan harinya.

Sosok Gramps, yang digambarkan oleh Gayle sebagai sosok pendiam dan pekerja keras ini, langsung membuat saya jatuh simpati pada beliau. Sudahlah, yang jelas, saya sesak napas ketika sampai di bagian ini (hlm. 152)

Saya membaca novel ini justru setelah membaca sekuelnya, karena buku keduanya saya dihadiahi oleh sahabat baru saya di group Blogger Buku Indonesia dalam proyek My Secret Santa (review buku kedua disepakati akan diposting secara bersamaan dengan semua member yang ikut serta program tersebut di akhir bulan Januari ini). Kalau tidak salah, saya pernah men-tweet soal saya yang tidak terhanyut ketika membaca Where She Went dan tak sampai merasakan kedalaman hati seorang Adam Wilde, dan Mery Riyansah menyarankan kepada saya untuk membaca buku pertamanya yang memang sudah saya niatkan. Dan, tak salah, saya memang terhanyut, bahkan tenggelam, dalam kisah mengharukan Mia Hall. Sebuah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya.

Namun demikian, satu yang terlintas dalam benak saya. Ahhh.... film Ghost banget ini ceritanya, atau film Just Like Heaven banget, atau novel Memory and Destiny banget nih novelnya... tentang sosok-setengah-hantu-dengan-tubuh-terbaring-koma dan judgement saya memang tidak meleset jauh. Ini memang kisah seperti itu. Tapi, apa yang membuatnya istimewa? Tentu saja, kepiawaian penulisnya yang berhasil menyeret saya ke muara kesedihan yang begitu dalam namun tidak sampai menye-menye kayak sinetron.

Saya suka semua karakternya. Khususnya Teddy. Lagi-lagi saya sudah lama sekali tidak mendapati tokoh bocah cilik yang memang masih bocah di novel-novel yang saya baca. Ada sih sosok anak-anak namun kebanyakan sudah dicekokin sama kedewasaan karena keegoisan atau ketidaksanggupan penulisnya untuk menghadirkan tokoh anak kecil yang berjiwa anak-anak. Selebihnya, karakter tokoh-tokohnya di sini sangat kuat. Mia sang pecinta musik klasik dengan cello-nya, Adam sang rockstar, Dad yang mantan anggota group band punk, Henry dan Willow sebagai pasangan pencinta punk dan perawat. Saya bahkan tak mengenali Mia di sini seperti halnya Mia di Where She Went, dan saya suka Mia yang ada di sini. Di If I Stay dia terlihat tegar dan rapuh pada saat yang bersamaan (dan tepat) sementara di buku keduanya justru menjadi sosok peragu. Tapi, entahlah, memang kedua buku ini berbeda sudut pandang dan berbeda situasi sih ya.

Soal cover, saya lebih suka yang Where She Went. Meskipun keduanya sangat merepresentasikan pokok cerita, tetapi sampul Where She Went saya rasa lebih kuat untuk menggambarkan keseluruhan cerita ketimbang yang If I Stay. Lah, kenapa saya jadi membandingkan dua buku ini, ya? Hahaha, semprul! Yang jelas, saya rada kurang suka sama sampul yang If I Stay ini.




Soal typo, yeayyy... novel ini hampir bersih dari salah ketik/cetak. Awalnya saya pikir ameba (dari kata amoeba) dan pikap (sebutan untuk pick-up) itu salah ketik, ternyata di KBBI memang begitu cara penulisannya. Yang typo hanya di hlm. 130 (menembuat = membuat) dan hlm. 148 (Grams = harusnya Gramps).

Overall, sulit bagi saya untuk tidak menyukai novel ini. Salam buat Teddy dan Gramps. 5 bintang untuk If I Stay.

Selamat membaca, kawan!

[Resensi Novel Teenlit] Things I Know About Love by Kate Le Vann

Jadi, apa yang kutahu tentang cinta?
Read on January 22, 2012
Rating: 3 out of 5 star


Judul: Things I Know About Love (Yang Kutahu Tentang Cinta)
Penulis: Kate Le Vann
Penerjemah: Ade Reena
Pewajah Sampul: Bena NDR
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 176 hlm
Rilis: Oktober 2010 (edisi asli – 2006)
ISBN: 978-979-22-6283-4

Summary
Livia Stowe, seorang gadis London yang sebentar lagi lulus dari high school, dan pada musim liburan kali ini ia memutuskan terbang ke Princeton, Amerika Serikat untuk mengunjungi kakak lelakinya, Jeff, yang kuliah di sana. Oleh sebab leukimia yang dideritanya, Mum dan Jeff khawatir atas perjalanan itu. Namun, Livia tetap berangkat. Selain untuk berlibur, dia juga ingin merenungkan tentang cinta. Kebetulan dia memang baru putus dari Luke.

Dan, di Amerika Livia justru bertemu dengan cowok-cowok Inggris juga, padahal dia sudah berjanji untuk bermain cinta dengan stranger. Lalu, masuklah Adam ke kehidupan Livia. Tapi, apakah Livia akan menyambut uluran cinta dari Adam? Bagaimana jika Adam juga menjauh setelah tahu bahwa ia menderita kanker? Temukan petualangan Livia mencari makna cinta hingga ke New York dalam novel karya Kate Le Vann bertajuk Things I Know About Love ini.
Menderita suatu penyakit parah adalah pukulan telak bagi siapa pun. Jika kemudian seseorang mampu bangkit dan bersabar atasnya, maka masa depan dapat dikendalikannya. Sebaliknya, jika seseorang sudah luruh dan tak bersemangat, maka masa depan suram akan membayangi setiap jejak langkahnya. Dan, Livia, meskipun awalnya kurang semangat, kemudian demi keluarganya ia berjuang untuk sehat. Apalagi ia juga punya teman-teman yang mendukungnya.

Kisah ini sebenarnya sangat dramatis, namun entah mengapa setitik air mata pun tak jatuh dari kelopak mata saya. Sekilas saya sempat tersentuh, namun tak lama menjadi biasa saja. Namun demikian, saya suka dengan karakter Livia dan Adam. Sejoli yang sama-sama menyimpan rasa, tapi sulit mengungkapkannya. Livia, sebagai seorang perempuan dan beban penyakitnya, enggan memulai. Sedangkan, Adam adalah teman Jeff yang merasa canggung harus mendekati adik sahabatnya, meski hatinya sudah terpaut pada Livia. Bagi saya, tarik ulur ini begitu manis, karena kecanggungan di antara keduanya merupakan refleksi keseharian.


Inti novel ini begitu sederhana, bahkan konfliknya pun, meski terkadang mencolok, kurang kuat untuk membangun suatu dunia dramatis bagi hubungan Livia-Adam. Yang jelas, ceritanya mengalir lancar, walaupun saya merasa pada beberapa bagian terjemahannya agak kaku dan kurang nikmat dibaca. Tapi, overall saya suka. 3 bintang untuk kisah Livia-Adam ini.

