Thursday, November 12, 2009

Resensi Novel Chicklit: Ifa Avianty - Facebook on Love

Latah popularitas fesbuk!



Judul: Facebook on Love
Pengarang: Ifa Avianty
Penerbit: PT Lingkar Pena Kreativa
Genre: Romance-Comedy, Chicklit
Tebal: 274 halaman
Harga (Toko): Rp48.000
Rilis: Juli 2009 (cet. 1)

Yeah, awalnya benci lalu jadi suka. Kalimat tersebut bisa menggambarkan dua hal sekaligus selepas saya selesai membaca karya kesekian dari Ifa Avianti, novelis produktif yang aktif dalam komunitas Forum Lingkar Pena ini, yaitu novel urban modern bertajuk Facebook on Love. Pertama, bila dirangkum dalam satu kalimat, setidaknya sebagian besar isi dari novel berlatar belakang situs komunitas yang sedang populer saat-saat sekarang ini, facebook, bisa diwakili oleh kalimat tersebut. Kedua, perasaan saya juga secara (hampir) tepat dapat digambarkan dengan kalimat tersebut begitu mencapai lembar terakhir novel fiksi terbitan Forum Lingkar Pena Publishing House ini.

Awalnya, saya memang tidak terlalu antusias mengikuti alur yang diciptakan Ifa ini, termasuk gaya “mendongeng”nya. Scene pembukanya pun agak canggung, menurut pendapat pribadi saya. Dua orang yang hanya berhubungan lewat dunia maya bisa berseteru sebegitu dramatisnya??? Hmm…agak-agak lebay, ya…. Pun, kemudian saya menjadi teringat dengan adegan pembuka yang hampir mirip dengan novel favorit saya karya Wiwien Wintarto berjudul Say No To Love. Chaos hari pertama kerja dan posisi bos yang pewaris perusahaan dan baru menjabat sudah cukup bagi saya untuk mendesah….yah, nggak bisa pake adegan ama suasana laen yakk???

Untunglah saya tak lantas mutung. Saya mencoba dan mencoba untuk terus mencari titik-titik penyejuk yang memungkinkan saya untuk setidaknya betah hingga lembar halaman pamungkasnya. Kapan saya kemudian menemukan alasan yang tepat untuk menyukai novel ini, saya sendiri tak sadar. Mendadak saja saya sudah tekun membolak-balik halamannya. Dan, tak terasa halaman terakhir juga selesai saya baca. Hmm…

Pada bagian pengantar Ifa menuturkan bahwa dia sebenarnya mendambakan novelnya ini dibuat dengan format settingan facebook secara full. Namun, sulit katanya. Saya sendiri mafhum. Karena tampilan model begitu pasti agak susah memberikan ketepatan detail karena bahasa yang digunakan cenderung bahasa percakapan yang sudah pasti mempersempit ruang improvisasi. Belum lagi, jika sentuhannya kurang halus, maka akan jatuh pada sebuah tulisan yang membosankan.

Soal penyajian facebook-nya sendiri menurut saya agak-agak “kurang-nyata”. Saya sih lupa, apakah tokoh Dea dan Fadli (aktor utama dalam novel ini) disebutkan jumlah friend yang terdaftar dalam friendlist akun mereka. Hanya kurang logis saja menurut saya jika selama update status masing-masing (yang selalu berbalasan) tidak ada satu pun friend yang bukan dari kantor mereka yang memberikan komentar. Ini menjadikan adegan percakapan dalam tampilan facebook kurang real. Tidak hidup. Paling tidak kalau ditampilkan satu-dua nama friend yang bukan dari tokoh yang turut diceritakan dalam novel, tampilan facebook-nya saya pikir akan lebih “nyata”.

Saya adalah orang yang cenderung mudah percaya dengan sesuatu, bahkan cerita fiksi dalam novel/drama sekalipun. Begitu juga ketika membaca novel ini. Rasanya tak henti benak saya memproduksi beragam kalimat tanya menyangkut beberapa hal yang mengharapkan jawaban berupa fakta (yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan nyata). Semisal, apa benar kalau kita menemukan bayi terus tanpa mengurus dokumen apapun sudah langsung bisa mengakui anak itu sebagai anak kita yang sah?

Overall, saya suka dengan novel ini. Ditegaskan, suka banget! Apalagi dengan beberapa surprise yang disiapkan Ifa dalam waktu-waktu yang tidak terduga. Termasuk ketika menjelang ending. Klimaks novel ini benar-benar dramatis. Dan, mengharukan. Salut!

Selamat membaca!

Betewe, Facebook on Love kalo di-Indonesia-in jadi apa sih? Cinta dalam Fesbuk? Fesbuk dalam Cinta? Cinta atas Fesbuk? Cinta di Fesbuk?...maklum, bahasa Inggris gua parah bangeddd!!!

Sinopsis (cover belakang)
Gara-gara Facebook, Dayana dan Fadli akhirnya bertemu di dunia nyata. Takdir membawa Dayana alias Dea, si imut, anggun, cuek tapi memiliki sifat pembangkang tingkat tinggi itu ke sebuah penerbitan yang dipimpin oleh Fadli, pria tampan bergaya aristokrat yang dikenal sebagai bos killer.

Pertengkaran dan perdebatan bergulir. Pemberontakan dan sikap keras Dea malah menyulut ketertarikan di hati Fadli, si Hantu Facebook. Hingga suatu hari, si bos menemukan dua bayi kembar terdampar di aprking lot, dan memungutnya.

Lalu siapa yang bakalan dijadikan ibu bagi bayi ini? Apa mungkin Dea, si Miss Hepburn wannabe yang sebenarnya keibuan itu?

Gempuran masa lalu Fadli juga kembali datang menyergap. Jalinan cinta kedua insan itu rupanya memang nggak semulus menulis status di Facebook.

Tuesday, November 10, 2009

Resensi Novel Metropop: Mia Arsjad - Dil3ma

Membaca novel ini adalah sebuah dilema



Judul: Dil3ma
Pengarang: Mia Arsjad
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop
Tebal: 336 halaman
Harga (Toko): Rp48.000
Rilis: Oktober 2009 (cet. 1)

Saya tidak ingat, apakah saya pernah begitu menyukai tulisan Mia Arsjad? Hmm… yang pasti, sebelum Dil3ma ini, saya hanya pernah membaca satu buah karangan Mia, Rona Hidup Rona, yang meskipun tak begitu meninggalkan kesan mendalam, namun hmm… lumayan suka. Mungkin sekitar tema-nya, mbak-mbak penggila brondong atau plot-nya yang dibuat melilit kesana-kemari. Entahlah, sepertinya saya memang menyukai Rona Hidup Rona.

Yang saya ingat lagi adalah, saya tidak menyukai gaya tulisan Mia. Menurut pandangan pribadi, Mia tidak pernah memilah, entah sengaja atau tidak, mana tulisan yang untuk percakapan (dialog) dan mana yang untuk narasi (penjelasan/pengantar cerita). Dan, saya agak tidak begitu menyukai tulisan yang blur begini. Saya suka dengan pakem. Berdialog dengan bahasa dialog dan berdeskripsi dengan bahasa deskripsi. Dalam Dil3ma, Mia masih tetap dengan gayanya tersebut, yang tentu saja mengurangi kenikmatan saya melumat adegan demi adegan yang diciptakannya.

Dengan membaca judulnya saja, Dil3ma (huruf e-nya diganti dengan angka 3), saya sudah langsung membuat tebakan besar tentang plot novel ini. Yaitu, 3 orang dengan masalah mereka. Yup, benar. Nggak salah. Novel ini memang bercerita soal tiga tokoh perempuan dengan runtutan dilema masing-masing. Seharusnya kompleks dan menegangkan, tapi ternyata datar saja. Ada sih guncangan di sana-sini, tapi lemah, karena mudah ditebak.

Soal tema, agak umum dan sudah sangat sering diangkat, jadi tidak banyak yang bisa dibahas. Bicara soal player, risk-taker, dan plin-plan, semuanya berkesan oldies. Pun, dengan jumlah tokohnya yang 3 orang. Ketika kali pertama melihat dan membaca sinopsisnya di toko buku, ingatan saya langsung melayang pada metropop-nya Clara Ng, Tiga Venus, meskipun tidak ada kejadian pertukaran jiwa di sini. Kesamaan keduanya adalah terletak pada jumlah tokohnya yang 3, kesemuanya perempuan, dengan latar belakang dan sifat yang saling bertolakan. Hmm… ga ada pilihan lain kah? tokohnya enam gitu...hehehe jadi judulnya bia dil6ma! Jayus, ah!

