Thursday, November 5, 2009

Pameran Buku: Hari Pertama Indonesia Book Fair 2009

Alhamdulillah, saya kemarin (Selasa, 04 Nopember 2009) berkesempatan untuk berkunjung ke Indonesia Book Fair 2009 (IBF 2009) yang dihelat di Jakarta Convention Center (JCC), meskipun hanya sebentar saja.

Saya berangkat selepas jam kantor dan sampai di JCC tepat ketika azan mahgrib selesai dikumandangkan. Oleh sebab itu, setelah membeli tiket masuk (harga: Rp5.000, sudah bisa untuk masuk ke pameran komputer Indocomtech-nya juga) di counter resminya yang persis berada di depan gerbang utama IBF 2009, saya bergegas mencari tempat sholat yang disediakan di JCC. Setelah bertanya kepada seorang bapak petugas keamanan, saya berhasil mencapai masjid yang berada di basement.

Selesai maghrib-an saya langsung berkeliling dari satu stand ke stand yang lain. Saya memuaskan “lapar-mata” saya dengan melirik tumpukan demi tumpukan, judul per judul, buku yang ditata sedemikian rupa oleh masing-masing pemilik stand. Tak lupa, saya juga melempar pandang menyelidik ke segala arah mencari banner-banner yang menginformasikan besaran discount yang berani mereka tawarkan. 10%. 15%. 25%. 30%. Hingga ada yang menulis 80%. Hmm… menggiurkan.

Jenis buku yang ada juga beragam. Sesuai dengan ciri khas masing-masing stand. Ada yang khusus menawarkan buku keagamaan, buku anak-anak, buku psikologi populer, novel-novel, buku elektronik dan komputer, majalah, komik, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di samping itu, juga ada stand-stand khusus semisal yang menjual aksesoris belajar, mainan anak-anak, video edukasi , tas, kerajinan tangan, dan sebagainya. Kategori buku juga ada yang lokal dan ada juga yang impor (
buku impor serba lima ribuan juga ada!)

Saya dari awal sudah berniat mengunjungi stand Gramedia terlebih dahulu. Biasa, mencari novel metropop. Setelah berkeliling sebentar, saya menemukan stand Gramedia dekat pintu masuk pameran IBF 2009 (bukan pintu gerbang utama). Ternyata yang disediakan di stand sana tidak selengkap yang saya harapkan. Memang disediakan satu rak khusus novel-novel metropop (dan chicklit, dan teenlit), namun tidak banyak judul yang ditawarkan. Yang saya ingat adalah beberapa judul novel Andrei Aksana, Retni SB, Tria Barmawi, Alberthiene Endah, Syahmedi Dean (A.M.S.A.T. juga ada!) dan beberapa lagi lainnya. Kebanyakan saya sudah punya, jadi saya tidak membelinya. Yang akhirnya saya beli adalah novel lanjutan karya Lusiwulan, Zizi: Saksi Bulan Madu, padahal novel pertamanya saja belum saya baca (yang bikin kaget, oh ini baru rilis ya???), If-nya Efi Ervianti, Konser-nya Meliana K. Tansri, dan beberapa buku lain titipan teman. Lumayan, untuk bahan bacaan bulan Nopember ini.

Secara khusus, saya lebih menyukai gelaran Pesta Buku Jakarta atau Islamic Book Fair yang diadakan di Istora Senayan. Selain karena bebas tiket masuk alias gratisan, juga area-nya terasa lebih luas, sehingga peserta pameran lebih banyak. Yang saya catat juga, mungkin karena baru hari pertama, IBF 2009 masih agak sepi. Mungkin juga karena jam berkunjung yang sudah malam dan berdekatan dengan waktu sholat. Catatan terakhir, dari pintu gerbang masuk Gelora Bungk Karno yang dekat dengan halte busway Polda Metro, tidak nampak ada umbul-umbul/spanduk terpasang, padahal biasanya selalu marak ketika ada hajatan di JCC.

Namun demikian, saya cukup senang, karena mengingat kondisi ekonomi yang masih lesu dan tak menentu begini, masih ada yang berinisiatif menggelar pameran seperti ini.

Maju terus perbukuan Indonesia!

Catatan: berhubung saya masih kelupaan menaruh kabel data kamera, beberapa hasil jepretan saya di arena pameran belum bisa saya sertakan. Mudah-mudah nanti bisa saya unggah ke sini.

Wednesday, November 4, 2009

Pameran Buku: Indonesia Book Fair 2009


Bagi para pecinta buku di Jakarta (maupun luar Jakarta yang berkenan ke Jakarta dalam bulan Nopember 2009 ini), jangan sampai terlupa untuk berkunjung ke gelaran Indonesia Book Fair 2009 yang diselenggarakan oleh PT Dyandra Promosindo di Jakarta Convention Center, yang kebetulan berbarengan dengan pameran komputer Indocomtech 2009. Biasanya, peserta pameran memberikan discount yang lumayan pada buku-buku yang mereka tawarkan. Semoga saja saya juga bisa menambah koleksi buku saya kali ini.

Sayang, saya sudah mencoba searching terbatas menggunakan bantuan Oom Google, tidak berhasil menemukan situs resmi dari penyelenggara pameran buku tersebut *update* Akhirnya saya menemukan juga situs resmi penyelenggara Indonesia Book Fair 2009. Silakan klik di sini untuk keterangan selengkapnya tentang IBF 2009. Bagi yang ingin melongok situs resmi penyelenggara Indocomtech 2009 untuk mencari info acara, harga tiket, dan denah lokasi, silakan klik di sini.


INDOCOMTECH 2009
• Dyandra Promosindo, PT
4 Nov 2009 - 8 Nov 2009
Cendrawasih Room 1/1
Exhibition Hall A + B
Exhibition

Indonesia Book Fair 2009
• Dyandra Promosindo, PT
4 Nov 2009 - 8 Nov 2009
Assembly Hall 1,2,3
Main Lobby
Plenary Hall (Grd Flr)
Exhibition

Sunday, November 1, 2009

Resensi Novel Metropop: Syahmedi Dean - A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh)

Sebuah akhir yang mencengangkan


Judul: A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Air Teh)
Pengarang: Syahmedi Dean
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop, Novel Dewasa
Tebal: 304 halaman
Harga (Toko): Rp55.000
Rilis: Oktober 2009 (cet. 1)

Sebelum saya melantur kemana-mana, saya ingin bilang terlebih dahulu, BURUAN BELI NOVEL INI. HIGHLY RECOMMENDED bangets deh!!!

Fantastis. Extra ordinary. So unpredictable. GOD, I just love this novel.

Yeah, sejak Cewek Matre-nya Alberthiene Endah saya belum pernah lagi merasakan sebegitu bersemangatnya membahas dan berusaha keras menyimpan tiap detail isi dari sebuah buku, sampai terbitnya novel keempat (terakhirkah????) dari seri Fashion Journalistic-nya Syahmedi Dean ini. Rasanya sejumlah rupiah yang saya tukarkan dengan novel ini benar-benar terbayar impas. Wew…

Hahahaha. Unobjective banget ya??? Belum apa-apa sudah memuji setinggi langit begitu. Don’t know why. My hands up! kalo kata Nelly Furtado,”manos al aire.” Novel ini memang keren. Sumpah! Sangat di luar perkiraan saya. Bagaimana tidak, tiga novel pendahulunya telah menjejakkan citra bagaimana saya harus menyimpulkan sebuah novel karya Syahmedi Dean. Yaitu, novel metro-urban-modern yang kebanyakan ngomongin barang fashion dengan segala detailnya berbau fashion. Dengan kata lain, novelnya cukup buat having fun. Just an entertainment book!

Secara packaging, novel ini tidak meninggalkan cetakan dari tiga novel sebelumnya. Masih tetap sama banyaknya dalam hal menampilkan barang-barang fashion. Sebutan merk tas-baju-sepatu-lipstick and so on yang terkadang agak lebay. Tapi itulah istimewanya novel-novelnya Syahmedi Dean. Bagi sebagian pembaca perempuan, cukup dengan merampungkan serinya Syahmedi Dean, dijamin tidak bakal lagi dongo kalau mendengar orang menyebut Bally (bukan Bali), Birkin, atau Louis Vuitton. Minimal, tidak akan lagi shock dan berseru, “ih lucu, makanan apa itu?”

Gaya bahasa yang lebay (berlebihan) yang digunakan Syahmedi memang bagai pisau bermata dua, bagi saya. Di satu sisi agak-agak annoying, tapi di sisi lain juga memberikan efek yang menyegarkan. Sama halnya ketika saya membaca She’ll Take It-nya Mary Carter. Penjelesannya mbleber kemana-mana, tapi sayang kalau dilewatkan.