Jadi, apa yang diketahui Livia tentang cinta? Berikut adalah catatan yang dipublikasikannya di blog pribadinya:

Yang kutahu tentang cinta
1. Jatuh
2. Cinta
3. Adalah
4. Suatu
5. Hal
6. Yang
7. Paling
8. Indah
9. Di
10. Dunia

Selamat membaca, kawan!

Tuesday, January 17, 2012

[Book Event] Kuis A Very Yuppy Dinner with Ika Natassa

WAW! WAW! WAW! Seru banget nih kalo bisa menang. Pengen banget bisa kepilih. Tapi kalo saya sih, pengen ketemu saja sih, jadi kalo nggak kepilih kira-kira boleh nungguin di luar nggak, ya, terus mau nanya-nanya dikit gitu? Plus minta tanda-tangan? Plus lagi foto-foto gitu? Hikz, pengen banget. #muka.melazt




Oke, bagi kalian yang mau ikutan kuisnya masih berlangsung kok (sampai dengan besok, Rabu, 18 Januari 2012, pkl. 15.00 WIB), yang jelas kamu harus punya akun twitter untuk bisa ikutan. Eh, tau juga sih, apakah ada media sosial lain yang digunakan @Gramedia untuk ngadain kuis ini. Tapi, khusus yang di twitter, caranya adalah seperti yang saya capture dari RT tweet-nya @Gramedia berikut ini:


Monday, January 16, 2012

[Resensi Novel Metropop] Three Weddings and Jane Austen by Prima Santika

Mom, wish you were here...
Read from January 11 to 15, 2012
Rating: 4 out of 5 star


Judul: Three Weddings and Jane Austen
Penulis: Prima Santika
Editor: Nana Soebianto
Pewajah Sampul: Prima Santika & Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 464 hlm
Harga: Rp58.000
Rilis: Januari 2012
ISBN: 978-979-22-7898-9

Summary:
Ibu Sri adalah seorang mama yang mempunyai tiga anak gadis yang sudah menjelang usia pernikahan, Emma, Meri, dan Lisa. Mama adalah seorang penggemar berat Jane Austen. Keenam novel Jane Austen telah dibacanya, bahkan novel-novel itu menjadi guide dalam berkehidupan keluarganya. Saat ini, Jane Austen menjadi tumpuan harapannya untuk dapat menuntun ketiga putrinya menemukan tambatan hati masing-masing. Tak henti-hentinya ia menyelipkan contoh dari karakter-karakter rekaan Jane Austen kepada mereka. Terkadang untuk menguatkan, terkadang juga untuk sekadar mengingatkan.

Emma, dinamai dari karakter Emma Woodhouse di novel Emma, si sulung, adalah yang paling sabar dan pengertian di antara ketiganya, namun harus jatuh bangun membentengi hati ketika laki-laki yang diharapkan menjadi suaminya justru pergi meninggalkannya tanpa pernah memberinya kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya. Meri, dinamai dari karakter Marianne Dashwood di novel Sense and Sensibility, si tengah, adalah seorang gadis lovable yang gampang menarik hati laki-laki, namun justru ketika ia ingin melabuhkan diri pada dermaga pernikahan, lelaki yang dicintainya justru pergi setelah memergokinya berselingkuh dengan lelaki lain. Dan Lisa, dinamai dari karakter Elizabeth Bennet di novel Pride and Prejudice, si bungsu, adalah sesosok gadis tomboy yang menyimpan obsesi pada kakak kelas yang justru memacari sahabatnya sendiri dan atas nama persahabatan ia merelakannya, meskipun ia mulai meragukan keputusannya itu.

Nah, mari kita nikmati pesona Jane Austen yang membantu seorang ibu membukakan pintu pernikahan bagi ketiga putrinya dalam novel debutan karya Prima Santika bertajuk Three Weddings and Jane Austen ini.

Sampul
4 jempol. Huwaaaa...love it. Love it. Love it. Love it. Mungkin, so far, inilah sampul novel metropop terfavorit saya. Bahkan saya membeli novel ini secara impulsif adalah karena sampulnya. Ditambah judulnya yang secara subjektif sangat provokatif pada saya (me: love Jane Austen!), maka sampul buku ini sangat pas bagi saya. Perfect! Menyebut Jane Austen pasti langsung merujuk pada sastra klasik yang merujuk lagi pada buku sehingga pemilihan setumpuk buku cetakan lama di atas meja dan kacamata baca sudah sangat sempurna untuk mendeskripsikan seorang Jane Austen.

source: observer.com

Meskipun kalau boleh meminta sih, lebih oke lagi jika buku yang dijadikan sampul tersebut buku-buku Jane Austen langsung, tapi mungkin akan panjang soal urusan hak ciptanya yaa... hmm, for me, elemen-elemennya dapet banget lah! Posisi dibuat landscape dengan pemilihan font untuk menulis judul dan nama penulis sangat elegan. Sekali lagi, semuanya pas. Ditambah sampul belakang bukan berisi endorsment melainkan sinopsisnya menjadikan satu bintang saya sematkan untuk sampul buku ini. bagus!

Karakter
Awalnya saya merasa sulit sekali membedakan karakter Emma dan Meri. Meskipun dengan bantuan deskripsi kepribadian masing-masing namun masih saja saya merasakan tipisnya perbedaan karakter antara dua tokoh ini. Apalagi cara bertutur mereka pun hampir tak berbeda. Untung saja, plot yang disiapkan untuk keduanya berjalan dengan baik sehingga lambat laun saya mulai dapat mengenali keduanya. Sedangkan pada Lisa, sejak awal saya sudah bisa memvisualisasinya karena penggambaran diri, lingkungan, dan pergaulannya sangat memadai. Untuk karakter sang Mama memberi kesan tersendiri, meskipun tak banyak. Tapi, karena semua pusaran konflik juga adalah campur tangannya, maka karakter sang Mama tentu saja menjadi tokoh kunci.

Yang justru tidak terekspos adalah karakter si Bapak. Saya masih menimbang-nimbang apakah ini bagus apa tidak. Pada suatu saat, saya ingin ada sentuhan laki-laki dalam penentuan nasib ketiga perempuan itu, namun sosok Bapak Atmo hanya tersebut sekilas saja. Hampir bisa saya bilang, novel ini 99% adalah tentang perempuan. Perempuan yang membantu perempuan. Tak apa sih, hanya saja sebagai seorang lelaki, terkadang saya juga ingin melihat bagaimana laki-laki menempatkan diri pada masalah seperti ini. Namun demikian, hal tersebut tak mengurangi kenikmatan saya menyelami tiap-tiap karakter yang diciptakan oleh Prima Santika. Satu bintang untuk departemen karakter.

Cerita
Dari judulnya saja, pasti sudah tertebak ini tentang apa. Ya, pada akhirnya ini memang tentang tiga pernikahan dan Jane Austen. Ada yang sudah menamatkan keenam novel Jane Austen? Jika sudah, apakah Anda juga mendapatkan kesan bahwa meskipun menempuh jalan berliku yang terjal pada keseluruhan novelnya berakhir dengan pernikahan? Saya sudah mengoleksi versi Penguin Classic, hanya IDR 30k per buahnya, tetapi belum satu pun saya baca, sehingga saya tak bisa ikut menyimpulkan. Simpulan tersebut saya dapatkan dari cerita Mama ketika menasihati ketiga putrinya.