Kembali ke gaya tulisan Mia. Satu lagi yang membuat saya tidak nyaman, khususnya dalam novel ini, adalah pilihan Mia yang meng”aku”kan salah satu tokoh tapi meng”orang-ketiga”kan tokoh lain. Maksud saya, sebagian besar tokoh “aku” adalah pencerita dalam novel ini sehingga tokoh lain menjadi pemeran pembantu yang bertindak sebagai orang ketiga. Nah, di tempat-tempat tertentu, tanpa tokoh “aku”, tokoh-tokoh orang ketiga ini bebas sekali penggambarannya. Tokoh tersebut dengan leluasa menceritakan diri mereka. Saya sih tidak masalah dengan pemberian “porsi-mendadak” begitu asalkan dibuat dengan rapi. Sayangnya, dalam novel ini saya mendapati alasan bahwa pemberian porsi tersebut hanya untuk menjaga eksistensi si tokoh saja. Itu wajar sih, karena saya pasti ingin tahu juga dengan nasib tokoh-tokoh itu. Tapi, sekali lagi, agak kurang pas saja cara menampilkannya.

Contoh salah satu pemberian porsi yang kurang pas ini, saya rasakan ada di halaman 235. Berikut saya cuplik sedikit (muga2 gak ngelanggar hak cipta ye… Minta ijin dicuplik dikit ya, Mia + Gramedia):
Robi menepikan mobilnya dan masuk ke pelataran parkir Lura. Setelah ketemu aku tadi, Robi langsung………dan seterusnya (dst).

Mobil Robi memelan di depan kantor Lura….dst.

Robi cuma bisa maklum. Setelah cerita dari aku tadi, Robi sangat maklum sama reaksi….dst.

Dari adegan tersebut, awalnya saya menduga tokoh “aku” ikut berakting dalam adegan itu. Nyatanya tidak. Tokoh aku sama sekali tidak ada di dalam scene tersebut. Hmm, gimana ya…klo menurut gua itu weird. Aneh. Saya merasakan-nya, seolah-olah tokoh aku ini melihat, bahkan sampai detail, apa yang dilakukan oleh tokoh Robi, padahal tokoh aku tidak ada di situ. Atau, saya-nya saja ya... yang kurang teliti. Entahlah, sampai sekarang saya tetap nggak ngeh dengan adegan itu.

Dari segi cerita sendiri sebenarnya cukup menarik, sayang, penggaliannya kurang dalam. Mungkin Mia ingin tiga tokohnya terkesan “kerepotan” dengan dilema masing-masing. Unfortunately, masalah demi masalah yang dihadapi tokoh-tokoh rekaan Mia malah terkesan agak mengambang. Berpotensi menjadi ‘bencana’ yang mengundang simpati, tetapi gagal memberikan efek dramatis. Bahkan beberapa mudah sekali ditebak.

Agak disayangkan lagi, novel ini pun tak luput dari kesalahan teknis percetakan/pengeditan. Tuduhan ketelodoran tentu saja pantas ditujukan pada tim editor, of course. Harusnya editor lebih jeli dan lebih teliti lagi. Contoh kecerobohan itu ada di halaman 253.
…Mala juga. Dia menarik kursi di sisi lain ranjang Lura. “Nyokapnya belum dateng ya, Ra?” aku menyelipkan poni Lura……dst.

Pertanyaan tokoh aku itu bukankah seharusnya, “Nyokapnya belum dateng ya, La/Mal?”, kecuali jika dialog tersebut memang bermaksud si tokoh aku berbicara dengan Lura, yang sedang tak sadarkan diri (koma).

Anyway, dari keseluruhan tokoh rekaan Mia, saya memang lebih “mencintai” tokoh aku yang sifat plin-plan-nya mirip-mirip saya. Beruntung… saya tidak sama keras kepalanya dengan tokoh aku itu. Yang lucu sekaligus menyebalkan serta menjengkelkan adalah tokoh Reva yang diplot menjadi pacar dari tokoh aku. Karakter inilah yang membuat saya gemas bukan main. Kok ada ya, orang kayak begitu….

Overall, novel ini masuk kategori lumayan. Dalam waktu dekat, saya mungkin tidak tertarik untuk membacanya lagi. Entah berapa minggu, bulan, atau tahun lagi saya baru berminat untuk membacanya ulang.

Selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)
Tiga wanita lajang, tiga dilema.
Lura, dengan kebiasaan buruknya mempermainkan laki-laki padahal di sisinya ada Robi yang baik dan setia.

Mala, yang punya affair dengan Mas Sis, atasannya, dan sabar menanti sang bos bercerai dari istrinya.

Nania, dengan Reva-nya yang matre dan abussive secra verbal tapi ogah putus karena takut jadi jomblo abadi.

Tiga sahabat yang mencari cinta dengan segala cara. Hingga masing-masing kena batunya. Dan mendapatkan pencerahan.

Sunday, November 8, 2009

Resensi Novel Metropop: Lusiwulan - Zizi: Bintang Jodoh dan Zizi: Saksi Bulan Madu

Serial metropop dengan sentuhan komedi




Judul: Zizi: Bintang Jodoh (Buku 1), Zizi: Saksi Bulan Madu (Buku 2)
Pengarang: Lusiwulan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop
Tebal: 176 hlm (Buku 1), 152 hlm (Buku 2)
Harga (Toko): Rp28.000
Rilis: Desember 2008 (Buku 1), Nopember 2009 (Buku 2)

Saya tidak sadar bahwa novel karya Lusiwulan (penulis metropop Pacar Alternatif dan Pasangan Jadi-Jadian) yang berjudul Zizi: Saksi Bulan Madu ini adalah buku kedua dari novel serial pertama yang ditulis Lusi. Saya hanya secara asal mencomotnya ketika berkunjung ke Indonesia Book Fair 2009 karena saya pikir itu novel Lusi yang sudah sering saya lirik di toko buku beberapa waktu lalu tapi selalu tidak jadi saya beli (model penulisan judul dan desain sampul mirip). Saya baru sadar setelah membaca lembaran awalnya.

Tak dinyana, saya kepincut dengan novel tersebut. Segar. Lucu. Komedi. Menyenangkan. Menggemaskan. Komplit lah... bumbunya. Setiap adegan mengalir jenaka dengan para tokohnya yang berkarakter kuat. Kemampuan Lusi menjaga konsistensi karakter para aktor rekaannya yang membuat novel ini kian istimewa. Khusus tokoh Zizi, mau tidak mau saya teringat tokoh Kugy di novelnya Dee – Perahu Kertas. Sama-sama komikal. Sama-sama lucu. Tapi, beda nasib.

Belum dapat dipastikan, hanya Tuhan dan Lusi yang tahu, serial ini akan dibuat dalam berapa jilid (volume). Dua bagian awalnya ini memiliki jumlah halaman tak lebih dari 200-an lembar. Meskipun dipatok banderol yang lumayan terjangkau, tak ayal saya sendiri masih harus berpikir berulang kali untuk setia mengikuti kisah ini. Kalau boleh memilih, saya lebih suka Lusi langsung merampungkannya dalam satu novel tebal. Jika pun diniatkan berseri, saya berharap setiap jilidnya ditambah halamannya, yah…300-an lembar lah minimal.

Dua jilid awalnya ini sedikit berbau tahyul dengan adanya beberapa bagian yang berhubungan dengan “orang-pintar”. Bahkan sepertinya dari tahyul inilah kisah utama serial ini bermula. Saya sebagai seorang yang mencoba memahamkan agama saya dengan benar, sama sekali tidak suka dengan unsur klenik ini. Namun, ya apa mau dikata, mungkin memang inilah awal sumber inspirasi Lusi dalam menulis cerita ini.

Sebagai novel yang masuk dalam label metropop, karya Lusi ini terkesan tidak menjual mimpi. Isi ceritanya hampir-hampir mendekati realita. Yang dibicarakan tidak melulu rumah megah bertingkat-tingkat, aksesoris serba branded, atau pun segala hal yang berbau kemewahan. Para pelakonnya tidak dipaksa harus serba mewah. Pekerjaan pun bukan jenis pekerjaan yang “di atas awan”, maksudnya latar belakang profesi yang dibuat Lusi merupakan pekerjaan yang sangat terjangkau oleh siapa saja. Meskipun yang agak mengganggu, seperti kebanyakan novel urban masa kini, nama-nama tokoh ciptaan Lusi cenderung kebarat-baratan (westernisasi). Yah, wajar-wajar saja sih di jaman sekarang yang makin banyak orang tua memberi nama anak-anaknya berbau luar negeri. Namun tetap, betapa bangga rasanya jika saja nama tokoh-tokohnya itu meng-Indonesia.

