Monday, May 27, 2013

[Resensi Novel Romance] Macaroon Love by Winda Krisnadefa + Giveaway

Menjadi berbeda itu anugerah...


Pengarang: Winda Krisnadefa
Penyunting: Rini Nurul Badariah
Proofreader: Dina Savitri
Pewajah sampul: Muhammad Usman
Penerbit: Qanita – PT Mizan Pustaka
Tebal: 264 hlm
Harga: Rp49.000
ISBN: 978-602-9225-83-9

Untuk kali kedua, saya diminta Penerbit Mizan untuk menjadi MC sekaligus memoderatori talk show dan peluncuran novel romance dari lini Qanita. Pada kesempatan pertama, tiga novel juara utama yang dirilis, kali ini salah satu novel unggulan yang masuk 10 besar Lomba Qanita Romance 2012/2013 yang diluncurkan. Novel bertajuk Macaroon Love karya Winda Krisnadefa. Dari dua kali kesempatan ini, saya makin terpikat untuk terus membaca dan menikmati novel-novel dari Qanita Romance ini. Semoga ke depan, semakin banyak novel romance berkualitas yang dihadirkan oleh Qanita.

Macaroon Love menjadi salah satu novel yang paling cepat saya baca. Well, awalnya tentu saja termotivasi harus segera menuntaskan baca karena buku ini baru saya dapatkan satu hari (sudah menjelang malam pula) sebelum acara launching-nya, sehingga saya perlu bergegas. Namun, begitu saya membuka lembaran-lembaran halamannya, saya tak bisa menghentikannya. Tanpa bisa saya tahan, mata terus merunuti setiap adegan yang diracik secara apik oleh mbak Winda. Jujur saja, satu bab pertama memang agak sedikit ‘sulit’ buat saya. Entahlah, saya lagi-lagi terjebak kebosanan membaca deskripsi yang terlalu banyak itu. Hal itu masih berlanjut ke bab kedua. Bahkan, saya mulai panik akan gagal menyukai novel ini ketika penulis terus menerus memberikan kalimat penegasan akan karakter utamanya. Saya sampai berdecak kesal dan mendengus, “Mbak, gue udah tau kok Magali ini aneh, tapi ya gak perlu lah tiap berapa paragraf sekali, terus-terusan ada kata ‘aneh’ disebut-sebut terus.”

Sunday, May 26, 2013

[The Sunday Post] Ngemsi, Nonton Pintu Harmonika, dan Siap-siap #BanjirGiveaway

The Sunday Post (*) adalah sebuah rangkuman beberapa hal yang berhubungan dengan buku yang saya lakukan sepanjang Minggu, semacam recap begitu.


Minggu ini sebenarnya minggu menyenangkan, dan seharusnya saya bisa lebih produktif dalam melakukan apa pun, termasuk membaca dan mereviu, namun keinginan tinggallah keinginan. Dua minggu ini saya ditugaskan (kantor) untuk mengikuti sebuah diklat di luar kantor, dengan jadwal berangkat dan pulang yang sedikit lebih longgar. Nyatanya, kelonggaran itu malah membuat saya lebih asyik malas-malasan, hahaha. As usual.

Well, tapi saya tetap bersyukur bisa melewati minggu ini dengan beberapa kegiatan seru. Jadi, saya ngga manyun-manyun amat menjalani hari. Berikut recap dari kegiatan yang saya lakukan.

1.  Menulis artikel WOW-moment pertama. Yayyy...saya happy banget ketika selesai meluncurkan artikel itu kemarin. Obsesi saya menjadi jurnalis bertahun-tahun silam, mungkin memang sudah sulit saya wujudkan. Namun, saya bertekad memanfaatkan ruang dan waktu *ehem* untuk tetap bisa merasai bagaimana sih membuat sebuah artikel yang mirip dengan artikel jurnalistik. Well, saya masih terus belajar sih. Artikelnya ada di sini: WOW-moment: Produktif Atau Kejar Setoran?

2.  Menulis reviu dan menyelenggarakan giveaway novel #CamarBiru karya Nilam Suri. Belakangan saya sedang kecanduan membaca novel-novel romance terbitan Gagas Media dikarenakan belum ada novel metropop baru yang diterbitkan Gramedia. Dan, Camar Biru menjadi salah satu novel terbitan Gagas Media yang saya rekomendasikan untuk dibaca buat pencinta romance yang belum membacanya. Resensi saya ada di sini: Resensi Novel Camar Biru by Nilam Suri + Giveaway.



Friday, May 24, 2013

[WOW-moment] Produktif Atau Kejar Setoran?