Dengan ending yang sudah tertebak, maka kekuatan cerita dari novel ini bertumpu pada bagaimana proses yang harus ditempuh ketiga karakter perempuan tersebut dalam menemukan tambatan hatinya. Siapakah yang menjadi Frank Churchill bagi Emma, John Willoughby bagi Meri, dan Fitzwilliam Darcy bagi Lisa? Baca sendiri ya... dan, hey, meskipun berakhir bahagia, proses menuju kepada kebahagiaan itu tidak lantas semulus jalan tol (eh, jalan tol pun udah banyak yang lobang juga, ya? Udah gak mulus-mulus amat). Berapa banyak lelaki yang keluar-masuk ke bilik hati masing-masing sebelum ketiganya dengan bulir air mata menjawab, “I will,” ketika para lelaki pilihan hati mereka bertanya, “Will you marry me?”

Untuk mengetahui sedalam apa Jane Austen memengaruhi cerita novel karya Prima ini, rasa-rasanya saya memang harus segera membaca koleksi novel-novel Jane Austen ini. Kesan yang saya dapat ketika menyelesaikan baca novel ini hampir sama ketika saya selesai menonton film The Jane Austen Book Club (film adaptasi dari novel berjudul sama karya Karen Joy Fowler) yang juga menghubungkan kehidupan para tokohnya dengan novel-novel Jane Austen. Saya suka. Saya puas. Maka, satu bintang saya tambahkan dari segi cerita.



Setting dan kelengkapan cerita
Bayangin saja, romantisme cinta ketiganya mengalir dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan London. Dan, pantai Bali tetap membuat saya penasaran (belum pernah ke Bali, hikz). Pergantian lokasinya smooth sekali dan sangat mendukung pergeseran hati masing-masing karakternya. Tidak semua karakter di tempat itu, tapi tiap lokasi penting dan tak bisa dipisahkan dari jalan cinta mereka. Properti Jane Austen benar-benar mendominasi jalannya cerita. Jangan bosan jika sampai pada penggalan-penggalan panjang retelling yang disampaikan beberapa tokoh di buku ini atas novel Jane Austen. Memang jadi susah jika kamu tidak begitu menyukai Jane Austen karena nama Jane bertebaran hampir di banyak halaman. Tapi, cobalah meneruskan baca sampai tuntas, dan kamu akan mendapat sensasi kejut yang tak biasa di ending-nya. Eh? Bukannya ending-nya sudah tertebak? Iya, tapi perjalanan menuju ending itu ternyata yang... ehmm... menarik! Tak terduga.

Untuk beberapa hal plot-nya membingungkan. Dengan point of view (PoV) orang pertama untuk karakter Mama dan tiga putrinya, saya harus ekstra keras berkonsentrasi agar tidak lupa, karena adegan tidak dibuat saling melanjutkan, melainkan dimulai lagi dari titik awal masing-masing tokoh. Misalnya ketika Meri dan Lisa ada dalam satu adegan di mana PoV saat itu ada di posisi Meri, nanti pas di bagian penceritaan PoV pada Lisa, cerita akan diputar balik dari sebelum terjadinya adegan Meri dan Lisa, sehingga runutan kisah harus dicari-cari lagi sampai ketemu adegan yang sesuai. Ditambah lagi keputusan teknis cetakan yang tak lazim (hampir seluruh dialog dicetak italic/miring), saya jadi tersendat-sendat menikmati alur ceritanya.

Ini novel metropop, tapi hampir tidak ada branded things yang disebutkan di sini. Ingar-bingar dunia malam yang biasanya ada, juga syukurlah tidak ada. Palingan hanya setting Hard Rock Cafe Bali, tapi itu pun tak lantas disertai detail hedonisme. Saya suka. Banget! Udah mulai bosen novel yang isinya free sex, drug, alkohol mulu. Satu bintang untuk setting dan kelengkapan ceritanya.

Teknis cetakan
As usual, berikut adalah laporan temuan typo yang ada di novel ini:
(hlm. 29) mempengaruhi = memengaruhi
(hlm. 39) ckup = cukup
(hlm. 45) memperjuangakan = memperjuangkan
(hlm. 71) berterbangan = beterbangan
(hlm. 72) tomboi, tomboy = inkonsistensi penulisan
(hlm. 75) prosentasenya = persentasenya
(hlm. 76) kepimpinan = kepemimpinan
(hlm. 89) koleksinya filmnya = koleksi filmnya
(hlm. 92) bersahabat karibnya = bersahabat karib
(hlm. 94) presss conference = press conference
(hlm. 96) laki-laki-laki-laki = jadi yang ini maksudnya apa? Lelaki-lelaki? Tapi jadi nggak bagus jika menggunakan frase laki-laki diulang dua kali, lihat saja jadinya = laki-laki-laki-laki. Nggak banget!
(hlm. 113) oleng,lalu lari = kurang spasi setelah tanda baca koma (,)
(hlm. 127) Jamie Collum = Jamie Cullum
(hlm. 143) Pejalanan = Perjalanan
(hlm. 147) teritimidasi = terintimidasi
(hlm. 149) dipungkiri = dimungkiri
(hlm. 151) pengatenan = pengantenan
(hlm. 173) Krina = Krisna
(hlm. 173) mggak = nggak
(hlm. 176) drektur = direktur
(hlm. 185) coklat = cokelat
(hlm. 249) interfensi = intervensi
(hlm. 260) di tinggal = ditinggal (digabung)
(hlm. 261) k ambil = kuambil
(hlm. 303, 322) ke tujuh, ketujuh = inkonsistensi penulisan
(hlm. 313) pelaksanannya = pelaksanaannya
(hlm. 337) sesesering = sesering
(hlm. 338) mengkonfirmasi = mengonfirmasi
(hlm. 341) dis ini = di sini
(hlm. 362) terpercaya = tepercaya
(hlm. 374) I’m ini this business = I’m in this business
(hlm. 377) Akuluar biasa = Aku luar biasa
(hlm. 378) Kuhentikan langkah dan menundukkan = Kuhentikan langkah dan menunduk = Kuhentikan langkah dan menundukkan kepala
(hlm. 387) Yang pasti dia maaf aku dan ngajak = Yang pasti dia maafin aku dan ngajak
(hlm. 409) kwain = kawin
(hlm. 411) kuungkiri = kumungkiri
(hlm. 414) semakin banyak banyak penghalangnya = pengulangan kata banyak
(hlm. 420) melihatya = melihatnya
(hlm. 420) ber kontak = berkontak
(hlm. 435) mengelilingnya = mengelilinginya
(hlm. 439) ungkiri = mungkiri
(hlm. 441) Di Emma = Dik Emma
Selain sederet typo tersebut, masih ada kesalahan teknis lain yang membuat saya selalu mengernyit. Salah satunya adalah inkonsistensi cetakan italic untuk keseluruhan bahasa dialognya, di mana terkadang ada juga dialog yang tidak dibuat italic. Saya sih tak suka dengan cetakan italic ini. Secara kan sudah ada tanda petik (“) yang mengindikasikan itu kalimat interaktif. Mungkin saya memang pria tradisional yang lebih suka pada pakem resmi, ya? Hehehe.