Biasanya pula, saya paling tidak suka dengan tokoh yang “mendadak” mendapat jatah aktualisasi diri padahal garis besar novel bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Janggal saja, tiba-tiba si A diberikan line, sedangkan tokoh utama sama sekali tidak ada dalam adegan tersebut. Namun, dalam novel Syahmedi, cara pemberian porsinya cukup ‘mulus’. Tidak mengesankan narsisme dari tokoh tersebut, sehingga jauh dari kesan janggal.

Dari keseluruhan empat novelnya, novel keempat ini memberikan kesan paling mendalam bagi saya. The best lah dari tiga lainnya. Terutama dari plot dan isinya.

Dari novel pertama, L.S.D.L.F. (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion), Syahmedi mengenalkan jungkir baliknya dunia balik layar dari produksi sebuah majalah lifestyle. Novel kedua, J.P.V.F.K. (Jakarta Paris via French Kiss), para tokohnya mulai dikenalkan pada konflik yang lebih beragam dengan tetap tak meninggalkan gemerlapnya dunia mode. Pada novel ketiga, P.G.D.P.C. (Pengantin Gipsy dan Penipu Cinta), para tokohnya dihujani dengan masalah-masalah pelik yang menguji sejauh mana persabahatan mereka. Dan, akhirnya, di novel pamungkasnya ini, A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh), para tokohnya bermetamorfosis mencapai kejatidirian mereka masing-masing. Menemukan jawab atas salah satu pertanyaan penting dalam hidup, “siapa aku yang sebenarnya?”

Meskipun agak terlambat, novel ini cukup up to date dengan sentilan soal hiruk-pikuk panggung politik (pemilu dan caleg), sepak terjang KPK, kasus-kasus korupsi bertaraf nasional semacam kasus alih fungsi hutan lindung di Sumatera, dan demo pengrusakan kantor penerbitan yang menurunkan berita berbau pornografi (jadi ingat kasus majalah Playboy). Maka, lumrah saja ketika saya menyematkan pujian bahwa novel ini cukup padat berisi. Fashion-politik-relijius.
Yup, yang membuat saya cukup terkagum adalah kepiawaian Syahmedi menyelipkan isu keagamaan dalam kilau dunia mode yang diciptakannya. Pun, cara penyampaiannya juga tidak terkesan menggurui dan terlihat sekali Syahmedi mencoba membahas masalah agama itu dari dua sisi, pro dan kontra. Kalau sudah begitu, tinggal pembaca sendiri yang menentukan, mau ikut yang pro atau yang kontra.

Yang perlu dicatat lagi dari novel ini adalah banyaknya flashback dari masing-masing tokohnya. Saya sempat bosan (sedikit) ketika pada lembar-lembar awal, kebanyakan isi halamannya adalah renungan-renungan masa lalu dari masing-masing tokoh. Memang perlu sih untuk menjembatani dengan masa depan mereka, hanya saja, saya memang agak kurang sabaran kalau orang sudah cerita (melulu) tentang masa lalu. Apalagi, kebiasaan Syahmedi yang mendetailkan segala sesuatu, makin membuat saya ingin buru-buru skip dan lanjut ke halaman berikutnya.

Anyway, terima kasih Syahmedi, terima kasih editor, terima kasih tim penerbitan Gramedia, saya luput mendapati adanya salah cetak pada novel ini. Thank GOD! Entah saya yang kurang awas karena terlalu excited terhadap novelnya atau memang benar-benar tidak ada masalah teknis begituan. Dunno.

Hmm… dari novel ini saya punya dua part (quote) yang paling saya suka. Yang pertama, telah saya pampang di sidebar blog saya ini dalam kolom My Favorite Quote. Yang kedua, adalah ini:
Bertolak belakang antara siang dan malam. Siang preman, malam ayah yang baik. Siang selingkuh, malam istri yang budiman. Siang karyawan yang rajin, malam menggampari istri.
Halaman 183

Menohok sekali. Tepat menggambarkan orang-orang yang secara sadar atau tidak seringkali menampilkan dua muka yang berbeda untuk dua waktu yang berbeda pula. Siang dan malam. Baik dan buruk. Salah dan benar. Termasuk saya juga, mungkin, hehehehe....

Dua hal yang menjadi topik penting novel keempat Syahmedi ini adalah ‘bulan’ dan ‘teh’. Secara judulnya juga ada menyangkut teh-teh-nya, maka tak heran kalau teh menjadi primadona di novel ini, bahkan hampir seluruh tokohnya (utama atau figuran), disengaja atau tidak, setiap beradegan minum, pasti pesannya teh. Hmm… kenapa selera orang bisa digeneralisir begitu, ya? Dan, ngomong-ngomong sampai selesai membaca novel ini saya masih nggak tahu juga, apa maksud setuang air teh? Ahhh…mungkin saya harus membaca ulang sekali lagi sembari menuang secangkir teh aroma melati, baru saya tahu apa maksudnya. Hmm… sedap, kedengarannya.

Selamat membaca. Dan, hey, jangan jantungan ya… novel ini benar-benar memberikan full of surprises!!!

Rating-nya 4,5 out 5 stars, lah…

Sinopsis
Siapa yang menggerakkan skenario perjalanan hidup? Sebuah kota? Profesi? Alam pikiran? Atau cinta? Empat sahabat mencari-cari keriaan hari ini dengan mengejar cinta dan mempertanyakan masa lalu. Mereka berprofesi sebagai wartawan, berkesempatan mendirikan sebuah majalah, satu kesibukan urban yang membawa mereka ke ujian persahabatan, penemuan jati diri, dan dilema tepi-tepi hidup.

Alif:
Mata saya tajam terbuka, merasakan dengan nyata kosmik energi, merasakan kuatnya medan magnet yang terjadi. Pelan-pelan ada cairan lain yang naik ke saraf-saraf otak, rasa gusar, kesal, marah. Apakah kosmik energi penyebab rusaknya kehidupan cinta saya? Setiap pekan purnama tiba orang-orang akan bergairah, serbaimpulsif. Mudah marah, mudah sedih, mudah jatuh cinta, mudah berbelanja, mudah dramatis, mudah cemburu. Orang-orang kehilangan keseimbangan, orang-orang cenderung lunatic, kebulan-bulanan. Saya mengerti keadaan ini.

Raisa:
Ia tak pernah tahu bahwa seharusnya, jika berada dalam rapat apa pun di dunia ini, sangat berlaku hukum "You are what you said." Nah, kalau tak pandai berkelit, pakailah aliran "Silence is golden". Sehingga jati diri tidak perlu terasa seperti akan lumer ke lantai, merosot ke kaki-kaki meja, dan secara politis habis diinjak-injak forum. Ia ingat ekspresi semua peserta rapat waktu itu, mereka tersenyum bahagia penuh kepuasan. Pelajaran yang ia dapat dari kejadian memalukan itu adalah: when everybody is happy, you know you done something wrong.

Didi:
Kota Jakarta ini apa masih layak huni? Ngeri banget Jakarta sekarang. Kalau nanti gue terkenal karena jadi creative director sukses, apakah gue aman? Gue harus berjuang dari kemungkinan penembakan seperti ini. Kemungkinan pembunuhan, penggarongan, kemacetan, kebanjiran, penipuan, penggusuran, rombongan kampanye, massa sepakbola, fashion criminals, Chanel limited edition, Louis Vuitton New Arrival, Gucci Piracy, dress code betrayal...

Nisa:
Itu suara Alif. Azan. Komat. Ah, anakku, Mama belum sempat lihat kamu. Bagaimana rupamu? Bagaimana hidungmu? Bagaimana senyummu? Kamu pasti aman di situ, ada Oom Alif, teman Mama yang paling peduli dengan Mama. Kamu pasti senang dengar suara azan Oom Alif. Mama jadi rindu, tapi Mama belum bisa lihat kamu. Mama seperti terbang. Mama hanya bisa merasakan getaran jiwamu yang bening dan bersih. Oh, inikah mati? Tubuh terasa ringan sekali. Tanpa beban fisik. Merdeka dari keterbatasan. Fisik adalah penjara seumur hidup, penjara yang lemah, yang tak mampu menghadapi cuaca, yang tak bisa pergi tinggi-tinggi karena akan ditarik kencang oleh gravitasi bumi.
Sinopsis dan gambar diambil dari situs http://gramedia.com

Monday, September 7, 2009

Resensi Novel Metropop: (Repost) tere liye - The Gogons, James and Incedibles Incidents

Tragedi demi tragedi dari para sahabat sejati


Gimana ya, nyesek deh abis baca nih novel. Bukan kecewa tapi malahan putus asa. Loh? Apaan sih? Maksudnya, nih novel sukses ngaduk-ngaduk emosi gua. Tragedi demi tragedi yang diciptain ama pengarangnya berhasil menjerat gua. Terutama kata keramatnya "sebuah siklus pengorbanan yang indah". Keren.