WOW-moment adalah satu waktu ketika saya mendapati hal-hal yang menurut saya fenomenal yang membuat mulut saya ternganga takjub dan berkali-kali membisikkan kata WOW, baik secara langsung maupun sekadar dalam hati.

Saya sudah mengalami WOW-moment yang satu ini sejak lama. Well, tidak lama-lama juga sih. Yang paling saya ingat adalah ketika tetiba nama Damien Dematra menyeruak di banyak sampul buku yang bertebaran di rak buku new arrival di toko buku. Ketika pengarang lain sepertinya butuh waktu lama untuk bisa menampakkan namanya di sampul buku terbaru, Damien Dematra hanya butuh ‘sekejap’ saja untuk bisa punya buku baru lagi. Oh, ini hanya ibarat saja karena saat booming Damien Dematra saya hanya ter-WOW dan tak sempat melakukan pengamatan yang lebih mendetail.

Contoh lain yang saya dapatkan lebih banyak diisi nama-nama pengarang baru dari penerbit yang ‘kedengarannya’ juga masih baru. Meskipun, si pengarang ini tampaknya juga punya satu-dua buku yang diterbitkan oleh penerbit besar yang sudah populer.

Belakangan saya terkagum-kagum dengan beberapa nama ini: Riawani Elyta, Orizuka, Aditia Yudis, Yoana Dianika, Indah Hanaco, Monica Petra, Clara Canceriana, dan beberapa nama lain yang mendadak seolah menyerbu toko buku dan hendak ‘menguasai’nya. Maka, beberapa pertanyaan mengusik benak saya. Ada apa sebenarnya? Mengapa pengarang-pengarang tersebut begitu gencar menerbitkan karya-karyanya? Memang produktif ataukah sekadar kejar setoran? Apakah mereka tidak takut popularitas mereka akan surut karena karyanya sudah telanjur dilempar dan mereka tak punya lagi karya menggigit yang bisa ditawarkan di waktu mendatang?

Nah, apakah kamu pernah juga merasai WOW-moment yang seperti ini? Kening mengerut dan pikiran mulai berkecamuk diserbu dilema, “Siapa sih ini? Beli nggak, ya? Tapi, aku belum pernah baca novel-novel dia? Bagus nggak, ya, tulisannya?”

Tuesday, May 21, 2013

[Resensi Novel Romance] Camar Biru by Nilam Suri + Giveaway

Janji sahabat yang mencintaimu...

Aku membutuhkanmu.
Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu-dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketukan bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.

Aku membutuhkanmu.
Ya cinta, ya waktumu. Dan kau sudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.

Aku membutuhkanmu-dan bisa jadi... aku mencintaimu. Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku....

Judul: Camar Biru - cinta tak selalu tepat waktu
Pengarang: Nilam Suri
Editor: Gita Romadhona dan eNHa
Proofreader: Gita
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Tebal: 280 hlm
Harga: Rp45.000
Rilis: 2012 (cetakan ke-1)
ISBN: 979-780-603-0

Saya tahu novel ini semenjak Nilam masih “mengandung”nya. Meskipun tidak mengikuti proses persalinannya, setidaknya saya tahu novel ini saat masih menjadi janin. Dan, ketika novel ini akhirnya lahir dan diterbitkan oleh Gagas Media, saya bahagia untuk Nilam. Well, saya kenal Nilam berkat Goodreads Indonesia. Seingat saya, saat itu ia masih ngantor di femina. Suatu hari, ia mengirimi saya naskah awal novel ini dan mengizinkan saya untuk membacanya. Tapi justru teman satu kos saya yang lebih excited membacanya duluan. Maklum, saya pembaca lambat, jadi begitu terpampang di layar laptop, si teman itu justru yang tekun membaca. Saya butuh beberapa hari untuk menuntaskan bacanya. First impression, I liked it a lot, dengan beberapa pertanyaan saya layangkan pada Nilam.

Saya membaca ulang Camar Biru begitu resmi diterbitkan oleh Gagas Media. My bad. Saya detailnya agak lupa. Apakah ada yang dihilangkan atau ditambahkan ke dalam novel resminya ini. Beruntunglah saya, dengan demikian saya bisa merasai novel ini seperti baru kali pertama baca.

Monday, May 6, 2013

[Fun Games] Rapid Fire Questions

Nah, lagi-lagi saya ketinggalan suka cita hore-hore dari teman-teman Blogger Buku Indonesia. Sepertinya sih semua bermula dari obrolan di Whatsapp group Bajay, ya? Sejak makin ramenya penumpang yang naik ke bajay, saya malah jarang berkomentar sangking seringnya si sopir pontang-panting belok ke gang-gang topik serbaada. Fiuhh...