Kemudian ada juga kalimat ambigu yang sampai dengan saat saya membuat reviu ini, saya tetap tak bisa menafsirkan apa maksudnya:
Sepengetahuan Ibu, dia masih mencintai Nak Bimo tidak mendapat maaf.

Novel Ibunda dan Jane Austen ini buku pertamanya (hlm: Tentang Pengarang).
Uhmmm... apakah ini judul awal sebelum diubah dalam proses pengeditan? Yang jelas, ini fatal, mengingat yang terbit berbeda judulnya dengan yang disebutkan sebagai novel debutan Prima Santika, dan tidak disertakan keterangan soal pergantian judul tersebut.
Tapiii... saya juga suka pada banyak sekali bagian dari novel ini, salah satunya adalah yang ini (hlm. 285):
MENIKAH
Mengapa orang menikah?
Seperti tak takut menderita, tak jera meski bercerai...
Mengapa harus takut menikah?
Semua orang melakukannya, mestinya tak sulit dicapai...

Apa yang kucari dari menikah?
Aku tak mau sendiri di hari tua nanti...
Apa yang terjadi setelah menikah?
Aku tak tau, tak ada yang tau, tapi hidup kadang menuntut untuk berani...
Oiya, novel ini juga seru karena setiap pergantian cerita masing-masing tokoh diberikan jeda semacam puisi dan kutipan-kutipan dari novel-novel Jane Austen yang dihubungkan dengan kondisi yang dialami oleh para tokohnya. Novel ini tersusun atas prolog, dua bagian, sembilan bab, dan epilog. Beberapa judul babnya disesuaikan dengan judul novel Jane Austen. Interesting.

Dengan begitu banyaknya cacat cetak, maka dengan terpaksa saya tidak memberikan bintang di bagian teknis cetakan.

Kesimpulan
Saya suka novel ini. secara keseluruhan empat bintang untuk novel debut cak Prima Santika, arek Suroboyo yang lahir tanggal 14 Maret 1974 ini. Thank you sudah menafsirkan novel-novel Jane Austen ke dalam sebuah novel yang indah ini. Berkat novel Anda, saya makin tak sabar membaca koleksi novel Jane Austen yang saya punya.

Dari sisi pribadi, novel ini berhasil menyentuh relung terdalam saya. Tentang Ibu saya. Tentang umur saya yang tak lagi muda. Tentang saya yang masih juga melajang. Meskipun saya lelaki, tetap saja, terkadang ada juga sebersit rasa getir akibat kesendirian ini mendera saya. Mom, I miss you... SO MUCH! I wish you were here... membimbing saya menemukan belahan jiwa yang masih belum saya tahu di mana dia berada. I need your help, mom.

Selamat membaca, kawan!

Saturday, January 14, 2012

[Book News] Ika Natassa Segera Terbitkan Twivortiare (Sequel Divortiare)

Saya memang tidak mendapat kesan mendalam pada novel Divortiare. Entahlah, saya yang sedang tidak mood baca atau bagaimana, ketika banyak pembaca memuji novel itu, saya justru tak bisa melepaskan jerat pesona A Very Yuppy Wedding yang malah masih dianggap biasa oleh pembaca yang lain. Ugh, apa yang salah pada saya? Mengapa rasa saya berbeda dengan kebanyakan?


Saya sih..., cuek. Ya, mau bagaimana. Saya memang kurang mendapat rasa pada novel itu. Namun demikian, saya tak akan menolak untuk mengoleksi novel apa pun karya Ika Natassa. Sudah nge-fans sih...hehehe. Termasuk novel Twivortiare yang desas-desusnya disebutkan sebagai sequel dari Divortiare. Serius? Tahu dari mana?

Di twitter sih baru-baru ini, Ika membahasnya, tapi saat ini twitternya di-protect. Lha, kenapa? I dunno! Saya juga nggak mengikuti secara intensif, karena saya memang baru aja tahu. Lalu saya mencoba berseluncur dengan bantuan oom Google. Dan ini beberapa blogger yang membahas tentang Twivortiare:

Lagi-lagi, Ika Natassa membuat gue gemas dengan ending ceritanya. Rasanya seperti masih ada yang menggantung walaupun sudah terbayang di kepala gue siapa pemilik hati Alexandra yang sebenarnya. Untung saja menurut kabar terpercaya, Twivortiare, novel yang berisi lanjutan cerita hidupnya Alexandra , bakal segera terbit tahun 2012.

Ceritanya based on sebuah akun fiksi twitter @alexandrarheaw, dimana seolah-olah Alexandra sendiri yang mentwit tentang kelanjutan hidupnya sehari-harinya setelah Divortiare. Jangan tanya gue yaa ini beneran Alex yang ngetwit atau ada adminnya khusus, itu sih tanya aja dah langsung sama penulisnya. Hehee..

Yang pasti, i enjoy Alex’s tweets everyday dan nggak sabar nunggu Twivortiare, karena gue juga sebenarnya nggak mengikuti akun twitter ini dari awal.

So, my friend, sebelum Twivortiare beneran terbit dan lo terhanyut sama cerita hidupnya Alex, ada bagusnya lo baca Divortiare dulu dari sekarang. Bahkan ada nggak ada-nya Twivortiare, i’ll just recomend you to buy and read Divortiare. It’s a very super nice story, you know... ;)
diposting oleh aci_harkina di punyaharkina.blogspot.com



Oh iya, yang bikin saya berlipat – lipat gemas dan nggak sabar adalah karena Ika akan melanjutkan kisah Alex – Beno ini dalam sekuelnya, Twivortiare, yang akan terbit tahun depan. Akankah Alex dan Beno kembali bersama dengan konsep hubungan yang lebih baik? Atau justru menemukan jalan bahagianya masing – masing.

So, jangan sampai melewatkan Twivortiare juga. Sering – sering ngecek daftar rilis buku baru, yah!
diposting oleh @hubsche_petty di hubschepetty.blogspot.com



Sayangnya, buku ini ga memberikan kalian ending seperti yang diharapkan. But, don't worry.. Ika Natassa udah mempersiapkan buku keempatnya yaitu Twivortiare yang isinya adalah tweets dari Alexandra mengenai kelanjutan hubungan mereka. Dan kalo gw lihat, they're starting over.. Account twitternya ada, tapi diprotect. Sayang sekali. Dan akibat membaca divortiare ini, gw ga sabar menunggu Twivortiare terbit buat menjawab pertanyaan Alex, yaitu "can you love and hate someone so much at the same time?".

What do you think?? ;)
diposting oleh silph05 di sunshinesharelove.blogspot.com

 
So, mari ditunggu saja. Kabarnya sih bakal ada pre-ordernya.