Sebenarnya saya tidak suka dengan gaya mendongeng Lusi yang mostly benar-benar seperti sedang story telling. Pada beberapa tempat Lusi melempar joke-joke jayus mengomentari tingkah para aktor yang dibuatnya sendiri. Bahkan tak jarang Lusi menambahinya dengan ungkapan tawa (hihi, haha, hehe) yang tidak dalam konteks dialog antar tokoh. Sangat lebay… dan jayus. Beruntung, sekali lagi, Lusi mampu memberikan nyawa pada aktor-aktornya sehingga terkesan hidup dan klop dengan gaya mendongengnya itu.

Awalnya saya menduga novel ini dibuat dalam bentuk chapter-chapter yang langsung habis ceritanya per chapter. Satu chapter berisi masalah dan solusi pemecahannya dengan pelakon yang sama dari chapter awal hingga chapter akhir. Mirip kumpulan cerpen begitu lah. Lebih-lebih, dugaan saya diperkuat dengan pemberian judul novel yang mengambil salah satu judul chapternya. Ternyata tidak, buku ini memang benar novel dalam arti bahwa dari awal hingga akhir cerita berjalan secara berkesinambungan.

Secara teknis, novel ini lolos scanning. Saya tidak merasa menemukan adanya kesalahan ketik, tulis, atau kejanggalan lainnya. Syukur deh…

Summary (spoiler alert):

Buku 1 – Zizi: Bintang Jodoh

Untuk meyakinkan perasaannya, Zizi menemui “orang pintar” yang diharapkan membantunya meraba takdir percintaannya. Ternyata, ia tetap patah hati lantaran putus cinta dengan Teddy, pacar serius pertamanya. Zizi sendiri yang minta putus, padahal dia benar-benar telah jatuh hati dengan teramat sangat pada Teddy.

Beruntung Zizi memiliki keluarga dan teman-teman dekat yang selalu mendukungnya.

Seusai wisuda, Zizi yang masih menganggur karena perang batin antara relita versus idealisme, bertemu dengan Dylan yang kemudian menjadi salah satu karibnya. Dari Dylan lah, Zizi akhirnya mendapatkan pengalaman kerja pertamanya. Sangking dekatnya hubungan Zizi – Dylan, banyak orang menyangka mereka pacaran. Termasuk Rafa, cowok yang menyelamatkan Zizi dari amuk marah manajernya dan dari ulah tengil sang monster jagung, yang naga-naganya memberi perhatian lebih pada Zizi.

Lalu, bagaimana reaksi Zizi ketika secara kebetulan dia bertemu dengan sang mantan di counter khusus lingerie dan underwear dengan Zizi yang sedang sibuk memilih-coba lingerie-lingerie seksi? Mengapa Rafa yang dirasa Zizi menaruh hati padanya justru berkesan menjaga jarak? Apa benar Zizi hanya sekadar berteman dengan Dylan? Lantas, apa hubungan Zizi dengan Manis Manja Group?

Sinopsis (cover belakang):
"Hmm... banyak bintang kamuflase di sini..."

Zizi melongo. "Apa, Mbah, eh, maksud saya, Nini...?"

Bahu Melky agak terguncang meredam tawa melihat reaksi Zizi.

"Kamu kebanyakan TP," sambung Nini.

"Apa itu, Ni..., TP...?" tanya Zizi.

"Tebar pesona."

Itu kerjaan Zizi kalau lagi kebingungan dilamar pacar sendiri (padahal pacar sendiri lho, bukan pacar orang lain). Belum lagi kalau sedang sedih, kacau, balau, atau di masa senang, masa manis, masa bodoh sampai bodoh beneran. Tapi jangan salah, hati dan pikirannya luwes meresapi asam-manis pengalaman sebagai momen mematangkan diri. Mau bukti?

Ini kutipan perenungannya yang dalam setelah pertemuan tak terduga dengan seseorang.
"...kalau ada cowok mau nganterin dan mengekor cewek beli pakaian dalam si cewek, bisa diartikan mereka punya hubungan spesial, ya?"

Dalam, kan? Namanya aja pakaian dalam... kwakwak...

Oke, yang lebih serius, Zizi juga merenungkan apa artinya komitmen, menjadi diri sendiri, cinta yang membebaskan, dan insight lain dalam kehidupan.


Buku 2 – Zizi: Saksi Bulan Madu

Akhirnya Zizi dan Rafa jadi sepasang kekasih, tetapi Rafa meminta agar hubungan mereka tidak diketahui khalayak ramai alias backstreet. Awalnya Zizi cuek saja, terlebih dia sendiri merasa risih apabila menjadi bahan gunjingan teman-teman kantornya.

Zizi masih melanjutkan hidupnya dengan penuh aksi komedi. Kelucuan demi kelucuan mewarnai hari-harinya bersama keluarga dan teman-temannya. Termasuk ketika Zizi menawarkan diri menjadi detektif yang menyelidiki keberadaan penguntit bernama Romeo yang meresahkan tantenya.

Sial bagi Zizi, ketika menemani Rafa dalam suatu acara gathering camp dia bertemu dengan Teddy plus istrinya yang secara kebetulan menginap di hotel yang sama. Zizi tambah kikuk demi mendapati Teddy dan istrinya sedang bermesraan di kolam renang. Zizi menjadi saksi bulan madu mantan kekasihnya.

Meskipun setuju backstreet, tak urung Zizi juga menjadi ragu akan hubungannya dengan Rafa ketika mendengar cerita mirip jalinan kisah kasihnya dari teman kerjanya yang berujung kesedihan. Di lain pihak, Rafa juga makin keki. Kedekatan Zizi dan Dylan telah menerbitkan rasa cemburu yang berlebih, namun bagaimana cara Rafa menutup rasa cemburunya? Mengapa Dystan, kakak Dylan, mendadak berubah ramah pada Zizi padahal biasanya cuek? Mengapa pula Rama tiba-tiba mengajaknya dinner setelah sekian lama tidak bertemu?

Sinopsis (cover belakang):
Dianalogikan tetumbuhan, Zizi saat ini sedang berada pada periode berbunga. Kuntum merekah setelah kemarin sempat layu mendayu-dayu. Hehe, itu mah musik melayu. Kerjaan baru yang kian dikuasai, teman-teman dan atasan yang makin memaklumi dirinya--tecermin dari komentar "namanya juga Zizi..."--dan ada kumbang jantan yang sedang bergairah terbang di dekatnya. Selain itu, yang namanya taman bunga tentu tak lepas dari benalu, ulat (berbulu dan tak berbulu), tangan-tangan jail (berbulu dan tak berbulu), kupu-kupu, angin... yah, begitu pula periode kehidupan Zizi, semriwing bak tertiup angin dan geli-geli bak dirambati ulat bulu. Kesimpulannya, menyegarkan sekaligus menggelikan.

Silakan temukan jawaban-jawaban pertanyaan tersebut di atas dalam novel seri karya Lusiwulan ini.

Selamat membaca!

Thursday, November 5, 2009

Pameran Buku: Hari Pertama Indonesia Book Fair 2009

Alhamdulillah, saya kemarin (Selasa, 04 Nopember 2009) berkesempatan untuk berkunjung ke Indonesia Book Fair 2009 (IBF 2009) yang dihelat di Jakarta Convention Center (JCC), meskipun hanya sebentar saja.

Saya berangkat selepas jam kantor dan sampai di JCC tepat ketika azan mahgrib selesai dikumandangkan. Oleh sebab itu, setelah membeli tiket masuk (harga: Rp5.000, sudah bisa untuk masuk ke pameran komputer Indocomtech-nya juga) di counter resminya yang persis berada di depan gerbang utama IBF 2009, saya bergegas mencari tempat sholat yang disediakan di JCC. Setelah bertanya kepada seorang bapak petugas keamanan, saya berhasil mencapai masjid yang berada di basement.

Selesai maghrib-an saya langsung berkeliling dari satu stand ke stand yang lain. Saya memuaskan “lapar-mata” saya dengan melirik tumpukan demi tumpukan, judul per judul, buku yang ditata sedemikian rupa oleh masing-masing pemilik stand. Tak lupa, saya juga melempar pandang menyelidik ke segala arah mencari banner-banner yang menginformasikan besaran discount yang berani mereka tawarkan. 10%. 15%. 25%. 30%. Hingga ada yang menulis 80%. Hmm… menggiurkan.

Jenis buku yang ada juga beragam. Sesuai dengan ciri khas masing-masing stand. Ada yang khusus menawarkan buku keagamaan, buku anak-anak, buku psikologi populer, novel-novel, buku elektronik dan komputer, majalah, komik, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di samping itu, juga ada stand-stand khusus semisal yang menjual aksesoris belajar, mainan anak-anak, video edukasi , tas, kerajinan tangan, dan sebagainya. Kategori buku juga ada yang lokal dan ada juga yang impor (
buku impor serba lima ribuan juga ada!)