Oke, saya sambut tantangan Rapid Fire Questions yang sedang hits ini. Plus, dua PR dari Melmarian dan Azia Azmi. Hokehhh.....ready....set....GOOOO....

1. nambah atau ngurangin timbunan?
Selama masih ditempatin Jakarta, berinvestasi dulu deh, nambah timbunan terus sambil dicicil baca, hehehe.

2. pinjam atau beli buku?
Enakan beli, apalagi saat ini kan lagi ada di surga buku (Jakarta) yang banyak tempat beli buku dengan harga miring. Minjem selalu berasa dikejar-kejar deadline, mana saya tergolong pembaca lambat.

3. baca buku atau nonton film?
Dua-duanya. Saling melengkapi lah. Apalagi saya terkadang bisa multitasking, baca sembari nonton :)

Sunday, May 5, 2013

[The Sunday Post] Alex Pettyfer as Christian Grey on Fifty Shades of Grey the movie?

Well, The Sunday Post (*) sebenarnya saya buat untuk merangkum beberapa hal yang berhubungan dengan buku yang saya lakukan sepanjang Minggu. Tapi, beberapa event terjadi satu minggu sebelumnya, berhubung ini baru dibikin, ya sudah dijadikan satu saja.



a. Nonton the unofficial trailer of Fifty Shades of Grey. Wew, saya memang belum baca bukunya, tapi melihat beberapa trailer tak resmi yang dibuat oleh beberapa orang di youtube membuat saya ingin baca bukunya dan nonton filmnya (jika memang diproduksi).



(Rumor) Alex Pettyfer cast as Christian Grey



[Resensi Kumcer Metropop] Simpanan Nyonya Besar by Threes Emir

Menyimpan kesenangan...


Judul: Simpanan Nyonya Besar
Pengarang: Threes Emir
Editor: C. Donna Widjajanto
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 208 hlm
Harga: Rp40.000
Rilis: Maret 2013 (cet. ke-1)
ISBN: 978-979-22-9398-2

Tuhh...kan, saya memang tak berjodoh untuk bisa klik dengan seri metropop yang ini. Sejak buku pertama, Nyonya Besar, dirilis saya sudah mencoba baca, gagal lalu menghibahkan bukunya kepada seorang teman. Kini, saya mencoba lagi untuk membaca salah satu buku, Simpanan Nyonya Besar, dengan alasan terbesar lebih karena kesukaan pada sampulnya yang keren, ternyata masih tak meninggalkan kesan positif setelah membaca.

Sebenarnya, seri metropop ini dapat menjadi semacam buku pembenar dari beberapa imajinasi pengarang novel metropop. Well, saya masih tetap bertanya-tanya jika membaca sebuah novel metropop yang deskripsi hedonismenya sudah melebihi angan seorang saya. “Apa benar ada orang rela menghamburkan jutaan rupiah demi sebuah barang bermerek?”, “Apa benar para sosialita itu menggesek kartu kredit senilai beberapa digit sekali ngopi lucu?”, ”Apa benar demi memuaskan hasrat menjinjing sebuah tas model terbaru harus terbang langsung ke Paris?”. Yah, pertanyaan-pertanyaan cupu dari seseorang seperti saya yang sampai sekarang belum pernah mengalami hal-hal tersebut. Nah, seri metropop ini yang dengan jujur disebutkan sebagian darinya merupakan kisah nyata seharusnya dapat menjawab pertanyaan yang masih selalu bersemayam di benak saya itu.

Wednesday, May 1, 2013

[Resensi Novel Romance] Time Will Tell by Okke Sepatumerah dan Riri Sardjono


Biarkan waktu yang akan menjawabnya...


Pengarang: Okke 'Sepatumerah' & Riri Sardjono
Editor: eNHa
Proofreader: Fitria Sis Nariswari
Penata letak: Dian Novitasari
Desain Sampul: Amanta Nathania
Penerbit: Gagas Media
Tebal: vi+270 hlm
Harga: Rp45.000
Rilis: April 2013 (cet.1)
ISBN: 978-979-780-617-0

Ahh, waktu akhirnya mengantarkan penantian panjang saya untuk bisa lagi menikmati tulisan Riri Sardjono. Well, pengarang yang satu ini memang baru melahirkan dua buku saja, Marriageable dan Tentang Cinta (adaptasi film), dan dari yang dua itu pun saya baru baca yang Marriageable saja. Namun, satu novel itu saja sudah cukup membuat saya jatuh cinta pada gaya tulisan Riri. Dan, betapa bahagianya saya ketika tersiar kabar akan ada buku terbaru Riri yang akan terbit. Sebisanya saya berusaha segera membeli dan membacanya.