[Book News] Cuplikan Novel Metropop Ilana Tan - Sunshine Becomes You

Takjub. Dan, patut diacungi jempol. Calon novel karya Ilana Tan ini benar-benar dimanjakan dengan promosi yang getol sekali, bahkan sejak Desember 2011 silam. Hebatnya lagi, fans yang tak sabar menantikan kehadiran karya terbaru penulis novel metropop berseri laris berlatar musim (season) ini, cukup banyak, terlihat dari antusiasme mereka setiap kali ada kabar baru tentang novel ini. Baiklah, berikut ada secuplik isi dari novel yang diperkirakan akan dirilis awal Februari 2012 nanti.



”Oh, celaka!” Mia terkesiap kaget ketika mengeluarkan ponsel dari tasnya. Alex Hirano sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tetapi Mia tidak menyadarinya karena ponselnya berada di dalam tasnya yang ditinggalkan di kursi penonton. Ia bergegas mengenakan celana jins dan sepatu, lalu berpamitan kepada guru tarinya.

Laki-laki itu pasti marah besar, pikir Mia cemas dan cepat-cepat menelepon Alex Hirano. Mia berlari-lari kecil menyusuri koridor di antara deretan kursi penonton ke arah pintu keluar.

Pada deringan kedua, suara Alex Hirano pun terdengar di ujung sana. ”Clark? Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”

Mia mengernyit. ”Maaf,” katanya cepat. ”Aku tidak mendengar bunyi telepon.”

”Apakah kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?”

”Maaf,” ulang Mia. ”Kau ada di mana sekarang? Aku akan segera ke sana.”

”Berhenti,” kata Alex Hirano tiba-tiba.

Mia otomatis berhenti melangkah walaupun ia tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu. ”Apa?”

”Ya, berhenti seperti itu,” kata Alex. ”Sekarang berputar ke kiri.”

Mia menuruti kata-kata Alex Hirano.

Dan mata Mia melebar kaget ketika melihat Alex Hirano duduk beberapa kursi jauhnya dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu tersenyum kecil kepadanya sambil menurunkan ponsel dari telinga.

Mia mengerjap heran. Pertama, karena Alex Hirano tersenyum. Laki-laki itu belum pernah tersenyum kepadanya selama Mia mengenalnya. Alex memang sering tersenyum hambar dan sinis, tetapi itu tidak bisa dihitung sebagai ”senyuman”, bukan? Kedua, karena Alex Hirano ada di sana. Mia tidak tahu mana yang lebih mengherankan baginya.

”Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Mia sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mencari seseorang yang bisa menjelaskan kenapa Alex Hirano ada di sana, lalu kembali menatap laki-laki itu. ”Sudah berapa lama kau di sini?”

Alex Hirano memasukkan ponselnya ke saku celana dan berkata ringan, ”Omong-omong, kau sudah boleh menurunkan ponselmu.”

Mia tersentak dan menyadari ponselnya masih ditempelkan ke telinga. Ia buru-buru memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia baru ingin mengulangi pertanyaannya ketika Alex menyelanya.

”Jadi itu yang dinamakan tari kontemporer,” gumam Alex sambil memandang ke arah panggung, tempat para penari sibuk berlatih.

Mia tidak tahu apakah Alex Hirano sedang membicarakannya atau para penari di panggung itu. Apakah laki-laki itu melihatnya menari tadi?

”Aku tidak menyangka kau mendengarkan lagu-lagu Italia,” lanjut Alex sambil kembali menoleh ke arah Mia.

Oh ya, laki-laki itu sudah ada di sini ketika Mia menari tadi.

Mia mengangkat bahu dan membalas, ”Aku bahkan tidak menyangka kau tahu lagu itu lagu Italia.”

Alex Hirano menatap Mia dengan mata disipitkan, tetapi kali ini Mia tidak merasa ingin mundur teratur. Tatapan Alex kali ini bukan tatapan dingin dan bermusuhan. Dan omong omong, Alex juga tidak marah-marah karena tidak bisa menghubungi Mia dan terpaksa harus menunggu. Mengherankan sekali.

”Aku ini musisi,” sahut Alex dengan sebersit nada angkuh dalam suaranya. ”Tentu saja aku tahu semua jenis lagu dan musik.”

Mia ingin membalas bahwa bukan musisi saja yang perlu tahu tentang musik. Penari juga perlu. Tetapi saat itu Alex berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari deretan kursi penonton, jadi Mia mengurungkan niatnya dan menyingkir sedikit untuk memberi jalan.

Alex keluar dari teater dan Mia mengikutinya dari belakang. ”Jadi kau sudah bertemu dengan gurumu?” tanya Mia berbasa-basi sambil mengenakan jaket luarnya.

Alex mengangguk. ”Sudah.”

”Gurumu masih ingat padamu?”

”Tentu saja,” sahut Alex dengan nada tersinggung, seolah-olah semua orang di Juilliard pasti tahu siapa dirinya.

Mia tidak berkomentar.

Alex ragu sejenak, lalu akhirnya bertanya, ”Yang tadi itu guru tarimu?”

Mia melirik Alex. Sungguh, laki-laki itu agak berbeda hari ini. Ia mengajaknya mengobrol, padahal biasanya ia hanya akan bicara dengan kalimat pendek dan seperlunya. Sepertinya suasana hati Alex Hirano sedang baik hari ini.

”Ya,” sahut Mia singkat. ”Salah satunya.”

”Dia sangat memujimu tadi.”

”Benarkah?” gumam Mia sambil lalu.

Alex menoleh menatapnya. ”Katanya kau salah satu penari terbaiknya.”

”Oh ya?” Mia mengangkat bahu. ”Banyak penari lain yang lebih baik dariku. Omong-omong, kau mau pergi ke mana sekarang? Pulang? Bagaimana kalau kau tunggu di pintu depan dan aku akan pergi mengambil mobil…”

Alex menggeleng dan menyela, ”Aku belum ingin pulang.”

”Oh? Lalu kau mau pergi ke mana?”

Alex berpikir sejenak. Lalu sekali lagi seulas senyum samar tersungging di bibirnya dan ia berkata, ”Toko musik.”

source: facebook Gramedia

Wednesday, January 11, 2012

[Book Event] Ketemu Winna Efendi

Meet and Greet with Winna Efendi
28 Januari 2012

Thanks to @delisa92 yang sudah nge-RT acara keren ini. Fiuuuh, jadi nggak sabar pengen ikutan. Eh, musti registrasi dulu dink. Jangan sampai saking udah lonjak-lonjak, eh, lupa registrasi jadinya malah ga bisa ketemu ama Winna Efendi, salah satu penulis yang piawai mengolah diksi ini. Saya ingin memintakan tanda-tangan buat buku-buku karyanya yang sudah saya koleksi donk. Saya tak akan mengulangi kesalahan ketika datang ke acara aliaZalea kemarin yang saya nggak bawa bukunya....;(

Oke untuk lebih jelasnya, bagi kamu yang ingin ikutan acaranya, simak pengumumannya di gambar di bawah ini:

[New Release] Three Weddings and Jane Austen by Prima Santika

Tambahkan saja nama Jane Austen di judul novel (atau di dalam ceritanya) niscaya saya akan selalu kepincut untuk membelinya. Seperti novel metropop yang ini. Malam ini tak ada niatan sama sekali untuk membelinya (bahkan saya tak tahu ada novel dengan judul ini diterbitkan). Maka ketika tadi mata saya menangkap setumpuk buku baru dengan judul bahasa Inggris, saya pikir itu novel terjemahan. Tapi, begitu saya balikkan si buku, ada logo metropop di sana. Tanpa pikir dua kali, saya comot novel itu. Plus novel If I Stay-nya Gayle Forman.