Saya dari awal sudah berniat mengunjungi stand Gramedia terlebih dahulu. Biasa, mencari novel metropop. Setelah berkeliling sebentar, saya menemukan stand Gramedia dekat pintu masuk pameran IBF 2009 (bukan pintu gerbang utama). Ternyata yang disediakan di stand sana tidak selengkap yang saya harapkan. Memang disediakan satu rak khusus novel-novel metropop (dan chicklit, dan teenlit), namun tidak banyak judul yang ditawarkan. Yang saya ingat adalah beberapa judul novel Andrei Aksana, Retni SB, Tria Barmawi, Alberthiene Endah, Syahmedi Dean (A.M.S.A.T. juga ada!) dan beberapa lagi lainnya. Kebanyakan saya sudah punya, jadi saya tidak membelinya. Yang akhirnya saya beli adalah novel lanjutan karya Lusiwulan, Zizi: Saksi Bulan Madu, padahal novel pertamanya saja belum saya baca (yang bikin kaget, oh ini baru rilis ya???), If-nya Efi Ervianti, Konser-nya Meliana K. Tansri, dan beberapa buku lain titipan teman. Lumayan, untuk bahan bacaan bulan Nopember ini.

Secara khusus, saya lebih menyukai gelaran Pesta Buku Jakarta atau Islamic Book Fair yang diadakan di Istora Senayan. Selain karena bebas tiket masuk alias gratisan, juga area-nya terasa lebih luas, sehingga peserta pameran lebih banyak. Yang saya catat juga, mungkin karena baru hari pertama, IBF 2009 masih agak sepi. Mungkin juga karena jam berkunjung yang sudah malam dan berdekatan dengan waktu sholat. Catatan terakhir, dari pintu gerbang masuk Gelora Bungk Karno yang dekat dengan halte busway Polda Metro, tidak nampak ada umbul-umbul/spanduk terpasang, padahal biasanya selalu marak ketika ada hajatan di JCC.

Namun demikian, saya cukup senang, karena mengingat kondisi ekonomi yang masih lesu dan tak menentu begini, masih ada yang berinisiatif menggelar pameran seperti ini.

Maju terus perbukuan Indonesia!

Catatan: berhubung saya masih kelupaan menaruh kabel data kamera, beberapa hasil jepretan saya di arena pameran belum bisa saya sertakan. Mudah-mudah nanti bisa saya unggah ke sini.

Wednesday, November 4, 2009

Pameran Buku: Indonesia Book Fair 2009


Bagi para pecinta buku di Jakarta (maupun luar Jakarta yang berkenan ke Jakarta dalam bulan Nopember 2009 ini), jangan sampai terlupa untuk berkunjung ke gelaran Indonesia Book Fair 2009 yang diselenggarakan oleh PT Dyandra Promosindo di Jakarta Convention Center, yang kebetulan berbarengan dengan pameran komputer Indocomtech 2009. Biasanya, peserta pameran memberikan discount yang lumayan pada buku-buku yang mereka tawarkan. Semoga saja saya juga bisa menambah koleksi buku saya kali ini.

Sayang, saya sudah mencoba searching terbatas menggunakan bantuan Oom Google, tidak berhasil menemukan situs resmi dari penyelenggara pameran buku tersebut *update* Akhirnya saya menemukan juga situs resmi penyelenggara Indonesia Book Fair 2009. Silakan klik di sini untuk keterangan selengkapnya tentang IBF 2009. Bagi yang ingin melongok situs resmi penyelenggara Indocomtech 2009 untuk mencari info acara, harga tiket, dan denah lokasi, silakan klik di sini.


INDOCOMTECH 2009
• Dyandra Promosindo, PT
4 Nov 2009 - 8 Nov 2009
Cendrawasih Room 1/1
Exhibition Hall A + B
Exhibition

Indonesia Book Fair 2009
• Dyandra Promosindo, PT
4 Nov 2009 - 8 Nov 2009
Assembly Hall 1,2,3
Main Lobby
Plenary Hall (Grd Flr)
Exhibition

Sunday, November 1, 2009

Resensi Novel Metropop: Syahmedi Dean - A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh)

Sebuah akhir yang mencengangkan


Judul: A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Air Teh)
Pengarang: Syahmedi Dean
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop, Novel Dewasa
Tebal: 304 halaman
Harga (Toko): Rp55.000
Rilis: Oktober 2009 (cet. 1)

Sebelum saya melantur kemana-mana, saya ingin bilang terlebih dahulu, BURUAN BELI NOVEL INI. HIGHLY RECOMMENDED bangets deh!!!

Fantastis. Extra ordinary. So unpredictable. GOD, I just love this novel.

Yeah, sejak Cewek Matre-nya Alberthiene Endah saya belum pernah lagi merasakan sebegitu bersemangatnya membahas dan berusaha keras menyimpan tiap detail isi dari sebuah buku, sampai terbitnya novel keempat (terakhirkah????) dari seri Fashion Journalistic-nya Syahmedi Dean ini. Rasanya sejumlah rupiah yang saya tukarkan dengan novel ini benar-benar terbayar impas. Wew…

Hahahaha. Unobjective banget ya??? Belum apa-apa sudah memuji setinggi langit begitu. Don’t know why. My hands up! kalo kata Nelly Furtado,”manos al aire.” Novel ini memang keren. Sumpah! Sangat di luar perkiraan saya. Bagaimana tidak, tiga novel pendahulunya telah menjejakkan citra bagaimana saya harus menyimpulkan sebuah novel karya Syahmedi Dean. Yaitu, novel metro-urban-modern yang kebanyakan ngomongin barang fashion dengan segala detailnya berbau fashion. Dengan kata lain, novelnya cukup buat having fun. Just an entertainment book!

Secara packaging, novel ini tidak meninggalkan cetakan dari tiga novel sebelumnya. Masih tetap sama banyaknya dalam hal menampilkan barang-barang fashion. Sebutan merk tas-baju-sepatu-lipstick and so on yang terkadang agak lebay. Tapi itulah istimewanya novel-novelnya Syahmedi Dean. Bagi sebagian pembaca perempuan, cukup dengan merampungkan serinya Syahmedi Dean, dijamin tidak bakal lagi dongo kalau mendengar orang menyebut Bally (bukan Bali), Birkin, atau Louis Vuitton. Minimal, tidak akan lagi shock dan berseru, “ih lucu, makanan apa itu?”

Gaya bahasa yang lebay (berlebihan) yang digunakan Syahmedi memang bagai pisau bermata dua, bagi saya. Di satu sisi agak-agak annoying, tapi di sisi lain juga memberikan efek yang menyegarkan. Sama halnya ketika saya membaca She’ll Take It-nya Mary Carter. Penjelesannya mbleber kemana-mana, tapi sayang kalau dilewatkan.

Biasanya pula, saya paling tidak suka dengan tokoh yang “mendadak” mendapat jatah aktualisasi diri padahal garis besar novel bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Janggal saja, tiba-tiba si A diberikan line, sedangkan tokoh utama sama sekali tidak ada dalam adegan tersebut. Namun, dalam novel Syahmedi, cara pemberian porsinya cukup ‘mulus’. Tidak mengesankan narsisme dari tokoh tersebut, sehingga jauh dari kesan janggal.

Dari keseluruhan empat novelnya, novel keempat ini memberikan kesan paling mendalam bagi saya. The best lah dari tiga lainnya. Terutama dari plot dan isinya.

Dari novel pertama, L.S.D.L.F. (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion), Syahmedi mengenalkan jungkir baliknya dunia balik layar dari produksi sebuah majalah lifestyle. Novel kedua, J.P.V.F.K. (Jakarta Paris via French Kiss), para tokohnya mulai dikenalkan pada konflik yang lebih beragam dengan tetap tak meninggalkan gemerlapnya dunia mode. Pada novel ketiga, P.G.D.P.C. (Pengantin Gipsy dan Penipu Cinta), para tokohnya dihujani dengan masalah-masalah pelik yang menguji sejauh mana persabahatan mereka. Dan, akhirnya, di novel pamungkasnya ini, A.M.S.A.T. (Apa Maksud Setuang Air Teh), para tokohnya bermetamorfosis mencapai kejatidirian mereka masing-masing. Menemukan jawab atas salah satu pertanyaan penting dalam hidup, “siapa aku yang sebenarnya?”