Gua kadang dibikin ngikik geli (baca sendirian gak berani ketawa, ntar dikira gila kan berabe), kadang dibikin pengin nangis (sumpah!!) dan kadang dibikin ngikik geli plus mewek (serius). Sekaligus. Deuu...segitunya. Tapi bener kok. Tau yak, gua orangnya emank gampang banget kebawa perasaan, gampang kepengaruh, terutama ama kata-kata yang bagus.

Awal baca gua rada gak respect sebenernya. Bahasa yang standar, dialog yang kadang datar, bahkan cerita yang (menurut gua) nggak logis (bener nggak sih ada orang yang tinggal beberapa meter aja dari komodo buas nan ganas bisa lolos?? Will you say it's a miracle?). But, pelan tapi pasti gua mulai kesedot ama critanya. Konflik yang sambung menyambung (mumet juga sih) bikin gua (yang notabene suka novel full-konflik kek gini) nggak bisa berenti baca, sampai akhir tentunya. Ngeri sebenernya. Gua yang juga punya genk, lima orang juga, nggak pengin lah dapet masalah "superserius" kek gitu. Nggak ngerti deh gimana bisa ngatasinnya.

Benang merah nih novel adalah sobatan lima orang yang diiket gara-gara inisial nama depan mereka yang kesemuanya "A" (sebagian nama panggilan). James, Ari, Diar, Adi, dan Dito. Sorry ya gua lupa penjelasan penulis tentang keterdekatan inisial "A" dengan tokoh James, Diar dan Dito. Ntar deh gua klarifikasi lagi. Hehehe.....

Mereka segenk gila-gilaan sejak kuliah. Yah untung aja, kadar gila mereka nggak sampai menjerumus ke hal-hal yang negatif. Semuanya lurus aja. Kekompakan mereka nggak diragukan lagi. Diibaratkan mereka dah mengenal luar-dalam satu sama lain, katanya (nyatanya rahasia masing-masing tetep menjadi rahasia sendiri). Adegan dibuka dengan hiruk pikuk kedatangan gerombolan the gogons (oh ya the gogons sendiri itu sekadar nama saja, tapi biasanya digunakan untuk memanggil satu sama laen. Kalo jamak, semua anggota, disapa Gons. Kalo tunggal, satu anggota, disapa Gon) ke Bali untuk menghadiri resepsi pernikahan Adi (istri Adi namanya Made, anak seorang konglomerat di Bali). Ada Dahlia dan Citra yang juga menyertai mereka. Perasaan seneng bisa ke Bali akhirnya bikin keki the gogons, soalnya secara sepihak Adi menunjuk mereka menjadi pagar bagus. Awal yang ceria inilah yang bikin gua sedikit canggung untuk melanjutkan membaca novel dari genre Metropop keluaran Gramedia ini. Untung gua paksain karena selanjutnya satu demi satu kejutan mengerikan berdatangan. Secara berurutan. Seperti emank sudah ada daftar antreannya. Mulai dari Diar yang meninggal akibat diabetes stadium lanjut, Azhar dan Dahlia yang kecelakaan (padahal saat itu cinta mereka mulai mekar sempuna), Dito yang ternyata diperalat kenalan cewek bulenya untuk membawa paket heroin seberat 4,9 kg (gila.....dahsyat banget konflik yang ini), Adi yang terus saja bersitegang dengan mertuanya karena ngotot pindah ke Jakarta, Ari yang merupakan anggota the gogons paling cakap, pintar, mendadak jadi gila, dan James yang terbelit untuk kembali menelusuri masa lalunya. Masa lalu cinta pertamanya, dengan Weni. Hoaoaoahh.....gua sampai ngelus dada di endingnya. Merinding euy.

Tapi, kisah-kisah menyedihkan ini belumlah berujung. Penulis memang menargetkan novel ini untuk berseri. Seri berikutnya, sesuai catatan di epilog, mengambil tajuk Dito & The Prison of Love. Berarti Dito yang nanti bakal lebih sering disorot, setelah yang pertama ini James.

Sisi lemah novel ini cuman di editannya yang kurang rapi. Beberapa kata salah cetak. Dan beberapa kalimat terasa janggal. Seperti yang ini "Apakah semua maksud ini?" (gua lupa ada di halaman berapa). Apa nggak sebaiknya "Apakah maksud semua ini?"?...

Tapi mau nggak mau gua ngasih bintang empat buat serentetan konflik yang pasti bagi gua gak pernah kepikiran sebelumnya.

Congratz

Catatan: tulisan ini saya posting di http://bukabuku.multiply.com (14 April 2006)

Resensi Novel Chicklit: (Repost) Karen Quinn - The Ivy Chronicles:

Gara-gara Anak TK!

Published by C!Publishing
Page 441+xiii
Price (Gramedia Banjarmasin) Rp. 55.600,00

Seru?
.....Sudah pasti!
Gokil?
.....Jelas!
Edan?
.....Iya!

Bayangin aja, mo masukin anak ke TK aja musti nyewa seorang penasihat dengan tarif $20 ribu....gila nggak tuh?

Si author (plus penerbit) bilang bahwa ide cerita ini memang dibangun dari kisah hidup nyata si penulis sendiri, yang memang pernah menjalani profesi sebagai penasihat pendidikan dalam penerimaan siswa sekolah Taman Kanak-Kanak.

The Story:

Ivy Ames, adalah seorang perempuan Yahudi, mapan, matang (di awal 40an) yang telah mencapai puncak kejayaan hidup yang dicita-citakan. Trauma masa kecil akibat perceraian orang tua dan hidup serba kekurangan a.k.a miskin banget membuatnya gigih berjuang untuk meraih kehidupan mewah yang selalu diangankannya.

Setelah lulus dari Yale (berkat beasiswa yang diterimanya) Ivy langsung diterima bekerja di Myoki Bank, sebuah bank bergengsi di kota New York. Empat belas tahun mengabdi di sana, mengantarkan Ivy menduduki jabatan yang cukup mentereng. Kebahagiaannya begitu lengkap dengan keharmonisan keluarganya (dua orang putri yang manis, suami yang tampan meskipun baru saja kena PHK dari pekerjaannya sebagai seorang pialang), apartemen mewah di kawasan Fifth Avenue, dan segala kemewahan lain yang membuatnya nyaman dalam menjalani kehidupan.

Tetapi, belum lama ia mencecap semua itu, badai yang tak terkira besarnya menghantam kehidupan Ivy. Ia dipecat. Kemudian di hari pemecatannya, Ivy menangkap basah suaminya berselingkuh dengan istri rivalnya di kantor. Tak hanya itu, ia juga harus menjual apartemen mewahnya, memecat seluruh pembantunya, memindahkan dua putrinya dari sekolah swasta yang mahal ke sekolah negeri di daerah pinggiran. Ivy beserta kedua putrinya pun terpaksa pindah ke daerah pinggiran Manhattan. Satu atap dengan beberapa tetangga yang dalam hari-hari selanjutnya ikut mewarnai kehidupannya.....termasuk urusan cinta dan....seks. Juga ada cerita soal romantisme hati sapi cincang.....

Untunglah, Ivy punya teman berhati malaikat, Faith yang begitu beruntung dinikahi seorang miliuner dengan harta berlimpah. Berkat Faith, Ivy menemukan cara untuk membiayai hidupnya dan hidup kedua putrinya. Yaitu menjalani profesi sebagai penasihat penerimaan siswa di sekolah swasta dengan tarif $20 ribu per klien.

Awalnya, bisnis ini tersendat-sendat, karena Ivy memang belum punya pengalaman apa-apa. Ia hanya mendapatkan sedikit bimbingan dari mantan bawahannya di Myoki Bank, Tipper Bucket, yang sekarang bekerja di bagian penerimaan di sekolah Harvard Day. Tapi karena sebuah insiden yang tak terduga, yang membuat kepala sekolah Harvard Day meninggal, dan Tipper diangkat menjadi penggantinya, bisnis Ivy meledak. Bahkan tanpa beriklan lagi, Ivy langsung mendapat beberapa klien yang cukup beragam. Ada klien yang seorang petinggi perusahaan penerbitan terbesar di Amerika (bahkan dunia), ada klien yang lesbian, ada klien yang seorang janda setengah frustasi yang tahun lalu gagal memasukkan putri semata wayangnya ke 35 sekolah, ada klien yang seorang pembantu baik hati, ada klien yang seorang mafia, dan ada pula klien yang suka mengancam akan membunuhnya. Benar-benar membuat Ivy pontang-panting. Jadi, bagaimana Ivy menjalankan bisnisnya? Apakah seluruh bocah dari kliennya dapat diterima di sekolah pilihan mereka? Keknya harus baca sendiri deh. Gak seru kan, kalo gua bocorin semuanya...