Saya tak tahu masuk dalam kreasi jenis apa Time Will Tell di Gagas Media. Jika menjajarkannya dengan proyek GagasDuet yang booming di tahun 2012 kemarin, sepertinya kurang ‘satu ciri’ yaitu di sampulnya yang tidak standar. Oleh karenanya, saya menganggap ini adalah novella duet karya dua penulis Gagas Media yang cukup lama vakum menerbitkan karya. Jika Riri hanya di dua buku yang saya sebut tadi, Okke sebenarnya telah lebih banyak menerbitkan karya. Tapi, Heart’s Block (dan antologi The Journeys, Empat Musim Cinta) sepertinya menjadi karya terakhir Okke sebelum ‘hiatus’ sekian lama. Jadi, novella duet ini semacam oabat penawar rindu akan racikan kedua pengarang ini.

Monday, April 29, 2013

BBI 2nd Giveaway Hop Winner!

Ahhh, saya telat lagi.... #toyorpalasendiri. Harusnya kan ini diumumkan berbarengan dengan temen-temen Blogger Buku Indonesia Sabtu kemarin yaaaa....duhhh, mohon maaf untuk seluruh teman yang sudah ikutan di giveaway kedua dalam rangka ulang tahun BBI tahun ini.

Setelah selesai, saya menyerahkan keputusan pada rafflecofter untuk memilihkan pemenangnya. Dannn....yang terpilih adalah....

Wednesday, April 17, 2013

BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop

Ahhhh, telat kali saya ikut keramaian perayaan 2 tahun eksistensi komunitas keren: Blogger Buku Indonesia (BBI) yang meramaikan dunia perbukuan tanah air. Sudah pasti, di tahun keduanya ini BBI selayaknya anak-anak sudah siap untuk belajar jalan, bahkan mungkin berlari. Jadi, saya berharap ke depan, BBI makin menunjukkan kontribusi positifnya bagi dunia buku Indonesia. Congrats for you, Bebi!

minjem punya Esi: althesia.blogspot.com
Nah, dalam rangka selebrasi 2nd anniversary ini, para member BBI yang mendaftar sebagai host menyelenggarakan giveaway secara serentak yang sebenarnya sudah dimulai sejak Sabtu, 13 April 2013 lalu. Saya pun tak mau ketinggalan keramaian ini, maka dengan ini saya hendak menyelenggarakan giveaway buat kalian yang berminat sama hadiah yang saya sediakan.

Wednesday, April 10, 2013

[Resensi Novel Teenlit] Love Bracelet by Hanna Natasha

Jauhhh dari harapan...

Alvina terpaksa berpisah dengan Christy. Sahabatnya itu pindah ke Jerman. Tapi sebelum pergi, Christy berbagi gelang kembar dengan Alvina.

Beberapa tahun kemudian, saat SMA, Alvina bertemu dengan Farell, murid baru yang langsung jadi perhatian para murid cewek. Anehnya, Alvina merasa tingkah laku Farell sangat mirip dengan Christy.

Yang lebih aneh, Farell tahu soal kotak mainan yang dulu disembunyikan Alvina bersama Christy di taman. Dan Alvina semakin heran saat menemukan gelang kembar milik Christy ada di ransel Farell.

Apakah Farell dan Christy memiliki hubungan?
Apakah mungkin Farell adalah Christy?

Judul: Love Bracelet
Pnegarang: Hanna Natasha
Editor: Desmonia Ningrum
Pewajah sampul: Cecilia Hidayat
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 hlm
Harga: RP35.000
Rilis: April 2013
ISBN: 978-979-22-9447-7
My rating: 1 out of 5 star (apresiasi karena telah menulis novel ini).

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya.....terserah Anda! 
Well, tagline iklan sebuah produk yang sempat populer beberapa tahun silam itu sepertinya cocok untuk menggambarkan betapa sebuah kesan pertama biasanya cenderung menentukan apa yang akan kita dapatkan selanjutnya. Berkat keikutsertaan saya sebagai salah satu juri seleksi pada Lomba Amore 2012/2013, saya mendapat petuah editing yang keren dari editor yang menjadi mentor saya, "Kalau naskah itu gak bisa bikin kamu betah di 20 halaman pertama, apa yang bisa kamu harapkan untuk membuatmu betah baca sampai akhir?" Yap, setuju. Kalau di bab-bab awal saja kita sudah dilanda bosan setegah sekarat, apakah masih ada harapan di tengah hingga ke akhirnya akan ada keindahan yang bisa direngkuh? Mungkin ada sih, tapi sepertinya probabilitasnya sangat jarang.