Meskipun agak terlambat, novel ini cukup up to date dengan sentilan soal hiruk-pikuk panggung politik (pemilu dan caleg), sepak terjang KPK, kasus-kasus korupsi bertaraf nasional semacam kasus alih fungsi hutan lindung di Sumatera, dan demo pengrusakan kantor penerbitan yang menurunkan berita berbau pornografi (jadi ingat kasus majalah Playboy). Maka, lumrah saja ketika saya menyematkan pujian bahwa novel ini cukup padat berisi. Fashion-politik-relijius.
Yup, yang membuat saya cukup terkagum adalah kepiawaian Syahmedi menyelipkan isu keagamaan dalam kilau dunia mode yang diciptakannya. Pun, cara penyampaiannya juga tidak terkesan menggurui dan terlihat sekali Syahmedi mencoba membahas masalah agama itu dari dua sisi, pro dan kontra. Kalau sudah begitu, tinggal pembaca sendiri yang menentukan, mau ikut yang pro atau yang kontra.

Yang perlu dicatat lagi dari novel ini adalah banyaknya flashback dari masing-masing tokohnya. Saya sempat bosan (sedikit) ketika pada lembar-lembar awal, kebanyakan isi halamannya adalah renungan-renungan masa lalu dari masing-masing tokoh. Memang perlu sih untuk menjembatani dengan masa depan mereka, hanya saja, saya memang agak kurang sabaran kalau orang sudah cerita (melulu) tentang masa lalu. Apalagi, kebiasaan Syahmedi yang mendetailkan segala sesuatu, makin membuat saya ingin buru-buru skip dan lanjut ke halaman berikutnya.

Anyway, terima kasih Syahmedi, terima kasih editor, terima kasih tim penerbitan Gramedia, saya luput mendapati adanya salah cetak pada novel ini. Thank GOD! Entah saya yang kurang awas karena terlalu excited terhadap novelnya atau memang benar-benar tidak ada masalah teknis begituan. Dunno.

Hmm… dari novel ini saya punya dua part (quote) yang paling saya suka. Yang pertama, telah saya pampang di sidebar blog saya ini dalam kolom My Favorite Quote. Yang kedua, adalah ini:
Bertolak belakang antara siang dan malam. Siang preman, malam ayah yang baik. Siang selingkuh, malam istri yang budiman. Siang karyawan yang rajin, malam menggampari istri.
Halaman 183

Menohok sekali. Tepat menggambarkan orang-orang yang secara sadar atau tidak seringkali menampilkan dua muka yang berbeda untuk dua waktu yang berbeda pula. Siang dan malam. Baik dan buruk. Salah dan benar. Termasuk saya juga, mungkin, hehehehe....

Dua hal yang menjadi topik penting novel keempat Syahmedi ini adalah ‘bulan’ dan ‘teh’. Secara judulnya juga ada menyangkut teh-teh-nya, maka tak heran kalau teh menjadi primadona di novel ini, bahkan hampir seluruh tokohnya (utama atau figuran), disengaja atau tidak, setiap beradegan minum, pasti pesannya teh. Hmm… kenapa selera orang bisa digeneralisir begitu, ya? Dan, ngomong-ngomong sampai selesai membaca novel ini saya masih nggak tahu juga, apa maksud setuang air teh? Ahhh…mungkin saya harus membaca ulang sekali lagi sembari menuang secangkir teh aroma melati, baru saya tahu apa maksudnya. Hmm… sedap, kedengarannya.

Selamat membaca. Dan, hey, jangan jantungan ya… novel ini benar-benar memberikan full of surprises!!!

Rating-nya 4,5 out 5 stars, lah…

Sinopsis
Siapa yang menggerakkan skenario perjalanan hidup? Sebuah kota? Profesi? Alam pikiran? Atau cinta? Empat sahabat mencari-cari keriaan hari ini dengan mengejar cinta dan mempertanyakan masa lalu. Mereka berprofesi sebagai wartawan, berkesempatan mendirikan sebuah majalah, satu kesibukan urban yang membawa mereka ke ujian persahabatan, penemuan jati diri, dan dilema tepi-tepi hidup.

Alif:
Mata saya tajam terbuka, merasakan dengan nyata kosmik energi, merasakan kuatnya medan magnet yang terjadi. Pelan-pelan ada cairan lain yang naik ke saraf-saraf otak, rasa gusar, kesal, marah. Apakah kosmik energi penyebab rusaknya kehidupan cinta saya? Setiap pekan purnama tiba orang-orang akan bergairah, serbaimpulsif. Mudah marah, mudah sedih, mudah jatuh cinta, mudah berbelanja, mudah dramatis, mudah cemburu. Orang-orang kehilangan keseimbangan, orang-orang cenderung lunatic, kebulan-bulanan. Saya mengerti keadaan ini.

Raisa:
Ia tak pernah tahu bahwa seharusnya, jika berada dalam rapat apa pun di dunia ini, sangat berlaku hukum "You are what you said." Nah, kalau tak pandai berkelit, pakailah aliran "Silence is golden". Sehingga jati diri tidak perlu terasa seperti akan lumer ke lantai, merosot ke kaki-kaki meja, dan secara politis habis diinjak-injak forum. Ia ingat ekspresi semua peserta rapat waktu itu, mereka tersenyum bahagia penuh kepuasan. Pelajaran yang ia dapat dari kejadian memalukan itu adalah: when everybody is happy, you know you done something wrong.

Didi:
Kota Jakarta ini apa masih layak huni? Ngeri banget Jakarta sekarang. Kalau nanti gue terkenal karena jadi creative director sukses, apakah gue aman? Gue harus berjuang dari kemungkinan penembakan seperti ini. Kemungkinan pembunuhan, penggarongan, kemacetan, kebanjiran, penipuan, penggusuran, rombongan kampanye, massa sepakbola, fashion criminals, Chanel limited edition, Louis Vuitton New Arrival, Gucci Piracy, dress code betrayal...

Nisa:
Itu suara Alif. Azan. Komat. Ah, anakku, Mama belum sempat lihat kamu. Bagaimana rupamu? Bagaimana hidungmu? Bagaimana senyummu? Kamu pasti aman di situ, ada Oom Alif, teman Mama yang paling peduli dengan Mama. Kamu pasti senang dengar suara azan Oom Alif. Mama jadi rindu, tapi Mama belum bisa lihat kamu. Mama seperti terbang. Mama hanya bisa merasakan getaran jiwamu yang bening dan bersih. Oh, inikah mati? Tubuh terasa ringan sekali. Tanpa beban fisik. Merdeka dari keterbatasan. Fisik adalah penjara seumur hidup, penjara yang lemah, yang tak mampu menghadapi cuaca, yang tak bisa pergi tinggi-tinggi karena akan ditarik kencang oleh gravitasi bumi.
Sinopsis dan gambar diambil dari situs http://gramedia.com

Monday, September 7, 2009

Resensi Novel Metropop: (Repost) tere liye - The Gogons, James and Incedibles Incidents

Tragedi demi tragedi dari para sahabat sejati


Gimana ya, nyesek deh abis baca nih novel. Bukan kecewa tapi malahan putus asa. Loh? Apaan sih? Maksudnya, nih novel sukses ngaduk-ngaduk emosi gua. Tragedi demi tragedi yang diciptain ama pengarangnya berhasil menjerat gua. Terutama kata keramatnya "sebuah siklus pengorbanan yang indah". Keren.

Gua kadang dibikin ngikik geli (baca sendirian gak berani ketawa, ntar dikira gila kan berabe), kadang dibikin pengin nangis (sumpah!!) dan kadang dibikin ngikik geli plus mewek (serius). Sekaligus. Deuu...segitunya. Tapi bener kok. Tau yak, gua orangnya emank gampang banget kebawa perasaan, gampang kepengaruh, terutama ama kata-kata yang bagus.

Awal baca gua rada gak respect sebenernya. Bahasa yang standar, dialog yang kadang datar, bahkan cerita yang (menurut gua) nggak logis (bener nggak sih ada orang yang tinggal beberapa meter aja dari komodo buas nan ganas bisa lolos?? Will you say it's a miracle?). But, pelan tapi pasti gua mulai kesedot ama critanya. Konflik yang sambung menyambung (mumet juga sih) bikin gua (yang notabene suka novel full-konflik kek gini) nggak bisa berenti baca, sampai akhir tentunya. Ngeri sebenernya. Gua yang juga punya genk, lima orang juga, nggak pengin lah dapet masalah "superserius" kek gitu. Nggak ngerti deh gimana bisa ngatasinnya.

Benang merah nih novel adalah sobatan lima orang yang diiket gara-gara inisial nama depan mereka yang kesemuanya "A" (sebagian nama panggilan). James, Ari, Diar, Adi, dan Dito. Sorry ya gua lupa penjelasan penulis tentang keterdekatan inisial "A" dengan tokoh James, Diar dan Dito. Ntar deh gua klarifikasi lagi. Hehehe.....