Huaaa....gua jadi berdebar-debar loh bacanya. Full of surprises! pokoknya....
Cuman sekali lagi, gua terbentur ama banyaknya kultur budaya asing yang nggak masuk di akal gua (bayangin aja anak umur empat tahun udah ngomongin soal penis dan vagina....OMG....syukur banget gua hidup di Indonesia)....
Novel ini juga cukup vokal bicara soal agama, terutama Yahudi, dan isu rasial.
Dari segi translatenya, not bad. Bahkan cukup bagus, menurut gua. Nggak kalah keren deh ama karya-karya terjemahan GPU.
Untuk yang udah ngelirak-ngelirik nih buku setiap jalan ke bookstore, gua saranin comot aja. Laik banget kok buat dibaca dan dikoleksi.

Enjoy Reading!!!

Catatan: tulisan ini saya posting di http://bukabuku.multiply.com (15 Agustus 2006)

Resensi Novel Metropop: (Repost) Ilana Tan - Autumn In Paris

Jatuh cinta pada saudara sendiri


Sebenarnya aku pengin ngasih bintang dua setengah tapi nggak ada pilihannya, jadinya aku pilih bintang dua saja, karena menurutku bintang tiga terlalu banyak. Sebelumnya perlu kusampaikan bahwa review ini adalah berdasarkan rasa dan seleraku saja, selaku penikmat novel. Jujur, aku tidak punya latar belakang ilmu sastra sama sekali, jadi review ini adalah subjektif dari aku sendiri.

Keinginan untuk menebak. Dari sebuah misteri. Yang menciptakan penasaran. Itu adalah benang merah yang aku tangkap dari novel kedua karya Ilana Tan ini. Novel pertamanya (juga masuk dalam genre metropop-nya Gramedia Pustaka Utama/GPU) bertitel Summer In Seoul, dikatakan ada sedikit kaitan antara novel ini dengan novel pertama itu. Hanya sedikit. Di awal cerita Ilana berusaha membuat kita menebak, mengapa ada seorang perempuan yang dipanggil-panggil oleh seorang laki-laki tetapi dia tidak menggubrisnya. Di sini, Ilana juga mencoba menyeret kita untuk bersabar mengetahui identitas lelaki tersebut. Dan menurutku ini sudah sangat umum di banyak novel sehingga kesan misterius tidak lagi didapatkan pada bagian awal novel setebal 265 halaman ini.

Bab-bab berikut terjalin dengan efek 'penasaran' yang dengan susah payah coba dibangun oleh penulis. Dari pertemuan tak terduga Tara (lakon utama perempuan) dengan Tatsuya (lakon utama laki-laki 1) yang kemudian berlanjut dengan perkenalan resmi mereka lewat perantaraan Sebastien (lakon utama laki-laki 2) dirangkai sedemikian rupa, berharap pembaca menebak apa yang berikutnya dapat terjadi.

Kelemahan 'efek penasaran' yang coba dibangun oleh penulis mulai terlihat ketika dengan mudah aku bisa menebak rahasia besar apa yang disimpan Tatsuya. Berikutnya juga gampang sekali ditebak mengapa Tatsuya sangat membenci Paris, mengapa akhirnya Tatsuya mencintai Paris, dan bagaimana kelanjutan hubungan Tara-Tatsuya. Dari sini aku dengan gamblang dapat menebak kemana alur akan dibawa oleh penulis. Satu kelemahan lain yang tampak adalah ending dengan mematikan salah satu karakter utama seakan tak lagi memberikan efek dramatis karena tema cerita yang kelewat sederhana menurutku. Yah, tema utamanya adalah kisah cinta dua saudara seayah yang tak saling mengenal yang akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa cinta mereka tidak mungkin dapat bersatu.

Aku sebenarnya mengharapkan bahwa salah satu karakter nekat, secara ekstrem melawan dunia dengan tetap memperjuangkan cinta terlarang tersebut. Tetapi sepertinya penulis tidak mau berkontroversi dengan membuat kedua karakter ikhlas menerima keadaan dan menyerahkan kepada takdir untuk menyelesaikan masalah mereka.

Secara keseluruhan, aku kurang 'merinding' membaca novel yang sebenarnya masuk kategori melankolis-romantis-dramatis ini. Merinding adalah salah satu ukuran bagiku untuk dapat menilai sebagus apa (tentu sesuai seleraku) novel yang baru saja kubaca. Tetapi harus kuakui Ilana mampu merangkai kata dengan cukup ciamik, dialog yang mengalir lancar, dan deskripsi adegan romantis yang bikin 'ngiri'. Oke, bagi siapa saja yang butuh novel tragis dan romantis, novel ini pantas untuk dikoleksi.

Catatan: review ini saya posting di http://bukabuku.multiply.com (03 Agustus 2007), saya repost kembali tanpa sunting-ulang (kecuali edit tulisan).

Tuesday, August 18, 2009

Resensi Novel Teenlit: Ken Terate - 57 detik

Sekelumit kisah manis dari gempa



Judul: 57 detik
Pengarang: Ken Terate
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Genre: Friendship, Teenage Romance
Tebal: 232 halaman
Rilis: Juni 2009 (cetakan pertama)
Harga: Rp30.000 (Harga Toko)
ISBN: 978-97-22-4632-2

Hmm…saya pernah ikut tren dengan menggilai novel-novel yang oleh penerbit dikategorikan sebagai teenage-literature a.k.a teenlit ketika booming novel beginian sekitaran tahun 2004-2005. Urusan tema memang hampir seragam, mulai dari urusan cinta monyet, cinta segitiga, isu gencet-menggencet di sekolahan, hingga tema persahabatan biasa. Tidak banyak yang ditawarkan novel yang kebanyakan juga dibuat oleh remaja-remaja tanggung yang bahkan belum mempunyai “nama” di dunia perbukuan tanah air itu. Tidak heran jikalau kemudian banyak anak usia sekolahan “mendadak-terkenal” karena tulisannya diterbitkan dan laris terjual. Lalu, Gramedia memunculkan ide mengadakan lomba untuk menjaring bibit-bibit baru penulis Indonesia. Dari lomba itu terdapat sosok Ken Terate yang terpilih sebagai juara ketiga melalui novelnya yang berjudul My Friends My Dreams. Dari situlah saya mulai menyukai tulisan-tulisan Ken. Ia memiliki gaya yang khas dan lain daripada beberapa penulis teenlit yang kebetulan novelnya saya baca.

Kalau bisa dibilang saya termasuk orang yang cukup loyal. Begitu saya menyukai sesuatu, saya akan langgeng menyukainya. Termasuk dalam hal ini hasil tulisan seseorang. Tulisan Ken masuk dalam hitungan. Saya hampir selalu membaca buku-bukunya. Jadi, ketika Ken mengirimkan email kepada saya dan memberitahukan bahwa akan segera terbit novel terbarunya berjudul 57 detik (pertamanya doi bilang tuh nopel cuman dibikin versi e-book khusus handphone doank), maka kemudian saya menjadi tak sabar menantikan rilis dalam bentuk cetak-nya.

Yang paling saya suka dari gaya penulisan Ken adalah kemampuannya membuat kalimat-kalimat hiperbola yang menggelitik dan menggemaskan. Padahal ada yang bilang bahwa semua hal yang terlalu (hiper atau hipo) itu tidak bagus. Tetapi “kalimat terlalu” buatan Ken justru menjadi daya pikat tersendiri, bagi saya, dalam setiap bukunya. Hal lain yang saya suka dari Ken adalah konsistensinya dalam menulis. Saya perhatikan dari sejak novel pertamanya Ken selalu menggunakan kata ganti orang pertama (aku, gue) untuk keseluruhan karakter utama dalam novel-novelnya. Hal ini jelas membutuhkan ketelitian dan kecermatan tersendiri dalam menjaga agar tiap aktor yang diciptakan tidak melenceng dari sifat rekaannya. Satu karakter tidak boleh tertukar dengan karakter lain, atau jangan sampai antar-karakter saling bertubrukan alias timpang satu dengan yang lainnya.

57 detik mungkin menjadi novel pertama Ken yang lahir dari sebuah kisah nyata. Yah, itu cuman dugaan saya belaka. Kebenarannya saya kurang tahu. Dalam pengantar novelnya, Ken secara khusus mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yang berjasa “memberinya” beragam cerita yang membantunya membangun plot novel ini.

Teenlit dengan sampul yang didominasi warna kuning cerah ini mengambil latar kejadian gempa yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya beberapa waktu silam. Judulnya sendiri mengacu pada durasi gempa yang mengguncang kota gudeg tersebut. Di beberapa bagian Ken secara kreatif memberikan tambahan-tambahan tulisan semisal tips menghadapi gempa yang dikemas dalam bahasa komedi, serta beberapa headline dan foto asli suatu peristiwa yang ada kaitannya dengan gempa. Interesting. Ceritanya sendiri khas sekali untuk konsumsi usia anak sekolahan. Bumbu-bumbunya tak jauh dari gonjang-ganjing persahabatan, persaingan merebut posisi strategis di sekolahan (ketua cheerleader), dan lakon-lakon anak SMA masa kini, termasuk cemburu-cemburuan dalam urusan percintaan.