Meskipun satu pun novel Jane Austen belum saya baca, namun gegara film The Jane Austen Book Club lah saya menjadi begitu ingin lebih dekat dengan Jane. Saya sudah mengoleksi keenam novel Jane dan juga novel The Jane Austen Book Club yang difilmkan itu, namun saya belum juga membacanya. Yang penting koleksi dulu deh. Hahaha.


Harga : Rp. 58.000,-
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 464 halaman
Terbit : Januari 2012
Cover : Softcover
ISBN : 978-979-22-7898-9

Sinopsis

Tak ada yang lebih membahagiakan seorang ibu daripada melihat anak gadisnya menikah dengan pria baik yang dicintainya.

Seperti memiliki pajangan kristal yang indah dan sangat mahal, memiliki anak gadis dewasa yang belum menikah rasanya selalu dalam kebimbangan. Kalau dipajang, takut dicuri orang. Tapi kalau hanya disimpan, takut tak ada yang tahu. Dan jangan sampai pecah atau hilang, karena kebahagiaan hakiki seorang wanita setelah menjadi ibu adalah menjadi nenek bagi para cucunya.

Ibu Sri memiliki tiga gadis yang belum juga menikah di usia matang mereka. Emma 35 tahun, Meri 30 tahun, dan Lisa 29 tahun. Dia sangat menyukai novel-novel karya Jane Austen dan berpendapat semua masalah percintaan anak-anaknya dapat mengambil suri tauladan yang tersirat dalam novel-novel itu. Namun seperti nasib kebanyakan gadis lajang, cinta tak selalu bersatu dan jodoh tak ada yang tahu. Kini Ibu Sri tak bisa hanya menasihati. Dia harus melakukan sesuatu untuk menolong gadis-gadisnya. Mereka harus melalui derita penyesalan, memaknai kejadian, mengubah keyakinan, dan mengikhlaskan harapan, berharap bahagia akan muncul dalam bentuk pernikahan. Dan buku Jane Austen pun hadir memperlancar proses pendewasaan.


source: www.gramediapustakautama.com

Saturday, January 7, 2012

[Book Event] Sale Historical Romance di Gramedia Matraman

Coba-coba ahhh, siapa tahu saya juga punya ketertarikan sama historical romance atau paranormal romance yang belakangan ini ramai dibicarakan di Indonesia. Sebenarnya saya sudah kepengen mencoba untuk membaca, namun tetap belum sempat membaca satu pun. Nah, hari ini, sebelum mengikuti acara meet and greet aliaZalea di Gramedia Matraman, saya menyempatkan mampir ke bagian diskonan yang diberi nama "Bursa Buku Murah" yang ada di lantai 1.


Dan, surprise ketika ada tambahan space untuk buku-buku historical romance dan paranormal romance yang di-sale seharga Rp15.000 per-buahnya di sana. Ini beberapa buku yang saya comot:

Mungkin bagi Anda yang sudah menyukai novel genre ini dari sejak awal, buku-buku yang di-sale ini sudah Anda miliki semuanya yaa.... Tapi bagi yang baru mau mencoba, seperti saya, atau yang memang belum punya, acara sale ini tentu saja harus dikunjungi. Lumayan lho...soale setahu saya, novel ini harga aslinya Rp55.000 per buahnya.

[Book Event] Ketemu aliaZalea...

Meet & Greet with aliaZalea
Gramedia Matraman, 7 Januari 2012, pkl. 14.00 - 16.00


Menyimak timeline @Gramedia beberapa waktu lalu yang mengabarkan soal acara temu penulis aliaZalea, saya begitu tak sabar menunggu hari Sabtu, 7 Januari 2012, untuk secara live melihat salah satu novelis metropop yang karya-karyanya sedang digemari ini. Maka, ketika urusan dengan beberapa kawan dari Goodreads Indonesia hari ini selesai, saya langsung meluncur ke Gramedia Matraman untuk mengikuti acara yang digelar di lantai 1 toko buku tersebut.


Setelah ngider sebentar dan mencomot beberapa buku HR yang sedang sale, saya segera menuju tempat acara yang telah disiapkan oleh panitia, ternyata masih banyak kursi yang kosong, dan uhuyy...ternyata saya menjadi one and only guy over there, kayaknya. Namun, menjelang jam penyelenggaraan yaitu pukul 14.00, beberapa cowok ikut nimbrung di situ dan pengunjung juga sudah mulai memenuhi kursi yang ada, meskipun juga tidak full terisi. Sayang sekali, mengingat aliaZalea tidak tinggal di Indonesia, sehingga kesempatan ini termasuk kesempatan langka dan sayang jika dilewatkan.

Tepat pukul 14.00, Boim Lebon selaku moderator membuka acara dan mulai memperkenalkan aliaZalea serta rincian acara kepada pengunjung seraya berinteraksi dengan beberapa pengunjung yang terlihat membawa koleksi novel-novel Alia yang sudah dimiliki oleh mereka. Moderator kocak ini juga sempat membacakan profil singkat aliaZalea, meskipun tidak begitu istimewa mengingat yang dibacanya hanyalah sepotong profil Alia yang ada di backcover novelnya. Padahal, saya sudah menyiapkan catatan untuk menulis detail profil penulis Celebrity Wedding ini. #disappointed.

Dalam acara ini, aliaZalea menceritakan (sedikit) informasi tentang keseharian, passion, pekerjaan, tempat tinggal, hingga inspirasinya dalam mendapatkan ide-ide menulisnya. Sayang sekali, informasi yang dibeberkan kurang banyak dan moderator juga tidak memancing Alia untuk bercerita tentang kehidupan pribadinya lebih banyak lagi. Bagi saya, sisi pribadi penulis adalah sesuatu yang menarik untuk lebih menghayati karya-karya tulisnya, sehingga saya akan memiliki pondasi tambahan ketika menjatuhkan penilaian/judgement pada karya-karya mereka.

aliaZalea lahir di Jakarta, berbintang Taurus, dan seorang yang memercayai fengshui, itulah yang menyebabkan ia memilih nama aliaZalea sebagai nama pena-nya. Oiya, aliaZalea itu nama aslinya lho. Yah, kalau dalam penulisan biasa akan ditulis Alia Zalea, dan dengan beberapa pertimbangan ia menyetujui nama aliaZalea sebagai nama pena-nya dengan menekankan bahwa namanya itu harus ditulis dengan huruf “Z” besar di tengah-tengahnya. Saat ini tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia. Berprofesi sebagai dosen mata kuliah psikologi di Sunway University. Mengapa Malaysia? Alia menyebutkan bahwa ia meng-apply untuk mengajar ke Singapura, Malaysia, Indonesia, dan yang paling cepat memberikan tanggapan adalah Sunway University Malaysia sehingga ia memantapkan diri untuk mengajar (sebagai dosen) di Malaysia. Sayang sekali, saya terlupa menanyakan perihal keluarga dan apakah Alia berpindah kewarganegaraan. Mungkin nanti bisa kita poke di facebook-nya yaaa....:)