Mereka segenk gila-gilaan sejak kuliah. Yah untung aja, kadar gila mereka nggak sampai menjerumus ke hal-hal yang negatif. Semuanya lurus aja. Kekompakan mereka nggak diragukan lagi. Diibaratkan mereka dah mengenal luar-dalam satu sama lain, katanya (nyatanya rahasia masing-masing tetep menjadi rahasia sendiri). Adegan dibuka dengan hiruk pikuk kedatangan gerombolan the gogons (oh ya the gogons sendiri itu sekadar nama saja, tapi biasanya digunakan untuk memanggil satu sama laen. Kalo jamak, semua anggota, disapa Gons. Kalo tunggal, satu anggota, disapa Gon) ke Bali untuk menghadiri resepsi pernikahan Adi (istri Adi namanya Made, anak seorang konglomerat di Bali). Ada Dahlia dan Citra yang juga menyertai mereka. Perasaan seneng bisa ke Bali akhirnya bikin keki the gogons, soalnya secara sepihak Adi menunjuk mereka menjadi pagar bagus. Awal yang ceria inilah yang bikin gua sedikit canggung untuk melanjutkan membaca novel dari genre Metropop keluaran Gramedia ini. Untung gua paksain karena selanjutnya satu demi satu kejutan mengerikan berdatangan. Secara berurutan. Seperti emank sudah ada daftar antreannya. Mulai dari Diar yang meninggal akibat diabetes stadium lanjut, Azhar dan Dahlia yang kecelakaan (padahal saat itu cinta mereka mulai mekar sempuna), Dito yang ternyata diperalat kenalan cewek bulenya untuk membawa paket heroin seberat 4,9 kg (gila.....dahsyat banget konflik yang ini), Adi yang terus saja bersitegang dengan mertuanya karena ngotot pindah ke Jakarta, Ari yang merupakan anggota the gogons paling cakap, pintar, mendadak jadi gila, dan James yang terbelit untuk kembali menelusuri masa lalunya. Masa lalu cinta pertamanya, dengan Weni. Hoaoaoahh.....gua sampai ngelus dada di endingnya. Merinding euy.

Tapi, kisah-kisah menyedihkan ini belumlah berujung. Penulis memang menargetkan novel ini untuk berseri. Seri berikutnya, sesuai catatan di epilog, mengambil tajuk Dito & The Prison of Love. Berarti Dito yang nanti bakal lebih sering disorot, setelah yang pertama ini James.

Sisi lemah novel ini cuman di editannya yang kurang rapi. Beberapa kata salah cetak. Dan beberapa kalimat terasa janggal. Seperti yang ini "Apakah semua maksud ini?" (gua lupa ada di halaman berapa). Apa nggak sebaiknya "Apakah maksud semua ini?"?...

Tapi mau nggak mau gua ngasih bintang empat buat serentetan konflik yang pasti bagi gua gak pernah kepikiran sebelumnya.

Congratz

Catatan: tulisan ini saya posting di http://bukabuku.multiply.com (14 April 2006)

Resensi Novel Chicklit: (Repost) Karen Quinn - The Ivy Chronicles:

Gara-gara Anak TK!

Published by C!Publishing
Page 441+xiii
Price (Gramedia Banjarmasin) Rp. 55.600,00

Seru?
.....Sudah pasti!
Gokil?
.....Jelas!
Edan?
.....Iya!

Bayangin aja, mo masukin anak ke TK aja musti nyewa seorang penasihat dengan tarif $20 ribu....gila nggak tuh?

Si author (plus penerbit) bilang bahwa ide cerita ini memang dibangun dari kisah hidup nyata si penulis sendiri, yang memang pernah menjalani profesi sebagai penasihat pendidikan dalam penerimaan siswa sekolah Taman Kanak-Kanak.

The Story:

Ivy Ames, adalah seorang perempuan Yahudi, mapan, matang (di awal 40an) yang telah mencapai puncak kejayaan hidup yang dicita-citakan. Trauma masa kecil akibat perceraian orang tua dan hidup serba kekurangan a.k.a miskin banget membuatnya gigih berjuang untuk meraih kehidupan mewah yang selalu diangankannya.

Setelah lulus dari Yale (berkat beasiswa yang diterimanya) Ivy langsung diterima bekerja di Myoki Bank, sebuah bank bergengsi di kota New York. Empat belas tahun mengabdi di sana, mengantarkan Ivy menduduki jabatan yang cukup mentereng. Kebahagiaannya begitu lengkap dengan keharmonisan keluarganya (dua orang putri yang manis, suami yang tampan meskipun baru saja kena PHK dari pekerjaannya sebagai seorang pialang), apartemen mewah di kawasan Fifth Avenue, dan segala kemewahan lain yang membuatnya nyaman dalam menjalani kehidupan.

Tetapi, belum lama ia mencecap semua itu, badai yang tak terkira besarnya menghantam kehidupan Ivy. Ia dipecat. Kemudian di hari pemecatannya, Ivy menangkap basah suaminya berselingkuh dengan istri rivalnya di kantor. Tak hanya itu, ia juga harus menjual apartemen mewahnya, memecat seluruh pembantunya, memindahkan dua putrinya dari sekolah swasta yang mahal ke sekolah negeri di daerah pinggiran. Ivy beserta kedua putrinya pun terpaksa pindah ke daerah pinggiran Manhattan. Satu atap dengan beberapa tetangga yang dalam hari-hari selanjutnya ikut mewarnai kehidupannya.....termasuk urusan cinta dan....seks. Juga ada cerita soal romantisme hati sapi cincang.....

Untunglah, Ivy punya teman berhati malaikat, Faith yang begitu beruntung dinikahi seorang miliuner dengan harta berlimpah. Berkat Faith, Ivy menemukan cara untuk membiayai hidupnya dan hidup kedua putrinya. Yaitu menjalani profesi sebagai penasihat penerimaan siswa di sekolah swasta dengan tarif $20 ribu per klien.

Awalnya, bisnis ini tersendat-sendat, karena Ivy memang belum punya pengalaman apa-apa. Ia hanya mendapatkan sedikit bimbingan dari mantan bawahannya di Myoki Bank, Tipper Bucket, yang sekarang bekerja di bagian penerimaan di sekolah Harvard Day. Tapi karena sebuah insiden yang tak terduga, yang membuat kepala sekolah Harvard Day meninggal, dan Tipper diangkat menjadi penggantinya, bisnis Ivy meledak. Bahkan tanpa beriklan lagi, Ivy langsung mendapat beberapa klien yang cukup beragam. Ada klien yang seorang petinggi perusahaan penerbitan terbesar di Amerika (bahkan dunia), ada klien yang lesbian, ada klien yang seorang janda setengah frustasi yang tahun lalu gagal memasukkan putri semata wayangnya ke 35 sekolah, ada klien yang seorang pembantu baik hati, ada klien yang seorang mafia, dan ada pula klien yang suka mengancam akan membunuhnya. Benar-benar membuat Ivy pontang-panting. Jadi, bagaimana Ivy menjalankan bisnisnya? Apakah seluruh bocah dari kliennya dapat diterima di sekolah pilihan mereka? Keknya harus baca sendiri deh. Gak seru kan, kalo gua bocorin semuanya...

Huaaa....gua jadi berdebar-debar loh bacanya. Full of surprises! pokoknya....
Cuman sekali lagi, gua terbentur ama banyaknya kultur budaya asing yang nggak masuk di akal gua (bayangin aja anak umur empat tahun udah ngomongin soal penis dan vagina....OMG....syukur banget gua hidup di Indonesia)....
Novel ini juga cukup vokal bicara soal agama, terutama Yahudi, dan isu rasial.
Dari segi translatenya, not bad. Bahkan cukup bagus, menurut gua. Nggak kalah keren deh ama karya-karya terjemahan GPU.
Untuk yang udah ngelirak-ngelirik nih buku setiap jalan ke bookstore, gua saranin comot aja. Laik banget kok buat dibaca dan dikoleksi.

Enjoy Reading!!!

Catatan: tulisan ini saya posting di http://bukabuku.multiply.com (15 Agustus 2006)

Resensi Novel Metropop: (Repost) Ilana Tan - Autumn In Paris

Jatuh cinta pada saudara sendiri


Sebenarnya aku pengin ngasih bintang dua setengah tapi nggak ada pilihannya, jadinya aku pilih bintang dua saja, karena menurutku bintang tiga terlalu banyak. Sebelumnya perlu kusampaikan bahwa review ini adalah berdasarkan rasa dan seleraku saja, selaku penikmat novel. Jujur, aku tidak punya latar belakang ilmu sastra sama sekali, jadi review ini adalah subjektif dari aku sendiri.