Harusnya memang ada air mata yang tumpah begitu membaca novel ini karena hampir separuh bagiannya diisi kejadian tragis mengenai situasi saat dan setelah gempa. Setting lokasi dan emosi para tokohnya pun coba dibangun oleh Ken untuk membangkitkan rasa haru, paling tidak menurut saya begitu, namun sayang saya hanya larut sebentar saja. Keharuannya kurang mampu membuat saya menitikkan air mata, padahal saya terkenal paling mudah lumer pada hal-hal sedih dalam sebuah tulisan. Hmm, entahlah, saya mengharapkan tragedi yang lebih sengsara lagi (tentu saja nggak untuk kehidupan nyata).

Selebihnya sih, Ken banget. Semuanya saya suka. As usual. Ken berhasil menjaga konsistensi tiga tokoh utamanya meski kesemuanya menggunakan kata ganti orang pertama. Yang juga saya suka dari Ken adalah dia tidak melulu menjejali pembaca dengan gula-gula cinta namun juga asem-manis-pahitnya sebuah persahabatan. Dan itulah yang membedakannya dengan kebanyakan pengarang teenlit lainnya. Maju terus Ken. Semoga tetap produktif.

Selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)

JOGJA, KORAN REMAJA--Aji, Ayomi, dan Nisa adalah
remaja "biasa", kayak kita-kita gitu deh. Mereka mengaku kadang bosan dengan hari-hari mereka. Sekali-sekali mereka pengin juga meng-alami kejadian seru. Tapi tentu saja bukan seru yang menyengsarakan seperti GEMPA. Namun, itulah yang terjadi! Gempa itu tiba-tiba datang dan mengacau-kan semuanya. Cuma 57 detik, tapi akibatnya begitu mengerikan. Petualangan luar biasa terpaksa mereka jalani. Apa aja cerita mereka? Bagaimana mereka bertahan? Apa ada kejadian lucu dalam tragedi ini? Berikut wawancara dengan mereka.

Tanya: Waktu gempa rasanya seperti apa?
Aji: Seperti ditabrak buldoser.
Ayomi: Seperti naik rollercoaster... tanpa sabuk pengaman.
Nisa: (lirih) seperti sulap.
Tanya: Apa yang membuat kamu paling sedih?
Aji: Bencana itu rasanya nggak adil, sepertinya selalu menimpa orang yang sudah susah.
Ayomi: Aku nggak bisa menari lagi, padahal menari adalah hidupku.
Nisa: (lirih juga) Sahabatku Aisyah... dia... (tidak berhasil melanjutkan)
Tanya: Apa hikmah yang bisa kamu dapatkan?
Aji: Akhirnya gue tau apa yang gue inginkan, setelah gue capek memenuhi harapan orang lain.
Ayomi: Dapet pacar baru.
Nisa: Aku sadar aku sangat sayang pada keluargaku, meski mereka sama sekali nggak keren.

Wow! Petualangan mereka bener-bener seru dan sangat menarik untuk disimak. Misalnya, Nisa yang harus bertahan di puing-puing tanpa makanan lebih dari sehari-semalam, lalu Aji yang jadi relawan dadakan, dan Ayomi yang merasa dunianya hilang dalam sekejap gara-gara isu tsunami fiktif.

Oh iya, ada cerita-cerita lucu dan romantisnya juga lho. Dapatkan kisah lengkap mereka di buku ini, sekarang juga!

Monday, August 17, 2009

Resensi Novel Metropop: Kennaz H. Imamah - Kala Lonceng Cinta Berdentang

Mentah!


Judul: Kala Lonceng Cinta Berdentang
Pengarang: Kennaz H. Imamah
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance, Fairytale in Metropop
Tebal: 256 halaman
Rilis: Juli 2009 (cet. 1)
Harga: Rp35.ooo (Toko)
ISBN: 978-979-22-4786-2

Ketika kali pertama genre Metropop dipatenkan oleh Gramedia, novel-novel berlatar kaum urban ini hadir dalam balutan nuansa elegan yang anggun. Bercerita tentang geliat kehidupan di kota metropolitan, bersandang-pangan-papan tak jauh dari kata mewah, dengan tokoh-tokoh nyaris sempurna dalam tampilan fisik dan kecukupan materi, namun terlalu rapuh emosi. Gambaran itu meninggalkan kesan bagi saya bahwa novel ini membidik pembaca dari kaum urban, mostly perempuan, yang cerdas (berkarir) sehingga saya selalu menyebut novel-novel metropop adalah novel yang “pintar” meskipun terkadang juga hanya berisikan mimpi muluk dan khayalan yang kelewat tinggi. Untungnya sebagian besar pengarang novel metropop cukup piawai memberikan sentuhan humanistik yang membumi sehingga novel tersebut tetap dapat dinikmati dengan logika.

Sayang, novel debutan (?*ga tau kebenarannya, apakah ini debutnya ato bukan*) Kennaz ini gagal memberikan sentuhan humanistik tersebut dan hanya mengumbar dongeng antah berantah yang jauh dari sisi logis. Entahlah, rasa-rasanya baru kali ini saya membaca novel metropop yang langsung hilang minat dari hampir sejak permulaan. Saya menjadi bimbang untuk tetap melanjutkan ataukah stop dan mencari bacaan lain, meskipun akhirnya saya putuskan untuk melanjutkannya. Demi teringat sejumlah rupiah yang sudah saya keluarkan untuk menukarnya di kasir Gramedia akhirnya saya bertekad untuk merampungkan-baca novel bersampul manis ini.

Yang bisa saya katakan adalah novel ini masih terlalu “mentah”. Yaitu, agak terlihat kurang rapi dalam penjalinan adegan per adegan. Diksi-nya lumayan bagus, namun agak terlihat amatiran. Saya menjadi teringat pelajaran mengarang di SD dulu bahwa guru Bahasa Indonesia saya memberi contoh untuk memulai sebuah paragraf dalam suatu bab dengan menggambarkan suasana sekitar, keadaan cuaca, atau detail set lokasi, dengan bahasa “langitan” yang indah nan menawan. Sepintas seolah sedang berpuisi. Dan novel ini melakukan hal itu. Kennaz hampir selalu memulai paragraf seperti yang dicontohkan guru SD saya itu. Untuk ukuran novel modern, cara seperti itu agak old fashioned.

Dari segi tema, novel ini pun tidak hadir dengan tema yang kuat atau unik. Tema cinta bercabang banyak begini sudah sering diangkat. Dan bila dibandingkan dengan novel-novel sebelumnya yang membahas tema serupa yang sudah saya baca, novel ini tertinggal cukup jauh. Saya berharap novel ini menghadirkan konflik yang rapat berkaitan dengan kesibukan si tokoh utama me-manage pacar banyaknya. Sayang, Kennaz hanya ‘sempat’ membuat satu scene yang mengilustrasikan kerepotan tersebut dan itu pun kurang greget. Agak alot. Dan, tidak berhasil, dalam pandangan saya.

Bagi saya, novel ini tak meninggalkan kesan apa-apa. Saya cukup kaget bahwa tidak ada satu pun unsur dalam novel ini yang saya sukai. Terkadang meskipun saya tidak menyukai keseluruhan sebuah novel, saya tetap menyukai salah satu unsurnya. Entah diksi, setting, tokoh-tokohnya, atau gaya bahasanya. Namun, tidak dengan novel ini. Saya juga agak muak (maaf) dengan ketertarikan penulis pada tokoh pria yang kebule-bulean.

Oh, tidak. Maafkan saya. Bukan maksud untuk mencela habis-habisan novel ini. Sekali lagi saya tekankan, posisi saya hanyalah seorang pembaca biasa dengan sisi subjektivitas yang sangat berlebih. Plus, saya sendiri tidak bisa/mampu membuat novel bahkan yang seperti telah ditulis Kennaz ini. Saya hanya membuat review sebatas selera saya. Murni, tidak ada tendensi apapun. Awalnya saya berniat menjadikan blog review saya ini berguna (bagi yang mampir dan membaca) sebagai bahan pertimbangan untuk membeli sebuah buku. Tapi, faktanya saya tidak piawai menilai buku dengan seobjektif mungkin. Jadi, segala keputusan ada di tangan masing-masing. Seni adalah berpijak pada selera. Saya boleh bilang novel ini jelek, Anda pun tidak dilarang memuji novel ini. Semua berpulang kepada selera kita masing-masing.

Selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)
Divvy memandangi lonceng kaca di tangannya. "Dulu aku pernah baca dongeng tentang seorang putri yang memanggil pangerannya dengan cara membunyikan lonceng. Biarpun sang pangeran berada ratusan meter jauhnya, dentang lonceng yang dibunyikan sang putri pasti akan membuat sang pangeran secepat kilat datang ke tempat sang putri berada."