Penulis yang mengidolakan sang ayah sebagai role model dalam dunia kepenulisan ini juga menyebutkan bahwa ia mendapatkan ide untuk tulisannya bisa dari mana saja. Berinteraksi dengan orang di sekitarnya, menonton film/serial televisi, mendengarkan musik, dan lain sebagainya. Alia menargetkan untuk setidaknya menerbitkan satu buah novel setiap tahunnya. Penyuka serial Vampire Diaries ini tersenyum kecil dan menyatakan masih agak kurang sreg untuk menulis novel dengan tokoh seorang dosen (sebagaimana kehidupan pribadinya) ketika moderator menanyakan hal tersebut padanya. Ia menyebutkan itu nantinya akan telalu apa adanya.

Jika Anda lebih jeli menelisik, hampir seluruh novelnya happy ending, lho? Dan, ternyata memang Alia lebih menyukai mengakhiri kisah yang ditulisnya dengan kebahagiaan karena ia juga tidak menyukai akhir yang menyedihkan. Alia tidak mau membuat pembaca bukunya ikut depresi jika bukunya berakhir dengan kesedihan.

Dan, berikut adalah beberapa pertanyaan dan jawaban dari sesi interaksi dengan pengunjung:

#1. Sinta (Bekasi): Apakah semua novel yang ditulis berhubungan? Alia: yup, hampir seluruh novel yang telah ditulisnya berhubungan, terutama tokoh perempuannya. Termasuk buku kelima yang sedang dikerjakan saat ini.

#2. Sela (Bekasi): Apakah aliaZalea juga sebenarnya menyukai New Kids on The Block (NKOTB) ataukah itu hanya untuk keperluan penguatan karakter di novel? Alia: awalnya tidak begitu notice dengan band itu, namun beberapa tahun lalu Alia mendengarkan lagu-lagu comeback NKOTB dan berikutnya ia ketagihan untuk mendengarkan lagu-lagu mereka yang lain (yang lebih dulu dirilis).

#3. Aman Setiadi: Siapakah tokoh idola dalam dunia kepenulisan? Alia: Bapaknya sendiri adalah role model dalam dunia kepenulisan aliaZalea. Bapaknya adalah seorang penulis tentang akuntansi yang sangat produktif. Alia selalu amazed melihat bagaimana si Bapak begitu bersemangat dalam menulis.

#4. Agnes: Bagaimana cara membagi waktu antara bekerja dan menulis? Alia: untuk saat ini, Alia selalu menyempatkan diri untuk menulis paling tidak 3 jam sehari, tentu saja sepulang dari tugas mengajar. Jika beruntung (dalam keadaan baik) Alia menyebut bahwa dia bisa menulis sebanyak 5 halaman, namun jika tidak beruntung (dalam keadaan kurang baik) maka tak ada yang sanggup ditulisnya.

#5. Ijul: Setelah membaca MissPesimiss saya menyimpulkan Anda suka membuat adegan-adegan yang agak menjurus vulgar, apakah itu ada kaitannya dengan pengalaman Alia tinggal di luar negeri? Alia: tidak juga. Alia menyebut bahwa dewasa ini, hal-hal sebagaimana yang ia gambarkan di novel-novelnya sudah lazim terjadi. Baginya itu bukan vulgar, ia lebih suka menyebutnya seksi. Dan, Alia, selain romantis, adalah penyuka hal-hal yang seksi.

Begitulah beberapa interaksi antara aliaZalea dan pengunjung yang datang ke acara. Sebelum akhir acara, diumumkan beberapa pemenang dari dua kuis yang digelar di facebook dan twitter. Berikut adalah daftar pemenang (sesuai dengan yang disebut). Maaf jika salah menulis.
Pemenang kuis facebook (hadiah paket buku Gramedia @Rp300.000):
1. Sela Ferisa (Jakarta)
2. Achi Asrianti (Bogor)
3. Surya Retnaningrum (Lampung)
Pemenang kuis twitter (hadiah dinner bareng aliaZalea malam ini, 7 Januari 2012)
1. Rosalia Oktariani
2. Saidah Arifah
3. Primasari
Selamat kepada seluruh pemenang.

Bocoran buku kelima:
Karakter yang akan menjadi tokoh utama adalah Dara dan Johan. Nah, berhubung saya baru baca dua novel awal Alia, saya belum ngeh nih sama Dara dan Johan, hehehe. Dijelaskan sih, Johan ini adalah sang drummer di grup musik yang ada di Celebrity Wedding. Garis besarnya: Johan punya seorang adik, berumur 15 tahun, artis, manja, yang sedang memerlukan seorang asisten artis dan Dara-lah yang akhirnya dipilih menjadi sang asisten. Setting: Jakarta. Hmm, kalau boleh nebak kayaknya cerita akan berputar soal cinta Dara-Johan. Is it true? Tunggu saja bukunya terbit yaa...maybe tahun 2012 ini.

Oiya, Alia juga bilang, saat ini novel Crash into You sedang ditawarkan ke salah satu production house untuk bisa difilmkan, namun belum ada konfirmasi sampai saat ini. Semoga secepatnya dapat konfirmasinya. Amiin!

Di pengujung acara, Alia berpesan kepada siapa pun untuk jangan pernah berhenti membaca buku (SETUJU donk!!!) dan usahakan untuk tidak hanya membaca dari satu genre saja agar dapat memperkaya diri dan bagi yang berkeinginan menjadi penulis jangan ragu untuk mengirimkan naskah ke penerbit. Modal nekat saja dulu.

Okayyy...itu dia laporan pandangan mata dari acara meet and greet aliaZalea, penulis yang telah menerbitkan beberapa novel metropop, antara lain: Miss Pesimiss, Blind Date, Crash into You, dan Celebrity Wedding. Tetap produktif menulis, sista!

Dan, sampai ketemu di acara temu penulis yang lain, kawan! Selamat membaca!