Saya begitu terpikat dengan gaya menulis Hanna Natasha ketika selesai membaca Runner-Up Girl, novel teen lit debutan Hanna tahun lalu. Tak tanggung-tanggung, 4 bintang saya sematkan pada novel itu. Dengan kesan pertama yang sedemikian menggoda, tentu saja saya langsung melambungkan harapan bahwa novel kedua Hanna akan bagus banget atau setidaknya setara bagusnya dengan novel pertamanya itu. Yah, kalau nggak bagus dari segi cerita pun, seharusnya masih bisa memukau dari segi tulisan. Hasilnya? NOL BESAR!

Saya sampai mual rasanya membaca novel Love Bracelet ini, *mulai lebay-mulai drama*. Sejak mengintip-baca pertama kali sehabis membeli (untung diskon 30%), saya langsung melotot ternganga. Dan, lalu mencoba melihat kembali ke sampul depannya. Okay, ini serius tulisan Hanna? Hanna Natasha yang saya suka tahun lalu? OH, GOD, beneran ini tulisan dia. Tapi kenapa jadi amburadul begini? Help me, GOD!

Jujur, saya hanya membaca sampai halaman 90-an, itu pun sebagian besar skimming. Lalu langsung meloncat ke bagian akhir menjelang epilog untuk sekadar tahu, apa sih yang sebenarnya diangkat oleh sang pengarang. Wow, keren sebenarnya tema yang diangkat. Semacam Luna-nya Julie Anne Peters. Saya nggak akan spoil di sini, karena menurut saya HANYA itu kekuatan yang dimiliki novel ini. Selebihnya, saya kecewa berat dengan novel ini. Dari segi tulisan, plot, subplot, karakterisasi, setting lokasi dan waktu, sampai dengan konfliknya kacau banget, man! Apa saya lagi-lagi musti maklum kalau ini tuh teen lit yang pangsa pasarnya TEEN di mana kejadian absurd pun bisa terjadi? Ya...kalau begitu saya mau apa? Kalau saya cukup menempatkan diri sebagai pembaca saja boleh, kan? Pembaca yang terpikat di novel sebelumnya sehingga dengan antusias berlebihan membeli novel berikutnya, lalu lemas dan kecewa supermampus ketika membacanya.

Okay, saya tak akan mengupas lebih dalam lagi tentang novel teen lit ini. Karena yang ada nanti cuman sumpah-serapah. Lagipula, saya pun nggak yang dengan mulus membaca kalimat per kalimatnya. Yang terang, mungkin saya harus berpikir puluhan kali dulu untuk membeli karya sang pengarang ini selanjutnya. Atauuuu...seharusnya saya test case dengan membaca sedikit bagian novelnya dulu sebelum membelinya.

Tuesday, April 9, 2013

[Resensi Kumcer] Autumn Once More by Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, dkk


Heaven really knows what’s best for us...


Pengarang: Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, Hetih Rusli, Anastasia Aemilia, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Lea Agustina Citra, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan.
Penyunting: Tim Editor GPU
Pewajah sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 232 hlm
Harga: Rp40.000
Rilis: April 2013
ISBN: 978-979-22-9471-2

Setahu saya, Autumn Once More merupakan kumpulan cerita pendek (kumcer) bergenre metropop pertama yang ditulis secara keroyokan oleh beberapa novelis metropop dan editor GPU. Sedangkan untuk kumcer metropop sendiri sebenarnya sudah ada sejak Jakarta Kafe-nya Tatyana, sampai dengan serial Metropolitan (Nyonya Besar, Tuan Besar, Roman Orang Metropolitan, dsb) karya Threes Emir.

Daya pikat utama yang membuat kumcer ini istimewa tentu saja jajaran para penyumbang tulisannya. Siapa yang tak kenal nama-nama besar semacam Ilana Tan, aliaZalea, atau Ika Natassa? Ketiga penulis tersebut, menurut saya, termasuk novelis metropop terpopuler yang buku-bukunya superlaris bak kacang goreng di pasaran buku Indonesia. Bahkan, menurut mbak Hetih, salah seorang editor GPU, menyebutkan bahwa novelnya Ilana Tan sudah cetak ulang untuk yang ke-26 kali. WOW.