Divinia Prudencia tidak pernah bisa menolak ajakan berpacaran. Itulah kenapa Divvy punya banyak pacar. Dan enggak tanggung-tanggung, lima orang sekaligus!!! Waktunya tersita untuk bekerja dan mengatur jadwal kencan dengan semua kekasihnya. Suatu hari Divvy berulang tahun dan mendapatkan hadiah lonceng. Setiap kali Divvy membunyikan lonceng tersebut, selalu saja pria yang sama menghampiri meja kerjanya. Apakah dongeng itu nyata? Apakah lonceng itu akan menunjukkan siapa cinta sejati Divvy? Lalu bagaimana dengan kekasih-kekasih Divvy yang lain?



Thursday, July 30, 2009

Resensi Novel Metropop: Wiwien Wintarto - The Sweetest Kickoff

Klise!



Judul: the Sweetest Kickoff
Pengarang: Wiwien Wintarto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance in Metropop
Tebal: 312 halaman
Rilis: Juli 2009 (cetakan pertama)
Harga: Rp40.000 (Toko)
ISBN: 978-979-22-4783-1

Saya terpesona pada novel metropop bertajuk Say No To Love beberapa tahun silam. Novel karya Wiwien Wintarto (novelis yang awalnya gua kira cewek, bukan mo seksis, tapi namanya sekilas lazim dipake cewek, kek nama gua juga sih, Yuli….kecewekan, padahal gua cowok) bernuansa kantoran itu begitu menghipnotis saya. Jujur, saya ngiri berat dengan novel tersebut. Sudah lama saya memimpikan bisa membuat novel yang hampir-hampir tidak ada tokoh antagonisnya sama sekali seperti itu. Apa menariknya, kalo gitu? Hmm…susah juga jika saya ditanya begitu. Bagi yang menyukai novel penuh drama, Say No To Love mungkin terkesan membosankan. Namun, bagi saya yang percaya bahwa sebenarnya (seharusnya) tidak ada manusia antagonis di dunia ini, tidak ada orang yang jahat (adalah setan/iblis yang membisiki), sehingga cerita dalam novel tersebut begitu menyejukkan. Begitu mendamaikan. Dan, sang penulis begitu piawai mengolah cerita damai tersebut menjadi dongeng yang jauh dari kesan boring. Setidaknya, bagi saya.

Tahun 2009, Wiwien kembali menelorkan karya metropopnya yang kedua, kalau tidak salah. Novel dengan background sepakbola ini diberi judul the Sweetest Kickoff. Dalam blog pribadinya, PandoraBox, Wiwien menyebutkan bahwa novel ini lahir sebagai jawaban dari beberapa kritik yang dilayangkan pembaca Say No To Love (karya metropop pertamanya).

Berikut petikan pernyataannya tentang novel ini:

The Sweetest Kickoff kubangun dari salah satu kritik terhadap Say No to Love (2007). Dalam salah satu resensi di internet, novel itu dikritik karena nggak memberi ruang development untuk tokoh-tokohnya. Dewi, Wisnu, dan siapapun nggak berkembang jadi manusia yang berbeda. Hanya sekadar jadian, nggak lebih.

Itu sebabnya, saat hendak memulai nulis The Sweetest, aku sudah berpatokan untuk menulis tentang seseorang yang remuk dan belakangan menjadi baik setelah kecemplung di kawah Candradimuka. Kawah itu bernama Magelang FC, sesuatu yang benar-benar berada di luar semesta yang diketahui seorang Farah.

Hmm, entahlah, saya sendiri kurang mengerti apa yang dimaksud dengan “ruang-development” itu. Yang jelas jika itu dikaitkan dengan the Sweetest Kickoff yang beberapa tokohnya “berubah” secara harfiah (berubah dalam arti real, kek dari warna item brubah jadi putih), maka saya justru tidak begitu klik dengan novel ini. Benang merah perubahan itu terkesan klasik yang klise. Bahkan, seperti yang disebutkan oleh Wiwien sendiri dalam blognya bahwa ia mengambil premis Hollywood-style, tak ayal memang begitulah adanya. Kelewat romantis, kelewat mudah ditebak, dan kelewat mustahil. Meskipun disertai ulasan seputar dunia persepakbolaan yang cukup canggih, kesan menye-menye-nya begitu terasa. Dan, bagi saya itu agak annoying. Padahal, gua tuh fans berat nopel menye-menye.

Dari segi pemilihan kata, gaya bahasa, dialog, dan setting-nya tidak ada masalah, semuanya memenuhi kriteria novel metropop selera saya. Bahkan, beberapa karakter saya suka. Pun, dari segi teknis cetak, saya tak menemui banyak cacat. Hanya ada satu kata yang, well, salah ketik saja sepertinya:

Hal 104, paragraf ke-5

Farah tertawa menyeringai. “Very funny! Memangnya………………, kamu pengeeeeen banget ninggalin semua kerjaanmu itu dan ikut denganku ke Malang.”

Saya pikir harusnya bukan Malang tetapi Magelang karena fokus setting lokasinya dan topik pembicaraan pada bagian itu adalah rencana kepergian salah satu tokohnya ke kota Borobudur itu.

Sejujurnya saya banyak lompat-lompatnya ketika membaca novel ini. Pertama, saya memang bukan penggemar fanatik bola dan tidak terlalu berminat dengan olahraga rebut bola dengan kaki itu sehingga agak merasa bosan ketika membaca banyak bagian yang dihubung-hubungkan dengan bola. Kedua, saya merasa kali ini seharusnya ada tokoh antagonisnya dalam novel ini untuk menyegarkan plot yang agak garing dan kurang berwarna. Apalagi dengan segala atribut Hollywood-nya dan kesan “sinetron-banget” makin membuat novel ini kurang menarik.

Kelemahan yang paling kentara adalah banyaknya adegan-adegan klise di novel. Yang paling mengesalkan justru pada bagian paling vital, bagian pengantar menjelang klimaks. Saya sampai gemas sendiri. Sebenarnya situasi digambarkan dengan kegemilangan yang sangat, namun eksekusinya justru lemah sekali. Terlalu…klise (sorry, kalo gua terlalu banyak make kata ini, tapi gua ga nemu kata laen yang lebih tepat). Terlalu…mudah ditebak.

Hmm, banyak kali kritikannya, kek gua bisa bikin nopel ajah! Ya, ini hanyalah bentuk dari ekspresi terbuka saya. Jika suatu hasil tulisan bagus, saya tak segan memujinya setinggi langit dan sebaliknya jika kurang memuaskan ya... apa boleh buat, saya terpaksa harus menyuarakan ketidakpuasan saya. Dan, perlu saya tegaskan, saya hanyalah sekadar pembaca yang disetir oleh selera. Maka, jika kemudian saya menemukan novel yang tidak memenuhi kriteria selera saya, ya…pasti sulit untuk bisa menikmatinya. Dan, masalah selera adalah masalah personal. Saya suka, Anda suka. Saya suka, Anda tidak suka. Saya tidak suka, Anda suka. Semua tergantung kepuasan selera masing-masing. Perbedaan selera adalah kurnia Sang Pecipta, tak perlu dipermasalahkan.

Sinopsis (cover belakang)

Tak ada yang lebih mengejutkan ketimbang sebuah warisan yang aneh. Farah mengalami itu saat menerima peninggalan khusus dari kakeknya yang baru saja meninggal dunia, berupa Magelang FC, sebuah klub sepakbola profesional yang berlaga di Divisi II Liga Indonesia.

Sebenarnya yang Farah perlukan hanya sarana untuk membuatnya bisa sedikit lebih serius dan bertanggung jawab terhadap hidup. Kebiasaannya dugem dan beredar dari satu pesta jetset ke pesta lainnya membuat semua orang gerah.
Mereka berharap Magelang FC akan memberikan arah baru pada kehidupan Farah dan membuatnya berhenti menghambur-hamburkan uang-apalagi karena semua itu bukan duitnya sendiri.

Sayang, semua tak berjalan semulus yang direncanakan. Selain nol besar soal sepak bola, sifat Farah yang semau gue dan gampang naik darah mengacaukan hari-hari awal pekerjaan barunya sebagai owner klub. Bahkan ia langsung terlibat perang dingin dengan Danu, mantan pesepakbola nasional yang direkrut menjadi pelatih baru Magelang FC.

Namun, tugas berat untuk menyelamatkan klub dari jurang degradasi ke Divisi III tetap harus dilaksanakan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Farah harus pusing mengurusi orang lain, bukan dirinya sendiri. Tapi, sebagaimana yang tertulis di kartu-kartu ucapan, what doesn't kill you only makes you stronger, itu berlaku pula buat Farah.


Sunday, July 26, 2009

Resensi Novel Chicklit: Albethiene Endah - Nyonya Jetset

Basi!