Dikarenakan koneksi internet yang sedang melambat, beberapa jepretan lain akan diupload kemuadian...:)

Wednesday, January 4, 2012

[Resensi Novel Teenlit] The Oracle Rebounds by Allison van Diepen

Pada akhirnya, aku kembali lagi padamu...
Read from December 09, 2011 to January 03, 2012
Rating: 2 out of 5 star


Penulis: Allison van Diepen
Format: ebook
Halaman: 208
Rilis: November 2010

Summary
Michaela “Kayla” Cruickshank bukan gadis SMA biasa. Umurnya baru 16 tahun tapi ia telah meretas jalan bisnis dengan membangun sebuah website yang menjajakan layanan konsultasi beragam persoalan seputar kehidupan percintaan remaja (dating) dengan nama samaran the Oracle. Pada tahun keduanya ini, Kayla harus menelan pil pahit ketika Jared, cowoknya dari setahun kemarin, justru meminta putus dengan alasan yang membuat Kayla gondok setengah mati. Maka dimulailah petualangan Kayla untuk membuktikan teori yang pernah ditulisnya tentang rumus memulai hubungan baru setelah putus dari hubungan yang lama.
Nah, berdasarkan hitungan dari rumus yang dibuatnya itu, kayla membutuhkan waktu 62 hari sebelum ia bisa menjalin hubungan dengan cowok lain. Pada masa-masa itu, satu demi satu cowok masuk dalam kehidupannya. Tapi, nyatanya mencari cowok rebound nggak segampang yang ia kira. Belum lagi, secara tak terduga, website yang dikelolanya justru terjebak dalam kontroversi yang berpotensi menghancurkan reputasi yang sudah dibangunnya dari nol itu.

Hmm, membaca teenlit karya Allison van Diepen ini memang manis-manis renyah. Yah, tak beda jauh sama kebanyakan teenlit lainnya, sih. Namun, karena background psikologi populer yang diemban si tokoh utama, tak jarang banyak selipan quotes yang cukup nendang buat para remaja sekalian yang sedang tersaput nuansa merah muda alias dalam masa-masa indah menjalin gita cinta dari SMA. Silakan disimak nasihat-nasihat love-relationship by Kayla di buku ini.

Yang kurang dari novel ini adalah dangkalnya penggalian konflik dan karakter yang ada. Masih hanya di permukaan saja. Bahkan, ending yang happy seolah menggampangkan semuanya. Cowok yang datang dan pergi selama masa ‘kepergian’ Jared di kehidupan Kayla terkadang serasa hanya tempelan belaka. Saya kurang bisa terisap ke dalam nuansa warna kehidupan remaja yang sejatinya penuh dengan goncangan jiwa itu...xixixi.

Yang membuat saya bertahan untuk merampungkan novel ini adalah gaya menulis Allison yang lancar. Ceritanya ngalir, meskipun terkadang perpindahan satu adegan ke adegan yang lain berjalan kurang mulus. Contohnya pas bagian kedatangan seorang cowok exchange student ke rumah Kayla yang suddenly menggelenyarkan kisah asmara singkat di antara keduanya. Buat saya, bagian ini cepat dan kurang membawa arti bagi Kayla. Entahlah, sepertinya cara Allison menyajikan cowok-cowok rebound bagi Kayla kurang smooth dan terasa hanya untuk mengulur waktu untuk akhirnya mempersembahkan cinta sejati bagi Kayla. Sangat mudah tertebak. Sayang sekali. Bahkan, kehadiran teman-teman Kayla juga seolah hanya serupa pemandu sorak yang menggoyang pompom untuk memberikan dukungan pada Kayla tanpa memberikan makna yang cukup dalam bagi kehidupan Kayla.

But, nyatanya saya malah penasaran untuk membaca buku sebelumnya, The Oracle of Dating, hahaha. Saya memang suka gaya menulisnya sih.

Baiklah, selamat membaca, teman!

Monday, January 2, 2012

Kecewa dengan Kemampuan Membaca Novel Metropop Saya di Tahun 2011

Saya dan Segala Ambisi Saya [yang tidak tercapai itu]



Membaca 101 buku dalam rentang waktu satu tahun, saya bilang itu terlalu sedikit. Sudah pasti, banyak yang terlewatkan untuk dinikmati. Sensasinya. Fenomenanya. Getarannya. Semua akan menjadi berbeda jika saja, saya mampu memanfaatkan kesempatan untuk membaca lebih banyak buku.

Yang menyedihkan, bagi saya, untuk tahun ini, ternyata saya hanya mampu merampungkan 5 novel metropop saja. Ini dia buku-buku yang saya baca:

1. Alita@Heart (Alita #2) by Dewie Sekar, dibaca tanggal 8 s.d. 20 Februari 2011, rating: 4
2. I Ordered My Wife From the Universe by Stanley Dirgapradja, dibaca tanggal 2 s.d. 21 Maret 2011, rating: 2
3. Antologi Rasa by Ika Natassa, dibaca tanggal 25 Agustus 2011, rating: 4
4. Fortunata by Ria N. Badaria, dibaca tanggal 24 s.d. 25 November 2011, rating: 1
5. Morning Brew by Nina Addison, dibaca tanggal 15 s.d. 18 Desember 2011, rating: 4

Kalau sudah begini mana mungkin saya bisa mengikrarkan diri sebagai pencinta novel metropop jikalau dalam 365 hari hanya mampu baca 5 buku saja. Oh My GOD! Apa kata dunia, coba?

Padahal cukup banyak novel metropop yang diterbitkan oleh Gramedia di tahun 2011. Berikut adalah daftar buku-buku metropop yang lahir di tahun 2011:

1. Alita@Heart by Dewie Sekar, terbit bulan Februari 2011
2. Quarter Life Dilemma (re-release/ganti cover) by Primadonna Angela, terbit bulan Februari 2011 (edisi asli sudah pernah saya baca)
3. Quarter Life Fear (re-release/ganti cover) by Primadonna Angela, terbit bulan Februari 2011 (edisi asli sudah pernah saya baca)
4. Writer vs. Editor by Ria N. Badaria, terbit bulan Januari 2011
5. I Ordered My Wife From The Universe by Stanley Dirgapradja, terbit bulan Februari 2011
6. Crash into You by aliZalea, terbit bulan Maret 2011
7. Ti Amo, Tia Amoria by Karla M. Nashar, terbit bulan Agustus 2011
8. Antologi Rasa by Ika Natassa, terbit bulan Agustus 2011
9. Cinderella Batavia by Esi Lahur, terbit bulan Agustus 2011
10. Celebrity Wedding by aliaZalea, terbit bulan September 2011
11. Miss Collector by Omadi Pamouz, terbit bulan September 2011
12. Morning Brew by Nina Addison, terbit bulan September 2011
13. Pemburu Cinta by Mya Ye, terbit bulan September 2011
14. Circle of Love by Monica Petra, terbit bulan Desember 2011
15. I Hate Rich Men by Virginia Novita, terbit bulan Desember 2011

Fiuuuhh... 5 dari 15? Ya Alloh. Dan, lagi, satu dari yang lima itu bukan terbit di tahun 2011. Haduhhh, saya makin jauh saja dari berhasil mencapai target saya untuk membaca semua novel metropop yang terbit.

Baiklah, tak perlu lagi bergelimang kekecewaan. Sekarang waktunya diberesin. 2012 ini saya sudah netepinbuat baca 200 buku. Nah, di antaranya akan saya selipkan novel-novel metropop, baik yang terbit sebelum tahun 2012 maupun yang terbit di tahun 2012 ini.

Yeah, mari bulatkan saja tekad. Dan, buat Anda, sesama penikmat novel metropop yang membaca lebih banyak daripada saya, sejuta rasa bangga saya hamburkan kepada Anda. Tetap membaca yaaa...