Keinginan untuk menebak. Dari sebuah misteri. Yang menciptakan penasaran. Itu adalah benang merah yang aku tangkap dari novel kedua karya Ilana Tan ini. Novel pertamanya (juga masuk dalam genre metropop-nya Gramedia Pustaka Utama/GPU) bertitel Summer In Seoul, dikatakan ada sedikit kaitan antara novel ini dengan novel pertama itu. Hanya sedikit. Di awal cerita Ilana berusaha membuat kita menebak, mengapa ada seorang perempuan yang dipanggil-panggil oleh seorang laki-laki tetapi dia tidak menggubrisnya. Di sini, Ilana juga mencoba menyeret kita untuk bersabar mengetahui identitas lelaki tersebut. Dan menurutku ini sudah sangat umum di banyak novel sehingga kesan misterius tidak lagi didapatkan pada bagian awal novel setebal 265 halaman ini.

Bab-bab berikut terjalin dengan efek 'penasaran' yang dengan susah payah coba dibangun oleh penulis. Dari pertemuan tak terduga Tara (lakon utama perempuan) dengan Tatsuya (lakon utama laki-laki 1) yang kemudian berlanjut dengan perkenalan resmi mereka lewat perantaraan Sebastien (lakon utama laki-laki 2) dirangkai sedemikian rupa, berharap pembaca menebak apa yang berikutnya dapat terjadi.

Kelemahan 'efek penasaran' yang coba dibangun oleh penulis mulai terlihat ketika dengan mudah aku bisa menebak rahasia besar apa yang disimpan Tatsuya. Berikutnya juga gampang sekali ditebak mengapa Tatsuya sangat membenci Paris, mengapa akhirnya Tatsuya mencintai Paris, dan bagaimana kelanjutan hubungan Tara-Tatsuya. Dari sini aku dengan gamblang dapat menebak kemana alur akan dibawa oleh penulis. Satu kelemahan lain yang tampak adalah ending dengan mematikan salah satu karakter utama seakan tak lagi memberikan efek dramatis karena tema cerita yang kelewat sederhana menurutku. Yah, tema utamanya adalah kisah cinta dua saudara seayah yang tak saling mengenal yang akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa cinta mereka tidak mungkin dapat bersatu.

Aku sebenarnya mengharapkan bahwa salah satu karakter nekat, secara ekstrem melawan dunia dengan tetap memperjuangkan cinta terlarang tersebut. Tetapi sepertinya penulis tidak mau berkontroversi dengan membuat kedua karakter ikhlas menerima keadaan dan menyerahkan kepada takdir untuk menyelesaikan masalah mereka.

Secara keseluruhan, aku kurang 'merinding' membaca novel yang sebenarnya masuk kategori melankolis-romantis-dramatis ini. Merinding adalah salah satu ukuran bagiku untuk dapat menilai sebagus apa (tentu sesuai seleraku) novel yang baru saja kubaca. Tetapi harus kuakui Ilana mampu merangkai kata dengan cukup ciamik, dialog yang mengalir lancar, dan deskripsi adegan romantis yang bikin 'ngiri'. Oke, bagi siapa saja yang butuh novel tragis dan romantis, novel ini pantas untuk dikoleksi.

Catatan: review ini saya posting di http://bukabuku.multiply.com (03 Agustus 2007), saya repost kembali tanpa sunting-ulang (kecuali edit tulisan).

Tuesday, August 18, 2009

Resensi Novel Teenlit: Ken Terate - 57 detik

Sekelumit kisah manis dari gempa



Judul: 57 detik
Pengarang: Ken Terate
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Genre: Friendship, Teenage Romance
Tebal: 232 halaman
Rilis: Juni 2009 (cetakan pertama)
Harga: Rp30.000 (Harga Toko)
ISBN: 978-97-22-4632-2

Hmm…saya pernah ikut tren dengan menggilai novel-novel yang oleh penerbit dikategorikan sebagai teenage-literature a.k.a teenlit ketika booming novel beginian sekitaran tahun 2004-2005. Urusan tema memang hampir seragam, mulai dari urusan cinta monyet, cinta segitiga, isu gencet-menggencet di sekolahan, hingga tema persahabatan biasa. Tidak banyak yang ditawarkan novel yang kebanyakan juga dibuat oleh remaja-remaja tanggung yang bahkan belum mempunyai “nama” di dunia perbukuan tanah air itu. Tidak heran jikalau kemudian banyak anak usia sekolahan “mendadak-terkenal” karena tulisannya diterbitkan dan laris terjual. Lalu, Gramedia memunculkan ide mengadakan lomba untuk menjaring bibit-bibit baru penulis Indonesia. Dari lomba itu terdapat sosok Ken Terate yang terpilih sebagai juara ketiga melalui novelnya yang berjudul My Friends My Dreams. Dari situlah saya mulai menyukai tulisan-tulisan Ken. Ia memiliki gaya yang khas dan lain daripada beberapa penulis teenlit yang kebetulan novelnya saya baca.

Kalau bisa dibilang saya termasuk orang yang cukup loyal. Begitu saya menyukai sesuatu, saya akan langgeng menyukainya. Termasuk dalam hal ini hasil tulisan seseorang. Tulisan Ken masuk dalam hitungan. Saya hampir selalu membaca buku-bukunya. Jadi, ketika Ken mengirimkan email kepada saya dan memberitahukan bahwa akan segera terbit novel terbarunya berjudul 57 detik (pertamanya doi bilang tuh nopel cuman dibikin versi e-book khusus handphone doank), maka kemudian saya menjadi tak sabar menantikan rilis dalam bentuk cetak-nya.

Yang paling saya suka dari gaya penulisan Ken adalah kemampuannya membuat kalimat-kalimat hiperbola yang menggelitik dan menggemaskan. Padahal ada yang bilang bahwa semua hal yang terlalu (hiper atau hipo) itu tidak bagus. Tetapi “kalimat terlalu” buatan Ken justru menjadi daya pikat tersendiri, bagi saya, dalam setiap bukunya. Hal lain yang saya suka dari Ken adalah konsistensinya dalam menulis. Saya perhatikan dari sejak novel pertamanya Ken selalu menggunakan kata ganti orang pertama (aku, gue) untuk keseluruhan karakter utama dalam novel-novelnya. Hal ini jelas membutuhkan ketelitian dan kecermatan tersendiri dalam menjaga agar tiap aktor yang diciptakan tidak melenceng dari sifat rekaannya. Satu karakter tidak boleh tertukar dengan karakter lain, atau jangan sampai antar-karakter saling bertubrukan alias timpang satu dengan yang lainnya.

57 detik mungkin menjadi novel pertama Ken yang lahir dari sebuah kisah nyata. Yah, itu cuman dugaan saya belaka. Kebenarannya saya kurang tahu. Dalam pengantar novelnya, Ken secara khusus mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yang berjasa “memberinya” beragam cerita yang membantunya membangun plot novel ini.

Teenlit dengan sampul yang didominasi warna kuning cerah ini mengambil latar kejadian gempa yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya beberapa waktu silam. Judulnya sendiri mengacu pada durasi gempa yang mengguncang kota gudeg tersebut. Di beberapa bagian Ken secara kreatif memberikan tambahan-tambahan tulisan semisal tips menghadapi gempa yang dikemas dalam bahasa komedi, serta beberapa headline dan foto asli suatu peristiwa yang ada kaitannya dengan gempa. Interesting. Ceritanya sendiri khas sekali untuk konsumsi usia anak sekolahan. Bumbu-bumbunya tak jauh dari gonjang-ganjing persahabatan, persaingan merebut posisi strategis di sekolahan (ketua cheerleader), dan lakon-lakon anak SMA masa kini, termasuk cemburu-cemburuan dalam urusan percintaan.

Harusnya memang ada air mata yang tumpah begitu membaca novel ini karena hampir separuh bagiannya diisi kejadian tragis mengenai situasi saat dan setelah gempa. Setting lokasi dan emosi para tokohnya pun coba dibangun oleh Ken untuk membangkitkan rasa haru, paling tidak menurut saya begitu, namun sayang saya hanya larut sebentar saja. Keharuannya kurang mampu membuat saya menitikkan air mata, padahal saya terkenal paling mudah lumer pada hal-hal sedih dalam sebuah tulisan. Hmm, entahlah, saya mengharapkan tragedi yang lebih sengsara lagi (tentu saja nggak untuk kehidupan nyata).