Judul: Nyonya Jetset

Pengarang: Alberthiene Endah

Penerbit: PT Gramedia Penerbit Utama

Genre: Romance, Violence in Marriage, Based on a True Story

Tebal: 360 halaman Rilis: Juli 2009 (cetakan pertama)

Harga: Rp55.ooo (Toko)

ISBN: 978-979-22-4789-3; 40101090017


Saya adalah salah satu ‘penunggu’ setia kemunculan karya-karya Alberthiene Endah (AE). Saya telah terpikat padanya sejak terbuai kisah asmara penuh intrik metropolis yang disajikannya di Cewek Matre (gua nganggep ini adalah novel masterpiece-nya AE) dalam seri Lajang Kota-nya. Berturut-turut saya kemudian membaca hasil tulisannya, Jodoh Monica, Dicintai Jo, I Love My Boss, dan Jangan Beri Aku Narkoba (yang gak kelar gua baca, too serious). Rasanya hanya itu novel fiksi karya AE yang sudah diterbitkan, karena kemudian AE lebih sering membuat semacam biografi orang-orang penting tanah air, mulai dari pengusaha, artis, hingga ibu negara (yang masih dalam pengerjaan). Novel fiksi lain yang sempat terbit berjudul Selebriti tidak mampu menarik minat saya. Novel tersebut sempat menjadi cerita bersambung yang dimuat dalam Klasika – koran Kompas. Dan, beberapa episode saya baca, saya memang agak mengerutkan kening. Kok gaya AE jadi berubah ya?


Yang terbaru, Nyonya Jetset, berlabel based on a true story di pojok kiri atas. Saya sebenarnya bukan penggemar buku-buku dengan label begituan, terus terang saya sudah ilfil duluan. Kenapa? Karena sebuah cerita nyata yang kemudian diangkat menjadi sebuah karya fiksi menjadi kehilangan maknanya sebab menurut saya kisah real itu kemudian pasti diberi bumbu-bumbu penyedap agar cerita tidak hambar, bahkan mungkin bumbunya yang malah lebih banyak. Dan bumbu penyedap itulah yang menjadi penghancur kisahnya sendiri. Saya lebih setuju apabila sebuah kisah nyata diceritakan apa adanya. Tidak perlu dibumbui, karena saya percaya sebuh kisah nyata yang ‘berani’ dipublikasikan dan disetujui oleh penerbit untuk diterbitkan sudah pasti memiliki makna yang besar dengan nilai jual cukup tinggi di pasar buku.


Saya terpaksa harus menyatakan kekecewaan yang amat sangat pada novel ini. Harapan saya yang kelewat tinggi pada AE malah membuat saya lebih-lebih kecewa ketika merampungkan novel setebal 300-an halaman ini. Semua gaya khas AE di seri Lajang Kota yang saya sukai lenyap tak berbekas. Kepiawaiannya dalam membuat istilah-istilah unik (ondel-ondel bergincu, anak kecil berdasi, misalnya) tidak terlihat. Saya benar-benar merasa kehilangan dan sempat berpikir, apa benar ni nopel bikinan AE? Yang makin membuat saya gusar adalah hampir keseluruhan elemen dalam novel ini berantakan. Mulai dari segi penokohan, alur cerita, setting, konflik, hingga teknis cetaknya tidak memuaskan. Sungguh jauh dari harapan saya. Entah, karena label true story-nya sehingga AE tidak memiliki keleluasaan dalam mengembangkan cerita atau karena sebab lain. Sempat gua mikir, ini bukan ceritanya Manohara, kan? hehehehe...


Sebenarnya sampai beberapa bagian awal novel ini, saya cukup menikmatinya. Karena itulah saya membeli novel ini, selain faktor pengarangnya. Temanya yang mengambil latar belakang dunia per-model-an Indonesia terasa cukup menjanjikan, yang sayang sekali kemudian berbelok kepada isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Upaya AE untuk menyajikan fakta sebenarnya dalam dunia model yang dipandang glamor kurang menggigit dan terasa hanya sampai di permukaan belaka. Mungkin memang tujuan penulisan novel ini yang sengaja membahas KDRT sehingga isu itulah yang menjadi bahan utama penceritaannya.


Hmm…agak basi, menurut saya. Isu itu telah diangkat oleh banyak penulis sebagai ide pokok penulisan, baik fiksi maupun non-fiksi, termasuk juga dalam media layar (film/televisi). Semakin basi karena sokongan bumbu-bumbunya tidak begitu kuat. Gambaran kehidupan hedonis para sosialita yang menjadi nyawa novel ini pun tidak terbahas dengan mksimal. Hanya sekilas slide-show saja, yang sebenarnya sudah juga ditampilkan di banyak kesempatan. Jadi, tidak ada yang baru yang ditawarkan dalam novel ini.


Pada akhirnya, saya hanya berharap semoga produktivitas AE tetap terjaga dalam dunia penulisan fiksi. Meskipun mungkin tidak lagi bisa meneruskan seri Lajang Kota karena AE sudah married, tapi boleh lah serinya dilnjutkan dengan yang mengupas masalah after married. Dan, saya berharap semoga pula kreativitas AE tidak merosot.


Sinopsip (cover belakang)


Roosalin tak bisa menampik cinta yang ia yakini sebagai pilihan terbaik dalam hidupnya. Ia menikah dengan Edwan Susantono, tanpa menyadari betapa kaya sesungguhnya pria itu. Namun cinta pandangan pertama pada putra konglomerat itu ternyata mendorongnya masuk ke kehidupan yang sarat dengan lara. Pernikahan mewah dengan banyak luka dan keanehan.


Roos harus menghadapi kenyataan yang sama sekali tidak ia duga. Gelimang harta dan kehormatan harus ditebusnya dengan bilur rasa sakit akibat perlakuan keji suaminya dan keangkuhan keluarga besar Susantono. Roos pun mulai bersahabat dengan kehidupan menyakitkan yang tak pernah luput dari penghinaan, penyiksaan, dan penginjakan harga diri. Roos tercampak dalam titik terendah harkatnya sebagai perempuan.


Namun, jiwa kuat Roos berusaha menyelamatkan keadaan. Di antara keping-keping hatinya yang berserakan, ia yakin, sesungguhnya cinta sejati ada, dan tak akan pernah hilang. Terlebih setelah Edwan menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki segalanya.


Mampukah Roosalin membenahi karut-marut kehidupan rumah tangganya, dan menundukkan dinding keangkuhan keluarga konglomerat itu? Benarkah cinta bisa memperbaiki nilai-nilai moral yang telah hancur di dalam keluarga besar Edwan?



Resensi Buku Non Fiksi: Menikah adalah BUNUH DIRI! - 'Josua' Iwan Wahyudi

Sudah siap bunuh diri?


Judul: Menikah adalah BUNUH DIRI!

Pengarang: ‘Josua’ Iwan Wahyudi

Penerbit: GetYourWisdom Publishing

Genre: Self-Motivation, Modern Psychology

Tebal: xv + 117

Rilis: Juli 2009 (cetakan pertama)

Harga: Rp32.500 (Toko)


Agak aneh memang bahwa blog yang awalnya saya khususkan sebagai wadah review sederhana saya atas buku-buku bertema ringan khas metropop, chicklit, atau pun teenlit yang saya sukai, kemudian juga saya isi dengan resensi buku-buku yang bertema agak jauh, bahkan terlalu jauh, dari pakem tersebut. Saya akui itu adalah salah satu kelemahan saya yaitu kurang fokus dalam satu hal dan maunya semuanya ditumplek-blek jadi satu. So, meskipun judul blognya adalah metropop –mengambil ruh novel genre metropop– ternyata tidak melulu (dan bahkan tidak semua novel metropop) ter-review di sini. Lebih-lebih buku jenis lain yang malah diresensi.


Seperti buku yang satu ini. Saya tak tahu masuk kategori jenis buku apakah ini. Dari cover belakang buku-nya sih disebutkan bahwa buku ini terkategori sebagai buku relationship-marriage. Untuk umumnya, mungkin buku ini pantas juga dimasukkan dalam ranah buku psikologi modern atau psikologi popular. Buku yang menginspirasi, buku yang memotivasi, atau juga buku yang menasihati. Begitulah kira-kira.


Jujur, saya tertarik dengan buku ini karena judulnya yang bombastis. Menikah adalah BUNUH DIRI! yang ditulis oleh 'Josua' Iwan Wahyudi. Hmm, gua sempet ngeri juga nyomot nih buku dari rak pajang di Gramedia Plaza Semanggi. Judulnya itu lho…serem amat. Awalnya saya menerka buku ini mengupas tentang tragedi-tragedi kematian seputar hubungan yang terbentur halangan, sehingga para penjalin hubungan tersebut memutuskan membawa mati cinta mereka dengan cara bunuh diri. Ternyata anggapan saya salah. Bukan tragedi seperti itu yang dibahas di sini, melainkan letupan-letupan bencana yang harus diwaspadai yang pasti mungkin muncul di dalam sebuah pernikahan. Setelah sekilas membaca cuplikannya dari buku contoh yang dibuka segelnya dan merasa cukup tertarik (dan lucu), saya kemudian mengambil satu dan membayarnya di kasir.


Buku ini cukup menarik. Pembawaannya konsisten. Penyampaiannya berurutan (sangat pas dari satu chapter ke chapter lainnya). Meskipun, selayaknya buku-buku tipe begini, ulasannya adalah hal-hal keseharian –dalam kehidupan pernikahan– yang semestinya sudah kita tahu, hanya saja kita kadang tidak menyadarinya dan baru berkata “ooh…” jika sudah ada yang menuangkannya dalam buku maupun dalam seminar motivasi dengan pembicara yang nyerocos dengan semangat penuh.


Bahasan disampaikan secara lugas disertai dengan beragam kisah/cerita yang menjadi intro sebelum penulis mengemukakan pandangan-pandangannya atas setiap masalah yang menjadi judul per bagiannya. Entahlah, apakah cerita-cerita tersebut sekadar fiksi atau benar-benar terjadi, saya kurang tahu. Hanya saja, hampir di setiap chapter, penulis menyertakan sebuah kasus (dalam bentuk seperti rubrik konsultasi) dengan disertai nama dan asal pengirim testimoni yang kemudian dijawab oleh penulis (diberi judul Lesson from Real Case). Penulis juga mencoba melucu (dan berhasil, bagi saya) dengan memberikan intermezzo berupa gambar-gambar karikatur unik serta wedding quotaton yang cukup menggelitik. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi foto sebagai background judul chapternya.


Seputar isinya sih, tergantung masing-masing. Buku motivasi adalah buku non-fiksi yang berunsur sangat subjektif meskipun dilatarbelakangi hal-hal yang objektif. Beda dengan buku science, misalnya, yang disusun berdasar penelitian ilmiah sehingga sangat objektif. Benar, si penulis telah mendapat pelatihan-pelatihan yang cukup memadai sehingga kemampuannya merangkum kata per kata sangat bagus dengan kedalaman makna yang dapat dengan mudah menghantam dinding kesadaran si pembaca sehingga beroleh feedback berupa anggukan atau desisan kata “o gitu ya?..” Namun, semua keputusan berpulang kepada pembaca pada akhirnya. Apakah setuju atau tidak setuju dengan semua pemikiran yang dituangkan oleh penulisnya.


Diakui oleh penulisnya sendiri bahwa ia memutuskan untuk menjabarkan bermacam mimpi buruk yang mungkin saja hadir dalam pernikahan agar siapapun menyadari bahwa pernikahan tidak hanya harus dilihat dari yang indah-indahnya saja. Ia berharap setiap pasangan tahu konsekuensi dari keputusannya untuk membangun mahligai rumah tangga, bahwa yang akan ditemuinya tidak hanya melulu yang legit semanis madu namun juga pahit seumpama empedu. Secara tegas namun bernada humor, penulis membantah apabila dikatakan dia membuat buku ini untuk menakut-nakuti siapapun yang sudah atau akan menikah sehingga menjadi alergi terhadap pernikahan. Bahkan ia sangat menganjurkan untuk menikah karena sebenarnya apabila dijalankan dengan sebaik-baiknya, biduk rumah tangga dalam ikatan pernikahan merupakan secicip kenikmatan surgawi.


Dalam banyak hal saya setuju dengan pandangan-pandangan ‘Josua’ Iwan Wahyudi ini. Tetapi pada beberapa hal saya juga menolak dengan tegas apa yang disampaikannya. Kesetujuan saya, misalnya, pada pandangan Josua yang menganjurkan agar menghindari hubungan intim sebelum nikah (berulang kali ia mengingatkan untuk tidak berhubungan badan bahkan meminimalisir sentuhan fisik sebelum resmi menikah). Sedangkan ketaksetujuan saya adalah atas sikap permisifnya terhadap pacaran (beberapa kali Josua menganjurkan untuk berpacaran, meskipun tidak secara eksplisit) atau atas “sikap-negatif”nya mengomentari persoalan pernikahan di usia muda. Meskipun saya sampai dengan kategori umur tak lagi muda ini belum juga menikah, tetapi saya percaya, selewat akil baligh laki-laki dan perempuan sejatinya telah mampu berdiri sendiri dan memutuskan masa depannya secara mandiri, termasuk soal keputusannya menikah. Jadi, tak masalah menikah usia muda, menurut saya, asal mampu.


Saya pikir buku ini cukup berhasil menjadi sarana penyampaian pemikiran-pemikiran dari Josua. Terlepas dari perbedaan prinsip saya dengannya atas beberapa hal, saya cukup mendapat banyak pengetahuan seputar penjalinan hubungan suami-istri yang dapat saya jadikan bekal kelak jika saya sudah dipertemukan (menemukan/ditemukan) dengan jodoh saya dalam ikatan pernikahan. Saya berharap semoga banyak pasangan yang sudah atau akan menikah membaca buku ini, termasuk para single fighter a.k.a jomblowan-jomblowati yang sudah ngebet menikah, sehingga mereka mendapat pemahaman yang lebih soal hidup berumahtangga. Tentu saja, semua ini hanyalah sebagai bahan perenungan dan pemikiran belaka. Sedangkan segala keputusan dalam hidup adalah di tangan Anda meski harus diingat bahwa kehidupan ini akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh yang menciptakannya kelak di akhirat. Jadi, jangan “bermain-main” dengan hidup Anda.


Berikut adalah yang terpampang dalam cover belakang buku ini, dimana kebanyakan adalah testimonial dari beberapa figur:

“Buku yang berani mengungkap tentang pernikahan dengan lugas. Buku ini akan membuat orang yang belum menikah berpikir dahulu sebelum menikah, sedangkan bagi yang sudah maka buku ini akan menjadi pelajaran berguna. Pernikahan memang sebuah sekolah kehidupan tanpa kelulusan, jadi persiapkanlah dengan baik!”
- Bambang Syumanjaya
Konsultan Bisnis dan Keluarga dari Family DISCovery dan Penulis Buku Family DISCovery Way

“Sebuah panduan praktis tentang bagaimana memandang cinta dan pernikahan secara rasional. Mas Iwan piawai memaparkan kisah-kisah inspiratif dan mengemasnya dengan rancak. Inilah buku yang Anda butuhkan tepat di sebelah buku nikah Anda.”
– Roslina Verauli, M. Psi.,
Psikolog, Penulis Buku, dan Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

“Ketika menikah setiap orang pasti membayangkan kebahagiaan. Tapi mengapa banyak pernikahan yang akhirnya berubah menjadi neraka? Iwan membahas hal ini dengan gamblang, tuntas dan blak-blakan. Sebuah buku provokatif untuk menjadikan pernikahan Anda surga dunia!”
– Arvan Pradiansyah
Penulis best-seller “The 7 Laws of Happiness” & Host Talkshow “Smart Happiness” di SmartFM Network

“Mungkin judul buku ini membuat Anda penasaran, atau malah menakutkan,tapi jangan khawatir… Kalau Anda membaca dari awal sampai akhir, sebetulnya buku ini mengulas dengan dalam tentang arti sebuah penikahan, bahwa pernikahan bukan ajang permainan antara kita dan pasangan kita. Bagi saya yang sudah menikah 15 tahun pun bisa berkata.. “iya nih, bener juga apa yang di tulis di buku ini”. Buku ini sarat dengan contoh-contoh peristiwa yang gamblang dan mungkin kita alami sendiri baik sengaja atau tidak. Penasaran??? ayo buka mata ,buka hati…. baca sampai habis buku ini!”
– Vivi Indrany
Fashion Designer

“Pernikahan adalah sebuah pilihan. Jika pernikahan adalah lomba lari, kita memilih untuk mengikuti lomba lari maraton bukan lomba lari pendek (sprint). Untuk itu dibutuhkan seorang pria yang sehat secara emosi, menikahi seorang wanita yang juga sehat secara emosi dan akan menghasilkan sebuah keluarga yang sehat secara emosi. Tidak bisa hanya salah satunya saja. Jangan pernah berani menikah tanpa itu!!! Buku ini membantu mewujudkannya.”
– Timotius Hong
Konsultan Senior untuk Pernikahan dan Kehidupan Keluarga

“Benar-benar serasa memutar video kehidupan perkawinan, baik pada diri kami maupun rekan-rekan lain, hasil karya tulisan yang HARUS menjadi bacaan wajib sebelum kita masuki masa-masa bahagia dalam tali pernikahan maupun yang sudah dalam ikatan pernikahan, terimakasih Pak Iwan dengan hasil karyanya yang sangat luar biasa dan terus membuat api kebahagiaan pernikahan kami selalu terjaga dan bertumbuh!
– Paulus Widjanarko
Dokter dan Pemerhati Kesehatan