Selebihnya sih, Ken banget. Semuanya saya suka. As usual. Ken berhasil menjaga konsistensi tiga tokoh utamanya meski kesemuanya menggunakan kata ganti orang pertama. Yang juga saya suka dari Ken adalah dia tidak melulu menjejali pembaca dengan gula-gula cinta namun juga asem-manis-pahitnya sebuah persahabatan. Dan itulah yang membedakannya dengan kebanyakan pengarang teenlit lainnya. Maju terus Ken. Semoga tetap produktif.

Selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)

JOGJA, KORAN REMAJA--Aji, Ayomi, dan Nisa adalah
remaja "biasa", kayak kita-kita gitu deh. Mereka mengaku kadang bosan dengan hari-hari mereka. Sekali-sekali mereka pengin juga meng-alami kejadian seru. Tapi tentu saja bukan seru yang menyengsarakan seperti GEMPA. Namun, itulah yang terjadi! Gempa itu tiba-tiba datang dan mengacau-kan semuanya. Cuma 57 detik, tapi akibatnya begitu mengerikan. Petualangan luar biasa terpaksa mereka jalani. Apa aja cerita mereka? Bagaimana mereka bertahan? Apa ada kejadian lucu dalam tragedi ini? Berikut wawancara dengan mereka.

Tanya: Waktu gempa rasanya seperti apa?
Aji: Seperti ditabrak buldoser.
Ayomi: Seperti naik rollercoaster... tanpa sabuk pengaman.
Nisa: (lirih) seperti sulap.
Tanya: Apa yang membuat kamu paling sedih?
Aji: Bencana itu rasanya nggak adil, sepertinya selalu menimpa orang yang sudah susah.
Ayomi: Aku nggak bisa menari lagi, padahal menari adalah hidupku.
Nisa: (lirih juga) Sahabatku Aisyah... dia... (tidak berhasil melanjutkan)
Tanya: Apa hikmah yang bisa kamu dapatkan?
Aji: Akhirnya gue tau apa yang gue inginkan, setelah gue capek memenuhi harapan orang lain.
Ayomi: Dapet pacar baru.
Nisa: Aku sadar aku sangat sayang pada keluargaku, meski mereka sama sekali nggak keren.

Wow! Petualangan mereka bener-bener seru dan sangat menarik untuk disimak. Misalnya, Nisa yang harus bertahan di puing-puing tanpa makanan lebih dari sehari-semalam, lalu Aji yang jadi relawan dadakan, dan Ayomi yang merasa dunianya hilang dalam sekejap gara-gara isu tsunami fiktif.

Oh iya, ada cerita-cerita lucu dan romantisnya juga lho. Dapatkan kisah lengkap mereka di buku ini, sekarang juga!

Monday, August 17, 2009

Resensi Novel Metropop: Kennaz H. Imamah - Kala Lonceng Cinta Berdentang

Mentah!


Judul: Kala Lonceng Cinta Berdentang
Pengarang: Kennaz H. Imamah
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance, Fairytale in Metropop
Tebal: 256 halaman
Rilis: Juli 2009 (cet. 1)
Harga: Rp35.ooo (Toko)
ISBN: 978-979-22-4786-2

Ketika kali pertama genre Metropop dipatenkan oleh Gramedia, novel-novel berlatar kaum urban ini hadir dalam balutan nuansa elegan yang anggun. Bercerita tentang geliat kehidupan di kota metropolitan, bersandang-pangan-papan tak jauh dari kata mewah, dengan tokoh-tokoh nyaris sempurna dalam tampilan fisik dan kecukupan materi, namun terlalu rapuh emosi. Gambaran itu meninggalkan kesan bagi saya bahwa novel ini membidik pembaca dari kaum urban, mostly perempuan, yang cerdas (berkarir) sehingga saya selalu menyebut novel-novel metropop adalah novel yang “pintar” meskipun terkadang juga hanya berisikan mimpi muluk dan khayalan yang kelewat tinggi. Untungnya sebagian besar pengarang novel metropop cukup piawai memberikan sentuhan humanistik yang membumi sehingga novel tersebut tetap dapat dinikmati dengan logika.

Sayang, novel debutan (?*ga tau kebenarannya, apakah ini debutnya ato bukan*) Kennaz ini gagal memberikan sentuhan humanistik tersebut dan hanya mengumbar dongeng antah berantah yang jauh dari sisi logis. Entahlah, rasa-rasanya baru kali ini saya membaca novel metropop yang langsung hilang minat dari hampir sejak permulaan. Saya menjadi bimbang untuk tetap melanjutkan ataukah stop dan mencari bacaan lain, meskipun akhirnya saya putuskan untuk melanjutkannya. Demi teringat sejumlah rupiah yang sudah saya keluarkan untuk menukarnya di kasir Gramedia akhirnya saya bertekad untuk merampungkan-baca novel bersampul manis ini.

Yang bisa saya katakan adalah novel ini masih terlalu “mentah”. Yaitu, agak terlihat kurang rapi dalam penjalinan adegan per adegan. Diksi-nya lumayan bagus, namun agak terlihat amatiran. Saya menjadi teringat pelajaran mengarang di SD dulu bahwa guru Bahasa Indonesia saya memberi contoh untuk memulai sebuah paragraf dalam suatu bab dengan menggambarkan suasana sekitar, keadaan cuaca, atau detail set lokasi, dengan bahasa “langitan” yang indah nan menawan. Sepintas seolah sedang berpuisi. Dan novel ini melakukan hal itu. Kennaz hampir selalu memulai paragraf seperti yang dicontohkan guru SD saya itu. Untuk ukuran novel modern, cara seperti itu agak old fashioned.

Dari segi tema, novel ini pun tidak hadir dengan tema yang kuat atau unik. Tema cinta bercabang banyak begini sudah sering diangkat. Dan bila dibandingkan dengan novel-novel sebelumnya yang membahas tema serupa yang sudah saya baca, novel ini tertinggal cukup jauh. Saya berharap novel ini menghadirkan konflik yang rapat berkaitan dengan kesibukan si tokoh utama me-manage pacar banyaknya. Sayang, Kennaz hanya ‘sempat’ membuat satu scene yang mengilustrasikan kerepotan tersebut dan itu pun kurang greget. Agak alot. Dan, tidak berhasil, dalam pandangan saya.

Bagi saya, novel ini tak meninggalkan kesan apa-apa. Saya cukup kaget bahwa tidak ada satu pun unsur dalam novel ini yang saya sukai. Terkadang meskipun saya tidak menyukai keseluruhan sebuah novel, saya tetap menyukai salah satu unsurnya. Entah diksi, setting, tokoh-tokohnya, atau gaya bahasanya. Namun, tidak dengan novel ini. Saya juga agak muak (maaf) dengan ketertarikan penulis pada tokoh pria yang kebule-bulean.

Oh, tidak. Maafkan saya. Bukan maksud untuk mencela habis-habisan novel ini. Sekali lagi saya tekankan, posisi saya hanyalah seorang pembaca biasa dengan sisi subjektivitas yang sangat berlebih. Plus, saya sendiri tidak bisa/mampu membuat novel bahkan yang seperti telah ditulis Kennaz ini. Saya hanya membuat review sebatas selera saya. Murni, tidak ada tendensi apapun. Awalnya saya berniat menjadikan blog review saya ini berguna (bagi yang mampir dan membaca) sebagai bahan pertimbangan untuk membeli sebuah buku. Tapi, faktanya saya tidak piawai menilai buku dengan seobjektif mungkin. Jadi, segala keputusan ada di tangan masing-masing. Seni adalah berpijak pada selera. Saya boleh bilang novel ini jelek, Anda pun tidak dilarang memuji novel ini. Semua berpulang kepada selera kita masing-masing.

Selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)
Divvy memandangi lonceng kaca di tangannya. "Dulu aku pernah baca dongeng tentang seorang putri yang memanggil pangerannya dengan cara membunyikan lonceng. Biarpun sang pangeran berada ratusan meter jauhnya, dentang lonceng yang dibunyikan sang putri pasti akan membuat sang pangeran secepat kilat datang ke tempat sang putri berada."

Divinia Prudencia tidak pernah bisa menolak ajakan berpacaran. Itulah kenapa Divvy punya banyak pacar. Dan enggak tanggung-tanggung, lima orang sekaligus!!! Waktunya tersita untuk bekerja dan mengatur jadwal kencan dengan semua kekasihnya. Suatu hari Divvy berulang tahun dan mendapatkan hadiah lonceng. Setiap kali Divvy membunyikan lonceng tersebut, selalu saja pria yang sama menghampiri meja kerjanya. Apakah dongeng itu nyata? Apakah lonceng itu akan menunjukkan siapa cinta sejati Divvy? Lalu bagaimana dengan kekasih-kekasih Divvy yang lain?